M
.
.
Chanyeol membanting pintu mobilnya keras-keras setelah ia memarkirkan mobilnya di garasi. Raut wajahnya tak lebih baik dari singa kelaparan tapi memiliki ego aneh untuk menolak makan. Di belakangnya ada wanita yang secara terburu-buru mengikuti langkah besar si lelaki yang sudah menggapai pintu dan menutupnya dengan sedikit keras pula.
"Chanyeol.." si wanita menarik lengan si lelaki. "Dengarkan aku dulu."
Wanita itu, Baekhyun, tidak pernah tau bahwa sifat pencemburu lelakinya adalah yang paling menyeramkan di dunia. Karena satu jam lalu saat dirinya dipojokkan di pintu mobil dengan penjara dua tangan kekar lelakinya yang sarat akan kecemburuan, dia hampir di buat kehilangan jantung karena Chanyeol tiba-tiba menarik tangan dan menjalankan mobilnya secara brutal. Saat itu Baekhyun hanya bisa berdoa semoga malaikat pencabut nyawa tidak berminat untuk membawanya ke surga karena tingkah suaminya.
Baekhyun sendiri tidak berani menginterupsi. Selain karena bibirnya yang pucat pasi menahan segala ketakutan, ia tau betul sikap cemburu Chanyeol tidak memiliki toleransi yang lebih baik dari segelas orange juice.
"Kenapa harus ada Kris?!""tanya Chanyeol nyaris berteriak setelah Baekhyun menutup kembali pintu utama rumah mereka.
"A-aku akan jelaskan. Tapi tolong pelankan suaramu agar tidak mengganggu siapapun yang sedang tidur di rumah ini. Terutama Jessie."
Ya, Chanyeol harus memelankan suaranya agar tidak ada yang terbangun akibat perdebatan mereka tentang sebuah kecemburuan. Namun sayangnya perdebatan itu telah lebih dulu membuat seorang wanita paruh baya keluar dari kamar yang ada di dekat ruang tengah dengan sebuah gelengan kepala; heran.
Ibu Mertua.
"Kalian dari mana saja?"
Seketika itu tubuh Baekhyun membeku dan dia tidak memiliki jawaban dari pertanyaan ibu mertuanya. Mau mengatakan dari Glory Red? Oh, untuk saat ini kejujuran itu lebih menyeramkan.
"Kalian bukan anak muda lagi. Ada bayi di kamar yang harus kalian jaga." Geram Nyonya Park.
"M-maaf, Bu."
"Sudah, cepat kembali ke kamar kalian sebelum Jessie merengek lagi."
Dengan wajah tertunduk penuh penyesalan, Baekhyun kembali ke kamar sambil menarik lengan lelakinya yang masih kukuh dengan wajah angkuh penuh cemburunya.
"Akan ku jelaskan secara rinci." Kata Baekhyun setelah menutup pintu kamar. Kali ini Baekhyun melakukan apa yang dilakukan Chanyeol saat di mobil memenjara Chanyeol diantara dua lengan kurusnya. "Aku dan Kris tidak memiliki hubungan apa-apa. Cemburumu itu sangat tidak beralasan, Sayang."
"Kau tidak mengatakan akan ada Kris dalam skenario bodohmu itu. Dan jika seandainya ada, aku dengan sangat tegas akan menolak!"
"Oke, aku minta maaf karena tidak mengatakan ada Kris dalam skenario bodohku." Baekhyun mengangkat kedua tangannya. "Sebelumnya Kris menawarkan bantuan untuk membalaskan rasa kesalku pada wanita itu. Dia memiliki dendam yang sama pada mantan kekasihmu."
"Aku tidak pernah berkencan dengannya!"
"Oke. Wanita itu membawa kabur uang Kris. Dia sendiri membuat suatu perjanjian jika tidak bisa mengembalikan uang Kris, dia menjadikan tubuhnya sebagai ganti. Singkatnya Kris tidak memiliki minat pada wanita itu dan dia memutuskan untuk memberinya pelajaran. Kebetulan aku memiliki dendam yang sama dan kami melakukan skenario ini." Baekhyun mendesah kecil. "Sebatas itu, Sayang."
"Lalu menjadikan suamimu sendiri sebagai umpan?"
"Aku meminta maaf lagi untuk itu."
Chanyeol mendorong pelan tubuh Baekhyun dari hadapannya.
Setelah melepas hoodie dan kaos hitam yang ia kenakan, ia mengubur diri dalam selimut dan mengabaikan Baekhyun yang setengah mati memberi bujuk rayu agar lelakinya tidak merajuk.
"Sayang... jangan marah." Bukankah yang seharusnya merengek itu Jessie yang meminta susu karena dia seorang bayi atau Daddy Jessie yang kini sedang merajuk di bawah selimut?
Tubuh bagian atas Chanyeol yang polos itu didekap erat oleh sebuah tangan. Diam-diam Chanyeol menyimpan sebuah senyum atas rajukan yang berbuah manis. Jika saja setiap hari Baekhyun bisa memperlakukannya seperti ini, seluruh tas di display Prada akan ia berikan semua untuk istrinya.
Lalu secepat angin Chanyeol memutar tubuh Baekhyun untuk ia himpit di bawah kuasanya.
"Kau sangat tau aku tidak menyukai mantan kekasihmu itu. Menyebut namanya saja membuatku mual.""Dia mencium ujung hidung istrinya.
"Ya, aku tau. Jadi aku di maafkan?"
"Berikan aku satu ciuman panas maka semua maafku hanya untukmu."
Satu ciuman panas dari sepasang suami istri yang masih memiliki gelora anak muda. Baekhyun sudah mengalungkan tangannya di leher Chanyeol bersama sebuah senyum manis yang menghiasi wajah cantiknya. Satu ciuman panas, kan? Bagi Baekhyun tidak ada yang dipermasalahkan untuk itu.
Tapi semua berubah menjadi masalah saat hidung mereka sudah saling menyentuh dan sebuah tangis kencang terdengar memekakan telinga. Bukan dari baby-box pink lucu yang ada di seberang ranjang, tapi dari kamar sebelah.
Jackson kembali dengan kebiasaan tidur malamnya.
"Aku harus menenangkan Jackson dulu." Wanita itu mendorong pelan tubuh suaminya dan memberi senyum untuk sebuah permintaan maaf atas tertundanya sebuah ciuman panas yang diminta si lelaki. "Tolong jaga Jessie sebentar ya, Sayang?"
Chanyeol harus bisa menekan semua kekesalannya untuk ciuman panas itu atau Jackson akan semakin memekik dalam tangisnya.
Sabar Chanyeol.
.
Jessie adalah bayi perempuan penyuka suasana pagi. Tak heran setiap harinya tepat pukul enam pagi, rengekan manisnya akan mendengkang dan memaksa Mommy-nya yang tertidur dalam pelukan Daddy harus terbangun.
Hal pertama yang akan dilakukan Baekhyun saat bayi perempuan cantiknya itu bangun adalah memeriksa popoknya. Pada umumnya anak bayi saat terbangun pagi hari karena popoknya sudah penuh dan merasa risih untuk menggunakannya lama-lama. Baekhyun memeriksa popok bayi perempuannya itu dan hanya mendapati sedikit bercak kuning.
Sesaat setelah mengangkat Jessie dari baby-box nya dan membawanya dalam sebuah dekapan, Jessie siap menerima susu terbaiknya dari sang Mommy. Mulut mungilnya begitu bersemangat mengulum puting sang Mommy yang memproduksi banyak cairan terbaik untuk bayi. Saat menyusu seperti ini, tangan mungilnya akan memainkan hidung sang Mommy selagi hasrat menyusunya masih sangat menggebu. Beberapa kali Baekhyun menggigit kecil jemari mungil putri cantiknya hingga membuat sebuah tawa kecil keluar dari mulut Jessie masih dengan puting Mommy dalam mulut.
Jika Jesper memiliki wajah Baekhyun dan Jackson memiliki wajah Chanyeol, maka Jessie memiliki perpaduan yang pas dari keduanya. Mata bulat dan rambut hitam lebatnya menurun dari sang Daddy sedangkan bentuk bibir dan rekahan senyumnya adalah apa yang ia tiru dari sang Mommy. Tak banyak yang bisa di jelaskan tentang bagaimana keadaan fisik Jessie karena bayi perempuan menggemaskan itu benar-benar perpaduan sempurna dari orangtuanya.
"Jessie!"
Jessie belum sepenuhnya puas untuk mengkonsumsi minum paginya, tapi saat mendengar suara dua kakak laki-lakinya mendengking dan berlari menghampirinya, bayi perempuan itu berubah semakin ceria dengan sebuah senyum merekah berhias satu gigi mungil.
Jesper dan Jackson akan menciumi pipi gembul Jessie hingga bayi perempuan itu di buat geli dan tertawa. Tawa Jessie akan semakin terdengar renyah kala Jackson mulai menggerakan tubuhnya dengan gerakan aneh dan Jesper mengambil remote di meja untuk sebuah nyanyian dari suara nyaringnya.
