Title: Rendezvous
Pair: AkaKuro, AoKise, MidoTaka, MuraHimu
Disclaimer: Tadatoshi Fujimaki, i gain no profit from this fiction
Warn: OC, OOC, typos, languages, Hybrid Cat!AU, M-preg, BL.
.
.
Rendezvous 8: Denial
.
Ia lumayan terkejut sewaktu mendapat pesan teks dari sebuah kontak dalam memori kartu ponselnya. Sudah lama sekali mereka tidak saling memberi kabar, dan tiba-tiba saja Tetsuya menerima serangkaian kalimat yang sanggup membuat senyum hangat mengulas lembut di wajah.
/Tetsuya! Minggu depan aku ke Tokyo, bisakah kita bertemu?/
Jari-jemari dengan cepat menuliskan kalimat balasan di atas layar ponsel.
/Tentu. Aku menunggu./
"Kau terlihat senang, Kuroko-san..." hair-stylish milik studio Tv Fujita selesai menggunakan alat pelurus rambut pada helai-helai biru muda Tetsuya. Semprotan spray berbau kimia campur aroma ceri diberikan untuk menguatkan tatanan rambutnya sampai akhir rekaman acara.
"Begitukah, Amane-san?" ia menatap pria kemayu itu lewat cermin besar di hadapan. Ponsel di tangan baru saja memberikan notifikasi bahwa pesan balasan sudah diterima oleh orang di seberang sana.
"Wajah Kuroko-san mengatakan itu semua. Apakah..."
"Itu tadi pacarmu ya, Kuroko...?"
Senyum penuh makna dipasang, Izuki Shun yang duduk menghadap meja rias di sebelah Tetsuya, berkomentar ringan seraya mengacungkan jempol sebagai tanda approved. Dua make-up artis telihat cekatan menangani rambut dan wajahnya sebelum rekaman acara dimulai.
Tetsuya dengan santai menjawab. "Bukan." Ia merasa belum pacaran dengan siapapun. Ia masih single dan sangat happy.
Izuki kini membiarkan telapak tangannya mengarah pada Tetsuya. "Ssshh, tak apa. Asal agensi dan publik tidak memergoki, kau bebas berekspresi... eh, maksudku, kau mesti tetap hati-hati, walau pada akhirnya mereka juga bakal merestui." Dahi Izuki mengerut. "Ehem, merestui sih merestui..., namun kau masih harus melewati lautan duri sebelum mencapai kebahagiaan abadi, kitakore!"
Para make-up artis dan hair stylish tertawa mendengar kalimat Izuki, sementara Tetsuya tidak.
Tetsuya tahu betul, bahwa jika ia berbicara lagi, Izuki malah akan semakin salah memahami. Jadi Tetsuya memilih opsi kedua: ia lebih baik diam daripada imajinasi Izuki malah semakin menjadi-jadi.
.
Entah kenapa, belakangan ini Seijuuro merasa jika ia tengah diabaikan. Tidak ada orang yang berani melakukan hal itu selama hidupnya, dan mendadak satu orang yang mulai sekarang dinyatakan istimewa, memiliki nyali untuk mengabaikan Seijuuro.
Padahal setelah kembali dari Pulau Kume, Seijuuro mengira ia sudah berhasil meyakinkan Tetsuya akan perasaannya, dan mungkin mengikat pemuda mungil itu walau hanya lewat sebuah ciuman polos ala pubertas remaja.
Well, ternyata Seijuuro salah.
Kuroko Tetsuya tidak 'sesederhana' yang ia duga.
/Aku akan sangat sibuk hingga bulan depan. Maaf, kurasa aku tidak akan bisa menemui Seijuuro-san dulu./
/Aku sangat lelah karena baru kembali dari stasiun tv. Aku akan beristirahat. Selamat malam./
Lihat. Bukankah ini yang namanya 'mendadak' sedang diabaikan? Biasanya mereka bertukar kisah sehari-hari, walau itu hanya lewat teks atau aplikasi chat.
Kenapa sikap Tetsuya cepat sekali berubah? Baru kemarin mereka melangkah maju membuat progres, dan sekarang apakah hubungan mereka mesti mundur lagi? Kalau tahu begini, kesempatan kemarin ia pakai saja untuk menghamili Tetsuya sekalian. Resiko ditanggung belakangan.
