Malam ini adalah malam promnight.

Sepulang dari pantai tempo lalu, Taekwoon mengajakku ke mall. Aku fikir hanya mampir untuk makan. Nyatanya, dia malah membeli gaun untukku!

Dia lagi-lagi memilih warna turquoise. Mungkin itu warna kesukaannya? Ntahlah. Aku tidak ingin tahu sampai sana. Lagipula, aku bingung sekali... Kenapa dia membelikanku dress?

Mengejutkannya, dia memintaku untuk menjadi pasangan dansanya di promnight ini. Gila! Aku tidak bisa membayangkan Taekwoon dengan setelan rapih...

Cuma membayangkannya aja bisa membuatku degdegan sampai panas dingin begini.

Sumpah, kayaknya aku sudah tergila-gila dengan kegantengan Taekwoon si rambut silver itu.

Taekwoon mulanya memaksa untuk menjemputku. Tapi aku menolak! Jantungku tidak bisa santai memikirkan hal itu. Sumpah.

Lagipula, aku sengaja datang sendiri agar tetap bisa mengumpat dari Taekwoon dan muncul saat giliranku menampilkan modern danceku di pentas seni nanti.

Sekarang aku disini, memakai jaket jeans berwarna hitam. Aku memakai dress turquoise yang Taekwoon belikan, kok. Tapi ya.. namanya juga Hakyeon. Aku sama sekali tidak menata rambutku sebegitunya. Aku juga hanya memakai make up seadanya. Dan satu-satunya cewek yang hanya pakai wedges.

Seharusnya aku tampil sama mencoloknya seperti cewek lain. Kalau beda sendiri begini, Taekwoon akan melihatku, kan?!

Tapi sejauh ini, Taekwoon belum melihatku. Aku duduk di pojok belakang dekat deretan meja makanan, disebelah Jaehwan yang juga sama malasnya denganku. Sementara kulihat Taekwoon masih berbincang dengan teman-temannya.

Dan Hana.

Haha...

Sudah kubilang juga apa. Bagaimanapun Taekwoon menganggapku sebagai tuan putri, cewek yang disukainya ya jelas Hana. Bukan Hakyeon.

"Yeon, mau anggur?" Tawar Jaehwan.

Aku mengangguk. Ah, ngomong-ngomong tentang anggur, aku jadi ingat janjiku kepada Hani yang akan minum malam ini. "Hani mana, btw?"

"Hani bareng Jeonghwa lagi nyiapin acara nanti malam. Beberapa acara belum disiapin matang-matang katanya."

"Ooh. Acara nanti malam itu... Mabuk.. kan?"

"Ya." Jaehwan membawa dua gelas anggur dan memberikan satu padaku. "Juga yang mau confess gitu-gitu deh. Tapi itu setelah adik-adik kelas pulang."

Iya, memang benar, adik-adik kelas juga diundang. Bagaimanapun, ini acara terakhir kita. Tentu angkatan berharap sebuah hadiah dari adik-adik kelas. Hahahaha.

"Kamu punya pasangan prom, Yeon?"

"Ah.. kemarin sih Taek ngajak aku. Tapi kayaknya aku ga bakalan dansa sama dia, deh? Dia aja sama Hana gitu."

"Serius, Taek ngajak kamu?"

Aku mengangguk. "Iya. Sudahlah, jangan excited gitu." Dengusku pada Jaehwan yang berbinar-binar. Jelas-jelas sudah kukatakan kalau Taekwoon nanti bareng Hana! Bukan bareng aku!

Aku jadi bete sendiri dan lalu memutuskan untuk menambah anggurku lagi.

Dan seharusnya aku tidak melampiaskan rasa beteku ke minuman merah itu!

Sudah tau tidak bisa minum, malah justru menegak tiga gelas secara berurutan tanpa jeda. Bodohnya.

Sekarang aku berada di ruang kecil di pojok aula. Jaehwan dan Hani mengipasiku yang baru saja mengeluarkan isi perutku. Aku kesal sekali pada diriku sendiri.

Dan kesal pada Taekwoon yang ternyata benar-benar tidak mencariku. Aku yang habis muntah begini saja tidak ia ketahui sama sekali. Padahal Jaehwan tadi heboh memanggil orang untuk membopohku.

Kesal.

"Lupakan janjimu kemarin, Yeon. Kamu minum wine aja langsung muntah. Apalagi alkohol yang lain." Tukas Hani yang membuatku terkekeh lemah. Ya memang nyatanya seperti itu.. meski sedikit menghancurkan harga diriku, sih.