Dunia anak-anak tidak akan pernah sampai pada pemikiran orang dewasa. Mereka memiliki cara mereka tersendiri untuk tertawa dengan cara yang bisa dibilang menggelikan. Mengabaikan sosok Daddy di ranjang yang mulai terusik dengan kicauan lucu tiga anak menggemaskan ini, Jesper semakin melengkingkan suaranya, Jackson semakin bersemangat menggerakkan tubuhnya dan tentu saja Jessie yang semakin menambah volume tawanya yang renyah.
"Sudah, sudah. Jessie harus mandi." Baekhyun dengan terpaksa harus menginterupsi acara ketiga buah hatinya.
Jesper dan Jackson menghentikan kegiatannya dengan raut sedikit kecewa.
"Jangan sedih, Sayang. Setelah Jessie mandi, kalian bisa bermain lagi. Atau mau mandi bertiga bersama Jessie?"
Dua pasang bola mata anak laki-laki itu berbinar penuh kebahagiaan.
.
"Siapa yang mau ikut Nenek dan Kakek jalan-jalan pagi?" Nyonya Park muncul di balik pintu kamar Jesper-Jackson saat Baekhyun baru saja selesai memandikan ketiga buah hatinya.
Jesper-Jackson mengangkat tangan tinggi-tinggi sambil melompat gembira sedang Jessie tertawa riang dengan tepukan kecil dari tangan mungilnya yang gembul itu.
"Jessie boleh Ibu ajak juga, Baek?"
"Tentu saja, Ibu."
"Baiklah. Nenek siapkan bekal dulu."
Dua anak laki-laki Baekhyun itu terlihat sangat antusias dengan tidak berhenti melompat-lompat dan berteriak bahagia. Baekhyun sendiri sedang sibuk mencari kostum untuk ketiga buah hatinya yang akan menyambut pagi dengan Kakek-Nenek.
Seorang ibu tidak hanya memiliki peran menjaga dan merawat anak-anaknya. Karena ketika Baekhyun menemukan sebuah kaos tanpa lengan berwarna biru dari lemari pakaian Jackson, seketika Baekhyun merasa dirinya adalah seorang penata busana anak-anak paling handal.
Setelah itu Baekhyun berpindah pada lemari pakaian Jesper dan beruntunglah dia juga mendapati pakaian serupa. Senyumnya merekah penuh kepuasaan namun setelah itu ia dibuat bingung untuk sesuatu yang akan dikenakan Jessie.
Namun keputusasaan adalah apa yang tidak pernah Baekhyun kenal dalam hidupnya. Setengah berusaha membongkar lemari pakaian Jessie, dia menemukan sebuah atasan berwarna pink dengan lengan balon yang berbelit pita kecil lucu. Bertambah bahagia ketika ia memadukannya dengan sebuah rok balet dan topi bulu angsa sewarna dengan bajunya, Baekhyun menjetikkan jari untuk semua kostum anak-anaknya pagi ini.
.
"O, suamiku tersayang sudah bangun." Baekhyun sudah melihat suaminya duduk bersandar di kepala ranjang bersama raut wajah yang tidak tertebak. Baekhyun sendiri saat kembali kekamar mulai sibuk membersihkan beberapa properti Jessie yang terlihat berantakan di kamar. Dia tidak begitu peduli saat ada sepasang mata tajam yang sedari tadi mengekor kemanapun dia bergerak.
Setelah merapikan apa yang menurutnya kurang rapi, Baekhyun barulah sadar ada seseorang yang sejak tadi menginginkan perhatiannya.
"Masih berhubungan dengan mantanmu itu?" Suara beratnya penuh selidik.
Mulanya Baekhyun tidak begitu mengerti mengapa pembahasan tentang mantan ini harus terjadi lagi di pagi hari. Tapi saat Baekhyun menyadari sesuatu yang ada dalam tangan Chanyeol beserta wajah penuh tekukan tidak simetris milik lelakinya itu, Baekhyun hanya bisa berdoa semoga Kris tidak membuat ulah di kotak masuk ponselnya.
"Maksudmu Kris?"
"Jangan sebut namanya!"
"Kau cemburu apalagi, sayang? Sudah ku jelaskan jika aku dan Kris-"
"Ini!" Dia menodongkan sebuah tayangan dari ponsel Baekhyun yang ia genggam.
Baekhyun menyipitkan sejenak pandangannya karena gambar dari ponselnya terlihat tidak begitu jelas di matanya. Lalu saat Chanyeol mengambil remot kecil di atas nakas untuk mempermudah menutup tirai lagi (agar tidak silau) dan menarik Baekhyun lebih dekat dengannya, wanita itu memekik cantik beserta rahang yang terjatuh ke dasar bumi.
"Astaga Chanyeol!"
Seorang waanita telanjang dengan tangan terikat ke atas sedang disetubuhi oleh dua pria. Pria pertama sedang sibuk mengerang dengan pinggul yang ia gerakkan maju mundur secara kasar. Sedang pria yang lain turut melakukan hal yang sama di belakang si wanita sambil terus merekam apa yang mereka lakukan. Pria itu semakin liar menggerakkan pinggulnya meski si wanita memberontak dengan umpatan-umpatan dari mulutnya. Baekhyun masih belum menemukan dengan jelas siapa si wanita. Namun setelah beberapa saat ia melihat video itu beserta pekikan kejut yang lolos dari bibir mungilnya, ia tau ada setan wanita yang memang pantas mendapatkan semua itu.
Lee Sena.
Baekhyun tidak tau apa motivasi Kris mengirimkan video itu padanya. Video persetubuhan Sena yang dipaksa oleh dua pria tambun semalam, Baekhyun rasa hal itu benar-benar kejam. Ya, dia merasa kejam karena kodratnya dan Sena adalah wanita. Sesama wanita tentu akan merasa iba untuk kewanitaan yang di koyak secara bergiliran dengan beberapa kekerasan di sana. Tapi sekali lagi, Baekhyun menemui kata geram mengingat apa yang dilakukan wanita itu pada rumah tangganya.
"Sudah, sudah. Itu bukan urusan kita." Baekhyun mengambil ponselnya dan segera beranjak dari tempatnya. Tapi sepertinya ia memiliki waktu sedikit sulit ketika Chanyeol menahan pergelangan tangannya dengan wajah menuntut penjelasan. Apa yang harus dijelaskan dari video persetubuhan paksa yang diterima Sena?
"Aku harus bersih-bersih sebelum anak-anak kembali, Chanyeol."
Tapi Chanyeol adalah bayi besar yang kadar merajuknya bisa melebihi Jesper, Jackson, dan Jessie.
"Jangan hubungi dia lagi!"
"Apa aku pernah?"
"Pokoknya jangan!"
"Ya, ya, ya. Aku tidak akan, sayang. Bisa lepas tanganmu? Aku harus bersih-bersih."
Masih belum melepas pergelangan tangan wanitanya, Chanyeol menyentuh bibirnya yang kering itu untuk sesuatu di pagi hari yang harus ia dapatkan. Baekhyun tidak begitu mengerti kode apa itu sebelum ia tau jika Chanyeol dan morning kiss adalah dua hal yang tidak boleh ia tinggalkan dipagi hari.
"Kudengar Prada sedang ada diskon." Kata Chanyeol. Oh, haruskah semua ini berdasar pada Prada lagi?
Baekhyun menyipitkan matanya. "Sejak kapan kau menjadi sangat update tentang Prada?"
Chanyeol hanya mengedikkan bahu; acuh. Dia lebih suka menarik Baekhyun kembali dalam kuasanya daripada terus mendebat mulut wanitanya yang cerewet itu.
"Anak-anak dan Ayah-Ibu sedang tidak ada di rumah. Jadi kau bisa meloloskan desahan sekeras apapun yang kau mau."
"Chanyeol, mulutmu!"
"Ayolah. Aku benar-benar merindukan rintihanmu, Baek.
"No!"
"Yes!""
"Jangan gila Chanyeol. Jessie masih sembilan bulan dan aku sama sekali tidak memiliki niat hamil lagi."
"Aku tidak akan mengeluarkannya di dalam."
"Mulut lelaki itu pembual Chanyeol."
"Kau bisa bertaruh percaya padaku."
"Tidak mau YA! PARK CHANYEOL! JANGAN TARIK CELANA DALAMKU! YA!"
.
Sexy-mom adalah apa yang akan orang pikirkan tentang penampilan Baekhyun. Meski tubuhnya tak seramping saat dia menjadi model, tapi untuk ukuran ibu 3 anak, Baekhyun terlampau sempurna. Dia masih memiliki selera berpakaian yang cukup menarik. Meski di beberapa tempat ia harus memberi sentuhan-sentuhan longgar agar lipatan lemaknya tak nampak, tapi Baekhyun sudah cukup memperoleh nilai seratus saat berpenampilan diluar rumah.
