Disclaimer:
Naruto: Masashi Kishimoto
Sword Art Online: Reki Kawahara
.
.
.
Senin, 21 Agustus 2017
.
.
.
DIGITAL RIDER AND MIRROR WORLD
By Hikasya
.
.
.
Chapter 9. Kebenaran
.
.
.
"Jadi, kau sudah tahu kalau aku adalah Black?" tanya laki-laki berambut hitam yang tak lain adalah Sasuke.
"Ya," jawab laki-laki berambut pirang yang tak lain adalah Naruto.
"Lalu apa maumu sekarang?"
"Aku mau...," kedua mata Naruto menajam."Ingin bertarung denganmu sekarang juga."
SIIING!
Hening.
Jalanan itu menjadi hening sesaat. Tidak ada seorang pun yang lewat. Hanya ada Naruto dan Sasuke.
Sedetik kemudian, suara Sasuke yang memecahkan keheningan di tempat itu.
"Aku menolak."
Saat itu juga, kedua alis Naruto menurun tajam.
"Kenapa kau menolak?"
"Karena... Aku tidak berminat bertarung denganmu, Dobe."
"Tapi, kau harus bertarung denganku, Teme! Ini demi menyelamatkan semua Digital Rider yang akan dihapus oleh The King! Dan tidak ada jalan lain selain mengalahkanmu!"
Wajah Naruto mengeras disertai kedua mata yang semakin tajam. Sasuke hanya menanggapinya dengan sikap yang santai.
"Darimana kau tahu soal itu?"
"Dari seseorang. Kau tidak perlu tahu siapa dia."
"...," Sasuke terdiam sebentar lalu berkata lagi."Soal penghapusan semua Digital Rider itu, aku juga tahu. Tapi, cara mengatasinya bukanlah bertarung denganku, melainkan mengalahkan The King itu."
"Apa maksudmu? Bukankah Black termasuk dalam Object Eraser And Saver Artificial Intelligence. AI yang bersatu dengan sistem dunia cermin?"
"Itu memang benar. Black adalah AI penghapus sekaligus penyimpan data-data para Digital Rider. AI yang tidak akan pernah mati di dunia cermin. Aku dan Black telah menjadi satu. Jika Black terhapus, maka aku juga terhapus. Intinya semua ini kehendak sang Pencipta dunia cermin itu."
"Aku mengerti. Tapi, bagaimana caranya agar kami para Digital Rider tidak terhapus? Selain mengalahkan Black itu."
"Caranya pergi ke tempat sang Pencipta dunia cermin itu sekarang. Kita bisa menghentikannya dari sana."
"Dimana tempatnya?"
"Di gedung Uchiha Groups."
"Uc-Uchiha Groups!? Bu-Bukankah itu adalah perusahaan keluargamu, Teme!?"
"Ya. Kamilah pembuat dunia cermin itu. Tapi, yang ahli dari semua ini... Game Master sesungguhnya adalah... Uchiha Madara... Kakekku... Dialah The King yang sebenarnya."
"...!"
Kedua mata Naruto membulat sempurna. Dia sangat kaget usai mendengarkan kebenaran ini.
"A-Apa!? Ka-Kakekmu... The King yang sesungguhnya!?"
"Ya... Ini semua berasal dari impian kakekku sejak kecil..."
Sasuke menceritakan awal penciptaan dunia cermin ini. Naruto mendengarkannya dengan seksama.
.
.
.
FLASHBACK
.
.
.
Waktu itu, Sasuke masih berusia 10 tahun.
Sasuke sangat suka bermain game. Game yang dibuat oleh sang kakek, Uchiha Madara. Game yang disukainya adalah tipe MMORG, dengan tema petualangan dan pertarungan.
Di kamarnya itu, Sasuke bermain game bersama Madara. Game MMORG yang dimainkan adalah Playstation, tipe game lama.
Sambil duduk berdampingan di lantai, Sasuke dan Madara saling berbicara sambil memandang monitor LCD. Dimana di dalam monitor LCD itu, tampak game yang sedang dimainkan.
"Hmmm... Sasuke..."
"Hn. Ada apa, Madara-jiji?"
