00000000000000000000O0O0OOOOO
Kim Young Woon menimang dengan bangga putranya yang baru lahir seminggu lalu. Putra lelaki yang ditunggunya. Buah cinta pernikahan yang sudah lama didambakannya. Dia memandang takjub pada makhluk kecil tanpa dosa di dalam lengannya. Perasaan hangat serta sorot bangga menguar dalam dirinya.
"Lihatlah, sayang. Dia sangat tampan. Wajahnya mirip denganmu. Aigo sangat manis." Young Woon menggesekkan hidungnya dengan lembut pada hidung sang anak. Bayinya menggeliat dan dia terkekeh bahagia. Sungguh ini adalah momen luar biasa dalam hidup seorang Young Woon.
Tapi si istri hanya diam memandang jendela. Tak sedetikpun dia menoleh pada suami dan putranya. Kangin sedih sekaligus heran. Youjin seolah tidak menginginkan kelahiran putra mereka. Padahal memiliki anak adalah impian mereka sejak awal menikah. Harus menunggu selama enam tahun Youjin baru bisa mengandung. Begitu anak mereka lahir Youjin menjadi aneh. Sebenarnya kalau Young Woon perhatikan sejak mengetahui hamil Youjin tidak begitu antusias seperti dirinya. Dia banyak melamun dan tidak begitu peduli.
Young Woon meletakkan bayinya dalam box. "Youjin-ah." panggilnya mendekati sang istri. Dia duduk perlahan di tepi tempat tidur. "Youjin-ah, waeyo? Kau tidak senang dengan kekahiran anak kita? Cobalah kau gendong, kau pasti merasakan apa yang kurasakan. Suka cita. Aku sangat bahagia, Youjin-ah." Young Woon berkata dengan lembut. Sarat akan cinta dan kasih sayang.
Kangin meraih tangan Youjin, istri yang sangat dia cintai. "Gomawo. Kita akan menyayangi dan merawat Kyuhyun seperti yang kita impi-impikan dahulu. Ini mimpi kita. Setelah menunggu bertahun-tahun akhirnya kita bisa memiliki Kyuhyun. Gomawo Youjin-ah. Aku mencintaimu." dia menarik Youjin ke dalam pelukannya.
Youjin yang awalnya diam dan dingin mendapatkan pelukan penuh cinta dari suaminya merasakan gejolak yang besar. Dia mengepalkan tangannya erat-erat. Namun akhirnya hanya tangis yang bisa dia lakukan. Balas memeluk suaminya lebih erat. Sangat erat seolah tidak ingin kehilangannya.
Young Woon mengusap punggung Youjin. Tangis Youjin diartikan lain olehnya. Tangis haru. Dirinya tersenyum saat Youjin mengeratkan pelukannya.
0o0o0o0
Youjin memperhatikan suaminya yang sudah bersiap dengan pakaian kerjanya. Dua minggu sudah Young Woon mengambil cuti untuk menemaninya. Sekarang sudah waktunya dia kembali bekerja. Pergi pagi pulang sore atau sampai malam kalau banyak pekerjaan. Seperti yang sebelum-sebelumnya. Dia akan sendirian. Ah tidak sekarang ada bayi itu.
Youjin memeluk tubuhnya sendiri mengingat anak yang dia lahirkan. Tanpa tahu Young Woon sudah berbalik menghadapnya. "Waeyo?"
Youjin menggeleng kecil. "Kau akan segera pulang?"
"Akan kuusahakan pulang cepat. Kau takut sendirian?"
Youjin mengangguk ragu masih dengan menunduk. Young Woon mengusap kepalanya dengan lembut lalu menarik dagunya agar dia bisa melihat wajah istrinya dengan jelas. Young Woon tersenyum menenangkannya. "Ada Kyuhyunie yang akan menemanimu. Kau akan merasa canggung nanti, itu wajar karena ini pertama kalinya kau punya anak. Tapi yakinlah tidak akan seburuk itu. Nanti kau akan terbiasa kemudian malah akan menikmati kebersamaanmu dengan Kyuhyun. Kelak kau tidak akan lepas darinya. Kau pasti akan merasa menjadi ibu paling beruntung. Santai saja, insting seorang ibu akan menuntunmu. Iya, sayang?"