Tapi bukan Akashi namanya jika ia bertingkah sembrono tanpa perhitungan. Seijuuro ingin proses sempurna, ia ingin kenangannya bersama Tetsuya meninggalkan kesan.
Bahwa ini adalah yang pertama sekaligus yang terakhir—kalau bisa.
Beruntung Seijuuro ada di luar kota saat ini, kalau tidak, mungkin ia sudah mengkonfrontasi Tetsuya akan tingkahnya barusan. Biar saja jika Seijuuro membuat takut kucing mungil itu, ia butuh penjelasan sekarang juga.
Tunggu.
Kenapa malah jadi ia yang gelisah begini?
Ponsel malang dilempar ke atas ranjang, Seijuuro memutuskan untuk berendam air hangat demi menghilangkan pegal yang menyerang persendian—juga penat pikiran. Seharian menghadapi rekanan bisnis membuat Seijuuro suntuk, ditambah lagi dengan perubahan sikap Tetsuya barusan.
Pasti ada sesuatu yang terjadi. Dan hal itu mempengaruhi perubahan sikap Tetsuya terhadapnya.
Ah, ingin Seijuuro cepat kembali ke Tokyo dan menyelesaikan ini semua.
.
Walau sudah diperingatkan oleh diri sendiri, nyatanya Seijuuro malah semakin tidak bisa mengendalikan hati. Seminggu ini Tetsuya hanya membalas singkat pesannya dengan alasan sama: kalau ia terlalu lelah setelah menjalani aktivitas harian.
Masaomi sempat menanyakan mengenai sikap uring-uringan Seijuuro sekembalinya ia dari pernikahan Ryota. Sang Anak hanya menjawab dengan respon singkat berupa gumaman, atau malah mengalihkan perhatian Masaomi pada hal lain semisal pengembangan bisnis mereka di daerah baru.
"Jangan pernah membawa urusan pribadi dalam dunia kerja, atau kau akan menyesal karenanya."
Guratan pena melesat jauh dari destinasi. Tinta hitamnya masih basah, melenceng keluar dari tempat yang telah disediakan untuk tanda tangan dalam lembar dokumen pengesahan. Sekretaris di hadapan menahan napas mendapati dua orang paling berpengaruh dalam perusahaan, tengah menebarkan aura-aura kegelapan.
Masaomi menatap Seijuuro yang duduk tidak jauh dari posisinya di kursi utama ruang rapat. "Selesaikan dulu apapun itu masalahmu. Jangan bersikap seperti banci." ayahnya lalu bersidekap, masih mempertahankan adu pandang mereka. "Setelah beres, baru kembali lagi kemari."
Sebuah hints tersirat ia tangkap di antara ucapan penuh sarkas milik pria paruh baya itu.
.
Dan Seijuuro benar-benar melakukannya.
Ia akan menyelesaikan ini dalam sekali lemparan batu.
Seijuuro segera menghubungi ponsel Ryota dan bertanya padanya, apakah jadwal Tetsuya kosong pada akhir pekan besok. Tentu saja Si Pirang balik mempertanyakan maksud Seijuuro mengenai hal ini.
"Ada sesuatu yang harus kupastikan." Katanya mantap, membuat rasa sangsi Ryota perlahan memudar. "Tetsuya mendadak bersikap seakan-akan ia tengah berusaha menjauhiku, terhitung sejak kepulangannya dari pernikahanmu."
Dalam hati Ryota sempat mengira-ngira, apakah masalah ini ada hubungannya dengan ucapan Daiki sewaktu di Kume dulu? Kalau iya, Ryota tidak berani mengatakan apapun. Takutnya ia salah berkata—bisa-bisa Daiki pulang ke rumah hanya tinggal nama, jadi lebih baik Ryota diam saja.
Seijuuro menghela napas. "Kalaupun aku bertanya langsung padanya, ia bakal mengacuhkanku. Ryota, kau megerti 'kan?"
Ryota mengangguk paham, meski Seijuuro tidak dapat melihatnya. Ponsel digenggam erat, ia sebisa mungkin memberi Seijuuro informasi yang ia miliki. "Aku belum bertemu dengan Kuroko-cchi dalam dua hari belakangan. Tapi setahuku, akhir pekan minggu ini, ia tidak memiliki jadwal-ssu..." Ryota lalu buru-buru menambahkan wejangan tanpa diminta. "Sebaiknya jangan gunakan tindakan gegabah, Akashi-cchi! Aku tahu kau itu dapat diandalkan, jadi kumohon... baik-baiklah dengan Kuroko-cchi ya-ssu..."
