Pemirsa bingung kenapa judul BAB nya pake angka? Atau udah ada yang nebak maksud angka-angka itu apa? Ne… Author kasih tahu dulu. Di BAB ini memuat 3 sub-BAB yang akan di bagi sesuai POV pemeran HTB, OK?
9.1 Isi Hati Jung Yonghwa
9.2 Kim Jaejoong, Apa Kau Bisa?
9.3 Sudahlah, Jung Yunho
Author ga akan nulis ulang bagian-ini-pov-siapa-bagian-itu-pov-siapa lagi karena sudah tertera di judul sub-BAB-nya, ne? Oke Oke? Bisa dimulai? Yoyoyoyo~ YunJae \(^o^)/
.
.
HARD TO BELIEVE
Genre: Romance/Humor(Drama)
Warning: GENDERSWICH, TYPOS, not-so-experience-author
Disclaimer: Semua pemeran adalah milik Tuhan dan keluarganya.
Main Cast: YUNJAE!
Tidak suka? Jangan Baca ^^
BAB IX
9.1, 9.2, 9.3, UJIAN SELESAI!
.
.
9.1 Isi Hati Jung Yonghwa
Arkh! Rasanya sakit sekali. Benar kata Yoochun-hyung, Yunho-hyung sangat menyeramkan kalau sedang marah. Aku sudah pulang ke rumah Halabeoji. Sekarang aku berada di ruang kerjanya sambil memijat pipiku yang berdenyut dengan es batu. Aku duduk di sofa sambil memeluk bantalnya, menyangga daguku dengan benda itu. Halabeoji? Ah… Dia terus berjalan mondar-mandir di depanku, membuatku pusing.
"Kau sadar apa yang sudah kau lakukan?! Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu, EOH?!"
Ya… Ya… Halabeoji sedang memulai ceramahnya sekarang. Aku akan diam… Menjadi anak baik… Hey! Aku bukan tipe anak durhaka yang memotong pembicaraan orang tua, kalian harus tahu itu!
"Dan kalian hampir saja membuat keributan di rumah sakit! Apa yang akan terjadi kalau ada orang luar yang tahu?", lanjut Halabeoji.
Tentu saja itu akan mempengaruhi citra keluarga Jung. Dan akan jadi headline di seluruh surat kabar dan news-online di seluruh Korea. Dan itu buruk. Sangat sangat buruk.
"Mianhae, Halabeoji… Aku tidak akan mengulanginya lagi.", akhirnya aku bersuara.
"Jangan minta maaf padaku. Minta maaf pada hyung-mu sana!", perintah Halabeoji .
Mwo?! Aku, pada Yunho-hyung. Ck. Yang benar saja…
Aku bahkan tidak berani menemuinya sekarang.
APA? Aku terdengar seperti pengecut? Ah. Terserah kalian ingin berpikir seperti apa. Aku akan memaafkan kalian karena memang kalian tidak tahu apa-apa.
"Ne… Aku akan minta maaf padanya, nanti…", jawabku dan entah kapan 'nanti' yang ku maksudkan itu.
"HHHhh…", Halabeoji menghela napas berat, "Kalau saja Yoochunie tidak segera memberitahuku, kau pasti sudah babak belur dihajar hyung-mu sendiri sekarang."
AH! Yoochun-hyung! Kenapa aku bisa lupa soal hyung-jidat-lebar itu. Tentu saja Halabeoji bisa menyusulku ke rumah sakit kalau Yoochun-hyung yang memberitahunya. Aishh… Dia memang berbakat jadi mata-mata!
"Kau! Kembali lah ke kamarmu. Renungkan kesalahanmu dan lekas pergi minta maaf pada Yunho kalau kau tidak mau aku membongkar ruang-berisikmu itu sekarang juga!", lanjut Halabeoji.
ANDWAEEEE!
Jangan ruang-berisikku! Ah! Kalian pasti tidak mengerti maksud Halabeoji. Maksudnya dengan 'ruang-berisik' adalah studio band pribadi disamping kamarku. Ne. Aku ini anak band! Aku dan tiga temanku yang lain sepakat membentuk sebuah grup band yang akan menjadi top-star masa depan. Kalian tidak percaya?! Terserah! Tapi lihat saja, jika datang saatnya nanti, kalian pasti akan sangat menginginkan tandatanganku!
"Ne… Aku pergi, Halabeoji.", aku pamit keluar dan menuju kamarku.
Hahhh~
Aku melempar tubuhku ke atas tempat tidur, ku lihat langit-langit kamarku lalu tersenyum. Bukan. Aku bukan gila. Aku tersenyum melihat photo Jaejoongie yang ku tempel disana. Terdengar kampungan?! Hey! Ini kamarku, aku penguasa disini, aku bebas melakukan apa saja.
Mengingat Jaejoongie, membuatku mengingat tindakan ekstrem yang baru saja ku lakukan. Demi nama grup band-ku! Aku tidak sadar saat itu, baiklah mungkin aku sadar, tapi aku melakukannya begitu saja. Aku menciumnya setelah melihat mata indahnya. Aku tidak menyesal sedikitpun karena telah menciumnya. Ya… meskipun aku mendapat ganjaran yang setimpal karena itu. Ugh… Pipiku sakit.
Sekarang tinggal bagaimana caranya aku menemui Yunho-hyung. Ne. Ne. Sebenarnya aku tidak ingin memanggilnya begitu, tapi Halabeoji selalu mengancam akan menghancurkan ruang-berisikku, maksudku, studio band-ku jika aku tidak memanggil Yunho-hyung dengan Yunho-hyung. Alhasil, itu menjadi kebiasaan buatku.
Ku jelaskan sedikit disini untuk kalian yang terlanjur membenciku.
