Previously (Chapter 7) :
Tangan Kyungsoo yang mendekap Jongin bisa merasakan kulit kepala Jongin yang terasa kasar pada bagian belakang.
Sepertinya aku familiar dengan hal ini. Ah, sepertinya ini bekas benturan yang Jongin alami saat kecil; batin Kyungsoo.
Dan akhirnya, Kyungsoo lebih memilih untuk melupakan pikirannya, dan memfokuskan dirinya pada kenyamanan dan kehangatan yang diberikan Jongin lewat dekapannya.
"Terimakasih, Kyung."ucap Jongin, lirih.
Kyungsoo tersenyum, kemudian mengangguk dalam dekapannya.
.
-If You Could See Me Now-
.
.
Chapter 8
Sehun berjalan mondar-mandir di depan tendanya sedari tadi. Ia mengusap kedua tangannya dengan tidak sabaran. Udara dingin malam yang menerpanya tak ia gubris.
Ia khawatir dengan Jongin.
Semenjak tiba di Paris, Jongin dan Kyungsoo belum menampakkan batang hidung mereka. Sehun sudah bercerita pada Tuan Andrew dan Kris, dan Tuan Andrew memberikan kesimpulan yang cukup mencengangkan bagi mereka.
Flashback start
"Ada yang salah dengan Jongin."
Sehun, Kris, dan Tuan Andrew telah mengasingkan diri mereka, menjauh dari kerumunan warga Paris. Mereka duduk di sebuah taman kerajaan, cukup ke sudutnya–terasingkan dan tidak akan ada yang menguping pembicaraan mereka.
"Aku tidak tahu ada apa, tetapi dia murung ketika tiba di sini. Saat aku melihat raut wajahnya, dia tampak sangat syok dan sedih akan suatu hal. Aku tidak tahu apa itu, tapi itu terjadi tepat setelah penyerangan di atas danau es kemarin. Aku tidak tahu apa yang salah dengan Jongin, tapi aku sangat khawatir dengannya."jelas Sehun, membuat Tuan Andrew dan Kris mengangguk paham.
"Kemana Jongin sekarang?"tanya Kris, digelengi Sehun.
"Aku tidak tahu. Kyungsoo sedang menemaninya."ucap Sehun.
Sehun mengusap wajahnya kasar. Kekhawatirannya benar-benar besar. Dia tahu bahwa Jongin pasti memikirkan sesuatu sehingga ia menjadi semurung itu. Sehun tidak tahu apa, yang jelas dia benar-benar mengkhawatirkan sahabatnya.
"Tadi kau bilang, Jongin berperilaku seperti itu semenjak penyerangan di atas danau es. Berarti, semenjak kita melihat para Saxon?"tanya Tuan Andrew, diangguki Sehun.
"Benar. Aku menangkap basah dia sedang menatap ke arah pasukan Saxon dengan tidak percaya. Wajahnya menyiratkan bahwa sesuatu melintas di otaknya, dan itu membuatnya mendapat perasaan kaget, tidak percaya, bahkan rasa cemas yang berlebihan. Aku kenal betul siapa Jongin. Dia tidak akan sedih seperti itu, jika ia–"
Sehun terdiam. Ia seperti mendapat suatu ilham. Kris dan Tuan Andrew saling bertatapan ketika Sehun tidak melanjutkan ucapannya. Mereka menatap Sehun dengan pandangan penasaran.
"Jika ia?"tanya Kris, ingin mendengarkan lanjutan cerita Sehun.
.
.
"Jika ia tidak dapat mengingat masa lalunya."gumam Sehun, keluar dari mulutnya begitu saja.
Tuan Andrew dan Kris kaget, sedetik kemudian mereka mengangguk paham. Sehun mulai semakin khawatir sekarang. Dia tidak tahu apa-apa, tapi yang jelas sepertinya hanya itu kemungkinan satu-satunya kenapa Jongin jadi berubah muram.
"Jika ucapanmu benar, berarti memang terjadi sesuatu dalam pikiran Jongin."ucap Tuan Andrew.
