"Tindakan yang di luar dugaan. Kau akan melakukannya jika punya informasi menarik yang akan kau sampaikan," ujar Gouverne Basil, wadah Roh Api di wilayah Belanda. Rambutnya berombak pendek dengan warna coklat-keemasan. Bibirnya mengulas senyum tertarik.

"Anak muda," ujar si Tua Luisen Yuhge, wadah Roh Api Spanyol yang sudah memasuki usia 57 tahun. Jenggot panjangnya yang mulai memutih tampak asyik dielus oleh jari-jari tangannya. Anak laki-laki berambut hijau pucat memutar bola matanya seraya mendengus geli.

"Aku yakin, Jack pasti tak mengira ini akan terjadi. Si Penguasa itu pasti sangat murka saat tahu kau menjebaknya untuk tetap tinggal di Inggris." Iviry Romanov tersenyum menahan tawa seraya memainkan cincin emas dengan tanda keluarga kerajaan di permatanya di jari tengahnya.

Dan Einen Kleird hanya diam dengan tatapan matanya menyorot dingin di saat wadah Roh Api lainnya mengomentari tindakan yang cukup mengundang banyak spekulasi itu.

Ya. Datang sendirian ke Pertemuan bukanlah ide bagus untuk membahas masalah wadah Roh Udara,

Hermione Jane Granger.

Seorang pemuda berambut jingga dengan seragam wadah Roh Udara memasuki ruangan. Ia berdiri tegap menyamping di depan pintu lebar berdaun dua yang tertutup. Para wadah Roh Api berdiri, tak termasuk para wadah pendamping yang memang sudah berdiri sejak tadi.

"Raja Tertinggi, Yang Mulia Takatsuki Tougu!"

.

.

Four Souls

Rozen91

Harry Potter © JK Rowling

Line 9 : Tunnel Crown

Time Line : 4 Desember 1993 – Musim Dingin.

.

.

"Ada alasan mengapa kita terpilih. Selalu ada alasan di balik peristiwa, jika kau lebih membuka mata dan pikiranmu."

xxx

Suasana sarapan di Aula Besar bukanlah hal asing bagi penghuni kastil Hogwarts. Aksi perebutan makanan, peracunan yang dilandasi dendam yang berkesinambungan, kerakusan yang memprovokasi sebuah kompetisi yang hanya menyita waktu belaka, diskusi terbuka tentang misteri sumber makanan Hogwarts, mencuri waktu untuk membaca buku, menyebarkan gossip palsu untuk menyibukkan diri, dan lain-lain. Bukanlah ha-

-Tunggu dulu! Peracunan?

Oh, oke. mungkin aksi kedua jarang terjadi saat sarapan. Hanya orang yang bermodal nekat saja yang bersedia melakukannya.

Begitu pula property-properti Aula Besar tetap sama. Meja Slytherin misalnya.

Meja yang ditempati oleh para murid asramanya tak pernah berubah sejak masa pendirinya dulu. Tetap sama. Berada di samping meja Gryffindor. Begitu pula murid-murid yang menempatinya, memasang wajah cuek dan angkuh terhadap Gryffindor. Tak terkecuali, murid-murid kecil yang dengan bangganya memilih Slytherin sebagai asramanya. Para senior langsung turun tangan dalam mengajarkan tata krama pergaulan Slytherin terhadap asrama-asrama lainnya. Begitulah hal yang sama dan membosankan yang selalu terjadi setiap tahun di Aula Besar.

Dan selalu saja. Ada orang-orang yang menginginkan hal yang berbeda dari biasanya. Misalnya seorang Theodore Nott yang hanya mengaduk-aduk Sup Asparagus yang masih hangat di mangkuknya dengan ekspresi bosan terpampang di layar wajahnya.

Ya. Semua ingin sesuatu yang lain. Yeah, walaupun hari ini ada yang lain, sih. Theo melirik ke bagian bangku yang kosong di sebelah kanannya. Ia menghembuskan nafas berat.

Draco Malfoy, teman sekamarnya, teman sejawatnya, teman sehidup-tidak-sematinya, tidak masuk karena sakit aneh hari ini. Walaupun sudah di bawa ke Hospital Wing, tetap saja, sakitnya tidak diketahui. Kemudian, Madam Pomfrey hanya menyuruhnya beristirahat saja, mengira akibat tubuh anak itu lemah terhadap hawa dingin. Dan well, semua tahu endingnya, akhirnya ia tidur pulas di ranjang hangat rumah sakit. Benar-benar, deh. Selain diizinkan tak ikut pelajaran, bisa tidur di ranjang hangat pula. Beruntungnya si Malfoy satu itu.

"…hun ketiga di Ravenclaw. Dia gila bicara tentang Snortcrack atau apa-ya, terserahlah! Hahaha!" Theo mengangkat wajahnya dan mendapati Goyle dan Crabbe yang tengah terlibat dalam percakapan seru. Kedua orang ge*piiiip* itu tertawa terbahak-bahak. Theo memasang wajah mencela saat melihat mulut Goyle yang masih dipenuhi makanan terbuka lebar-lebar ketika tertawa. Dan parahnya lagi, ia membuat hujan lokal dalam bentuk padat di atas meja. Well, virus telah ditebar kemana-mana hingga membuat nafsu makan menurun. Dan jangan heran jika tawanya sirna saat muda-mudi di sekitarnya memandangnya datar dengan bibir terplester kuat.