.
Seijuuro merapatkan mantel sewaktu ia berjalan melewati pot-pot rumput hias di sekitar area parkir gedung apartemen Tetsuya. Awal Desember ini terasa lebih dingin dibandingkan tahun-tahun lalu, kemungkinan salju turun lebih cepat dengan rentang waktu lebih panjangpun telah diperkirakan. Dan semua penduduk Tokyo hanya bisa berharap kalau salju tidak turun lebat selama prosesi natal sampai tahun baru terlewat.
Kaki-kaki Seijuuro membawanya memasuki lobby apartemen. Petugas jaga menyapa dengan ramah, bersamaan dengan seorang ibu dan bocah kecil ber-hoodie kepala rusa yang baru saja melangkah keluar dari pintu lift yang terbuka.
Ryota mengatakan bahwa Tetsuya tinggal di lantai tiga nomor 302, tepat dua kamar di sebelah kanan lift berada. Gedung-gedung apartemen di wilayah Shirokane kebanyakan tidak sampai menyaingi pencakar langit. Paling tinggi hanya sepuluh lantai, dengan bentuk menyerupai asrama sekolah. Mungkin setelah mereka resmi bersama, Seijuuro bakal memboyong Tetsuya menempati petak apartemennya di Azabu. Tinggal sendiri dilingkupi dinding-dinding persegi yang dingin, membuat Seijuuro merindukan sosok lain dalam kurungan rasa sepi.
(Haa, teruslah berharap Seijuuro. Kenapa kau jadi terlihat menyedihkan begini, sih?)
Bunyi 'ding' pelan membuyarkan satu delusi, Seijuuro melangkah sesuai instruksi Ryota. Ia juga sengaja tidak memberitahukan mengenai kedatangan mendadak ini. Diterima atau malah diusir nanti, Seijuuro hanya harus memastikan satu hal.
(Apakah Tetsuya bakal membalas perasaannya?)
Setelah itu tugas Seijuuro selesai.
Tanpa ragu ia menekan bel dan berbicara melalui interkom.
"Selamat pagi, Kuroko Tetsuya-san?"
Jeda sesaat, sebelum suara bernada ceria menyahuti kalimat Seijuuro.
"Ah, tunggu sebentar!"
Sebelah alis merah terangkat heran. Suara ini berbeda dengan milik Tetsuya. Berusaha tenang, Seijuuro semakin dihujani rasa penasaran. Dan kecurigaan Seijuuro berbuah manis, saat pintu di hadapannya terbuka perlahan.
"Ah, selamat pagi juga..." seorang pria muda tersenyum ramah. Rambutnya coklat tembaga, tersisir rapi ala anak muda kekinian. Kaus putih—yang terlihat seperti bukan ukurannya dipasangkan dengan celana hitam panjang. "Apa anda rekan Tetsuya? Silakan masuk dulu, dia sedang di kamar mandi."
Tetsuya? Bahkan orang ini memanggil nama kecil Tetsuya seakan mereka sudah lama saling mengenal. Tatap tajam Seijuuro dihiraukan, si orang asing dalam apartemen Tetsuya malah bertanya lagi tanpa beban.
"Anda ingin minum sesuatu? Teh hangat mungkin? Atau kopi?"
"Tidak, terima kasih." Pandangan menghakimi segera beralih pada interior dalam petak mungil apartemen, menatapi gradasi pastel yang menjadi warna utama pada barang pengisi ruangan. Ia didera perasaan tidak suka saat mendapati ada pria lain di sini, ditambah gaya bicara yang kelewat bersahabat begitu nama Tetsuya terucap.
Sadar bahwa suasana semakin canggung, pria asing itu berdeham hendak bertanya lebih lanjut.
"Jadi apa anda rekan Tetsu~"
"Maaf, tapi apakah anda kerabat Tetsuya?"
"Shigehiro-kun, siapa yang datang?"
Tiga suara bertanya—bersamaan. Arah pandang mereka langsung terbagi. Dua penuh teka-teki, sedang satu yang tersisa hanya sanggup memberi tatap tak mengerti.