.
.
"Dengan kata lain, dia berhasil mengingat masa lalunya lewat kejadian penyerangan Saxon di atas danau es itu."
Flashback end
Sehun duduk di depan tendanya, ditemani oleh api unggun kecil yang ia buat tadi untuk menghilangkan rasa dingin akibat udara malam. Sehun menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Memikirkan Jongin, membuat Sehun jadi semakin khawatir.
TAK TOK TAK TOK
Terdengar suara tapak kaki kuda yang memasuki area istana. Sehun menatap ke arah gerbang dengan tidak sabaran. Setelahnya, ia langsung berdiri kaget, dengan wajah khawatir yang semakin kentara.
Tampak Jongin dan Kyungsoo, mengendarai kuda mereka masing-masing, menuju ke perkemahan para prajurit yang ada di belakang istana.
"Jongin!"pekik Sehun.
Jongin menatap Sehun, kemudian memacu kudanya untuk mendekat. Ia turun dari kudanya, kemudian menatap Sehun dengan pandangan bersalah. Sehun tak dapat menyembunyikan rasa khawatirnya, kemudian menghampiri Jongin dan mendekapnya erat.
"Syukurlah kau tidak apa-apa. Aku takut sekali kau terluka. You have no idea how afraid I was."bisik Sehun, lirih.
Jongin membalas dekapan Sehun, walau satu tangannya masih memegang tali kekang kudanya. Ia mengusap punggung Sehun dengan lembut, berusaha menenangkan sahabatnya. Jongin mengangguk dalam dekapan itu, menenggelamkan kepalanya dalam pundak lebar Sehun.
"Maafkan aku, Sehun. Maaf, membuatmu khawatir. Aku tidak bermaksud itu. Aku hanya ingin sendiri dulu."ucap Jongin, lirih.
Sehun mengeratkan dekapannya. Airmatanya meleleh, membuat Jongin kaget. Pundaknya serasa basah. Jongin segera melonggarkan pelukannya, dan mendapati sahabatnya yang menangis karena khawatir yang semakin memuncak.
Pasalnya, Sehun terkenal jarang sekali menangis.
"Hey, jangan menangis. Aku sudah di sini. Aku benar-benar minta maaf karena membuatmu khawatir seperti ini."ucap Jongin, dengan nada bersalah yang kentara.
Sehun menyeka airmatanya kasar, kemudian mengangguk dan menatap Jongin. Ia tersenyum miring di atas tangisnya, kemudian menepuk kepala Jongin dengan bersahabat.
"Aku bersyukur kau baik-baik saja."ucap Sehun, membuat Jongin tersenyum dan mengangguk.
"Terimakasih."ucap Jongin, kemudian menepuk pundak Sehun.
"Hey, guys!"
Jongin dan Sehun menoleh, mendapati Kyungsoo yang menatap mereka dengan pandangan geli. Kyungsoo serasa melihat dua manusia saling mencintai yang melepas rindu setelah sekian lama tak bertemu. Itu menggelikan–bagi Kyungsoo tentunya.
"Aku akan buat jus apel. Mau?"tanya Kyungsoo, diangguki kedua namja itu dengan semangat.
"Mau!"
-XOXO-
Kris menatap kedekatan Jongin, Sehun, dan Kyungsoo yang tengah mengobrol di depan tenda mereka. Malam menyapa, tetapi ketiga orang itu belum tertidur dan memilih untuk bersenda gurau bersama, ditemani oleh api unggun yang menghangatkan dan juga jus apel buatan Kyungsoo.
Kris menghela nafas pelan, tersenyum menatap mereka. Pandangannya kini terpusat pada salah seorang di antara ketiga orang itu, yang kini tengah tertawa lepas seraya menjahili Kyungsoo.
Sehun.