"Siapa yang kalian bicarakan?" tanya Theo dengan tampang bosan. Crabbe menyeringai lebar. Ia senang karena ada yang tertarik. Yeah, bisa ditebak kalau selama ini seluruh joke-nya sepertinya tidak menarik-untuk sebagian orang saja- hingga tak ada yang mau mendengarnya, kecuali Goyle si Pasrah dari Park-Park-Away. "Anak perempuan gila dari Ravenclaw. Dia sering bicara tentang Narsis-"

Theo mendengus dengan tawa tertahan. Hah? Narsis? Gak salah dengar, tuh?

"-Nabe atau apa-ya… Aah! pokoknya tidak masuk akal. Namanya Loon-"

BRAAKK!

Crabbe dan Theo tersentak kaget, sementara Goyle nyaris tersedak jika dia tidak terjungkal ke belakang hingga makanan yang tersangkut di tenggorokannya keluar. Penduduk bangku di sekitar mereka diam menahan nafas melihat dua orang yang berdiri dengan tangan di atas meja.

Hitam bertemu emas.

Hal itulah yang pertama kali diketahui Pansy saat tahu anak perempuan yang dimaksud Crabbe adalah Luna. Ia memukul meja dengan kedua telapak tangannya. Gadis itu merasa aneh saat suara yang dihasilkan terlalu keras. Dan saat menoleh, ia mendapati Blaise Zabini juga telah melakukan hal yang sama. Memukul meja dengan kedua telapak tangan seraya berdiri. Ekspresi yang sama terlihat di wajah mereka.

Marah, walaupun Blaise hanya berkespresi dingin, namun semua orang tahu kalau dia marah. Lihat saja mata emasnya yang tiba-tiba menggelap bagai matahari kehilangan sinarnya.

Yang lain hanya diam. Mereka akan paham jika Pansy marah karena gadis itu memang sering terlihat dengan Lovegood sejak beberapa bulan terakhir. Tapi, Blaise?

Yeah, tak ada yang tahu untuk apa dia memukul meja. Laki-laki itu hanya diam dengan ekspresi dingin, lalu pergi tanpa kata-kata.

Meninggalkan wajah-wajah heran di balik punggungnya.

"Ta… tadi dia tidak menatapku, 'kan?" bisik Theo ketakutan walau tak ada yang menghiraukannya. Dia berharap, Blaise tidak tahu kalau dia yang sudah menyeludupkan kemasan coklat kodok ke bawah selimut laki-laki berkulit hitam itu hanya karena dia malas membuangnya. Dan sepanjang pagi di sekolah sihir Hogwarts, Theodore Nott terjebak dalam kesalahpahamannya sendiri hingga otaknya berhasil menghapus peristiwa itu dari ingatannya.

Sementara hal yang sama juga terjadi pada Pansy Parkinson yang mengira Blaise marah karena tahu bahwa ia tak sengaja menjadikan buku berharga milik laki-laki itu –buku 'Anatomi Tubuh Unicorn'- sebagai korban latihannya dan mengubur buku itu dalam-dalam ke tanah agar tidak ditemukan. Namun, ia segera melupakan hal itu saat bel telah berdentang 3 kali.

Dan tak dapat dipungkiri kalau Theo dan Pansy tidaklah bersepupu tanpa alasan yang kuat.

xxx

Seorang gadis Brunette berjalan berdampingan dengan dua sahabatnya, si Merah dan si Hitam yang tak henti-hentinya bercerocos tentang kejelekan-kejelekan jiwa dan raga guru Ramuan 'tersayang' mereka sejak dua orang itu telah menghirup udara segar yang jauh dari udara berpolusi dan beracun di ruang kelas Ramuan. Hal yang paling membuat duo maniak itu tertawa terbahak-bahak adalah asumsi Harry kalau minyak rambut Snape berasal dari ingus Troll. Ck, ck, ck… entah bagaimana bisa Harry berasumsi ngaco seperti itu.

"Harry, Ron, diamlah karena Herbologi tak menunggumu untuk diam," sela Hermione sarkastis dengan bosan. Buku 'Fermentasi Bunga Tersenyum' menganggur di bawah tangannya yang dilapisi sarung tangan merah gelap yang terbuat dari kulit. Ron meliriknya penasaran dengan rasa kagum. Tentu saja. Tak akan ada yang bisa mengerti perasaan seorang Gryffindor yang melihat warna kebanggaan mereka di sarung tangan kulit.

"'Mione, aku tak tahu kau punya sarung tangan sekeren itu," ujarnya heboh. Harry ikut memerhatikan. Terbesit rasa curiga tentang asal-muasal sarung tangan yang ditaksirnya termasuk barang mahal dan langka yang jarang bisa kau dapat di Hogsmeade, kecuali kau langsung memesannya dari New Zealand. Ehem, well, sebenarnya dia sudah memesannya untuk 3 orang, sih. Tapi, karena Hermione sudah punya, jadi yang satunya buat Ginny saja.

Hermione langsung tersenyum keki. Entah apa yang harus dikatakannya jika dua anak laki-laki itu bertanya darimana sarung tangannya itu. Beruntung. Bel yang mengakhiri pelajaran Profesor Sprout berdentang dan membungkam mulut Harry yang siap menanyai Hermione yang sudah melesat keluar pintu rumah kaca.

Hermione menghela nafas lega saat menengok ke belakang dan tak ada tanda-tanda ada orang yang mengekorinya. Ia mempererat lilitan syal di lehernya. Tak sengaja mata hazelnya menangkap sekelebat warna merah gelap di tangannya.

Aah, dia jadi mengingat orang itu.

Mata hazelnya menggelap, tertutupi hasrat. Dia mengingatnya. Ya dia mengingat wajah orang itu.

Wajahnya yang menahan kesakitan dan merahnya darah yang menodai rambut peraknya.