Youjin membuang wajahnya ke samping. Menggigit bibir dalamnya.
"Sayang," panggil Young Woon khawatir.
Youjin menggeleng. "Aku akan berusaha. Iya." mengatakannya lebih untuk dirinya sendiri.
Young Woon tersenyum lega mendengarnya. Sebagai salam perpisahan dia mengecup singkat kening dan pipi istrinya. Kemudian beralih pada bayi mungil di dalam box bayi. Menggendongnya sebentar dan mengecup pipinya berulang kali. Youjin melihatnya dengan perasaan miris. Tanpa sadar kembali memeluk diri sendiri. Namun dia menarik senyum kecil saat Young Woon menoleh untuk terakhir kalinya sebelum meninggalkannya sendirian dengan bayi itu.
Youjin menggigit ujung kukunya memandang box bayi tersebut. Hampir 20 menit sejak suaminya pergi. Dia hanya berdiri sambil memandangi box dimana seorang bayi berada. Darah dagingnya sendiri. Dia tidak meragukan hal tersebut. Tapi siapa ayahnya? Hanya Youjin yang tahu. Dan itulah alasan semua perubahan sikapnya selama ini.
Daripada senang Youjin justru merasa sangat tertekan. Mengingat dirinya yang hamil dan melahirkan yang bukan anak suaminya dia merasa sangat berdosa. Hanya suaminya yang dia cintai dan sayangi. Tapi kenapa benih dari orang lain yang bersemai di dalam rahimnya. Hati Youjin merasa hancur karena hal itu.
Bukan hanya sekali dua kali dia berusaha menggugurkan janinnya tapi janinnya itu selalu bertahan. Dan untuk yang keempat kalinya Young Woon memergokinya meminum obat aneh yang bertulis meluruhkan janin. Young Woon tentu murka namun dia berdalih tidak tahu. Mengakui niatannya hanya akan membuat suaminya semakin marah dan sedih. Yang lebih buruk adalah menganggapanya sebagai ibu yang buruk. Dia tidak mau dianggap buruk oleh suaminya. Dia sangat mencintai suaminya dan ingin selalu sempurna dimatanya.
Kemudian dia berhenti berusaha membunuh janin tersebut. Mensugesti diri dengan 'itu anaknya dengan suaminya. Tidak ada lelaki lain. Hanya Young Woon.' beberapa bulan cara itu berhasil. Dia merasa tenang. Namun begitu merasakan sakitnya melahirkan, dia justru teringat bagaimana sakit dan kecewa hatinya pada seseorang. Seseorang yang dengan tega melakukan semua ini kepadanya. Seseorang yang dengan akal mengambangnya karena mabuk menodai dirinya. Menodai kepercayaan dan kehormatannya.
Tanpa sadar Youjin sudah berdiri disamping box. Sosok yang disebut Young Woon sebagai Kyuhyun terlihat. Menggeliat pelan. Mata bulat dan jernih memandang Youjin dengan beribu ketidak tahuannya. Tangan-tangan mungilnya menggapai dan bibir merah ranumnya mengecap. Youjin mengulurkan kedua tangannya masih dengan kesadaran mengambang. Hanya ada rasa sakit dalam hatinya saat entah bagaimana dia mengangkat Kyuhyun dari box bayi dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Meletakkan Kyuhyun dalam bathup dan menyalakan keran.
Youjin berdiri memperhatikan bagaimana bathup kering itu mulai dialiri air. Sosok kecil didalamnya menggeliat merasakan air dingin menyentuh kulitnya. Memandang Youjin dengan polos. Namun Youjin masih pada posisinya. Memandang tanpa berkedip. Kyuhyun akhirnya menangis saat air dingin membuatnya tidak nyaman.
Youjin mendengarnya. Suara tangisan. Seperti suara bayi. Youjin mengerjap. Dan pemandangan sosok wanita yang memberontak dalam tangan-tangan kokoh seorang lelaki menyapu kedua matanya. Wanita itu menjerit dan memohon tapi lelaki yang sudah dikuasai alkohol menahannya dengan penuh tenaga. Memaksanya tidak berdaya dibawah tubuhnya. Menanggalkan pakaian dan menghancurkan diri wanita itu tanpa ampun.
