YOSHH! Chapter 9 UPDATE! MOHON DIBACA! WAJIB! :3 Hamba minta maaf karena terlambat update dari jadwal yang telah hamba rencanakan sendiri. Hamba minta maaf kepada reader semua yang mungkin akan sangat amat kecewa dan merasa tidak puas untuk chap ini, itu karena hamba mengerjakan chap ini dalam kondisi yang begitu memprihatinkan T/T setelah lebaran, hamba terkena penyakit yang tidak bisa dianggap sepele. (*lah kok jadi serius amat, PLAKK) hahaha gomen, tapi benar, hamba lagi sakit waktu mengerjakan chap ini, jadi tolong di maklumi yaaa, jika para reader semua merasa kurang puas ^/^ . Hamba juga mengucapkan terima kasih kepada semua reader yang bersedia memberikan kritik maupun flame tentang pairing di fanfic ini. Hihi.. Akhirnya hamba jadi punya alasan untuk menjelaskan hubungan antara judul dan pairing yang ada. NaruHina atau SasuHina? Baiklah, hamba akan mulai menjelaskan hubungan antara pairing dan judul fanfic ini dulu. Seperti yg kita tau, arti The Red Thread Of My Destiny adalah Takdir Benang Merah Ku, disini hamba menjadikan Hinata tokoh utama ceweknya. Hinata yang awalnya mengira bahwa Naruto adalah takdirnya, kini malah beralih bersama Sasuke. Rencana hamba, setelah ia bersama Sasuke, ia akhirnya malah di pertemukan kembali dengan Naruto, namun ia dalam kondisi yang berbeda. Disaat itu akan terjadi pergolakan bathin pada Hinata. Cukup itu aja ya garis besar untuk chapter depannyaaa ^^ Lalu antara pairing NaruHina atau SasuHina mana yang MainPairing, hamba rasa kedua pairing tersebut sangat memberi pengaruh yang besar untuk pembuatan fanfic ini. Naruto begitu berpengaruh pada kehidupan Hinata, namun Sasuke juga memiliki peran yang tidak kalah penting. Difanfic ini, pada akhirnya Hinata akan hidup bersama dengan orang yang awalnya telah ditakdirkan untuk bersamanya, yaitu Naruto. Tapi seperti yang para reader tau, Takdir selalu suka mempermainkan kita, kan? Maka, di sinilah takdir mempermainkan Hinata. Hamba tidak ingin, jika hamba mengatakan Mainpairing di fanfic hamba adalah NaruHina, maka sudah pasti pairing ini harus terlihat lebih menonjol dari pairing SasuHina dan para reader sudah dapat mengira bahwa yang di takdirkan bersama Hinata adalah Naruto (meskipun akhirnya emang gitu). Tapi, jika pairing NaruHina dan SasuHina sama-sama dibuat menonjol, hamba ingin reader semua berpikir tentang segala kemungkinan yang terjadi pada Hinata, dan juga siapakah yang akhirnya akan ditakdirkan untuk bersama Hinata. Dan juga hamba ingin reader merasakan pergolakan batin sebagaimana yang dirasakan Hinata dan bagaimana sulitnya menemukan orang yang telah ditakdirkan untuk bersama kita. Memilih salah satu diantara dua orang yang begitu penting dalam hidup kita, bukankah itu hal yang sulit? Maka dari itu hamba membuat pairing SasuHina yang juga akan menjadi pengantar untuk pairing NaruHina nantinya.. Mungkin cukup itu aja penjelasan dari hamba. Mungkin para reader akan berpikir kalau hamba adalah orang yang tidak konsisten, hehehehe ya begitulah hamba ^/^ Semoga reader semua mengeti dengan penjelasan hamba. Gomenasai kalau hamba banyak bacot T/T

Previous Chap :

Penantianku tidak sia-sia, akhirnya gadis berambut coklat itu keluar dari ruangan Hyuuga bersama beberapa suster dan dokter. Sesantai mungkin ku coba berjalan menuju ruangan dimana Hyuuga itu dirawat, meskipun rasa ingin tahuku akan kondisinya begitu besar.

Sesampainya aku di pintu kamarnya, dengan perlahan kumasuki kamar tersebut. Hal pertama yang kulihat adalah Hyuuga yang terbaring lemah dengan selang infus yang terdapat di tangan kanannya. Wajahnya begitu pucat dan tubuhnya semakin terlihat mungil dimataku. Perlahan ku mendekat pada sosok yang terbaring di sana. Berjalan ke sisi kiri Hyuuga tersebut.

Hyuuga itu masih menutup matanya yang terlihat membengkak pada bagian kelopak mata bawahnya. Ku pandang lagi wajahnya yang pucat seperti putih salju. Apa ia merasa kedinginan? Ku bawa tanganku ke wajah yang tengah tertidur dengan damai tersebut. Ku rasakan wajahnya sedikit dingin. Ku bawa lagi tanganku yang lain ke tangannya. Sudah ku duga, tanganku terlihat jauh lebih besar dari tangannya. Dengan sangat hati-hati ku genggam tangan mungil itu, dan sama saja, tangan itu juga terasa dingin. Padahal kamar ini telah dipasang penghangat ruangan seperti tempat tou-san ku di rawat. Lalu kenapa ia masih dingin?

Perlahan ku dudukkan diriku di atas sebuah kursi yang telah disediakan di sampingnya. Tanganku masih menggenggam tangan mungilnya. Ku coba untuk memberikan rasa hangat yang ada padaku untuknya. Namun ku rasa itu belum cukup. Tangan itu masih saja terasa dingin. Perlahan kubawa tangan mungil itu ke wajahku. Ku letakkan tangannya yang dingin ke sisi wajahku, mencoba untuk menyerap rasa dinginnya dan menggantikannya dengan rasa hangat.

Sedangkan tanganku yang lain masih setia menangkup pipinya yang terlihat begitu pucat.

"Hyuuga Hinata… Apa kau tidak mengingatku?"

