Arakafsya Uchiha Mempersembahkan :

"Anthem Of The Angels"

Genre : Hurt/Comfort/Romance

Characters : Sasuke U. & Sakura H.

Rate : M

Disclaimer : Masashi Kishimoto

.

.

Don't like? Don't read!

.

.

Sepeninggalan Uchiha Itachi dalam kecelakaan bersama Sakura Haruno membuat gadis itu cukup menderita dan sempat mengalami gangguan kejiwaan. Akankah Sasuke Uchiha mampu menyembuhkan semua luka Kakak Iparnya? Lalu, bagaimana dengan status Hinata yang berdiri sebagai calon Tunangan Sasuke?

.

.

Uchiha Mansion, Konohagakure

Matahari sudah meninggi. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 06:00a.m, sudah waktunya bagi Uchiha Sasuke bangun dari tidur nyenyaknya. Dilirik sebentar wanita yang semalam ia 'miliki' sepenuhnya, masih terpejam. Ia tersenyum lebar— mungkin karena tidak ada yang melihat jadi ia memberanikan diri untuk tersenyum selebar itu. Pipinya memanas membayangkan kejadian semalam.

"Hoaamm— ng?" Sasuke melirik jam dinding di kamarnya, ia bangkit dan membawa tubuh polosnya ke dalam kamar mandi.

Suara air yang mengalir telah membangunkan Sakura dari tidur nyenyaknya. Ia akui, ia tidak pernah tidur senyenyak ini setelah kematian Itachi. Ia mengucek matanya sebentar, lalu segera berdiri dan menggunakan jubah mandinya—milik Sasuke maksudnya. Ia berjalan kearah wastafel dan mencuci mukanya, lalu berkumur sebentar. Setelah itu, ia menyiapkan pakaian yang akan Sasuke kenakan.

"Rasanya sudah cukup lama aku tidak menyiapkan pakaian untuk suamiku," ujar Sakura sembari tersenyum. Sementara air mata sudah menggenang di pelupuk mata indahnya.

"Kau sudah bangun, hime?"

Sebuah suara mengangetkannya, buru-buru ia hapus air matanya dan menghadapkan diri pada pria yang baru saja keluar dari kamar mandi. Ia tersenyum dan mengangguk, kemudian menghampiri pria itu dan menyerahkan kemeja putih dengan atribut lainnya.

"Sasuke-kun akan ke kantor bukan? Aku sudah siapkan pakaiannya," jawab Sakura sembari tersenyum.

"Hn." Pemuda itu menghampiri Sakura, "Aku tidak ke kantor," lanjutnya sembari duduk dan mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.

"Eeh? Tidak ke kantor bagaimana?! Sasuke-kun kalau tidak berkerja, nanti darimana akan dapat uang?" sergah Sakura sembari duduk di sampingnya.

Pemuda itu melirik sebentar, "Aku punya banyak uang, membolos satu atau dua hari tidak akan membuatku jatuh miskin."

"Yasudah, kalau begitu aku ambilkan pakaian yang lain."

"Kaos putih nike yang kau belikan waktu itu saja, celananya jeans pendek hitam." Titah Sasuke cepat sembari mengeringkan rambutnya.

Sakura kembali menyibukkan diri dengan baju-baju Sasuke. Ia buka lagi lemari pakaian super besar itu, ia cari pakaian yang Sasuke inginkan. Setelah menemukan pakaian tesebut, Sasuke segera menyuruh Sakura untuk mandi. Sementara pemuda itu menunggu kekasihnya mandi, ia beranjak ke dalam kamar Sakura dan mengambil kaos putih polos dan hotpants hitam di lemari kekasihnya.

"Jangan lama-lama berdandan, tidak perlu berlebihan. Cukup memakai cream dan lotion saja," ujar Sasuke saat melihat Sakura baru keluar dari kamar mandinya. Wanita musim semi itu mengerutkan dahi, pertanda bingung memenuhi kepalanya.

Pertama, Sasuke tidak mau ke kantor dan minta diambilkan pakaian santai. Kedua, pemuda itu juga mengambilkan Sakura pakaian yang sama persis seperti apa yang ia pakai. Ketiga, Sakura hanya disuruh memakai lotion. Keempat—

"Aku akan menyuruh maid untuk menyiapkan pakaian ganti, untuk jaga-jaga kalau kau basah—"

"Sasuke-kun stop!" Sakura mengembungkan pipinya, ia masih tidak mengerti akan kata-kata Sasuke tentang err—basah—yang menurutnya sangat ambigu.

"Hn? Apa lagi? Aku lapar, aku akan menunggumu di bawah."

"Tunggu! Kau tadi menyuruhku untuk membawa pakaian ganti kalau aku err—basah? Ma-maksudmu apa sih?" tanya Sakura sembari menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah menahan malu.