Ponsel ditas kecil ku tiba-tiba berdering. Jaehwan membantuku mengambilnya dan menyerahkannya padaku setelah menggeser layarnya.

"Kamu dimana, Yeon?"

Ternyata Taekwoon.

"Kenapa?"

"Apanya kenapa?"

"Kenapa nanyain keberadaan gue?"

Sedikit jeda dari sana. Mungkin kaget karena aku tiba-tiba kembali menggunakan kata 'gue' sebagai pengganti namaku.

"...Kita kan pasangan prom?" Jawabnya, dengan nada bertanya. Aku tertawa.

"Gue dirumah."

"Serius? Kok ramai? Gue juga dengar suara Hani."

Hatiku mencelos sakit, karena Taekwoon juga kembali memakai 'gue' sebagai pengganti namanya. Memangnya berharap apa kamu, Hakyeon? Tentu dia memakai aku-kamu kemarin hanya sekedar php.

"Ya." Sedikit tidak nyambung, tapi itu responku sebelum dia menutup telepon sepihak dan tiba-tiba muncul dihadapanku dengan wajah panik.

Cowok itu menata rambutnya keatas meski masih punya poni samping. Jasnya hitam pekat dengan segitiga berwarna turquoise di sakunya. Aku tidak bisa mendeskripsikan lebih... Karena dia terlalu tampan.

"Astaga, Hakyeon!"

Aku mimisan lagi.

KARENA JUNG TAEKWOON TERLALU GANTENG.

ㅡo00oㅡ

"Lo sakit?"

Taekwoon duduk disebelahku sekarang. Aku sudah tidak dibaringkan lagi. Aku tengah menonton pentas seni sambil makan nasi, dan menyesali perbuatanku hari ini yang menyebabkan aku harus batal tampil.

Mengesalkan.

Aku juga tidak berminat untuk menjawab Taekwoon sama sekali. Penggunaan kata ganti lo-gue darinya itu bikin sedih sendiri. Aku tidak mood untuk sekedar menjawab. Jadi aku hanya meneruskan makanku.

Taekwoon menghela nafas dan meneguk winenya, sebelum mengambil alih piring dan sendokku.

Mungkin kesal karena aku abaikan.

"Jawab, Yeon. Lo sama sekali nggak jawab pertanyaan gue sejak setengah jam yang lalu!"

Ya jelas. Dia masih pakai lo-gue. Seandainya dia mengganti ucapannya, aku pasti akan menjawabnya. Aku hanya meliriknya sekilas dan berusaha merebut piringku kembali.

"Yeon, jawab gue dulu!"

Aku menghela nafas. Harus tahan. Tidak boleh marah apalagi sampai mengeluarkan suara. Aku akhirnya diam, menonton Jaehwan dan Hani yang sedang berduet dipanggung. Ah, mereka berdua keren sekali. Suaranya itu lho!

"Yeon.." Taekwoon mendadak memeluk leherku dari samping, dan menyembunyikan wajahnya di tangannya sendiri dan di leherku. Aku meremang karena nafasnya menubruk permukaan kulitku.

Duh! Dia ini sadar tidak sih! Yang dilakukan dia itu bisa-bisa merangsang hormon seseorang!

Tanganku refleks memegangi leherku yang diterpa nafasnya, dan dia mengangkat wajahnya. Aku menatap Taekwoon kesal.

"Aku gak sakit!" Jawabku pada akhirnya. "Aku cuma kebanyakan minum wine! Mabuk."

"Kenapa kamu tadi pakai gue-lo?"

"Menurutmu?" Jawabku kesal dan berusaha melepas pelukannya dileherku.

Mengesalkan sekali. Bukannya nanya keadaanku, malah merepotkan penggunaan gue-lo!

"Kalau tidak bisa mabuk, jangan mabuk. Mabuknya nanti saja kalau ada aku disampingmu." Ujar Taekwoon yang sama sekali tidak nyambung. Apa-apaan dia ini.

Aku lama-lama capek karena perasaanku yang terombang-ambing seperti ini.

Aku juga bodoh, karena masih berharap Taekwoon akan melakukan sesuatu saat bagian confessing nanti. Aku tadi melihat list laki-laki yang akan confess ke cewek yang mereka suka dari Hani, dan ternyata tidak ada nama Taekwoon disana.