.

.

.

The Red Thread Of My Destiny © Aida Yie

Naruto © Masashi Kishimoto

Genre : Hurt/Comfort, Drama, Romance. | Warning : AU, OOC, Typos, etc. | Rate : Fiction M|

Pairing : NaruSaku, SasuHina.

!WARNING : NO LIME, TYPOS OF COURSE!

DON'T LIKE, DON'T READ!

Chapter 9

.

"Nah, Sasuke! Sekarang bersembunyilah! Nii-san akan mulai berhitung. Tapi ini yang terakhir ya.. Nii-san harus segera mengerjakan tugas sekolah."

"Um! Iya. Ini yang terakhir. Tapi nii-san harus janji, jangan mengintip! Baiklah, aku akan bersembunyi!"

Anak laki-laki yang diperkirakan berumur 5 tahun tersebut itu terlihat begitu bersemangat bermain dengan seorang anak lelaki yang lain yang ia panggil dengan sebutan 'Nii-san'. Terlihat dari raut wajahnya yang selalu menampilkan senyum di wajah tersebut.

"Haha..iya. Oke, nii-san akan mulai. 1..2..3..4.."

Kakak laki-laki dari anak kecil yang diketahui bernama Sasuke itu pun menutup matanya dengan menggunakan kedua tangannya dan mulai menyebutkan angka-angka secara berurutan.

"Umm.. dimana.."

Sasuke menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, mencari sebuah tempat yang akan ia gunakan untuk bersembunyi, sedangkan sang kakak masih saja melakukan hal yang sama, menyebutkan angka-angka sembari menutup matanya.

"..7..8..9..10.."

"Ah! Di sana saja!"

Sampai akhirnya Sasuke menemukan sebuah tempat permainan yang tidak terlalu besar dan berbentuk seperti mangkuk yang terbalik dengan beberapa lubang disana. Dengan semangatnya, kaki kecilnya berlari ke tempat yang akan ia jadikan sebagai tempat persembunyiannya tersebut.

"Hah..hahh..kalau di sini nii-san past-"

Ia telah sampai. Masih dengan napas yang terengah-engah, Sasuke harus sedikit membungkuk untuk masuk ke dalam tempat tersebut karena lubang yang dijadikan sebagai jalan untuk masuk ke dalam berukuran lebih besar dari lubang lainnya, tetapi tidak cukup besar jika ia masuk sambil berdiri.

Namun langkah kaki mungilnya terhenti saat ia menemukan yang awalnya ia anggap 'sesuatu' dan bukan 'seseorang' di dalam tempat tersebut. 'Sesuatu' tersebut tengah duduk sembari memeluk kedua kakinya yang terlihat begitu mungil. Matanya hitam kelamnya bertemu pandang dengan mata 'sesuatu' tersebut. Mata itu berwarna ungu ke abu-abuan yang terlihat seperti sepasang permata Amethyst.

"Eh.."

"…"

Jangan salahkan ia dan otaknya yang begitu cepat merespon apa yang baru saja ia lihat. Dengan wajah polosnya, Sasuke langsung saja menyebutkan apa yang muncul di pikirkannya ketika ia menemukan 'sesuatu' tersebut.

"Boneka ya?"

Ia mengatakan itu dengan posisinya yang sambil membungkuk, menatap sang 'boneka' yang juga masih menatapnya. Sedangkan 'sesuatu' yang ia lihat seperti boneka tersebut terlihat begitu ketakutan. Jika anak laki-laki itu melihat sepasang Amethystnya dari jarak yang dekat, mungkin ia dapat melihat air mata tengah mengenang disana.

"..A-a… nii-san.."

"Ah..Bisa bicara!"

Terkejut mendengar 'boneka' itu dapat berbicara, sebuah senyum khas anak-anak terlihat di wajah Sasuke. Bagaikan ia baru pertama kali melihat sebuah boneka yang dapat berbicara.

"Sasuke!"

Mendengar namanya dipanggil, Sasuke segera menolehkan kepalanya kearah sumber suara. Dan ternyata, yang memanggilnya adalah sang kakak laki-laki.

"Ah! Nii-san!"

"Eh?"

Secepat mungkin Sasuke berlari dengan kaki mungilnya menuju tempat sang kakak berdiri. Dengan girangnya, ia menarik tangan Nii-sannya dan membawanya menuju tempat ia menemukan 'boneka yang dapat berbicara' tersebut.

"Ayo cepat!"

"Ada apa?"

Anak laki-laki yang terlihat lebih tua di bandingkan Sasuke itu terlihat pasrah saja saat adik laki-lakinya tersebut membawanya ke salah satu tempat bermain yang ada disana.

"Lihat Nii-san! Aku menemukan boneka ini, dia bisa bicara. Tadi dia bilang 'nii-san'."

Sesampainya disana, dengan bangganya Sasuke menunjukkan pada kakak laki-lakinya tersebut bahwa ia telah menemukan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Sedangkan sang kakak sedikit terkejut mendengar penuturan sang adik padanya.

"Apa? Sasuke, in-"

"Ah! Hinata-chan!"

"Eh?"

Kedua kakak beradik tersebut dikejutkan oleh suara seseorang yang sedang berlari kearah mereka. Seorang anak laki-laki berambut panjang dan bersurai coklat yang membawa sebotol air mineral di tangannya dan memanggil-manggil nama seseorang.

"Hinata-chan!"

"Ne-neji nii-san.."

Seketika seseorang yang Sasuke pikir adalah boneka, keluar dari tempat yang awalnya ia jadikan untuk tempat bersembunyi tersebut. Dari sepasang Obsidiannya, yang ia lihat bukanlah sebuah boneka seperti yang ia pikirkan sebelumnya, melainkan seorang anak perempuan yang diperkirakan berusia 4 tahun. Anak perempuan itu memeluk sang kakak yang bernama Neji dengan begitu eratnya, membuat anak laki-laki yang berusia 5 tahun tersebut setia menatap setiap pergerakan yang dilakukan anak perempuan di depannya.

