Normal POV
Dulu, Sabaku Gaara adalah yang terbaik.
Ia memiliki keluarga lengkap, kaya, dan hidup berkecukupan. Rumah yang dibangun oleh ayahnya merupakan istana kecil untuk keluarga Sabaku. Selain itu, terdapat seorang putri yang membuat hari-hari Gaara terasa begitu indah. Adik bungsu tersayang, bernama Sabaku Saara.
Bocah itu hanya terpaut beberapa tahun dari dirinya, membuat Gaara mudah berinteraksi dengan Saara. Sejak memasuki usia dimana masa anak-anak merupakan hal utama, mereka selalu bersama dan Gaara tak pernah meninggalkan Saara dalam keadaan apapun.
Ia menyayangi adiknya dengan sepenuh hati.
Namun, hidupnya sedikit retak karena saat Gaara memasuki remaja, dirinya mulai merasakan kejanggalan. Ia tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres di antara kedua orang tua mereka. Akhir-akhir ini ayah dan ibunya sering membicarakan hal yang patut tidak didengarkan oleh dua bocah seperti Gaara dan Saara. Tapi merasa ini sudah kelewatan, si sulung Sabaku memutuskan untuk menyelidiki dan mendengarkan ocehan orang tuanya yang sibuk meneriaki satu sama lain.
"Aku melihatnya sendiri! Kau pikir aku hanya berdiam disini dan membiarkanmu pergi dengan wanita lain!?"
"Kau tidak mengerti! Brengsek! Hentikan ucapan gilamu ini!"
Dan di saat itulah tragedi terjadi.
Suara tembakan terdengar, membuat Gaara kecil mendengar suara debuman singkat.
Iris hijau membulat sebagai awal permulaan.
Dengan takut-takut, ia melirik dibalik pintu, menatap penuh nanar ibunya yang terjatuh dengan darah mengalir di seisi lantai. Gaara terdiam, bibirnya tak sanggup berbicara. Ia hanya bisa melirik Karura yang sudah tak bernyawa.
Saat itulah, gejolak aneh mulai muncul.
Ibu tersayang, yang sudah merawat mereka berdua.
"S-Siapa... siapa disana!?"
Ayah Gaara mengetahui keberadaannya.
"P-Papa... kenapa papa membunuh mama!?"
Tak ada ampunan, tak ada rasa bersalah.
Gaara segera memasuki ruangan, mengambil pistol cadangan yang tergeletak di atas nakas tempat tersebut.
"KAU PEMBUNUH!"
DOR!
Ia belum pernah memegang senjata, Gaara belum pernah berlatih, dirinya sama sekali tidak mengerti. Mengapa ia langsung bisa mengangkat pistol itu dan tepat mengarahkannya pada dahi sang ayah? Kenapa tidak ada keraguan di dalam dirinya? Kenapa ia tidak menyesal telah membunuh ayah kandungnya?
Tak ada rasa apapun. Hati yang awalnya dipenuhi oleh kebaikan telah diselimuti oleh sesuatu yang gelap.
Menarik napas dalam-dalam, berdecih singkat, dan akhirnya pergi darisana membawa adiknya yang tak tahu apa-apa.
"Gaara... kita mau kemana?"
"Ke tempat yang jauh sekali. Tak ada papa dan mama, hanya kita berdua."
Hari demi hari dan waktu terus berjalan. Gaara semakin dewasa dan tahu apa arti dari sebuah kehidupan. Untuk membiayai kehidupan mereka, pria yang saat itu sudah berusia dua puluhan itu mengikuti organisasi gelap yang tidak disahkan secara negara. Karena tidak memiliki pendidikan yang cukup, pemuda itu terpaksa melakukan segalanya untuk menghidupi dirinya dan Saara.
Sabaku Saara sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik. Ia bersekolah dan menyayangi kakaknya sepenuh hati. Tak pernah ia tahu bahwa Gaara telah melakukan pekerjaan kotor, karena dirinya selalu menganggap bahwa penghasilan yang mereka buat merupakan jerih payah dari pekerjaan Gaara yang tidak diketahui. Ia berstatus sebagai mahasiswi di universitas ternama Italia, dan merangkap sebagai pekerja sambilan di sebuah toko bunga.
Saara tidak tahu bahwa Gaara telah melakukan pekerjaan berat yang sangat beresiko.
Di organisasinya, Gaara dikenal sebagai penembak jitu terhebat. Ia bisa memegang Dragunov dan memodifikasinya dengan sangat baik. Para polisi memang mengincar mereka, tapi sedikit sekali yang mampu mengenal wajah Gaara. Hanya beberapa dan itu merupakan kolega atas di dalam kepolisian negara. Hal tersebut membuat pria keturunan pertama keluarga Sabaku lebih leluasa untuk bergerak, menembaki kepala musuh dibalik lensa pengamat.
Gaara adalah seorang penembak jarak jauh, ia akan bergerak dibalik bayangan teman-temannya yang lebih memilih untuk bergerak maju. Ia adalah seorang pahlawan tak berjasa, karena dirinya adalah karakter pendukung namun aksinya sangat akurat.
