[Chaptered]
Title : You Can't Hear
Chapter : 09/?
By : Gatsuaki Yuuji
Main Cast : Uzumaki Naruto, Uchiha Sasuke, Hyuuga Neji.
Disclaimer : All Chara punya Papi Kishi. FYI, Papi Kishi itu Papiku.
Genre : Shounen Ai
BGM : Fish Leong - Can't Hear
Mungkin chapter sebelumnya rada nyebelin, tapi chapter kali ini membawa angin segar bagi Naruto sekaligus menambah masa galawnya. Yey!
Sudah 1 bulan aku meninggalkan asrama dan memilih untuk tinggal bersama Shikamaru.
Selama sebulan ini entah apa yang membuatku lebih akrab dengan Gaara, padahal kami berbeda jurusan. Gaara adalah anak jurusan seni.
Hell, No! Sejak awal aku dan Gaara memang bersahabat!
Mungkin karena aku selalu bertemu dengan Gaara ketika aku mencoba untuk menghindari Sasuke, dan Gaara juga membantuku untuk mengatasi kegalauan yang timbul akibat Uchiha Sasuke si pantat ayam dari Konoha ini.
Shikamaru menyarankanku untuk berpacaran dengan Gaara, karena kami sama-sama korban patah hati.
Yeah, kurasa aku harus move on! Aku tidak mungkin terus mengharapkan Sasuke yang tidak pernah mau meresponku.
Perpustakaan kampus.
Saat aku sedang mencari beberapa buku penunjang untuk penelitianku, aku melihat sosok lelaki berambut pantat ayam, sosok yang sangat kurindukan sekaligus ingin kuhindari.
Aku ingin menyapanya, aku kangen dengan suaranya, tapi egoku berkata bahwa aku tidak harus menghampirinya.
Aku hanya bisa melihatnya dari sela-sela lemari buku. Dia duduk sendirian di bangku paling ujung. Tidak ada yang berani menghampirinya, soalnya Uchiha Sasuke akan sangat garang jika konsentrasinya diganggu. Dia tampak sangat tekun membaca setumpuk buku yang hampir memenuhi meja tersebut. Tangannya dengan cekatan menyalin sesuatu di buku tulisnya.
"Come on! Just say 'Hello'", bujukku pada diriku sendiri.
Aku masih menatapnya dengan ragu-ragu.
"Well, hanya sekedar mendengarnya menanggilku 'Dobe' itu sudah cukup. Setelah itu aku akan pergi!", pikirku.
Setelah bernegosiasi singkat dengan egoku, akhirnya aku memutuskan untuk menghampirinya.
"Hai, Sasuke!", sapaku.
Aku menarik bangku dan duduk berhadapan dengannya.
"Sendirian?", tanyaku.
Damn! Aku seperti om-om mesum yang sedang menggoda seorang loli.
"Hn!", gumannya masih terfokus pada buku tulisnya.
"Dimana Neji?", tanyaku melirik kesana kemari, kuharap Neji tidak ada di sini.
"Ada kelas", jawabnya singkat.
"O..", anggukku.
Aku melihat buku-buku yang berserakan di hadapanku. Aku merasa aneh dengan buku yang dibacanya ini. Semuanya tentang manajemen, ekonomi dan bisnis.
"Apa kau tidak salah baca?", tanyaku.
"Tidak!", jawabnya singkat.
"Kau anak pertanian tapi kau malah membaca buku tentang bisnis dan ekonomi. Apa kepalamu terbentur sesuatu?", aku masih heran dengan tingkah Sasuke yang tidak nyambung ini.
"Berisik!", ketusknya sambil membenturkan keningnya ke meja, dia tampak frustasi.
"Baru kutinggal 2 minggu saja, otakmu sudah bermasalah seperti ini", sindirku.
Sasuke masih betah menempelkan keningnya ke meja. Dia masih diam. Apa yang sedang dipikirkannya?
"Waiting for connection", Sasuke menaikkan jari telunjuk kanannya.