"Tidak." Youjin mundur jatuh terduduk. Suara teriak kesakitan dan tangis putus asa memenuhi telinganya. "Tidak!" Youjin menggeleng keras menutup kedua telinganya dengan erat. "Kumohon hentikan. Hentikan!" Youjin terguguk. Dia tidak ingin mengingatnya. Kenangan buruknya. Kenangan yang dia simpan rapat-rapat karena tidak tahu harus bagaimana. Namun menyiksa batinnya tanpa ampun.
Nafas Youjin terengah. Suara-suara itu perlahan menghilang digantikan suara keran air dan suara-suara aneh dalam bathup. Youjin menjauhkan kedua tangannya dari telinga. Dia memandang bathup dengan kening berkerut. Wajahnya yang basah air mata menyiratkan keingintahuan. Dia penasaran dengan isi bathup. Namun detik berikutnya, dia baru ingat sesuatu, menghentak Youjin bangkit dari duduknya menghambur ke bibir bath up. Sosok kecil itu menggelepar didalam air. Youjin meraihnya buru-buru. Ekspresi ngeri dan ketakutan langsung menghiasi wajahnya.
Youjin menarik selimut tebal miliknya lalu membungkus sosok kecil itu. Namun si kecil hanya diam saja. Wajahnya pucat dan bibirnya membiru. Youjin menggigit kukunya panik. Dia membuka kembali bungkusan selimut yang membungkus bayinya. Youjin melakukan apa yang dia tahu. Memberi nafas buatan dan menekan perut Kyuhyun.
Youjin meyibak rambutnya dengan panik. Dia memandang Kyuhyun yang tak bereaksi meski dia sudah melakukan semuanya. Bibir Youjin bergetar karena gelisah. Sekali lagi Youjin melakukan nafas buatan dan menekan dada dan perut Kyuhyun. Kyuhyun terbatuk sekali, air keluar dari mulutnya disusul tangisan keras. Kyuhyun menangis amat keras. Youjin jatuh terduduk. Dalam hati bersyukur bayi itu bernafas lagi.
Kyuhyun demam akhirnya. Young Woon yang baru pulang sore itu dibuat cemas karena Kyuhyun terus-terusan menangis. Youjin diam seribu bahasa tidak menceritakan apapun yang terjadi hari itu. Namun Young Woon dibuat heran saat dokter memberikan keterangan perihal sakitnya Kyuhyun. Paru-paru dan lambung bayinya terisi air seolah sebelumnya tenggelam. Pikiran buruk tentang Youjin tidak terelak dari kepalanya. Namun dia memilih diam tidak mengungkitnya, hanya berjanji dalam hati akan lebih berwaspada.
Sejak hari itu pula antara Youjin dan Kyuhyun tidak ada interaksi lagi. Youjin enggan menyentuh Kyuhyun. Dan Kyuhyun yang seolah takut pada Youjin. Setiap Young Woon berusaha meletakkan Kyuhyun di gendongan Youjin maka bayi itu akan menangis dengan keras. Young Woon yang merasa heranpun dibuat bingung, tidak tahu harus melakukan apa. Namun dengan penuh kesabaran Young Woon mencoba melakukan apa yang dia bisa. Mengambil tugas Youjin menjaga Kyuhyun di sela kesibukannya dengan pekerjaan. Tak jarang Young Woon membawa-bawa Kyuhyun yang masih bayi ke kantor. Dan menghasilkan teguran dari atasan. Sekali lagi Young Woon tidak malu meminta keringanan dan pengertian dari atasannya. Dengan dalih istrinya sakit dan tidak ada yang menjaga Kyuhyun.
Pada kenyataannya Youjin memang sakit. Sakit dalam hatinya kian menumpuk. Membuatnya seperti bukan Youjin yang dikenal Young Woon. Dia melakukan semua aktifitasnya. Namun hanya sebatas itu. Dia berlaku seperti mayat hidup. Tidak tersenyum, tidak banyak bicara. Dan terlebih lagi tidak ada jiwa Youjin ditubuh istrinya.
