"Si…Siapa kau?" Tanyaku ketakutan

"Hanya seorang pemuda yang tersesat"

"Benar? Kau bohong kan?"

"Mana mungkin aku membohongi wanita cantik sepertimu"

"Apa maumu?! Cepat katakan!"

"Serahkan batu bulan itu, lalu pergi"

Perkataannya tadi seakan-akan mennghipnotis diriku, aku ingin memberontak tetapi tubuh tidak mau menurut! Tanganku bergerak sendiri mengikuti ucapannya. Tiba-tiba saja Jellal muncul dan menyerang pemuda tersebut, ia tidak terluka, hanya saja kartu yang dipegangnya terbelah menjadi dua bagian. Anehnya setelah kartu itu terbelah tubuhku bisa kugerakkan sesuai keinginanku.

"Kamu ingin mengambil batu bulan tersebut bukan?" Tanya Jellal serius

"Padahal sedikit lagi aku akan berhasil"

"Lucy! Lari, bawa batunya. Aku akan melawannya disini!"

"Ba…Baiklah…"

Dengan sekuat tenaga aku berlari meninggalkan ruangan tersebut, tetapi langkahku langsung terhenti begitu saja seakan-akan ada yang menahanku. Benar saja, sebuah tangan bayangan menahan kaki kananku, apa ini ulah pemuda itu? Bukankah Jellal sedang melawannya?

"Kau tidak akan bisa kabur kemana-mana"

"Sial!"

Aku melihat jika Mystogan, Mavis dan Gray sedang menyusul, tetapi karena kurang berhati-hati Mavis terjatuh dan kakinya terkena leser merah tersebut. Bel peringatan pun berbunyi dengan nyaring, beberapa satpmann menghampiri kami berlima. Gawat! Satu musuh saja belum dikalahkan malah muncul gerombolan satpam, kalau begini terus kami bisa kalah.

"Cepat tangkap mereka!" Perintah salah satu dari gerombolan satpman tersebut

"Tidak semudah itu!"

Tangan kanan Gray kembali berubah menjadi tangan monster. Dengan mudahnya ia mengalahkan satpam-satpam tersebut dengan sekali pukul. Mavis sendiri hanya membuat mereka tertidur menggunakan sihirnya. Aku yakin sihir dari Grand Master tidak akan berguna sekarang, jika Mystohan nekat menyerang maka sekolah ini akan hancur lebur dan kami semua tidak mungkin selamat kecuali penggunanya.

Pertarungan Jellal dengan penyihir kartu tersebut juga sangat sengit. Semua serangan yang Jellal kerahkan sama sekali tidak berpengaruh padanya, seakan-akan disekeliling pemuda itu ada pelindung yang tidak terlihat, biasanya disebut barrier. Setauku hanya job mage yang memiliki sihir tersebut, dia bukanlah mage ataupun fighter, dia adalah langka…

"Kenapa? Kudengar trinity mu hebat. Itu bohong ya?" Ledeknya

"Ayo serang aku serang! Ini masih belum cukup!"

"DIAM! Siapa kamu?"

"Rogue dari gulid Sabertooh, sang penyihir kartu. Langka bukan?"

Rogue? Nama yang cukup terkenal dikalangan penjahat papan atas. Dia benar-benar hebat, sikapnya saat bertarung dan juga kelangkaannya tersebut membuatnya menjadi begitu hebat. Jujur, aku agak ragu apa Jellal bisa menang? Aku khawatir padanya…Rogue mengeluarkan beberapa kartu dan melemparnya kearah Jellal. Kartu itu menempel ditubuhnya seperti perangko.

"Thunder!"

Tubuhnya seperti disambar oleh petir 2000 volt. Jellal pingsan dan Rogue menendang-nendang tubuhnya, bahkan dengan kejamnya ia menginjak-injak kepala Jellal. Sikapnya benar-benar membuatku muak! Aku tidak bisa membiarkannya!

"Mystogan, tangkap" Kataku sambil melempar baru bulan tersebut

"Apa yang ingin kau lakukan?!"