Chanyeol sendiri tidak begitu memperdulikan bagaimana siasat Baekhyun dalam berpakaian. Sexy ataupun tidak, dimatanya Baekhyun adalah dewi kesuburan. Apapun yang dikenakan istrinya itu selalu mengundang hasrat untuk bercinta.
Entahlah, semenjak masalah rumah tangga yang menggelenyar hebat dua tahun belakangan, Chanyeol mulai menutup diri untuk kenikmatan di luar. Ya, itu memang bagus dan perlu dilakukan. Tapi sebagai gantinya, setiap malam dia akan memainkan sisi lain payudara Baekhyun yang tak di jamah Jessie. Untuk apa lagi jika bukan untuk kebutuhan biologisnya.
Setelah Jessie lahir hingga berusia hampir sepuluh bulan, Chanyeol hanya mendapat satu kali pelayanan. Itupun Baekhyun hanya memberinya satu kali rintihan. Terdengar kejam, memang. Tapi semua itu beralasan dan Chanyeol sendiri cukup sadar untuk tidak memaksa Baekhyun lebih jauh. Sebagai gantinya dia akan bermain dengan Baekhyun menggunakan jari-jari liarnya atau dia meminta Baekhyun untuk memberikan finger-service sebagai ganti remasan dinding vagina Baekhyun.
Bersetubuh dengan pakaian dalam lengkap, Chanyeol seperti anak muda yang sedang dibatasi untuk tak menjamah kekasih perawannya lebih jauh.
"B-baek.. y-yah..."
Chanyeol mulai mengerang ketika jari mungil istrinya bekerja. Dia dan lenguhan panjangnya adalah puncak dari segala hasrat yang begitu menggelora.
Mulanya Baekhyun menolak memainkan kejantanan Chanyeol dengan tangannya. Atau jika lelakinya itu sedang gila setelah menonton satu tontonan yang di kirim Jongin, Chanyeol meminta Baekhyun untuk melakukannya dengan mulut. Eugh!
Otak laki-laki memang tak jauh dari hal-hal penuh nafsu jika sudah diberi satu kesempatan. Seperti Chanyeol yang tidak pernah puas dengan satu permainan tangan Baekhyun, dia akan mengerucutkan bibir hingga istrinya itu tak kuasa menolak untuk memberi sentuhan lagi dan lagi.
"Terima kasih, Sayang." Ucap Chanyeol diatas hasrat yang baru saja ia tumpahkan di tangan Baekhyun.
Wanita itu hanya mencibir kesal. Karena setelah Chanyeol mendapat pelampiasannya, lelaki itu akan tertidur dengan senyum mengembang bahagia diatas hidungnya. Tidak taukah lelaki itu jika Baekhyun juga membutuhkan hal serupa?
"Dasar egois!" Gerutu Baekhyun. Malam ini dia akan menyuguhkan punggungnya untuk tidur malam suaminya. Biar saja, biar lelaki itu tau rasa!
"Kenapa marah? Hm?" Chanyeol sudah melingkarkan tangannya untuk memeluk Baekhyun dari belakang. Matanya memang sudah terpejam, tapi tangannya sedang bergerilya menuju pusat bahagia si wanita. Namun sayangnya Baekhyun sudah tidak memiliki nafsu untuk mendapat pelayanan, jadilah dia mengais tangan suaminya dan menggelung selimut lebih rapat agar lelaki itu tidak menjamahnya.
.
"Dasi dan beberapa kemeja sudah aku masukkan ke koper." Baekhyun menutup zipper koper hitam yang ada di atas ranjang.
Beberapa jam yang lalu Chanyeol baru pulang kerja bersama sebuah raut tidak mengenakkan. Baekhyun kira itu akibat hasil rapat yang kurang memuaskan atau Chanyeol sedang dibuat pusing dengan proyek-proyek yang belum beres. Tapi setelah Chanyeol mengatakan harus menangani proyek di Busan selama satu bulan, Baekhyun seperti diajak kembali pada masa Chanyeol akan melaksanakan proyeknya di Jeju. Dan kesemua itu adalah awal mula si pelacur datang dan hampir membuat Baekhyun-Chanyeol diambang perceraian.
Baekhyun sempat dibuat kehilangan beberapa saat fungsi pikirannya. Hanya saja ia mengalami sedikit trauma untuk cerita itu. Tapi dia tau, ini kebutuhan pekerjaan dan tak selamanya kecurigaan akan membuahkan sesuatu yang pantas dikecap kemanisannya.
"Aku tidak apa-apa, Chanyeol." Kata Baekhyun pada Jackson versi dewasa yang sedang mengerucutkan bibir di dekat box Jessie. "Pekerjaan, kan? Kau tidak boleh berberat hati atau semuanya akan menjadi buruk."
"Ini terlalu lama, Baek. Bagaimana jika aku rindu?"
"Video call?"
"Bagaimana jika rindunya setengah mati?"
"Berlebihan."
"Bagaimana jika aku amat sangaaaaat rindu? Bagaimana?" Dia membelalakkan kedua tangannya dan kembali bertingkah seperti anak kecil. Oh astaga, terkadang Chanyeol perlu diingatkan tentang statusnya sebagai pria dengan 3 anak. Dan bertingkah menggemaskan seperti itu bukankah akan terlihat seperti bayi besar Baekhyun?
"Hanya satu bulan, sayang."
"Ini adalah saat-saat dimana aku harus banyak meluangkan waktu untukmu dan anak-anak. Tapi lagi-lagi Yunho-hyung mengatakan jika aku yang harus pergi. Padahal Jongin dan Sehun juga bisa."
"Bukannya mereka juga pergi bersamamu?"
Dan bisakah Chanyeol tidak membulatkan matanya seperti itu? Karena ketika dia melakukannya, Baekhyun ingin mengalungkan tangannya di leher Chanyeol dan mengecup mata menggemaskan itu.
Sejak memiliki Jessie dan kadar kemanjaan Chanyeol menjadi dua kali lipat lebih banyak, Baekhyun dibuat belajar untuk menahan segala hasrat untuk tidak memeluk atau mencium suaminya itu sembarangan. Selain karena anak-anak terkadang keluar masuk kamar tanpa permisi, Baekhyun sedang menjaga pertahanan agar Chanyeol juga bisa menahan segala hasratnya hingga tidak ada malam panas sebelum mereka menemui waktu yang pas.
"Tetap saja. Ada mereka tapi tidak ada kau, itu terasa hambar. Apa aku harus pulang-pergi?"
"Jangan." Baekhyun mengangkat telunjuknya tanda penolakan keras. "Kau bisa kelelahan, sayang."
"Tapi.."
"Sudahlah, ini bukan pertama kalinya kau harus menjalankan tugas di luar. Kita akan baik-baik saja, oke?"
"Baiklah."
Chanyeolnya Baekhyun yang patuh.
"Mau jalan-jalan malam sebentar? Ya, mengingat masa berkencan kita dulu."
.
Pernah suatu kali Baekhyun bertanya pada hatinya, seberapa besar rasa cinta ini jika bisa di gambarkan? Merasakannya saja Baekhyun seperti diberi sesuatu yang besar dan membahagiakan.
Jika mengingat bagaimana dia dulu bertemu dengan Chanyeol, dia mensyukuri segala sesuatu yang Tuhan gariskan padanya.
Saat itu Baekhyun tidak memiliki fokus lain kecuali karirnya. Karir dan perubahan nasib adalah apa yang ingin ia capai. Bersyukur jika perjalanan karirnya bisa berjalan lancar dan dia tidak menjumpai satu cacat sebagai publik figur. Baekhyun benar-benar menjaga semua yang tengah ia genggam. Bersikap baik dan berperilaku terpandang bukan semata sebagai wajah publik yang ingin ia tunjukkan, tapi semua itu memang setulus hati ia perlihatkan tanpa menginginkan satu pujian.
Sang model cantik bersenyum surgawi itu melejitkan namanya. Lewat prestasi dan kecantikannya, Baekhyun didaulat akan menjadi model kelas internasional yang membanggakan. Cara berbicara dan cara bersikapnya selain memikat masyarakat luas, juga beberapa pria yang bersedia menengadah cinta untuk si model cantik. Daya pikat Baekhyun menembus batas kenormalan setiap logika seorang lelaki. Mereka dibuat terbirit-birit untuk sebuah dalih cinta tulus pada sang model cantik. Namun sayangnya, saat itu Baekhyun lebih memilih menetapkan hati pada satu lelaki yang diam-diam membuatnya jungkir balik.
Kris Wu.
Satu nama yang sanggup membuat Baekhyun kalang kabut mencari sebuah sandaran. Seluruh perhatian Kris dan cara lelaki itu memperlakukan Baekhyun membuat si model cantik jatuh hati untuk pertama kalinya. Dan melabuhkan hati untuk Kris tidak terlalu buruk mengingat mereka adalah dua orang dewasa yang sudah sepantasnya saling menetapkan hati. Mereka saling membagi hati untuk sebuah perasaan yang sudah sepantasnya berlanjut pada jenjang yang lebih serius.