Itulah kehebatan Sabaku Gaara dalam dunia kejahatan.
Namun sepandai-pandainya tupai melompat, maka akan jatuh juga. Pada awal musim dingin, tragedi kedua dalam kehidupan Gaara terjadi. Pemerintah Italia mengetahui aksi mereka yang sedari dulu dilakukan secara diam-diam, sehingga negara yang sangat terkenal di Eropa itu memutuskan untuk bekerjasama secara khusus oleh pihak polisi terpilih di Amerika dan dididik secara rahasia. Dan hal itu benar-benar tidak diketahui oleh Gaara beserta kroni-kroninya.
Kalah jumlah, kalah senjata, kalah tingkat kekuatan.
Tempat mereka dikepung dan tidak dibiarkan lolos sedikitpun. Gaara terperangkap, aksi bom terjadi dimana-mana. Senjata dengan beberapa peluru masih ia pegang, namun dirinya tak yakin bahwa hal itu akan terus bertahan selamanya. Ia hendak melakukan sesuatu dan mencoba kabur, bertemu Saara dan membawanya pergi dari tempat berdarah itu.
Di tengah merahnya api, ia mencoba untuk berpikir.
Tak ada waktu untuk mencari celah, yang ada di pikirannya saat itu hanya adiknya seorang.
DOR DOR DOR!
Peluru emas dengan berat kurang dari satu milimeter terbuang tak percuma. Gaara berlari dan menembak secara membabi-buta, tidak peduli dengan teman-temannya yang sudah terkapar selama ia berlari menerobos jalan. Asap gelap yang mengepul di langit-langit, api yang membakar hutan, serta darah yang bercipratan dimana-mana.
Fakta itu membuatnya muak.
Melangkah cepat menuju hutan, ke rumah mereka yang letaknya tak terlalu jauh dari rumah ilegal yang disewa oleh atasannya saat ia bekerja. Gaara berhenti, ia terdiam, memandangi rumah kayu yang ia bangun untuk tempat tinggal dirinya dan sang adik; telah terbakar habis disertai dengan abu hitam yang tak terhitung.
Entah karena kelelahan atau apa, Gaara tak sanggup lagi untuk bergerak.
Tepat di depan rumah mereka, terlihat tiga sosok yang keadaannya saling berkebalikan. Dua orang, dan satu orang. Helai merah terjatuh, darah lengket menelusuri rumput yang dilindungi salju, tubuh kaku dengan napas tak teratur. Di sisi lain, terlihat dua sosok tak dikenal berada diseberangnya, dengan si pirang memegang pistol yang barusan menembaki kepala adiknya.
Sabaku Saara masih hidup saat itu.
Iris jade terpaku sesaat. Gaara ingin bergerak, tapi ia tidak bisa.
"Sakura," Suara berat nan menusuk, nama asing terdengar di telinga Gaara. "Lanjutkan. Kau yang akan mengakhiri hidupnya."
Tak ada jawaban, helai merah muda masih terdiam kaku dibelakangnya.
Tsunade Senju berbalik, ia menatap anak cucunya dengan pandangan tajam. "Ini sebagai bukti bahwa kau adalah penegak. Kau adalah polisi, kau anggota pemerintah, kau pembasmi. Lakukan dan tegakkan keadilan, Sakura!"
Pistol perak berpindah tangan, A9-M11 sekarang telah menjadi penentunya.
Wanita dewasa itu membisikkan sesuatu yang tak Gaara tahu. Dan di saat itu, si gadis dengan helai merah muda mulai bergerak, melangkah pelan sembari menggenggam erat pistol yang tengah merebut setengah nyawa dari adiknya.
Merasakan ancaman mendekat, Saara mencoba bangkit. Iris hitam legam keturunan ayahnya menatap nanar Sakura yang berjalan kearahnya.
"Kumohon. T-Tidak, jangan—"
DOR!
Jantung sebagai incaran, tubuh dingin nan kaku langsung terasa. Sabaku Saara benar-benar ambruk, ia jatuh dengan darah tambahan yang berasal dari dada yang menghasilkan lubang.
Gaara tak sanggup berkata apa-apa.
Tak sampai disitu, Sakura mengangkat kakinya, menendang kasar tubuh Saara yang tak lagi bernyawa. Menendang, menyiksa, menembaki seluruh bagian tubuh yang tak terkena peluru. Iris hijau terang seolah dikendalikan, kosong dan hampa. Gadisi itu akan terus melanjutkan kegiatannya bila saja peluru emas khas penembak kelas atas hampir mengenai kepala.
Dua pasang hijau bertemu, dengan tatapan saling membunuh.
"Kau... membunuhnya. KAU MEMBUNUHNYA, SIALAN!"
Teriakan itu mengudara, tak ada jawaban. Tsunade menatap Gaara yang sudah keluar dari tempat persembunyian. Ia mendengus pelan, "Kalian mirip. Oh, sangat menyedihkan kalau dia benar-benar saudaramu, Mr. Sabaku."
Apa?
"Dialah targetmu, Sakura." Ia melirik gadis itu. "Bunuh dia."