Soal diriku dan Yunho-hyung, akan ku ceritakan meskipun aku sangat malas melakukannya. Dan aku hanya akan bercerita garis besarnya saja. Jika terlalu rinci, aku takut aku malah akan dikeluarkan dari cerita ini. *author: lagipula ceritanya udah mau tamat, yongyongie*
Baiklah. Kita mulai…
Appa-ku, kalian bisa memanggilnya Jung Appa, dan Appa Yunho-hyung adalah orang yang sama. Tapi, kami terlahir beda umma . Umma -ku dan Tante Jung, begitu aku memanggil Umma -nya Yunho-hyung. Aku tahu dia juga (mantan) istri Appa-ku, tapi dia bukan umma -ku, jadi aku akan memanggilnya Tante Jung saja.
Ku lanjutkan.
Umma -ku dan Tante Jung adalah wanita yang sama-sama baik, sama-sama cantik, tapi lebih cantik umma -ku pastinya, dan sama-sama punya tempat di hati appa.
Umma -ku adalah cinta pertama appa. Sedangkan, Tante Jung adalah wanita pilihan Halmeoni-ku untuk menjadi istri appa.
Cinta segitiga? Ya… Kurang lebihnya seperti itu.
Appa yang notabene-nya sangat menghormati orang tua, akhirnya memutuskan untuk menikah dengan Tante Jung. Ya… dan mencampakkan umma -ku. Astaga, kalau umma tahu aku berpikir seperti ini tentang appa , dia pasti akan marah padaku. Umma -ku yang di surga, maafkan anakmu ini, ne.
Singkat cerita, setelah menikah dengan Tante Jung, appa masih tetap tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang juga mencintai umma -ku. Dan, Tante Jung tahu itu dengan baik. Hingga akhirnya Tante Jung mengambil keputusan besar saat itu.
Tante Jung meminta restu kepada Halmeoni untuk mengijikan appa menikah dengan umma -ku setelah menceraikannya terlebih dahulu. Awalnya Halmeoni menolak keras, tapi Tante Jung akhirnya meyakinkan Halmeoni bahwa ia tidak bisa terus hidup bersama pria yang tidak 100% memandangnya. Mungkin karena sesama wanita, Halmeoni luluh dan mengijinkan appa menikah dengan umma -ku.
Aku tahu aku terdengar kejam pada Tante Jung. Tapi, untuk semua pengorbanan yang ia lakukan, aku berhutang banyak padanya. Karena Tante Jung, setidaknya umma -ku bisa bahagia bersama orang yang ia cintai di sisa hidupnya.
Ne, umma -ku sakit. Dan dia meninggal beberapa bulan setelah melahirkanku. Aku tidak ingat momen-momen yang ku alami bersamanya, tapi appa-ku menyimpan banyak sekali photo umma , jadi aku tetap bisa mengingatnya dengan baik hingga saat ini.
Setelah bercerai dengan appa, Tante Jung memutuskan untuk pindah dan memulai usaha sendiri. Ne, Tante Jung berasal dari keluarga kelas menengah sama seperti umma -ku. Banyaknya persamaan diantara keduanya, membuat mereka tetap rukun satu sama lain, ini berdasarkan cerita dari Halabeoji. Dan aku berharap itu benar.
Saat bercerai, Yunho-hyung masih kecil saat itu, sekitar usia 2 tahun. Aku? Tentu saja aku belum ada saat itu. Aku dan Yunho-hyung berbeda usia hampir 3 tahun. Ne, aku 16 tahun sekarang.
Ku kira cukup soal keluargaku. Sekarang kembali ke bagaimana-caranya-aku-minta-maaf-pada Yunho-hyung.
Apa aku datang saja menemuinya dan bilang 'Hyung, aku menyesal, maafkan aku' ?
Ani… Aku sama sekali tidak menyesal karena mencium Jaejoongie.
Hhhh…. Memikirkannya saja membuat pipiku semakin berdenyut sakit. Akan ku pikirkan besok lagi saja. Sekarang saatnya aku tidur dan memimpikan Jaejoongie~
.
.
Besoknya, di sekolah, jam istirahat…
"Sepertinya ada seseorang yang tertimpa hukuman Tuhan disini…"
Sial. Itu Yoochun-hyung! Dia sengaja mengejekku di depan senior-senior lain?! Awas kau hyung-jidat-lebar…!
"Eh? Kenapa pipimu? Kau berkelahi?", tanya Kibum Sunbae-nim, satu-satunya senior normal menurutku.
"Ah… Ani… Aku di pukul Yunho-hyung.", jawabku, lebih baik aku jujur daripada membiarkan Yoochun-hyung yang membocorkannya.
"MWO?!", teriak Kibum Sunbae-nim, Changmin Sunbae-nim dan Junsu Sunbae-nim. Yaa… aku lebih dekat dengan mereka daripada dengan teman-teman seangkatanku.
"Tapi… Kenapa? Pasti ada alasan yang kuat, Yunho Sunbae-nim bukan orang yang ringan tangan setahuku…", Junsu Sunbae-nim yang bertanya.
"Itu… Karena… Eum… Aku…", apa aku harus memberi tahu mereka?
"Aku… Apa?", kali ini Changmin Sunbae-nim, ia mendekat dan membuka mata lebar-lebar. Astaga aku merasa tertekan disini. Apa ini masuk tindakan bullying? Apa aku bisa melaporkan mereka ke Komisi perlindungan anak?
"Aku… A-aku mencium Jaejoongie kemarin.", Ahhh… pada akhirnya aku mengatakannya juga.
"O…", mereka ber-'O' ria, kecuali Yoochun-hyung. Dia pasti sudah tahu.
"MWOOO?!", bingo! Teriakan kedua.
"Kau?! Mencium Kim Jaejoong?", tanya Junsu Sunbae-nim tidak percaya.
Aku mengangguk sebagai jawaban.
"D-dimana?", waw, aku tidak tahu kalau Kibum Sunbae-nim punya rasa penasaran juga. Ku kira dia orang yang netral-netral saja.
ChangSu Sunbae-nim ikut-ikutan menatapku penasaran. Apa mereka tidak bisa menebak saja? Aish…
Aku menunjuk bibirku dengan jadi telunjuk. Ku lihat mereka menghela napas kaget.