Dan ketika Baekhyun menemui satu kata 'deal' untuk perlabuhannya pada Kris, dia justru menjumpai seorang pria tengah berbagi bibir di sebuah ruang ganti acara fashion show. Ya, itu menyakitkan dan Baekhyun dibuat patah hati lebih dari berkeping-keping.
Dia berhak memutuskan semua prasangka yang ada. Dia berhak memberi satu 'judge' pada Kris dan si model baru itu karena telah menjadikannya wanita malang yang harus merasakan patah hati.
"Kita selesai dan jangan meminta sebuah kesempatan" adalah apa yang Baekhyun katakan ketika Kris menengadah untuk sebuah permohonan maaf. Tapi sebuah kesialan adalah Baekhyun bukan pemaaf yang baik atas segala rasa sakit hatinya. Dia tidak pandai menekan perasaan hingga akhirnya dia menjadi wanita dengan kegalauan yang lebih buruk dari badai salju.
Rasa sakit hati itu perlahan Baekhyun pupuk untuk menjadi sesuatu yang berguna. Seperti dia yang menerima setiap pekerjaan untuk mengalihkan waktu sedihnya. Dia menjadi model yang rajin bersolek dan berlenggok dia atas catwalk dan pameran mewah demi menutupi waktu berkabungnya dengan Kris. Hingga akhirnya ia bertemu dengan seorang lelaki yang duduk dengan angkuh diantara penonton fashion show yang diadakan oleh suatu brand pakaian wanita ternama.
Baekhyun tidak begitu tertarik, awalnya. Dia masih dalam masa berkabung dan melirik laki-laki lain bukan pekara sepele. Apa jadinya lelaki itu jika tau Baekhyun memiliki waktu sulit untuk rasa sakit hatinya? Dia yang berlenggok anggun sepanjang catwalk bersama sebuah senyum bak malaikat, memiliki waktu sulit untuk melupakan sebuah penghiatan.
Tapi Baekhyun tidak pernah mengerti jika lelaki itu memiliki tekad lebih kuat dari baja. Karena ketika Baekhyun dijamu makan malam oleh si empunya acara, dia mengenal sebuah nama baru beserta sebuah senyum yang memikat. Apa-apaan ini?
Baekhyun mengenalnya sebagai Park Chanyeol, lelaki yang sukses dengan otak cerdasnya memimpin sebuah perusahaan. Tak banyak yang Baekhyun dengar kecuali si kaya yang sukses di usia muda.
Masa pengenalan yang Baekhyun kira akan memakan waktu bertahun-tahun itu nyatanya hanya terealisasi selama beberapa bulan. Baekhyun menjadi begitu mudah melupakan sakit hatinya pada Kris ketika Chanyeol menawarkan banyak kenyamanan. Ya, dia tidak munafik melihat fisik Chanyeol yang bernilai hampir sempurna. Dia tampan, pandai, dan yang terpenting Chanyeol memiliki cara tersendiri hingga membuat Baekhyun membuang seluruh kekerasan hatinya.
Hingga suatu hari, Chanyeol menunjukkan suatu keseriusan yang selama ini Baekhyun nantikan dari Kris. Sebuah kotak kecil berwarna merah dengan hiasan pita putih manis membuka suatu lembar baru dalam hidup Baekhyun.
Chanyeol melamarnya.
Sebagai seorang wanita yang tidak memiliki banyak pengalaman, Baekhyun tentu meminta waktu. Menikah tidak sesepele bersolek dan berlenggok di atas catwalk. Menikah menjadi sesuatu yang sakral dan membutuhkan banyak pertimbangan. Maksudnya, Baekhyun tidak ingin menanggapi keseriusan Chanyeol dengan sekali kejap. Ia butuh memikirkan karirnya yang sedang melejit seperti sebuah roket.
Satu bulan, dua bulan, dan tiga bulan, Chanyeol setia menunggu sebuah keputusan atas jawaban kotak kecil merah itu. Lelaki hanya perlu bersabar. Dia berusaha tenang untuk jawaban yang akan Baekhyun berikan. Tapi suatu malam ketika Chanyeol sudah tidak tahan dengan kesabarannya, ia berharap sebuket mawar putih yang ia bawa itu memiliki pengaruh yang baik.
"Maaf harus meminta jawaban terlalu cepat." Chanyeol berkata diantara rasa gugupnya.
"Kau menunggunya?"
"Tentu!" Dia menyeka sebutir peluh sialan yang muncul di pelipisnya.
"Dan maaf juga sudah membuatmu menunggu terlalu lama."
Tidak ada yang bisa terucap lagi setelah itu. Chanyeol sibuk menata hati atas apa saja yang nanti akan menjadi jawaban Baekhyun. Baekhyun sendiri sedang memilih kata yang terdengar sopan sehingga tidak ada yang tersakiti setelah jawaban ia berikan.
"Aku bisa menerima apapun keputusanmu." Dia berkata seolah hatinya seluas lapangan jika saja Baekhyun menolak. Tidak taukah wanita itu jika Chanyeol sedang menuntut banyak doa supaya 'ya' adalah apa yang akan membuatnya bahagia?
"Aku mau menanyakan satu hal."
"Y-ya. silahkan."
Baekhyun menatap dalam pada lelaki di hadapannya. Bukan untuk mengintimidasi atas tatapannya, tapi lebih pada melihat bagaimana reaksi lelaki itu.
"Apa aku masih boleh menjadi model saat aku sudah menikah denganmu nantinya?"
Pertanyaan itu. Chanyeol tidak memikirkan apa jawaban yang harus diberikan. Karena ketika Baekhyun memutuskan tetap menjadi model atau menghentikan semua dunia model yang terlanjur ia geluti, Chanyeol tidak memiliki banyak hak untuk memutuskannya. Tapi tidakkah cukup dia saja yang bekerja dan Baekhyun duduk manis di rumah untuk menjadi seorang istri yang baik?
"Apa kau masih menginginkan menjadi model saat sudah menikah?"
"Tentu. Aku sudah memimpikan posisi ini sejak lama."
Chanyeol mengambil nafas paling dalam. Ya, ini impian Baekhyun. Apapun alasannya Chanyeol tidak memiliki hak untuk menghentikan mimpi seseorang.
"Jika kau bisa mengimbangi tugas seorang istri di samping pekerjaanmu, aku tidak masalah."
"Kau terdengar sangat terpaksa."
"Seperti itukah?"
"Ya."
"Sejujurnya aku tidak begitu menginginkan kau tetap bekerja saat menikah nanti. Aku kepala keluarga, aku akan menjadi seorang suami, dan aku yang akan menjamin semua kebahagiaan keluargaku. Sekalipun aku harus bekerja siang malam, aku akan mengusahakan semua yang terbaik untuk keluargaku."
"Jadi?"
"Ya, seperti yang ku katakan. Selama kau memiliki balance yang baik antara tugasmu sebagai seorang istri dan seorang model, aku tidak masalah."
Chanyeol seperti digantung di pucuk Namsan Tower ketika Baekhyun tak kunjung memberinya sebuah jawaban. Dia hampir menjumpai keputusasaan kala Baekhyun tiba-tiba masuk ke kamar tanpa sepatah kata. Apa ini bentuk penolakan? Oh, seseorang tolong perjelas semua ini dengan kata-kata. Chanyeol bukan lelaki yang pandai menterjemahkan bahasa tubuh wanita.
Hampir dua puluh menit dia duduk termenung di sofa apartemen Baekhyun, Chanyeol terpaksa membuat keputusan sepihak. Dia ditolak dan Baekhyun tidak ingin menikah dengannya. Sudah cukup semua ketergantungan yang menyesakkan ini. Karena setelah Chanyeol pulang dari tempat Baekhyun, dia akan mendiamkan diri untuk masa berkabung yang panjang. Dia patah hati.
"Mau kemana?"
Atau ini semua hanya permainan?
"Aku belum memberikan jawaban. Tidak mau dengar jawabanku?"
Apa Baekhyun juga memiliki keahlian membuat detak jantungnya seperti kehilangan kontrol? Karena ketika Chanyeol hampir meraih gagang pintu apartemen Baekhyun, wanita itu muncul dengan sebuket senyum manis yang memabukkan. Ini terlalu manis bahkan jika harus berlabel suatu pemanis buatan.
"Chanyeol.." dia mendekat, menyibak semua rasa yang telah Chanyeol susun secara rapi. "Apa kau bisa membantuku menyiapkan sebuah konferensi pers?"
"U-untuk apa?"
"Aku akan bertanggung jawab untuk kemunduranku dari dunia model. Karena ku rasa mengurus rumah tangga bersamamu jauh lebih penting."
"B-baek?"
Dan dia kembali tersenyum untuk sebuah jawaban 'ya' yang tersirat sangat manis.
"Jadi, rumah tangga seperti apa yang akan kita bangun setelah ini?"
.