Aah, betapa Hermione menyukainya. Bibir merah mudanya mengulas senyum dingin.

"Kau berwajah aneh, Hermione," sela sebuah suara yang terdengar bagai igauan. Hermione menoleh dan mendapati seorang gadis berambut blonde berada di sampingnya dengan senyum melamunnya. "Aneh. Padahal aku tak melihat Nargles di sekitarmu," tambahnya. Hermione hanya diam dan tersenyum kecut mendengarnya. Ia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran gadis di sampingnya.

"Hai, Lovegood," sapanya dengan setengah hati. Luna mengangguk dengan tatapan matanya yang menerawang. Senyum dan tatapan matanya selalu membuatnya terlihat seperti orang yang sedang melamun.

"Luna. Luna saja." Luna megoreksi seraya memandang langit biru dari balik jendela. Hermione meliriknya sekilas lalu mengangguk sambil menggumam pelan.

"Kau… kenapa kau bisa mengenal mereka…!" Gadis brunette membekap mulutnya sendiri.

Shit! Mulutnya memang tak bisa dijaga!

Luna tersenyum kecil dan Hermione membalasnya dengan senyum menyesal.

"Ibuku juga wadah Roh," jawabnya singkat. Gadis di sampingnya membelalak tak percaya. "Wadah Roh Udara."

"Di Inggris?"

"Ya." Hermione termangu berpikir bahwa ada dua wadah Roh di Inggris atau mungkin lebih.

"Tapi, itu dulu." Luna mengembangkan senyumnya yang menenangkan. Hermione menatapnya bingung. Dia hendak bertanya, namu-

"Kau tidak pergi ke Perpustakaan? Pansy sudah bilang kalau kalian meeting di sana, 'kan?" tanya Luna dan gadis di sampingnya membuat wajah gawat-aku-lupa! dan dalam satu kedipan mata Hermione Granger tak lagi terlihat di koridor lantai dasar. Ia menghilang dari rombongan murid-murid tahun keempat yang baru saja menyelesaikan pelajaran Herbologi.

Gadis itu tahu saat ia berlari kencang di setiap lorong kastil, semua mata tertuju padanya. Ia juga tahu, jika ia langsung membuka pintu saat dalam keadaan sprint seperti itu, tentu semua mata akan tertuju padanya. Terutama tatapan Madam Pince yang membuatmu merasa bagai orang paling berisik di dunia. Oleh karena itu, ia memilih berdiri menenangkan diri di depan pintu Perpustakaan sebelum membukanya dengan sopan tanpa suara. Lalu, menggantung syal dan jaketnya serta menyimpan sarung tangannya. Matanya menyapu sudut-sudut ruangan demi mencari gumpalan rambut hitam dan kuning cerah yang mungkin sedang bergosip ria tentang dirinya. Beruntung matanya cukup jeli menangkap kunciran panjang seorang pemuda di bagian rak akhir.

"Terlambat 2 menit 46 detik," ucap Sqied sambil menutup arloji emasnya dan menyakukannya di saku kemejanya. Hermione merengut. Apakah mereka tidak tahu kalau dia sudah sprint sekuat tenaga dari lantai dasar hingga ke lantai 4?

Ya, ya, ya. Memang sih, jarak antara lantai dasar ke lantai 4 gak beda jauh sama jarak Skotlandia-Wina. Jaraknya sangat dekat kalau naik Hippogriff.

Pansy yang sedang berdiri menghadap rak buku menyeringai ke arahnya. Sedang, Sqied duduk di bangku dengan buku 'Encyclopedia Of Toadstools' yang terbuka di atas meja. Mata emeraldnya meliriknya sekilas.

"Kau sudah bisa memanggil Raven?" tanyanya dingin. Sorot mata gadis itu berubah sendu.

"Belum." Ia menahan nafas saat Sqied lantas menatapnya agak marah.

"Tidak bisa diharapkan," gumamnya pelan saat kembali menatap bukunya, tapi cukup untuk didengar Hermione. Gadis itu meliriknya galak. Ia ingin membalas namun suaranya tercekat di tenggorokan. Ia hanya bisa mendecih di dalam hati, merutuki nasib sialnya bertemu dua orang itu. Mereka diam. Pansy sengaja menyibukkan diri dengan mengutak-atik buku-buku tebal yang membuatnya mengerutkan dahi akibat ketidakpahaman yang membuat jutaan burung punah sia-sia, sementara Hermione memainkan jari-jari tangannya seolah itulah permainan yang paling mengasyikkan di dunia. Melihat si wadah baru yang –menurutnya- merasa tak diacuhkan, Pansy berdehem pelan.

"Sudah selesai, nih?" tanyanya sengaja memecah kesunyian yang membuat darah membeku. Sqied mengangguk tanpa menoleh, sedang Hermione berteriak marah di dalam hati saat tahu tenaganya terbuang sia-sia. Seharusnya ia tak datang saja!

Akhirnya mereka pergi, meninggalkan Sqied yang berkutat dalam buku Herbologinya. Pemuda itu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi seraya menghela nafas. Ia membuka arlojinya. Masih ada waktu sebelum jam 17.00. Ia akan patroli secepatnya dan kembali menyelesaikan tugas Herbologi Profesor Sprout. Salahkan Raja yang sedang keluar gerbang hingga harus membuatnya patroli di setiap 3 jam berturut-turut. Lelah? Tidak, kok. Hanya saja, punggungnya serasa mati rasa. Aah, untung saja Raven tak ada kerjaan. Well, ia akan membuat tunggangan wadah Roh Udara itu berolahraga sejenak.