Sasuke berjalan mendekati kekasihnya, "Hn? Aku mau mengajakmu ke pantai, kau pikir apa eh?" ia menyeringai penuh kemenangan.

"E-eh? A-apa? Pantai ya...hehehe...maaf, habis kau tidak memberitahuku dengan jelas." Sergah Sakura sembari tertawa garing.

"Hn? Jangan bilang kau berpikir tentang semalam, apa kau masih mau lagi?" Sasuke semakin melebarkan seringainya, sementara wanita cantik itu sudah mendorong pelan tubuh kekasihnya agar pergi dari kamar. Meskipun sudah sama-sama saling membuka diri, ia sendiri masih malu jika harus menggangti pakaian di hadapannya.

.

.

.

Suara deruman mesin mobil Fortuner milik Sasuke Uchiha sudah terdengar dari beberapa menit yang lalu. Keempat pintu mobil tersebut dibiarkan terbuka, memperdengarkan suara dentuman musik dari Basshunter-Dotta yang sedari di putar. Entah kenapa selera musik Sasuke sangat berbeda dengan Itachi, kalau sang kakak menyukai musik yang tenang, Sasuke sendiri menyukai musik yang biasa diputar di Bar atau lagu-lagu yang biasa digunakan untuk shuffle. Oleh karena itu, jangan heran dengan isi lagu yang ada di Ipodnya.

Sasuke masih duduk di kursi kemudinya, tubuhnya bersandar pada kursi kemudi. Pikirannya melayang akan masa lalu bersama almarhum puteranya— Uchiha Aoi. Lagu Dotta mungkin biasa untuk semua orang, tapi tidak baginya. Lagu ini pernah mengisi hidupnya bersamaan dengan Aoi.

Flash Back

Lagu Basshunter-Dotta menggema di seluruh ruang kosong yang ada di lantai tiga Uchiha mansion ini. Sasuke Uchiha berdiri di tengahnya, menghadapkan diri pada dinding cermin yang ada di sekelilingnya. Ia menghentakkan kakinya dengan lincah mengikuti irama lagu. Cengirannya kadang menghiasi wajahnya yang sudah penuh dengan peluh. Meskiupun demikian, ia tetap terlihat tampan di pantulan cermin itu.

Semakin bersemangat irama lagu, semakin bersemangat pula ia menghentakkan kakinya ke depan dan ke belakang secara berurutan. Ia memang menyukai shuffle—entah sejak kapan. Baginya, itu menyenangkan daripada duduk seharian di depan komputer sambil mengerjakan tugas-tugas kantor yang memuakkan.

CREK

"Jii-san,"

Sasuke menghentikan kegiatannya dan tersenyum saat mendapati seorang bocah berdiri di ambang pintu. Ia meraih sebotol air dan meneguknya hingga habis, kemudian menyuruh bocah itu untuk masuk ke dalam ruang kaca.

"Ada apa kau kemari? Apa ayahmu memanggilku?" tanya Sasuke sembari mengatur nafasnya.

"Tidak, Aoi hanya penacalan jii-san sedang apa. Tadi pas aku lewat, aku dengel cuala musik yang keyeeeen. Aku suka, eh taunya lagu jii-san."

Sasuke tertawa kecil mendengar lagat keponakannya berbicara, "Aku sedang melakukan shuffle."

"Hah? Safel itu apa? Aoi mau liyat, Aoi mau liyat!" ujar bocah itu dengan bersemangat.

"Hn? Kau mau lihat? Baiklah," Sasuke berjalan mendekati Ipodnya yang sudah tersambung dengan speaker. Ia putar lagu Dotta lagi dan mulai menghentakkan kakinya.

Bocah kecil Aoi ternganga kagum dengan gerakan kaki Sasuke yang menurutnya sangat cepat. Terkadang bocah itu menepukkan tangannya dengan menjerit kagum. Setelah lagu berhenti terputar, pemuda Uchiha itu menghentakkan kedua kakinya di atas lantai dengan kompak.

"Kawaiiii Kawaiiii! Keyeeen! Aku mau coba, aku mau coba!" Aoi berteriak histeris dan segera bangkit dari duduknya. Dengan gaya jagoannya, ia menghentakkan kakinya ke lantai. Tapi, bukan shuffle yang terjadi, malah hanya lompatan-lompatan kecil dari tubuh kecil keponakannya. Sasuke tertawa, ya dia tertawa. Entah kenapa kalau di depan keluarganya, ia akan bersikap lebih hangat.

"Hahaha! Hahaha!" Sasuke tertawa sembari mencengkram perutnya yang terasa sedikit sakit saat bocah itu tersungkur di lantai. Pipinya menggembung seperti balon, wajahnya memerah karena malu. Tapi, ia tidak menangis.

"Jii-san! Aoi bilangin ayah nih kalo Aoi diketawain!"