"Aaa… Pantas saja. Kalau di sana, aku justru heran kenapa kau masih bisa pergi hidup-hidup setelahnya.", kata Junsu Sunbae-nim. Apa dia mengharapkan aku mati? Dasar pantat-bebek!
.
.
Sore itu aku berniat kembali ke rumah sakit. Menurut pernyataan Jaejoongie, hari ini dia sudah boleh pulang. Tapi dia pasti menunggu appa -nya menjemput. Jadi, dia pasti pulang di sore menjelang malam. Ku kira aku bisa menemuinya sebentar untuk minta maaf.
Aku tahu, aku tahu, seharusnya aku minta maaf pada Yunho-hyung. Tapi… Ya… Mungkin Jaejoongie bisa jadi mediator untuk kami. Bukannya aku takut… Baiklah, ya ya, aku takut, kalian puas?!
Sekeras apapun aku berusaha membenci Yunho-hyung, jauh di dalam hati ini, aku sangat mengaguminya sebagai seorang hyung. Menurutku dia sosok hyung yang sempurna. Ah, sudahlah, aku akan mengatakan semuanya saja sekalian.
Bagiku, Yunho-hyung adalah sosok idola.
Lalu kenapa aku bersikap seolah-olah aku membencinya, seperti saat Yoochun-hyung menyeretku tempo hari? Oh, ayo lah… Demi seluruh anggota TVXQ. Aku juga seorang namja dengan harga diri. Terdengar konyol? Aish… Kalian tidak akan mengerti.
Aku iri dan mengidolakan Yunho-hyung di saat bersamaan. Aku ingin menjadi sosok seperti dirinya. Kharisma, sikap dan pembawaannya dalam kehidupan sehari-hari menjadi panutan tersendiri buatku.
Aku tidak suka dibanding-bandingkan dengan orang lain. Tapi aku kerap membandingkan diriku sendiri dengan Yunho-hyung.
Yunho-hyung sempurna di segala bidang pelajaran. Aku juga, kecuali matematika. Aish… Kenapa orang-orang susah payah mencari X sementara X hanya berguna bagi para bajak laut di luar sana!
Yunho-hyung punya Tante Jung. Aku… Cuma punya Halabeoji setelah Halmeoni meninggal beberapa tahun lalu. Aku lupa bilang. Halmeoni menyayangiku sama halnya dia menyayangi Yunho-hyung, mungkin ia merasa bersalah pada umma -ku dan kasihan padaku, entahlah.
Yunho-hyung akan jadi pewaris Jung Corp.. Oke, sebenarnya untuk yang satu ini aku tidak terlalu iri. Jujur, aku sangat bersyukur saat Halabeoji mengatakan soal ini padaku. Kenapa? Aku bukan tipe orang yang bersedia menanam pantatku di atas kursi pimpinan seharian yang melakukan tanda tangan disana sini, membaca laporan-laporan bodoh. Ah. Aku lebih suka berekspresi di ruang-berisikku, maksudku, di studio-band-ku. Hey! Aku harus konsisten dengan apa yang ingin ku capai di masa depan.
Yunho-hyung punya Jaejoongie. Ini! Ini yang membuatku sangat IRRRIIIII! Seandainya aku bertemu Jaejoongie lebih awal. Aishhhh….! Ini menyebalkan!
.
.
Aku ada di depan pintu ruangan Jaejoongie sekarang. Err… Kenapa aku sangat gugup. Berdasarkan peringatan dari Yoochun-hyung, aku yakin, Yunho-hyung ada didalam sekarang.
HUFFF…
Aku menghembuskan napas keras.
Baiklah, Jung Yonghwa, bagaimana pun kau adalah seorang JUNG! Sekarang atau tidak selamanya. AYO…! Fightiiiing!
Ini konyol. Tapi, sejak aku akan sulit mendapat dukungan kalian, aku akan menyemangati diriku sendiri.
Aku membuka pintu dengan sangat pelan. Astaga, jantungku berdetak tidak karuan. Tuhan… Turunkanlah malaikat-Mu yang bisa meredam amarah Yunho-hyung padaku. Amin.
Saat aku masuk, aku heran, tidak ada siapa-siapa disana, hanya Jaejoongie yang sedang melipat selimut sambil duduk bersila di atas tempat tidur. Ia sudah tidak memakai piyama rumah sakit lagi. Ia tidak menyadari kehadiranku saking konsentrasinya melipat selimut. Astaga. Dia lucu sekali…
.
.
.
===HARD TO BELIEVE===
.
.
.
9.2 Kim Jaejoong, Apa Kau Bisa?
Hari ini aku bisa pulang. YAY! Aku sangat senang. Aku tidak harus lagi makan makanan yang tidak enak disini. Aku sering tidak menghabiskan makanan disini.
Umma -ku di surga… Maafkan Joongie, ne! Joongie sudah melanggar nasehatmu untuk tidak menyia-nyiakan makanan. Tapi, makanan itu benar-benar tidak enak.
Setiap malam selama di rumah sakit aku selalu berdoa seperti itu. Aku yakin, Tuhan akan menyampaikannya pada umma -ku.
Aku sudah berganti baju. Tidak ada lagi piyama bau obat itu. Ahh… Senang senang senang sekali. Aku tidak mau lagi ke rumah sakit seperti ini, memuakkan! *makanya umma jangan bandel kalo di kasih tahu…* #dipeluk-umma
Hm… Aku sedang menunggu Hyunjoong-Oppa dan Appa untuk menjemputku. Tadi Hynjoong-Oppa ada disini tapi dia bilang mau keluar sebentar, ada urusan mendesak. Dia bilang mau ke… ke… kemana ya? Aku lupa. Aishh… aku ini benar-benar payah. Appa akan menjemputku sebentar lagi. Tapi… Apa Yunho-Oppa juga akan datang? Kemarin dia bilang akan menjemputku juga…
Kemarin…
.