Pansy bersandar di dekat pintu masuk Perpustakaan dengan tangan terlipat. Ia melirik sekilas pintu itu saat seorang gadis keluar dari sana. "Ikut aku," ucap Pansy saat tahu yang keluar dari pintu adalah Hermione. Gadis itu memandangnya dengan tatapan menyelidik sebelum mengangguk pelan. Bibir Pansy berkedut sedikit. Ia berjalan dengan Hermione yang berada di belakangnya.

"Hari ini, Sqied menyerahkan latihanmu padaku," ujarnya sembari menuruni tangga. Hermione hanya memutar bola matanya mendengar nama pemuda yang sangat dibencinya itu. Well, tak terlalu benci juga, sih. Tapi, tetap saja.

"Oh, ya. Kau pernah bertanya tentang Luna, kan?" tanya Pansy yang mendadak mengubah topik pembicaraan. Topik? Siapa juga yang mau menimpali pernyataan tentang kali-ini-latihanmu-melayang-terbalik. Tak ada lelucon menarik tentunya. Hermione menaikkan alisnya. Kebetulan sekali, dia memang ingin sekali menanyakannya.

"Kalau tentang dulu ibunya adalah wadah Roh Udara, aku sudah tahu itu," tanggap Hermione dan Pansy menyeringai. Yeah, dia benar-benar senang kalau tak perlu menjelaskan panjang lebar ke gadis berambut liar yang bahkan diragukan perawatannya itu. Pansy menguap sebentar.

"Ada penyebab kenapa kami membolehkan Luna dekat dengan kami. Karena dia bisa melihat wujud Roh. Kau tahu kenapa? Karena ibunya telah menjadi wadah Roh Udara saat beliau mengandung Luna, sehingga sedikit kekuatan Roh hinggap di dalam jiwa Luna. Tapi, itu hanya sedikit." Hermione menyimak penjelasannya. Gadis di sampingnya diam sesaat.

"Ibunya sudah meninggal."

"Eh?"

"Luna…seperti Theo juga, sih. Ibunya sudah meninggal." Pansy menguap lagi sembari merentangkan kedua tangannya yang saling berkait ke atas. "Beliau meninggal saat Luna berumur 9 tahun."

"…Oh," respon Hermione setelah terdiam cukup lama. Gadis di sampingnya melirik ke jendela.

"Jika dia bilang bahwa ibunya meninggal saat bereksperimen, itu bohong. Cerita sebenarnya tentang kematian ibunya hanya diketahui oleh Ein, itu yang kutahu." Tatapan mata gadis berambut hitam itu berubah sendu. Ia meneguk ludah. Ia benar-benar tak akan menyukai penjelasan yang akan keluar dari mulutnya.

"Hei, sudahkah kau diceritakan tentang pencuri Roh?" Hermione diam sesaat. Sempat ia berpikir tentang betapa mudah Parkinson mengubah topik.

"Ya." Pansy tersenyum palsu.

"Kau tahu, 'kan? Merekalah yang selalu siap membunuhmu-" Hermione menatapnya diam dari ekor matanya, "-aku, Sqied, Ein, dan semua orang yang seperti kita."

"Tentu saja."

Pansy menyeringai kecil.

"Untuk menjadi kuat, mereka butuh makanan." Pansy meliriknya sambil tersenyum menantang. "Nah, jawablah, Granger. Menurutmu, jiwa yang sudah tak berjasad makan apa?"

Hermione terdiam dengan mata melebar, sementara Pansy hanya tersenyum kecil.

"Terbagi dalam levelnya, ada di antara mereka yang memakan jiwa yang masih hidup untuk bertambah kuat. Dan untuk mencapai level yang lebih tinggi…" Pansy menggantung kalimatnya saat bibirnya mengulas seringai.

"…Mereka harus memakan jiwa wadah Roh untuk mendapatkan kekuatan Roh." Hermione harus mengatur nafas saat terpaku di tempatnya. Tapi, Pansy masih melangkah di depannya.

"Semua ini berhubungan dengan kematian Ibu Luna. Sqied berspekulasi bahwa mungkin… ibunya itu…" Kakinya berhenti melangkah. Tangannya terkepal kuat dan gemetar. "…m-mungkin…" Nada suaranya ikut bergetar. Hermione mengangkat wajahnya yang mulai pucat, menatap gadis yang sedang menoleh ke jendela itu dengan seksama. Perlahan Pansy menoleh, balas menatap gadis itu dengan ekspresi ketakutan. Ia menelan ludah.

"…Jiwanya dimakan oleh pencuri roh," bisiknya pelan, namun mampu membuat Hermione menahan nafas. Berpikir tentang betapa kasihannya Luna. Ia memang sudah diberitahu tentang Pencuri Roh, namun tidak dengan makanannya, dan hal-hal yang terkait di dalamnya. Apalagi tentang ibu Luna… aah, dia memang tidak tahu apa-apa.

"Ta-tapi itu hanya spekulasi, sih. H-hahaha…" Pansy tertawa garing. Jelas. Ia tak bisa menyembunyikan ketakutannya sendiri. Nafas Hermione menjadi pendek dan cepat. Pansy yang sudah lama menjadi wadah roh saja ketakutan, apalagi dia yang baru dipilih.

"Darimana… maksudku, bagaimana bisa dia membuat spekulasi seperti itu?" Pansy diam sesaat.

"Sqied sudah duduk di tahun kedua saat ibu Luna meninggal. Saat itu, satu-satunya wadah Roh di Inggris Raya yang masih bertahan adalah beliau. Sqied bilang kalau kematiannya cukup ganjil. Jasadnya tak ditemukan sama sekali, padahal sudah dicari berkali-kali, namun hasilnya nihil. Jasadnya tetap tak ditemukan.