Tetsuya berdiri pada ujung koridor yang menghubungkan kamar mandi dan ruang tamu. Handuk putih masih tersampir menutupi kepala hingga bahu—beruntung, ia sudah terbalut celana selutut dan sepotong kaus warna biru. Mata Tetsuya membulat kaget ketika melihat Seijuuro berdiri tegap di ruang tamu dengan raut wajah nyaris tak terbaca.
"Seijuuro-san?"
"Agh! Aku nyaris terlambat! Maaf, tapi permisi sebentar... Oi, Tetsuya! Aku pinjam kamar mandimu dulu..." pria asing itu terbirit memasuki kamar mandi dan menutup pintu dengan debam lumayan keras di belakang Tetsuya.
Meninggalkan dua karakter dengan sifat berbeda, berdiri diam dalam keheningan.
.
Ogiwara Shigehiro adalah sahabat Tetsuya sejak pemuda bermarga Kuroko itu dan ibunya pindah ke Nagano bertahun-tahun silam.
Ia sangat senang sewaktu rumah kosong yang terletak berhadapan tidak jauh dengan rumah—merangkap kedai oden kecil milik keluarganya, terisi oleh orang-orang baru. Rumah itu kini ditempati oleh seorang wanita asal Aomori, bersama putra tunggalnya: bocah manis dengan rambut dan bola mata sewarna permen buah beri biru kesukaan Ogiwara. Ia begitu mungil, sehingga Ogiwara sempat salah mengira jika Tetsuya adalah makhluk berjenis kelamin betina.
Dengar-dengar dari pembicaraan ayah, ibu, dan Sang Nenek, kepala keluarga mereka sudah tidak ada, kecelakaan kerja katanya. Kebetulan juga usia mereka sebaya, Ogiwara hanya terpaut lima bulan lebih tua dari Tetsuya. Jadi Ogiwara mengira dia dan Tetsuya akan dengan mudah menjadi teman.
Oh, betapa salahnya pemikiran Ogiwara!
Sangat sulit bagi Ogiwara untuk mendekati anak pendiam macam Tetsuya. Kalau ia menyapa, sering diacuhkan. Diajak bicara, tiba-tiba saja langsung menghilang tanpa bilang-bilang. Ingin pergi dan pulang sekolah bersama—kebetulan lagi, mereka satu sekolah dasar—semua itu hanya menjadi angan-angan...
Ugh, Ogiwara 'kan hanya ingin berteman!
Di sekolahpun Tetsuya kadang dijauhi karena ia dianggap aneh, atau dijahili murid-murid yang merasa superior di sana. Dan Ogiwara akan muncul bak pahlawan tanpa jubah dan pedang, tapi bermodal sapu bergagang. Ia bakal langsung menghalau para penjahil dengan wajah garang, atau mengancam akan melaporkan mereka pada sensei, agar telinga mereka menerima sebuah jeweran penuh sayang.
Bukannya berterimakasih, sementara Ogiwara sibuk mengurusi bocah-bocah preman itu, Tetsuya malah kembali menghilang dari pandangan.
Meski lelah, Ogiwara tidak menyerah. Banyak yang menyuruhnya menghentikan usaha mendekati Tetsuya Si Anak Aneh. Tapi Ogiwara tidak mau. Ia merasa bahwa Tetsuya tidak aneh, dia hanya berbeda.
Kuroko Tetsuya itu... dia istimewa.
Jadi sewaktu Ogiwara mendengar bahwa Tetsuya dikurung oleh bocah-bocah nakal itu lagi di gudang belakang tempat penyimpanan peralatan olahraga, Ogiwara meladeni mereka dengan kepalan tangan dan berbagai teknik tendangan yang pernah ia baca dari manga.
Walau mata kiri lebam, dan para murid perempuan menjerit histeris memanggil guru, Ogiwara tidak peduli. Setelah 'menghabisi' satu gerombolan, Ogiwa berlari tertatih menuju gudang belakang. Dengan cekatan, ia menyingkirkan palang pintu, lalu berteriak memanggil nama kecil Tetsuya.
Mungkin, inilah peristiwa bersejarah yang menjadi awal persabatan mereka. Hari di mana Tetsuya mulai berani membuka diri terhadap orang lain, selain keluarganya.