.
===Flashback===
"Ha-Halabeoji…?"/"Halabeoji…!"
Eh? Halabeoji ? Nugu? Aku bingung saat seorang kakek masuk ke ruanganku. Aku tidak mengenalnya tapi aku bersyukur dia datang di saat yang tepat.
"Apa yang kau lakukan disini Anak Bodoh?!", kata kakek itu sambil memukul kepala Yonghwa dengan tongkatnya.
"Ke-kenapa Halabeoji bisa ada disini..?", tanya Yonghwa bingung sambil mengusap kepalanya.
"Kau meremehkanku, eoh? Dasar kau ini. Sedikit saja aku tidak memperhatikanmu, langsung berulah…!"
Kakek itu kembali memukul Yonghwa.
"Sudah… Sudah… Ada apa ini? Maafkan aku, tapi kalian siapa? Kenapa membuat keributan disini? Kalian menakuti yeodongsaeng-ku!", Hyunjoong-Oppa melerai dengan menahan tongkat si kakek.
"Dia Halabeoji -ku…", kata Yunho-Oppa tiba-tiba.
"Mwo?!", Hyunjoong-Oppa bingung, aku juga.
"Dia Halabeoji -ku dan orang yang dipukulinya… Namdongsaeng-ku.", lanjut Yunho-Oppa sambil menatap Yonghwa marah.
"Hh.. Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Dan kenapa kalian berkelahi seperti ini. Tapi ku kira kalian bisa menyelesaikan masalah kalian di luar. Jangan disini…", Hyunjoong-Oppa mencoba menengahi.
"AH! Ne… Maafkan aku dan cucu bodohku ini.", kakek itu membungkuk minta maaf sambil mendorong kepala Yonghwa ke bawah, agar ia membungkuk maaf juga.
"Aku akan membawanya pulang. Maaf sudah membuat kekacauan…", lanjut kakek itu.
"Kita bertemu nanti ne Yunho-ah…", kalimat terakhir kakek itu sebelum benar-benar menghilang bersama Yonghwa.
"Jadi… Ada yang ingin menjelaskannya padaku? Aku sedang bingung disini!", Hyunjoong-Oppa menatapku dan Yunho-Oppa sambil bertolak pinggang.
"I..itu..tadi…", aku mencoba menjelaskan tapi bingung mencari kata-kata yang tepat.
"Kami hanya terlibat kesalahpahaman, hyung. Hanya masalah kakak-adik. Hyung tidak usah cemas.", kata Yunho-Oppa tiba-tiba. Apa Yunho-Oppa sudah tidak marah? Tidak mungkin. Dia hanya sedang meredam amarahnya saja.
"Begitu? Baiklah. Kuharap memang tidak terjadi apa-apa saat aku tidak ada disini tadi.", kata Hyunjoong-Oppa sambil menatapku. Aku hanya menundukkan kepala. Aku tidak berani melihatnya.
"Aku anggap itu sebagai tidak…", lanjut Hyunjoong-Oppa saat melihatku yang diam saja.
"Kau bisa pulang Yunho-ah. Aku akan mengunggu—"
Hyunjoong-Oppa menghentikan kalimatnya ketika ponselnya berdering.
"Ne. Kim Hyunjoong disini."
*diam*
"Ne. Aku tahu soal itu.. Memangnya—"
*diam*
"Mwo?! Yang benar saja. Mereka tida—"
*diam*
"Dengar! Jangan ambil tindakan apa pun. Tunggu aku. Oke!"
PIPP
Hyunjoong-Oppa memutus hubungan teleponnya. Ia lalu berjalan menghampiriku.
"Nae-Princess , maafkan Oppa . Tapi Oppa harus pergi sekarang. Oppa akan telepon appa untuk datang menungguimu, hem?"
"Ani, Oppa … Appa pasti sibuk mengurus bisnisnya dari jauh seperti ini. Tidak apa Joongie sendiri. Joongie bukan anak kecil lagi…", jawabku meyakinkan.
"Tapi—"
"Aku akan menjaganya, hyung!", Yunho-Oppa menawarkan bantuan.
"Mwo?! Ahaha… Yang benar saja. Aku tidak bisa meninggalkanmu begitu saja bersama Nae-Princess …"
"Aku tidak akan berbuat macam-macam…", lanjut Yunho-Oppa mencoba meyakinkan.
Hyunjoong-Oppa diam beberapa saat. Lalu…
"Baiklah. Aku akan kembali sebelum jam 9 malam. Selama itu, jangan sekali-kali berpikir berbuat yang aneh pada Nae-Princess . Atau ku patahkan lehermu, arra ?!"
"Tentu saja.", jawab Yunho-Oppa singkat.
Setelah itu, Hyunjoong-Oppa pergi, meninggalkanku dengan Yunho-Oppa .
Entah aku saja atau memang suasana terasa canggung sekarang ini. Ditambah lagi jika mengingat apa yang terjadi beberapa saat lalu antara aku dan Yonghwa. Apa Yunho-Oppa marah padaku? Dia masih berdiri dalam diam, membelakangiku.
"O-Oppa … Gwaenchana?", tanyaku ragu sekaligus cemas.
"…"
"Oppa … Marah padaku?", tanyaku lagi.
"…", Oh Tuhan… Dia benar-benar marah sampai tidak mau bicara padaku?!
"Mianhae…", lanjutku sambil menahan isakan.
"Jangan minta maaf!", ia membalikkan tubuhnya, ia menatapku sekarang. Astaga! Demi apapun! Aku tidak suka melihatnya menatapku seperti itu.
"Aku… Itu… Itu tidak seperti yang terlihat, kau salah paham. Aku dan Yonghwa—"
Sebelum aku menyelesaikan kalimatku. Yunho-Oppa menarikku ke pelukkannya. Ia melingkarkan tangannya dibahuku. Wajahku bersandar di dadanya. Bisa kurasakan ia mengecup puncak kepalaku. Dia tidak marah padaku? Syukurlah…
Aku menangis di pelukannya. Tangisan lega karena dia tidak salah paham padaku. Sesaat tadi aku merasa seperti seorang kekasih yang tertangkap basah sedang berselingkuh.