"HA—HAHAHAHA!" Sasuke tidak mengindahkan rajukan putera sulung Itachi tersebut, ia masih sibuk dengan rasa geli yang ada di perutnya.

Flash Back Ends

"DOR!" Sasuke terlonjak dari kursinya dan menatap horror pada wanita yang ada di hadapannya.

"Melamunkan apa sih, Sasuke-kun? Kapan kita perginya kalau kau melamun terus hah?!" Sakura berkacak pinggang di depan pemuda yang saat ini mendecak kesal. Sejujurnya, ia kesal karena 'kenapa ia harus kaget di hadapan wanita itu? Membuat image cool seketika berubah menjadi cacat.

"Hn. Ayo berangkat!"

==oOo==

Laut Timur Konoha, Konohagakure

Sasuke Uchiha memarkirkan mobilnya di atas aspal panas yang hampir mendekati bibir laut. Masih harus berjalan sekitar lima meter untuk mencapai pantai. Tidak jauh— hanya saja cuaca di pantai, mataharinya jadi jauh lebih terik. Sasuke menggenggam erat jemari kekasihnya dan berjalan beriringan, tak sedikit orang yang melihat pasangan sempurna ini.

"Waah~ banyak tukang ice cream, ada soda, ada makanan laut, aku jadi bingung." Ujar Sakura sembari menempelkan jemari telunjuknya di dagu.

"Kita kesini bukan untuk makan," sela Sasuke ditengah-tengah keheningan.

Sakura mendongak, "Lalu?"

Sasuke menyeringai penuh arti. Jemari telunjuknya menunjuk pada sebuah objek yang terletak di bibir pantai. Itu jet-ski, tapi kenapa Sasuke menunjuk motor kapal tersebut? Apa Sasuke mau menelan jet-ski putih itu? Tidak! Jangan berpikir bodoh, Sakura.

"Hn. Ayo cepat!" Sasuke menarik tangan Sakura menuju jet-ski berwarna putih dengan garis biru tua di bawahnya, sesampainya disanapun Sasuke melepas genggaman tangannya dan entah membicarakan apa pada sosok pria paruh baya yang ada di dekat motor air tersebut. Setelah berbicara cukup lama dan memberikan beberapa lembar uang, Sasuke menarik tangan Sakura lagi dan membawanya pada jet-ski tersebut.

'Jangan-jangan Sasuke-kun mau mengajakku naik jet-ski. Dia amnesia apa? Aku 'kan takut ke tengah laut.' Inner Sakura khawatir.

"Hey, kemari!" suara tegas Sasuke menyadarkan Sakura dari lamunannya. Pemuda itu langsung memakaikan pelampung ke tubuh Sakura saat wanita muda itu menghampirinya.

Setelah dirasa pelampung yang Sakura kenakan aman, ia langsung memakai pelampung untuknya sendiri, "Kau masih takut laut lepas?"

"U-um, bagaimana kalau ada hiunya?" tanya Sakura dengan wajah polos.

"Hh—" pemuda itu menghela nafas, "Ini tempat wisata, sudah diberi lintasan untuk jet-ski dan juga banana boot."

"O-ooh, aku tetap takut." Kata Sakura sembari menundukkan wajahnya.

"Hn, berpegangan saja. Aku jamin setelah ini, kau tidak akan pernah takut lagi pada laut." Jawab Sasuke sembari menepuk pucuk kepala kekasihnya.

Sasuke sudah memantapkan dirinya sendiri untuk mengemudikan jet-ski ini, "Ayo, nanti keburu siang. Mataharinya panas,"

Sasuke melompat sedikit untuk menaiki benda itu, sementara Sakura harus meraih tangan Sasuke karena posisi mereka saat ini sudah memasuki air laut. Walaupun hanya mencapai paha mereka, air laut tetap saja air laut.

BRUUMMM!

Yap! Berhasil. Mesin sudah dihidupkan, akhirnya Sasuke menarik gas kemudi jet-ski tersebut. Cipratan air laut membasahi pakaian mereka, semakin erat Sakura memeluk tubuh pemuda yang menjadi joki jet-ski mereka.

BRUSH BRUSH

Ombak lumayan besar kini beradu arah dengan jet-ski mereka. Bukan tak mungkin kalau pemuda Uchiha ini malah mengemudikan layaknya pembalap motor yang sedang membelokkan motornya di lintasan balapan. Sasuke juga sama, bahkan tubuh mereka nyaris bersentuhan dengan air laut.

"Sasuke-kun, pelan-pelan! Aku 'kan takut." Racau Sakura sembari memeluk erat pinggang Sasuke.

"Kalau kau bisa berenang, kau bisa menjatuhkan kapalnya di tengah laut. Disana juga aman, tapi kalau kau tidak bisa berenang, jatuhkan kapalnya di pinggir pantai."