Pertanyaannya sama sekali tidak kuhiraukan, langsung saja aku menyerang Rogue menggunakan dual steno. Saat menyerangnya tubuhku terpental hingga membentur tembok. Rogue datanng menghampiriku dan memegang daguku. Wajah kami berdua begitu dekat, aku bisa merasakan nafasnya, juga menghirup bau badannya.

"Sting berkata jika darahmu sangat lezat, sepertinya dia tidak berbohong"

"Apa maksud ucapanmu?"

"Tidak ada maksud apapun, atau mungkin ada? Tandanya aku dan Sting menyukaimu, lagipula kau cukup manis"

Ucapannya benar-benar aneh dan gila! Meski aku sudah berusaha untuk melawan tetap saja tidak bisa, Jellal juga belum sadar, dia pasti terluka parah. Dari belakang aku melihat, jika Mystogan dan Gray ingin memukul punggung Rogue dari belakang, kupikir akan berhasil karena serangan itu begitu mendadak, ternyata mereka juga gagal.

"Sial…!" Ucap Mystogan sambil meninju lantai

"Sia-sia saja, serangan biasa tidak akan mempan padaku"

"Apa kalian baik-baik saja?" Tanya Mavis khawatir

"Jangan pedulikan kami, sembuhkanlah Jellal, kumohon" Ucap Gray sambil terbaring lemah

"Baiklah"

"Ups…Tidak semudah itu nak"

Kembali Rogue melempar beberapa kartu dan mengucapkan mantera, tubuh Mavis seperti di cincang oleh angin. Ia pingsan setelah menerima serangan itu. Tipe healer memiliki daya tahan tubuh yang lemah, wajar saja jika ia bisa di KO meski hanya terkena satu serangan.

"Baiklah, sepertinya kalian semua sudah kalah. Waktunya mengambil batu bulan" Ucap Rogue yang meninggalkanku dan mendekat kearah Mystogan

"Tidak!" Mystogan berusaha untuk mempertahankan batu bulan

"Mengganggu saja" Rogue menginjak-injak tangan Mystogan berkali-kali

Gray bangun dan berusaha untuk memukul Rogue dengan tangan kananya. Tiba-tiba di sekitar mereka terjadi ledakan yang cukup dahsyat, pasti karena pukulan Gray barusan. Ledakan itu tidak berdampak bagi Rogue, ia memukul wajah Gray sampai terpental jatuh.

"Lebih baik kamu diam dan menonton, tangan monster…" Ledeknya sambil tersenyum jahat

"Apa katamu?!" Gray tak terima dirinya di katai monster

"Sudahlah, menyerah saja"

"Menyerah katamu?"

"Oh, rupanya pemeran utama sudah bangun, Jellal"

"Diam! Kami tidak mengenal kata menyerah sampai tujuah kami tercapai!"

Sepertinya Rogue berhasil membangkitkan amarah Jellal. Ia mengganti armornya dengan sebuah pakaian biasa?! Kau sudah bosan hidup ya? Jellal menggabungkan kedua pedangnya menjadi satu, ya, meski kedua mataku ini tidak melihat pedang atau apapun yang Jellal pegang.

Ia melakukan ancang-ancang yang siap menyerang, kedua tangannya memegang pedang dengan erat, di bawahnya muncul sebuah lingkaran sihir, hanya dengan kaki kanan ia bisa melesat begitu jauh. Tau-tau Jellal berusaha untuk membobol pertahanan Rogue.

"Kita lihat, siapa yang menang dan kalah dengan pertarungan ini" Tantang Rogue

"Baiklah aku terima tantanganmu"

Jellal memperkuat serangannya, dan pada akhirnya Jellal pun berhasil menusuk leher Rogue? Eh?! Dia serius? Itu beneran?!

"Ingatlah ini, jangan pernah melukai teman-temanku dan jangan dekati Lucy!"

Apa maksud ucapannya yang terakhir? Lantai di penuhi dengan darah segar dari leher Rogue, pedang Jellal juga di penuhi dengan noda darah. Lagi-lagi aku ingin menangis, aku tidak kuat melihat ini semua!

"Lucy.." Mystogan mengucapkannya dengan nada iba

"Kenapa? Kenapa kamu menusuk lehernya?!"

"Lihat lah ini" Vey mengambil potongan kartu yang telah berlumuran darah

"I…Itu kartu?"

