Aiko:"makasih yang sudah mereview"

-Saika Tsuruhime-

Nia:"aku mau menyayat Xiahou Dun"(arahin pisau ke Xiahou Dun)

Xiahou Dun:"aku gak mau matiiiiii disini!"

Mufasalia:"yay ada Gold Gun"

Cao Pi:"anak kecil gak boleh main pistol!"(ambil Gold Gun dari tangan Mufasalia)

Oke thanks to review.

-ilhamakbar anshari-

Aiko:"99% bisa"
Nia:(sayat Aiko pake pisau)

Soal telat update, saya gak punya kuota buat update cerita, kalau sibuk sih iya juga, soalnya sekarang saya sudah kelas 3 SMP.

Oke thanks to review.

-Scarlet n Blossom-

Nia:"aku bukan vampire"

Aiko:"terus kenapa kau sayat Xiahou Dun"

Nia:"hanya ingin melihat dia menderita"

Aiko:(gemetar)

Oke thanks to review.

-Lee Xia-

Aiko:"Hahahahaha makasih"(narsis mode on)

Oke thanks to review.


Nightmare

By: Aiko Ishikawa

Rated: T

Genre: horror, adventure

-all character belong to Koei, saya hanya punya OC-

Warning: OOC, gak tau ini cerita seram atau kagak

Summary: ayah Cao Pi yaitu Cao Cao menghilang secara tiba tiba, dan dia bertemu dengan seorang gadis bernama Rin, yang memberitaukan tentang 'wilayah Orde', wilayah yang penuh dengan misteri dan keanehan.


Chapter 9 : Cao Pi attack

Cao Cao terus memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa lepas dari tempat ini, "bagaimana caranya aku dapat lepas dari sini, aku tidak mungkin berdiam diri" kata Cao Cao, dia memandangi jam dinding, jam dinding itu menunjukan pukul 01.30, "sudah jam segini, hanya tinggal beberapa jam lagi untuk memulai upacara suci itu" kata Cao Cao.

-x-

"kita sudah melalui semua kamar kamar misteri ini, baik waktunya kita keluar dan mencari Rin" kata Cao Pi.

"baik kak Cao Pi" kata Mufasalia.

"aku berharap masih banyak waktu sebelum jam 12 siang" kata Cao Pi sambil berlari keluar diikuti oleh Mufasalia.

Akhirnya mereka berdua berhasil keluar dari rumah sakit Mufasa itu, tapi alangkah terkejutnya Cao Pi dan Mufasalia ketika mereka keluar dari rumah sakit itu, didepan tepatnya dihalaman rumah sakit itu, banyak para Lessa yang telah menunggu mereka, "apa? Banyak sekali mereka!" kata Cao Pi.

"apa mungkin mereka datang untuk menjemput kaka?" kata Mufasalia.

"aku tidak akan membiarkan diriku ditangkap, apa pun yang terjadi aku harus menolong ayahku" kata Cao Pi.

"tapi bagaimana caranya?" tanya Mufasalia.

Cao Pi mengambil sesuatu dari dalam tas ranselnya, yaitu sebuah senjata pistol, karna para Lessa dapat ditembak dengan senjata api, "Mufasalia tetap didekatku" kata Cao Pi.

"ba, baik" kata Mufasalia.

Cao Pi berlari sambil memegang Mufasalia, dia menembak satu persatu Lessa yang menghalangi jalannya, "tidak ada waktu untuk bersantai!" kata Cao Pi sambil terus menembak para Lessa yang menghalangi jalannya, akhirnya Cao Pi berhasil melewati kumpulan Lessa dari berbagai jenis itu, "Mufasalia cepat naik keatas tembok ini, cepat, mereka tidak akan membiarkan kita lolos" kata Cao Pi sambil menggendong Mufasalia untuk keatas tembok.

"tapi bagaimana dengan kaka?" tanya Mufasalia.

"pokoknya kau duluan saja, nah ambil ranselku" kata Cao Pi sambil memberikan ranselnya.

"baiklah" kata Mufasalia sambil mengambil ransel Cao Pi.