Apalah yang bisa dilakukan Young Woon. Meski orang bilang istrinya sudah gila dan perlu dibawa ke rumah sakit jiwa. Dia hanya terlalu mencintai istrinya. Dia menolak semua saran yang mengarah 'sakit jiwa'. Baginya istrinya hanya tertekan pasca melahirkan atau hal yang sering di sebut Baby Blues atau apapun itu. Maka dirinya hanya bisa bersabar menunggu. Menunggu Youjinnya kembali seperti dulu. Youjin yang murah senyum, periang dan lembut. Sampai saat itu tiba Young Woon akan menjadi ayah dan ibu bagi Kyuhyun.
Di masa seperti itu Kyuhyun adalah pelita bagi Young Woon. Karena Kyuhyun dan untuk Kyuhyun Kangin bersabar dan memperkuat diri. Buah hati yang sangat dia sayangi. Dia melakukan semuanya agar Kyuhyun tetap tersenyum dan tidak kekurangan kasih sayang.
0o0o0o0
"Appa!" Kyuhyun 3 tahun berseru girang melihat appanya pulang. Young Woon mengukir senyum kemudian menghampiri putra semata wayangnya. Masih dengan menenteng tas kantor Young Woon meraih Kyuhyun dalam gendongan. Dengan senang dia menggesekkan hidungnya ke hidung Kyuhyun. Kebiasaan yang sering dia lakukan pada Kyuhyun. Entah saat dia senang atau merajuk atau hanya untuk bergurau.
"Anak appa tidak nakal hari ini, kan?"
Kyuhyun menggeleng cepat. "Kyunie tidak nakal appa. Kyunie jadi anak baik seperti biasa. Kyunie menjaga eomma dan rumah seperti yang appa katakan." ucapnya riang dengan logat kanak-kanak.
Young Woon tersenyum bangga. Mengacak surai putranya sebelum menurunkan ke lantai berdiri dengan kedua kakinya sendiri. "Appa lihat oemma dulu, ya. Kyuhyunie tunggu disini."
Kyuhyun mengangguk dan kembali naik ke sofa di depan TV. Menonton kartun seperti yang dilakukannya sebelum appanya pulang.
Young Woon berjalan menuju kamarnya dan sang istri. Dia memasang senyum sebelum membuka pintu coklat tersebut. Kamar yang dulu masih sama. Namun kehangatannya hampir pudar. Disana satu sosok yang dia cintai sedang duduk melamun seperti biasa. Memandang kosong pada jendela kaca. Hanya sesekali berkedip dan menoleh sebelum akhirnya kembali memandang kosong entah apa.
Tersenyum miris. Sudah satu tahun terakhir Youjin menjadi semakin jauh darinya dan menjadi seperti ini. Setiap hari melakukan hal sia-sia yang membuatnya merasa kehilangan harapan. Youjinnya telah jatuh terlalu dalam. Dia tak sanggup meraihnya lagi.
"Youjin-ah, aku pulang." sapa Young Woon lembut. Dia duduk di samping istrinya dan mengecup lembut puncak kepala Youjin. Dia memandang wajah istrinya yang masih cantik namun pucat. Tidak ada polesan di wajah itu. Dan rambutnya yang cukup rapi hasil sisiran putra mereka. Kyuhyun memang cukup membantu. Anak itu penurut, berbakti juga periang. Young Woon terkekeh kecil saat ingat bahwa Kyuhyun mereka termasuk anak yang aktif dan cerewet. Dia bersyukur. Dalam keadaan sulit dia masih bisa merawat dan memberi kasih sayang yang dibutuhkan Kyuhyun. Berkali-kali dia bersyukur dalam hatinya bahwa putranya tumbuh dengan baik.
"Youjin-ah, aku masih sangat mencintaimu. Aku akan merawatmu juga menjaga Kyuhyun kita dengan baik. Jadi jangan menyerah. Berjuanglah. Aku yakin kau akan kembali pada kita. Saranghae Youjin-ah." dia tidak pernah kehilangan harapan. Young Woon meremas lembut jemari Youjin sebelum meninggalkannya untuk berganti pakaian dan menemani Kyuhyun di luar. Putranya pasti sudah kebosanan menunggunya untuk bermain. Anaknya harus berdiam diri di dalam rumah hingga dia pulang. Sudah bisa dia bayangkan betapa kesepian anaknya itu. Young Woon tidak ingin membuatnya menunggu lebih lama. Maka dia bergegas mengganti baju formalnya dengan pakaian santai dan segera keluar.