Kris merasa bahwa dadanya terasa sakit jika mengingat sepenggal nama itu. Melihat Sehun tertawa, jahil, dan juga merajuk membuat Kris ingin sekali ikut tertawa. Tapi, yang ia bisa lakukan hanyalah tersenyum, dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Setetes airmata berhasil jatuh dari matanya.
"Kau sudah tersenyum lagi sekarang."gumam Kris, lirih.
Kris menghela nafas berat, tanpa sadar tanganya terkepal. Ia menatap Sehun lagi, yang kini tengah memegangi perutnya karena terlalu banyak tertawa. Kris tersenyum di atas tangisnya, kemudian membalikkan tubuhnya untuk masuk ke dalam tenda.
Setidaknya, jika Kris masuk ke dalam tenda, tidak akan ada yang menyadari bahwa namja kuat letnan hebat kerajaan tersebut tengah menangis.
-XOXO-
"Aku benar-benar tidak tahu harus bilang apa. Itu memalukan!"
Sehun dan Jongin kembali tertawa, mendengar ocehan Kyungsoo. Kyungsoo menegak jus apel di tangannya, kemudian menatap kedua temannya itu dan terkekeh. Jongin menyeka airmatanya, sedangkan Sehun memegangi perutnya yang terasa sakit.
"Oke, oke! Aku bisa mati tertawa jika seperti ini terus!"ucap Jongin, berusaha untuk mengendalikan tawanya.
"Aduh, aduh, aduh!"keluh Sehun seraya memegangi perutnya, walau mulutnya masih belum berhenti tertawa.
Beberapa menit berlalu, barulah ketiga teman kita bisa mengendalikan tawa mereka.
"Lelucon yang menyenangkan!"ucap Jongin, dikekehi Sehun.
"Itu lelucon bodoh!"ucap Sehun, membuat Kyungsoo terkekeh.
Kyungsoo menatap sekeliling, menyadari bahwa tenda di sekitar mereka sudah sepi. Hanya mereka bertiga, dan beberapa tenda yang agak jauh dari pandangan mereka yang masih beraktivitas.
"Kurasa kita harus tidur. Tidak baik jika kita tertawa dan mengganggu tidur kawan-kawan lain."ucap Kyungsoo, diangguki Jongin dan Sehun.
"Baiklah. Kau.. punya tenda sendiri?"tanya Jongin kepada Kyungsoo, membuat Kyungsoo mengerjap.
"Tidak ada. Rencananya, aku mau tidur di dapur kerajaan."ucap Kyungsoo.
"Tidur di sini saja. Aku dan Sehun akan tidur di tenda Sehun."ucap Jongin seraya menunjuk tendanya sendiri.
Kyungsoo merona, sedangkan Jongin tersenyum tulus pada Kyungsoo. Kyungsoo menatap tenda Jongin yang mungil namun rapi, kemudian mengangguk.
"Baiklah, jika kau memaksa."ucap Kyungsoo.
Jongin mengangguk dengan senyuman, kemudian memasuki tendanya untuk membuka beberapa lembar daun sebagai alas Kyungsoo tidur nantinya. Kyungsoo menatap apa yang Jongin lakukan. Namja yang satu itu benar-benar gentle dan banyak berbuat padanya, padahal mereka baru kenalan selama beberapa hari.
"Sudah. Masuklah!"ucap Jongin, mempersilahkan Kyungsoo masuk.
Kyungsoo menatap Jongin dan Sehun bergantian, kemudian tersenyum.
"Selamat tidur, kawan."ucap Kyungsoo.
"Selamat tidur, Kyungsoo."sahut Jongin dan Sehun bersamaan.
Setelah memastikan bahwa Kyungsoo sudah masuk ke dalam tenda, kemudian Jongin menatap Sehun. Sehun tampak memikirkan sesuatu, membuat Jongin mengernyit heran.
"Ada masalah, bro?"tanya Jongin, membuat Sehun sadar dari lamunannya.
"Tidak ada. Hanya kepikiran sesuatu."ucap Sehun, membuat Jongin penasaran.
"Apa itu?"tanya Jongin, yang malah mendapat hadiah senyuman miring Sehun.
