Seven Days Challenge
Chapter 9
Gak Jadi Drop Out
Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto
Pairing : SasuHina
Genre : Romance, Friendship, Family (?)
Happy Read
Suasana yang ramai kembali menyelimuti kampus setelah selama seminggu penuh diserang oleh pekan sunyi. Yah...! Meskipun namanya adalah pekan sunyi, tetapi kampus yang besar tidak benar-benar sunyi dikarenakan ada banyak juga mahasiswa yang masih berada di kampus. Entah itu untuk mojok, atau untuk cari wifi gratis.
Tetapi, untuk kali ini berbeda. Aura ujian yang kuat segera menghiasi suasana kampus di hari pertama masuk setelah pekan sunyi.
Tidak, tidak seperti sekolahan yang selalu memasang banner 'Harap tenang, ada ujian' ketika minggu ujian, tetapi suasana akademik yang ramai oleh mahasiswa yang masih mengurusi absensinya yang kurang dari 80%, atau ruang kuliah yang segera ramai dengan mahasiswa yang belajar sebelum ujian, atau aura ketepatan waktu oleh mahasiswa yang biasanya bangun kesiangan.
Dan, di salah satu ruangan kuliah yang digunakan untuk ujian tersebut, seorang gadis berambut indigo tampak sedang duduk di kursi yang terletak persis di depan pintu. Berbeda dengan mahasiswa di sekitarnya yang sedang sibuk belajar, gadis ini justru sedang sibuk memperhatikan pintu yang sudah beberapa kali terbuka dan tertutup di depannya.
'Ayolah, Sasuke. Kau pasti bercanda dengan tahun akademik di soal yang kau serahkan padaku. Kau mengeditnya agar aku senang bisa dapat bocoran kan? Itu soal tahun lalu kan?' Batin gadis tersebut sambil terus menghadap kearah pintu, seolah menghitung berapa mahasiswa yang masuk kedalam ruang kuliah.
Beberapa saat kemudian, seorang pria yang tidak bisa dikatakan tua, tetapi lebih tua daripada para mahasiswa yang ada disitu tampak masuk kedalam ruang kuliah sebelum menutupnya kembali.
Sebuah bungkusan berwarna coklat yang masih tersegel tampaknya membuatnya menjadi seorang yang disegani sehingga para mahasiswa yang tadinya sedang ngerumpi membahas soal pun terdiam dan kembali duduk dengan tenang.
"Baiklah anak-anak, tidak boleh ada yang pake jaket, syal dan lain sebagainya. Hape masukkan kedalam tas dan tas dikumpulkan di depan" Kata pira tersebut sambil meletakkan bungkusan coklat yang dibawanya di atas meja.
Semua mahasiswa pun segera melakukan apa yang diperintahkan oleh dosen muda tersebut, sedangkan dosen itu menyobek satu bungkusan dan segera membagikan lembar jawaban yang berada di dalam bungkusan tersebut.
'Apa dia memang selalu setelat ini yah? Ini ujian loh' Batin Hinata ketika melihat Sasuke masih belum datang juga. Gadis itu pun segera mengambil lembar jawaban yang ditaruh diatas mejanya dan mengisi identitas dirinya sementara dosen pengawas tadi mengambil bungkusan yang agak tebal dan kembali berjalan memutari ruangan untuk membagikan naskah soal.
Mata lavender gadis itu pun sedikit tertutup, seolah berharap bahwa naskah soal yang diterimanya dari dosen ini tidak sama dengan naskah soal yang diberikan Sasuke kepadanya.
Tapi, kekecewaan segera terlihat di wajahnya ketika melihat soal yang pertama kali tercetak di naskah soal tersebut. Senyuman lemah tersungging di bibirnya yang indah ketika dia meneliti semua soal yang sudah diterimanya.
Kali ini, dia merasa ingin sekali untuk memarahi pemuda berambut raven itu. Kenapa dia bisa bertindak seceroboh ini sih? Apa sih yang ada di dalam otaknya yang mungkin saja lebih kecil daripada matanya itu? Tepung bekatul?
Dengan cepat, tangan mulus itu pun segera menandai semua jawaban yang sudah dia hafal di luar kepala sambil senyuman lemah yang menyiratkan kekecewaan tersungging di bibirnya.