"Kau mau apa?", tanyaku heran, aku sama sekali tidak mengerti dengan ulah Sasuke yang selalu aneh-aneh ini.
"Waiting for connection", ulangnya lagi.
Aku berpikir sejenak untuk mencerna apa yang diinginkannya.
"Aku sakit, Dobe~", lirihnya minta dikasihani.
"Aha! Aku mengerti!", seruku.
Aku tahu dia pasti ingin aku menarikan tarian bodoh itu.
"Maaf, aku tidak ingin mempermalukan diriku di sini. Dan aku tahu bahwa kau tidak sakit!", tolakku.
Aku beranjak dari bangku.
"Jya!", pamitku.
"Aku sakit, Dobeeee~", lirihnya semakin lirih.
"Ke unit kesehatan saja!", saranku.
"Aku membencimu!", ketus Sasuke dari belakangku.
Dengan cueknya aku berjalan meninggalkannya. Tapi tiba-tiba sesuatu yang keras menghantam kepalaku dari belakang.
"Ouch!", teriakku kesakitan.
Aku menoleh ke belakang dan kulihat ponsel Sasuke hancur tak berbentuk tergeletak di kakiku. Dia pasti melemparku dengan ponselnya lagi.
"TEME!", marahku.
Aku mengambil ponsel yang hancur itu dengan kesal.
"Bisakah kau menghargai barang permberian orang? Ini dibeli bukan dengan daun!", omelku sambil meletakkan ponsel tersebut di hadapannya.
"Aku sakit, Dobe~", katanya pelan tertunduk dan pandangan kosong.
"Berhenti merengek seperti anak kecil!", ketusku.
Aku sangat tidak suka dia berkata seperti itu. Jelas-jelas tadi dia baik-baik saja, tapi ketika kuhampiri sikapnya malah berubah menjadi menyedihkan seperti ini.
"Kau tidak peduli padaku?", tanyanya sendu.
"Kalau kau ingin mencari perhatianku, please, jangan pasang tampang menyebalkan seperti itu! Aku benci kau mengeluh bahwa kau sakit! Kau pikir dengan berkata seperti itu, kau bisa membuatku untuk menuruti keinginanmu? Kau salah besar, Uchiha-san!", marahku habis-habisan.
Dengan kesal aku melangkah pergi meninggalkannya. Kurasakan ada sesuatu menghantam punggungku, tanpa menolehpun aku tahu bahwa Sasuke melemparku dengan ponselnya lagi.
Terserah kau saja! Lakukan sesukamu, dan aku tidak peduli! Kau terlalu kekanak-kanakan, baka-teme!
1 minggu kemudian.
Toko Buku Jiraya.
"Hai, Naru!", sapa Neji ketika aku sedang memilah-milah buku yang ingin kubeli.
"Yo, Neji!", sahutku.
"Sedang mencari buku?", tanya Neji.
"Tidak, aku sedang mencari jodoh!", candaku.
Neji hanya mengangguk. Aku melirik ke buku yang sedang dipegang Neji.
"Sejak kapan kau mulai tertarik dengan bisnis?", tanyaku.
"Sejak berpacaran dengan Sasuke", jawabnya.
"Aku yakin cepat atau lambat kalian akan pindah haluan ke jurusan ekonomi", sindirku.
Neji menggeleng.
"Sasuke ingin membuktikan pada Papanya bahwa dia bisa mengelolah perusahaan seperti kakaknya", jelas Neji.
"Sebagai pacar yang baik, aku ingin membantunya. Aku harus memahami hal-hal yang berbau bisnis juga, jadi ketika Sasuke tidak mengerti, maka aku bisa menjelaskannya", sambung Neji.
Jadi begitu. Aku telah salah sangka menilai Sasuke. Kupikir dia aneh atau otaknya konslet, tapi ternyata ini semua untuk menunjukkan kemampuannya pada Papanya.
"Sebagai teman sekamar, kau harus membantunya juga. Karena aku tidak bisa 24 jam dalam sehari bersamanya", jelas Neji.