"Neji..nii-san..?! Jadi dia adikmu, Neji?"

"Itachi?!"

Kakak laki-laki dari Sasuke yang bernama Itachi tersebut sedikit terkejut, mengetahui jika teman satu kelasnya memiliki seorang adik perempuan, sebab Itachi tidak mengenal Neji. Mereka saling mengenal hanya sebatas teman sekelas.

"Haha..Gomen ne, kami membuat adikmu ketakutan."

Itachi sedikit membungkuk pada Neji sembari meminta maaf. Ia sedikit merasa bersalah melihat adik temannya begitu ketakutan saat bertemu dengannya dan Sasuke. Sedangkan Sasuke, ia masih tetap menatap sang gadis kecil yang masih memeluk erat sang kakak.

"Tidak, dia memang seperti ini jika bertemu orang asing. Dan dia?"

Neji sedikit melirik kearah Sasuke yang tingginya jauh berbeda dengan ia dan Itachi.

"Ah, ini otouto ku, Sasuke."

"Eto..Jadi dia bukan boneka?"

Bukannya memperkenalkan diri, Sasuke malah menyatakan langsung apa yang muncul dipikirannya, membuat Neji yang mendengar pertanyaan Sasuke menautkan kedua alisnya.

"Apa?"

"Gomen Neji, tadi Sasuke melihat.."

Mengetahui maksud Itachi yang melihat kearah Hinata, Neji langsung saja menyebutkan nama adik perempuannya.

"Hinata. Hyuuga Hinata."

"Ah..Ya, tadi Sasuke melihat Hinata-chan di tempat ini sendirian dan ia mengira kalau adikmu adalah boneka."

"Oh.."

Penuturan Uchiha itu hanya ditanggapi dengan biasa saja oleh Neji, membuat suasana dianatara keempatnya menjadi sunyi seketika.

"Um! Aku Uchiha Sasuke!"

Dengan tiba-tiba, Sasuke mengulurkan tangan mungilnya kearah adik perempuan Neji yang malah semakin erat sang kakak. Gadis kecil itu terdiam. Ia yang tak kunjung menerima uluran tangan mungil dari anak laki-laki didepannya, membuat Neji yang berada disisi gadis kecil tersebut harus kembali bersuara.

"…"

"Tidak apa."

Dua kata dari Neji, membuat sang gadis kecil sedikit melonggarkan pelukannya pada kakak laki-lakinya dan mengulurkan tangannya ke tangan mungil yang sedari tadi setia menunggu.

"U-um..A-aku Hyuuga Hinata."

"Kalau begitu, ayo! Ikut aku!"

Belum sempat gadis kecil yang bernama Hinata tersebut melepaskan tangannya dari Sasuke, dengan cepat anak laki-laki di depannya malah menggenggam tangan kecilnya dan mengajaknya bermain.

"Ni-nii-san.."

Hinata yang sempat ragu, kemudian melihat kearah sang kakak yang telah berada selangkah dibelakangnya dikarenakan tarikan tangan Sasuke yang membuatnya sedikit menjauh dari Neji.

"..."

Satu anggukan kepala dari Neji, menandakan bahwa ia diperbolehkan untuk pergi bersama anak laki-laki yang tengah menggenggam tangan mungil Hinata dan menunggunya. Setelah mendapat izin dari sang kakak, barulah gadis kecil tersebut berani menatap anak laki-laki bermanik Obsidian di depannya.

'Uchiha..Sasu..ke..'

.

.

.


.

"Engh..."

Kesadaran mulai menghampiri tubuh pemilik rambut bersurai indigo yang tengah terbaring lemah di sebuah kamar pasien bernomor 110. Sepasang Amethysnya mulai menampakkan kembali cahayanya setelah hampir dua hari bersembunyi di balik kelopak mata yang sudah terlihat tidak begitu membengkak tersebut.

Kesadarannya belum kembali sepenuhnya, namun pasien yang bernama Hyuuga Hinata tersebut sudah dapat menduga bahwa ia sedang terbaring di rumah sakit. Hanya langit-langit kamar tersebut yang mampu ia lihat. Putih bersih, dengan pantulan cahaya matahari pagi yang memaksa masuk dan menyinari kamarnya, membuat suhu di kamar tersebut menjadi sedikit lebih hangat, meskipun saat itu udara di luar menjadi lebih rendah dibandingkian hari-hari sebelumnya.

Masih menatap langit-langit kamarnya, Hinata merasa bahwa ia telah tertidur dan bermimpi dalam waktu yang cukup lama. Mimpi yang dulu pernah ia rasakan kenyataannya. Dulu sekali. Mimpi akan masa kecilnya yang bertemu dengan seorang yang asing, namun begitu baik padanya.

"Dia.. dia.."

Hinata kembali menyembunyikan sepasang Amethyst tersebut. Mencoba kembali mengumpulkan ingatannya akan 'seseorang' yang pernah ia kenal tersebut. Namun, kegiatannya terhenti kala ia merasa hangat pada bagian tangan kirinya. Berusaha untuk kembali menggerakkan otot lehernya, Hinata menolehkan sedikit wajahnya kearah kiri. Napasnya langsung tercekat kala ia melihat apa yang ada di sisi kiri tubuhnya. Wajah orang itu, wajah seseorang yang dulu hampir menyakitinya. Seseorang yang selalu menatapnya dengan tatapan seakan ia adalah seseorang yang telah mengganggu hidupnya. Sepasang Obsidiannya yang selalu menatap tajam pada semua orang, namun tatapan itu begitu sulit di artikan saat ia menatap seorang Hyuuga lemah seperti dirinya.

