Akashi Manor, Kyoto. Pukul 11.00
"Masuk, Seijuurou."
Akashi tertegun ketika tangannya nyaris mengetuk pintu ruang kerja sang ayah. Ayahnya telah mengetahui kehadiran sosok Seijuurou dari belakang pintu tersebut. Bagaimana pun, kepala keluaga Akashi itu adalah seseorang yang absolut juga.
Akashi muda itu melenggang memasuki ruang kerja dengan interior elegan dan sebagian besar bernuansa merah tersebut dan duduk di sebuah kursi panjang yang memang di khususkan untuk tamu.
"Selamat siang, chichi ue. Ada apa memanggilku kesini lagi?"
Akashi yang lebih tua tersenyum geli melihat pose formal anaknya.
"Apakah salah, jika seorang ayah meminta anaknya untuk sekedar berkunjung ke rumah sendiri?"
Pertanyaan Seijuurou dibalas dengan pertanyaan. Seijuurou tidak bergeming ketika ayahnya bangkit ballik meja kerjanya dan duduk di sebelahnya.
"Tidak usah tegang, Sei. Kita ayah dan anak," kicau sang pemimpin keluarga Akashi sambil menepuk pundak putranya. Seijuurou melirik ayahnya melalui ekor mata tanpa berkata sepatah kata pun.
Akashi Masaomi menghela nafas panjang melihat kelakuan putranya yang termasuk kaku ini. Sepertinya memang satu-satunya putra yang benar-benar mewarisi gennya ini merasa sangat terpukul akibat kejadian tiga belas tahun yang lalu. Sehingga mempengaruhi sifat Seijuurou yang sekarang.
Tidak tahan dengan keheningan karena Seijuurou tidak suka berbasa basi, akhirnya Masaomi menyampaikan tujuan ia memanggil putranya pulang.
"Bagaimana perkembangan Seirin?"
"Izuki Shun, Kiyoshi Teppei, Kagami Taiga dan Furihata Kouki yang akan ikut serta dalam misi kali ini."
"Aku tidak mengenal dua nama terakhir. Mereka orang baru?" Seijuurou mengangguk.
"Lalu, bagaimana persiapan Sei dan yang lain dalam menghadapinya untuk yang kedua kali?"
Seijuurou sejenak tampak menerawang, tapi ekspresinya langsung berubah begitu sang ayah menyebut 'yang kedua kali'.
"Tentunya kami melakukan persiapan lebih, chichi ue.Kita tidak ingin gagal membunuhnya lagi dan—"
"—dan kehilangan seorang hunter lagi, huh?"
Mata Seijuurou membelak dan secara spontan ia menoleh kepada ayahnya.
'Bagaimana beliau bisa mengetahuinya?!'
.
Yunouna Kyuketsuki no Sedai
Kuroko no Basuke by Tadatoshi Fujimaki
Rate: T
Warning: AU, Vampire! KiseDai,Fem!Kuroko, maybe a little blood scene, OOC tapi diusahakan se-IC mungkin, SMA Teiko.
Enjoy-ssu!
.
Chapter 9: Because I'm Absolute.
.
Masaomi terkekeh melihat ekspresi putranya, "Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku bisa mengetahuinya ya, Sei. Aku adalah orang yang menurunkan gen absolut padamu, Aku tau kisah miris di balik misi itu."
Pria immortal yang sudah hidup sekitar satu abad lebih tersebut mengubah posisinya yang tadi formal menjadi lebih santai dengan memposisikan sebelah tangan di bantalan kursi dan sebelahnya lagi merengkuh bahu Seijuurou.
Kemudian ia berdeham sebentar sebelum melanjutkan percakapan antara anak dan ayah mereka.
"Seijuurou. Aku ingin bertanya sesuatu." Nada suara Masaomi mulai sedikit merendah.