"Aku sekarang tinggal bersama Shikamaru, sudah 1 bulan aku tidak kembali ke asrama", jelasku.
"Kau harus cepat menyelesaikan penelitianmu lalu kembali ke asrama. Sasuke kesepian, dia menunggumu", bujuk Neji.
"Aku tidak mengerti kau berbicara apa? Penelitian?", tanyaku.
"Sasuke bilang kau sedang membuat tugas penelitian bersama Shikamaru, sehingga kau jadi jarang pulang dan sering menginap di rumah Shikamaru. Pantas saja aku tidak menemukanmu ketika aku berkunjung ke asrama", jawab Neji.
"Sasuke bilang seperti itu padamu?", tanyaku lagi.
"Hn!", angguk Neji.
Sasuke, mengapa kau membohongi Neji? Apa lagi yang kau rencanakan? Kau merindukanku? Lelucon macam apa ini?
Keesokan harinya.
Saat aku mengembalikan buku yang aku pinjam seminggu yang lalu di perpustakaan, Anko-san menyerahkan sebuah ponsel yang sudah retak dengan layar pecah dan tidak menyala.
Anko-san bilang, itu milik Sasuke, Sasuke sengaja meninggalkan, tidak, dia membuang ponselnya di perpustakaan.
Dasar Uchiha sombong!
Keesokan harinya, aku memutuskan untuk mengunjungi Sasuke. Aku ingin melihat kondisi kamarku ketika kepergianku. Apakah akan seperti kapal pecah?
Tok Tok
Aku mengetok pintu kamar asrama.
Sunyi dan tidak ada sahutan.
Kurasa Sasuke belum pulang.
Aku mencoba memutar knop pintu, dan... terbuka.
"Dasar pikun", seringaiku.
Aku mulai memasuki kamar. Kamarnya masih rapi seperti biasanya, hanya saja, di lantai... Kulihat Sasuke sedang berbaring telungkup di lantai sambil menyangga kepalanya dengan bantal. Di tangan kanannya masih menempel sebuah pena dan di lantai berserakan buku-buku. Dia ketiduran ketika mengerjakan tugas.
"Dasar pantat ayam!",
Aku mengambil buku-buku yang berserakan di lantai, setelah beres, aku mengangkat Sasuke dan membaringkannya di atas ranjang.
Kedua mata Sasuke terbuka perlahan, dia menatapku dengan dahi yang mengernyit keheranan.
"Dobe?", tanya Sasuke sambil melihat-lihat sekeliling.
"Ini kamarmu", jawabku.
"Hn!", guman Sasuke.
Sasuke menyamankan tubuhnya diranjang, kemudian dia menarik selimut sebatas leher dan kembali memejamkan mata.
"Istirahatlah", aku mencium keningnya.
Keningnya terasa hangat, kau demam lagi, Sasuke~
Padahal musim panas sudah berakhir. Kau tidak pandai menjaga kesehatanmu dengan baik, kau hanya pandai perawatan tubuh dan wajah porselainmu itu.
Setelah mengompres Sasuke dan memastikan demam Sasuke sudah menghilang, akupun memutuskan untuk pulang. Sebelum pulang aku mencium pipi mulusnya itu. Aku tidak bisa mengecup bibirnya lagi, aku takut dia akan marah.
"Love You, My Bakasuke~", bisikku pelan.
Ketika aku berbalik, aku melihat sesuatu di atas ranjangku. Sebuah guling dengan foto wajahku yang sedang tertidur pulas dengan mulut terbuka. Aku menghampiri guling tersebut.
"Dari mana kau mendapatkan foto nista ini?", aku tersenyum kecut melihat kerjaan Sasuke ini.
Aku meletakkan guling tersebut di pelukan Sasuke.
"Kau memang selalu penuh kejutan", aku mengelus pipi tembemnya.
Hey, Sasuke! Apa benar kau merindukanku?
Kalau iya, cepat bujuk aku untuk kembali ke asrama dan aku dengan senang hati akan kembali.
Apa kau dengar itu, Sasuke?
Terputus
Review, please ^^v