Napasnya semakin tercekat, mengingat semua itu akan terulang lagi jika ia berdekatan bersama orang ini. Ia tidak ingin lagi berurusan dengan pemuda berambut Raven yang tengah tertidur sembari memeluk tangan kirinya. Ingin ia berteriak, meminta siapa pun untuk datang dan membawanya kembali ke rumahnya yang jauh lebih aman dibandingkan dengan tempatnya saat ini. Kondisinya masih lemah, bahkan untuk menegakkan kembali lehernya ia kesulitan untuk melakukannya.

Rasa cemas menyelubungi hati wanita Hyuuga tersebut, berulang kali ia menoleh kearah pintu masuk dan kembali menatap pemuda yang tengah tertidur disisinya. Terus begitu secara bergantian. Kegiatannya yang sedikit membuat pergerakan di tempat tidurnya, membuat sang pemuda yang bernama Uchiha Sasuke tersebut terusik tidurnya.

"Kau sudah bangun, Hyuuga?"

Perlahan namun pasti, Sasuke kembali menegakkan punggungnya yang telah membungkuk dalam waktu yang cukup lama. Mata kelamnya yang semula bersembunyi di balik kelopaknya, kini telah kembali menunjukkan pada dunia betapa mempesonanya permata yang ia miliki. Sepasang Obsidian itu menatap sang Amethyst yang kini juga menatapnya, namun dari sepasang manik ungu tersebut terlihat jelas akan rasa takut yang dirasakan oleh pemiliknya.

"A-a-aku.."

Rasa takut akan kejadian dulu semakin mengganjal di hatinya. Pelipis wanita Hyuuga tersebut sedikit basah akibat peluh yang ada disana, dan tentu saja hal kecil itu terlihat jelas oleh mata Uchiha tersebut.

Perlahan, tangan kokoh sang pemuda Uchiha terulur ke pelipis Hinata. Sedangkan wanita yang bermarga Hyuuga yang masih terbaring disana, semakin dilanda dengan rasa takut yang luar biasa kala ia melihat tangan itu semakin dekat dengan wajahnya. Tak ingin melihat tangan itu akan menyakitinya, Hinata kembali menutup matanya rapat-rapat.

"Kau berkeringat?"

'Eh..'

"Apa kau merasakan sesuatu?"

'...'

"Sebentar, akan ku panggilkan dokter."

Setelah mengucapkan itu, tangan Uchiha yang menyentuh pelipis dan tangan kiri Hinata beranjak dari tempatnya, membuat sang Hyuuga yang semula menyembunyikan Amethystnya, kini kembali menunjukkan keindahannya. Dengan posisinya yang masih terbaring, sedikit banyak ia dapat melihat kalau Uchiha itu benar-benar pergi meninggalkannya tanpa menyakiti dirinya yang lemah seperti yang pernah ia alami dulu.

Sedikit rasa syukur Hinata ucapkan dalam hati, setidaknya kali ini ia selamat dari si bungsu Uchiha tersebut meskipun tanpa orang itu di sisinya lagi. Ekspresi ketakutan tidak lagi terlihat di wajahnya, tergantikan dengan sebuah tatapan kosong yang tertuju pada langit-langit kamarnya.

'Naruto senpai..'

.

.

.


.

'Untuk Naruto senpai,

'Senpai, maaf kalau selama ini aku selalu merepotkanmu. Maaf kalau sampai saat ini aku belum bisa membalas semua kebaikan senpai padaku.'

'Dan terima kasih karena senpai selalu saja datang di saat aku benar-benar membutuhkan senpai. Terima kasih, benar-benar terima kasih.'

'Sungguh aku ingin mengatakan semua ini langsung pada senpai, namun aku masih saja seorang Hinata yang lemah. Aku tidak sanggup jika harus mengatkan semua ini langsung padamu. Aku tidak bisa, Maaf, maafkan aku.'

'Beberapa hari menghabiskan waktu bersama senpai, adalah saat-saat yang begitu berharga untukku, membuatku semakin menginginkan Naruto senpai untuk selalu bersamaku. Tapi aku tahu, kalau aku tidak boleh egois.'

'Aku ingin senpai berbahagia bersama seseorang yang senpai cintai. Meskipun orang itu bukanlah aku, aku akan selalu mendo'akan kebahagiaanmu, karena aku mencintaimu.'

'Maaf aku tidak bisa mengatakan ini secara langsung padamu. Aku ingin sekali, tapi aku tahu aku tak akan bisa melakukannya'

'Dan jimat yang senpai berikan padaku, maaf, aku harus mengembalikannya padamu. Sekarang, aku bukanlah orang yang pantas untuk menyimpan jimat pemberianmu. Berikanlah pada Sakura senpai, aku tahu dia lebih membutuhkannya dibandingkan denganku. Tenang saja, jangan pikirkan aku. Aku pasti akan baik-baik saja.'

'Terakhir, aku ucapkan selamat atas pernikahanmu dan Sakura senpai. Aku turut berbahagia mendengarnya, tapi maaf kalau aku tak bisa memberikan hadiah pernikahan yang pantas untukmu dan Sakura senpai.'

'Sekali lagi aku ucapkan, Maaf, Terima Kasih dan Berbahagialah..'

Dari, Hyuuga Hinata.

.

Berulang kali pria bersurai pirang tersebut membaca kalimat demi kalimat yang tertulis di sebuah kertas berwarna ungu muda sejak dua hari yang lalu ia mendapatkan surat tersebut. Kertas ungu muda dengan tinta hitam yang terlihat luntur di beberapa bagian akibat air mata dari sang penulis surat yang mungkin saja menangis saat ia menulis surat tersebut kini semakin terlihat lusuh hampir disemua bagiannya. Sepasang tangan tan tersebut selalu saja menggenggam erat kertas ungu itu setiap kali si pemilik tangan membacanya.

Tak dipungkiri lagi, hati pemuda itu semakin perih setiap kali ia membaca surat dari sang Hyuuga. Sudah hampir dua hari ia terus membaca surat tersebut, dan sudah tak terhitung berapa kali ia mengulanginya, namun bukannya ia merasa jenuh, pemuda bermarga Uzumaki tersebut malah semakin ingin mengulanginya, sampai-sampai setiap kalimat yang tertulis di sana telah terekam jelas di memori otaknya.