"Mianha—"
"Sudah kubilang jangan minta maaf. Itu bukan salahmu…", katanya setelah melepaskan pelukannya, masih tetap memegang bahuku.
"Ka-kau tidak marah padaku?", tanyaku sambil mengusap pipi yang basah dengan punggung tangan.
"Kenapa aku harus marah padamu? Aku tahu bocah itu memang sangat… Arkh… Awas saja dia kalau aku bertemu lagi—"
"Jangan memukulnya lagi…", potongku spontan.
Yunho-Oppa menatapku tidak percaya. Ia menurunkan tangannya dari bahuku.
"Kau membelanya?!", tidak! Jangan salah paham lagi…
"A! Ani… Bukan begitu, aku hanya tidak suka melihat Oppa bertindak kasar seperti itu. Itu menakutiku…", jawabku cepat.
Kami diam beberapa saat. Tidak ada yang berkata selama hampir 5 menit.
"Maafkan aku, Joongie…", katanya tiba-tiba.
"Ne?"
"Maafkan aku karena menakutimu…"
Aku tersenyum mendengarnya.
"Tidak apa, Oppa . Jangan diulangi lagi, ne?"
"Hhh…", dia menghela napas sambil tersenyum, astaga, tampan sekali, "Kenapa kau terdengar seperti umma -ku yang mendapatiku tidak sengaja memukul anak tetangga?", lanjutnya lalu tertawa.
"Aaa~ Oppa ! Jangan mentertawakanku seperti itu…", aku membuang muka darinya, astaga, pipiku panas.
"Hey… Hey… Kenapa kau jadi marah padaku?"
"…"
"Hey…"
"…", aku tidak menghiraukannya, setidaknya sampai pipiku kembali normal.
"Kim Jaejoong, lihat aku!", Yunho-Oppa memegang sisi wajahku dengan tangannya, mengarahkanku supaya melihatnya.
Aku diam tak bergerak. Astaga! Terlalu dekat!
"Kau tahu ada dua hal yang sangat kubenci darimu?"
"EH?!", dia membenciku?
"Hm.. Yang pertama, mellihatmu menangis seperti ini…", katanya sambil mengusap jejak air mata di pipiku.
"Kedua… ", dia menatap bibirku sekilas lalu kembali menatap mataku.
"Melihatmu di cium namja lain seperti tadi…"
Aku menutup mataku saat kulihat dia mendekatkan wajahnya. Aku tahu apa yang selanjutnya akan terjadi. Dan aku senang itu terjadi.
CHUU~
Kami berciuman, lama sekali. Kurasakan tangannya melingkar di pinggangku.
Setelah dirasa paru-paru kami butuh oksigen, ia melepaskanku.
"Jangan pernah sekali pun membiarkan namja lain berada terlalu dekat denganmu lagi, arra ?", katanya dengan wajah kesal. Haha… Lucu sekali melihat sisi lainnya yang seperti ini.
"Ne… Tidak akan lagi. Kecuali appa dan Hyunjoong-Oppa …"
Dia tersenyum lalu mengacak rambutku.
"Baiklah, kecuali mereka…"
Kami saling bercanda setelah itu. Hhh… Begini ya rasanya berbaikan setelah bertengkar? Rasanya kami seperti pasangan suami istri yang baru saja rujuk. Aish… Berpikir apa aku ini.
"Oppa…"
"Hm?"
"Saranghae~" CUPPH
Astaga apa yang ku lakukan? Aku mencium pipinya! Aaa~ pipiku merah lagi! *umma! u-know you got it!*
.
===Flashback End===
.
.
Semuanya sudah rapi, tinggal menunggu appa , Hyunjoong-Oppa dan Yunho-Oppa menjemputku. Ah.. tapi apa yang bisa kulakukan selama menunggu? Ini membosankan. Aku pun mengacak-acak selimut untuk dilipat kembali. *umma aneh ._.*
Aku sedang melipat selimut ketika aku merasa seseorang sedang memperhatikanku. Apa rumah sakit ini berhantu?!
"Annyeong, Jaejoongie~", astaga itu hanya Yonghwa, kukira hantu. Eh? Tunggu dulu. Kenapa dia ada disini lagi?
"Yo-Yonghwa sedang apa disini?", tanyaku sedikit cemas mengingat kejadian kemarin.
"Dengar! Jangan salah paham, ne?", jawabnya cepat menyadari sikapku yang defensif.
"Aku ingin minta bantuanmu. Aku tahu kemarin aku sudah kurang ajar padamu. Tapi, percayalah, aku tidak bisa menahannya, aku melakukannya begitu saja…", lanjutnya. Alasan macam apa itu?
"Bantuan apa?"
"Aku minta bantuanmu untuk menjadi mediator antara aku dan Yunho-hyung."
"Ke-kenapa aku…?"
"Apa kau tega membiarkanku menemui ajalku sendiri. Aku mohon Jaejoongie, setidaknya kalau bersamamu aku jadi lebih berani…", lanjutnya.
Aku tidak bisa menahan tawaku mendengar penuturannya.
"YA! Kenapa malah tertawa?!", tanyanya kesal.
"Aku tidak menyangka kau tipe dongsaeng yang takut pada hyung-nya… Hufttt…"
"Yaaa… Kau itu. Apa yang kau harapkan? Aku yang pembangkang begitu? No, no, no. Bagaimana pun aku sudah berjanji untuk menjadi namja baik-baik. Hm", lanjutnya tegas.
"Baiklah…"
"Benarkah?"
"Hmm… Apa kau akan menemuinya sekarang? Kurasa dia sedang dalam perjalanan kemari."
"Se-secepat itu?", tanyanya jadi gugup.