Bagian terindah menjadi seorang wanita adalah ketika Baekhyun sadar, dia memiliki satu kesempatan untuk melahirkan seorang malaikat. Keutuhannya sebagai wanita bertaruh untuk sebuah nyawa suci yang akan ia lahirkan. Baekhyun sangat menanti hal itu, hal dimana dia akan mengerang dan suara tangis malaikat kecilnya akan pecah membelah kesunyian dunia.
Chanyeol suami siaga. Hampir setiap malam dia memastikan keadaan Baekhyun yang sedang hamil tua bersama sebuah rasa proteksi berlebih. Kehamilan pertama Baekhyun dan pengalaman menjadi suami siaga, Chanyeol sangat menikmati semua itu disela-sela rasa lelahnya bekerja. Dia akan bertanya apa yang dibutuhkan istrinya ketika terjaga di suatu malam, memperhatikan segala jenis makanan yang dimakan sang istri, dan tidak pernah absen menemani ke dokter jika jadwal periksa kandungan telah tiba.
Dan ketika suatu malam dia harus dibuat gelisah saat dia harus mengurus proyek di Jerman sedang istrinya memiliki waktu siaga untuk melahirkan kapan saja, Chanyeol mendapati dirinya menjadi seonggok daging yang hanya bisa berputus asa dengan segala keresahan. Dia ingin menjadi suami yang direpotkan kala tengah malam Baekhyun mengerang kesakitan. Atau dia akan menjadi seorang penyemangat ketika anak pertama mereka sedang di perjuangkan Baekhyun di ruang bersalin. Nyatanya Chanyeol hanya bisa mengacak rambut frustasi di sebuah sudut kamar hotel semenit setelah ia mendapat telfon dari ibunya, "Baekhyun di dalam ruang bersalin. Dia sedang berjuang untuk cucu pertamaku."
Dia ingin menangis saat mendengar teriakan Baekhyun dari ponselnya. Dia ingin ada di sana, menyediakan tangan untuk di genggam atau rambut untuk di jambak. Namun tiga kali Baekhyun mengerang di sebuah ruang bersalin untuk tiga buah hati mereka, Chanyeol tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk itu.
.
Kebiasaan Chanyeol saat tidur malam adalah melepas pakaian bagian atasnya lalu menggelung di balik selimut atau menyesakkan diri dalam pelukan Baekhyun. Dia hanya akan mengenakan bagian bawah sebuah piyama dan membuang atasannya entah kemana.
Baekhyun sendiri terkadang harus memaksa lelakinya itu untuk berpakaian lengkap. Bukan apa-apa, jika cuaca sedang dingin dan Chanyeol tetap pada keadaan seperti itu, dia aka mengalami flu berkepanjangan.
"Chanyeol, Jackson menangis lagi. Tolong kau jaga Jessie sebentar, ya?"
Malam itu Jessie tidak tidur dalam box-nya karena bayi perempuan berpipi gembul dan bergigi satu itu sedang rewel. Begitulah anak bayi, mereka memiliki masa merajuk yang sedikit sulit dan akan diam ketika seseorang mendekapnya dalam sebuah pelukan. Jadilah malam itu Baekhyun membawa Jessie turut serta tidur dalam satu ranjang dengan Daddy-nya.
Chanyeol memiringkan sedikit tubuhnya untuk membelai punggung mungil Jessie yang mulai gelisah dalam tidurnya. Dia juga terkadang memberi tepukan kecil pada pantat Jessie saat bayi perempuannya itu menunjukkan tanda akan menangis hebat. Dan benar saja, tidak sampai semenit Jessie sudah meledak dalam tangisnya.
Chanyeol segera bangun dan meraih tubuh mungil Jessie untuk dia gendong. Tapi Jessie tak kunjung menunjukkan tanda-tanda akan meredakan tangis meski Chanyeol sudah menimang dengan sebuah nyanyian tidur.
Astaga, besok pagi dia harus mengejar pesawat pagi untuk ke Busan dan dia butuh tidur malam berkualitas agar esok dia bisa lebih segar. Chanyeol tidak ingin mengeluh untuk jam malam Jessie yang rewel seperti ini, tapi dia benar-benar dibuat frustasi saat Jessie mulai menangis dengan suara nyaring.
Tidak ada tanda-tanda Baekhyun kembali ke kamar untuk mengambil alih Jessie setelah menenangkan Jackson. Apa yang sedang dilakukan wanita itu? Tidakkah dia mendengar bayi perempuannya sedang menangis hebat dan Chanyeol tidak memiliki banyak ilmu menenangkan bayi?
Dengan mata yang setengah ia paksa untuk terbuka, Chanyeol bangkit dari tempatnya dan menuju kamar sebelah. Ia kira Jessie butuh ASI untuk kembali menyambung tidurnya dan semua itu hanya Baekhyun yang bisa memberikan. Namun ketika ia membuka pintu kamar yang tertempel stiker Pororo besar, ia mendapati wanitanya sedang bergelung di ranjang mungil Jackson dengan begitu nyenyak.
Chanyeol dihadapkan pada dua pilihan. Membangunkan Baekhyun; sama artinya dia mengganggu tidur lelap Baekhyun setelah berhari-hari menerima rengekan Jessie saat tengah malam. Atau, membiarkan Baekhyun tetap tidur yang sama artinya dia mengambil penuh peran untuk mengatasi rengekan bayi mungilnya.
.
Baekhyun kira hari sudah menunjukkan pagi ketika ia menerima tendangan kecil dari Jackson yang terlelap dalam pelukannya. Tapi saat melihat bundaran angka pada perut Pororo di atas nakas mungil dekat ranjang Jesper, Baekhyun tersadar dia tertidur selama dua jam saat menenangkan Jackson.
Perlahan wanita itu melepas pelukannya pada Jackson dan menggantinya dengan sebuah selimut. Dia masih ingin bergelung dengan si nomor dua, tapi dia teringat akan si bungsu yang ia tinggal dengan Daddy-nya di kamar.
Jessie sedang dalam mode rewel belakangan ini. Dia menjadi sangat manja dan ingin tidur dalam pelukan Mommy atau Daddy. Jadilah Baekhyun membiarkan box bayi Jessie kosong karena si bungsu akan tidur di ranjang yang sama dengan Mommy dan Daddy.
Dan ketika wanita itu mencapai gagang pintu kamar untuk kembali memeluk Jessie, dia disuguhkan sebuah pemandangan yang lebih indah dari pegunungan.
Jessie tidak tidur di ranjang dan dia juga tidak tidur di box-nya. Dia ada di sebuah dekapan hangat dada bidang seseorang yang di panggil Daddy. Ini bahkan lebih menenangkan dari sebuah lagu pengantar tidur melihat Jessie yang benar-benar terlelap di atas dada Daddy-nya.
Ini semacam perasaan haru. Baekhyun melihat malaikat-malaikatnya berbagi kehangatan dalam sebuah pelukan yang menjanjikan kenyamanan. Baik Jessie yang tengkurap di atas dada Daddy-nya atau Chanyeol yang mengelus pelan punggung kecil Jessie, keduanya memiliki waktu hening yang hangat untuk saling bertukar kasih.
"Tidurlah. Biarkan Jessie seperti ini." Suaranya parau ketika Baekhyun akan mengambil alih Jessie.
"Bagaimana Jessie bisa tidur seperti ini?"
"Dia menyukai tubuh Daddy-nya."
"Biar ku ambil Jessie dan menaruhnya di box."
"Tidak usah." Chanyeol menepuk kecil sisi sebelah kanannya yang kosong; tempat Baekhyun biasa bergelung. "Tidak ingin menikmati tubuhku seperti yang Jessie lakukan?"
Baekhyun memberikan capitan panas jemarinya di lengan polos Chanyeol. Dia malu, tapi dia begitu mendamba lengan kekar Chanyeol untuk ia gelung sepanjang sisa tidur malamnya.
"Tidak capek?" Tanya Baekhyun saat sebelah tangan Chanyeol merengkuh tubuhnya yang berbaring.
"Untuk para wanitaku, aku rela berkorban apapun."
"Kenapa jadi romantis sekali?"
"Setiap hari aku juga romantis."
"Biasanya kau akan mengerucutkan bibir seperti Jackson."
"Oh ya? Kapan?"
"Ku bilang apa, lelaki itu pembual."
"Pembual untuk membuatmu mendesah, Baekhyun sayang."
"Mulutmu, Chanyeol. Bagaimana jika Jessie mendengarnya?" Capitan panas itu hampir saja mengenai lengan Chanyeol sebelum lelaki itu menarik kepala Baekhyun lebih cepat untuk sebuah ciuman manis yang tanpa menggunakan pemanis buatan.
Dan ketika keduanya mulai terbawa suasana hening untuk sebuah ciuman yang lebih manis, Jessie merengek.
"Biar ku gendong." Kata Baekhyun sambil menyeka sisa saliva Chanyeol yang ada di bibirnya. Namun ketika Chanyeol menggeleng tanda ketidaksetujuan dan sebelah tangannya kembali mengelus punggung Jessie, bayi perempuan itu seperti tersihir untuk kembali tenang dan membiarkan Daddy-nya kembali meraup bibir Mommy.