Selesai membaca setiap kalimat yang tercetak di benda tipis tersebut untuk kesekian kalinya, pemuda itu menyandarkan tubuhnya ke sandaran dari sofa yang ia duduki dan tiduri sejak pertama kali ia membaca surat tersebut. Pandangan matanya yang awalnya tertuju pada sang surat, kini beralih menatap langit-langit kamar yang terlihat remang-remang akibat sinar sang surya yang hendak memaksa masuk namun terhalang oleh sebuah tirai yang menutupi jendela besar yang ada disana. Tirai itu tidak pernah dibuka lagi sejak sang pemilik kamar menutupnya dua hari yang lalu.

Sang surya dengan sinarnya yang menghangatkan menandakan bahwa malam telah berganti lagi, namun pemuda bersurai pirang tersebut masih saja di tempatnya, sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Sofa yang ia duduki dua hari lalu seakan selalu menjadi tujuannya sekembalinya ia dari dapur hanya sekedar untuk minum atau dari kamar mandinya. Setelah itu ia akan duduk sepanjang hari disana, kembali membaca surat pemberian sang Hyuuga hingga ia tertidur di tempatnya. Hanya kegiatan itu yang ia lakukan dua hari belakangan ini, dan tentu saja semua itu berpengaruh pada keadaanya sekarang. Lingkar hitam di daerah sepasang permatanya yang semakin terlihat jelas, surai pirang yang kini terlihat pudar dan kusut serta pakaian yang ia gunakan terlihat benar-benar berantakan. Hanya satu kata sudah cukup untuk menyimpulkan apa yang tengah dirasakan oleh pemuda bernama Uzumaki Naruto tersebut, Frustasi. Satu lembar kertas dimana tertulis isi hati sang wanita Hyuuga sudah cukup membuat hidupnya berantakan.

"Hinata.."

Sepasang Safir itu bersembunyi dibalik kelopak sang pemilik permata. Setetes air mata mengalir dengan bebas dari permata yang bersembunyi tersebut, disusul dengan tetesan air mata yang semakin lama semakin membasahi sisi wajah Naruto.

"Ugh.. Hinata.. Gomen ne.. Hime.."

Isakan tangis ia coba tahan dengan menyatukan kedua rahangnya. Gejolak emosi yang ia rasakan terlihat jelas dari raut wajahnya yang telah basah oleh air mata yang masih saja mengalir dengan deras dari sepasang permata tersebut. Jambakannya pada surai pirang miliknya semakin terlihat menguat. Perasaan ini, perasaan yang sama saat ia kehilangan seseorang yang begitu berarti dalam hidupnya. Perasaan yang begitu menyakitkan hingga rasanya bagaikan setengah nyawanya telah direnggut paksa dari raganya. Perasaan yang sama saat ia kehilangan Okaa-san yang begitu ia cintai.

Kenapa? Hinata tidak meninggalkanmu, Naruto. Bukankah kau yang telah meninggalkannya dan melupakannya? Lalu, mengapa kau merasa kehilangan?

Wajah tan itu semakin basah oleh air mata. Tangan tan yang meremas surai pirang tersebut semakin kuat menggenggam ribuan helai dari surai tersebut. Kedua bahu itu bergetar hebat, berusaha menahan isakan yang mengandung gejolak emosi yang tengah ia rasakan.

"Ughh! HINATA!"

.

.

.

Di waktu yang sama..

"E-eh.."

"Ada apa, Hinata-chan?"

Wanita yang dipanggil dengan nama Hinata itu sedikit tersentak di tempatnya duduk pagi itu. Keadaannya sudah jauh lebih baik bila dibandingkan beberapa menit yang lalu saat ia terbangun dari pingsannya selama dua hari. Namun meskipun begitu, ia tidak diperbolehkan untuk melakukan kegiatan apapun, hanya duduk di tempat tidurnya saja.

"A-ano.. Apa Matsuri-chan memanggilku?"

Sang sahabat yang datang beberapa menit yang lalu, kini tengah merapikan rangkaian bunga Lily yang menjadi bunga favorit wanita Hyuuga tersebut.

"Apa? Tidak, aku tidak memanggilmu. Memangnya ada apa?"

Gadis bersurai coklat muda itu telah selesai dengan kegiatannya. Dengan pasti ia menghampiri Hyuuga terlihat bingung disana. Dengan jelas Hinata mendengar bahwa ada seseorang yang memanggil namanya. Tapi siapa?

"Ah.. Ti-tidak. Mungkin hanya perasaanku saja. Gomen.."

Hyuuga itu tertunduk, menyembunyikan wajahnya yang selalu dihiasi rona merah di balik poni ratanya yang tebal, tanpa menyadari bahwa Matsuri telah duduk di sampingnya.

"Nee, Hinata-chan.."

"Ya?"

"Gomen, selama Hinata-chan pingsan, aku tidak berada di sisi Hinata-chan."

Gadis bersurai coklat itu tertunduk, menyesali ketiadaan dirinya untuk sang sahabat yang terbaring lemah selama berada di rumah sakit. Rasa penyesalan begitu jelas terlihat dari raut wajahnya yang meskipun tertutupi oleh surai-surai coklat miliknya.

"Umm.. Ti-tidak apa, Matsuri-chan. Aku mengerti kalau Matsuri-chan sangat sibuk untuk ujian semester kali ini. I-itu karena..Ma-Matsuri-chan ingin menyatakan cinta pada Ga-gaara-senpai kan?"

"A-apa?!"

Sontak wajah Matsuri langsung dipenuhi rona merah, bahkan hingga ke telinganya. Benar apa yang dikatakan Hinata, ia pernah berjanji pada dirinya sendiri, jika ia berhasil dalam ujian semester ini, maka ia akan menyatakan cintanya pada sang pujaan hati, Gaara. Tapi ia sendiri tak menyangka, sang sahabat yang bersurai indigo tersebut masih ingat dengan perkataannya yang telah lama ia ucapkan.