"Ku kira lebih cepat lebih baik…"
"Ba-baiklah… Aku akan menunggunya kalau begitu…", ia lalu duduk di sofa di ujung ruangan, bersebrangan dengan tempat tidur.
Cukup lama kami menunggu sampai akhirnya kami mendengar suara langkah kaki mendekat. Tapi kemudian menjauh lagi. Berarti itu bukan Yunho-Oppa atau Hyunjoong-Oppa atau appa -ku. Ku lihat wajah Yonghwa sesaat menegang kemudian kembali tenang. Huhu… Antara senang dan kasihan aku melihatnya seperti itu.
CKLEK!
Ah siapa yang datang?!
.
.
.
Aku sudah kembali ke rumah sekarang… Huahhh… nyaman sekali rasanya kembali tidur di kamar sendiri. Tak lama aku merasa lapar, ku putuskan turun ke dapur mencari sesuatu yang bisa dimakan. Tenang saja, aku tidak akan makan ramen lagi, setidaknya untuk beberapa minggu ke depan. Hehe.
Setelah mendapatkan apa yang ku cari di dapur, aku memutuskan untuk bersantai sejenak sambil menonton televisi. Aku berjalan dan tidak sengaja kudengar appa dan Hyunjoong-Oppa sedang berbicara di ruang kerja appa . Pintunya sedikit terbuka.
"Appa bilang seperti itu?", kudengar suara Hyunjoong-Oppa , sepertinya dia kaget akan sesuatu.
Aku hendak pergi dari sana, aku tahu mencuri dengar pembicaraan orang lain itu tidak baik. Tapi aku berubah pikiran ketika…
"Bukan… Bocah Jung itu yang mengatakannya…", itu suara appa -ku. Tunggu dulu apa yang dimaksud dengan bocah Jung itu…?
"Namanya Yunho, Appa .", kata Hyunjoong-Oppa lagi.
"Ya ya anak itu. Dia yang mengatakan kalau—"
Dan aku mendengar semuanya. Tentang nilai 80 dan kepergianku ke Hongkong. Tunggu dulu. Itu artinya, jika aku dapat 80, maka aku tidak harus pergi dari Korea?! Astaga. Astaga. Aku harus belajar. Bukan saatnya aku bersantai-santai.
Aku kemudian bergegas kembali ke kamar, ku buka kembali buku-buku yang sempat kulantarkan selama di rumah sakit. Oh Tuhan… Bantu aku agar mendapat nilai 80.
Umma … Tolong minta pada Tuhan untuk membantuku. Aku yakin Dia mendengarkanmu di surga sana…
Ucapku sambil menatap photo umma di meja.
Malam itu… aku belajar dan belajar sampai tidak sadar aku tidur ditengah-tengah hamparan buku di atas tempat tidurku.
.
.
Seseorang masuk ke kamarku saat aku sedang tertidur. Kalian bertanya lagi kenapa apa aku bisa tahu? *berbisik*Aku di beritahu author itu… #nunjuk-author-yang-lagi-ngetik *berbisik selesai*
Siapa pun orang itu, ia membereskan buku-buku dan membetulkan posisi tidurku. Menyelimutiku lalu mengecup keningku.
"Apa kau bisa, Jaejoongie?", gumamnya lalu pergi.
Kata-kata itu masuk ke dalam mimpiku…
Apa kau bisa, Kim Jaejoong?
.
.
.
===HARD TO BELIEVE===
.
.
.
9.3 Sudahlah, Jung Yunho
Jaejoongie pulang hari ini. Aku sudah bilang padanya aku juga akan ikut menjemputnya lalu mengantarnya ke rumah. Hyunjoong-hyung juga tidak keberatan aku ikut. Dia bilang dia akan menyampaikan hal ini pada Kim Ahjussi.
Aku sedang di perjalanan kesana. Aku terus melamunkan Jaejoongie sampai aku tidak sadar aku sudah berdiri di depan pintu ruangannya. Aku mengusap pipi kiriku, mengingat ciuman Jaejoongie disana. Apa aku terdengar seperti orang gila? Ne.. Kim Jaejoong membuatku gila! Dan aku menikmati kegilaanku ini.
CKLEK!
Aku membuka pintu dan seketika senyumanku menghilang saat melihat seseorang duduk di sofa. Begitu melihatku dia langsung berdiri. Bisa kubilang dia terlihat gugup melihatku. Mau apa dia kemari?
"Oppa!"/"H-Hyung…", sapa Jaejoongie dan orang itu bersamaan.
Aku berjalan mendekati Jaejoong tapi pandanganku tak pernah lepas dari orang itu.
"Mau apa kau kemari?", tanyaku mengintimidasi.
"Oppa~", kurasakan Jaejoongie merangkul lenganku, "Yonghwa datang untuk minta maaf padamu…", lanjutnya.
"Minta maaf?!", tanyaku sedikit tidak percaya. Bocah ini? Waw..
"Ne. Hyung. Dengar, aku minta maaf untuk perbuatanku kemarin. Aku tidak tahu harus mengatakan apa agar kau memaafkanku. Karena aku pun bingung kenapa aku sampai mencium kekasihmu… Aku..", dia diam. Kenapa diam? Kehilangan kata-kata eoh?
Aku maupun Jaejoongie tidak ada yang bersuara. Kami menunggu kata-kata berikutnya dari bocah itu.
"Aku minta maaf, Hyung. Maafkan aku.", katanya kemudian lalu membungkuk 90 derajat dan diam terus seperti itu. Sepertinya anak ini sungguh-sungguh. Apa aku maafkan saja? Ck. Tidak semudah itu.
Aku diam membiarkannya dalam posisi itu selama beberapa saat sampai kurasakan kembali Jaejoongie mengeratkan rangkulannya di lenganku.
"Oppa~", apa ini? Jaejoongie merengek? Untuk bocah ini?
"Mwo?", tanyaku pura-pura tidak mengerti.