Sasuke ingat kata-kata dari pemilik jet-ski ini. Tentu ia bisa berenang, tapi Sakura? Tidak ada pilihan lain, ia juga ingin 'rencana' yang sudah ia susun berjalan dengan lancar. Akhirnya, setelah lelah berkeliling laut, ia putuskan untuk berhenti di tengah-tengah laut. Sakura melepas peluknya dan menatap bingung pada keadaan sekitar, ia mendongak dan memperhatikan wajah Sasuke yang ternyata sedang menoleh untuk memperhatikannya juga.

"K-kenapa berhenti, Sasuke-kun?" tanya Sakura bingung sekaligus panik.

"Ada yang ingin ku bicarakan," jawabnya dengan nada serius.

Sakura menyandarkan kepalanya di punggung pemuda itu, "Nanti saja, entah kenapa aku masih ingin jalan-jalan."

"Hn? Sudah mulai berani rupanya." Jawab Sasuke lagi sembari tertawa kecil.

"Memangnya Sasuke-kun mau bicara sepenting apa sampai harus dibicarakan di tengah laut?"

Sasuke menyeringai, "Tidak. Nanti saja, mau berkeliling lagi?"

Setelah wanita itu mengangguk. Sasuke menarik gas jet-skinya lagi dan langsung membawa Sakura kembali berkeliling. Setelah habis dua putaran, merasa bosan juga akhirnya pemuda itu mengambil ancang-ancang.

"Aku akan jatuhkan jet-skinya. Tetap diam dan jangan panik, kalau tubuhku jatuh ikuti saja! Mengerti?!" Teriak Sasuke sembari memberi satu putaran lagi.

"A-apa?! Kau gila?! Aku tidak mau! Kalau kau menjatuhkannya, aku akan—"

"Satu—" pemuda itu mulai mengambil ancang-ancang, Sakura mengeratkan pelukannya dan menyembunyikan kepalanya di balik punggung pemuda itu. Jantungnya berdebar dengan kencang, bukan karena gugup—tapi karena takut. Ia belum siap mati konyol.

"Sa-Sasuke-kun..."

"Dua—" Debaran jantungnya semakin kencang. Pemuda ini belum menjatuhkan kemudinya, motornya masih menyala dan memutarkan lautan.

"Aku akan menjatuhkannya di belokan depan! Kalau aku bilang tiga berarti jatuh ya?!" teriak Sasuke lagi.

Tak ada yang menyahut. Rasa takut masih membanjiri Sakura, sementara pemuda itu mulai mencari posisi jatuhnya kapal. Deruman mesin masih jelas terdengar, semakin kencang kecepatan mesit jet air ini.

"Tiga!" teriakan Sasuke barusan disusul dengan jatuhnya tubuh mereka ke laut timur. Sasuke panik saat dirasakan tangan Sakura tak lagi menyentuh tubuhnya, ia berenang ke bawah untuk menangkap tubuh Sakura. Meskipun memakai pelampung, kepanikan Sakura malah membuatnya tenggelam. Wajar, ini di jauh dari bibir pantai.

Ia tarik tangan Sakura dan membawanya ke udara. Sedekit megap-megap juga Sasuke dibuatnya, sementara Sakura sudah berteriak sembari memeluk erat leher pemuda itu.

"Sasuke! Sasuke! Aku tidak bisa berenang!" teriaknya sembari menangis. Sementara pemuda itu memeluk balik tubuh kekasihnya yang dilanda kepanikan. Ia salah tempat juga rupanya, beruntunglah ia sendiri bisa berenang.

"Tenang, Sakura! Jangan panik! Kalau kau panik, kau akan tenggelam." Ujar Sasuke setengah berteriak.

Sakura diam sembari menangis sesenggukan di pelukan Sasuke. Pemuda itu mengusap pelan pucuk kepala kekasihnya, tubuhnya menggigil karena takut. Ia masih belum bisa melepaskan pelukannya.

"Sekarang, dengarkan aku. Lepaskan pelan-pelan pelukanmu," ucap Sasuke lagi.

"Aku tidak mau...hiks..." jawab Sakura malah semakin mengeratkan pelukannya.

"Aku akan memegangmu, lepaskan." Pada akhirnya, Sakura menurut juga apa kata-kata Sasuke. Ia melepaskan pelukannya dan menggenggam erat kedua tangan pemuda itu.

"Pelan...lepaskan tanganku, ayo! Kalau kau jatuh, aku akan segera menangkapmu." Sambung Sasuke lagi.

Dengan takut-takut dilepaskannya tangan pemuda itu, "Lihat, kau tidak tenggelam bukan? Kuncinya hanya satu, jangan panik."

Sakura mengangguk pelan dan tersenyum, ada sensasi lain saat mengetahui dirinya tidak tenggelam. "Hey! Aku tidak takut lagi pada laut," katanya bangga sembari melihat-lihat sekitarnya.