"Sebaiknya kau tidak perlu tahu. Bukan apa-apa."ucap Sehun, diangguki Jongin–walau begitu tidak menghilangkan rasa penasaran Jongin.
"Baiklah. Aku tidur di tendamu, ya!"
Jongin berbicara pada Sehun, kemudian berdiri dan berjalan ke arah tenda Sehun. Sehun masih duduk di depan tenda Jongin, menatap kepergian Jongin. Pikirannya kembali melantur pada satu hal.
Kris.
Sehun tidak tahu kenapa tadi siang dia ingin berbicara dengan Kris. Ketika ia memikirkan permasalahan Jongin, yang pertama muncul di pikirannya adalah nama Kris. Sehun tidak tahu kenapa hatinya berbuat demikian, tetapi itulah yang benar terjadi.
"Aneh. Dekat dengan letnan itu saja tidak."gumam Sehun.
"SEHUN!"
Sehun menoleh, menatap Jongin yang sudah berdiri di depan tenda Sehun. Jongin memberi isyarat agar Sehun mendekat, jadi Sehun bangun dari duduknya dan berjalan ke arah Jongin.
"Ayo, tidur!"ucap Jongin, diangguki Sehun.
Akhirnya, Sehun lebih memilih menepis pikirannya, kemudian masuk ke tenda dan membaringkan dirinya di samping Jongin. Jongin tidur dengan bertumpu pada satu tangannya, satu tangannya lagi ia taruh di atas perut. Sedangkan Sehun sudah terbiasa tidak bertumpu pada apapun. Keduanya sama-sama menatap langit-langit tenda.
"Aku bersyukur, kita bisa sampai di Paris dengan selamat. Saxon benar-benar menyeramkan."ucap Sehun, membuka suara.
Mendengar kata Saxon, membuat Jongin teringat lagi masa lalunya yang muncul. Melihat perubahan raut wajah Jongin, membuat Sehun menengok dan menatap sahabatnya itu. Inilah yang dia ingin tanyakan pada Jongin.
"Jongin, ada yang ingin aku tanyakan. Tapi janji, jangan memukulku."ucap Sehun, membuat Jongin ikut menoleh ke arahnya.
"Apa itu?"tanya Jongin, membuat Sehun mendengus.
"Tapi janji jangan memukulku."ucap Sehun, diangguki Jongin.
"Bertanya saja belum, bagaimana aku tahu bahwa aku akan memukulmu nantinya?"tanya Jongin, dikekehi Sehun.
"Sudah kuduga kau akan berbicara begitu."ucap Sehun, membuat Jongin menatap sahabatnya dengan heran.
"Apa yang ingin kau tanyakan?"tanya Jongin.
Sehun memiringkan tubuhnya menghadap Jongin, menatap sahabatnya dengan bingung. Jongin menolehkan kepalanya, menatap Sehun dengan pandangan bingung juga. Sepertinya hati mereka sudah seperti satu, jadi perasaan yang mereka rasakan pun sama–perasaan sama-sama bingung.
"Kenapa kau panik tadi siang, Jong? Apa yang ada di pikiranmu sampai-sampai kau perlu waktu untuk menyendiri?"tanya Sehun.
Jongin terdiam mendengar pertanyaan Sehun. Jongin mulai merangkai kata-kata untuk menjawab pertanyaan itu. Sehun adalah orang kedua yang menanyainya setelah Kyungsoo. Sehun menyadari bahwa Jongin tengah berpikir, jadi dia hanya menatap Jongin dengan sabar walau hatinya benar-benar ingin mendengar jawaban Jongin.
"Aku.. teringat masa laluku."ucap Jongin, membuat Sehun terdiam.
Tuan Andrew benar!; batin Sehun.
"Lalu?"tanya Sehun, ingin mendengar penuturan Jongin dengan lebih detail.