Gaara sama sekali tidak siap ketika gadis aneh itu berlari, menendang kepalanya disertai dengan tembakan pistol yang mampu membuat pipinya tergores kasar.
Mereka bertarung sengit, entah itu dari jarak jauh maupun dekat, dalam sudut manapun Gaara tidak bisa menang. Selain stamina yang benar-benar terkuras, gerakan Sakura yang tak terbaca membuatnya kewalahan. Pria itu tak siap ketika tembakan-tembakan peluruh mengenai tubuhnya. Pistol murahan akan sangat mematikan bila yang memegang adalah tangan-tangan terlatih, termasuk perempuan itu.
Ketika tangan kecil gadis itu kembali memegang pistol, mengarahkannya tepat pada bahunya yang cedera, Gaara terkesiap.
DOR!
Mata membulat mengerikan, rasa sakit di dada tak dapat dihentikan.
Gaara terjatuh, pandangannya kabur.
Napasnya tersengal. Dalam kesamaran, terakhir kali ia melihat mayat Saara yang tergeletak jauh darinya.
.
.
.
GANGSTER SQUAD
Naruto by Masashi Kishimoto
Gangster Squad by stillewolfie
[Sasuke U. & Sakura H.]
OOC, AU, typos, action gun, etc.
.
.
let's start tonight.
.
.
County-USC Medical Center, United States.
Desauan angin yang melebur di tengah malam menjadi atensi Gaara sekarang. Pria itu menyandarkan tubuh pada jendela, menatap langit malam yang gelap diiringi dengan lampu-lampu gedung pencakar langit serta cahaya kendaraan. Dari sudut atas, ia bisa melihat segalanya. Pejalan kaki yang mulai sepi, para polisi yang mulai berpatroli, serta anak-anak gadungan yang mulai bermain di tengah kota.
Tak ada yang melarang, mengingat Amerika melegalkan segalanya.
"Aku dipengaruhi saat itu," Gaara tahu. Dari ingatan masa lalu yang terputar di otak, ia dapat menyimpulkan hal yang sama pula. "Aku tidak tahu apa yang dilakukan sir Tsunade padaku. Tapi yang jelas, aku melakukannya atas perintah, bukan keinginan."
Senyum tipis mengembang meski tak terlihat dari wajah Gaara. "Intinya sama saja. Kalian membunuhnya."
Sakura pun merasakannya. Hati merasa bersalah, namun apa daya semua sudah terlanjur dilakukan. "Aku tidak tahu dia adikmu. Maafkan aku, Gaara."
Kata maaf sudah tidak berguna. Kejadian itu telah berakhir dan era organisasi-nya pun musnah. Gaara tak ada tempat untuk berpulang. Keluarganya sudah tidak ada dan Saara sudah dibunuh oleh polisi jahanam seperti kelompok keadilan dari Haruno Sakura. Namun, Gaara mengerti. Ia paham bahwa balas dendam sudah tidak berguna. Ia sadar semuanya tidak akan berguna bila pria itu membunuh Sakura sekarang. Tak ada kepuasan, dorongan itu sudah tidak ada.
Sabaku Gaara mengerti. Bahwa kini tujuannya ialah sama dengan perempuan itu.
Mereka sama-sama dijebak. Gaara yang terjebak oleh ketololannya, dan Sakura yang dimanfaatkan oleh keluarga terdekat. Kemiripan yang luar biasa. Sakura pun menyadarinya. Ia hanya mengerling pada arah yang berbeda, tak mau melirik punggung Gaara yang masih tak sudi untuk menatapnya.
Menghela napas sebagai awal permulaan, senyum tenang terkembang. "Sekarang adalah waktu yang tepat," Sakura berucap. Helai rambut sebahu bergoyang. "Bunuh aku bila itu membuatmu puas, Gaara."
Dibalik saku mantel Gaara, Sakura tahu bahwa isinya terdapat revolver 9mm automatic sederhana yang dirancang dari buatan tangan khusus. Itu pistol yang bisa membuat seseorang mati dalam sekejab. Karena pelurunya yang terbuat dari perak serta magnet dan daya tarik yang luar biasa, tubuh akan langsung terkena imbas dan akan menghentikan detak jantung di detik itu juga. Sakura dengan senang hati bila Gaara membunuhnya dengan pistol istimewa.
"Itu tidak perlu."
Terdiam, Gaara berbalik.
Iris hijau itu saling menabrak, berpandangan dengan arti yang lain. Sakura pun mengembangkan senyum, mendengus ketika masih melihat hawa napsu untuk membunuh. "Kalau begitu, kapan kau akan membunuhku?"
"Tergantung sampai mana kau meneruskan rencana ini," Gaara menegapkan tubuh. Ia melangkah menuju pintu ruangan dan bersiap pergi darisana. Hanya saja, Sakura tahu bahwa ucapan pria itu tak sampai disitu saja. "Akan kubunuh dia, Uchiha Sasuke. Dan kontrakku denganmu sudah selesai."
Ketika pintu tertutup penuh, Sakura terdiam sebentar.
