- The Most Beautiful Moment In Life -
(Taehyung POV)
"Taetae~ apa kau sudah siap?"
"Umm sebentar umma!"
Saat itu aku berumur 8 tahun, aku hidup di keluarga yang terpandang. Mainanku berlimpah, baju mahal, dan rumah yang besar. Aku adalah anak satu-satunya, aku hanya punya seorang ibu penyayang dan ayah yang tegas tapi tetap menyayangiku.
"Heih~ anak ini, kenapa kau masih bermain? Mana bajumu?"
"Hehe umma! Lihat mobilnya berjalan cepat!"
"Tsk, anak nakal, jika kau tidak cepat nanti kita terlambat!"
Dulu ibu suka memanggilku anak nakal, dia juga suka mencubit pipiku, tapi meski begitu dia sangat menyayangiku. Dan aku juga sangat menyayanginya.
"Sayang, jangan memarahi Taehyung seperti itu..."
"Tapi anakmu ini belum berpakaian dan masih asik bermain"
"Bukankah anak kecil memang seperti itu?"
"Hah, baiklah kali ini kau menang"
"Aduh, umma hidung Tae..."
Ibuku juga suka mencubit hidungku jika ia tidak suka kelakuanku yang menurutnya seperti anak nakal. Tapi tak apa, aku bersyukur ia tidak pernah memukulku sekalipun.
"Semua siap?"
"Tunggu sebentar aku pikir tas ku tertinggal"
"Kalau begitu ambillah. Taehyung, apa kau sudah siap semuanya?"
"Heum! Sudah appa, Tae sudah siap"
"Anak baik..."
Ayahku senang mengusap kepalaku, dan memanggilku 'anak baik' setiap kali aku berbuat baik atau setiap kali aku menurutinya. Dan itulah yang membuatku sangat menyayanginya.
"Baik, semua siap"
Aku ingat waktu itu kami ingin berkunjung ke kantor ayahku karena ayah ditunjuk sebagai presdir baru. Disepanjang perjalanan, aku hanya duduk di belakang sambil bermain dengan mobil-mobilan yang diberikan ayahku. Ibu sesekali melihatku sedangkan ayah fokus menyetir.
"Tae, mobil apa ini?"
"Ini mobil balap tercepat ibu!"
"Lalu ini apa?"
"Dia ini mobil yang jahat, dia yang menabrak mobil balapku"
Aku ingat saat itu ibu terdiam menatapku setelah aku mengatakan itu. Tapi aku tidak menghiraukan dan tetap bermain.
"Wuus! Lebih cepat! Lebih cepat! Wuus~ bang! Dia menabrak dengan kecepatan penuh!"
Aku ingat bagaimana konyolnya aku berguling dan kembali duduk setelah membenturkan kedua mobil mainanku. Dan aku juga ingat tatapan ketakutan ibuku yang melihatku dengan mainanku. Saat itu aku mulai merasakan kalau ayahku menjalankan mobil dengan kecepatan lumayan cepat, dan entah kenapa ibuku merasa sangat ketakutan, dan mereka mulai berdebat kecil.
"Turunkan kecepatannya!"
"Kita sudah terlambat, jika aku memelankannya kita akan ketinggalan acara"
"Apa pentingnya acara itu? Cepat turunkan kecepatannya!"
"Ini sudah pelan yeobo, kau tenang saja!"
Ibuku terlihat sangat tidak tenang, aku memang merasa ayahku sudah menurunkan kecepatan mobilnya, tapi ia terus berkendara sambil menatap arlojinya. Dan setelah beberapa menit sunyi, aku kembali bermain dengan mainanku, hingga aku mendengar suara decitan ban dan ayahku menginjak rem mendadak. Kami semua yang ada di mobil itu terdiam, ibu terlihat benar-benar panik. Ia menatap keluar kaca jendela dengan nafas yang tersengal-sengal. Ayahku juga sama, ia menatap kaca disampingnya, memastikan kalau mobil kami sudah aman. Aku hanya menatap mereka dengan bingung, ya kau tau lah bagaimana anak kecil saat terkejut.
"Umma...?"
"Ti-tidak apa-apa Tae, tetap di tempatmu dan jangan bergerak..."
Kulihat ibu menahan tangisnya, ia menengok ke arahku dan tersenyum lembut, untuk beberapa saat aku merasa tenang, tapi tak lama kemudian aku merasakan benturan keras dari arah samping kanan dan kurasakan kepalaku terbentur sesuatu dengan keras. Pandanganku sedikit memburam, kepalaku terasa sangat pusing, tapi kurasakan sebuah rengkuhan tangan ibuku dan parfum yang biasa ibuku gunakan, parfum yang membuatku selalu merasa tenang setiap kali aku berada di pelukannya. Dan berikutnya seluruh pandanganku benar-benar menggelap.