"Suatu hari nanti Jiji-san akan membuat game yang sangat nyata."
"Hm? Game yang sangat nyata?"
"Ya. Game yang memungkinkan kita bisa masuk ke dalamnya. Kita bisa merasakan sendiri bagaimana rasanya menjadi karakter yang kita mainkan. Ya, seperti tokoh yang kita mainkan sekarang ini."
"Hmmm... Aku mengerti...," Sasuke mengangguk dengan wajah yang sangat datar."Tapi, apa bisa Jiji-san menciptakan game yang sangat nyata itu? Aku jadi tidak yakin."
"Jiji-san akan membuktikannya padamu. Proyek game nyata ini sedang dalam perencanaan. Hal ini mungkin membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menciptakannya. Jika game itu selesai, orang yang pertama kali yang memainkannya adalah kau dan kakakmu, Itachi. Kalian berdua akan menjadi beta testar untuk mencoba memainkan game itu. Tentunya Jiji-san juga ikut bermain."
Madara menunjukkan senyum simpulnya dengan wajah yang cerah. Sasuke terpaku lalu mengangguk pelan sambil tersenyum.
"Ya. Aku akan menunggu sampai game itu berhasil diciptakan."
"Ya. Tunggu saja saatnya tiba."
Kakek dan cucunya saling tersenyum simpul. Kemudian melanjutkan bermain game yang tertunda.
.
.
.
Enam tahun kemudian.
Madara berhasil menciptakan game yang dia maksud. Game yang sangat nyata dengan pemandangan serta tempat yang terbalik. Dihuni para monster dan para Digital Rider. Dunia pertarungan dan petualangan. Dinamai dengan "Dunia Cermin."
Game bertipe VRMMORG ini, tidak diperkenalkan ke publik, hanya diketahui oleh keluarga Uchiha dan orang-orang yang bekerja di perusahaan Uchiha Groups. Game ini berkoneksi langsung dengan dunia nyata, dengan cara yang hanya diketahui oleh Madara.
Di ruang kerja Madara, tepatnya di kantor Uchiha Groups tersebut, Sasuke yang kini berusia 16 tahun, diminta datang ke sana. Uchiha Itachi juga datang bersama Sasuke untuk menemui Madara yang memanggil mereka.
Sembari berdiri di depan meja sang kakek, dua Uchiha bersaudara itu, mendengarkan sang kakek yang berbicara. Sang kakek sedang duduk santai di kursi panasnya, tepatnya di belakang meja kerjanya.
"Hari ini, proyek dunia cermin sudah berhasil Jiji-san ciptakan bersama rekan-rekan Jiji-san. Dunia digital yang sangat nyata telah terhubung langsung dengan dunia nyata ini. Ada banyak AI monster yang diciptakan untuk menjadi lawan para Digital Rider. Para Digital Rider berperan menjadi ksatria yang akan melawan para monster dan juga Boss monster," ungkap Madara dengan bangga.
"Digital Rider? Seperti apa wujudnya?" tanya seorang pria berambut hitam panjang yang dikuncir satu, Uchiha Itachi, yang penasaran.
"Digital Rider itu adalah sosok ksatria berpakaian armor yang memiliki kekuatan elemen. Ada dua tipe yaitu Digital Rider Jinchuriki dan Digital Rider Solo. Masing-masing Digital Rider harus punya Rider Gear dan Digital Card, contohnya seperti ini."
Madara mengambil empat benda dari laci mejanya dan meletakkan empat benda itu ke atas meja. Sasuke dan Itachi memperhatikan empat benda tersebut.
Di atas meja sekarang, tampak dua gauntlet dan dua kartu. Satu gauntlet berwarna serba hitam dengan bentuk menyerupai kepala kelelawar, dan satu kartu bergambarkan sosok ksatria berpakaian armor besi serba hitam. Sedangkan gauntlet yang satunya berwarna serba biru-hitam dengan bentuk menyerupai kepala burung hantu, dan satu kartu yang bergambarkan sosok ksatria berpakaian armor besi serba biru-hitam.