Cao Pi memanjat tembok itu, tapi sayang kakinya digigit oleh salah satu Lessa, "ukh!" Cao Pi menendang Lessa itu agar menjauh darinya, Lessa yang menggigit Cao Pi tadi terjatuh, tapi masih banyak Lessa lainnya yang siap menangkap Cao Pi, Cao Pi sempat ngeri karna dia melihat para Lessa itu bagaikan zombie yang kelaparan, Cao Pi turun dari tembok dan berlari menjauh, walaupun langkahnya tak dapat sebaik sebelumnya karna kakinya digigit oleh Lessa, "ukh, seandainya kaki ini tidak terluka aku pasti bisa berlari" kata Cao Pi, tanpa diduga didepan Cao Pi ada Lessa Humandenata yang mencegah Cao Pi.

"minggir!" kata Cao Pi.

"tidak mau, kau harus kubawa kehadapan Yang Mulia Nia" kata Lessa Humandenata.

"aku tidak mau!" kata Cao Pi sambil mengarahkan pistolnya kearah Lessa Humandenata itu.

"..." Lessa Humandenata itu hanya diam, dia tidak bergerak sedikit pun, hal itu membuat Cao Pi heran.

"kenapa kau?" tanya Cao Pi.

"lebih baik menyerah daripada sengsara" kata Lessa Humandenata itu.

"apa maksudmu?" tanya Cao Pi.

"kau akan tau nanti" kata Lessa Humandenata itu.

Cao Pi tetap mengarahkan pistolnya kearah Lessa yang berdiri dihadapannya. Tapi Cao Pi lupa kalau dibelakangnya masih banyak Lessa yang mengejarnya, dan salah satu Lessa itu mengigit Cao Pi tepat dilengannya, "ukh!" Cao Pi memegangi lengannya yang terluka, dia menendang Lessa yang mengigitnya tadi, dan menembaknya.

Dor!

Lessa yang ditembak Cao Pi tadi penuh dengan darah, dan dalam seketika Lessa yang ditembak Cao Pi tadi menjadi abu dan terbakar, persis yang ia lihat didalam rumah sakit.

"ukh" Cao Pi memegangi lengannya yang telah banyak mengeluarkan darah.

"sudahku bilangkan, lebih baik menyerah daripada sengsara..." kata Lessa Humandenata yang berada dihadapan Cao Pi, setelah itu ia maju untuk menyerang Cao Pi, dengan sigap Cao Pi menyingkir dan menembak Lessa Humandenata itu, dan Lessa Humandenata itu pun menjadi abu dan terbakar, "hh, hh, hh, tidak berguna" Cao Pi berlari agar dia bisa menghindar dari kerumunan Lessa yang mengejarnya.

Sedangkan dari luar tembok rumah sakit Mufasa, Mufasalia sedang menunggu Cao Pi, dia merasa khawatir, "bagaimana keadaan kak Cao Pi?" pikir Mufasalia, dia berlari menuju gerbang masuk rumah sakit Mufasa. "perasaanku tidak enak, apa mungkin, atau apakah kak Cao Pi..." pikir Mufasalia, dia berlari menuju gerbang depan rumah sakit Mufasa, setelah berada didepan gerbang rumah sakit itu, dia melihat Cao Pi yang sedang asyik menembak para Lessa, "kak Cao Pi, apakah dia baik baik saja?" pikir Mufasalia.

Dihalaman rumah sakit Mufasa, Cao Pi terus menembaki para Lessa "tch! Mereka terlalu banyak, apa yang dapat kulakukan?" gerutu Cao Pi, tiba tiba tanah yang dipijak Cao Pi terbelah dan mengkelupas, "oh tidak, jangan dia" kata Cao Pi, dia melihat sekeliling, dari arah rumah sakit terlihat dua Lessa Birdmihumanila yang berlari mendekati Cao Pi, "apakah dengan senjata api dapat membuatnya mati?" kata Cao Pi sambil mengarahkan pistolnya kearah Lessa Birdmihumanila, Cao Pi menarik pelatuk pistol itu, dan peluru melesat kearah salah satu Lessa.

Dor!

Lessa Birdmihumanila yang ditembak Cao Pi tidak menunjukkan tanda tanda kesakitan, justru Lessa itu semakin mendekati Cao Pi.

"mustahil" Cao Pi terkejut melihat Lessa Birdmihumanila itu tidak menunjukkan tanda tanda kesakitan, akhirnya dia pun berlari agar bisa menjauh dari dua monster itu.