"Sasuke no baka"
-0-
"Soal kali ini lebih mudah daripada yang UTS dulu kan"
"Jelas aja lagi, orang hampir seluruhnya hanya soal praktikum gitu kok"
"Harusnya kali ini lebih tinggi dong daripada nilai UTS"
"Palingan juga nambah 5 doang"
Sahutan demi sahutan lega tampak terdengar ketika gadis berambut indigo itu keluar bersama beberapa orang yang memang sudah selesai sebelum waktunya. Mata lavender yang indah itu tampak melirih kearah beberapa mahasiswa yang sedang berdiskusi dengan tatapan bete'. Tampaknya moodnya masih belum baik setelah melihat bahwa sang ketua kelas, aka Sasuke tidak ikut ujian.
Gadis itu pun menghela nafasnya dengan sedikit kasar. Perasaan kecewa masih menghiasi hatinya ketika dia melihat chatnya kemaren dengan sang ketua kelas, juga berita tentang soal UAS yang bocor sehingga pihak universitas harus men-DO mahasiswa yang melakukan kecurangan tersebut.
Sebuah pemikiran dan protes keras memasuki benak Hinata ketika mendengar hukuman DO tersebut. Bukankah itu terlalu berat? Bukankah hanya dengan menggugurkan semua mata kuliah yang dia ambil itu sudah cukup untuk membuatnya jera? Kenapa harus men-DO segala sih?
"Arigatou Gozaimasu, sensei" Sebuah suara baritone yang sangat khas segera menarik perhatian dari gadis berambut indigo tersebut. Gadis itu pun menoleh kearah suara yang sangat di kenalnya tersebut.
Pemuda berambut raven itu tampak keluar dari sebuah pintu di depan gedung akademik fakultasnya. Pakaiannya tampak kasual dengan kaos biru tua berkerah yang menghiasi tubuh kekarnya, rambutnya tampak masih basah seolah masih baru saja mandi, dan celana kain hitam yang tampak serasi dengan kaki panjangnya.
"Eh...! Udah selesai ujiannya? Cepat amat" Ledek pemuda tersebut sambil sedikit tersenyum geli ketika mata onyxnya menatap lavender yang tampak terkejut dengan kehadirannya. Mungkin pemuda ini tidak sadar jika selama ini gadis itu sudah mencarinya dan mengkhawatirkannya.
"Sa... Sasuke, ba... bagaimana kau ada disini?" Seru Hinata dengan terbata-bata, saking terkejut dan senangnya. Mata Sasuke tampak menatap heran kearah Hinata yang tampak sangat aneh dimatanya.
"Apa maksudmu? Kau mau melarangku untuk kuliah gitu?" Tanya Sasuke dengan nada heran.
"Bukan, bukan begitu, aku hanya... kau... uh, yang ada di berita itu" Hinata tampak kesulitan menata kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan rasa bingung sekaligus, gembiranya melihat Sasuke, pria yang selama ini dia tunggu di ujung gazebo kembali dengan selamat, tanpa kurang suatu apapun di depannya.
"Mungkin sebaiknya kita tidak bicarakan itu disini" Kata Sasuke sambil menggandeng tangan Hinata dan menariknya. Gadis berambut indigo yang masih tampak ling lung itu pun hanya bisa pasrah mengikuti langkah sang pria.
Suasana riuh ramai di gazebo tampak membuat Hinata sedikit nostalgia. Meskipun kemaren dia masih merasakan suasana keramaian seperti ini, tetapi tampaknya rasa itu terkubur oleh dinginnya udara malam yang menyengat kulitnya saat dia menunggu Sasuke. Belum lagi beberapa pria gamer yang mengejeknya saat dia menyadari bahwa Sasuke tidak datang hari itu.
"Baiklah, kau bisa bicara sekarang" Kata Sasuke sambil duduk di depan Hinata setelah melepaskan tangan Hinata. Gadis itu tampak sedikit bingung ketika Sasuke duduk di depannya sambil menatap wajahnya dengan tatapan serius.
"Uhm...! Jadi begini..." Hinata tampak berdehem pelan sambil duduk di depan Sasuke.
"Kau tau kan berita tentang anak yang di DO itu?" Tanya Hinata.
"Oh, itu. Sebenernya itu temenku sih, dia sudah beroperasi dalam menadah soal dari dosen" Jawab Sasuke yang sepertinya tau apa yang akan di bicarakan oleh Hinata.
"Heh...! Jadi, kau memang berlaku curang untuk mendapatkan nilai bagus dalam ujian?" Kata Hinata dengan nada yang sedikit kecewa.
"Tidak. Aku tidak suka dengan hal semacam itu. Lagipula, itu sama saja dengan membuang uang dua kali kan? Tapi, aku suka prospek bisnisnya" Kata Sasuke sambil sedikit menyeringai.