"Inilah Rider Gear dan Digital Card. Alat yang bisa membantu kalian memasuki dunia cermin...," kata Madara yang tersenyum simpul."Secara otomatis, alat ini akan mengubah tubuh kalian menjadi kumpulan data agar bisa diterima oleh sistem dunia cermin. Dengan alat ini juga, kalian bisa bertarung dengan para monster. Para monster yang bernama Mutant, menjadi musuh yang akan melawan para Digital Rider."
"Oh, begitu," Sasuke manggut-manggut.
"Aku mengerti. Rasanya aku tidak sabar ingin mencoba bermain ke sana," Itachi juga manggut-manggut.
"Kalau begitu, kalian bisa bermain sekarang."
"Benarkah itu, Jiji-san?"
"Iya, Sasuke. Ambillah Rider Gear yang berbentuk kelelawar, itu untukmu. Untukmu, Itachi, Rider Gear yang berbentuk burung hantu itu."
Madara memperhatikan dua Uchiha bersaudara yang sedang mengambil Rider Gear beserta Digital Card. Sasuke dan Itachi memperhatikan Rider Gear dan Digital Card itu di genggaman dua tangan masing-masing.
"Bagaimana cara menggunakannya, Jiji-san?" Sasuke yang bertanya.
"Ini petunjuk cara menggunakannya," Madara menyerahkan tablet pada Sasuke.
Sasuke menerima tablet yang disodorkan Madara itu. Lalu melihat tulisan beserta gambar yang terpapang di dalam layar tablet itu. Itachi juga ikut melihat petunjuk itu.
Untuk beberapa menit saja, dua Uchiha bersaudara langsung mengerti dan mempraktekkan cara menggunakan Rider Gear beserta Digital Card itu.
Rider Gear dipasangkan di tangan kiri. Tangan kanan berperan untuk memasukkan Digital Card itu ke dalam mulut atau slot Rider Gear.
["TRANSFORMATION"]
Terdengar suara seperti robot yang menggema dari dua Rider Gear itu, beserta efek cahaya putih yang berpijar di tubuh Sasuke dan Itachi.
SRIIING!
Dalam sekejap mata, Sasuke dan Itachi berubah wujud menjadi sosok Digital Rider. Cahaya putih tadi menghilang sesaat mereka telah berubah wujud menjadi Digital Rider.
Mereka saling memandang antara satu sama lainnya. Madara pun tersenyum.
"Keren! Kami seperti sosok ksatria yang ada dalam sejarah itu! Ini sangat mengagumkan, Jiji-san!" Sasuke mendadak menjadi lain, bersemangat begitu.
"Iya. Hal ini mengingatkanku pada semua ksatria terdahulu," Itachi juga merasa bersemangat.
"Ya. Jiji-san membuatnya dari inspirasi para ksatria yang pernah menyelamatkan dunia ini. Sekarang Jiji-san ingin kalian berdua juga merasakannya. Menjadi seorang Digital Rider yang terkuat dan nomor satu di dunia cermin, itulah tujuan dari permainan ini. Untuk menyelesaikan permainan ini, kalian harus mengalahkan Boss monster yaitu Jiji-san, The King, sang penguasa dunia cermin," wajah Madara menjadi sangat serius dengan sorot kedua mata yang sangat tajam.
Sasuke dan Itachi sama-sama kaget.
"Jiji-san yang menjadi Boss monster-nya!?" seru kakak dan adik itu.
"Hn. Itulah keputusan Jiji-san yang menciptakan permainan ini. Jiji-san akan menunggu kalian di suatu tempat di dunia cermin. Mungkin... Setelah ini, Jiji-san tidak akan pernah bisa kembali ke dunia nyata. Jiji-san akan menunggu dan menghabiskan waktu di dunia cermin. Jiji-san akan mengabulkan semua permintaan bagi siapa saja yang bisa mengalahkan Jiji-san. Itulah janji Jiji-san."
"Ta-Tapi... Jiji-san..."
"Sudahlah, Sasuke. Sudah tiba waktunya untuk bermain ke dunia cermin. Rider Gear akan otomatis mengirim kalian ke sana jika Jiji-san menyebutkan 'Players Transfer'."
PIP! PIP!