Tak berapa lama kemudian, aku terbangun dan melihat ruangan serba putih. Aku tidak bisa bergerak banyak, hanya kepala dan jari-jari yang bisa ku gerakan. Setiap kali aku mengerjapkan mataku, kepalaku terasa sangat sakit. Kulihat sebuah selang infus di tangan kiriku. Dan kulihat seorang pria berjas dan seorang dokter sedang berbicara di depan pintu kamar rawatku, tapi tak lama kemudian dokter tadi masuk kedalam kamar rawatku dan menghampiriku. Bisa kulihat sebuah senyuman terukir di wajahnya.
"Selamat pagi Taehyung"
Aku hanya terdiam menatapnya. Aku masih ingat saat aku melihat pintu kamar rawatku, menunggu jika ada ibu atau ayahku yang datang dan menjemputku pulang. Kau tau dari kecil aku membenci rumah sakit, lorong-lorongnya selalu sepi dan bau obat dimana-mana, dan yang terpenting, aku benci dokter karena aku pikir mereka akan menusukku dengan jarum suntik. Haha aku memang anak yang penakut.
Dan kembali ke cerita. Seperti yang kalian tau, lama aku menatap pintu itu, ayah ibuku tidak kunjung datang. Dulu aku berfikir kalau mereka sedang dalam perjalanan ke sini, seperti saat ayah menjemputku ke sekolah karena aku sakit dan harus berdiam diri di uks kkk.
"Bagaimana keadaanmu? Apa sudah merasa baikan?"
Aku masih ingat wajah dokter yang selalu mengajakku berbicara, meski aku hanya bisa membalasnya dengan mata yang berkedip seperti orang bingung. Dan setiap kali aku melakukannya dokter itu seakaan mengerti apa yang aku ucapkan.
"Taehyung, aku senang kau masih bisa bertahan..."
Waktu itu aku tidak terlalu mengerti dengan apa yang dia ucapkan. Apa itu sebuah kalimat yang ingin aku dengar atau tidak, aku tidak bisa membedakannya. Tapi seorang pria dengan jaket kulit hitam, yang memperkenalkan diri bernama Tuan Kim berkata kalau aku satu-satunya anggota keluarga yang masih selamat dari kecelakaan mobil beruntun. Entah kenapa aku tidak menangis waktu itu, tapi saat melihat jasad ibu dan ayahku di ruangan lain, aku merasa benar-benar sendirian.
Aku menangis setiap saat. Di rumahku aku hanya bisa duduk diam sambil menatap pigura foto yang terpasang di setiap ruangan. Rasanya sepi sekali, aku yang biasa bermain dengan ibuku setiap ada waktu senggang sekarang hanya bisa melamun dan menangis. Satu persatu orang-orang yang biasa merawatku saat orang tuaku pergi kerja mengundurkan diri. Aku semakin merasa sendiri, hingga suatu hari Tuan Kim datang ke rumahku, bermaksud untuk membawaku ke panti asuhan, dia bilang orang tuaku pernah berkata untuk menitipkan aku ke panti asuhan jika mereka sudah tidak ada, dan Tuan Kim benar-benar menjalankannya. Tuan Kim memasukan beberapa baju yang menjadi favoritku kedalam tas ransel kuning yang diberikan ibuku saat aku tk.
Awalnya aku sempat menolak dan menangis, tapi karena Tuan Kim berkata ini demi orang tuaku, dan karena pelayan terakhir di rumahku sudah ingin mengundurkan diri, aku menurutinya. Disepanjang perjalanan aku terus menangis, terlebih sebelum aku dan Tuan Kim meninggalkan rumahku, rasanya seperti meninggalkan kenanganku disana, ya kau tau lah aku tinggal disana sejak aku masih saaangat kecil di dalam perut ibuku kkk.
Baiklah singkat cerita, tuan Kim benar-benar membawaku ke panti asuhan, di sepanjang jalan aku terus menunduk dan terisak. Aku masih teringat saat seorang pria memasang tanda "rumah dijual" di pagar rumahku. Rasanya aku benar-benar tidak mau beranjak dari rumah itu. Tuan Kim terus menerus berusaha menenangkanku, tapi tidak bisa, bahkan setelah sampai di panti asuhan juga, tidak ada yang bisa membuatku kembali tersenyum. Aku terus meremas tali ransel kuningku dan menatap kedua kakiku yang beralaskan sepatu hitam.