"Eh...! Apaan sih sebenernya yang kau pikirkan? Bu... bukankah itu sama dengan makan uang haram ya?" Tanya Hinata dengan wajah yang, sedikit khawatir. Dahi Sasuke tampak mengernyit mendengar ucapan Hinata, apakah makanannya itu urusannya juga? Kenapa gadis yang satu ini ingin sekali mencampuri makanannya sih? Tapi, bukan Sasuke namanya jika dia tidak bisa menebaj motif gadis yang dari ekspresi wajahnya saja sudah bisa ditebak ini.
"Kau, mengkhawatirkanku? Mah, mah, jangan khawatir, aku kemaren cuma sedikit bereksperimen aja kok. Dengan menggunakan script XSS aku membuat dosen itu men-share soalnya pada email random yang aku buat. Mungkin sekarang mereka sedang mencari siapa yang membuat email random..."
"...tersebut" Ucapan Sasuke tampak terputus ketika melihat tatapan Hinata. Mata lavender itu sekarang tengah menatapnya seperti tatapan seorang ibu yang melihat anaknya sedang bermain api.
"Gomen" Gumam Sasuke sambil sedikit menundukkan kepalanya seolah dirinya telah dimarahi oleh Hinata.
Gadis berambut indigo itu tampak sedikit heran dengan tingkah Sasuke. Pemuda yang biasanya mengajarinya dengan penuh percaya diri dengan prinsipnya itu sekarang tampak seolah menyesal dengan perbuatannya di depan Hinata.
Hal itu tentu saja membuat gadis itu tak bisa menahan senyuman manis yang sekarang sedang tersungging di bibirnya. Betapa pun kecewanya dia, tetap saja hatinya merasa sangat senang ketika melihat sang pemuda tidak jadi di DO hanya gara-gara satu soal yang bocor.
"Iya, iya, tapi lain kali jangan diulangi deh. Kamu kira aku senang dengan bocoran soal macam itu" Sahut Hinata sambil sedikit manyun, meskipun tampak sedikit senyuman yang dia tahan agar tidak diketahui oleh pemuda di depannya.
"Lain kali juga jangan tiba-tiba ngilang gitu napa, kan aku juga jadi susah kalo mau minta ajarin. Kemana aja kamu selama tiga hari kemaren?" Keluh Hinata. Pemuda di depannya itu hanya bisa menatapnya dengan tatapan heran. Kenapa sekarang Hinata juga peduli dengan menghilangnya dia sih?
"Oh...! Jadi sejak minggu lalu kamu sengaja kesini supaya bisa minta ajarin aku gitu? Astaga...! Bilang dong dari awal, kan aku bisa pasang tarif kursus" Kata Sasuke dengan nada meledek. Gadis yang awalnya sudah good mood itu pun kembali pasang wajah sebal pada Sasuke.
"Bu... bukan gitu ju... eh, tunggu dulu... bukannya selama ini kamu yang nungguin aku disini ya? Kalo nge-fans itu jangan sok cool deh" Bales Hinata tak mau kalah.
"Yee...! Ngapain juga nungguin kamu. Tiga hari kemaren aku gak kesini juga gapapa kok, malah kamu yang nyariin aku" Balas Sasuke.
"Ah...! Itu..." Gadis itu pun menunduk dengan muka yang memerah mendengar ucapan Sasuke tadi.
Keduanya terdiam selama beberapa saat dengan Hinata yang masih menunduk malu dan Sasuke yang tampaknya masih heran dengan tingkah Hinata. Tapi, gadis itu tampaknya tidak mau jika suasana menjadi canggung dengan mendadak seperti ini sehingga dia pun mengangkat wajahnya yang memerah.
"Mou... metode numerik susah banget tau. Dan kau meninggalkanku untuk mempelajari huruf dan simbol menyebalkan itu kemaren, pokoknya aku minta ganti sekarang" Kata Hinata.
Sasuke tampak terdiam mendengar ucapan Hinata. Mata onyxnya tampak masih memandang Hinata dengan tatapan heran, sementara gadis berambut indigo yang sudah menyadari keanehan tingkahnya itu hanya bisa menunduk dengan wajah yang memerah. Pemuda itu pun menghela nafasnya mendengar keluhan dari Hinata.
"Baiklah, sini ku ajari"
TBC
Yah...! Ternyata Sasuke gak jadi di DO ;(
Rencananya mau update satu chapter buat ending sih, tapi kok kelihatannya panjang ya, jadi buat dua chapter aja deh.
Thanks for Read
Don't Forget to Review