"Aku mau menjawab sesuatu." Kata Taekwoon kemudian.

Aku mengernyit tipis. "Aku tidak bertanya apapun."

"Pertanyaanmu tempo hari."

"Ha?"

Aku tidak ingat. Sama sekali.

Mataku membelalak kala Taekwoon tiba-tiba melumat bibirku singkat. Benar-benar singkat dan aku yakin tidak ada orang lain yang sadar akan perbuatannya. Aku mematung, menatapnya sambil berkedip beberapa kali.

Dia tersenyum manis seraya mengacak rambutku yang memang sudah acak-acakan.

"Aku suka padamu, Hakyeon bodoh."

...Wajahku mesti benar-benar bodoh.

Jadi aku tidak mengelak sama sekali.

Aku hanya bisa diam seribu kata. Menunggu lanjutan darinya.

Maksudku? Hey? Taekwoon suka padaku? Sejak kapan? Bukannya dia suka dengan Hana? Si gadis mipa 4? Kenapa dia tiba-tiba mengaku kalau dia suka padaku?

"Aku dekat denganmu karena kita teman, kan? Tapi yang mendadak dekat begini... Karena.. ucapan jujurmu tempo lalu.."

Hah? Dia bicara apa sih?

Tapi kemudian memoriku berputar ke hari dimana aku menanyakannya macam-macam sepulang dari rumah ibu. Jadi dia sedang menjawab pertanyaan bodoh itu? Astaga. Padahal sudah kusuruh dia melupakannya!

Tapi apa? Ucapan tempo lalu?

"Ucapan jujur apanya? Kapan? Aku tidak ingat."

"Tentu saja. Kamu bicaranya sambil tidur." Taekwoon tertawa. "Kamu memanggilku Taekwoonie, dan bilang kalau kamu suka padaku."

APA?!

AKU PERNAH MENGIGAU SEPERTI ITU?!

Astaga, aku ingin mengubur diriku dalam-dalam.

Taekwoon mengusap-usap kepalaku sambil tertawa. Menertawakan reaksiku. Sialan.

"Aku juga mulai suka padamu karena kamu mimisan dihadapanku waktu itu."

"Sebentar!" Protesku kesal. "Kenapa jawabanmu malah membawa-bawa mimisanku waktu itu?!"

Aku ingat pertama kali Taekwoon datang kesekolah dengan rambut putihnya itu langsung membuatku mimisan. Itu memalukan sekali.

"Haha.." DIA JUSTRU TERTAWA! "Kamu menarik. Aku suka."

Apaan sih ni orang!

"Kenapa aku melakukan skinship denganmu, dan kenapa aku ingin mengantarmu pulang, tentu saja aku mau pdkt." Jelas Taekwoon lagi.

Aku yakin wajahku memerah sempurna sampai ketelinga.

Dia menciumku lagi. Sesingkat yang pertama.

Aku refleks memukulnya. "Jangan cium-cium, bodoh!"

"Habisnya, kamu malah diam. Jawab aku, kek."

Aku menunduk malu. "Aku... Aku juga suka padamu, Taekwoon."

Taekwoon tersenyum lebar lalu memelukku erat. "Itu saja, cukup."

"Sudah?! Gak pacaran?!" Tanyaku– dan refleks menutup mulutku.

Astaga! Hakyeon! Tadi itu terlalu blak-blakan!

Taekwoon justru tertawa. "Mau pacaran?"

Aku diam lagi. Gengsi lah kalau ngangguk! Ya meskipun aku memang mau pacaran...

Taekwoon lagi-lagi menciumku. Sekarang di dahiku, lalu menatap mataku lamat-lamat.

"Hakyeon, kamu pacarku."

Iya. Mulai sekarang aku pacarnya. Aku pacar Taekwoon.

Hakyeon pacar Taekwoon.

Aku memeluknya, dan langsung mencium bibirnya lebih dulu. Masa bodoh kalau ada yang melihat atau mengabadikannya. Aku ingin menyalurkan rasa gemasku selama ini padanya. Pada Taekwoon.

Taekwoon mulanya terkejut, tapi kemudian membalas ciumanku dan melumat bibirku se intense itu.

Taekwoon membelalak tepat saat aku merasa sesuatu mengalir dari hidungku.

"HAKYEON! ASTAGA!"

Aku mimisan lagi.

Sepertinya detakan jantung yang terlalu cepat akan selalu mudah membuatku mimisan. ㅜㅜ

ㅡ Selesai ㅡ