"Waktu itu… pada hari terakhir beliau terlihat sedang bersama Ein. Raja pulang ke Hogwarts seperti biasa. Lalu, keesokan harinya, ibu Luna muncul di Daily Prophet … sebagai orang hilang. Dan Raja tak pernah berbicara sepatah kata pun tentang itu semua." Hermione termenung.

"Banyak bagian yang hilang," putusnya.

"Yeah, kau benar. Banyak bagian yang hilang…" Pansy menoleh ke arahnya. Bibirnya bergetar kecil.

"..Seolah-olah, Raja-lah yang telah membunuh Ibu Luna," lanjutnya dan Hermione lantas menatapnya dingin.

"Katakanlah, Parkinson. Kau tak sungguh-sungguh berpikir seperti itu, 'kan?" tanya gadis itu dingin. Matanya berkilat marah.

Dan Pansy Parkinson merasa telah menginjak ranjau di atas salju.

Ia mengutuk kebodohannya dengan melupakan fakta bahwa wadah Roh Udara adalah wadah yang paling loyal kepada Raja. Setelahnya, ia memilih tak berbicara sepanjang perjalanan ke halaman Gubuk Hagrid yang menenangkan. Sempat ia mengingat lelucon –atau peringatan?- Sqied tentang wadah Roh Udara.

"Jangan pernah menjelek-jelekkan nama baik Raja di depan mereka kalau tak ingin udara terhisap habis dari paru-parumu."

Mereka duduk seperti biasa. Menikmati udara dingin di atas kursi dengan secangkir teh hangat. Mereka berbicara seperti biasa. Walau pun hanya sedikit peristiwa yang bisa mereka angkat menjadi topic pembicaraan.

Dan bagi Pansy. Semuanya adalah hal biasa yang terjadi seperti hari-hari sebelumnya. Dia menyeringai sinis seperti halnya dia tertawa mengejek.

Namun, perlahan tangannya yang berwarna putih pucat itu menumpahkan teh yang tengah dituang ke cangkirnya. Dan ia sadar, tangannya gemetar tak karuan. Hermione mendengus sebal, berpikir kalau gadis itu sengaja.

"Parkinson, kau sedan-"

"Ssst! Diam!" sela Pansy. Matanya menyorot serius.

"Ada apa?" Pansy menatapnya aneh seolah Hermione adalah makhluk asing yang belum diketahui spesiesnya.

"Kau tak dengar? Ada suara aneh dari Hutan Terlarang," jawabnya kesal setengah berbisik.

"Benarkah?" Pansy kembali fokus pada pendengarannya. Dan hidungnya mencium bau asing yang hanya ia kenali saat Sqied menyuruhnya masuk ke dalam kastil. Matanya melebar.

DEGGUPP!

"Lari, Granger. Cepatlah," suruhnya tiba-tiba. Nafasnya tercekat akibat detakan mendadak yang terlalu keras saat sadar bau siapa yang diciumnya.

"Apa maksudmu?"

"Lari, Granger! Bersembunyilah kalau bisa!"

"Ap-"

"Jangan membantah! Lari saja!" bentaknya kasar dengan mata melotot marah. Hermione berjengit. Ia mendecih sebelum menaiki bukit dan hendak berlari masuk ke dalam kastil.

"Itu dia! Si wadah pemula! Gyaahahahaiii! Aku yang akan memakan jiwanya!" Suara melengking itu membuat Hermione, yang pada dasarnya rasa ingin tahunya lebih besar dari orang kebanyakan, mau tak mau menoleh ke belakang. Kedua bola matanya membelalak ngeri menyaksikan segerombolan orang yang menatapnya lapar dengan saliva menetes-netes. Nafasnya memburu. Segera dipalingkannya wajahnya, sebelum akhirnya ia berlari hingga lenyap ke dalam kastil.

Ia terengah-engah, namun tak berhenti berlari. Dia takut. Sangat ketakutan. Dia tidak suka melihatnya. Melihat tatapan lapar seperti itu. Koridor-koridor sepi menunjukkan seolah kastil ini tidaklah berpenghuni. Tentu saja. Siapa yang mau keluar di sore gelap dengan gejala akan terjadi badai salju seperti ini? Oh, tidak. Lebih baik berdiam di bawah selimut hangat selagi tak ada guru yang membebankan tugas berat padamu.

"Hai, Hermione." Suara itu membuat Hermione yang tak lagi berlari karena kecapaian itu menoleh. Luna memandangnya tenang. Walaupun dia ragu apakah gadis itu benar menatapnya atau dinding di belakangnya. Sebuah pintu asing langsung menyita perhatian Hermione. Selama di Hogwarts, dia tak pernah melihat ada ruangan di ujung kanan koridor dalam lantai dua ini.

"Masuklah kemari. Kau aman di sini," ucapnya dengan gesture mempersilahkan. Hermione menurut. Terkadang ia menoleh ke belakang, memikirkan keadaan Parkinson yang menyuruhnya pergi.

"Kau tak perlu khawatir." Luna duduk di sofa. Mata birunya memandang langit-langit ruangan yang berbentuk kubah. "Ini Ruang Kebutuhan. Satu-satunya ruangan yang dilindungi tabir pelindung Ein. Base perlindungan untuk wadah pemula."

Hermione memaksakan senyum kecil. Ia cukup tidak menyukai dirinya yang lemah hingga harus membutuhkan base perlindungan.

"Lov… Luna, kau bilang.. dulu ibumu wadah Roh Udara. Apa maksudnya?" tanyanya tiba-tiba. Luna mengulas senyum seperti biasa.