Mau tidak mau Seijuurou merasa sedikit tegang karena sangat jarang sang ayah menggunakan suara itu untuk berbicara padanya, kecuali hal-hal menyangkut hal genting.
"Ada apa, chichi ue?"
"Kemarin, aku merasakan sebuah energi aneh yang sangat mencekam. Menurut intuisiku berasal dari Tokyo. Apakah kau tahu sesuatu tentang ini?" pertanyaan setengah menyindir terlontar dari bibir sang ayah.
"Chichi ue …terasa hingga ke Kyoto?"
Masaomi mengangguk dengan raut wajah serius, "Kemarin, Kuroko Tetsura hampir lepas kontrol, kan?"
Pria berparas mirip dengan Seijuurou itu mengedarkan pandangannya ke sebuah lukisan berbingkai cukup besar yang tergantung di dinding belakang meja kerja sebelum melanjutkan perkataannya.
"Keluarga Kuroko adalah keturunan vampir berdarah murni yang memiliki darah terkutuk di dalamnya, darah iblis. Lucifer. Bahkan mereka tidak segan-segan akan memakan Lucifer yang ada di depannya seperti kanibal," lanjutnya.
Ya, Seijuurou tahu betul masalah itu. Selama ini ia bersama Tetsura dan entah sudah berapa kali ia memergoki Tetsura melakukan ritual layaknya di Bulgaria kemarin.
"Jangan sampai lepas kontrol lagi, Seijuurou. Sebagai salah seorang dari klan yang menganut aliran dewa tentunya kau tahu sendiri apa akibatnya jika keturunan Lucifer lepas kontrol." Seijuurou termenung sambil memikirkan kejadian kemarin di Seirin. Seketika, pandangan keras Masaomi menjadi sedikit melunak,
"Nak…"
"Chichi ue. Aku akan mengambil kembali apa yang menjadi milikku." Seijuurou memotong perkataan ayahnya.
"Aku sudah memindahkan Kagami Taiga dan Furihata Kouki ke Teiko bersamaku dengan yang lain, sehingga akan memudahkanku mengawasi mereka dan melatih. Agar misi ini berhasil dan para pengkhianat bisa dimusnahkan serta menyelamatkan kembali anak malang yang tidak sengaja terjerat dalam pahitnya dunia bawah tanah vampir pengkhianat."
Masaomi tersenyum kecil melihat kesungguhan putranya kali ini. Ia pikir putranya akan sedikit down karena teringat kegagalannya di masa lampau.
Tapi Seijuurou adalah seorang Akashi. Dan bagi seorang Akashi tidak ada istilah 'down' walau sepahit apapun takdir mempermainkannya.
"Baiklah, semoga kau sukses untuk kali ini Seijuurou. Chichi ue akan mendukungmu selalu."
"Terima kasih," balas Seijuurou singkat kemudian ia beranjak pergi dari ruang kerja ayahnya untuk kembali ke Tokyo.
Memang, ekspresi Seijuurou sekarang termasuk datar, namun di balik itu otak cerdasnya sudah menyiapkan serangkaian menu latihan ekstrim bagi Kuroko dan lain-lain serta Kagami dan Furihata. Untuk Teppei dan Izuki ia serahkan sepenuhnya pada Aida Riko.
-x-
Sepeninggalan Seijuurou, Masaomi merenggangkan tubuhnya yang kaku karena sejak tadi duduk terus dan menutup mata heterochromenya yang persis seperti sang putra sejenak.
"Kau sudah dengar kan, Alex?" tanyanya entah kepada siapa.
Secara sekejap, kelopak-kelopak mawar mulai berterbangan secara misterius di ruangan tersebut. Banyak dan semakin banyak, hingga berkumpul di suatu titik seperti menyelimuti tubuh seseorang secara sempurna.
"Anakmu memang dingin, tapi ia memiliki hati yang mulia, Masaomi-sama." Sebuah suara maskulin namun tersirat sedikit kefeminiman tanpa sosok tersebut membalas perkataan Masaomi.