"Sakura, aku ingin bicara padamu." Kata Sasuke dengan nafas berat. Sakura menatapnya lekat-lekat dengan tatapan penuh tanda tanya.

"A-apa?"

Sasuke menghela nafas lagi, "Sakura-chan, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Aku menyayangimu melebihi apapun, menikahlah denganku."

Sakura? dia tertegun bukan main mendengar penuturan Sasuke. Ini benar-benar diluar kendalinya. Tapi, bukankah ini romantis? Kalian berdua—jet-ski—tengah laut. Ooh, itu adalah sesuatu yang tak akan pernah dilupakan bukan?. Rasa haru mulai menyentuh perasaan wanita musim semi itu. Ia menangis dan menutup mulutnya dengan kedua tangan yang menganggur. Ia bahagia. Ya, bahagia.

"Sa-Sasuke-kun, aku...aku juga mencintaimu!" teriaknya sembari memeluk pemuda itu. Ia menangis—menangis sejadi-jadinya di pelukan pemuda itu. Ia tidak tahu kenapa ia menangis, yang jelas ia merasa kalau saat ini tidak akan pernah ia lupakan—bahkan tidak pernah bisa ia lupakan.

Sejenak, pemuda itu melepaskan pelukannya dan langsung menarik kepala Sakura, mempertemukan kedua bibir mereka dalam sebuah kecupan lembut dan panas di tengah lautan. Ia tarik dan dekap erat kepala merah muda kekasihnya, melumat segala yang ia dapatkan. Bibir, lidah, dan mendekapnya dengan hangat.

Tidak ada lagi rasa dingin pada laut sore. Mereka cukup menikmatinya. Sampai suara sebuah kapal jet kecil menghampiri mereka, dengan sangat terpaksa Sasuke menghentikan aktifitas panasnya dengan Sakura.

"Naiklah duluan," ucap Sasuke saat kapal itu berhenti di depan mereka. Seseorang telah mengulurkan tangannya dan menarik Sakura untuk naik ke atas kapal, lalu disusul oleh Sasuke. Mereka berdua duduk berdampingan sembari melihat lautan, sementara orang yang mengulurkan tangannya tadi sudah pindah pada jet-ski yang Sasuke jatuhkan.

.

.

.

Keempat kaki anak manusia itu menjejaki pasir laut. Pakaian mereka basah kuyup, Sasuke pergi ke suatu tempat untuk membeli dua handuk. Satu handuk bertengger menutupi tubuh Sakura yang tembus pandang akan kaus putihnya, satu lagi ada di pundak pemudanya.

"Kau masih takut?" tanya Sasuke lagi sembari duduk di bawah pohon besar, Sakura menggeleng dan ikut duduk di sebelahnya.

"Tadi itu...romantis juga, aku tidak mungkin melupakannya." Jawab Sakura sembari menyandarkan kepalanya di bahu Sasuke.

Sasuke menyeringai, "Hn. Kau lapar? Ini sudah siang,"

"Lumayan, kita makan kepiting ya?!" jawab Sakura sembari menunjuk seorang pria paruh baya penjual sate kepiting yang sedang mengipas-kipasi satenya.

"Hn. Boleh, ayo kesana!"

==oOo==

Konoha City Mall, Konohagakuen.

Hinata semakin tidak paham dengan apa yang ia rasakan. Hatinya berdebar tak menentu, ia pernah merasakan atmosfer ini. Sama seperti waktu ia baru menjadi kekasih dari Sasuke Uchiha. Lain halnya dengan masa lalu, pemuda yang sekarang—Namikaze Naruto, pemuda pirang itu mampu mengikat perasaan Hinata yang tadinya hanya mencintai Sasuke, kini beralih.

"Kenapa aku jadi memikirkannya terus?" Hinata menggeleng pasrah sembari menenteng berang belanjaannya.

"Jangan-jangan aku benar-benar jatuh cinta padanya?! Bagaimana ini Kami-sama?!"

Ia semakin menggumam tidak jelas. Banyak orang yang melewatinya sedikit melirik pada gadis anggun ini, memastikan apakah ia masih waras atau tidak? Berbicara sendiri di mall sembari meremas-remas kepala yang terasa sedikit pusing akibat pikirannya sendiri.

DUK!

Poor Hinata. Kau menabrak orang lagi, sepertinya bosan juga kalau kerjaannya hanya menabrak orang. Bisa-bisa kau bertemu jodohmu nanti karena tabrakan, mau? Tidak bukan? Makanya hati-hati.

"Hey, Nona! Kau punya hobby baru menabrakku ya?"