Dengan suara bergetar, Tetsuya menyahuti panggilan Ogiwara. Bocah berambut biru itu meringkuk di sudut gudang yang lumayan terang karena mendapat siraman senja dari kaca jendela. Jejak-jejak air mata sudah dihapus kasar menggunakan lengan kaus hingga kumal.
Hatinya lega.
Monster dan hantu tidak jadi memakan Tetsuya, karena Ogiwara sudah menyelamatkannya.
Di luar gudang, Ogiwara hanya tertawa tanpa beban sewaktu ditanya tentang wajah biru dan benjolan di kepala. Tetsuya kembali terisak, menyadari bahwa ialah penyebab Ogiwara terluka.
Kepala dengan helai-helai biru ditepuk berulang kali, Ogiwara berbisik bahwa 'yang penting Tetsuya tidak apa-apa!'
Sensei lalu menghukum para pengganggu, seraya menasehati agar tidak lagi mengulangi ulah mereka, atau hukuman yang lebih berat dari ini menanti mereka di depan mata. Ogiwara juga kena hukum, tapi ia menerima semua itu dengan tawa bahagia.
Kau tanya kenapa?
Itu karena dia telah berhasil menjadi sahabat dari Kuroko Tetsuya!
.
"Shigehiro-kun?"
Gelembung memori mendadak pecah dihantam suara yang begitu familiar di telinga. Ogiwara mendongak, mengalihkan atensi dari layar ponsel berisi peta digital mencakup wilayah Tokyo dan sekitarnya.
Ia tadi sempat bernostalgi akan masa kanak-kanak mereka, karena sebentar lagi akan bertemu dengan Tetsuya.
Hampir lima tahun mereka tidak bertemu. Sejak lulus kuliah dan langsung mendapat pekerjaan sebagai pegawai pada sebuah perusahaan kontraktor, ia ditempatkan jauh pada kantor cabang di Hokkaido. Itu berarti, hanya pada kesempatan-kesempatan tertentu saja ia dapat pulang ke kampung halamannya di Nagano. Itu berarti juga, Ogiwara akan berpisah dengan keluarga dan teman-temannya, termasuk Tetsuya. Sudah dipastikan mereka bakal jarang bertemu.
Apalagi saat ia tahu kalau Tetsuya ternyata mendapat tawaran dari sebuah agensi, setelah audisi majalah yang ia ikuti menjadikannya sebagai salah satu pemenang. Huh, Tetsuya dan dunia entertainment? Sepertinya terdengar tidak sinkron. Namun mengingat kegigihan Kuroko-san menyemangati Tetsuya demi memperbaiki sifat dan karakter anak tunggalnya, Ogiwara rasa, itu tidak apa-apa.
"Eh, Tetsuya?!"
Sadar, bahwa itu adalah sahabat sedari kecil yang menyapa. Ogiwara langsung berdiri dari sofa kafe untuk menyambut Tetsuya.
"Bagaimana kabarmu?" tangan saling menjabat erat, tanpa ragu Ogiwara segera memeluk pemuda di hadapannya. "Sudah lama sekali ya, kita tidak berjumpa!" walau tersamar topi dan masker, ia masih dapat mengenali rambut dan mata biru cemerlang di balik penghalang.
Pelukan tadi dibalas Tetsuya penuh rindu. "Baik. Shigehiro-kun juga, apa kau baik-baik saja?"
Ditemani dua cangkir coklat panas dan sepiring penuh waffle madu untuk dibagi bersama, dua sahabat lama itu segera bercengkrama untuk bertukar cerita.
"Salah satu atasanku menikah besok, lokasinya di Tokyo. Kupikir, ini kebetulan sekali... aku bisa sekalian bertemu dan mengunjungimu!" Ogiwara tersenyum ceria, sebelum akhirnya melahap sepotong waffle hangat berlumur madu.
Tetsuya ikut tersenyum. "Akupun belum lama ini baru kembali dari pernikahan rekan agensiku di Okinawa. Suatu kebetulan lain ya, Shigehiro-kun...?"
Ogiwara tertawa. "Aku berdoa, agar kita lekas menyusul mereka." Sebelah mata mengerling jenaka, ia menunjuk Tetsuya menggunakan garpu bernoda remah-remah manis kelebihan gula. "Jangan-jangan kau sudah punya pacar, ya?!"
