09 – Love Actually
.
.
This is Avatar The Last Airbender!AU (sort of) and basically inspired by Sozin x Roku in their younger days xD
.
.
Sang Pangeran dan anak bangsawan, persahabatan yang terjalin antara Sehun dan Luhan sudah dikenal umum oleh masyarakat Negara Api. Keduanya berparas rupawan, dan juga seorang pengendali yang handal. Mereka mengendalikan api seolah mengendalikan hembusan napas saat bertapa; begitu teratur, tenang namun tetap tepat sasaran.
Banyak yang beranggapan jika keduanya menjadi begitu dekat karena latar belakang keluarga. Memang itu ada benarnya, namun sebenarnya persahabatan mereka lebih dari itu. Tidak ada yang mampu mengerti mereka lebih baik dari satu sama lain. Bahkan, Luhan mampu mengerti apa yang membebani pikiran Sehun meskipun pangeran tersebut hanya diam.
Keduanya bahkan berbagi hari ulang tahun. Bukan karena mereka lahir di hari yang sama, namun karena hari lahir mereka yang berdekatan sehingga keduanya memilih jalan tengah untuk merayakannya bersama.
Termasuk hari ini.
Aula istana Negara Api telah dipenuhi oleh masyarakat yang memberikan harapan pada Sehun dan Luhan yang merayakan ulang tahun ke-enam belas ketika fokus mereka harus disita oleh lima pendeta penjaga kuil Avatar yang tiba-tiba masuk dan membungkuk hormat. Sehun, sebagai pangeran menginisiasikan diri untuk mendekat dan bertanya.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?"
Kepala pendeta –Kuzon, menggeleng. Pria itu membungkuk sekali lagi lalu menatap Sehun dan Luhan bergantian. "Tidak, Pangeran. Semuanya baik-baik saja." Jawabnya.
"Lalu? Apa yang membuat kalian datang ke istana?"
Kuzon membungkuk sekali lagi, jenggot putihnya menjuntai seiring dengan pergerakannya. Mata tuanya kembali menatap Sang Pangeran, namun segera mengalihkannya untuk melihat Luhan yang hanya diam menyaksikan. "Maksud kedatangan kami kemari adalah untuk mengumumkan identitas baru Sang Avatar," jelasnya. "Sebuah kehormatan bagi kami untuk melayani Anda, Avatar Luhan." Sambungnya, yang disertai dengan melakukan sujud yang diikuti oleh orang-orang yang hadir.
Mata Luhan membola, begitupun Sehun. Luhan terlihat kikuk, bingung menanggapi segala kehormatan yang ia terima. Termasuk dari sahabatnya yang berlutut dengan kepala menunduk.
Tapi satu yang Luhan tahu, mulai hari ini dia tidak akan lagi menjadi Luhan si anak bangsawan dan sahabat Pangeran Sehun. Dia akan menjadi lebih dari itu, dia akan menjadi Avatar Luhan.
.
.
"Kau pergi besok?"
Luhan mendongak, menatap Sehun yang berada dihadapannya dan memberikan senyuman tipis. Anggukan adalah jawaban yang ia berikan dan Sehun memegangi bahunya sebelum duduk di sebelahnya.
"Aku tidak menyangka, orang yang selama ini paling dekat denganku adalah Sang Avatar." Sehun berujar, lalu merebahkan dirinya di ranjang milik Luhan.
Luhan menghela napas, lalu ikut merebahkan diri dan memposisikan dirinya menghadap Sehun. "Aku pun tidak menyangka." Timpalnya, wajahnya terlihat kusut dan terbebani. Kerutan yang cukup kentara timbul didahinya dan Sehun tersenyum kecil saat menyadari itu.
"Hei," Sehun meyentuh hidung Luhan dengan jari telunjuknya. "Kau adalah calon pengendali hebat dengan tanggung jawab yang besar. Lebih besar dari pada aku yang nantinya akan menjadi pemimpin sebuah negara. Tapi aku percaya kau mampu. Kau selalu membuatku kagum, Luhan. Dan aku yakin saat kau sudah menjadi Avatar sepenuhnya, kau akan membuatku kagum sekali lagi." Ungkapnya dengan sebuah senyuman tulus.
Luhan menggeleng. "Kau terlalu memuji, Sehun… Aku tidak sehebat itu." Sangkalnya, lalu kembali membaringkan tubuh dan membuatnya menatap langit-langit kamar.
Masih dengan senyum yang enggan meninggalkan wajah, Sehun lantas mengangkat sedikit tubuhnya dan menyentuh pipi Luhan perlahan. "Believe me, you are…"
"Sehun,"
Satu kecupan dibibir membungkam Luhan. "Aku sangat mengenal orang yang aku cintai dan aku tidak akan salah," kening Luhan adalah tempat selanjutnya bagi Sehun untuk mendaratkan bibir. Lalu, Sang Pangeran mendudukkan dirinya yang diikuti oleh Luhan, merogoh saku dan mengeluarkan sesuatu di dalamnya.
Dua gelang berbahan emas putih yang mampu membuat Luhan tertegun.
"Berapa tahun kau akan berlatih untuk menguasai tiga elemen lainnya?" Sehun menatap tepat ke dalam mata Luhan saat bertanya.
Luhan menggeleng. "Aku tidak tahu pasti, tapi para pendeta mengatakan mungkin sekitar tiga hingga empat tahun." Mata Luhan tidak lepas dari gelang yang masih berada di tangan Sehun saat menjawab.
"Then this will be our promise bracelet," Sehun memasangkan satu gelang di tangan kiri Luhan dan satu gelang di tangannya sendiri, lalu menggenggam tangan Luhan dan kembali menatap tepat ke dalam mata beningnya. "Promise me that you will come back, and I will promise you that I will always be waiting for you…"
Bibir Sehun kembali meraih bibir Luhan dengan kecupan lembut, serta kedua mata yang terpejam dengan jemari yang saling bertaut.
Keduanya saling memberikan senyum saat kecupan mereka berakhir, dan kali ini Luhan yang menatap ke dalam mata Sang Pangeran Negara Api.
"I promise."
.
.
FIN
