'Selamat sore, Sasori. Ini aku, Sakura. Apakah kita bisa bertemu hari Sabtu besok?'


[ kästchen / casket ]


vii.

Pagi itu ia bangun dengan mata yang berair dan selimut yang tertendang entah kemana.

Ia bangkit perlahan, mencari-cari selimut yang ada di dekat kaki ranjang, dan sejenak terpikir untuk tidur kembali untuk beberapa menit—ketika menyadari kalau rasa kantuknya hilang saat itu juga. Sembari menggosok-gosok matanya perlahan, ia melipat selimut itu lalu beranjak ke kamar mandi.

Setelah mengeringkan rambutnya yang basah, ia memilih baju yang akan dipakainya bekerja hari itu dengan sekenanya. Yang terambil oleh tangannya adalah selembar kaus lengan panjang bertuliskan nama klub ilmiah remaja tempatnya bergabung semasa SMA dulu, beserta nomor angkatan di bagian dadanya. Kaus itu dikenakannya segera, lalu ia mengambil korduroi abu-abu yang tergantung di balik pintu sebagai bawahannya.

Mungkin setelan yang dipakainya sekarang bukanlah sesuatu yang cocok untuk digunakan bekerja—karena terkesan terlalu santai dan seperti anak SMA yang hendak jalan bersama teman—namun ia tak ambil pusing. Lagipula ia bekerja di sebuah kantor desain, dan pakaiannya saat ini setidaknya masih bisa dikatakan lebih baik dibandingkan Deidara Stein yang waktu itu datang mengenakan jubah hitam dan penutup mata berbentuk teropong di wajahnya.

'Kau tidak tahu cosplay, yeah? Duh,' ia ingat rekan kerjanya berkata begitu sewaktu ia memandanginya dengan aneh, dan ia hanya mengangkat bahu setelahnya meskipun ia tak tahu apa karakter yang Deidara perankan dan mengapa ia tak memakai wig atau semacamnya.

Nah, bagus. Sekarang ia malah memikirkan tentang bocah konyol itu.

Sembari menggelengkan kepalanya perlahan untuk mencari distraksi, ia membuka gorden jendelanya. Di luar, salju sudah mulai mencair. Ia tersenyum tipis dalam hati, lalu membuka jendelanya.

Sepertinya musim semi sebentar lagi tiba.


viii.

Selagi menunggu kereta ia menyempatkan untuk mengecek ponselnya, dan mendapati kalau ia merasa terkejut sedikit begitu melihat tidak ada pesan yang masuk; selain jarkom pemberitahuan dari grup kantornya. Segera ditutupnya lagi ponselnya, dalam hati merasa heran kenapa ia merasa terkejut—dan menyadari bahwa dirinya telah men-scroll kolom pesan beberapa kali, seakan menunggu sesuatu.


ix.

Sebelum naik ke lantai tempatnya bekerja, Sakura Stärke mampir sebentar ke bakery yang ada di seberang jalan untuk membeli roti isi. Sebelum keluar, ia duduk sebentar di bakery itu untuk minum teh—dan mengecek ponselnya.

Ada pesan dari Ino. Ia bilang kalau ia baru bisa datang kerja setelah jam istirahat nanti karena ada acara keluarga yang penting. Sakura tersenyum dalam hati, sebelum kemudian membalas pesan itu. Setelah pesan dari Ino, hanya ada pemberitahuan dari operator—yang segera dihapusnya tanpa membacanya hingga selesai.

Namun ia menyadari kalau ia masih belum menutup layar menu message yang ada di ponselnya, dan malah men-scroll bagian inbox beberapa kali.

Sakura menaikkan alis sedikit, lalu memandang layar ponselnya sekali lagi—sebelum kemudian mematikan layar sembari menghela napas panjang.


x.

Ia tiba di kantornya, hanya untuk mendapati bahwa ruangan itu masih sepi dan baru Itachi Schwarz seorang yang ada disana.