"Maafkan dia, ne?",
"Apa ini sudah semua?", tanyaku sambil mengambil tas berisi barang-barang Jaejoongie.
"Eh? Ne… Sudah semua…"
"Kalau begitu ayo, Hyunjoong-hyung dan Kim Ahjussi menunggu di mobil.", aku menarik Jaejoongie keluar dari ruangan itu.
"Oppa… Tapi, Yonghwa…", kata Jaejoongie saat kami hampir keluar ruangan.
Aku berhenti sejenak di depan pintu yang terbuka. Bocah itu, dia masih pada posisinya.
"Ya! Apa kau akan seperti itu selamanya? Pulanglah sebelum Halabeoji mengkhawatirkanmu!", kataku lalu berjalan menjauhi ruangan itu.
Setelah melangkah cukup jauh, ku dengar seseorang berteriak dari belakang.
"Hyung! Kau memaafkanku?", begitu katanya.
Aku tidak menghentikan langkahku namun hanya menoleh sekilas kearahnya.
"Apa kau bodoh?", kataku. Bisa kullihat seringaian bodoh di wajah bocah itu. Ia lalu melesat berlari ke arahku. Ia merangkulku tiba-tiba.
"Gomawo, Hyung! Kau yang terbaik!"
"Lepaskan aku bodoh! Dan jangan berteriak di rumah sakit!", kataku sambil menepis tangannya dari pundakku.
"Berikan padaku. Biar aku yang bawa!", bocah itu merebut paksa tas berisi barang-barang Jaejoongie. Lalu ia berpindah ke sebelah Jaejoongie. Aku menarik kerah bajunya sebelum ia sempat mengeluarkan seringaian bodohnya kepada Jaejoongie.
"Kau diam disini!", kataku saat dia sudah kembali berjalan di tempatnya semula sehingga aku menjadi penghalang antara dia dan Jaejoong-ku.
"Kau tidak diijinkan mendekati Jaejoong-ku lebih dari 2 meter, arra?!"
"Oppa~", kurasakan Jaejoongie memukul lenganku. Apa? Aku hanya mempertahankan apa yang menjadi milikku!
Mempertahankan Jaejoong, mengingatkanku dengan hal yang ku bicarakan dengan Kim Ahjussi .
.
.
Sesampainya di rumah Jaejoongie, aku sedikit kaget karena rumahnya yang besar dan mewah. Bukan aku aneh atau apa, toh rumah Halbeoji juga sama seperti ini. Aku hanya tidak terbiasa.
"Lalu bagaimana dengan kegiatan tutoring kalian?", tanya Kim Ahjussi.
"Ah? Aku belum memikirkan hal itu—", jawabku jujur.
"Tsk. Kau ini. Lantas bagaimana caranya Nae-Princess bisa mendapat nilai 80 kalau tidak belajar denganmu…", lanjutnya. Tunggu dulu, kenapa aku merasa ada yang aneh dengan kalimatnya barusan. Sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja.
"Mereka bisa belajar di sini saja, kan?", kata Hyunjoong-hyung.
"AAh! Kau benar! Kalian belajar di sini saja…"
"Eh? Disini?", kata Jaejoongie.
"Ne? Wae?", tanya Kim Ahjussi.
"Kalau di sini berarti Joongie tidak bisa bertemu Jung Umma dan makan makanan buatannya…", lanjutnya dengan wajah sedih.
"Lalu apa? Kau kira appa akan membiarkanmu pergi kerumahnya sementara kau baru sembuh, eoh?", lanjut Kim Ahjussi.
"Akan ku bawakan makanan buatan umma saat kemari…", kataku.
"Jeongmal? Baiklah kalau begitu…", Jaejoongie tersenyum senang.
"Kalau begitu ku kira aku harus pulang sekarang…"
Aku berpamitan pada keluarga Kim lalu langsung menuju rumah. Mulai besok giliranku yang datang ke rumah Jaejoongie. Dan kurang dari seminggu sebelum ujian sekolah dimulai.
.
.
Hari Kamis…
Ujian dimulai Senin depan. Aku dan Jaejoongie sedang belajar di rumahnya. Entah kenapa tapi aku rasa Jaejoongie lebih bersemangat hari ini. Sama sekali tidak tampak kalau dia baru keluar dari rumah sakit.
Hari Jumat…
Tidak seperti kemarin, Jaejoongie terlihat lelah hari ini. Atau hanya perasaanku saja? Dari soal-soal yang dia kerjakan, bisa kukatakan ada sedikit kemajuan meskipun sedikit.
Hari Sabtu…
Baiklah, ini mulai menggangguku sekarang. Ini bukan ilusi mata lagi. Aku bisa dengan jelas lingkaran hitam di bawah mata Jaejoongie. Apa dia begadang semalaman? Untuk apa? Belajar? Keningnya terus berkerut selama dia mengerjakan soal. Sekarang dia bisa mengerjakan soal dengan lebih cepat. Entah itu benar atau salah. Setidaknya itu menambah pointnya dalam mengerjakan cepat, sehingga waktu yang tersisa bisa dipakai untuk memeriksa kembali soal-soal sebelumnya.
"Oppa, jam berapa besok kau datang?", tanya Jaejoongie saat aku sedang membereskan buku hendak pulang.
"Hm? Besok? Kau istirahat saja besok… Gunakan untuk mengistirahatkan otakmu, ne?"
"EHH?! Kenapa? Kenapa begitu? Kau tahu Joongie mudah lupa, kalau besok kau tidak datang, lalu Joongie melupakan semuanya bagaimana?", katanya dengan tatapan histeris.
"Itu tidak akan terjadi, kecuali kau menginginkannya… Aku pulang, ne?", ucapku lalu berjalan keluar rumahnya setelah mengacak rambutnya.
HH… Kau pasti bisa Jaejoongie… Aku tahu kau bisa melakukannya.
.
.