Kelopak mawar-mawar tersebut telah musnah dan digantikan oleh sesosok wanita cantik yang memiliki fisik yang cukup berisi dan indah dengan rambut pirangnya menjuntai bebas.
"Semoga Tatsuya bisa kembali ke kehidupannya yang dulu," lanjut Alex sambil membenahi bajunya yang terkesan sedikit berantakan.
Membenahi pakaian, yang hanyalah sebuah tanktop dilapisi mantel panjang berwarna hijau dipadu dengan hotpants dan sepatu boots setinggi lutut di depan seorang pemimpin keluarga vampir darah murni paling berpengaruh memang tidak sopan, tapi inilah Alexandra Garcia. Tidak mengherankan ia sampai kabur dari tanah kelahiran hanya demi menghindari perjodohan.
"Kau tahu Alex, tapi sepertinya Tatsuyamu itu akan memiliki kehidupan yang sedikit berbeda setelah ini. Dan, perjuangan mereka semua tidak berakhir secepat ini. Mereka masing-masing memiliki perjalanan panjang—" kata Masaomi sambil bangkit dari sofa dan berjalan menuju jendela, tidak lupa kedua tangan ia masukan ke kantong celana panjangnya.
"Darimana kau tau, Masaomi-sama?"
"Emperor Eye milikku bisa melihat masa depan."
Alex mengernyitkan dahinya, "Lalu kenapa Seijuurou tidak tahu tentang ini? Bukannya ia juga memiliki Emperor Eye?"
"Miliknya belum mencapai tahap dimana bisa melihat masa depan. Dan aku sengaja tidak memberitahunya tentang pengelihatanku ini."
"Masaomi-sama, kau sendiri yang paling tahu penderitaan batin yang dialami Seijuurou selama ini dan kau masih berpikiran untuk merahasiakan ini padanya?" suara Alex sedikit meninggi mendengar pengutaraan pria bersurai merah ini.
Dari balik punggungnya, Alex melihat pria yang hanya berbeda umur sekitar sepuluh tahun dengannya tersenyum misterius.
"Bukannya kau juga ikut berpartisipasi dengan hal ini, Alex?"
Alex mengernyitkan alisnya. Tidak mengerti dengan apa yang barusan dikatakan oleh Akashi Masaomi.
"Kau tahu, sebenarnya Kagami Taiga ketika di Bulgaria kemarin tidak diinjikan masuk ke pedesaan itu akibat pembunuhan berantai—kedok dari pemerintah manusia. Namun setelah seseorang bertudung yang aku lihat sebagai Himuro Tatsuya membisikkan sesuatu yang menggunakan namamu sehingga petugas itu terkejut dan membiarkannya masuk. Ternyata kehadiranmu sebagai detektif terpercaya FBI di dunia manusia sangat berpengaruh ya, Alexandria Saphiro—nama samaranmu ketika berganti identitas?"
Alex membelakkan matanya. Ia sendiri baru tahu bahwa Tatsuya sempat menampakkan dirinya seperti itu.
"Lalu, di mana Tatsuya sekarang, Masaomi-sama?!"
"Untuk itu, aku tidak akan memberitahumu sekarang. Serahkan saja pada Seijuurou. Ia pasti bisa menyelamatkan murid manismu itu."
"Kau sangat percaya dengan Seijuurou ya, Masaomi-sama."
Masih membelakangi Alex, Masaomi tersenyum.
"Tentu. Karena apapun yang terjadi, aku percaya anakku bisa melaluinya dengan sukses. Itu absolut."
-x-
SMA Teiko, pukul 13.00
Momoi, Midorima, dan Kuroko sudah berada di ruang OSIS SMA Teiko sejak setengah jam yang lalu untuk mengurus Kagami dan Furihata. Ya, hanya mereka bertiga lah yang rela hari Minggunya dihabiskan untuk kedua hunter yang akan berada di bawah pengawasan mereka mulai sekarang ini.