0o0o0o0
Seberapa besar kesabaran dan keyakinan Young Woon nyatanya tidak juga mengembalikan Youjin seperti sedia kala. Jiwa yang hancur seperti kaca yang pecah. Begitu juga Youjin yang tidak mampu lagi meraih cahaya dan pegangan meski semua itu nampak jelas di depannya. Suami serta putranya.
"Eomma, Kyunie tampan?" Kyuhyun berdiri tegak di depan ibunya. Memperlihatkan seragam barunya. Ya Kyuhyun sudah 5 tahun. Sudah seharusnya masuk ke Taman kanak-kanak. Bocah kecil itu sangat antusias. Bahkan sejak Young Woon mengajaknya untuk mendaftar ke sekolah tersebut, Kyuhyun tidak berhenti berceloteh tentang dia yang akan masuk sekolah. Tidak peduli si ibu yang diam tidak merespon. Setidaknya masih ada Young Woon yang akan mendengarnya.
"Kyunie akan sekolah, eomma. Tapi kata appa sekolah Kyunie tidak sampai siang, jadi Kyunie bisa cepat pulang dan menemani eomma. Eomma jangan kesepian, ne. Jangan nakal, Kyunie janji akan segera pulang jika sekolah Kyunie sudah selesai. Janji, eomma." Kyuhyun mengulurkan jari kelingkingnya dan mengaitkannya di jari kelingking sang eomma. Tentu saja ditanggapi sikap pasif oleh sang eomma. Kyuhyun sudah terbiasa dengan itu. Bukan masalah baginya. Bukan berarti dia tidak pernah menanyakannya. Dia hanya terbiasa dan seperti kata appanya, eommanya hanya sedang lelah. Begitu lelahnya hilang eomma akan ceria dan banyak omong seperti Kyuhyun, begitu kira-kira yang Young Woonkatakan pada putranya.
Young Woon tersenyum diambang pintu memperhatikan sang anak. Begitu dirasa cukup dia memanggil Kyuhyun agar segera berangkat. Sebenarnya ini terlalu pagi untuk Kyuhyun berangkat sekolah. Tapi berhubung Young Woon masuk kantor pagi jadi terpaksa Kyuhyun mengikuti jadwal sang ayah. Dan untuk pulang sekolah Young Woon sudah menitipkannya pada salah seorang gurunya yang bersedia mengantar Kyuhyun sampai rumah.
0o0o0o0
Kyuhyun bernyanyi sambil memperagakan tarian dari sebuah lagu anak-anak. Ini dipelajarinya di sekolah hari ini dan langsung memperaktekkannya di rumah. Dihadapan Young Woon dan Youjin. Young Woon bertepuk tangan heboh berbeda sekali dengan Youjin yang diam bagai patung.
"Aigo anak appa memang pintar!" Young Woon mengacak surai Kyuhyun kemudian menggesekkan hidung mereka. Kyuhyun cekikikan.
"Appa suka?" Young Woon mengangguk kuat membuat Kyuhyun merasa sangat senang. Kyuhyun beralih ke hadapan sang eomma. Bergelayut di kedua lutut eommanya. "Eomma. Eomma suka?"
Youjin hanya diam. Namun itu tidak melunturkan senyum Kyuhyun. "Kyunie janji akan mempelajari banyak hal. Menjadi anak baik. Menjadi anak pintar agar eomma dan appa senang. Tapi eomma juga harus janji pada Kyunie. Eomma harus tersenyum untuk Kyunie. Janji?" dan entah untuk keberapa kalinya Kyuhyun mengaitkan kelingking mereka. "Eomma janji, ne suatu saat nanti eomma harus tersenyum untuk Kyuhyunie."
Young Woon memalingkan wajah tatkala matanya memanas. Dalam hati berdo'a untuk permohonan Kyuhyun. Dia juga ingin suatu saat nanti Youjin tersenyum dan memeluk mereka dengan penuh cinta. Suatu saat nanti, do'anya dalam hati.