"Lalu.. aku tahu siapa diriku sebenarnya. Aku tahu keturunanku, asal diriku, dan juga kenangan masa laluku yang membuatku bisa mencapai Paris. Belum semuanya kuingat, namun beberapa sudah mulai muncul."ucap Jongin, membuat Sehun terdiam.
"Aku mau mendengarnya."ucap Sehun.
"Kau pasti akan kaget jika mendengar ini, Sehun."ucap Jongin, membuat Sehun penasaran.
"Apa itu?"tanya Sehun.
"Ternyata selama ini, aku adalah keturunan terakhir dari kaum Penunggang Kuda Celtic!"
Dan bisa kita lihat raut kaget dari wajah Sehun dan raut antusias dari wajah Jongin.
Maka, kedua sahabat itu menghabiskan malam di tenda itu dengan berbagi cerita dan pengalaman masa lalu, hingga mereka lupa tujuan mereka memasuki tenda adalah untuk tidur.
-XOXO-
Pagi menjelang. Di antara prajurit-prajurit yang rajin di sana, Jongin dan Sehun termasuk di antara mereka.
"Ini rumputnya, Hun!"
Jongin membawa setumpuk besar rumput, kemudian menaruhnya di dekat Sehun. Sehun menghampiri Jongin, kemudian terkekeh menatap wajah lelah Jongin. Tentu saja lelah! Rumput itu besar-besar dan bertumpuk, berat pastinya.
"Semangat, Jong! Aku yakin kudamu dan kudaku akan senang mendapati hadiah makanan spesial dari majikan mereka ini."ucap Sehun, kemudian mengambil alih tumpukan rumput itu.
"Yeah. Kau bisa berbicara begitu karena kau tidak mengangkut rumput-rumput itu, bung."ucap Jongin, dikekehi Sehun.
Sehun meraih dua genggam besar rumput pada kedua tanganya, kemudian berjalan ke arah kedua kuda cokelat mereka yang diikat di belakang tenda Sehun. Sehun menaruh rumput itu di depan kuda-kuda itu, yang kemudian disambut dengan hangat oleh mereka.
"Mereka lahap sekali. Pasti mereka kelaparan."ucap Sehun, diangguki Jongin.
"Aku mau memetik apel dari dalam hutan, lumayan untuk menambah rasa makanan mereka. Tunggu sebentar!"
Jongin mengusap kepala salah satu ekor kuda, kemudian menatap Sehun dan berlari ke dalam hutan di samping perkemahan mereka. Sehun menatap kepergian Jongin dengan senyuman miring khasnya, kemudian kembali mengatur pakan rumput kuda mereka.
"Hai, Sehun!"
Sehun menoleh, mendapati seorang Kyungsoo yang tengah berjalan ke arahnya dengan gaun cokelat khas miliknya. Sehun tersenyum, kemudian melambai sejenak padanya.
"Hai juga, Kyung!"sahut Sehun.
"Sibuk sendiri? Jongin mana?"tanya Kyungsoo, membuat Sehun menatap hutan di depannya dan mengedikkan dagunya ke arah hutan itu.
"Mengambil apel di dalam hutan untuk pakan kuda ini."ucap Sehun, kemudian satu tangannya mengusap kepala seekor kuda.
"Kuda kalian yang paling gagah di antara kuda-kuda yang lain."ucap Kyungsoo, kemudian menatap ke kuda-kuda lain yang ada di tenda lain.
"Mungkin karena perbedaan perawatan. Jongin yang menyarankanku untuk merawat kuda-kuda ini dengan rajin, agar mereka bisa jadi gagah dan perkasa di medan perang."ucap Sehun, disenyumi Kyungsoo.
"Tentu saja. Dia Penunggang Kuda Celtic."ucap Kyungsoo, membuat Sehun menoleh.
"Kau sudah tahu soal itu?"tanya Sehun, diangguki Kyungsoo.