Jangan tanyakan kenapa Kise dan dua orang bertubuh tinggi lain tidak menampakkan diri hari ini bersama mereka. Sebenarnya penyebab utama ketiganya tidak ikut adalah karena sang model berambut pirang itu.
Sudah cukup panas telinga mereka semua kemarin malam karena teriakan histeris dan protesan penuh air mata buaya yang mengandung berbagai alasan dari Kise.
Yang pertama, pemuda beriris coklat madu itu merasa jengkel karena weekendnya yang berharga direngut paksa oleh sang manajer karena ada pemotretan. Perlu diketahui Kise nyaris saja berniat untuk menggigiti manajernya menjadi darah lumpur saking kesalnya. Jika saja Akashi tidak menyadarkannya dengan lemparan sebuah gunting, mungkin niat itu sudah terlaksana.
"Kau harus bersikap profesional Ryouta. Ini resikomu sebagai model."
Kedua, sudah weekend terambil, dirinya juga tidak bisa menyaksikan sesi ujian Furihata yang dilaksanakan oleh Kuroko. Dan semalaman Kise cemberut karena mendengar cerita Aomine tentang itu yang menurut Kise sendiri sangat seru. Sangat disayangkan dia melewatinya, tapi mau bagaimana lagi. Tuntutan pekerjaan.
Dan yang terakhir, Kise merasa ia perlu menuntut hak liburnya di hari Minggu yang cerah ini sehingga ketika tadi pagi ia dibujuk lagi oleh Midorima, Kise kembali meluncurkan rengekannya dan langsung menyeret Aomine serta Murasakibara untuk menemaninya jalan-jalan. Katanya, seminggu ini dia sudah stress karena ulangan non-stop setiap hari sehingga otaknya sudah over reacted dan perlu refreshing.
Beruntunglah bagi Kise karena ketika ia merengek-rengek pagi tadi, Akashi sudah tancap gas dengan Lexus silvernya ke Kyoto sejak subuh. Jika tidak, sudah dipastikan Kise akan mendapat morning kiss dari gunting kesayangan Akashi. Kuroko memijit pelipisnya pelan mengingat pemandangan heboh yang ia dapatkan ketika baru bangun tadi pagi, sukses membuatnya merasa rugi istirahat semalaman, sakit kepala kembali menyerang.
Ketiganya kembali terlarut dalam pikiran dan pekerjaan masing-masing. Tampaknya Midorima sudah mulai bosan menunggu, "Kapan mereka datang nanodayo?" tanyanya dengan nada mengeluh terselip sedikit di dalamnya sambil membebat jari-jari tangan kirinya dengan perban. Kuroko dan Momoi saling melirik satu sama lain dan sepakat tidak menjawab pertanyaan Midorima, karena mereka berdua tahu-
TOK..
TOK..
-Di belakang pintu sudah ada tiga orang yang mereka tunggu sejak tadi.
"Masuk," respon Kuroko datar sebari tidak mengalihkan pandangannya dari data-data yang sedang ia teliti.
KRIET
Terlihat Riko, Kagami dan Furihata memasuki ruang OSIS dengan pakaian kasual namun sopan. Momoi otomatis mengalihkan pandangannya yang semula menghadap ke depan komputer menjadi menghadap ketiga hunter tersebut.
"Maaf, tadi kami sempat tersesat mencari ruangan ini. Ah, dan aku yang akan menjadi wali mereka hari ini. Karena orang tua Kagami-kun dan Furihata-kun sedang di luar negeri bertugas," kata Riko secara tidak langsung menjawab pertanyaan yang belum sempat dilontarkan Momoi.