"Waktu aku berumur 9 tahun, beliau meninggal dalam kecelakaan eksperimen." Hermione agak menundukkan wajahnya. Menyembunyikan perasaan iba terhadap gadis itu. Luna bersenandung. Suaranya mengalun lembut di ruangan yang benar-benar Hermione butuhkan saat ini. Hangat dan nyaman.

"Kyaa! senangnya!" Pansy terdiam saat melihat begitu banyaknya pencuri Roh yang muncul satu persatu dari dalam hutan.

"Kejar dia!"

"Hihihihi! Kita beruntung, si pembawa sial tak ada di sini!" Pansy tersenyum masam. Permukaan air di Danau Hitam bergejolak hingga membangunkan para penghuninya. Wadah Roh Air perlahan mengangkat wajahnya yang suram penuh kemarahan.

Syuuut!

Craassh!

"Gyaaaa!"

"Tarik kembali kata-katamu, Soul Thief. Kau pikir siapa yang kau hina, hah!" Wadah Roh Air membentak marah. Sosok-sosok yang tidak bisa dilihat oleh manusia biasa itu menatap diam Pansy yang sudah mengacungkan pedangnya. Senyum mengerikan mengembang di bibir mereka.

"Ada wadah Roh Air rupanya." Mereka saling berbisik satu sama lain. Tangan Pansy gemetar saat memegang pedang.

Para pencuri Roh di depannya menyeringai lebar.

Wadah Roh Air berdiri tegar.

"Masih banyak waktu untuk membuka makanan kita dengan seorang wadah Roh Air yang belum berpengalaman."

Mereka tertawa nyaring seraya berlari hendak menggapai gadis itu dengan tangan mereka.

Pansy meremas pegangan pedangnya dengan geram.

Sebelum mengangkat lengan kanannya ke depan,

dan memanggil gelombang air yang sangat besar.

Bagai tsunami yang menunjukkan kemarahan alam.

"GYAAAAARRHGHH!"

xxx

Sejak bersekolah di Hogwarts, Hermione Granger hanya pernah menangis 4 kali.

Pertama, saat orang-orang menganggapnya menyebalkan hingga tak ada yang mau berteman dengannya.

Kedua, saat Malfoy menyebutnya Darah-Lumpur.

Ketiga, saat Buckbeak dieksekusi.

Keempat, saat ia tahu keluarganya berutang dalam jumlah besar pada keluarga Malfoy.

Setelah itu, ia bersumpah tak akan pernah menangis lagi.

Namun, seiring berjalannya waktu, keraguan menggerogoti keyakinannya.

Apakah ia mampu untuk terus memegang sumpahnya itu?

Dia tak tahu. Karena, dia pun ingin bertanya.

xxx

Di lantai 3, ruang galeri baju baja, 3 bayangan manusia tenggelam dalam hening.

Sqied duduk dengan tangan terlipat di depan dada. Cahaya rembulan membuat rambut kuning cerahnya bersinar lembut. Mata zamrudnya jelas menunjukkan kegeraman.

"Baru saja ditinggal sebentar, sudah ada gerombolan pencuri yang masuk dan yang lebih anehnya lagi…" Sqied tertawa palsu. "Mereka langsung datang ke base kita. Bukankah itu aneh, wadah Roh Udara?" Hermione tak menjawab. Matanya berkilat marah. Dia tahu bahwa pemuda itu sengaja memanas-manasinya hanya karena dia belum mampu menutup Gerbang Timur.

"Kupikir itu wajar, Sqied. Keberadaan wadah baru memang mudah untuk diketahui," timpal Pansy yang sedang memandang Danau Hitam di balik jendela. Sqied tersenyum tidak ramah.

"Yeah, kau bisa membelanya, tapi, kau juga harus membela dirimu sendiri. Apakah kau kurang latihan selama ini hingga membuat makhluk-makhluk danau nyaris mati di tanah hari ini. Bahkan aku masih bisa merasakan ketidaktenangan Tuan Gurita di sana, terutama mermaid yang kurasa memakimu sore tadi." Pansy meliriknya dendam.

"Ingatlah, Pansy. Kau nyaris membunuh dan menakuti manusia karena kekurangtelitianmu."

"Aku tahu," jawabnya datar. Kemudian ruangan menjadi hening. Pansy mengulas senyum tipis. "Aneh. Pencuri roh itu tahu bahwa dia tak ada di sini. Apalagi mereka memanggilnya dengan julukan itu." Sqied diam, lalu menyunggingkan senyum tenang, namun tampak dalam, seolah dia berada di dimensi lain. Hermione mengangkat wajahnya, penasaran dengan pembicaraan itu.

"Hahaha," tawa pemuda itu datar. "Apakah hanya karena dia tak ada di sini, tabir pelindung semakin melemah?" Hermione tampak mulai menyadari siapa yang Sqied maksud dengan 'dia'. Pemuda itu tertawa datar lagi seraya menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. "Hahaha… Mengesalkan…" Hermione Granger menatapnya tajam.

"…Si pembawa sial itu," ujarnya santai dan cahaya keemasan bersinar dari tubuh wadah Roh Udara. Pansy menahan nafas dengan sorot mata waspada.

Sepasang permata hazel berkilat di bawah sinar bulan yang temaram.

Sorot matanya penuh kemarahan.

Mata pedangnya mengkilap terang.

wadah Roh Tanah menyeringai tipis.

Bola mata zamrudnya menatapnya culas.

