Casts:

Min (Kim) Seokjin!GS – 39yo | Min Yoongi – 35yo | Kim Namjoon – 22yo

Min Yoonjin [OC] – 5yo | Jeon Jungkook!GS – 19yo | Im Nayeon – 21yo

Kim Taehyung – 21yo | Park Jimin – 21yo | Jung Hoseok – 21yo | Jung Dawon – 18yo

Slight!Junhoe iKon, Mina and Sana Twice

All in Korean age

Other casts menyusul


©BTS, Twice, and iKON member belong to their parents and their agency

©character, plot, story belong to me


OOC, OC, AU, College Life, Marriage Life

Rated: M


.

.

ROUGHEST DESIRE

.

.

Chapter 8: Closer

.

.


Flashback

Beberapa minggu yang lalu, sebelum insiden telepon

.

(+82) 46218999xx:

Selamat pagi, Kim ssaem. Apakah hari ini Anda sibuk? Saya ingin mendiskusikan konten skripsi saya jika Anda tidak keberatan.

.

Pagi itu Seokjin bangun lebih dulu dari Yoongi, seperti biasanya. Karena Yoongi memang bukan seorang morning person. Seokjin harus menggoyang-goyangkan tubuh Yoongi selama lima menit untuk dapat membangunkan suaminya itu. Atau kalau mau cepat sih, tinggal dicium-cium saja.

Seulas senyuman terbentuk di wajah cantik Seokjin ketika ia menyalakan ponselnya. Ia mendapatkan sms—yang diam-diam ia nantikan—dari Namjoon. Ya, pagi itu ia mendapatkan sms dari nomor asing, sih. Tapi, siapa lagi di dunia ini yang memanggilnya 'Kim ssaem'selain Kim Namjoon, anak didiknya yang beberapa minggu ini tidak pernah pergi dari pikirannya.

Saya-Anda. Sms pertama Namjoon pada Seokjin.

.

Me:

Jam 1, kafe kemarin.

.

Sms pertama Seokjin pada Namjoon.

Singkat. Padat. Karena Seokjin harus tetap menjaga image-nya, bukan? Selain itu ia juga takut Yoongi terbangun dan melihat dirinya sedang tersenyum sambil menatap layar ponsel.

Ω

Besoknya

Di kafe

.

Kondisi kafe Takeout Drawing sepi seperti saat terakhir Namjoon datang bersama Seokjin, karena jam makan siang memang sudah berakhir. Namjoon melirik arloji Fossil Grant Chronograph-nya berkali-kali. Terhitung sudah dua-puluh menit ia tiba di kafe ini namun orang yang ditunggu-tunggunya, Seokjin, belum juga datang. Karena tidak ada kerjaan lain, ia pun memutuskan untuk melihat lukisan-lukisan yang memang menjadi daya tarik kafe di daerah Itaewon itu.

Terlalu asyik mengagumi lukisan-lukisan, Namjoon tidak menyadari seseorang sedang berjalan ke arahnya sambil tersenyum kecil. Namun senyuman itu langsung lenyap ketika jarak antara orang itu dengan Namjoon sudah tipis.

Karena orang itu harus tetap menjaga image-nya.

"Namjoon. Sudah lama?"

Namjoon menoleh ke samping dan langsung tersenyum ketika menyadari yang menyapanya adalah Seokjin. "Lumayan, ssaem."

"Mian, Namjoonie. Tadi aku harus menyusun soal UAS dulu."—Aku sengaja datang terlambat karena aku tidak ingin terlihat mendambakan pertemuan ini, yang sebenarnya sangat.

"Gwenchana."

Namjoon langsung menuntun Seokjin ke meja yang sudah ia pesan—di sudut belakang kafe. Seokjin agak terkejut ketika tangan hangat Namjoon menyapa permukaan kulitnya. Menggenggam erat tangannya.

Jika terjadi di lingkungan BigHit Institute mungkin Seokjin akan menepis tangan Namjoon.

Tapi ini di kafe, yang sepi, yang jauh dari BHI, yang terbebas dari mata manusia penghuni BHI. Sehingga Seokjin hanya bisa menerima perlakuan anak didiknya itu dengan hati lapang. Dan mengontrol semburat merah jambu di pipinya agar tidak muncul ke permukaan.

Setelah sampai di meja mereka, Namjoon melepaskan genggaman tangannya dari tangan Seokjin. "Ah, maafkan saya, ssaem. Tidak sengaja. Lagi."