-x-

"Yang Mulia Nia, saya mendapatkan kabar kalau Cao Pi sedang diserang oleh para Lessa dihalaman rumah sakit Mufasa" kata Roscoe.

"baguslah, aku berharap salah satu dari Lessa itu bisa membawa Cao Pi kesini" kata Nia.

"tapi semua Lessa telah mati, dan yang tersisa hanyalah dua Lessa Birdmihumanila yang masih terus menyerang Cao Pi" kata Roscoe.

"hmph, lebih baik kita keluarkan penyerang terbaik kita untuk menyerang Cao Pi" kata Nia.

"anda serius?" tanya Roscoe.

"kenapa kau ragu Roscoe?" tanya Nia.

"tidak, yang saya pertanyakan adalah apa lebih baik dia kita panggil saat Cao Pi sudah tiba dikastil ini" usul Roscoe.

"boleh juga, tapi kita bisa beri kejutan padanya, Roscoe aku mau kau berkelahi dengan Cao Pi, dan buktikan apakah dia 'Guardian Human' yang dimaksud" perintah Nia.

"Guardian Human?" tanya Roscoe.

"iya, orang yang melindungi bangsa manusia dari kekejaman, dulu gelar itu disandang oleh ibuku, dan sekarang pasti diwariskan pada Cao Pi, tugasmu seranglah Cao Pi hingga dia bisa membuka segel terlarang itu" kata Nia.

"baik" kata Roscoe, lalu dia pergi meninggalkan Nia.

-x-

Dihalaman rumah sakit, Cao Pi berusaha menghindari Lessa Birdmihumanila tapi tubuhnya sudah sangat lelah, dan darahnya terus mengucur, akhirnya Cao Pi terjatuh, "hh, hh, hh, apa ini akhir hidupku, apa aku mati disini? Jika iya berarti aku mengecewakan semuanya" pikir Cao Pi.

Mufasalia yang dari tadi memperhatikan didepan gerbang rumah sakit hanya bisa berteriak berharap Cao Pi mendengarnya, "kak Cao Pi bangun!" teriak Mufasalia.

Tapi apa daya Cao Pi tidak bisa berdiri lagi, dia sudah sangat lelah, dan tubuhnya sudah banyak kekurangan darah, Cao Pi hanya bisa memejamkan matanya. Mufasalia yang melihat Cao Pi sudah tak berdaya pun berlari memasuki halaman rumah sakit itu, dia berlari menghampiri Cao Pi, tapi belum saja mendekati Cao Pi, langkahnya dihalangi oleh seseorang, dia adalah Roscoe, "jangan harap bisa mendekati Cao Pi, dia mangsaku" kata Roscoe sambil mencekik Mufasalia.

"ukh..." Mufasalia berusaha melepaskan tangan Roscoe yang berada dilehernya.

"hmph, kita lihat bagaimana gadis manis ini mati, apakah akan penuh dengan penderitaan" kata Roscoe tersenyum licik, dia mengeluarkan pedangnya, dan siap menusuk Mufasalia.

Cao Pi yang melihat itu sangat terkejut, dia berusaha bangkit, tapi tubuhnya terlalu lemah dan dia terjatuh, berkali kali dia berusaha, berkali kali juga dia terjatuh, "hentikan, aku mohon hentikan, jangan sakiti Mufasalia" kata Cao Pi, dia berusaha berdiri.

"hmph, aku lebih suka menyakiti dia, untuk apa menolong gadis manis ini hah?" tanya Roscoe.

"aku tidak punya jawaban untuk hal itu" kata Cao Pi, dia terus berusaha berdiri.

"dasar bodoh, kau memang payah, aku heran kenapa Yang Mulia Nia tertarik dengan orang yang bodoh seperti dirimu" kata Roscoe yang menghina Cao Pi.

"entahlah" kata Cao Pi.

"hmph, kau memang bodoh ya" kata Roscoe.

Cao Pi tidak menjawab, dia terus saja berusaha berdiri.

"jadi bagaimana, apa aku boleh membunuh gadis kecil ini" kata Roscoe, dia menyayat sedikit pipi Mufasalia.

Darah mengucur dipipi Mufasalia, "ukh" Mufasalia hanya bisa menahan rasa sakit akibat sayatan pedang Roscoe.

"ternyata darah anak ini manis juga, sebaiknya aku akan membunuhmu sekarang juga" kata Roscoe.