"Jessie urusanku. Kau hanya perlu menyiapkan nafas lebih panjang karena aku butuh sentuhan bibir yang lebih dalam."
.
Seminggu sudah Chanyeol berada di Busan untuk urusan proyeknya. Pekerjaannya tidak terlalu berat seperti di Seoul karena Chanyeol hanya membenahi beberapa manajemen yang kurang benar. Selain itu, ia juga dibantu Sehun dan Jongin yang sedikit banyak mempersingkat jam kerjanya. Jika setiap hari dia bisa bekerja seperti ini, kesempatannya untuk pulang akan dipercepat.
Setiap hari yang Chanyeol pikirkan hanya bagaimana caranya bisa cepat pulang dan mendapat pelukan hangat keluarganya. Karena ia sudah benar-benar dibuat rindu dengan tingkah lucu anak-anak juga omelan istrinya yang sudah seperti nyanyain wajib jika dia mengganggu tidur Jessie.
"Aku tidur dulu ya, sayang." Baekhyun mulai menguap beberapa kali sejak satu jam video call yang di lakukannya dengan Chanyeol.
"Memaksamu untuk tetap melakukan video call, aku akan terdengar egois. Tapi jika tidak dipaksa, aku harus menahan rindu lagi."
Baekhyun terkekeh kecil untuk gerutuan Chanyeol.
"Besok kita bisa melakukannya lagi. Lagipula kau juga harus cepat tidur karena besok kau harus bekerja."
"Besok akhir pekan, Baek. Aku bisa datang ke kantor sedikit siang dan pulang lebih cepat."
"Tetap saja kau membutuhkan tidur."
Disaat seperti ini memaksa bukan hal yang disarankan. Terlebih saat Chanyeol melihat dari layar ponselnya, Baekhyun berusaha membuka mata kantuknya demi video call. Alhasil Chanyeol memilih untuk mengakhiri video call malam ini dan membuat suatu janji jika besok ada durasi lebih lama untuk video call.
Chanyeol sedang berusaha memejamkan matanya erat-erat setelah panggilan dengan Baekhyun ia akhiri. Dia sedikit risau seminggu ini ketika ranjang hotel itu ia huni sendiri. Karena biasanya ada seorang wanita yang menggelung lucu di sisi kanannya dan rengekan manis dari box bayi di dekat ranjang, namun yang sekarang ada hanya suasana hampa.
Chanyeol begitu membenci suatu keadaan yang hening. Dia terbiasa dengan suasana ribut suara Jesper dan Jackson yang memainkan robot-robotan, atau Jessie yang meminta ASI pada Mommy-nya, atau Baekhyun yang biasa ia goda 'si sexy dari gunung everest' sesaat setelah istrinya itu selesai mandi. Ah, bekerja dan keluarga tidak memiliki batas toleransi yang wajar. Chanyeol sadar hal itu dan ia semakin menggelung diri seperti sebuah kimbab kala tidur sendiri terasa begitu dingin.
.
Chanyeol baru saja menutup telfon dari Sehun yang mengatakan jika rapat di tunda hingga pukul 10. Rapat ditunda sama artinya dengan waktu tidur yang sedikit bisa lebih lama. Maka dari itu, Chanyeol semakin mengeratkan kepulan selimutnya karena masih ada sisa waktu 1 jam untuk kembali menyambung tidurnya.
Dewa kemalasan sedang menghampiri Chanyeol. Dia tidak berniat untuk bangun lalu membersihkan diri karena lebih memilih bergelung di bawah selimut. Saat seperti ini jika di rumah, dia akan menggulat Jesper atau Jackson atau Jessie untuk ia gelitik hingga kekehan geli mereka mendamaikan telinga. Atau yang lebih ekstrim lagi, Chanyeol menarik paksa Baekhyun untuk ia peluk meski dengkingan protes akan memekakan telinganya. Semua itu terlalu indah dan terlalu merindu saat Chanyeol merasa sendiri bukan satu hal yang menyenangkan. Dia butuh keluarga untuk menyematkan kebahagiaan dalam lembar hidupnya.
Jadilah Chanyeol meraih ponsel yang ada di atas nakas dan berniat menyapa wanitanya di sana. Baekhyun pasti sedang sibuk dengan Jackson dan Jesper yang berebut mainan atau wanitanya itu sibuk menenangkan Jessie dengan ASI eksklusifnya. Ah, Chanyeol mendadak ingin menggantikan posisi Jessie.
Harapannya dia akan mendengar suara Hallo beserta keramaian akhir pekan khas keluarganya. Tapi Chanyeol harus bersabar beberapa saat ketika panggilan itu hanya menunjukkan nada tut panjang. Kenapa tidak di angkat?
Tidak biasanya Baekhyun mengabaikan panggilan Chanyeol. Wanita itu tidak pernah membiarkan ponselnya berdering lama ketika Chanyeol menghubungi. Tapi kali ini Chanyeol harus puas diabaikan dan ini begitu menyebalkan.
Lalu ketika Chanyeol melemparkan kesal ponselnya di sisi ranjangnya yang kosong, dia berharap dering tiba-tiba itu berasal dari Baekhyun karena Chanyeol sudah siap merecoki protes akibat panggilannya di abaikan. Tapi sebuah ketidakberuntungan adalah ketika nama Sehun yang justru terpampang jelas di sana.
"Hyung, kau dimana?
Masih di hotel. Ada apa?
Kenapa masih di hotel?!
"Lalu aku harus dimana? Rapat baru di mulai pukul 10, Sehun.
"Kau gila?! Siapa yang mengatakan seperti itu?
"Mulutmu Sehun yang mengatakan seperti itu.
"Kapan? Hyung, sudah berhenti bercanda. Kau ditunggu banyak orang untuk rapat pagi ini.
Kau mau mempermainkanku?!
"Cepatlah mandi, hyung. Berhenti bercanda dan cepat datang! Semua sudah menunggu!
Sehun memang bernyali besar, memutus telfon begitu saja setelah mengatakan jika yang di ucapkan Chanyeol sebuah candaan. Apa dia lupa siapa yang menghubungi 20 menit lalu dan mengatakan rapat di tunda 1 jam? Apa dia belum pernah dibantai bertubi-tubi dengan semburan kemarahan Chanyeol?
.
Sehun benar, semua orang sudah menunggu Chanyeol di ruang rapat.
Chanyeol duduk di kursi utama dengan segala karisma kepemimpinan yang ia bawa bersama kemeja biru tua kesayangannya. Sebisa mungkin ia bersikap profesional dengan tidak menyemburkan segala kekesalannya pada si albino yang duduk di sisi kirinya karena telfonnya tadi pagi. Yang lebih menyebalkan lagi adalah saat Chanyeol melihat Sehun sama sekali tidak menyimpan rasa bersalah setelah mulutnya itu tidak bekerja secara konsisten.
"Bahan rapat sudah kau siapkan, Sehun? tanya Chanyeol dengan sedikit geraman melihat wajah Sehun yang terkesan biasa-biasa saja.
Semuanya ada di Jongin.
Lalu mana Jongin?
"Dia sedang di stasiun menjemput istri dan anak-anaknya yang datang berkunjung.
Lelaki berkemeja biru tua itu menjatuhkan rahang secara tampan ke dasar bumi beserta pekikan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Apa Jongin dan Sehun sadar jika bermain-main dengan Chanyeol bukan sesuatu yang disarankan?
Apa dia gila?! pekiknya. Cepat hubungi Jongin supaya cepat datang! Jangan menguji kesabaranku!
"Santai saja, hyung. Kata Sehun. Dia bilang apa? Santai? Ini bukan pantai!
"Kalian ini ada apa?! Jangan main-main denganku!
"Sekarang coba bayangkan. Bagaimana jika yang datang adalah istri dan anak-anakmu? Apa kau akan mengutamakan rapat dari pada keluargamu?
Sehun benar-benar bernyali besar.
"Sehun," Chanyeol mengeratkan giginya. "cepat hubungi Jongin karena aku benar-benar murka dengan ini semua!
.
Suasana hati Chanyeol sedang tidak berada dalam keadaan yang baik. Sejak tadi pagi Baekhyun tidak menjawab panggilannya hingga sekarang hari sudah menunjukkan bulannya, wanita itu tidak menunjukkan eksistensinya. Diabaikan oleh Baekhyun benar-benar bukan hal yang baik karena Chanyeol akan uring-uringan seperti anak perawan yang dalam masa PMS. Ditambah tingkah laku Jongin dan Sehun yang cukup meningkatkan kadar emosinya, Chanyeol dibuat gila oleh semua itu.