Tidak heran. Sekarang masih pagi buta. Ia menutup pintu, lalu berjalan menuju meja kerjanya. Sewaktu melepas jaketnya dan menyampirkannya di sandaran kursi, ia mendengar Itachi tengah berbicara dengan seseorang di telepon.

Tanpa perlu menebak-nebak, ia sudah tahu siapa orang yang berada di ujung sambungan telepon itu.

"…Serius kau tidak mengantuk?"

Sasori membuka buku notes-nya, berusaha untuk mengabaikan percakapan yang ada beberapa meter di sebelahnya—namun suara Itachi terdengar terlalu jelas di ruangan sepi itu.

"…Kita baru sampai rumah jam satu kemarin. Lagipula kau sepertinya kembung karena kebanyakan minum soda."

Terdengar balasan sayup-sayup, yang terdengar seperti suara orang marah-marah—Sasori dalam hati bertanya-tanya mengapa rekan kerjanya itu tidak pernah memakai headset setiap kali ia menelepon.

"Jangan memaksakan diri, adik kecil."

Di sisi lain ruangan, Sasori menahan keinginan untuk memutar bola matanya secara konyol. Tentu saja. Ia pasti merasa kesal bila punya kakak yang memperlakukan dirinya seperti balita yang lucu dan menggemaskan. Ia menduga orang manapun pasti akan merasa kesal—atau setidaknya, protes berat.

"…Kau sebaiknya izin kerja dulu hari ini. Aku bisa menelepon bosmu untuk memberitahu kalau kau sedang kelelahan."

Nada suara rekan kerjanya terdengar begitu sungguh-sungguh sewaktu mengatakan itu. Sejenak pemuda berambut merah itu terpikir kalau Itachi Schwarz lebih cocok untuk berperan sebagai seorang Ayah yang overprotektif pada anak perempuannya dibanding seorang kakak yang selalu cemas pada adiknya yang berumur… dua puluh dua tahun.

Hei, dua puluh dua itu sudah termasuk usia dewasa, omong-omong.

Di ujung sambungan, samar-samar terdengar nada suara yang sedang menggerutu.

Dalam hati Sasori memarahi dirinya sendiri karena sudah mencampuri terlalu banyak secara tidak sengaja—dan berusaha fokus ke daftar detil pesanan klien yang sedang dibacanya. Namun sepertinya, telinganya sedang tidak ingin berkompromi dengannya untuk hal ini.

"Oh, kalau ada apa-apa, langsung hubungi saja, aku akan langsung jemput kesana—"

Terdengar nada sambungan yang diputus mendadak.

Dari sudut matanya, ia mendapati Itachi yang menjauhkan telepon itu dari telinganya perlahan, sebelum kemudian menatap layar selama beberapa detik dan memasukkan ponsel ke sakunya.

"Oh, Sasori, kau sudah disini daritadi?" pemuda berambut hitam itu berpaling ke rekan kerjanya, tampak baru menyadari kehadirannya. Sasori membalasnya dengan anggukan kecil.

"Apakah menurutmu kau tidak terlalu mencemaskan adikmu… Itachi?" tanyanya kemudian. Sejenak ia hendak mengatakan 'kau memperlakukan adikmu seperti bocah yang baru masuk playgroup,' namun memutuskan untuk menggantinya menjadi kalimat lain.

Itachi Schwarz, yang saat itu tengah membuka tutup tumbler berisi teh manis hangat yang dibawanya dari rumah, menaikkan alisnya sedikit—lalu tertawa kecil. "Oh? Biasa saja kok, Sasori," balasnya dengan suara ringan, lalu menyesap teh dari tumbler-nya.

Namun pemuda berambut merah itu menangkap sorot… panik yang membayang sekilas di iris hitam rekan kerjanya itu.

Atau mungkin ia hanya salah lihat.