Ia tersenyum lega.
"Kontrak, ya?" Sakura menyandarkan diri di kasur. "Ah, tak apa. Kau akan membunuhku setelah itu 'kan, Gaara?"
Haruno Sakura menutup kedua mata.
Ia bersumpah, Sakura akan menuntaskan kasus ini dan kembali ke daerah asalnya.
.
.
~ gangster squad ~
.
.
Los Angeles Police Department, Los Angeles.
Matahari mulai bersinar dari ufuk timur. Suasana kian ramai kala penduduk mulai beraktivitas dan pergi dalam waktu yang berbeda. Jalanan besar mulai diisi kendaraan, serta pinggiran jalan mulai diisi para remaja dalam berbagai fashion yang berbeda. Amerika sangatlah besar, namun kadang sekilas negara tersebut begitu menguntungkan.
Kantor polisi pusat berada di Los Angeles, Amerika. Dan di lantai teratas, terdapat ruangan khusus untuk para opsir maupun atasan. Para penyelidik dan detektif yang dibayar untuk membantu berada di daerah yang berbeda. Sepuntung rokok yang terbumbung jelas di ruangan besar itu sebagai buktinya. Senju Tsunade dengan rambut terikat rapi, menatap keluar dengan alis mengerut tampang berpikir.
Di sisi yang berbeda, eksistensinya membuat semua orang terkejut sebentar. Dengan sikap baru namun tegas, Haruno Sakura dengan wajah sehat seperti biasa melangkah penuh menuju ruangan kepala kepolisian. Tanpa mengetuk, tanpa izin untuk menunggu terlebih dahulu, Sakura berhasil memasuki tempat tersebut.
Terakhir Sakura lihat, ruangan itu tetap sangat biasa. Dinding kayu mengkilap, di desain berwarna cokelat kemerahan, satu sofa empuk dengan meja yang lengkap sebagai hiasan, serta dua kursi gerak dengan meja kantor milik neneknya berada di tengah-tengah. Sakura terdiam disana, menatap punggung Tsunade dengan penuh kesinisan.
"Siapa yang menyuruhmu untuk keluar dari rumah sakit, Sakura?"
"Aku keluar karena sudah sehat, Tsunade-baasan."
"Tapi aku tidak memerintahkanmu untuk keluar."
"Kau pikir aku peduli dengan perintahmu sekarang?"
Tsunade melotot tak percaya, ia menoleh tegas. "Apa—"
"Ini tentang Gaara," Sakura berjalan cepat. Memukul keras meja Tsunade, menatap neneknya itu tajam tak terkira. "Aku sudah ingat semuanya, baa-san. Dan sekarang, aku bertanya padamu." Ia menjeda kalimatnya, sebentar. "Apa yang sudah kau lakukan pada tubuhku!?"
Suara deru AC yang menyala menjadi latar belakang mereka berdua. Tsunade menatap Sakura dengan pandangan tak percaya. Ia sama sekali tak menyangka gadis itu akan marah padanya. Oke, ia sadar bahwa Sakura merupakan bocah puluhan tahun dengan tingkat emosional yang labil. Tsunade tahu ini bukan pertama kali gadis itu marah-marah padanya. Namun saat sadar dimana letak permasalahan berada, barulah wanita berkedok nenek tua itu mengerti dimana titik terang yang sebenarnya.
"Sekarang aku bertanya padamu, Sakura." Mereka berhadapan. "Apa ini peristiwa yang terjadi dua tahun lalu? Saat kau masih berstatus sebagai polisi profesional, hm?"
"Sebenarnya aku kurang suka cara bicaramu. Tapi ya, itu benar." Sakura pun sama, ia menyipit enggan. "Apa yang sudah kau lakukan?"
"Akan kubuat semuanya menjadi jelas." Ucap si wanita yang lebih tua. "Saat itu, kau lemah. Kau tidak berdaya dan kau terlalu termakan perasaanmu yang rendah."
Manik Sakura membulat sempurna.
Tsunade menatapnya dalam diam.
"Aku tidak mau. Kau adalah cucuku, penerusku suatu saat nanti. Dan kau, memiliki hati lembut yang harusnya tidak dimiliki oleh seorang polisi." Tsunade maju beberapa langkah menuju Sakura. "Itu adalah kebodohan. Kita yang benar, kita adalah seorang penegak. Arahkan pistolmu dan bidiklah orang yang bersalah!"
"Tapi kau menembak orang yang salah!" Sakura berteriak. Ia melotot marah. "Kau menembak Sabaku Saara, dan kemudian kau menyuruhku untuk mengakhiri hidupnya, 'kan? Padahal sudah jelas, dia tidak bersalah. Sabaku Saara bukan orang jahat dan kau masih memaksaku untuk membunuhnya!?"
Tak ada balasan, tak ada teriakan. Tsunade tidak menyangkal, maka bantahan Sakura merupakan hal yang benar. Deru napas menjadi perseteruan mereka, hanya saja gadis berambut merah muda yang diikat satu tetap berdiri tegap, memelototi Tsunade dengan pandangan tidak suka.