Begitu setiap harinya keluarga ini menjalani hidup. Young Woon yang berperan ganda sebagai ayah dan ibu, Youjin yang tetap diam dalam dunianya sendiri dan Kyuhyun yang riang meski keluarganya tidak memiliki sosok ibu yang seharusnya. Semua terasa baik-baik saja dengan mereka selalu memupuk harapan dan kehangatan.
0o0o00
Saat itu musim hujan. Young Woon ada lembur hingga malam belum pulang. Kyuhyun sendirian bersama eomanya. Seperti pesan apppa, kyuhyun menutup pintu dan semua jendela rumah. Berdiam diri di dalam rumah bersama sag eomma sampai appa pulang. Kyuhyun anak penurut dan mengerti keadaan sang eomma. Untuk menghabiskan waktu dia bermain dengan buku gambarnya sedangkan sang eomma duduk diam di tepian kasur.
Kyuhyun menggumamkan sebuah lagu beruang yang dia suka, seraya menggambar. Dia asyik tanpa memperhatikan eommanya. Beberapa waktu hingga Kyuhyun mengangkat hasil menggambarnya. Dengan tersenyum lebar Kyuhyun bangkit dari lantai dan berdiri di depan sang eomma menunjukkan hasil gambarnya.
"Eomma, coba lihat. Kyunie menggambar keluarga kita. Ada eomma, ada Kyunie, dan juga appa." jelas Kyuhyun sambil menunjuk satu persatu sosok yang dia gambar.
Entah angin apa, tiba-tiba saja Youjin menggerakkan matanya dari jendela yang dia tatap. Memandang gambar Kyuhyun. Dia berkedip tanpa ekspresi.
"Eomma!" Kyuhyun nampak girang melihat pergerakan Youjin. Seumur-umur ini pertama kalinya Youjin merespon apa yang dia tunjukkan.
Mengabaikan senyum lebar Kyuhyun, Youjin menggerakkan tangannya perlahan. Awalnya menyentuh permukaan gambar Kyuhyun kemudian mengambil alih buku gambar tersebut. Kyuhyun yang merasa girang segera duduk di samping sang eomma. "Eomma suka? Aku akan membuat yang lebih bagus jika eomma menyukainya!" girang Kyuhyun.
Youjin memperhatikan satu persatu sosok dalam gambar itu. Kyuhyun, dirinya dan sang appa yang ditunjukkan Kyuhyun dengan tulisan diatas masing-masing gambar orang. Lama dia menatap sosok yang disebut Kyuhyun appa. Perlahan ekspresi Youjin berubah. Keningnya berkerut, bibirnya bergetar, matanya memandang tajam pada sosok yang kini berubah menjadi wajah lelaki itu. Lelaki yang telah merebut semua darinya.
Tubuh Youjin bergetar. Nafasnya memberat. Matanya bergerak tidak fokus.
"Eomma?" panggil Kyuhyun merasa aneh dengan gelagat Youjin.
Youjin menoleh. Hal pertama yang menyapa matanya adalah sepasang mata bulat yang begitu polos dan berkilau. "Kyu-hyun?" rasanya ini untuk pertama kali dia menyebut nama itu. Anaknya. Anak yang dia lahirkan. Perasaan halus itu hadir menggerakkan tangannya untuk menyentuh wajah buah hatinya.
Kyuhyun kembali tersenyum. "Eomma."
Youjin berjengit saat dengan tiba-tiba Kyuhyun memeluknya.
"Euhm. Ini Kyunie eomma. Kyunie sayang eomma."
"Kyuhyun." gumam Youjin pelan. Semua ekspresi yang untuk sejenak singgah di wajah tersebut menghilang seketika. Wajah datar dan mata yang penuh ketenangan kembali menghiasi. Youjin menghela nafas. Tangan yang tak lagi memegang buku gambar Kyuhyun menyentuh bahu Kyuhyun. Menariknya dari pelukannya.
Youjin mengukir senyum manis.
"Eomma tersenyum! Eomma tersenyum!" seru Kyuhyun senang. Andai appanya ada disini sekarang. Appa pasti sangat bahagia melihat senyum eomma. "Eomma cantik. Pantas appa sangat menyayangi eomma."