"'Aku', Namjoon. Dan tak apa, aku tidak marah."

Lagi-lagi Seokjin memaksa Namjoon beraku-kamu dengannya. Namun, Namjoon senang dipaksa seperti itu.

Merasa diberi sinyal, Namjoon pun menggenggam tangan Seokjin lagi dan menuntun yeoja itu ke kursi yang telah ditariknya. "Silakan duduk, ssaem princess."

Seokjin tersenyum simpul, mengucapkan "Thanks.", lalu duduk di kursi yang tadi ditarik Namjoon. Seokjin bertanya setelah Namjoon duduk di hadapannya, "Jadi, apa yang ingin kamu diskusikan denganku?"

Namjoon memajukan posisi duduknya dan menjadikan kedua tangannya tumpuan untuk dagu sempitnya sebelum ia bicara, "Aku sudah mengumpulkan beberapa kata Old English, Kim ssaem. Aku sudah mencari makna kata dari beberapa kamus, baik offline maupun online. Tapi, ada beberapa definisi yang berbeda. Aku ingin bertanya padamu sebaiknya definisi mana yang harus kugunakan."

"Oh, sini biar kulihat datanya."

"Nanti saja, ssaem. Kita makan siang dulu, yuk?", ajak Namjoon sambil tersenyum lebar sekali sampai-sampai lesung pipitnya seperti akan lompat dari kedua pipinya.

Seokjin terdiam.

Kontrol, pengendalian diri.

"Baiklah, ayo.", jawab Seokjin sambil mengulaskan senyuman manipulatifnya.

Ω

Hari itu Seokjin tiba di rumahnya pukul lima sore. Ia menghampiri, memeluk, dan mencium Yoonjin yang hanya membalas dengan pelukan singkat dan langsung kembali ke kamarnya setelahnya.

Yoonjin tidak lagi hangat seperti dulu. Namun Seokjin tidak memikirkan masalah ini lebih lanjut, karena baginya sudah cukup jika Yoonjin masih mau berinteraksi. Ia tidak peduli jika semakin hari kalimat yang keluar dari mulut Yoonjin semakin sedikit.

Seokjin terlalu fokus pada anak didiknya.

Anak didiknya yang tampan.

Ting!

Satu pesan masuk ke ponsel Seokjin.

.

Kim Namjoon:

Are you arrived, Kim ssaem?

.

Namjoon hanya bertanya. Jadi, tidak salah, kan, jika Seokjin membalas?

.

Me:

Yes. You?

.

Tidak salah juga, kan, jika Seokjin balas bertanya? Akan sangat tidak sopan jika Seokjin tidak bertanya balik, bukan? Ini hanya sebagian kecil dari tatakrama yang selalu dijunjung tinggi Seokjin.

.

Kim Namjoon:

Me too, Kim ssaem. Baru saja mendudukkan diriku di sofa, hehe.

.

Namjoon hanya membahas dirinya sendiri. Tapi jika Seokjin tidak membalasnya, nanti Namjoon berpikir kalau ia tidak sopan, bukan? Maka Seokjin pun membalas pesan itu.

.

Me:

Okay, selamat beristirahat, Namjoon.

.

Lima-belas detik kemudian ponsel Seokjin berbunyi lagi.

.

Kim Namjoon:

Apa yang akan kau lakukan sekarang, Kim ssaem?

.

Well… Jadi jangan salahkah Seokjin jika ia terus membalas pesan Namjoon.

Ω

Kemarin bukanlah pertemuan Seokjin dan Namjoon yang terakhir. Seokjin beralasan jika data yang digunakan Namjoon belum memenuhi syarat dan Namjoon beralasan jika masih banyak yang belum ia mengerti sehingga membutuhkan bantuan Seokjin lebih jauh lagi.

Jika tidak bertemu muka, mereka selalu berkirim pesan. Seharian. Namjoon sudah beraku-kamu. Begitu pula dengan Seokjin yang memberi ruang untuk Namjoon memasuki dunianya lebih dalam lagi.

Ω

Present time

Di ruang direktur utama 'Kim and Brothers'

.

Yoongi menatap foto pernikahan dan foto keluarga di meja kerjanya dengan tatapan sendu. Ia mengambil foto keluarganya, membawanya mendekat ke wajahnya yang terlihat lelah. Ia meraba gambar seorang yeoja cantik yang sedang menggunakan one piece dress, yang tangannya sedang memeluk seorang gadis cilik berkuncir dua. Di pinggang yeoja itu melingkar tangan dirinya sendiri, memeluk posesif yeoja itu.