Hinata kenal suara ini. Ia mendongak, jantungnya kembali dilanda debaran-debaran yang kemarin ia rasakan juga. Wajahnya memerah menahan malu, saat ini menundukkan wajahnya, saat itu juga ia melihat pria yang ia tabrak mengulurkan tangannya. Ia terima uluran tangan itu dan mendongak menatap pemuda yang saat ini tersenyum padanya.

"Sudah ku maafkan," kata pemuda sarkatis.

Hinata melepas gandengan tangannya dengan kasar, "Siapa yang mau minta maaf?!"

"Galak sekali. Padahal cantik,"

BLUSH!

Hinata membalikkan tubuhnya dan menarik napas dalam-dalam. Nafasnya tercekat serasa kehabisan oksigen, ia bisa mati berdiri disini. Dengan berat hati, ia meninggalkan pemuda itu sembari berjalan terburu-buru meskipun pemuda itu mengejar dan memanggil namanya.

"Abaikan saja, Hinata. Tenangkan dirimu dan cepat-cepat pulang, jangan sampai kau kehabisan bernafas disini."

==oOo==

Laut Timur Konoha, Konohagakure

Sasuke dan Sakura saat ini sudah mempersiapkan diri. Ia sudah mengganti pakaian mereka dengan pakaian khusus menyelam. Sakura sendiri sebenarnya belum terlalu yakin akan pilihan Sasuke, tapi kalau menolakpun rasanya percuma. Kaca mata air masih bertengger di sela-sela rambut ravennya. Ia melihat laut yang tersedia di bawah sana. Posisi mereka saat ini ada disebuah tempat khusus untuk menyelam.

Tidak banyak orang yang memakai wahana ini, karena harganya juga masih kurang bersahabat bagi kalangan menengah. Tapi, bukan Sasuke Uchiha namanya kalau untuk sebuah diving saja tidak bisa. Benar bukan?

"Turun duluan," perintah Sasuke pada Sakura.

Sakura segera menuruni tangga yang tersedia untuk mencapai lautan. Setelah ia berhasil turun, tentunya dengan pengawasan obsidian milik kekasihnya. Pemuda itu merasa adrenalinnya belum tertantang dengan jet-ski tadi, berpikir sebentar. Dibawah itu lautan, dekat dengan dasar laut. Melompat? Ya. Ia harus melompat.

"Paman, kalau aku melompat akan dampak buruknya tidak?" tanya Sasuke pada pemandu diving mereka.

"Tidak. Anak muda jaman sekarang, terlalu bersemangat." Jawab sang pemandu.

Sasuke mundur beberapa langkah dan memasang kaca mata renangnya, lalu berlari kecil menuju ujung tempatnya berpijak. Ia melompat dan memutarkan tubuhnya di udara, dan akhirnya tubuhnya menampar air laut yang tenang dan biru tersebut. Sakura yang melihatnya hanya menggelengkan kepala bosan. Sang pemandu akhirnya turun ke laut dan memandu mereka untuk mengitari daerah mana-mana saja yang boleh dan tidak boleh dilewati.

Sampai pada dasar laut paling bawah, Sakura girang bukan main saat mendapati banyaknya ikan-ikan kecil berwarna-warni yang lewat kesana-kemari di hadapan mereka. Senyumnya terhalan oleh oksigen pernafasan, mata indah berbinarnya terhalang kaca mata renang. Tapi, Sasuke tahu kalau kekasihnya bahagia. Darimana? Bahasa tubuh memang tak pernah bisa dibohongi. Benarkan?

Pundak wanita itu bergetar tanda tertawa, tubuhnya kesana-kemari mengikuti ikan-ikan yang disukainya. Sasuke mengekori tubuh kekasihnya agar tetap tidak menjauhi sang pemandu dan orang-orang yang sedang diving bersama mereka. Sampai pada saat tangan kokoh itu menarik tangan Sakura dan menarik tubuhnya untuk di dekap di dalam air.

Sasuke memeluk kekasihnya dari belakang, agak susah juga mengingat ada tabung oksigen di belakangnya. Ia putar tubuh Sakura sebentar, ia angkat jemari Sakura ke hadapan wajahnya. Sakura semakin bingung saat melihat Sasuke meraba sesuatu di tangannya. Ternyata sedari tadi ia memakai sebuah gelang. Di gelang itu, ada dua buah cincin perak yang menggantung.

Merasa mengerti maksud kekasihnya, Sakura melihat gelang tersebut dan menemukan pembukanya. Ia buka dengan pelan dan hati-hati agar cincin tersebut tidak jatuh bersama air. Ia raih kedua cincin itu dan memperlihatkannya pada Sasuke, pemuda itu mengambil salah satu cincin yang berukuran kecil, lalu memakaikannya pada jari manis Sakura.