Tetsuya hanya mampu menggeleng lemah sebagai bentuk penyangkalan—walau pria muda dengan warna mata menyerupai rubi terlintas dalam pikirannya tanpa bisa dicegah. Ogiwara masih sama seperti dulu, selalu saja senang menggoda Tetsuya dengan pernyataan-pernyataan absurd mengenai dirinya. "Mungkin itu dirimu Shigehiro-kun. Kau supel, pasti banyak orang tertarik padamu."
"Lihat siapa yang bicara?" pipi sebelah kanan ditopang telapak tangan dengan cepat, Ogiwara meringis sampai kedua matanya membentuk lengkungan bulan sabit di wajah. "Kau ini yang selebriti, Tetsuya! Kaulah yang menjadi magnet sekarang" Kalimat terakhir diucapkan setengah berbisik, Ogiwara kelewat senang mendapati lagi reaksi 'penyangkalan' dari Tetsuya.
Magnet apa? Tetsuya masih sama seperti dulu. Ia merasa belum banyak berubah walau sudah menjalani hidup sebagai bagian kecil dari dunia bisnis hiburan yang sangat besar.
Cairan hangat kehitaman dalam cangkir dihirup pelan, Tetsuya jadi merasa tidak enak karena sama sekali tidak melakukan penyambutan terhadap sahabat lamanya itu. Ia bahkan tidak menjemput Ogiwara di bandara. Sahabat macam apa dia?
"Maaf, aku tidak melakukan penyambutan apa-apa untuk Shigehiro-kun..." mata Tetsuya menerawang keluar jendela berembun kafe. Tidak hujan, namun udara sore ini begitu dingin di luar sana. "Jadwalku baru kosong sore ini."
Telapak tangan dikibaskan, Ogiwara mendengus seraya meraih selembar serbet di atas meja untuk mengusap sudut mulutnya. "Tidak perlu. Kita bertemu seperti ini saja, aku sangat bersyukur. Beruntung, jadwal Tetsuya dan kedatanganku kemari tidak berselisih. Tadinya aku tidak berharap banyak bisa bertemu denganmu..."
"Aku masih pemula, Shigehiro-kun. Aku tidak sesibuk atau setenar perkiraanmu..."
"Benarkah?" lagi-lagi senyum menggoda diberikan.
Tetsuya mengangguk. "Besokpun aku libur dari jadwal harian."
Ogiwara mengacungkan ibujari. "Baguslah! Dengan begitu, Tetsuya bisa menemaniku untuk mengenali seluk-beluk Tokyo sampai kepulanganku hari Minggu nanti!"
"Itu berarti kau berhutang padaku, Shigehiro-kun..."
"Gampang! Catat saja semua!"
Mereka terkekeh bersama. Ingin rasanya lembar demi lembar cerita dibagi, atau mengenang kembali masa-masa sebelum tanggung jawab mereka sebagai orang dewasa mulai membebani.
"Shigehiro-kun..."
Wadah keramik diputar, jemari mungil berhenti pada lengkungan telinga cangkir berwarna seputih krim. Mata mereka saling menatap, bibir Tetsuya mengucapkan juga kalimat yang sejak tadi ada dalam pikirannya.
"Mau menginap di tempatku?"
(Kita bisa mengenang masa lalu dan bercerita mengenai apa saja.)
.
Denting sendok membentur cangkir keramik menjadi pengisi sepi. Tetsuya langsung undur diri ke dapur dengan dalih hendak membuat teh, padahal Seijuuro jelas-jelas menunjukkan aksi penolakan akan ramah-tamah basi, ia ingin segera masuk dalam persoalan inti.
Ogiwara berjalan menghampiri, sudah terbalut rapi dalam setelan jas hitam formal dan dasi coklat bergaris. "Yo, Tetsuya! Aku kembali siang nanti. Jangan lupa janji untuk menemaniku berkeliling sebelum aku pulang ke Hokkaido, oke?"
Tetsuya mengangguk. "Hati-hati, Shigehiro-kun."
Seijuuro memperhatikan interaksi dua orang di hadapan. Ogiwara tidak sempat memperkenalkan diri, namun ia pamit permisi karena taksi sewaannya menuju lokasi pernikahan sudah siap menunggu di bawah. Sementara Tetsuya dengan canggung menaruh cangkir berisi teh di atas meja, lalu duduk pada sofa tak jauh dari Seijuuro.