Semua yang diucapkan wanita Hyuuga tersebut membuat Matsuri semakin menundukkan kepalanya yang dipenuhi rona merah. Dan hal itu membuat Hinata yang melihatnya menjadi sedikit terhibur, mengingat bahwa dirinyalah yang biasanya menjadi bahan kejahilan sahabatnya tersebut.

"Hihihihi.."

"Ah! Su-sudah! Berhenti menertawakanku, Hinata-chan."

"Hihihi.. Gomen Matsuri-chan, a-aku hanya bercanda..hihihihi.."

Sang sahabat yang awalnya menampilkan raut wajah marah, kini malah tersenyum lembut kearah wanita yang sedang menampilkan tawa yang sudah lama tak ia lihat.

"Hihi.. Akhirnya Hinata yang ku kenal sudah kembali."

Seketika tawa Hinata terhenti. Sepasang Amethyst menatap sendu kearah Matsuri yang tengah menghapus setetes air mata yang mengalir dari permata miliknya.

"Matsuri-chan.."

"Nee, Hinata-chan, apa kau tahu, kalau Sasuke senpai ternyata begitu mengkhawatirkanmu."

"A-apa.."

Mata sendu sang Hyuuga membulat seketika setelah Matsuri menyebutkan nama dari orang yang dulu akan mencelakainya. Suaranya tercekat, mengingat bayang-bayang orang yang memiliki mata setajam Shinigami -tersebut.

"Iya, saat itu, saat aku membawa Hinata-chan ke Rumah Sakit, ternyata Sasuke senpai juga ada disini."

"Disini..?"

"Umm! Aku tidak tahu apa yang dia lakukan disini. Tapi saat aku kembali dari ruangan dokter yang merawat Hinata, aku melihat Sasuke senpai sudah ada di dalam kamar ini dan dia terlihat begitu mengkhawatirkanmu."

"…"

Hinata hanya tertunduk, mendengar semua penuturan Matsuri tentang ia yang dikhawatirkan oleh pemuda raven tersebut. Semua itu sedikit banyak membuat Hinata kembali mengingat akan kenangan buruknya dengan pemuda yang dikenal sebagai anak bungsu dari keluarga Uchiha.

"Hinata-chan, daijoubu ka?"

"Ah-umm.."

Hinata hanya memberikan jawaban sekenanya sebagai jawaban atas kekhawatiran Matsuri padanya. Namun meskipun begitu, ada satu hal yang begitu mengganjal di hati Matsuri tentang wanita Hyuuga yang ada di depannya.

'Hinata..'

"A-ano.. Hinata-chan, a-aku ingin bertanya."

"Ya.."

Suara Matsuri sedikit tercekat. Ia tidak tahu harus bagaimana memulainya. Tentang apa yang terjadi pada sahabatnya, dan tentang apa yang telah terjadi diantara Naruto dan Hinata.

"Saat aku bertanya pada dokter apa yang terjadi padamu, dokter menjawab bahwa kau mengalami depresi ringan yang berpengaruh pada kesehatanmu. Hinata-chan mengalami kekurangan asupan nutrisi, ditambah lagi daya tahan tubuh Hinata-chan yang juga lemah."

"Be-begitukah.."

"D-Dan juga.. Dokter mengatakan.. Kau hamil, Hinata-chan."

DEG!

Sepasang Amethyst itu membulat, seakan permata itu akan jatuh dan lepas dari tempatnya. Bagaikan tersambar petir, Hinata bahkan tak mampu untuk mengeluarkan suaranya. Seakan ia telah disihir oleh penyihir yang datang entah dari mana dan merubahnya menjadi patung. Diagnosa dokter yang dikatakan Matsuri terekam jelas di memori otaknya. Yang ia butuhkan saat ini adalah mengumpulkan kembali kesadarannya yang mungkin saja melayang beberapa detik yang lalu.

"Hi-Hinata-chan.."

Cicitan sang sahabat sukses membuat nyawanya kembali. Sepasang Amethyst itu masih saja membulat namun kali ini cairan bening mengalir dan membasahi pipi wanita Hyuuga tersebut. Dengan ringkihnya, perlahan kedua tangan mungil milik Hyuuga tersebut bergerak dan saling bertautan tepat di depan perutnya yang telah dilapisi baju pasien Rumah Sakit tersebut.

"A-aku..aku.."

"Hinata-ch-"

Cklek.

Tiba-tiba pintu kamar pasien tersebut terbuka, menampilkan sosok pemuda berambut raven dengan sepasang Obsidian yang selalu menampilkan tatapan tajam pada semua orang. Dan kini tatapan tajam itu tertuju ada dua orang manusia yang memiliki warna surai yang berbeda.

Matsuri yang awalnya menatap Hinata, kini mengalihkan pandangannya kearah pintu yang telah terbuka tersebut. Menatap pemuda Uchiha yang tengah memandang kearah mereka dengan wajah datar seperti biasanya.

"Keluarlah."

Suara dingin khas Uchiha bergema di ruangan pasien bernama Hinata. Suara dingin yang membuat Hinata merasa ketakutan setelah pemilik suara mengucapkan satu kalimat tersebut. Dan Matsuri, yang tidak pernah tahu apa yang telah terjadi diantara sang Hyuuga dan pemuda Uchiha tersebut hanya menuruti perkataan Sasuke. Dengan perlahan, ia berdiri dari tempatnya, memandang sendu kearah sang sahabat yang tanpa ia ketahui tengah dilanda oleh rasa takut akan seseorang yang berdiri di depan pintu sana.

"Jaa ne, Hinata-chan.."

Sedikit tidak rela, Matsuri melangkahkan kakinya menuju pintu masuk ruangan tersebut, meninggalkan Hinata yang masih terdiam di tempat tidurnya. Tanpa ia sadari, langkah kakinya telah sampai di depan bahkan telah melewati Sasuke yang menunggu kepergian gadis bersurai coklat tersebut dari ruangan Hinata.