Saat itu aku merasa kalau panti asuhan adalah tempat yang paling aku benci. Aku ingin sekali pergi dari sana, tapi jika dipikir lagi aku harus kemana jika aku pergi dari panti asuhan itu. Ya kembali ke cerita, sepeninggalan Tuan Kim dari pekarangan panti asuhan itu, aku terus menatap gerbang panti asuhan dengan isakan yang tak berhenti, hingga kurasakan sebuah usapan lembut pada kepalaku dan sebuah suara wanita yang terkesan tegas namun lembut.
"Taehyung, kenapa kau menangis?"
Aku ingat aku hanya menatap wajah keriputnya dengan kerjapan mata yang basah karena air mata, aku hanya merindukan ibuku waktu itu. Wanita itu tersenyum seakan mengetahui isi hatiku. Kemudian ia memelukku kemudian mengajakku kedalam panti asuhan itu. Di sepanjang perjalanan ia terus berkata padaku bahwa aku tidak sendirian, berkata padaku bahwa akan ada banyak teman yang menyayangiku. Tapi aku hanya bisa terdiam terisak mendengarnya. Hingga mataku bertemu dengannya.
Seorang anak kecil yang mungkin berumur lebih muda dariku, wajahnya datar dan sorot matanya sangat tajam, seakan-akan dia tidak menyukai kedatanganku. Awalnya aku merasa takut dengan dia, aku hanya bisa menatapnya sambil mengeratkan peganganku pada tali tas ku. Kemudian wanita tua tadi mengajakku untuk mendekati anak kecil itu yang didampingi oleh gadis cantik, saat aku berada di hadapannya, aku hanya bisa mengerjapkan mata menatap anak kecil itu. Tak lama kemudian, sang wanita tua mengenalkanku pada si gadis cantik itu.
"Nara, ini Taehyung, orang tuanya meninggal karena kecelakaan mobil. Ia akan disini sampai ia mendapat orang tua yang baru"
"hoo, jadi ini Taehyung kecil? Aigoo mengapa kau menangis, hm?" balas sang gadis pengasuh yang bernama Nara itu sambil duduk berlutut di depanku, dengan senyum manis ia mengusap jejak air mata di pipiku.
Aku ingat saat itu aku sempat diam beberapa saat dan seketika memory tentang kehilangan orang tuaku itu kembali terputar. Kemudian mataku kembali memanas lalu mengeluarkan air mata, sambil berkata "aku... hiks... aku merindukan um—... hiks umma... dan ap-appa ku... hiks... aku... aku tidak ingin sendirian... hiks"
Aku pikir mereka akan memarahiku lagi, tapi gadis bernama nara itu tersenyum kemudian mengusap kepalaku sambil berkata, "aigoo uljima Taehyungie... kau tidak akan sendirian, ada nuna disini, dan lagi..." ia menggantungkan kalimatnya, kemudian menarik tangan anak kecil disampingnya dengan perlahan lalu tersenyum, "kau akan punya banyak teman disini, salah satunya dia, namanya Jungkook..."
Saat itu aku merasa dunia baruku baru saja akan dimulai, dan pada saat itu baik aku ataupun Jungkook, kami saling diam dan menatap satu sama lain. Dan dengan otomatis aku mengeluarkan sebuah senyuman lebar, dan pada saat itu aku berjanji tidak akan bersedih lagi.
Aku ingat dulu saat di panti asuhan aku memiliki banyak teman, semua anak-anak antusias denganku dan mereka semua selalu mengajakku bermain. Tapi entah kenapa aku tidak tertarik dengan mereka, setiap kali mereka mengajakku bermain, aku hanya bisa tersenyum sebagai penolakan halus. Aku merasa aku punya aktivitas baru yang tidak pernah kulewatkan di panti asuhan itu, yaitu menatap, mengikuti, membuntuti dan mencoba mengajak bermain seorang anak kecil bernama Jeon Jungkook. Pernah suatu kali aku mengikuti dia, aku ketahuan olehnya dan entah bagaimana caranya aku bisa kehilangan jejaknya.
Baiklah, itu hari pertama, kemudian esoknya saat aku sedang dikerubungi oleh anak-anak panti asuhan di taman bermain, seperti biasa aku hanya bisa tersenyum menolak ajakan mereka dan sesekali menjawab pertanyaan yang sekiranya aku ketahui. Dan dibalik itu semua, aku masih mempunyai celah diantara kerumunan ini untuk melihat Jungkook yang berada di sebrang ku, dia duduk terdiam di ayunan yang tidak bergerak sedikitpun. Aku langsung bangun dan menghampirinya saat semua anak-anak sudah mulai sibuk dengan mainan mereka.