Dua Rider Gear berbunyi halus. Merespon kata sandi "Players Transfer" berupa suara Madara yang telah menciptakannya. Kemudian bercahaya putih terang dan menyelimuti dua tubuh dua laki-laki muda itu. Mengirim mereka langsung ke dunia cermin.
SRIIIING!
Sekelebat cahaya putih menyelimuti tempat itu. Secara perlahan-lahan, cahaya putih itu menghilang. Bersamaan Madara yang mengukir senyum sinis dengan wajah yang terkesan jahat.
.
.
.
FLASHBACK END
.
.
.
Begitulah ceritanya.
Sasuke sudah selesai menceritakannya pada Naruto. Naruto terpana sesaat, usai mendengar cerita Sasuke itu.
"Ternyata... Madara-jiji, The King yang sebenarnya. Dialah yang telah membuat semua orang terbunuh selama ini...," kata Naruto dengan nada yang bergetar."Aku tidak menyangka semua ini. Tapi... Apa tujuannya melakukan semua ini!?"
Dengan tenang, Sasuke menjawab.
"Semua ini karena ambisinya yang ingin menciptakan dunia impiannya sejak kecil. Dia ingin sekali merasakan bagaimana rasanya berada di dalam dunia impian itu. Dunia yang dipenuhi dengan para monster dan para ksatria beramor besi. Dunia pertarungan dan penuh petualangan. Dia selalu menceritakan dunia impian itu padaku. Dia akan menjadi Raja yang menguasai dunia impiannya dan mengendalikan para monster untuk menjadi bawahannya. Karena itu, dia menciptakan dunia cermin ini."
"Meskipun begitu, caranya ini salah! Ini menyangkut nyawa semua orang! Ini sama artinya... Dia sudah menjadi pembunuh!"
"Aku tahu itu. Makanya aku tidak tahan lagi dengan tindakannya ini. Malam ini juga, aku akan menghentikannya."
BETS!
Sasuke mengaktifkan Rider Gear-nya. Rider Gear itu muncul tiba-tiba di tangan kirinya. Naruto memperhatikannya.
"Apa kau ingin pergi ke dunia cermin untuk menemui Madara-Jiji?"
"Tidak, Dobe. Aku akan pergi ke kantor Uchiha Groups itu di dunia nyata ini. Dari sanalah, aku bisa menghentikan semua ini. Aku akan hapus data-data dunia cermin itu dari komputer penyimpanan yang ada di ruang kerja kakekku...," Sasuke mengambil kartu digital dari sabuk yang tiba-tiba muncul di pinggangnya."Kau juga. Cepat berubah dan bantu aku untuk menyelesaikan permainan dunia cermin ini."
"Ya. Aku mengerti!"
Naruto memasang wajah serius lalu mengaktifkan Rider Gear-nya. Rider Gear berbentuk musang muncul tiba-tiba di tangan kirinya. Sabuk juga tiba-tiba muncul di pinggang Naruto, memunculkan kartu digital saat tangan Naruto mengambil kartu digital dari dalamnya.
Mereka berdua pun berubah wujud dengan gaya yang keren. Dalam sedetik saja, penampilan mereka berubah menjadi sosok ksatria berpakaian armor besi. Digital Rider yang siap menyelesaikan akhir permainan ini.
Naruto berwujud ksatria besi musang berekor sembilan serba berwarna jingga kehitaman (mode 1). Sedangkan Sasuke berwujud ksatria besi kelelawar serba hitam beserta jubah hitam di punggungnya.
"Sudah selesai, kita akan menggunakan apa untuk pergi ke kantor Uchiha Groups?" tanya Naruto yang merasa bingung.
"Payah. Tentu saja dengan menggunakan motor," Sasuke langsung menyabet kartu dari sabuknya."Bat Super Cycle, aktifkan!"
Kartu digital berbentuk motor kelelawar hitam, dimasukkan ke dalam slot Rider Gear. Terdengarlah suara robot yang menggema dari Rider Gear tersebut.
["BAT SUPER CYCLE!"]
Tiba-tiba saja, motor berbentuk kelelawar serba hitam dan berdesain futuristik, muncul di depan Sasuke. Naruto hanya tertawa kikuk melihatnya.