"Mengejutkan. Perubahan wujud pertamamu terjadi karena aku mengatai Raja sebagai Si Pembawa Sial. Khukhukhu…. Benar-benar wadah Roh Udara." Sqied terkekeh seraya menyingkirkan ujung pedang Hermione dari lehernya. Gadis itu mengejap-ngejapkan matanya seolah ia baru saja sadar apa yang terjadi. Ia terbelalak saat melihat sosoknya. Dan ia sangat mengenal model pakaian yang ia kenakan itu. Pakaian yang dikenakan Roh Udara saat menyapanya.

"Sosok yang keren, Granger," puji Pansy sinis. Hermione tidak mengacuhkan. Dalam sekejap ia mulai mengerti. Ini yang mereka sebut perubahan wujud. Mengagumkan. Ia kembali ke wujud manusianya. Sqied tersenyum tipis melihat perkembangan yang cukup cepat itu. Hermione Granger mudah mengerti, jadi dia tak perlu repot untuk ke depannya.

"Wujud Roh. Dalam wujud itu, kau tak perlu mengkhawatirkan tubuhmu. Tubuhmu akan melebur dalam wujudmu karena kekuatan roh yang ada pada diri kita." Sqied mengomentari sambil tersenyum ramah. "Kembalilah ke asramamu, Hermione." Pipi Hermione merona merah karena semangat. Ia tak pernah merasakan semangat seperti ini sebelumnya. Ia mengangguk cepat sebelum berjalan ke arah pintu dengan perasaan takjub akibat langkahnya yang tiba-tiba terasa ringan.

"Oh, ya, sebelumnya…" Hermione menoleh sebelum menarik grendel pintu, "selamat atas keberhasilanmu." Sqied memandangnya hangat.

Hermione tersenyum bangga.

"Thanks, Sqied."

"Untukku?" Pansy menaikkan alisnya. Hermione menyeringai.

"Nanti, Parkinson," ujarnya sebelum melambaikan tangannya dan menghilang di balik pintu.

"Semangat sekali dia," kata Pansy sarkastis karena tak dapat ucapan terima kasih. Sqied tertawa. Ia memandang gadis itu dengan seringai di bibirnya.

"Luna sudah cerita. kau menolong Hermione, padahal kau tidak punya pengalaman. Jadi, kalian sudah berteman, hm?" Pansy diam. Lalu, senyum sinis terulas di bibirnya.

"'Berteman'? kurasa tidak. Aku hanya ingin membuktikan kalau dia itu lemah. Aah, seharusnya kau lihat, bagaimana dia lari ketakutan saat itu." Ia tertawa nyaring. Sqied memandangnya sedih. Betapa dalamnya kebencian itu hingga membuat salah kaprah. Berpikir bahwa Pansy akan menerima Hermione? Mungkin itu hanyalah mimpi.

"Pansy…" Sqied mendesah lelah. Lelah dengan kebencian Slytherin terhadap Gryffindor yang seharusnya tidak pernah berlaku bagi para wadah Roh.

"Sqied, dia itu lemah. Sangat lemah malah. Aku heran, mengapa Roh Udara mau saja memilihnya. Padahal Granger sama sekali tidak punya motivasi." Gadis itu menyeringai masam.

"Motivasi?"

"Motivasi untuk menjadi kuat." Sqied mendengus.

"Sudahlah, Pansy. Dia berbeda denganmu." Wadah Roh Air tertawa kecil.

"Yeah. Memang berbeda, 'kan. Karena dia lemah dan aku kuat. Sungguh, penilaian Roh Udara salah." Ia mengulas senyum mengejek.

"Granger tidak pantas menjadi seorang wadah Roh," lanjutnya penuh penekanan. Suaranya bergaung jelas di ruangan itu. Dia hanya berbicara, namun perkataannya cukup menyakitkan.

Hingga seorang gadis yang masih berada di luar pintu ruangan itu, terdiam membisu. Suaranya tertelan di tenggorokan. Perlahan kakinya berjalan menjauhi ruangan itu. Tatapannya hampa. Ia tak tahu harus bagaimana menunjukkan kekecewaannya.

Bulir-bulir air mata menetes dari permata hazelnya.

Dalam sekejap, ia langsung sadar.

Sumpahnya telah terlanggar.

Sejak bersekolah di Hogwarts, Hermione Granger hanya pernah menangis 4 kali. Setelah itu, ia bersumpah,

Tak akan pernah menangis lagi.

Namun, di malam ini, sumpahnya telah terlanggar.

Dan sama seperti sebelumnya, yang tertinggal hanyalah kekecewaan. Ia berpikir, mereka adalah temannya. Namun, percuma. Selalu saja, kekecewaan mengikut di belakang kebahagiaan.

"Granger tidak pantas menjadi seorang wadah Roh."

Pernyataan itu membangkitkan amarahnya. Ia menyeka air matanya sebelum berlari dengan sorot mata kemarahan yang menyembunyikan sebuah ketegaran.

Kau akan menelan kembali kata-katamu, Parkinson.

Tak ada yang salah dalam penilaian Roh Udara hanya karena memilihku!

Nafasnya tersengal-sengal, mengeluarkan uap-uap putih dari mulutnya. Hidungnya memerah karena dingin. Matanya memerah karena tangis. Namun, kekuatan tergambar dari sosoknya. Wujud roh wadah Roh Udara.

Angin berhembus kuat. Kakinya berlari di atas elemen tak terlihat. Udara. Dia masih berlari. Terus berlari ke arah timur dengan kecepatan bagai kilat yang menyambar tanpa jejak. Setelah 1 jam berlari, ia berhenti. Jantungnya berdegup kencang. Nafasnya tertahan.