Selesai makan malam yang rasanya tak lebih baik dari bubur hambar, Chanyeol mencoba menghubungi istrinya itu lagi dan menyiapkan sejuta protes untuk dilayangkan. Mulanya Chanyeol mengerti, mungkin Baekhyun sedang sibuk mengurus anak-anak atau wanita itu sedang mengurus kebutuhan rumah. Tapi bukan berarti dia bisa melupakan beratus panggilan pada ponselnya sejak pagi. Baekhyun pasti memeriksa ponsel disela-sela kesibukannya yang sama artinya dengan dia melihat ada nama Chanyeol sebagai penelfon di sana. Dan jika dia mengetahuinya, bukankah seharusnya Baekhyun menghubungi Chanyeol lalu memberikan penjelasan agar lelakinya itu berhenti khawatir?
Mungkin Chanyeol harus meredakan ini semua dengan tidur. Ya, dia butuh tidur berkualitas agar emosinya tidak meledak-ledak seperti bom atom. Percuma dia mengharap sesuatu yang lebih baik jika kenyataannya yang diharapkan tidak memiliki kepekaan.
Menjemput rindu beserta sekotak rasa kantuk yang dipaksakan, Chanyeol merasa terlalu berlebihan untuk semua ini. Maksudnya, dia berhak marah dan kesal untuk segala hal yang tidak tersaji secara pas. Tidak seharusnya dia memaksa diri untuk suatu kalimat 'tenang Chanyeol, Tuhan sedang menguji kesabaranmu' yang nyatanya semakin merumitkan suasana.
Lalu ketika dentingan jam tepat berada di pukul sepuluh dan Chanyeol berhasil mengumpulkan rasa kantuk, seseorang menginterupsi itu semua dengan menekan bel berulang kali secara frontal.
Oh, astaga. Diberkati benar orang yang telah berani mengganggu waktu tidur Chanyeol.
Siapa yang begitu tega melakukan semua ini padanya? Apa dia bosan hidup?
Sekali sentak lelaki itu membuka pintu kamar hotel dengan kekesalan yang menumpuk seperti cucian kotor. Mulutnya siap melontarkan umpatan kasar untuk siapa saja yang ada di depan pintu namun semua itu gagal ketika yang tertangkap oleh matanya adalah seorang wanita yang sudah lama mengoyakkan pertahanan hatinya, dua anak laki-laki yang melompat-lompat dengan sebuah kotak bergambar pororo, dan bayi perempuan lucu bergigi satu yang didendong seperti anak kangguru.
"Syelamat ulang tahun, Daddy!"
Hanya saja Chanyeol tidak pernah tau jika wanita dewasa kesayangannya itu bisa membuat suara lucu serupa bayi yang baru belajar bicara. Tapi dia tau betul untuk sebuah senyum khas bidadari yang tersungging di sana dengan sebuah cake manis berbalut banyak coklat yang di sodorkan padanya adalah satu hal bernama kejutan.
Bersama bulatan matanya yang belum sepenuhnya menyadari keadaan ini, Chanyeol menoleh kebelakang Baekhyun dimana sudah ada Jongin, Sehun, dan Yunho yang turut hadir dengan keluarga kecil mereka masing-masing.
"Cepat tiup lilinnya, Daddy!" Wanita dewasa pembawa kue itu lagi-lagi bersuara seperti anak kecil dan itu sungguh menggemaskan. Bolehkan Chanyeol menciumnya saat ini?
.
"Bagaimana bisa kau datang kemari tanpa memberitahuku?" Tanya Chanyeol ketika pesta pizza dan ice cream di hari ulang tahunnya baru saja berakhir. Semua tamu dadakannya sudah kembali ke kamar hotel masing-masing setelah mereka kekenyangan menghabiskan jamuan dadakan yang dipesan Chanyeol.
"Tadi pagi aku naik kereta bersama Kyungsoo, Luhan, dan Jaejoong eonni." Si wanita sibuk menyendok ice cream strawberry kesukaannya.
"Jadi sepanjang hari kau sudah di Busan? Dimana saja kau?" Chanyeol menarik tangan Baekhyun untuk ia jilat sisa lelehan ice cream yang ada di tangan wanitanya itu. "Kenapa tidak menghubungiku? Membuat suamimu khawatir itu hal yang sangat dilarang, Baek."
"Lalu semua kejutan yang ku rencanakan ini akan menjadi lucu seperti pantat Jessie jika aku menghubungimu, sayang." Baekhyun memutar bola matanya jengah. "Aku ada di hotel ini, lebih tepatnya mengungsi sebentar di kamar Jongin."
"Paling tidak jawab satu panggilanku agar suamimu ini tidak pingsan karena khawatir."
"Tidakkah yang seharusnya ku terima adalah ucapan terima kasih untuk kejutan ini?"
"Terima kasih, sayang" Ya, ucapan terima kasih yang diberi imbuhan satu kecupan manis di rahang kiri si wanita. "Kau pasti kerepotan saat kemari bersama anak-anak."
"Tidak juga." Si betina tersenyum manis sambil menyeka sisa ice cream yang mengotori sekitar bibir suaminya. "Mereka anak baik yang tidak merepotkan Mommy-nya."
"Mereka meniruku untuk hal itu."
Well, selain tampan dan manja, Chanyeol memiliki tingkat kepercayaan diri setinggi tubuh Jessie.
"Mommy..." Baekhyun melirik jam yang terpasang di dinding yang menunjukkan pukul 11 malam. Itu artinya Jackson mulai dengan kebiasaannya yang merengek dan meminta pelukan Mommy.
"Sayang, bisa minta tolong belikan aku obat sakit kepala?" Tanya Baekhyun sambil menggendong Jackson yang sudah kembali tenang. "Aku merasa sedikit pusing."
.
Chanyeol tidak pernah merasa sebahagia ini. Di usianya yang sudah tidak muda lagi, dia serasa anak ingusan yang baru mengecap indahnya jatuh cinta. Kebahagiaannya sudah melebihi kapasitas yang ada. Kehadiran Baekhyun bersama anak-anak di saat momen bertambah usianya menjadi satu momen yang tidak akan dia lupakan seumur hidup.
Rencananya, besok Chanyeol akan membawa keluarga kecilnya untuk sedikit berwisata di sekitar Busan. Katakan saja seperti perayaan kecil yang akan menoreh kebahagiaan baru saat keluarga kecilnya itu bisa tersenyum bahagia.
Namun sepertinya Chanyeol harus merencanakan sesuatu yang lebih indah lagi. Karena ketika dia membuka pintu hotel dan ruangan utama kamar hotelnya menjadi sangat gelap, Chanyeol dibuat menerka atas apa yang telah terjadi. Seingatnya, Baekhyun dan anak-anak tidak terlalu suka jika tidur dalam keadaan gelap.
Lalu ketika ia menyalakan saklar lampu yang ada di dekat pintu, dia seperti anak desa yang merasa jika jatuh cinta itu begitu indah.
Wanitanya membuat hal kecil ini terasa lebih membahagiakan. Hal seperti berdiri di tengah-tengah kumpulan kelopak mawar merah yang dibentuk serupa hati bersama sebuket bunga mawar putih yang dililit pita manis. Chanyeol yakin dia bukan anak perawan yang terkesan dengan semua ini, tapi dia dipaksakan oleh sebuah keadaan untuk berucap haru atas apa yang dia lihat dan dia dapatkan.
"Selamat ulang tahun, sayang." Ucap wanitanya sambil menyodorkan buket bunga yang ia pegang.
Chanyeol menyambutnya dengan sebuah senyum merekah bahagia. Ya, bahagia. Dia bahagia untuk semua yang dia dapatkan hingga detik ini. Termasuk mendapatkan seluruh hati wanita yang ada di depannya sekarang.
"Tadi, kan, sudah." Katanya sambil menyambut pelukan si wanita.
"Tadi untuk pesta bersama-sama. Sekarang hanya untuk kau dan aku."
"Kapan kau menyiapkan semua ini?" Tanyanya sambil menyibak anak rambut liar yang berjatuhan di sekitar wajah Baekhyun.
"Saat kau pergi tadi."
"Jadi menyuruhku membeli obat sakit kepala hanya alibi?"
Si wanita tersenyum sambil mengalungkan tangannya di leher Chanyeol.
"Belajar dari mana menyiapkan semua ini? Hm?" Chanyeolpun begitu, mengeratkan pelukannya pada pinggang wanita terkasihnya itu.
"Dari drama, sayang. Apa sudah terlihat romantis?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Baekhyun, lelaki itu justru menundukkan kepala dan menempelkan ujung hidungnya dengan hidung Baekhyun.
"Sangat romantis. Terima kasih."
Lelaki itu menjadi tidak tahan untuk tidak meraup penuh bibir Baekhyun yang baru saja akan mengatakan sesuatu. Peduli apa jika sekarang dia benar-benar ingin mendekap erat dan memberikan satu sentuhan terdalam untuk istrinya.
"Aku mencintaimu." Bisik Chanyeol disela ciumannya yang begitu dalam.
"Aku tidak." Oh, jawaban macam apa itu? Chanyeol kembali membulatkan matanya untuk menuntut satu penjelasan.