"Aku sudah tidak peduli lagi apa masalahmu, baa-san." Sakura menarik napas dalam-dalam. "Padahal kau yang menyuruhku kesini, memberantas politisi itu dan mendamaikan kota ini. Tapi kau-lah yang menjadi awal permasalahanku disini." Berdecak, Sakura melipat kedua tangan di dada. "Sudah kuputuskan. Aku tetap menerima Gaara dalam kelompokku. Itu mutlak dan kau tidak pantas membantahnya."
"Saku—"
Tatapan tajam dilayangkan oleh Sakura, membuat Tsunade tak berkutik sedetik saja. Ini perasaannya saja atau bagaimana, tapi gadis itu terlihat berbeda. Ambisi tegas berkibas di kedua manik hijau Sakura. Ia menghembuskan napas terakhir di ruangan itu, bersiap pergi dan meninggalkan Tsunade yang terdiam membisu. "Setelah menyelesaikan semua ini, aku menolak bekerja sama denganmu lagi, Tsunade-baasan. Bye."
Sakura pun pergi darisana, tak mengindahkan Tsunade yang hatinya sudah dirajam oleh kata-kata gadis itu.
.
.
~ gangster squad ~
.
.
Furnished Apartment, California.
Tepat jam dua belas siang, Naruto yang barusan selesai mandi hanya bisa menatap sinis Shikamaru yang duduk di ruang makannya, menyeduh teh disertai dengan roti tawar khas sarapan. Masih dengan celana pendek dan telanjang dada, pria berambut pirang itu duduk di depan Shikamaru yang asyik menyeruput segelas teh yang dicuri di lemari atas milik keluarga Uzumaki.
"Oke, pertama-tama ceritakan padaku kenapa kau bisa masuk kesini."
"Ada dua kemungkinan," Shikamaru menjawab santai. "Yang pertama; kau yang lupa atau terlalu idiot tidak mengunci apartemenmu semalaman. Dan yang kedua; kau memang benar-benar bodoh karena sudah mabuk-mabukan di daerah pusat dan tidak memikirkan kemarahan Sakura nantinya."
Mendengar nama atasannya—meski Naruto terpaksa menyebut Sakura seperti itu—ia mendengus geli. "Kau bercanda? Sakura ada di rumah sakit, Shikamaru. Tak mungkin dia datang kesini dan memarahi—"
"Ya. Ia akan memukulmu setelah kau bertemu dengannya nanti."
"Ha?"
Sadar dengan keleletan Naruto, Shikamaru menghela napas maklum. "Dia sudah sadar. Keluar pagi ini. Dan aku datang karena diperintahkan olehnya untuk menjemputmu, bodoh."
Naruto memiringkan kepalanya. Alis mengerut heran dan tampak berpikir panjang. Barulah di detik kelima belas, otaknya jalan dan menyadari letak pembicaraan ini berada. "S-Sakura? Sakura sudah sadar!? Bagaimana kau tidak—"
"Aku sudah menghubungimu. Tapi ponselmu mati. Nah sekarang, siapa yang tolol disini?"
Naruto mengerucutkan bibir. "Bicaramu kasar sekali sih..."
"Itu kenyataan, Naruto." Shikamaru mengaduk tehnya, ia melirik Naruto sebentar. "Sepertinya Sasuke sudah merasakan keberadaan kita."
Mendengarnya, Naruto berhenti mencibir. "Maksudmu?"
"Kalau kita tidak cepat bergerak, sepertinya dia yang akan mengakhiri kita semua, Naruto." Shikamaru menyandarkan punggungnya di kursi. "Uchiha Sasuke bukanlah orang bodoh. Dia mengerti situasi dan dalam kondisi terdesak pun, dia pasti akan melakukan hal yang membuat lawannya tersudut. Kau mengerti maksudku?"
Naruto mengangguk.
"Apalagi koma Sakura yang hampir sebulan, Sasuke pasti akan mengincarnya." Shikamaru menghela napas. "Meski aku tak tahu ini perbuatan benar atau salah, tapi yang jelas kita harus melindunginya, Naruto. Melindungi Sakura."
Tak ada jawaban. Naruto berpikir sedikit. Pertemuannya dengan Sakura memang tidak bisa dibilang baik, apalagi saat itu nyawa pria itu hampir diambil oleh Sakura. Namun saat itu, ia masih mengampuninya. Gadis itu memang mengancam disertai dengan tuduhan berat tentang Hinata, tapi Sakura sadar bahwa wanita itu begitu berharga bagi Naruto. Dan ia yakin, Sakura tak sejahat itu akan menjebloskan Hinata dalam penjara. Tak tahu dimana kepercayaan itu berasal, namun Naruto tahu bahwa Sakura akan mempertahankan Hinata sesuai dengan janji yang mereka lakukan.
Bersumpah dalam dirinya, Naruto mengangguk mantap.
"Ya. Kita akan melakukannya; melindungi Sakura."
.
.
~ gangster squad ~
.
.