Saat melihat betapa hebatnya Gerbang Timur yang sering disebut-sebut oleh wadah Roh Tanah. Gerbang Udara. Gerbang besar bersisi emas dengan benda-benda asing yang bergerak-gerak di dalamnya. Benda dalam berbagai bentuk yang saling menyatu, lalu terlepas satu sama lain dengan warna biru langit transparan dan bercahaya.

Bibirnya mengulas sebuah seringai puas dan berambisi. Ia mengulurkan lengan kanannya ke depan. Sorot matanya tajam dan penuh kekuatan.

"Datanglah padaku, RAAVEENN!"

Ia memanggil. Ya. Wadah Roh Udara, akhirnya memanggil tunggangannya. Permata hazelnya berkilat penuh ambisi.

Sekelebat bayangan hitam melesat keluar dari dalam pepohonan. Helaian-helaian bulu hitam kelam berterbangan tak tentu arah.

Raven membuka kedua sayapnya dengan lebar di depan penunggangnya. Hermione hanya bisa terpana di saat badan si gagak raksasa terpecah,

meninggalkan sesosok makhluk yang lebih besar dan kuat darinya yang terhujani helaian-helaian bulu hitam malamnya.

Sesosok makhluk yang membuat angin semakin bertiup kencang.

Sesosok makhluk yang terbentuk dari elemen yang dipegang penunggangnya.

Angin bertiup brutal akibat kepakan sayapnya.

BLAAAMM!

Dan Gerbang Timur menutup dengan mudahnya dengan cahaya perak yang melengkungi dua sisinya. Lalu, angin menyebar ke kedelapan arah. Mengiringi kepakan sayap Raven yang telah kembali dari wujud aslinya. Hermione menyunggingkan senyum puas dan senang. Raven mengitarinya dengan semangat. Penunggangnya tersenyum hangat sebelum meloncat ringan ke punggung lebarnya. Hermione mengelusnya sayang dan Raven melesat terbang, kembali menuju Skotlandia.

Seorang pemuda terdiam dengan nafas tak teratur. Entah sejak kapan nafasnya menjadi sesak. Bola mata zamrudnya tak lepas dari pemandangan di arah timur dari atas menara astronomi ini. Walaupun jauh, namun ia bisa merasakan kekuatan makhluk itu menguar dari timur.

Yang terakhir telah lahir.

Nafasnya tercekat. Butir-butir keringat mengalir dari pelipisnya. Kekhawatiran jelas-jelas menaungi ekspresinya.

Ia tak perlu mempertanyakan lagi alasan Ein menjebaknya untuk tetap tinggal di Inggris. Satu-satunya yang ia inginkan sekarang adalah agar wadah Roh Api segera datang dan mengurusi makhluk itu.

Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding kayu. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Ya. Tak ada yang perlu dikhawatirkan jika wadah Roh Udara telah menutup gerbangnya. Tenanglah, Jack. Semua akan baik-baik saja.

Raja pasti telah memperkirakannya, Jack.

xxx

"Ding dong. Yang terakhir sudah lahir." Seorang pemuda berambut pirang yang bersandar di bingkai jendela, menyeringai. Mata emasnya memandang ke arah timur, tempat pilar cahaya berkilau melengkungi bagian timur. Ia menyakukan kedua tangannya di celana dan beranjak pergi dari tempatnya. Seorang gadis yang tengah melintasi koridor di depannya, membuatnya tersenyum.

"Hai, Pansy," sapanya. Pansy balas tersenyum melihatnya. Kakinya berlomba ke arah pemuda itu. Si pemuda bermata emas tersenyum hangat,

menyembunyikan wajah aslinya.

"Reul!"

Reul Lightning tertawa di dalam hati.

-to be continued-

A/N: Alhamdulillah, selesai juga chap yang memakan waktu ini. Afwan, readers, saya juga harus memerhatikan urusan sekolah. Jadi, mohon dimaklumi, ya.^^

Saya benar-benar bersyukur, nih! punya reviewers yang cakep n ca'em yang mau mengerti. Saya jadi merasa bersalah pas baca kata terakhirnya. 'Update'-nya udah gak disambungin kata fast dan semacamnya. Tapi, saya benar-benar berterimaksih.^^/

Dan Alhamdulillah, saya hanya punya dua reviewers. Saya benar-benar senang gak punya lebih dari itu. Sebenarnya, sih, saya gak mau ada yang review supaya update-nya bisa lama-lama saja. Hahaha, saya memang gak bertanggung jawab. Lagipula, bagi saya, banyaknya review bisa membuat saya menjadi semakin merasa bersalah karena lama meng-update chap. Apalagi harus membalas reviewnya. Maunya sih, update saja, trus lari deh.-_-. benar-benar gak bertanggung jawab saya ini.

Yosh! Thanks buat Abcd-san dan Diggory Malfoy-san. Thanks atas review-nya, yah!

Btw, thanks juga buat yang udah baca! \^^/

Next:

"Konon kabarnya, Roh Udara adalah satu-satunya roh yang mempunyai nafsu membunuh paling besar. Merekalah prajurit garis depan yang tak takut mati. Dan jangan pernah mempertanyakan keloyalan mereka terhadap Roh Api."

Pansy hanya diam mendengarkan. Sqied menghela nafas.

"Sedikit banyak, kau pasti tahu tentang mereka. Lindungi dia, Pansy. Apapun yang terjadi."

"Tapi-"

"Tak ada bantahan! Ini perintahku!"

Pansy tersentak. Ia menunduk sebelum berkata,

"Baik, Tuan."

Line 10: Naga Terakhir

_Touch Of Air_

{Zenn Von Rozenkreuz}