Furihata mengedarkan pandangannya ke ruangan yang bisa di bilang cukup besar dengan nuansa putih dan biru muda yang teduh. Di pojok ruangan dekat jendela terdapat sebuah komputer. Di pojok lain yang berhadapan dengan komputer terdapat sebuah lemari berbahan kayu mahoni dan kaca yang terkunci rapat karena terdapat berbagai dokumen di dalamnya. Di tengah-tengah ruangan terdapat sebuah meja berbentuk persegi panjang raksasa dengan tujuh kursi dan di sisi panjang dan lima kursi di satu sisi yang lebih pendek, dan di sisi meja yang lebih pendek tersebut tertempel sebuah meja kecil, tidak terlalu kecil namun panjang dari meja itu sama dengan lebar dari meja yang lebih besar sehingga ukurannya lebih kecil namun tetap bisa menyatu. Meja itu dengan ketinggian yang lebih beberapa senti dari meja yang lebih besar, dan di meja kecil itu terdapat tiga kursi.
Remaja bersurai coklat itu berpendapat meja tersebut pasti khusus untuk tiga besar OSIS. Ketua, Wakil Ketua I, dan Wakil Ketua II.
Di tembok yang simetris dengan sudut pandang meja tiga besar itu terdapat sebuah layar LCD terpampang. Teknologi sekarang sudah canggih, mungkin mereka lumayan sering mengadakan rapat dan presentasi dengan laptop.
Sungguh. Ruangan ini lebih mirip ruang rapat kantoran daripada sebuah ruang OSIS yang hanya di huni oleh anak-anak remaja.
"Sudah selesai mengagumi ruangan ini, Furihata-kun?" suara lembut khas yang sangat Furihata kenal membuyarkan lamunannya. Furihata tertunduk malu karena terpergoki sedang mengagumi ruangan tersebut oleh Tetsura.
Gadis itu tetap memasang wajah datar walau ada sedikit kilat jenaka di matanya sebelum melanjutkan perkataan yang tadi sempat terputus. "Ruangan ini memang terlalu berlebihan untuk sekarang Ruang OSIS SMA, aku maklum jika kau terkejut ruangan ini sangat berbeda dari ruang OSIS sekolahmu yang terdahulu. Karena ruangan ini juga lumayan sering digunakan untuk rapat dengan ketua ekstrakurikuler, berhubung Teiko memiliki banyak event."
Gadis berambut biru langit sepundak tersebut bangkit dari kursinya dan menghampiri Furihata. Dan Furihata baru sadar, Kuroko bangkit dari kursi yang tertata rapi di meja yang lebih tinggi. Remaja bermata lancip itu kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan seketika terfokus pada sebuah foto yang terpajang agak tinggi di dinding belakang meja tempat Kuroko bangkit tadi.
Foto enam belas besar OSIS di sekolah ini. Terlihat Kuroko, Akashi, dan Midorima lah satu-satunya yang duduk berjejer dengan tangan terlipat di atas paha. Sementara beberapa siswa yang tidak Furihata ketahui, kecuali wajah Momoi seorang berdiri berjejer di belakang mereka. Jadi formasi yang Furihata lihat adalah 3-6-7 dengan baris paling belakang menggunakan pijakan agar terlihat lebih tinggi dari baris sebelumnya.
"Kau … Wakil Ketua OSIS di sini?" tanya Furihata ragu-ragu pada gadis yang tengah berjalan menghampirinya.
"Ng? Darimana kau tahu?"
Furihata menunjuk foto yang lumayan menyita perhatiannya sejak tadi.
"Ooh ... Foto itu ..." gumam Kuroko pelan, sementara Momoi terdengar seperti menahan tawa mendengar Furihata membahas foto itu.
Iya, bagaimana tidak.