"Iya, kartu ini di gunakan Rogue di lehernya. Fungsi kartu ini adalah untuk melindungi dirinya dari bermacam-macam serangan, bisa di bilang barrier. Jika aku tidak menusuk lehernya, aku tidak akan pernah mengalahkannya"

"Tetapi, pasti ada cara lain bukan selain menusuk lehernya?!" Ucapku tak terima

"Apa kamu lupa? Penjahat harus di bunuh. Suatu hari nanti kau juga harus membunuh" Ucap Jellal dingin

"Nii-san!"

"Sudah, sudah. Sekarang batu bulannya kita apakan?" Tanyaku mengalihkan topik pembicaraan

"Malam nanti, kita berlima akan pergi kesebuah kolam. Kami menunggumu jam delapan malam di markas" Mystogan yang mengucapkannya

"Souka, oke aku akan pergi ke markas"

"Kamu ingat tempatnya?"

"Ya, aku ingat. Kalau begitu sampai nanti"

Dengan langkah kaki yang lemas aku melangkah keluar dari ruang bawah tanah. Aku juga harus membunuh? Aku tidak akan pernah melakukannya sampai mati! Apa Jellal itu tidak punya hati nurani? Dia terus-menerus mengatakan kata bunuh, bunuh dan bunuh. Sesampainya di rumah, aku langsung masuk dan pergi ke kamar.

"Panda, ada apa sayang? Kamu terlihat pucat"

"Aku baik-baik saja, aku mau tidur" Ucapku dari atas

"Kamu sudah makan?"

"Sudah"

"Kalau begitu, tidurlah"

Sebenarnya aku berbohong jika sudah makan, lagipula setelah melihat darah nafsu makanku lenyap seketika. Apa mungkin Mystogan, Mavis dan Gray juga seperti Jellal yang selalu membunuh? Karena lelah aku pun tertidur, benar-benar hari yang melelahkan.

Sekitar jam 7 malam, diam-diam aku pergi dari rumah dengan melompati jendela. Untung saja ayah dan ibu tidak sadar. Aku langsung berlari menuju markas, aku sengaja datang lebih pagi karena jarak dari rumah ke markas cukup jauh. Di dalam markas Jellal, Mystogan, Gray dan Mavis sudah berkumpul.

"Kamu datang lebih cepat dari dugaanku" Ucap Gray

"Memang, kalau tidak aku akan terlambat"

"Kalau begitu, tunggu apa lagi? Ayo pergi!" Mavis terlihat begitu bersemangat

Ternyata luka Mavis tidak terlalu parah atau mungkin pemulihan dirinya yang cepat? Aku berjalan di paling belakang, sedangkan Jellal berjalan paling depan, sepertinya semua sangat bersemangat, kecuali Jellal dan aku. Kami berlima pun sampai disebuah kolam. Aku bisa melihat bulan dengan begitu jelas dari sini, Mystogan memasukkan batu bulan tersebut kedalam kolam dan batu itu pun tenggelam hingga ke dasar.

"Dengan begini, misi selesai"

"Kenapa di masukkan ke kolam?" Tanyaku

"Batu ini memang tempatnya disini nee-san. Berbahagialah" Ucap Mavis sambil tersenyum kearahku

Dengan seksama aku memperhatikan raut wajah mereka. Mavis terlihat begitu bahagia, Mystogan dan Gray tersenyum tipis, sedangkan Jellal? Wajahnya datar seperti papan. Aku hanya terdiam sambil memandang bulan, kepalaku tertunduk untuk sesaat dan aku pun memutuskan untuk pulang.

"Minna, aku pulang dulu ya"

"Hati-hati" Teriak Gray

"Besok datang lagi ke markas ya, nee-san" Kata Mavis sambil melambaikan tangan

"Bye" Ucap Mystogan

Mereka semua ramah ya…Kecuali si iblis Jellal, dia sempat menatapku tadi, tetapi aku tidak mempedulikannya. Tubuhku pegal semua, makanya saat merabahkan diri di kasur aku langsung tertidur seperti tadi siang. Semoga besok menjadi hari yang baik.

Bersambung…

Next chapter : Musibah yang Menimpa