"Hahaha... Aku hampir lupa tentang hal itu."
"Sudahlah, cepat keluarkan motormu itu, Dobe."
"Iya. Baik!"
Tanpa aba-aba lagi, Naruto menyabet kartu digital bergambarkan musang berekor sembilan dan memasukkannya ke slot Rider Gear. Seperti Sasuke tadi, terdengar suara robot dari Rider Gear milik Naruto.
["SUMMON! KURAMA!"]
Dari arah langit yang gelap gulita, muncul seekor musang berekor sembilan yang berukuran kira-kira 2 meter. Naruto dan Sasuke melihat ke arahnya.
Kurama, sosok partner Naruto langsung berubah bentuk menjadi sebuah motor. Motor yang berdesain futuristik dengan kepala musang di depannya. Berwarna serba jingga-kehitaman.
Sasuke terpaku menyaksikan motor musang yang bernama "Kurama Motorcross" karena motor musang itu berbentuk seperti Motorcross. Tidak seperti motor Sasuke yang berbentuk seperti motor sport.
"Ayo, kita segera berangkat!" seru Naruto yang langsung naik ke atas motornya.
"Ternyata cara memanggil motor kita tidak sama," sahut Sasuke yang juga naik ke atas motornya.
"Mungkin karena tipe kita berbeda. Aku Jinchuriki, kau itu solo."
"Iya sih. Kau punya partner monster, aku tidak punya."
"Yaaah... Tapi, yang pasti kita sama-sama punya kemampuan untuk mengalahkan The King itu."
"Itu sudah pasti."
"Hei, jangan mengobrol lagi! Kita harus pergi ke kantor Uchiha Groups itu."
"Oh iya, benar juga. Semua ini gara-garamu, Dobe."
"Kenapa aku yang disalahkan?!"
"Ah, sudahlah. Ayo, kita berangkat!"
"Huh... Dasar, Teme aneh!"
Naruto menggerutu kesal. Sasuke hanya cuek dan langsung menghidupkan motornya.
BRUUUM!
Motor Sasuke pun hidup. Langsung berjalan secepat kilat. Disusul motor Naruto dari belakang.
BRUUUM! BRUUUUUM!
Dua motor saling melaju kencang di jalanan perumahan yang sepi. Tidak ada seorang pun yang terlihat lagi di sana.
Yang tertinggal hanyalah kesunyian dan kegelapan. Hingga muncullah sosok misterius yang tengah mengikuti Naruto dan Sasuke.
Entah siapa sosok misterius itu. Namun, yang pasti niatnya adalah membantu Naruto dan Sasuke.
.
.
.
Setibanya di gedung kantor Uchiha Groups.
Sebuah gedung yang terletak di pusat kota. Berlantai sepuluh. Dijaga beberapa Security, namun yang anehnya tampak beberapa monster yang berkeliaran. Para Security sudah terkapar mati dan berserakan di halaman depan kantor tersebut, akibat dibunuh oleh kelompok monster tersebut.
Hal ini sangat mengejutkan Naruto dan Sasuke. Mereka berdua turun dari motor masing-masing yang terparkir di dekat pintu gerbang kantor itu.
"Apa ini!?" seru Naruto yang membelalakkan kedua matanya.
"Sepertinya semua Security ini sudah dibunuh oleh 'Ants' ini," jawab Sasuke yang langsung menyabet sebuah kartu dari sabuknya untuk mengeluarkan senjata andalannya.
Naruto menggunakan pedangnya, sedangkan Sasuke menggunakan pistol bermoncong panjang. Secara kompak, mereka berlari untuk menyerang kelompok "Ants" itu.
Ants, sosok monster yang berwujud semut berwarna merah. Bertangan enam, dan memiliki dua kaki. Bersenjatakan sengatan yang bisa membuat tubuh musuh menjadi gatal-gatal dan pada akhirnya tewas dalam keadaan tubuh yang penuh dengan bercak-bercak merah yang berasap. Sejenis monster kelas C. Tidak terlalu berbahaya.
Maka terjadilah pertarungan sengit di antara Naruto, Sasuke, dan kelompok Ants di halaman depan kantor itu.