Ketika orasi pemilihan dulu, Kuroko Tetsura sudah berdiri di belakang podium selama bermenit-menit dan yang bertugas untuk mewawancarainya sama sekali tidak menyadari, sehingga ketika diumumkan bahwa ia hampir didiskualifikasi, barulah Kuroko menyadarkan yang lain dan itu sukses membuat mereka semua berteriak. Lagi satu, ketika pemotretan foto tersebut juga terjadi kejadian serupa seperti tadi. Bisa dibayangkan bagaimana karena itu adalah efek dari hawa keberadaan yang tipis dari Kuroko Tetsura.
"Aku tebak Akashi adalah Ketua OSIS disini." Riko tiba-tiba ikut bergabung dalam percakapan mereka. Kuroko hanya mengangguk sebagai respon, dan langsung beranjak keluar dari ruangan itu.
"Mari, kita ke Ruang Kepala Sekolah dan Tata Usaha sekarang." Ketiga hunter itu kemudian berjalan mengikuti Kuroko, dan Midorima serta Momoi mengikuti paling akhir.
-x-
Selesai mengurus perbayaran, seragam, dan berbagai hal lain, Kuroko dan Momoi memberi tour singkat kepada murid baru ini. Midorima tidak ikut karena sang tsundere mengaku ia masih ada kerjaan yang belum terselesaikan dan Riko pamit pulang duluan.
"… Sudah. Dan gym tempat biasa latihan basket adalah tujuan terakhir kita. Selamat, kalian berhasil mengitari sekolah yang kelebihan lahan ini non-stop," kata Tetsura dengan wajah datar sambil menoleh ke belakang, melihat Kagami yang cengo, Furihata yang terengah-engah, dan Momoi yang terkikik melihat kedua hunter muda itu tepar mengelilingi Teiko.
Kagami menyeka keringatnya dan menegak air mineral yang memang sudah ia siapkan di tas ransel tadi. Bukan, Kagami dan Furihata bukannya lemah karena mengitari satu sekolah saja sudah kelelahan.
Tour dari Tetsura dan Momoi sedikit special. Kedua vampire itu kerap menghilang secara misterius tanpa mereka –Kagami dan Furihata- sadari, dan kedua gadis itu hanya meninggalkan clue mengenai di mana Kagami dan Furihata bisa menemukan mereka. Sebenarnya permainan petak umpet ala Tetsura dan Momoi cukup mudah, karena mereka sudah sangat jelas memberikan clue.
Tapi apa daya, Kagami dan Furihata yang masih buta masalah seluk beluk sekolah ini hanya bisa menerka-nerka dan berdebat tiap mereka menemukan dua lorong, ke kanan dan ke kiri. Alhasil, mereka berdua tidak luput dari suatu situasi bernama nyasar. Sehingga jika dihitung bersama nyasarnya, kedua hunter itu sudah mengitari sekolah selama tiga kali dan mereka sudah sangat hapal sekarang.
"Anggap saja ini adalah salah satu bentuk latihan ketahanan tubuh, ini belum seberapa dengan latihan yang disiapkan Akashi-kun nanti." Tetsura bermaksud menghibur, tapi wajah datar dan sifat alamiah kuuderenya membuat kedua hunter itu gagal menyadari kata-kata penghiburnya.
Kagami mendelik ke arah Momoi dan Kuroko secara bergantian dengan tatapan -kalian-serius-. Kuroko tidak merespon delikan Kagami dan Momoi hanya menaikkan satu alis dan memberi senyuman misterius. Gadis bersurai biru langit itu kemudian berjalan ke arah Momoi dan mengamit lengan temannya itu,
"Momoi-san, ada pil darah di Ruang OSIS?"
"Tentu saja, Tetsu-chan. Kan masih ada Midorin disana."
Kedua vampire itu menyudahi percakapan mereka yang terkesan sangat biasa saja dan melenggang pergi, meninggalkan Kagami dan Furihata yang terperangah akan topik yang mereka obrolkan.
"Pil darah?"
-x-
"O-oi Kise! Kau mau kemana lagi? Belum capek ya seharian sudah mengitari Tokyo?!" Aomine membeo ketika melihat Kise keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang lumayan formal, sebuah jeans dan kemeja berlengan pendek.