"Baekhyun,"
"Aku tidak mungkin tidak mencintaimu juga, sayang. Bahkan rasa cintaku lebih besar dari milikmu."
Baekhyunnya Chanyeol yang menggemaskan.
Bersama itu Chanyeol kembali meraup bibir istrinya dan menuntun untuk berbaring di sofa. Chanyeol diliputi rasa kuasa untuk semakin memperdalam kontak fisik yang memabukkan. Tapi dia masih belum menemui akses yang tepat, terlebih saat Baekhyun memutus ciuman mereka dan mengeluarkan telunjuk peringatan.
"Kau mau sekarang?"
Chanyeol mengangguk. "Apa boleh?"
Alih-alih menjawab, Baekhyun justru memainkan telunjuknya di rambut Chanyeol dan menggantung nafas lelaki itu untuk sesuatu yang lebih lanjut.
"Kalau tidak?"
"Masih tidak boleh, ya?" Terlihat jelas bagaimana raut kecewa lelaki itu ketika ia merasa hasratnya tidak akan tersampaikan lagi di dalam istrinya.
"Boleh. Tapi.."
"Tapi?"
"Pakai pengaman."
"Takut kebobolan?"
"Tentu saja, sayang. Jessie masih terlalu kecil untuk memiliki adik lagi."
Baekhyun kira dia menang ketika Chanyeol bangkit dari atas tubuhnya dan melupakan hasrat bercintanya yang sudah menari di atas ubun-ubun. Namun semua itu hanya perkiraan kosong ketika Chanyeol menumpahkan kantong plastik kecil yang ia bawa tadi dan memperlihatkan beberapa kotak yang terlihat tidak asing selama ini.
"Astaga, Chanyeol. Jadi kau tidak membeli obat sakit kepala tapi membeli pengaman itu?" Kali ini Chanyeol berhasil membuat pekikan istrinya terdengar mengerikan untuk semua yang dia lakukan.
"Beli. Ini." Dia menunjukkan satu tablet obat berbungkus silver. "Sebenarnya malam ini aku berencana untuk menyetubuhimu saat kau tidur. Tapi itu akan terdengar seperti aku memperkosamu. Ah, tunggu. Mana ada suami yang memperkosa istrinya sendiri?"
"Membeli sebanyak itu, apa kau waras?" Sayangnya Chanyeol telah membayar kewarasan itu di kasir minimarket terdekat dan tidak begitu peduli karena istrinya masih terkejut untuk semua kotak pengaman yang Chanyeol tunjukkan.
Lelaki itu sudah tidak memiliki peduli untuk keterkejutan istrinya. Dia lebih memilih mencurahkan perhatian untuk memilih jenis pengaman seperti apa yang akan ia gunakan untuk membuat wanitanya melenguh panjang atas segala hasrat yang sudah ia pendam.
"Dotted* sepertinya menyenangkan." Baekhyun mengalihkan pandangannya malu-malu setelah kedapatan menyuarakan isi hatinya setelah melihat suaminya kebingungan memilih jenis pengaman yang akan menjaga malam panas mereka.
"Baiklah jika kau menginginkannya." Chanyeol mengusak bungkus berwarna peach yang berhiaskan banyak titik-titik menonjol berwarna putih dan memakaikan pada miliknya yang sangat perkasa. "Jangan salahkan pengaman ini jika kau harus mendesah puluhan kali, sayang."
"Bagaimana jika kita pindah ke ranjang?"
"Jangan gila-ENGH!"
Wanita di bawah kuasa Chanyeol itu memekik kecil untuk sesuatu yang memenuhi bagian terdalamnya setelah Chanyeol menelanjanginya dengan begitu erotis.
"Bercinta di samping anak-anak yang sedang tidur itu tidak disarankan, sayang. Apa sofa ini tidak cukup menahan gerakan gelisahmu? Apa perlu aku menyewa satu kamar lagi untuk malam panas kita?"
"Disini saja-AH! Pelan-pelan Chanyeol!"
Lelaki itu menyesakkan perlahan miliknya di dalam Baekhyun hingga semua tertelan penuh. Dia menunggu keadaan sedikit lebih tenang untuk memulai semua hasratnya. Dilihatnya sang istri masih sedikit mendesis untuk sesuatu yang telah memenuhi pusat kebahagiaannya.
"Jangan mendesah terlalu keras."
"Tergantung bagaimana caramu bermain-AH! Geli. Jangan berger-AH!"
"Kau yang memilih dotted ini, sayang. Jadi setiap gerak yang kita lakukan kupastikan akan membuatmu merintih sepanjang malam."
"Bisakah mulutmu berkata lebih halus? Karena-AH! Chan-yeolh!"
"Kenapa ini bertambah besar-EUNGH!" Chanyeol mulai bergerak dan menggoda dua gundukan sintal yang menggerakkan jakun Chanyeol.
"Apa perlu ku jawab dan kita berhenti bercinta?"
"Oh, baiklah. Jangan dijawab dan tetaplah mendesah."
Lelaki itu tak mempermasalahkan hal-hal yang berubah dari istrinya. Karena kini dia hanya peduli pada hasrat dalam dirinya yang sudah sangat merindu pada remasan kenikmatan yang diberikan Baekhyun.
Bersama sang rembulan yang mulai menemui pucuk teratas langit malam, dua insan penuh rindu itu meluapkan peluh bercinta yang sarat banyak nafsu. Gerak gelisah dari pinggul Chanyeol membuat wanita di bawahnya kembali merasa seperti percintaan ini adalah malam pertama mereka.
Baekhyun tidak pernah tau segala nafsu yang di tahan Chanyeol akan menjadi sedahsyat ini. Karena ketika Baekhyun menjumpai pencapaian ketiganya, Chanyeol justru baru mendapat pencapaian pertamanya. Lelaki itu tidak pernah puas hanya dengan satu pencapaian, maka ketika satu menit dia memberikan waktu Baekhyun untuk mengatur nafasnya yang memburu, Chanyeol kembali datang dengan sikap dominan yang dia miliki.
Apapun itu dia sangat menginginkan banyak pencapaian dalam kewanitaan istrinya. Mengejar serentetan hasrat beserta nafsu yang kembang kempis, Chanyeol dibuat kalang kabut ketika sambutan Baekhyun adalah pijatan-pijatan yang memutar balikkan logika.
Dan Chanyeol begitu bangga ketika wanitanya gelisah mencari sesuatu untuk di remas saat Chanyeol kembali merecoki titik tumpu kenikmatan wanita. Lenguhan dan peluh keringat buah percintaan itu hanya pemanis malam panas keduanya. Karena saat Chanyeol merasa dia benar-benar berada di puncak segala hasratnya, dia menindih tubuh Baekhyun bersama sebuah deru nafas bahagia yang memburu.
Aroma percintaan dan semu merah setelah bercinta adalah apa yang mereka dapat ketika pucuk kenikmatan telah mereka raih bersama. Chanyeol sebagai pihak dominan atas percintaan ini merengkuh tubuh lelah wanitanya yang mulai didera rasa kantuk setelah membuang pembungkus ulat-ulat spermanya.
"Besok aku berencana mengajak anak-anak berenang." Suaranya parau disela pelukan erat suaminya. "Sekalian aku juga butuh sedikit refleksi bersama Kyungsoo, Luhan, dan Jaejoong eonni."
"Kau sudah mendapatkan refleksimu bersamaku, sayang."
Baekhyun terkekeh kecil.
"Anak-anak juga butuh waktu bermain sebelum kembali bersekolah."
"Mengajak Jessie juga?"
"Tentu saja. Dia juga butuh baby-girl time bersama si kembar."
"Ah, si kembar. Mereka sangat menggemaskan. Benar, kan?"
Tiba-tiba Baekhyun mendapat lampu peringatan atas apa yang dikatakan suaminya. "Semua anak bayi seperti itu, sayang."
"Sepertinya menyenangkan memiliki anak kembar."
"Aku mengantuk." Baekhyun harus menghindari obrolan ini.
"Besok aku akan menelfon dokter Yoo untuk berkonsultasi tentang memiliki anak kembar. Bagaimana menurutmu?"
Ini benar-benar harus dihindari karena Chanyeol tidak pernah bermain kata jika menyinggung soal anak.
"Siapkan dirimu untuk menjadi ibu si kembar, Baek."
Bukan hal baik ketika Chanyeol tiba-tiba memutar posisi untuk menjadi si dominan yang selalu berkuasa di atas.
"Kita harus berusaha ekstra keras setelah ini, Baek."
Oh, tidak lagi. Jangan membuat Baekhyun kembali mendesah karena wanita itu terlalu lelah jika harus mengabulkan angan-angan tentang si kembar.
Lalu ketika Chanyeol kembali bermain di perpotongan leher putih istrinya yang menggoda, lelaki itu menerima pukulan di dadanya beserta pekikan yang tidak pernah didengar dan diperhatikan oleh telinganya.
"YA! PARK CHANYEOL! PAKAI PENGAMANMU!"
.
.
END
.
.