Youjin mengusap rambut Kyuhyun. "Benarkah?"
Kyuhyun mengangguk. Youjin menarik Kyuhyun hingga tubuh anak itu duduk di pangkuannya menghadap ke depan. Youjin merengkuh tubuh kecil itu dari belakang. Menyandarkan dagunya pada pucuk kepala Kyuhyun. Matanya menatap keluar jendela. Gerimis mulai turun.
"Eomma juga. Sangat mencintainya." kata Youjin penuh dengan arti. Namun apalah yang bisa dilihat dari anak seumuran Kyuhyun mendapati perubahan sikap Youjin yang tiba-tiba. "Tapi eomma melakukan kesalahan."
"Eomma nakal?"
Youjin menggeleng. Wajahnya berubah murung. "Eomma hanya lemah. Eomma salah karena eomma tidak bisa menjaga kehormatan eomma."
"Tapi appa pasti memaafkan eomma." balas Kyuhyun tanpa tahu apa arti dari kalimat sang eomma. Kyuhyun memainkan satu jari Youjin di depan perutnya.
Kembali Youjin menggeleng. "Appa akan sangat marah pada eomma. Appa akan berhenti mencintai eomma."
Kyuhyun ikut sedih karena perkataan itu. "Tidak. Appa pasti memaafkan eomma. Appa baik. Appa sayang eomma."
Kyuhyun memutar kepalanya untuk melihat ibunya. Youjin menatap kedua mata Kyuhyun. Meraih kedua tangan kecil tersebut. "Kyunie mau membantu eomma agar appa memaafkan eomma?"
Kyuhyun mengangguk berulang kali. Pikiran polosnya hanya berfikir untuk membantu sang eomma meminta maaf.
Genggaman tangan Youjin semakin erat. Dia merendahkan kepalanya. Memandang Kyuhyun lebih dekat.
"Mari menebus dosa bersama Kyuhyun. Dosa pada appa yang begitu menyayangi kita."
Kilatan petir membelah langit malam. Hujan jatuh tidak terbendung lagi. Saat guntur juga datang nyala lampu di setiap rumah di kawasan itu mulai padam. Suasana jadi hening dan suram. Tanah basah tercium baunya, namun di sebuah rumah justru anyir darah menusuk hidung.
Dalam kegelaan bocah itu beringsut mencari perlindungan dia tidak mengerti beberapa saat lalu wanita yang dia sebut eomma masih tersenyum dan memeluknya. Kyuhyun hanya berniat baik dengan memenuhi permintaan ibunya membawakan sebuah pisau dari dapur. Saat dia kembali dia melihat ibunya berdiri di dekat meja menulis sesuatu di kertas kemudian tersenyum pada Kyuhyun yang datang. Wanita itu meletakkan penanya dan menghampiri Kyuhyun. Menarik pisau dari genggaman kecilnya.
Kyuhyun juga masih menurut saat ibunya meminta dia mengulurkan tangannya. Namun dia tidak emngerti kenapa eommanya justru menggores melintang tangannya. Dia memekik sakit namun Youjin tidak menghentikan goresannya yang menyakitkan. Kyuhyun mencoba menarik tangannya namun mata Youjin yang menatap lurus kepadanya tidak berkedip.
Kyuhyun mulai takut, air matanya turun karena sakit. "Eomma, appo." mengadu tanpa hasil. Darah jatuh pada lantai dingin sedingin wajah Youjin. Wanita itu menjatuhkan lengan kanan Kyuhyun mengambil alih tangan satunya. Kyuhyun lebih kuat menarik tangannya sedang tangan kananya dia dia tekankan pada perutnya. Kyuhyun menangis keras. Air matanya berjatuhan tanpa jeda saat Youjin kembali menggoreskan pisaunya di lengan kirinya.
Kyuhyun berontak lebih. Bahkan mendorong sang eomma hingga wanita itu jatuh ke belakang. Kyuhyun berlari menjauh dari kamar eommanya.
"Apa ini Kyuhyun? Kau berjanji akan membantu eomma. Sini, nak temani eomma mati, sayang."