Uchiha Sasuke bersandar di kursi kehormatan. Wajahnya kesal luar biasa. Ia membolak-balikkan map biru yang barusan diberikan oleh salah satu anak buah terpercaya. Pria itu menghela napas dan meletakkan benda tersebut di meja, melirik Deidara, salah satu kaki kanannya dalam hal pemindahan jasa narkoba.
"Sebenarnya apa sih yang kau harapkan?" Deidara bertanya, wajahnya tampak tidak suka. "Gaara tak akan mau bergabung dengan kita, Sasuke. Aku yakin dia bermaksud untuk membunuhmu nanti."
Sasuke tak langsung menjawab, ia berdecak singkat. "Aku tahu. Tapi aku tidak percaya dia akan bergabung dengan komplotan rendah itu."
"Oh, dia? Yang punya rambut aneh? Merah muda?"
Sasuke melirik sinis, Deidara bersiul genit.
"Wanita keturunan Jepang, eh? Pertama kali aku mendengar seorang gadis luar mampu membuatmu repot begini, Sasuke." Ia terkekeh. "Jangan-jangan kau punya rencana terselubung, hm? Menjadikan idia wanita simpanan—"
"Kau pikir aku bodoh atau apa? Dia pihak lawan, idiot." Sasuke menghela napas, ia pusing dengan Deidara yang memiliki pikiran sempit. "Akan kutangkap dia, dan kusiksa hidup-hidup sampai dia mati, Deidara. Tak akan kubiarkan wanita itu bisa bernapas lega."
Pria berambut kuning berdecak singkat, ia terlihat menyangkal keputusan tersebut. "Dasar kejam. Ada emas di depan mata tapi kau malah menghancurkannya..."
"Aku tidak peduli. Yang jelas, gadis itu harus mati. Dia berniat menghancurkan karirku, Deidara." Sasuke menatap pria itu tajam. "Kudengar dia sudah sadar dari koma. Dan lagi, ada Sabaku Gaara di pihaknya. Wanita itu juga memilik Shimura Sai yang pandai mencari informasi." Ia berdecak pelan. "Dari awal aku memang sudah meremehkannya..."
"Hm, jadi apa yang akan kau lakukan?"
"Akan kubuat mereka bermain-main sebentar," Iris hitam bertemu biru, senyum tersembunyi dibalik dinding palsu. "Panggil anggota terbaik, selidiki Haruno Sakura beserta kroni-kroninya, Deidara. Kita akan bergerak dan akan kubuat mereka kalah dalam sekejab."
.
.
~ gangster squad ~
.
.
East Side, Manhattan.
Shikamaru tahu ini pasti akan terjadi.
"Hai, kita bertemu lagi, Tn. Nara."
"Jangan formal begitu, Sai. Aku tahu kita pasti akan bertemu lagi."
Bukan. Masalahnya bukan ini.
Disampingnya, sudah ada Naruto yang menatap orang-orang dihadapannya dengan pandangan tak percaya. Iris biru berpusat pada satu titik. Di antara tiga orang itu, terdapat warna merah. Manusia dengan rambut merah disertai tato aneh di dahinya. Itu Sabaku Gaara, dengan tas senapan yang terpasang rapi di punggungnya.
"G-G-Gaara!?"
Orang yang disebut hanya diam.
Dan tepat disamping kiri Gaara, terdapat Haruno Sakura dengan tampilan berbeda. Rambut sebahu yang diikat satu, jaket merah muda, serta tatapan marah yang hanya ditujukan untuk Naruto seorang. Pria itu sebenarnya masih tidak percaya bahwa di depannya sekarang sudah ada Sakura, gadis yang dikabarkan koma berminggu-minggu yang lalu. Hanya saja, Naruto tidak melihat perkembangannya hingga tak tahu bagaimana menyimpulkan Sakura yang terluka parah sudah kembali sehat seperti biasa, memelototinya pula.
Di sebuah jalanan sepi, tepat disamping pabrik tua yang tak terpakai lagi, disanalah mereka berada. Sakura membawa dua orang tamu, Gaara dengan tatapan sinis—ia terpaksa melakukannya karena Naruto terus menatapnya daritadi—dan Sai dengan senyum palsu andalannya. Gadis itu menyilangkan tangan di dada, menatap Shikamaru yang menguap malas.
"Aku tahu ini mendadak, jadi maaf baru mengabarkanmu hari ini, Shikamaru."
Pria itu mengangguk seadanya. "Ya, tak masalah untukku, Sakura." Ia melirik Naruto. "Tapi bisa kau jelaskan padanya? Kurasa ia belum mengerti sampai sekarang."
Sakura melangkah kearah Naruto dan menjewer telinganya, membuat pria itu mengaduh keras. "A-Ah! Apa yang k-kau lakukan!? Hei!"
"Bisa kau jelaskan apa yang kau lakukan tadi malam, hm? Bermain wanita dan mabuk-mabukan sampai pagi, begitu?"
Naruto meringis ngeri. "Iya iya aku tahu aku salah! Tapi lepaskan aku, Sakura!"
Sakura menghela napas, ia melepas jewerannya dari telinga Naruto. "Seharusnya kau istirahat, Naruto. Jangan bermain terlalu malam, itu akan berpengaruh pada tubuhmu."