Kise mengernyitkan dahi tidak suka sambil memajukan bibirnya sedikit ketika di hardik Aomine, "Ahominecchi, kita lupa satu hal penting. Momocchi dan Kurokocchi titip makanan untuk makan malam tapi kita malah lupa sama sekali tentang itu."
Oh iya, Aomine benar-benar lupa akan titipan kedua gadis itu karena mereka bertiga tadi keasyikan bermain di sebuah game station dan membeli gelato hingga lupa waktu.
"Daripada mereka berdua mengamuk ketika menyadari kita tidak bawa makanan, mending sekarang aku ajak saja mereka keluar makan-ssu. Mereka kalau marah itu mengerikan," lanjut Kise sambil melempar handuk ke arah Aomine, "Ahominecchi mandi sekarang."
"Kau nanti pulang ke rumah kan, Kise?"
"Tentu saja. Memang kenapa?"
Aomine langsung beranjak menuju kamar mandi yang terdapat di kamar kosong di manor Akashi. Ya, setelah kabur dari ajakan Midorima, sore harinya ketiga orang itu kembali lagi ke manor Akashi yang terdapat di Tokyo. Murasakibara sedang berada di taman, sedangkan Kise dan Aomine langsung masuk ke kamar untuk beristirahat. Tidak ada dua jam mereka beristirahat, Kise langsung beranjak mandi dan berpakaian formal seperti sekarang.
Yah, daripada kena amuk Tetsu dan Satsuki lebih baik aku keluar lagi,' batin Aomine dalam hati se,bari menutup pintu kamar mandi.
"Ahominecchi, nanti malam berburu yuk!" Suara cempreng Kise terdengar saat Aomine hendak melepas baju atasannya.
"Baka, kau mau aku tertidur di tengah tes besok?"
Di luar, Kise cengengesan sendiri karena ia lupa besok Aomine akan remedial matematika.
-x-
"Akashi, bisa kita bicara sebentar?" Panggilan dari Midorima membuat Akashi yang baru saja tiba dari Kyoto menoleh ke arah sang manik zamrud.
"Cepat katakan Shintarou, aku mau istirahat," perintah Akashi degan sorot mata tajam dan menusuk yang menandakan ia tidak suka di ganggu. Mungkin, jika orang awam yang dihujani tatapan seperti itu nyalinya ciut seketika dan langsung membatalkan niatnya untuk berbicara dengan Akashi.
Tapi, ini adalah Midorima, sekedar tatapan menusuk dari Akashi tidak akan membuatnya gemetaran dan lari tunggang langgang.
Midorima menyipitkan matanya yang terbingkai kacamata sebelum menanggapi perintah Akashi, "Apa yang kau rencanakan dengan memindahkan Kagami dan Furihata ke Teiko? Dulu kau tidak repot-repot mengurus sekolah Himuro."
Sungguh straight to the point dan tajam intuisi rekannya yang berasal dari keluarga darah murni dengan spesialiasi medis ini. Kilat iris heterochrome Akashi menajam dan sebuah seringai terpatri di wajahnya.
"Aku hanya mengikuti firasat, Shintarou."
Lagi-lagi jawaban yang terkesan seenaknya terlontar dari bibir tipis Akashi. Melihat ekspresi tidak puas dari wajah Midorima, Akashi melanjutkan perkataannya, "Serius Shintarou, firasatku absolut dan aku melakukan apa yang firasatku katakan."
Vampir berambut zamrud itu akhirnya mengehela nafas panjang sambil menaikkan kacamatanya yang sama sekali tidak melorot, tanda ia tidak mau berdebat lebih lanjut.