Dua pasang mata beda warna menatap tanpa membiarkan satupun kedipan menghampiri. Intens, seperti berusaha mencari tahu apa saja hal yang ada dalam pikiran masing-masing saat ini.
"Kurasa kedatanganku tidak tepat. Bukan begitu, Tetsuya?" bagai bara api merah, tatapan Seijuuro menciptakan gelombang panas sewaktu menyelami pantulan mata serupa kolam biru milik Tetsuya.
Entah bagaimana, Tetsuya merasa bahwa Si Pemilik suara barusan bukanlah Akashi Seijuuro. Serupa, namun berbeda. Mendadak, Tetsuya diserang satu perasaan tidak enak melintasi hati.
"Seijuuro-san tidak memberitahuku terlebih dulu, jadi aku tidak bersiap..."
"Apa dia kekasihmu?"
Tetsuya mengaku kalah sewaktu ia berkedip tidak percaya. "Dari mana Seijuuro-san punya pemikiran seperti itu? Shigehiro-kun hanya menginap sebentar. Ia sahabatku dari kampung halaman."
Punggung ditegakkan, sosok Seijuuro benar-benar sangat mengintimidasi. Bukan menjawab, ia malah bertanya lagi. "Kenapa akhir-akhir ini Tetsuya seolah menjauhiku? Apa karena dia?"
Bagai rusa kecil terkena sorot lampu mobil, ia buru-buru berlari mencari tempat berlindung. Satu-satunya cara hanya dengan memalingkan pandangan agar rasa bersalah yang tiba-tiba datang, tidak menggerogoti diri. Katakan saja Tetsuya bodoh karena bisa-bisanya langsung termakan oleh ucapan Daiki pada tempo hari. Tapi mau bagaimana lagi, terkadang tindakan gegabah lebih cepat menguasai dibanding berjalannya logika. Dan begini akibatnya jika ia sudah terlanjur melakukan aksi impulsif tanpa mau tahu informasi sebenarnya dari sumber paling terpercaya.
(Ya, seharusnya Tetsuya mendengar ini semua dari Seijuuro sendiri, bukan menyerap kalimat demi kalimat tanpa keabsahan milik Daiki.)
"Kenapa Tetsuya? Apa ada sesuatu? Jadi benar?"
Otak Tetsuya berputar cepat untuk memberi satu jawaban pintar. "Tidak." Ia lagi-lagi tak mau menatap langsung pada Seijuuro. Pandangan mata biru itu mengarah pada apapun selain Seijuuro, dan memilih menatapi karpet sewarna madu yang melapisi parket kayu di bawah meja kopi ruang tamu. "Ini bukan karena Shigehiro-kun atau apapun. Kurasa ini terlalu cepat, hubungan ini tidak bisa berjalan, Seijuuro-san."
"Terlalu cepat?" ucapan Seijuuro selicin ular merayapi bebatuan. "Tetsuya, kau bahkan tidak menolak saat kuberi satu ciuman." tawa ringan terdengar—seakan meremehkan bagi telinga Tetsuya. "Kau di sana, kau sudah tahu perasaanku padamu."
Jantung Tetsuya mendadak berdetak layaknya jam hitung mundur bom waktu. "Kita belum lama saling mengenal. Kalau tiba-tiba seperti ini, aku..."
Hela napas dilontar ke udara. Seijuuro menutupi dahi dengan sebelah tangan. "Jadi hanya karena itu? Kalau dia sahabatmu dan sudah saling mengenal lama satu sama lain, baru tidak apa-apa? Begitu?"
Tengkuk Tetsuya meremang, perutnya berdesir tidak nyaman sewaktu kalimat itu terdengar. "Tidak..."
"Berarti aku memang tidak cukup layak di matamu." Seijuuro pura-pura tuli saat retakan aneh mulai menyebar luas memenuhi permukaan hati. Ia tidak tahu bahwa penolakan ternyata rasanya sesakit ini.
Karma memang ada. Dan sekarang sudah terbukti. Ia mengalaminya sendiri.
"Bukan itu..." ia berkata lirih, jemari dingin bertaut tanpa nyali.
"Lalu?"