Si pirang hanya mengangguk singkat, ia mengerucutkan bibir.
Padahal dia sudah bukan bocah lagi.
Meski begitu, Naruto terus menatap Gaara. Ia sepertinya masih belum percaya dengan keadaan yang hari ini ia alami. Sakura yang tiba-tiba sadar dan muncul dihadapannya, serta Sabaku Gaara yang menurutnya sangat diluar dugaan. Ia tidak mempermasalahkan Sai yang ada, mengingat Shikamaru sudah memberitahunya mengenai pemuda itu.
Sedangkan Sakura sendiri, entah mengapa perasaan aneh membuncah di dada. Ia merasa senang dan lega karena perjuangannya tak berhenti sampai disini saja. Kedatangan Gaara dan Sai mengubah segalanya. Ia merasa yakin bahwa misi ini akan berhasil. Dengan mereka berempat, Sakura akan menangkap Uchiha Sasuke, politisi berkedok penjahat itu.
Ia bersumpah.
"Aku mengumpulkan kalian karena ada satu tujuan," Ia menarik napas. Manik hijau berkilat seketika. "Target kita hanya satu; Uchiha Sasuke. Hancurkan bisnisnya dan tangkap dia hidup-hidup." Sakura melirik Gaara serius. "Tapi kalau keadaannya terdesak, aku tidak melarang kalian harus membunuhnya di tempat."
Mereka semua—minus Gaara—mengangguk.
"Kita bagi dalam dua tim," Sakura menjelaskan strateginya secara lisan. "Shikamaru dan Sai, mereka bertugas dalam pengumpulan informasi." Ia melirik pria berambut klimis. "Sai, aku percayakan pengintaian luar padamu, jangan sampai tertangkap."
Sai mengangguk mengerti, Naruto berdecak ngeri. "Aku mengerti, miss."
"Dan kau, Shikamaru." Ia melirik pria yang telah beristri itu. "Aku sudah menyediakan tempat persembunyian di daerah pinggir kota, tapi kutugaskan kau disana saja; mengawasi tindakan keluarga Uchiha dari dalam."
Sebenarnya, ia agak heran dengan pembicaraan yang satu ini. Shikamaru memikirkannya sejenak dan berkedip tak percaya. "Jangan bilang kau—"
"Ya. Malam ini kita akan ke tempat persembunyian Uchiha itu," Ia menunjukkan peta sederhana yang diberikan Sai pagi tadi. "Kita sudah mendapatkan lokasinya." Ia menyeringai. "Sesuai dengan rencana, kita akan memantau pergerakan Uchiha dari dalam."
Terlalu beresiko dan sulit untuk dilakukan. Menurut Shikamaru, ini tindakan yang gegabah dan akan buruk bila ketahuan dalam waktu dekat. Namun apa daya, mereka belum mencoba. Jika memang ketahuan, ia yakin Sakura sudah siap dengan segala cara. "Baiklah, akan kulakukan."
Sakura mengangguk. "Sedangkan aku, Naruto, dan Gaara, akan mencoba menyerang Uchiha Sasuke secara langsung. Aku tahu dia sudah sadar dengan keberadaan kita. Daripada menunggu lebih lama, kita akan memancingnya dengan gerakan tiba-tiba. Kalian mengerti maksudku, 'kan?" Naruto mengangguk mantap, Gaara diam saja. "Kita harus bekerja sama dan jangan bertindak seenaknya. Terutama kau, Naruto."
Menganggap mereka semua mengerti, Sakura pun langsung memimpin. Tatapaannya tajam bagaikan elang, ia sudah siap dengan segala keadaan.
"Kita bergerak mulai malam ini, siapkan diri kalian!"
"Baik!"
.
.
~ gangster squad ~
.
.
Langkahnya menggema di seluruh sudut lorong tempat itu. Ia terus berjalan, mengabaikan suara-suara aneh yang berasal dari kiri kanannya. Iris merah dengan tatapan kesal, tubuh seksi namun terlihat menyebalkan, dan fakta mengatakan ia adalah seorang wanita. Karin, namanya. Wanita berusia 28 tahun itu menggeram kesal, berdecak singkat tentang hubungan Uchiha Sasuke, sang atasan terhormat, dengan wanita murahan berambut biru kehitaman.
Siapa namanya? Hanata, ya?
"Ck, kalian pikir aku peduli?" Tanyanya pada diri sendiri.
Wanita itu lanjut berjalan, dan sampailah ia pada sebuah jeruji besi berkarat. Lampu obor ia dekatkan ke dalamnya, membuat Karin menemukan objeksi lain disana. Ia menghela napas kesal. "Kau harusnya makan lebih banyak, Juugo. Sasuke akan marah kalau dia tahu kau tidak makan lagi hari ini."
Pria berambut cokelat kejinggaan mendongak kala mendengar nama itu disebut. Tatapannya datar, ia terlalu malas untuk menghadapi wanita di depannya.
"Apa maumu, sampah?"