Cklek.

.

Blamm.

Keheningan langsung menghampiri kamar Hinata setelah kepergian Matsuri. Selama beberapa detik, tidak ada satu pergerakan atau pun suara yang terdengar diantara Hyuuga dan Uchiha yang ada di dalam sana. Sampai akhirnya, Uchiha-lah yang mengalah. Sasuke yang masih berdiri di tempatnya perlahan membawa langkah kakinya menuju wanita Hyuuga yang masih diam ditempatnya. Suara langkah kaki Sasuke yang semakin jelas terdengar oleh Hinata, menandakan bahwa pemuda Uchiha tersebut semakin dekat dengan dirinya. Dan hal itu membuat rasa takut yang mengganjal di hatinya semakin membesar pula.

"Kau.."

Deg!

"Hamil.."

Untuk kedua kalinya Hinata bagaikan tersambar petir di pagi itu. Rasa takut yang ia rasakan berubah menjadi dua kali lipat kala pemuda raven itu mengulagi dua kata yang juga diucapkan oleh sang sahabat beberapa menit yang lalu sembari berjalan mendekat ke tempatnya. Ia yang masih berkutat dengan rasa takut yang melandanya membuat wanita Hyuuga tersebut tidak menyadari bahwa jarak antara ia dan Sasuke semakin menipis.

Uchiha Sasuke, apa yang baru saja ia ucapkan, entah itu hanya pernyataan atau sebuah pertanyaan, yang pasti hal itu membuat Hinata merasa bagaikan ia akan menghadapi kematiannya. Kedua tangan mungil yang semula hanya bertautan berubah menjadi sebuah pelukan pada dirinya sendiri. Bahu yang terlihat rapuh itu bergetar hebat, entah menahan isakan atau ekspresi dari rasa takut yang semakin menguasai dirinya. Dan tentu saja hal itu terlihat jelas dari sepasang Obsidian milik pemuda Uchiha yang telah berdiri di sisi wanita Hyuuga tersebut.

"Hiks..hiks..hiks…"

Isakan yang menyayat hati itu akhirnya lolos begitu saja dari bibir Hinata. Rasa lelah, sakit, sedih, takut, shock, semua bercampur aduk dalam dirinya. Tangan mungil yang memeluk erat dirinya, bahu yang bergetar dan isakan yang menyayat hati, sudah cukup menandakan betapa rapuhnya wanita Hyuuga tersebut.

"Lupakan Naruto."

'Hah!'

Tangisan Hinata terhenti seketika. Amethystnya yang semula mengalirkan air mata, kini membulat sepenuhnya. Terkejut atas apa yang baru saja ia dengarkan, terlebih lagi hal itu di ucapkan oleh sahabat dari pemuda yang membuat kondisinya menjadi seperti sekarang ini. Berbeda dengan Sasuke yang masih saja menampilkan wajah dinginnya yang datar, namun tatapan tajam dari Obsidian tidak pernah lepas dari Hyuuga yang tengah mematung di depannya.

"A-aku.."

"Lupakan Naruto!"

Kali ini perkataan Sasuke terdengar seperti sebuah perintah, dengan volume suara yang naik satu oktaf. Namun meskipun begitu, Hinata tidak begitu terkejut mendengarnya. Permata Amethyst yang sempat membulat sempurna tersebut, telah kembali ke ukurannya semula. Air mata yang sempat terhenti mengalir, kembali membasahi pipi Hinata. Selimut yang menutupi sebagian tubuh wanita Hyuuga itu pun kembali basah akibat tetesan air matanya.

"A-aku..ti-tida-"

"Lihatlah aku!"

Dengan kasar, tangan besar Sasuke menarik paksa salah satu tangan mungil Hinata, membuat tubuh wanita Hyuuga tersebut sedikit terhuyung dan bergerak, menghadap kearah pemuda Uchiha tersebut.

"Lihat aku! Jadilah milikku!"

Amethyst nya kembali membulat, bertemu dengan Obsidian yang menatapnya dengan tajam. Dengan sepasang permata miliknya, Hinata dapat melihat betapa kelamnya mata milik pemuda Uchiha ini. Mata yang begitu berseberangan dengan permata miliknya. Namun Hyuuga itu terkejut ketika menemukan sesuatu yang mungkin saja tak pernah ditunjukkan oleh Sasuke pada orang-orang di sekitarnya. Dalam mata itu, ada rasa putus asa, kesepian dan rasa tak ingin kehilangan. Mata itu, yang selalu menatap tajam pada orang-orang, termasuk dirinya, namun sarat akan rasa kesepian dan putus asa yang selalu tertutupi oleh sikap dingin pemilik Obsidian. Mata itu seakan menghipnotis Hinata untuk tetap menyelami kelamnya permata milik Sasuke.

"Akulah yang akan menjagamu!"

'Apa..!'

"Hanya aku yang mencintaimu!"

'Dia..!'

"Lupakan Naruto!"

'Tidak..!'

"Berpalinglah padaku!"

'A-aku..'

Semua itu diucapkan Sasuke dengan nada suara yang tidak bisa dikatakan lembut, sebagaimana seorang pria seharusnya berkata. Genggaman tangannya pada pergelangan tangan Hinata semakin menguat. Dan Hinata, tidak banyak yang bisa ia lakukan dan katakan. Semua yang baru saja ia dengar entah mengapa membuat hatinya menjadi sakit, bagaikan sebuah tombak tak terlihat telah menembus jantung miliknya..