Tetsuya sadar bahwa penyangkalan hanya akan menyeret mereka menuju jurang penyesalan tak berdasar. Tapi egoisme sudah terlanjur menguasai diri, Tetsuya tidak mau jika nanti hanya ia sendiri yang sengsara di akhir. Sama seperti mereka, partner-partner Seijuuro yang terlalu bermimpi tinggi akan kehidupan berkomitmen penuh taburan bunga dan pelangi.
"Aku tetap tidak bisa. Aku tidak mencintai Seijuuro-san."
(—bohong.)
Jawaban final diberikan. Seijuuro terpaksa mengakui kekalahan walau ia tidak rela, setelah mendengar kalimat barusan.
Telak. Kalau kau hanya bertepuk sebelah tangan, buat apa dilanjutkan? Lebih baik hentikan, sebelum ada penyesalan.
Hening sesaat sebelum suara Seijuuro menggaung di telinga.
"Oke." Mantel dirapikan sewaktu ia berdiri, cangkir teh sama sekali tidak disentuh. "Kurasa tidak ada gunanya lagi aku berlama-lama di sini. Karena tidak baik juga jika sebuah hubungan dibangun atas dasar kata terpaksa." ia berjalan menjauhi Tetsuya yang setelah berdiam lama akhirnya dengan gontai mengekor di belakang. "Tapi terima kasih sudah mau mendengarkan..."
Tetsuya tidak siap ketika malah segaris senyum yang ia dapat. Mereka berdiri berhadapan di ambang pintu, dan saat Seijuuro mencondongkan tubuhnya, Tetsuya lagi-lagi tidak mampu mengelak—ia mendadak mengalami deja vu. Suara Seijuuro berbisik lembut di telinga.
"Ini akan sulit bagiku." Mata mereka bertemu, mungkin untuk terakhir kali. "Tetsuya, kau tidak tahu apa yang sudah kau lakukan terhadapku." ia tidak menolak dan membiarkan sebuah kecupan ringan mendarat cepat di pelipis kiri.
Tetsuya bergeming dengan jantung bertalu. Hal terakhir yang ia tangkap sebelum Seijuuro melangkah melewati pintu adalah wajah sedih dengan senyum hangat menembus lembar-lembar memori.
.
"—ya? Tetsuya?"
"Hm?"
Ogiwara menatap ragu pada sahabatnya. Kemarin ia sehat penuh energi, namun hari ini ia berbeda sekali.
"Kau sakit?" seruputan ramen terdengar dari seluruh penjuru kedai. Pukul sepuluh, dan keduanya duduk santai menikmati makan malam yang terlewat jauh setelah seharian tadi lelah berkeliling menyusuri sudut-sudut kota.
Gelengan lemah diberikan.
(Tetsuya tidak sakit. Ini hanya lovesick.)
"Apa orang yang tadi pagi mengatakan sesuatu? Sesuatu yang jahat? Kau jadi berbeda setelah kedatangannya..."
"Tidak." Sumpit kayu mengaduk tidak nafsu pada helaian mie campur kuah berkaldu. Tetsuya hanya baru melakukan satu kesalahan fatal, dan mungkin tidak bisa diperbaiki lagi. "Aku... yang sudah berbuat jahat, Shigehiro-kun..."
Ogiwara berhenti menyeruput mie dalam mangkuk. "Huh? Kau bicara apa?" ia tidak mampu menyembunyikan rasa terkejut saat butiran air mata tiba-tiba menuruni pipi sahabatnya dalam diam. "Tetsuya? Lho... eh, kenapa kau menangis...? Ada apa ini?!"
Tatapan menghakimi tertuju pada Ogiwara, yang kemudian berusaha meyakinkan pengunjung bahwa bukan dia penyebab Tetsuya menangis. Ia tidak tahu apa-apa, sungguh.
.
TBC~
.
A/N: Dua atau tiga chapter ke depan mungkin tamat, doakan mereka bahagia... (pasti bahagia, atau siap-siap dirajam tuan Akashi) Hahaha. Saya malah bikin Tetsu nolak Seijuro! Apa-apan itu? Pake acara nangis segala?! *plak. Saya tau plot-nya emang kecepetan sangat, tapi ending ada di depan mata... Draft ending siap di otak, tinggal tulis aja, hahaha... Terimakasih buat yang sudah mau menyempatkan membaca atau meninggalkan review, itu membuat saya jadi bersemangat buat segera menyelesaikan cerita ini. Sampai jumpa en Ciao!