"Kau tau, kadang aku tidak mengerti kenapa kalian para Akashi sangat percaya diri dengan firasat sendiri nanodayo. Tapi aku sedang malas berdebat denganmu jadi aku akan mengikuti alur permainan entah apalah itu yang kau rencanakan," kata Midorima dengan ekspresi kalem.
"Dan aku tidak mengerti kenapa para Midorima selalu saja memiliki intuisi tajam yang menyadari sedikit saja pergerakan para Akashi," tukas Akashi membalas perkataan Midorima.
"Aku tidak kepo! Jika kau ingin berkecimpung di dunia medis, kau harus memiliki intuisi yang kuat dan peka terhadap keadaan, nanodayo." Serabutan merah mulai terlihat di pipi putih Midorima dan ia kembali menaikkan gagang kacamatanya.
'Tsundere,' pikir Akashi.
"Tentu saja kau harus mengikuti alur permainan ini Shintarou," lanjut Akashi dengan percaya diri sambil kembali membalikkan badan untuk melanjutkan perjalanan ke kamarnya. "Ah iya, kau membawa pil darah sekarang? Aku minta, kehausan."
Tanpa menanggapi perintah Akashi dengan kata-kata, Midorima langsung melempar kotak kecil berisi pil darah dan kemudian ditangkap dengan gesit oleh Akashi.
"Thanks."
Sang surai magenta kemudian melanjutkan perjalanan, pergi meninggalkan Midorima yang masih sedikit tidak terima akan jawaban-jawaban lawan bicaranya.
Saat Akashi mencapai anak tangga pertama, ia mendengar Kise dan Aomine menghampiri Midorima untuk mengajak makan malam di luar sebelum pulang ke rumah masing-masing.
"Ng? Midorimacchi! Kenapa bengong-ssu? Ikut tidak makan di luar dengan kita dan yang lain?"
Dari percakapan ini, Akashi bisa menyimpulkan bahwa Midorima tengah memikirkan permainan yang dimaksudnya tadi.
"Ah bukan apa-apa. Hanya sedang memikirkan sesuatu."
Kise memiringkan kepalanya sejenak, "Ng? Sudahlah, let it flow saja Midorimacchi. Ikuti alur yang sudah tersedia, ya nggak Akashicchi?"
Tanpa mengetahui apa yang dibicarakan kedua rekannya, Kise malah meminta pengakuan dari Akashi untuk jawabannya menanggapi sesuatu yang entah dipikirkan Midorima.
"Tentu saja Ryouta, kalian ikuti saja alur yang ada."
Tanpa menoleh ke arah ketiga temannya, Akashi menanggapi pertanyaan Kise dengan senyum tipis yang terkembang tanpa diketahui siapapun.
'Karena, firasat dan sekelebat pengelihatan yang aku dapatkan …'
"Akashicchi mau ikut juga?"
"Tidak terima kasih Ryouta, aku sudah kenyang."
'-adalah absolut.'
Sepertinya Akashi Masaomi lengah dan tidak menyadari bahwa Emperor Eye putranya telah berkembang dan bisa melihat masa depan walau hanya sekelebat pengelihatan yang hilang dalam sekejap.
.
.
.
T
B
C
.
.
.
Terima kasih untuk reviewnya dan makasi bagi parasilent readeryang ngikuti cerita ini ^^ *ngeliat grafik views and visit*
Kyo Fuurime Tsuki, KakaknyaKurokoTetsuya, CacaFreecss,ShioRou, meychan, Aoi Yukari, Yeow, Michii, Iyaktia22
Untuk yang log in akan di balas di PM
Untuk anon:
Yeow: Ini sudah update, thanks reviewnya
Michii: ini sudah update hehe hehe mngkin saya nggak lucky karena ini fem!Kuroko sedikit yang suka ah~ Happy ending kok tapi endingnya masih lama karena masi banyak serangkaian tantangan untuk Akashi dkk^^ makasi review penyemangatnya!:D
Akhir kata,
Thanks for reading and..
Review please?:3