Dalam mode 1, Naruto menggunakan teknik pedang anginnya. Menebas tiga semut dengan perasaan yang sangat marah.
"AAAAAH! RASAKAN INI! HORIZONTAL HURRICANE!"
DHUAAASH! DHUAAASH! DHUAAASH!
Tiga semut habis terkena tebasan angin puyuh horizontal Naruto. Mereka pun terpelanting ke belakang dan berakhir dengan ledakan hebat.
DHUAAAAR! DHUAAAAR! DHUAAAAR!
Naruto menyaksikan pemandangan ledakan itu dengan wajah yang mengeras. Lantas mengalihkan pemandangannya pada beberapa semut yang tersisa. Sementara Sasuke dengan santainya menembak beberapa semut itu.
DOOOR! DOOOR! DOOOR!
Satu persatu semut langsung meledak kecil usai terkena tembakan dari pistol Sasuke. Pistol berbentuk kelelawar berwarna hitam yang bernama "Eraser Gun."
Ya. Eraser Gun. Pistol Penghapus karakter-karakter digital dunia cermin karena Sasuke adalah Black, sosok Digital Rider yang bertugas menjadi "Saver" dan "Eraser". Black adalah salah satu program yang berhubungan dengan sistem dunia cermin. Dia "objek abadi" yang tak akan pernah mengalami yang namanya "tewas" di dunia cermin. Sebaliknya, dia adalah "objek nyata" yang akan mengalami yang namanya "tewas" di dunia nyata.
Pistol Black bisa berganti-ganti fungsi berdasarkan kemampuan yang dimilikinya sebagai AI Eraser dan Saver. Juga bisa berfungsi untuk memunculkan kekuatan elemen yang dimilikinya yaitu kegelapan.
Tapi, dalam keadaan terdesak seperti ini, Sasuke menggunakan pistol tipe Eraser, supaya bisa menghapus Ants tersebut dalam sekali tembakan.
Dalam waktu tak begitu lama, Naruto dan Sasuke berhasil memusnahkan semua monster semut itu. Mereka berdua bernapas lega secara kompak.
"Haaah... Akhirnya semua monster semut ini bisa dimusnahkan juga," Naruto menghelakan napasnya sembari memanggul pedangnya di bahu kanannya.
"Tentu saja. Ants adalah Mutant yang lemah dan mudah dimusnahkan begitu saja," tukas Sasuke yang juga memanggul senapannya di bahu kirinya."Untuk selanjutnya, kita segera masuk ke dalam."
"Ya. Aku perkirakan pasti ada monster lain yang menunggu kita di dalam."
"Aku rasa begitu. Karena permainan ini sudah menjadi nyata di dunia manusia ini."
Muncul suara gadis yang menyela di antara percakapan Naruto dan Sasuke. Sehingga mereka berdua terkejut dan menoleh ke asal suara.
JREEENG!
Muncul sosok ksatria wanita berpakaian armor besi berwujud kumbang biru tua, berjalan anggun menuju ke arah Naruto dan Sasuke. Naruto mengetahui siapa ksatria wanita itu.
"Na-Nanabi!?" Naruto ternganga habis."Se-Sedang apa kau di sini!?"
Nanabi, alias Asuna, menunjukkan kedua mata yang emosi di balik helmetnya. Kedua tangannya mengepal kuat.
"Kenapa kau bertanya pula, hah, Kyuubi!? Tentu saja, aku datang untuk membantu kalian!" Asuna marah-marah.
"Bukankah kau disuruh beristirahat dulu di rumah sakit?" tanya Naruto yang heran.
"Aku tidak apa-apa sekarang. Dokter sudah menyuruhku pulang kok. Makanya aku langsung ke tempatmu setelah diberitahu Reibi kalau kau akan menantang Black bertarung. Tapi..."
Asuna menghentikan perkataannya sejenak, memperhatikan Black yang berdiri di samping Naruto. Lalu melanjutkan perkataannya.
"Tapi... Kau malah bekerja sama dengan Black. Apa yang terjadi sih?"
Naruto menurunkan pedangnya dari bahunya dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dengan tangan kirinya. Tertawa lebar di balik helmetnya.