"Ada namanya? Sasuke?" Sakura menerka-nerka dalam hati, apa cincin ini tertukar? Akhirnya, ia sendiri memakaikan cincin yang bernama Sakura ke jari manis Sasuke. Itupun karena Sasuke memberi kode kalau sebentar lagi mereka akan kembali ke daratan, jadi Sakura harus cepat sedikit. Setelah memasangkan cincin itu, Sasuke menarik tangan Sakura dan mengikuti pemandu untuk kembali ke atas.

.

.

.

Tak terasa hari mulai menjelang malam. Udara menjadi lebih dingin dari biasanya, setelah keduanya selesai membilas diri di kamar mandi umum— jadi begini, Sasuke sudah menyuruh Sakura untuk memilih salah satu onsen yang berada disana, tapi karena Sakura menolak dan meminta ingin cepat pulang, terpaksa Sasuke mengikuti Sakura untuk mandi di kamar mandi umum. Meskipun tempatnya bersih, tetap saja bagi Sasuke itu umum.

"Haaah~ segarnyaaaa! Hari ini aku benar-benar bahagia." Ucap Sakura pelan di tepi pantai sembari menyeruput segelas cokelat hangat yang ada di tangannya.

"Sakura!" teriakan suara Sasuke membuatnya mau tak mau membalikkan tubuh, ia tersenyum pada pemuda itu dan memberikan gelas cokelatnya pada Sasuke.

"Kau mau, Sasuke-kun?" tanya Sakura sembari menyodorkan segelas cokelat.

"Hn," ia menerima gelas tersebut dan segera membuang pandangannya pada hamparan laut di depan mata.

"Jam berapa sekarang?" tanya Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya.

"Enam, kenapa?" tanya Sakura lagi. Pemuda itu memakaikan jaket putih di tubuh Sakura agar kekasihnya tidak kedinginan.

"Aku ingin melihat sunset bersamamu," jawabnya dengan senyum yang tersisa di bibir tipisnya.

Sakura ikut tersenyum saat melihat langit sudah mulai menampakkan sinar oranye. Demi Tuhan, ia sendiri belum pernah merasakan seperti ini dengan Itachi dan Aoi. Sedikit rindu pada kedua pria tersebut, ia mencengkram ujung dress tipis putihnya. Sedikit tersenyum getir mengingat mereka yang sudah meninggalkannya. Sekarang, Itachi pasti menitipkan dirinya pada Sasuke.

Matahari tenggelam dengan indahnya di peraduan pantai. Ia merasakan kedua tangan Sasuke memeluknya dari belakang, ia sandarkan tubuhnya pada tubuh tegap kekasihnya. Menikmati semilir angin yang berhembus disana. Ia rasakan pantai mulai sepi, yang terdengar hanya suara deburan ombak dengan burung-burung yang terbang di atasnya.

"Sasuke-kun, besok kita ke makam Itachi dan Aoi ya?" kata Sakura sembari melepas peluknya.

"Hn, aku juga ingin minta restu mereka." Jawab Sasuke sembari menatap Sakura.

Wanita musim semi itu tersenyum, lalu beranjak meninggalkan Sasuke menuju mobil mereka. Sasuke tersenyum menatap punggung kekasihnya yang menjauh, tanpa ia lihat kalau punggung itu bergetar seiringan dengan sebelah tangan yang terangkat untuk menghapuskan air matanya. Ya, Uchiha Sakura telah menangis.

-Tbc-

Author Spam :

Hai Minna. Ketemu lagi kita ya? Seminggu sekali ternyata kita ketemu. Hahaha, menurut kalian bagaimana Chapter 9 ini? Tadinya mau saya bikin lemon tapi kayaknyaaaaa gak nyambung juga ya-_-. Jadi, yasudah lah kita buat mereka romantis-romantisan dulu.

Oh ya, mau tanya nih. Kejadian di Laut Timur ini saya ambil dari kisah saya sendiri waktu liburan ke Anyer sama Ara. Bedanya, kalau Sasuke itu romantis pas Sakura ketakutan karena ga bisa renang, kalau saya malah ngetawain Ara pas dia hampir tenggelam gara-gara gabisa renang. Sumpah itu bagi saya kocak banget! Hahaha XD. Tapi, kata Ara katanya saya jahat. Enggak kan? *oke lupakan ini*

Nina317Elf : Iya anak kecil jangan baca lemon :p dosa. Ini nih spesial buat kamu aku kasih tanpa lemon dan romantis gak tuh? Hahaha. Terima kasih ya reviewnya :)

melyarahmawinarti : Hot? Mungkin kamu bacanya sambil makan indomie ijo (?) oke ini gak nyambung. Aoi ya? emang aku tulisnya dia meninggal ya? *eh* *plak* hahaha. Jangan Hinata, abang juga sebenernya suka kalo dia itu sama Naruto bukan Hinata -_- *eweeh* ahahaha. Masih ada typonya ya mel? ga teliti sih abang juga. Oke mel, ini kenapa jadi abang-abangan? berasa kaya abang tukang batagor ya. Makasih atas reviewnya ya :D