"Dia bercerita banyak soal kaum yang sudah punah itu padaku kemarin. Tidak mengherankan juga, sih. Dia pandai berkuda, menjinakkan kuda, merawat kuda, dan juga pandai bertarung walau dia adalah prajurit baru. Tentu saja, karena dia adalah keturunan Penunggang Kuda Celtic."ucap Kyungsoo, dengan satu tangan lentiknya mengusap kepala seekor kuda yang tengah mengunyah rumput.
"Apa sehebat itukah?"tanya Sehun, diangguki Kyungsoo yang kemudian menatapnya.
"Kaum Penunggang Kuda Celtic. Setiap keturunannya unik. Seorang anak dari kaum penunggang kuda itu, akan mahir berkuda bahkan sebelum ia bisa berjalan. Keahlian bertempur sudah diasah semenjak mereka masih berumur 3 tahunan, dan pembangunan taktik sudah dilatih semenjak mereka menginjak usia dimana mereka sudah bisa berbicara. Refleks anak-anak kaum itu sudah ditajamkan semenjak mereka lahir, dengan naluri bertahan dan juga kemampuan survival. Pedang, api, dan tombak adalah peralatan sehari-hari mereka. Berburu sudah menjadi kebiasaan, dan kuda adalah sahabat mereka."jelas Kyungsoo, membuat Sehun cukup terpana dengan penjelasan itu.
"Tidak heran jika Jongin memiliki semua keahlian itu walau dia adalah prajurit baru."gumam Sehun, diangguki Kyungsoo.
"Tepat sekali."
"Kalau begitu, bagaimana bisa kau tahu begitu banyak tentang kaum ini?"
Kyungsoo terdiam. Ia mengusap kepala kuda di hadapannya, memikirkan jawaban untuk pertanyaan itu. Benar. Kenapa aku bisa tahu begitu banyak soal kaum ini?; batin Kyungsoo. Sehun menatap Kyungsoo dengan pandangan penasaran.
"Entahlah. Aku hanya tahu saja. Kaum itu sangat legendaris, semua orang menceritakan kisah kehebatan mereka. Sayang, Saxon melenyapkan segalanya."ucap Kyungsoo, membuat Sehun mengernyit heran.
"Saxon? Apa hubungannya kaum Penunggang Kuda Celtic dengan Saxon?"tanya Sehun, membuat Kyungsoo menengok ke arahnya.
"Saxon-lah yang memusnahkan kaum penunggang kuda itu. Jongin adalah keturunan terakhir mereka."
Sehun terdiam. Kyungsoo menatap Sehun dengan pandangan sedikit terluka, kemudian tersenyum miris. Ia jadi ingat betul setiap cerita Jongin kemarin, membuatnya prihatin sekaligus salut terhadap namja itu.
"Jongin tidak ingat siapa orangtuanya, tetapi dia ingat bahwa ibunya yang menyelamatkannya dari kaum Saxon itu. Aku ada di sana saat penyerangan itu berlangsung, tapi aku sendiri tidak ingat kronologisnya karena aku terlalu syok dan semua berlalu begitu cepat. Kejadiannya sudah lama sekali."jelas Kyungsoo, membuat Sehun mengerjap kaget.
"Seburuk itukah?"tanya Sehun, diangguki Kyungsoo.
"Mungkin lebih buruk lagi."
"HALO, GUYS!"
Sehun dan Kyungsoo menoleh, mendapati Jongin yang datang ke arah mereka dengan senyuman ramahnya seperti biasa. Dalam dekapannya, banyak sekali apel-apel kemerahan yang manis dan siap untuk dimakan. Ia berjalan ke depan kedua kuda mereka, kemudian menaruh apel-apel itu di tanah.
"Mereka akan suka apel ini! Ini manis!"ucap Jongin antusias, kemudian meraih satu buah apel dan menyodorkannya pada kuda miliknya.
Kedua kuda itu mengendus keberadaan apel, mendekatkan kepala mereka ke tangan Jongin. Jongin meraih satu apel lagi dengan satu tangannya yang bebas, kemudian memberikannya kepada masing-masing kuda. Kuda-kuda itu mengendus apel tersebut, barulah memakannya dan mengunyahnya dengan lahap. Jongin tersenyum, kemudian menepuk kedua kepala kuda itu dengan raut wajah bangga.