"Kurasa adikmu bisa menjaga dirinya sendiri," ia bergumam pelan pada diri sendiri, tak mengharapkan balasan dari komentarnya tadi. Namun di luar dugaan, Itachi segera menegakkan badannya,dan menatapnya lekat-lekat dengan sorot yang mendadak serius.

"Aku cemas. Itu saja."

Sasori menaikkan alis. "Cemas karena apa?"

Itachi meliriknya sekilas, lalu melempar pandangannya lagi ke arah jendela. "Kau pernah kehilangan seseorang dalam hidupmu, Sasori?"

Ia tak berkomentar mengapa rekan kerjanya itu membalas pertanyaan dengan pertanyaan lagi. "Kehilangan seseorang?"

Pemuda berambut hitam itu mengangguk. "Yang sangat penting."

Sasori memandangi layar komputernya dalam diam selama beberapa detik, sebelum kemudian menatap Itachi dengan sorot kontemplatif.

"Jadi karena itu kau cemas?"

Rekan kerjanya itu hanya menghela napas panjang, sebelum kemudian tersenyum simpul padanya. "Percayalah, kau akan keheranan bila kuberitahu alasannya, Sasori."

Nada suara Itachi terdengar sedih sekaligus dipenuhi rasa bersalah ketika mengatakannya—namun pemuda berambut merah itu tak bertanya dan hanya diam seolah mengerti.

.

Di luar, salju yang menutupi aspal perlahan mencair.


xi.

Ino Blume tiba di ruang kerjanya dengan raut wajah ceria.

"Hai, Sakura!" sapanya riang, lalu menaruh tasnya di meja. Sakura, yang saat itu tengah membereskan dokumen-dokumen yang ada di mejanya dengan terburu-buru, segera berseri-seri sewaktu melihatnya.

"Oh, halo, Ino," ia membalas dengan senyum lebar. Berbicara dengan sahabatnya itu selalu berhasil menaikkan mood-nya, terutama dalam kondisi hectic seperti ini. "Kau sudah makan siang?"

"Sudah tadi di rumah bibiku, kau sendiri?" balasnya, namun sedetik kemudian ekspresinya segera berubah—seolah teringat sesuatu. "Oh ya, Sakura! Kemarin kau bertemu dengan pemuda itu di kafe, ya? Haha."

Rona merah segera menyebar perlahan di pipi gadis berambut merah muda itu. Tanpa perlu bertanya lagi, ia langsung tahu pemuda yang dimaksud Ino itu siapa.

"He…? Kau tahu darimana?"

Ino menggoyang-goyangkan jari telunjuknya di depan wajahnya seraya tersenyum iseng. "Sai yang memberitahuku. Katanya ia waktu itu melihat kau sedang minum berdua bersama seorang pemuda berambut merah," ia mengernyitkan keningnya sedikit, lalu menyeringai geli. "Katanya kau sepertinya sedang berbicara seru dengan pemuda itu."

Sakura menelan ludah perlahan. Ia sendiri tak tahu apa definisi dari 'berbicara seru' menurut pemuda pucat itu—dan tak berminat untuk mencari tahu.

"Ahahaha, Ino, kau pasti akan kaget kalau kuceritakan apa yang terjadi waktu itu."

Kedua alis gadis berambut pirang itu segera bertaut. "Nah, kalau begitu kau berutang cerita padaku, Sakura, dear!"

Gadis berambut merah muda itu terkekeh pelan, sebelum kemudian menatap sahabatnya dengan sorot geli. "Tapi bagaimana kalau kubilang, bila di awal pertemuan ia menodongkan pisau padaku?"

Iris cerah gadis berambut pirang itu segera melebar begitu mendengar pernyataan sahabatnya tadi.

"Hee? Serius?!"

Sakura hanya tertawa, sebelum kemudian memulai kisahnya.


.

.

Bersambung.


personal notes:

to be honest, family is something which is emphasized in Kästchen. did you notice it?

.

~C.