Dan sekaranglah saatnya. Setelah satu minggu melaksanakan ujian. Nilai-nilai mata pelajaran yang diujiankan mulai dipajang di papan pengumuman. Tidak semua mata pelajaran memang, tapi sebagian guru melakukan hal tersebut untuk memberi gambaran pada siswanya, kira-kira berapa hasil yang akan mereka peroleh untuk semester ini.
Sejauh ini aku menemukan tiga nilai 70, dua nilai 80 dan satu nilai 60 atas nama Kim Jaejoong. Rata-ratanya masih 71.6. HHh… Tenanglah Jung Yunho. Masih banyak nilai yang belum diketahui.
Tapi, jika… Ini hanya jika… Jika Jaejoong-ku memang tidak mendapat 80 untuk nilai rata-ratanya. Lalu apa yang bisa kulakukan lagi? Dia akan ikut Kim Ahjussi ke Hongkong? Apa kami akan berpisah secepat ini? Atau aku bisa minta Halabeoji untuk menyekolahkanku disana juga? Banyak universitas bagus disana… Ani... Ani… Aku tidak boleh seperti itu. Aku akan masuk ke universitas karena usahaku sendiri. Ah! Aku bisa mencari beasiswa disana! Benar… Seperti itu. Tapi, bagaimana dengan umma? Aku juga tidak bisa meninggalkannya.
Hahhhh…
Ini benar-benar menguras pikiran.
Sudahlah, Jung Yunho. Apa pun hasilnya nanti. Kau dan Jaejoong-mu sudah berusaha semaksimal mungkin.
Sudahlah… Sudahlah…
.
.
.
.
===To Be Continued===
.
.
.
.
GAHHHHHHH!
#jedotin-jidat-ke-tembok
Apa INIIIIII?!
Haaaa-Huuuu *tarik-napas-keluarkan*
Update agak ngaret karena laptop author bermasalah… di upload dlm keadaan Safe Mode! ck
Pemirsa Yunjae! Apakah Jaejoongie akan dapat 80? Apa Yunho susul saja Jaejoong-nya ke Hongkong jika Kim Appa tetap bersikukuh membawanya pergi?
Seperti yang sudah author sinting ini janjikan…
Besok akan jadi final chap! So… Jangan sampai terlewatkan, ne~
Tapi kalo laptopnya ngadat, jangan salahin author ne! Doakan author punya banyak duit biar beli laptop baru *curcol*
.
.
===Balesan Review===
meirah.1111 : oke. Bab yang ini adalah rekor author sejauh ini. Ckck. Tetep masih kurang panjang, ne? Author payah ._. Ketik JJ(spasi)80 ke 303, wkwk. Lah, jangan nyontek dwong… umma bilang itu ga baik #dipeluk-umma *padahal-authornya-doyan-nyontek-peer-pas-jaman-sekolah lol*
Aichan : gomawo telah menunggu, nih nih … udah apdet! Hho
desi2121 : nee~ yunppa seorang gentleman sejati! Author berasa nulis skenario sinetron Cinta Siti loh chingu *sinetron apaan tuh?*… Ne, pasti author akan berkoar di twitter kalo sequelnya udah siap. wkwk
Han Neul Ra : Ne. itu kakeknya yunppa. Appa-nya? Udah kejawab yah~ lol. Karena semua orang tahu, Yoochun adalah presiden di klub Yunjae-shipper lol *dua kali*. Panggil apa aja boleh lah, bebaskan, asal jangan panggil ahjumma aja *request*
Guest : Nah tuan/nyonya tamu nongol lagi muehehehe… Ne, ne, author juga suka yongyong ^3^ tapi tetep, yunjae forever!
Nina317Elf : udah panjang belon neh? Hha. Semua orang berisik emang. Ckck. Kasian umma dikelilingi mereka. *semua pemain kecuali yunjae nodongin piso*. Ne, bummie seorang yang sehat luar dalam. Wkwk
Nara-chan : author baru follback Nara-chan hari ini. Mianhae m(_ _)m, author selalu berkoar soal chap baru di twitter ko… ne ne neeee~ Yonghwa emang kebangetan *nyalahin pemeran* #dijitak-yongyong
Beakren : Yunppa sudah berjuang, Jaemma sudah berjuang. Tinggal hasil akhir ini yang menentukan… Heuh. Dagdigdugdeg #dor
Guest (lagi) : umma always appa's chingu. Muehehehehe~
Julie YunJae : Yongyong Cuma ga bisa kontrol diri chingu. Sama aj kaya appa, wkwk. Sampai kapanpun, apapun yang terjadi, yunjae is real chingu. Hihihihi. Gpp chingu, udah mau mampir aj udah sukuuurkurkur dah…
gery miku : author juga ko chingu *trus nape dibikin bgono?* #dijitak. Jaemma memang milik yunppa dan kita semua anak-anaknya. Wkwk
riska0122 : kakek yang baik adalah kakek yang menyeret(?) cucunya sebelum masuk jurang *jawaban aneh.* udah asap nih, asap bener dah… ckck
irengiovanny : iya nih, nape dibikin gitu yak? *innocent-gagal* lol. Tapi udah di hapus tuh sama yunppa ciumannya, lamaaaa lagi. Wkwk
Aoi Ko Mamoru : *tarik yongyong*. Jangannnn… hhue. Yg begini udah lovey dovey belom ya ._.a?
aku suka ff : gpp chingu, yang penting di baca *maksa bener*. Ne! tinggal satu lagi.. yoyoyo yunjae!
thasya357 : satu-satu ah chingu. Hhe. Ne, ne, hati umma selalu untuk appa dan sebaliknya. Tinggal nilai umma neh yang belom ketahuan. Lama bener tu guru-guru periksa nilainya *nyalahin orang* #dijewer-umma
.
.
Talk with me on twitter at _ikkimassu
and visit my wp: ikkimassuu. wordpress. comApa kalian udah liat photo umma BAB I nya?
Entah kenapa, photo umma yang satu itu benar-benar merepresentasikan karakter umma di HTB
ohohoho