Cao Pi hanya menatap penderitaan Mufasalia, dia tersenyum, senyuman iblis yang ia keluarkan nampak mengerikan, mata birunya begitu menyeramkan, dia menatap Roscoe sambil tersenyum sinis, "hmph, kau ternyata juga payah ya, setidaknya kau jangan menyerang anak kecil tapi menyerang orang yang seusia dengan dirimu" ejek Cao Pi.

"hooo, kau mentangku ya, baiklah" kata Roscoe, dia melempar Mufasalia ketanah.

"iya" kata Cao Pi sambil tersenyum iblis, tubuhnya dipenuhi asap, entah datang dari mana asap ungu itu terus menutupi tubuh Cao Pi, (*mirip teknik jurus Susano'o milik Sasuke Uchiha anime Naruto*).

Mufasalia terkejut melihat Cao Pi, aura yang berbeda dari tubuh Cao Pi. "apa benar dia kak Cao Pi?" kata Mufasalia, tubuhnya bergemetar ketakutan karna melihat Cao Pi.

"jangan membuatku tertawa bodoh" kata Roscoe, dia berlari menghampiri Cao Pi dan siap menebas Cao Pi dengan pedangnya.

"sudahku bilang jangan remehkan diriku, dasar payah" kata Cao Pi, dia menangkis serangan Roscoe dengan tangan kosong, dan langsung menggenggam lengan Roscoe, kini posisi Cao Pi berada dibelakang Roscoe.

"akh! Tch! Ini mustahil, aku tidak mungkin kalah dari dirimu!" kata Roscoe, dia berusaha meronta dari genggaman Cao Pi.

"jadi sudah terlihat diantara kita, siapa yang payah" kata Cao Pi, dia mulai menarik lengan Roscoe kebelakang sambil menginjak punggung Roscoe.

"Aaaaaakh!" teriak Roscoe.

Mufasalia yang melihat hal itu begitu terkejut, dia tidak percaya Cao Pi yang mulanya baik, kini berubah menjadi orang yang tidak memberi belas kasihan, walaupun yang ia lawan adalah Roscoe, tapi tetap saja Cao Pi melakukan hal itu tanpa belas kasihan, "dia bukan kak Cao Pi, dia bukan kak Cao Pi" kata Mufasalia.

Cao Pi tersenyum iblis, dia begitu senang melihat Roscoe menderita.

Mufasalia berlari menghampiri Cao Pi, dia berusaha menghentikan Cao Pi, "kak Cao Pi! Tolong hentikan, walaupun Roscoe itu kejam, kau tidak boleh membalasnya dengan kekejaman juga!" kata Mufasalia.

Cao Pi hanya memandangi Mufasalia, tatapan matanya kosong, hal ini membuat Mufasalia ketakutan. Cao Pi melempar tubuh Roscoe ketanah, dan dia berjalan mengahampiri Mufasalia dengan tatapan mata yang kosong.

"kak Cao Pi" kata Mufasalia.

Cao Pi tidak menjawab perkataan Mufasalia, dia terus berjalan menghampiri Mufasalia, tangannya siap menangkap Mufasalia, melihat hal itu Mufasalia berlari menjauh dari Cao Pi. "dia bukan kak Cao Pi, apa segel 'guardian human' telah lepas? Apa yang harusku lakukan?" pikir Mufasalia.

Cao Pi terus berjalan menghampiri Mufasalia tanpa berkata apa apa.

-x-

"hh, hh, hh, dimana Cao Pi dan pamannya? Semoga mereka baik baik saja" kata Rin, dia terus berlari untuk mencari keberadaan Cao Pi dan Xiahou Dun, tiba tiba langkahnya terhenti ketika melihat seorang gadis kecil yang sedang berlari menghindari seorang pria dihalaman rumah sakit Mufasa, "kenapa gadis kecil itu? Aku harus menolongnya" pikir Rin, tanpa pikir panjang dia langsung masuk kedalam area rumah sakit Mufasa, dan langsung berlari menghampiri gadis kecil yang merupakan Mufasalia, "hei kau tidak apa apa?" tanya Rin kepada Mufasalia.

"siapa kau? Dan apa yang kau lakukan disini? Disini sangat berbahaya" kata Mufasalia.

"aku kesini justru ingin menyelamatkanmu dari orang yang mengejarmu" kata Rin.