"H-Hei! Jaga bicaramu, sialan!" Karin mengerucutkan bibir, ia menghela napas kesal. "Kita dipanggil Sasuke. Ia menyuruh kita untuk membunuh orang lagi."
Juugo terdiam. "Oh, benarkah?"
"Tentu saja benar! Aku tidak sudi harus datang kesini kalau bukan hal penting!" Karin mendadak cerewet, ia mengambil kunci dari sakunya. "Cepat keluar, kita disuruh menghadap olehnya."
Ketika penjara itu terbuka, Juugo beranjak berdiri. Tatapannya tetap sama, kosong.
Meski begitu, mata tersebut masih menunjukkan atensi.
Sebuah ambisi; membunuh orang lain.
Membunuh manusia-manusia tak berguna bagi tuannya, Sasuke.
.
.
~ gangster squad ~
.
.
Hill street, Los Angeles.
Berjalan di daerah perumahan pukul delapan malam bukanlah gaya Gaara. Ia lebih senang berkeliaran di pagi buta, membunuh para pejabat murahan dan menghilang dibalik sinar rembulan. Ia terkesan individual dan tidak suka mencampuri urusan orang. Hanya saja, pukul dua belas malam nanti, Gaara harus siap dengan segala persiapan yang sudah ada. Maka dari itulah, disinilah ia berada. Di sebuah perumahan pusat kota dan berdiri di depan rumah seseorang.
Gaara memasuki pekarangan dan melompati pagar rumah itu. Tanpa suara, ia sudah ada di depan rumah. Dengan tatapan datar, ia menekan bel dan menunggu gumaman khas wanita di dalam sana. Beberapa detik setelahnya, pintu pun terbuka. Dihadapannya sekarang adalah gadis dengan rambut panjang sepunggung, berwarna kuning pucat kepirangan, serta manik biru sewarna langit musim panas.
Yamanaka Ino terdiam, ia tak sanggup berkata apa-apa.
Bagaimana perasaanmu ketika mendapati seorang mantan mafia telah muncul di pekarangan rumahmu? Berdiri dengan santai namun memiliki aura membunuh itu?
Kaki dan tangan terasa kaku, berteriak pun tak sanggup.
Ino tak siap ketika Gaara mulai bergerak. Pria itu mengeluarkan senapan dan Ino nyaris berteriak. Namun di detik setelahnya, tidak ada letusan timah ataupun darah dimana-mana. Gaara hanya diam dan menggenggam senapan itu dengan kedua tangan, masih memandangi Ino dengan tatapan datar.
Gadis itu berkedip-kedip tak percaya. "A-Ada yang b-bisa d-d-dibantu?"
"Kau Yamanaka Ino?"
Takut-takut, ia mengangguk.
"Ini," Gaara menyerahkan benda berbahaya itu pada Ino. "Aku tahu kau bisa merakitnya ulang, jangan berbohong padaku atau kau akan mati sekarang juga." Ino nyaris menangis. "Aku ingin kau memodifikasinya, usahakan bisa menembak dalam jarak empat ratus meter."
"E-Empat!?" Ino tahu dia akan gila. "Kau kira ini—"
"Itu rifle 189-K23. Aku akan kembali jam sebelas nanti. Waktumu hanya tiga jam." Gaara berbalik dan melompati pagar, namun ia belum sepenuhnya menghilang. "Aku akan kembali dan harus selesai nanti. Kalau kau gagal maka kepalamu-lah yang sebagai gantinya, Ms. Yamanaka."
Gaara pun menghilang tanpa ada rasa tanggung jawab.
Ia meninggalkan Ino yang kini sudah setengah waras.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
another lala notes:
huft, kangen ff ini. #boboan
.
.
super thanks:
FiaaATiasrizqi, suket alang alang, Guest, YOktf, ayuniejung, Uchiha Viona, misakiken, citradewipratiewy, ikalutfi97, Younha RyotaSmile, Lovesakura, ranuchiha88, SyifaCute, NethyTomatoCherry, Haha D, jenynatasya7, akuroterojima , Guest, annchan602, evjnrs.
.
.
Quest's
Bikin penasaran. Apanya? Kenapa Itachi harus mati? Tuntutan cerita. Author kemplu. Aku nggak ngerti. Sasuke nggak mati, 'kan? Silahkan ditebak. Nggak sabar SasuSaku ketemu. Iya. Kenapa Sakura nggak inget kejadian itu? Dia diboboin sama Tsunade kali (ha). Kenapa Gaara datang ke rumah sakit? Mau bicara tentang masalah itu. Sayang loh nggak ada romens. Nanti mainstream. Gaara keren. :) Ada beberapa hal yang kurang kupahami disini. Tanya aja, bingung dimananya? Jawaban apa yang Gaara harapin? Mungkin kejelasan kematian Saara waktu itu. Sasuke nggak punya ketertarikan lain sama Sakura? Ada, ketetarikan membunuh keknya. Pasti ada yang menyesal kalau salah satu dari SasuSaku mati. Kalau dari salah satu mungkin nggak ada, tapi kalau dari segi tim Sakura mungkin iya.
.
.
Terima kasih sudah membaca!
Mind to Review? :)