"Ceritanya panjang. Pokoknya cara menghentikan permainan ini adalah menghapus semua data dunia cermin yang ada di komputer penyimpanan di kantor ini. Bukankah begitu, Black?"
"Hn."
"Oh, jadi kita masuk ke dalam kantor ini sekarang?"
"Kita? Kau ikut juga, Nanabi?"
"Iya! Aku ikut! Sudah kubilangkan tadi!?"
"Hehehe... Maaf. Jangan marah lagi ya."
"Huh... Dasar, Kyuubi baka!"
Asuna bersidekap dada dan memalingkan mukanya. Naruto yang tertawa cengengesan. Sasuke yang cuek lalu melenggang pergi begitu saja, meninggalkan Naruto dan Asuna.
"HEI, TUNGGU KAMI, BLACK!" sembur Naruto dan Asuna kompak begitu tahu Sasuke sudah masuk terlebih dahulu ke dalam kantor yang tidak terkunci.
"Cepat sedikit! Dasar, lamban!" celetuk Sasuke dengan nada yang sedikit kesal.
Tahu-tahu, di dalam sana, ada monster yang menunggu mereka. Monster kelas S. Berwujud kadal berwarna hijau. Bermata vertikal dengan warna kuning yang menyala. Tubuhnya bersisik dan dipenuhi otot-otot yang kekar. Berekor panjang. Dia adalah...
"IRON LIZARDMAN!" teriak Naruto dan Asuna.
Di ujung sana, tepatnya di sebuah ruangan yang sangat luas. Bertemankan suasana sepi dan pencahayaan yang minim. Udara terasa dingin dan lembab karena AC masih berfungsi. Tampak sosok manusia kadal hijau besar berdiri di sana. Iron Lizardman yang tertangguh di dunia cermin, telah muncul di sini - di dunia nyata ini.
Naruto dan dua temannya berdiri di dekat pintu yang terbuka. Mereka bertiga memasang wajah yang sangat serius.
"Iron Lizardman adalah monster kelas S. Aku kelas A. Belum bisa mengalahkan monster sekuat itu," Naruto mengacungkan pedangnya ke arah depan.
"Apalagi aku...," Asuna sudah mengeluarkan pedangnya dan bersembunyi di belakang tubuh Naruto.
"Biar aku yang menghadapinya. Aku sudah setara dengannya. Kelas S. Apalagi aku bisa menggunakan pistol Eraser untuk memusnahkannya," Sasuke maju ke depan dan mengacungkan senapannya ke arah Iron Lizardman itu.
Naruto dan Asuna mengangguk. Sasuke melepaskan tembakannya.
DOOOR!
Energi hitam meluncur cepat ke arah Iron Lizardman. Iron Lizardman tetap berdiri tegak di tempatnya. Tidak bergerak sedikitpun.
DHUAAAASH!
Tembakan Sasuke mengenai tembok yang tak terlihat. Tertera sebuah tulisan di depan Iron Lizardman itu.
[OBJEK ABADI]
Baik Naruto, Asuna, maupun Sasuke, sama-sama kaget setengah mati ketika menyaksikan fenomena aneh ini. Iron Lizardman adalah "Objek Abadi" di dunia nyata!?
"A-APA!? OBJEK ABADI!?" ucap Naruto, Asuna, dan Sasuke bersamaan.
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
A/N:
Ya, sebentar lagi fic ini akan tamat. Tinggal dua chapter lagi. Semangat!
Inilah puncak dari cerita ini. Naruto dan teman-temannya sedang berusaha menamatkan permainan dunia cermin ini. Mereka harus melewati berbagai rintangan untuk bertemu The King, Boss Monster yang sesungguhnya.
Entah apa yang terjadi sehingga Iron Lizardman dijadikan "objek abadi" di dunia nyata. Hmmm... Ini semakin menyulitkan Naruto dan teman-temannya untuk menyelamatkan semua orang.
Oke, sampai di sini saja untuk chapter 9. Untuk peran Menma, Decade, akan muncul di chapter 10.
Terima kasih banyak buat yang membaca dan mereview fic ini.
Tertanda.
HIKASYA
Kamis, 24 Agustus 2017