"sebenarnya siapa kau?" tanya Mufasalia.

"aku Rin Carolina" kata Rin.

"Rin Carolina?!" kata Mufasalia terkejut.

"iya, sebaiknya kita harus pergi darisini!" kata Rin sambil menarik lengan Mufasalia agar menjauh dari area rumah sakit Mufasa.

"tidak mau! Aku disini ingin menghentikan kak Cao Pi!" kata Mufasalia.

"Cao Pi?" kata Rin heran.

"dia ada disana, sepertinya dia tak sengaja melepaskan segel 'guardian human'" kata Mufasalia sambil menunjuk Cao Pi.

Rin memperhatikan orang yang ditunjuk Mufasalia, alangkah terkejutnya ketika melihat orang yang ditunjuk Mufasalia adalah Cao Pi yang sudah benar benar bukan Cao Pi lagi, kini tangannya penuh dengan darah, sepertinya dia habis membunuh para Lessa.

"bagaimana mungkin segel itu lepas?" kata Rin yang begitu terkejut.

"aku tidak tau" kata Mufasalia.

Rin terdiam, seketika dia teringat perkataan nona Bian Shi tentang bungan lavender itu, Rin mengambil lima tangkai bunga lavender itu, dan berlari menghampiri Cao Pi.

"kakak Rin! Apa yang kakak lakukan?" tanya Mufasalia.

"menghentikan Cao Pi" kata Rin.

"bagaimana caranya? Satu satunya cara hanyalah dengan menutup kembali segelnya!" kata Mufasalia.

"aku tau" kata Rin, lalu dia berhenti dan melemparkan lima tangkai bunga lavender itu kearah Cao Pi, ajaib lima tangkai bunga lavender itu mebuat sebuah perisai ungu yang mengurung Cao Pi didalamnya.

"apa itu?" kata Mufasalia yang terheran heran melihat perisai ungu itu.

"Cao Pi! Kau tidak akan bisa keluar dari perisai itu!" kata Rin.

Cao Pi berusaha keluar dari perisai ungu itu, tapi tubuhnya selalu terpental bila menyetuh perisai ungu itu.

Dari kejauhan, terlihat Roscoe yang berusaha beridiri, dia memandang Cao Pi, "tch, ini masih belum selesai" kata Roscoe, lalu dia menghilang begitu saja.

"hei kamu" kata Rin.

"iya, kak Rin" kata Mufasalia.

"apa kau tau keberadaan Gold Gun legendaris itu" kata Rin.

"Gold Gun? Apa maksudnya Gold Gun yang ini" kata Mufasalia, dia membuka ransel Cao Pi dan mengambil sesuatu didalam tas itu, setelah benda yang dicari didapatkan, Mufasalia memperlihatkan benda itu kepada Rin.

"Gold Gun legendaris!" kata Rin terkejut.

"kami menemukannya didalam rumah sakit Mufasa" kata Mufasalia.

"senjata itu bercahaya, berarti kau lah orang yang terpilih untuk menembakkan senjata itu" kata Rin.

"iya, aku saja terkejut ketika melihat senjata ini bersinar saat aku pegang" kata Mufasalia.

"maaf, boleh aku tau siapa namamu?" tanya Rin.

"namaku Mufasalia Delentina" kata Mufasalia.

"nama yang bagus, dan namamu mirip dengan nama rumah sakit ini" kata Rin.

"terima kasih" kata Mufasalia.

"Mufasalia, sekarang dengarkan aku" kata Rin dengan wajah serius.

"iya" kata Mufasalia.

"arahkan senjata itu tepat dijantung Cao Pi dan tembaklah" kata Rin.

"eh? Apa kaka tidak salah?!" kata Mufasalia tidak percaya akan yang barusan ia dengar.

"tidak, Gold Gun hanya bisa ditembakkan kepada 'guardian human' dulu Cao Pi juga pernah mengamuk dan pamannya yaitu tuan Xiahou Dun menembakkan Gold Gun itu kepada Cao Pi tepat dijantungnya untuk menghentikan efek emosional Cao Pi" jelas Rin.

Mufasalia hanya mengangguk, dia mengarahkan Gold Gun itu tepat kearah Cao Pi, tangannya bergemetar, dia tidak percaya harus menembak seorang manusia, Mufasalia siap menarik pelatuk Gold Gun itu dan...