Kyuhyun berlari menuruni tangga. Saat kakinya menginjak lantai bawah dia melonjak kaget oleh guntur yang menggelegar. Kemudian semuanya gelap. Kyuhyun membekap keuda tangannya yang terasa sakit dan darah tidak berhenti keluar dari sana. "Appa…" lirihnya.
Kyuhyun bergerak saat dia dengan langkah Hera menuruni tangga. "Kyuhyun sayang, mau kemana? Eomma sudah menulis pesan pada appa. Ayo nak kita sudah bersiap pergi sekarang."
Kyuhyun bersembunyi di dapur. Di bawah konter, diam tidak bergerak meski tubuhnya bergetar karena takut ibunya yang berubah jadi sangat mengerikan. Kepalanya mulai pening. Kesadarannya hampir hilang namun dikejutkan oleh petir yang menyambar. Sekilas terang oleh cahaya yang menerobos masuk dari jendela. Dan ibunya sudah berdiri disana. Menyeringai kesenangan.
"Eomma, mianhe." cicit Kyuhyun ketakutan. Youjin yang mengangkat pisaunya membuatnya terlihat layaknya monster pemakan manusia.
Tiba-tiba Youjin menurunkan pisaunya. Wanita itu berjongkok mengintip Kyuhyun yang gemetaran. Raut wajahnya berubah menjadi kasihan. Kedua tangannya terulur menarik Kyuhyun keluar dari meja konter. "Anak eomma sayang." Kyuhyun dipindahkan ke bawah jendela. Youjin bersimpuh di depannya. Mengusap rambut Kyuhyun dan membersihkan wajah putranya dari air mata. Kyuhyun samar-samar melihat wajah ibunya dengan berkas terang dari jendela di atasnya. Namun itu tidak mengurangi ketakutannya pada sang ibu sekarang.
"Kyuhyun karena eomma sayang padamu, eomma ingin membawamu. Jangan berlari lagi ne. kyuhyun sudah lelah kan?"
Kyuhyun hanya mengangguk. Memang dia merasa lemas, kedua tangannya bahkan sudah terlukai di sebelah tubuhnya. "Eomma,"
"Heum?" Youjin meraih pisau yang sempat di letakkannya tadi.
"Kyunie takut pada eomma. Eomma mengerikan."
Youjin mengarahkan pisau pada dirinya sendiri. "Begitu?"
Kyuhyun mengangguk tanpa daya. Kembali dia merasakan kantuk. Namun dia masih bisa merasakan kedua tangannya kembali diraih sang eomma. Digenggamnya menjadi satu pada gagang pisau dengan genggamannya sendiri. "Tidak apa. setelah ini semua akan berakhir. Ayo pergi."
Kyuhyun tidak tahu pasti. Dia hanya merasa dirinya tersentak kedepan dan menimpa tubuh sang ibu. Dia mendengar erangan pelan ibunya. Kemudian hangat yang menyelimuti jemarinya.
Kyuhyun mencoba mengais kesadarannya. Mengangkat kepalanya untuk melihat sang ibu. Suara hujan diluar mengisi kesunyian. Dan petir kembali datang menerangi. Kyuhyun bisa melihat wajah ibunya. Sudut bibirnya mengalir garis darah, namun wanita itu tersenyum. Menatap sayu pada putranya. Mata Kyuhyun beralih, ingin tahu rasa hangat apa yang memenuhi tangannya.
Kyuhyun terisak saat indera penglihatnya melihat bayang gagang pisau didepan dada sang ibu. Kyuhyun menarik tangannya. "Eo-mma."
Youjin meraih tubuh kecil itu hingga menempel pada tubuhnya, membuat mata Kyuhyun semakin dekat pada gagang pisau yang logamnya terbenam dalam tubuh Youjin. Kyuhyun merasa mengantuk. Sangat mengantuk. Dan dia benar-benar terlelap.
TBC
Wednesday, February 10, 2016
7:42 PM
Friday, September 30, 2016
1:54 AM
Ini Bonus, tadinya mau dijadikan cerita masa kecil Kyuhyunnya, tapi tidak jadi. Saya tiadakan planning tersebut, tapi akan hadir menjadi Bonus seperti ini.
Sima Yu'I
(SY'I)