Ah Rin : SasuHina udah putus beneran kok, kalo belum putus kenapa mereka ehem-ehem? hahaha. Ceritanya bagus? Wiih makasih-makasih :D

Tsurugi De Lelouch : Senpai bisa aja :) tapi saya jujur aja liat semua FF senpai tuh jadi ngebandingin, FF saya ga ada apa-apanya :/ serius deh. Senpai juga keren FFnya. Tapi beneran saya tersanjung aja dan takutnya jatuh (?) kalo melambung tinggi-tinggi. Hahaha. Sebenernya yang suara bola di Aoi itu, itu saya pernah ngalamin kejadian begitu waktu kembaran saya meninggal. Jadilah inspirasi hahaha. Terima kasih banyak ya senpai :D

Diella Nadilla SasuSakuLovers : Maaf ya sekali lagi Aoinya harus ikut papah Itachi -_-. Nangis? Yaampun saya dosa gak nih bikin kamu nangis? *kasih tisu* Emang pas lagi baca Fict ini, kamu lagi ngapain sampe-sampe gak konsen? *oke saya kepo* btw, terima kasih reviewnya :D

Kiki RyuEunTeuk : Kan habis badai terbitlah pelangi (?) Yang ini, yang lagi update? iya saya cowok. Hahaha, kenapa? kamu mau cariin saya pacar? Yaampun kamu baik banget *di gampar* Ini udah update, gimana? Makasih ya atas reviewnya ya :D

Deshe Lusi : Makasih ka udah berduka buat Aoi (?) Kalo soal hamil...kayaknya saya belum menyanggupinya senpai, kenapa? Mereka bahkan belum menikah -_-. Oke senpai, terima kasih atas reviewnya :D

adecieloverzPengguin : Keep. ini sudah dilanjutkan. Bagaimana? Terima kasih banyak ya :)

mako-chan : Gak lah, udah cape cobaan mulu hidupnya hahaha. Kasian gak ada kebahagiaannya masa -_- haha. Terima kasih atas reviewnya :)

Guest : seandainya review kamu bisa saya retweet, mungkin saya kasih RT hahaha. Ya, tentu saja. saya juga tidak mau Sakura yang notabene adalah kekasih saya (di Dunia RP) dihina-hina. Hahaha. Terima kasih banyak yaaa :)

FN : Yang mana yang kakak kamu? Kok kamu perasa ya? Aku kan gak nyindiiiir :p. Pengen aja deh, abisnya kamu udah punya pacar sih *dor* Kamu maunya endingnya begimana deh? Biar enak kita diskusi (?) makasih ya atas review kamu yang cetar ini wkwkwk

sasusaku kira : Ooh jadi kamu sayang sama Aoi? :/ yaah aku gatau, kamu kok ga bilang sama Aoi? giliran udah meninggal nyesel kan belom bilang kalo kamu sayang dia (?) *ini sinetron apa ya yang begini?* Iya aku juga maklum, semua orang kenalnya Ara sih. Mana sih yang namanya Ara? Kok dikenal bgt ya hahahaha. Oke, makasih atas review kamu :)

minma : Oke deh minma/guest -_- saya juga sempat tak berkenan bicara demikian, saya minta maaf. Hahaha. Oke deh, silahkan membaca :) terima kasih ya

Hima : Aree? Makasih ya Hima-chan :) kamu suka lemon? patut dipertanyakan nih :p hahaha. Ini sudah diupdate Hima, terima kasih yaaa :)

Pink raven : Iya, Aoinya meninggal. Gimana sama lemon di chap 8 ? hahaha. Makasih ya atas reviewnya

uchiharuno phorepeerr : Emang kalo Hotnya gimana? Kayaknya saya harus belajar sama kamu nih *ambil catetan* hahaha. Duh kayaknya kalo langsung hamil takut di cap, "situ cewek apaan belum nikah udah hamil? anak dan suami baru aja meninggal." Gitu :/ makanya aku mikir dua kali. Hahaha. Saya sebenarnya agak malas dengan Shion, jadinya cuma nampang nama aja deh hahaha. Nah, kan kalo halal juga enak. Entar ya di chap 10 mereka nikah. Terima kasih banyaaak :D

Readers! saya ucapkan terima kasih banyak atas bersedianya anda mereview cerita kami. Saya, Shaskeh Admaja dan Arakafsya berterima kasih banyak pada kalian semua. Chapter depan end ya? Saat End, saya hanya tinggal membuat sequel mulai dari ; "Sasuke itu AYAH-ku" ; "Among The Dead" ; "Anthem Of The Angels". Chapter 10 ? semua tergantung dari kalian semua :)

Terima kasih,

Shaskeh Admaja.