Yoongi masih memandangi foto keluarganya sewaktu liburan ke pantai satu tahun silam hingga satu tetes air mata lolos, meluncur di pipinya.

Seokjin.. Kenapa…?

Ω

Di kafetaria BigHit Institute

Jam makan siang

.

"Aku masih belum mengerti kenapa Seokjin ssaem mengambil beasiswa sehingga harus mengabdi untuk bekerja di sini. Toh institut ini miliknya, kan..?", tanya Jungkook.

"Begini cintaku, sayangku, gigi kelinci manisku.. Dia itu, i-de-a-list.", kata Nayeon sambil mengangkat-angkat french fries-nya seirama dengan suaranya saat mengeja 'idealist'. "Untuk mendapatkan beasiswa dari BHI itu sulit, kau tahu sendiri, kan?"

Jungkook mengangguk, karena ia adalah salah satu dari ratusan pejuang beasiswa. Ia yang paling tahu diantara teman-teman di hapanya ini kalau beasiswa di BHI sulit ditembus.

"Nah, dia itu ingin show off kalau dia pintar, sampai-sampai BHI memberikan beasiswa untuknya.", lanjut Nayeon sambil mengunyah french fries-nya.

"Tapi kudengar orang tuanya memang tidak memberikan biaya kuliah untuk dia, karena suatu hal. Makanya dia berjuang sendiri untuk mendapatkan beasiswa. Waktu itu juga belum ditentukan kalau dia akan mewarisi institut ini. Jadi, dulu dia hanyalah mahasiswa biasa.", kata Jimin sambil menyantap ramyeonnya yang kedua.

"Hm..? Jadi cerita mana yang benar?", tanya Jungkook.

"Tidak ada yang tahu, Kookie. Aku bahkan punya versi lainnya. Jadi, katanya, dulu itu dia seharusnya menikah muda. Tapi ia menolak dan ngotot ingin kuliah dulu sampai S2. Karena kesal, ayah dan ibunya tidak mau memberinya biaya. Makanya dia cari beasiswa.", kata Taehyung setelah menaruh cangkir kopinya.

"Kurasa cerita versimu, Tae-ah, yang lebih masuk akal.", kata Jungkook.

"Hei, dia cuma meneruskan sedikit cerita versiku. Cuma di-paraphrase..", kata Jimin kesal.

"Aku setuju, sih. Kita semua tahu kalau dia menikah di usia kelewat matang, kan? Mungkin alasannya karena dia tidak mau menikah muda.", Nayeon melanjutkan ucapannya dengan agak berbisik. "Kurasa, dia dijodohkan."

"Ya, kau kebanyakan menonton drama!", seru Jimin sambil menjitak dahi Nayeon dengan sumpitnya.

"Hei.. Bisa jadi, kan?!", seru Nayeon sambil mengusap-usap dahinya. "Dia anak chaebol, dan aku agak malas, sih, mengakuinya.. Tapi, dia cantik. Bukankah orang tua para chaebol di drama-drama suka menjodohkan anak mereka untuk mengembangkan bisnis atau menyelamatkan bisnis dari kehancuran?", lanjut Nayeon membela dirinya sendiri.

"Kenapa Kookie tidak bertanya langsung saja padanya? Kookie sering ke rumahnya, kan, akhir-akhir ini?", kata Taehyung.

"Ah, tidak mau! Aku takut menyinggungnya.", seru Jungkook.

"Begini, Kookie. Jangan bertanya secara langsung. Pancing. Dia orangnya senang bercerita. Kurasa, kalau kamu pancing, dia akan menyambar umpanmu dengan sukarela.", kata Taehyung lagi.

Jungkook hanya diam saja. Pikirannya berkecamuk.

Haruskah aku melakukannya..?

Ω

TBC


annyeong reader-nim. maaf updatenya lama huhuhu

jujur ini ff tersulit yang lg aku garap saat ini

aku bener2 mikir keras buat ff ini :'( konfliknya rada ribet soalnya

/suruh siapa bikin yg ribet yah/ ahaha

udah gitu rated m nya juga... aku masih harus banyak belajar... praktek. eh ngga kok, ngga :))

konflik ff ini masih panjang, sepanjang cintaku pada seokjin oppa~ ditunggu aja yaaa chuuu :*