Dor!

Peluru tepat mengenai Cao Pi seketika Cao Pi ambruk, "kak Cao Pi!" kata Mufasalia, dia panik saat melihat Cao Pi yang ambruk, ia pun langsung berlari menghampiri Cao Pi.

"tenang dia tidak mati" kata Rin.

Benar saja Cao Pi masih bernapas, nampaknya dia sedang tertidur, Mufasalia menghela napas lega, "syukurlah, kukira Cao Pi mati" kata Mufasalia, dia duduk didekat Cao Pi.

Rin menghampiri Mufasalia, "efek ini bisa bertahan lama, tergantung keadaan emosi Cao Pi" kata Rin.

"apa saat Cao Pi bangun nanti dia akan normal?" tanya Mufasalia.

"tidak, segelnya tidak terkunci itu berarti Cao Pi masih tidak terkendali, satu satunya cara adalah, kita harus membawa Cao Pi ke tuan Cao Cao untuk menyegel Cao Pi" kata Rin.

"jadi kita harus membawanya kekastil?" tanya Mufasalia.

"iya, hanya itu satu satunya cara" kata Rin dia menghampiri Cao Pi, tapi entah kenapa wajah Rin memerah, Mufasalia yang melihat itu hanya bingung.

"kenapa, kak Rin?" tanya Mufasalia.

"wajah Cao Pi saat tidur sungguh imut" kata Rin.

Gubrak!

"bukan saatnya memikirkan hal itu" kata Mufasalia.

"tapi memang kenyataan" kata Rin.

"sudahlah, yang jadi masalah bagaimana kita membawanya kekastil?" tanya Mufasalia.

"aku akan menggendongnya" kata Rin.

"kuat?" tanya Mufasalia.

"i, iya" kata Rin, dia menggendong Cao Pi dibelakang punggungnya, tapi tanpa sengaja tangan Cao Pi mengenai dadanya Rin, hal itu membuat wajah Rin merah semerah buah tomat.

"kenapa kak Rin?" tanya Mufasalia.

"di, dia, mengenai, da, dadaku" kata Rin dengan wajah yang masih merah.

"hah?" kata Mufasalia yang tidak mendengar perkataan Rin.

"sudahlah ayo kita pergi dari sini" kata Rin, lalu pergi.

"ah tunggu!" kata Mufasalia sambil mengejar Rin.

-x-

"payah, aku kalah dengan Cao Pi!" kata Roscoe.

"itu wajar, karna Cao Pi bukanlah Cao Pi" kata Nia.

"apa maksud anda?" tanya Roscoe.

"dia telah membuka segel 'guardian human' itu berarti kekuatan Cao Pi sudah tak dapat ditandingi lagi" kata Nia.

"jadi segelnya telah lepas?" kata Roscoe.

"iya" jawab Nia.

"lalu siapa yang dapat menyegel kekuatannya?" tanya Roscoe.

"ayah" kata Nia.

"Cao Cao?" kata Roscoe.

"iya, hanya dia yang mampu menyegel kekuatan Cao Pi" kata Nia.

Roscoe hanya mengagguk.

-x-

"ayo lepas, lepas" kata Cao Cao, ia berusaha melepaskan ikatan ditangannya, tapi selalu saja gagal, "hah~ sulit sekali lepas" gerutu Cao Cao. Dia merunduk, ia hanya pasrah dengan keadaannya, "bagaimana ini, apa aku akan terus ada disini? Tidak! Aku tidak boleh menyerah, aku akan berusaha" kata Cao Cao, dia berusaha melepaskan tangannya dari ikatan, dan akhirnya berhasil, "akhirnya berhasil!" seru Cao Cao, lalu dia berusaha melepaskan ikatan tangannya disebelah kiri dan berhasil, "akhirnya berhasil, baiklah aku akan kabur dari tempat ini untuk mencari Cao Pi" kata Cao Cao, dia celingak celinguk untuk memastikan kalau Nia tidak ada disini, setelah merasa aman Cao Cao kabur dari tempat itu.

- To Be Continued -


Aiko:"uwaaaaaaa, ceritanya panjang sekali"

Ishida:"karna kau keasyikan nulis cerita"

Aiko:"iya juga sih"

Ishida:"akhir tulisan (?), mohon reviewnya ya see you next chapter"