"Good boys!"puji Jongin kepada kuda-kuda itu.
Tanpa Jongin sadari, Sehun menatapnya dengan pandangan sulit percaya. Seorang yang ramah, berhati baik, setia, dan cerdas seperti Jongin adalah keturunan terakhir dari kaumnya? Sehun tak dapat membayangkan betapa beratnya ujian yang dialami Jongin pada masa lalunya. Sehun miris rasanya, melihat senyuman hangat Jongin yang benar-benar lebar, padahal masa lalunya begitu kelam dan rumit. Jongin berhak membenci kehidupan, tetapi namja itu tidak pernah membencinya–sekali pun tidak.
Kyungsoo menyadari tatapan Sehun pada Jongin, kemudian menatap Jongin yang tengah menyuapkan apel-apel manis kemerahan itu pada kuda-kuda mereka. Kyungsoo tersenyum miris, namun tidak terlihat.
Beban seberat apa yang selama ini kau tempa sendirian dengan pundakmu, Jongin?..
-XOXO-
Sehun tengah mengikatkan tali pada tendanya agar lebih kuat. Jongin tengah mengobrol dengan Kyungsoo, membahas tentang busur panah Kyungsoo yang patah karena terbanting.
"Sehun."
Sehun menoleh, kemudian gerakannya mengikat tali pun terdiam. Ia menatap sosok yang kini berdiri di hadapannya. Raut wajahnya menyiratkan rasa bingung yang kentara.
Kris berdiri di sana, menatapnya dengan pandangan yakin–entah yakin karena apa.
"Aku ingin berbicara denganmu. Empat mata."ucap Kris, mantap.
"Tidak bisakah kita berbicara di sini? Aku sedang mengeratkan tali tendaku."ucap Sehun seraya menunjuk tali tendanya yang belum selesai sepenuhnya.
Kris menghela nafas berat. Ia menatap Sehun, berharap namja itu mau mengikutinya untuk berbicara secara pribadi.
"Tidak bisa. Ini urusan pribadi."ucap Kris, membuat Sehun mengernyit.
"Bicarakan saja di sini."ucap Sehun, menatap Kris dengan pandangan heran sekaligus bingung.
Jongin dan Kyungsoo menatap pemandangan itu, kemudian saling berpandangan. Mereka pun bangun dari duduknya, kemudian berjalan menghampiri Sehun.
"Ada apa, Hun?"tanya Kyungsoo.
Jongin menatap Kris, yang kini memperlihatkan raut wajah yakin. Kris memejamkan matanya, kemudian menarik nafas panjang. Jongin mengerti raut wajah Kris yang satu itu. Ia sudah sangat familiar dengan cara Kris memejamkan mata seperti tadi.
Kris ingin meyakinkan dirinya sendiri.
Setelahnya, Kris membuka matanya, menatap mata Sehun dengan mantap. Sehun merinding. Ia menangkap kilat mata tajam, mantap, dan ada satu hal lagi yang membuat jantung Sehun berdegup kencang aneh–sudah lama ia tidak menangkap tatapan seperti itu.
Kasih sayang.
.
.
"Aku adalah kakakmu, Sehun."
TO BE CONTINUED
Note :
Hahaha! Akhirnya jati diri Kris terungkap yess!
Jujur sejujur-jujurnya, HAW suka banget sama perwatakan Jongin dan Sehun di FF ini. Jongin itu kelewat sabar, tapi dia juga banyak bersyukur dan selalu ramah sama orang.
Di sini, Sehun bener2 bestfriend material banget. Jongin sedih, dia khawatir dan ikutan sedih. Jongin seneng, dia ikutan seneng. Berharap punya sahabat setia sepenanggungan kayak Sehun huhu /kalo ada bagi satu plis
Oke deh! Lanjut aja yuk! REVIEW and FAVOURITE, please!
HUANG AND WU