Setelah semua itu, terjadi keheningan beberapa saat diantara keduanya, dengan Hinata yang masih pada posisinya, berhadapan dengan Sasuke yang juga masih menggenggam tangan mungil milik Hyuuga tersebut. Namun tiba-tiba, Amethyst memutuskan pandangannya pada Obsidian yang sepertinya telah berhasil menghipnotisnya untuk beberapa saat. Sepasang Amethyst itu memilih untuk bersembunyi dibalik poni rata berwarna Indigo tersebut, akibatnya Hinata tidak menyadari akan tangan Sasuke yang masih bebas teengah terulur menuju wajahnya menunduk.

"Lihat aku.."

"…"

"Apa kau masih tidak mengingatku, Hinata?"

.

.

.


.

Air mata tidak lagi mengalir dari sepasang permata Safir itu. Sebuah pandangan kosong ditujukan pada langit-langit kamar yang menjadi saksi atas luapan emosi yang pemuda Uzumaki itu rasakan beberapa menit yang lalu. Kertas ungu yang telah lecek hampir disemua bagian, tergeletak begitu saja di sisi kanan tubuhnya. Sakit. Itu yang ia rasakan saat ini, menyadari betapa bodohnya ia karena telah melupakan wanita Hyuuga yang menjadi penulis dari surat yang ia terima, bahkan sampai tiga hari yang lalu, jika saja sahabat dari Hyuuga itu tidak memberikan kertas berwarna ungu tersebut, mungkin ia akan melupakan wanita itu begitu saja. Ia melupakannya, karena besarnya kebahagiaan yang ia rasakan saat itu, ia sampai melupakan wanita pemilik surai Indigo yang sejujurnya sangat ia sukai. Warna surai yang sedikit lebih gelap dari permata miliknya, namun terlihat begitu indah.

"Gomen… Hontou ni gomenasai… Hime.."

Pemuda itu menyembunyikan permatanya untuk beberapa saat. Entah apa yang ia pikirkan, tidak ada seorang pun yang tahu, kecuali ia dan Kami-sama, hingga akhirnya permata itu kembali menunjukkan keindahannya pada dunia. Pemuda itu berdiri dari tempatnya, mengambil kertas ungu tersebut dan membawanya menuju laci pada meja kecil yang ada di samping tempat tidurnya. Pada laci pertama, ia letakkan kertas ungu dan jimat yang semula ia berikan untuk sang Hyuuga. Menatap lekat pada kedua benda yang menjadi kenangannya bersama wanita bersurai Indigo tersebut, sebelum menutup laci itu dan beranjak meninggalkan kedua benda itu di dalam sana.

Sama seperti hari-hari sebelumnya, pemuda Uzumaki itu terlihat bagaikan mayat hidup ketika berjalan. Langkah kaki jenjangnya terseret begitu saja, menuju dapur dimana juga terdapat kenangan antara ia dan sang Hyuuga.

Tak butuh waktu lama, ia telah sampai di dapur. Ia berdiri disana, hanya berdiri dan memandang kearah meja makan yang ada di depannya. Ia berdiri cukup lama, mencoba memutar kembali kenangannya bersama Hinata di hari ulang tahunnya dulu. Bagaikan ia melihat kilasan memori tersebut, Naruto seakan dapat melihat dirinya yang tengah duduk bersama gadis bersurai Indigo itu di sana, memanjatkan do'a dan saling meletakkan krim dari kue buatan sang Hyuuga ke wajah orang yang ada di depannya. Ingatannya berlanjut ketika wanita itu berlari dan menjauhi dirimu yang saat itu juga akan menyusulnya. Naruto ingat, tak butuh waktu lama baginya untuk menangkap gadis bermarga Hyuuga tersebut, saling bercengkrama beberapa saat, dan kemudian memori itu berakhir dimana Hyuuga itu memberikan hadiah terbaiknya untuk pemuda Uzumaki tersebut.

Naruto kembali memejamkan matanya, menyimpan semua kenangan itu di dalam hati dan pikirannya. Akhirnya ia menyadari, bahwa semua hal yang ada di apartemennya selalu berkaitan erat dengan Hinata, dapur, kamar mandi dan terutama di kamar miliknya. Kenangan itu tak akan pernah ia lupakan, kenangan indah bersama seseorang yang begitu indah.

Permata Safir itu kembali terlihat, meskipun cahayanya terlihat meredup dari biasanya. Langkah kaki yang semula terhenti, kini kembali diseret dan bergerak menuju kulkas yang ada disana. Sesampainya di sana, untuk kesekian kalinya ia kembali melihat sebuah kertas memo tertempel di pintu bagian atas lemari es tersebut.

'Nee, Naruto, untuk 4 hari ke depan aku akan tinggal di rumahku. Sudah lama aku meninggalkan tempat itu, aku hanya ingin membersihkannya saja. Jadi, tolong jangan menggangguku dulu, baka! Ok.. Jaa~'

Sakura.

Entah Naruto harus bersyukur atau apa, kepergian Sakura sedikit banyak telah memberikannya waktu untuk menyendiri, memikirkan wanita Hyuuga pernah ia lupakan. Dengan lemas, ia mengambil kertas kuning tersebut dan menatap lekat kearah benda tipis yang ada di tangan kanannya.

"Sakura.."

Dengan pasti, tangan kiri Naruto bergerak menuju saku celananya dan meraih sesuatu berbentuk persegi yang ada di dalamnya. Menekan beberapa tombol yang telah ia hapal di luar kepala dan membawa benda persegi itu ke sisi telinganya.

Tuttt..

Tuutt..

"Moshi-moshi.."

"Sakura.."

"Naruto?! Bukankah sudah ku katakan, jangan meng-"

"Dengarkan aku. Persiapkan semua keperluan dan pakaianmu. Lusa, kita akan bertemu dengan tou-san dan ..."

Naruto sedikit menarik napas seblum mengatakan hal terakhir yang akan ia ucapkan.

... Kita akan menikah disana."

.

.

.

.


.

TBC

^^Review Please^^

Oke, bagi reader yang mau mengeflame, mengkritik, dan memuji (*Plakk hiraukan!) Di persilahkan dengan segala hormat, bagi yang log in, akan hamba balas melalui PM :3