Saat aku duduk disampingnya, ia seakan tidak mengetahui kehadiranku, kalau tidak salah saat itu ia sedang menunduk menatapi sepatu hitamnya. Aku masih setia duduk di ayunan sebelahnya dan menatapinya. Saat itu aku bingung harus berkata apa, aku selalu ingin berkenalan dengannya tapi selalu terhalang oleh anak-anak lain dan untungnya sekarang aku sudah mendapat kesempatan. Saat itu aku hanya diam menatapinya yang sedang menatapi sebuah batu yang telah dia tendang. Dan tak lama kemudian ia mulai menyadari kehadiranku dan menatapku.
Suasana langsung hening. Aku masih setia tersenyum menatap Jungkook, dan Jungkook masih setia dengan wajah datarnya. Wajahnya seakan menjelaskan bahwa ia benar- benar tidak ingin diganggu olehku. Menyeramkan sekali. Tapi aku membenarkan posisi dudukku kemudian kembali mengeluarkan senyuman terbaikku, dan kalau tidak salah, aku ingat dulu aku melontarkan pertanyaan bodoh padanya, yaitu, "hai, namaku Kim Taehyung! Siapa namamu?"
Saat itu aku ingat Jungkook hanya diam menatapku kemudian ia bangun dari duduknya dan pergi meninggalkanku. Saat itu rasanya aku sangat bodoh, dan yang bisa ku lakukan hanyalah mengerjapkan mata beberapa saat sebelum akhirnya ikut bangun dan berlari mengejar Jungkook.
"yaa! Kajima!"
Baiklah hari kedua gagal. Tapi aku tidak menyerah, aku meminta pada Nara noona untuk memindahkanku dari kamarku yang lama ke kamar dimana Jungkook tidur. Meski sempat mendapat penolakan, tapi akhirnya Nara noona menyetujuinya. Disepanjang perjalanan aku tak henti-hentinya tersenyum, berjalan sambil memakan coklat dan menarik koper yang dipinjamkan oleh Nara noona. Yah akhirnya aku akan selalu bertemu dengan Jungkook. dan senyumku bertambah lebar saat aku sudah sampai di kamar baruku. Kulihat Nara noona sedikit ragu untuk menempatkan aku di kamar ini, tapi aku hanya tersenyum berusaha meyakinkannya.
"Taehyungie, apa tidak apa-apa jika pindah kesini? Kurasa kamar ini sudah hampir penuh" ucap Nara noona sambil duduk berlutut di depan ku.
"eum! Gwenchana nuna, aku tidak suka kamar yang luas, aku suka kamar yang penuh dengan teman-temanku" ucapku sambil tersenyum lebar menatap Nara noona. Kulihat Jungkook ke arahku dan Nara noona, aku melihatnya menghela nafas kemudian membaringkan tubuhnya di ranjangnya sendiri. Aku tersenyum begitu melihat ada space kosong disamping Jungkook, itu artinya aku akan tidur di sebelahnya.
Setelah lama mengobrol, Nara noona meninggalkanku di kamar baruku dan berkata agar aku meletakan kopernya di ruangan itu. Aku hanya menurut kemudian menatap Jungkook yang sedang berbaring memunggungiku. Aku tersenyum kemudian menghampiri tempat tidur kosong yang dimana disana ada Jungkook hanya terdiam sambil menatap ranjang kosong di sebelahnya. Itu tempat tidurku hehe. Aku masih tersenyum saat ia perlahan menatap wajahku. "hai Jungkookie..." setidaknya dua kata itu yang seketika keluar dari mulutku.
Kulihat Jungkook masih setia terdiam dan menatapku datar. Aku hanya tersenyum kemudian beralih menaiki ranjang kosong disebelah Jungkook yang merupakan tempat tidurku. Saat sudah berbaring, aku mengeluarkan sebungkus coklat lagi untuk ku berikan padanya, dan kuingat saat itu Jungkook hanya mengerjapkan matanya ketika melihat sebungkus coklat itu berada di depan wajahnya. Aku tersenyum melihatnya, ia terlihat sangat menggemaskan.
"ambil lah, apa kau pernah makan coklat?" tanyaku sambil tersenyum, dan kulihat ia hanya menatapku. Aku berharap dia menerima coklatnya, tapi dia tetap diam menatapku. "Umma ku bilang kalau coklat bisa membuat orang senang! Ini, kau coba makan, ya?" Seberapa keraspun aku membujuknya, ia tetap diam dan diam. Suasana kembali hening, Jungkook dengan wajah datarnya, dan aku dengan bungkus coklat dan wajah tersenyumku.
Dan tak lama kemudian Jungkook membalikan tubuhnya membelakangiku,
membuatku seketika menghilangkan senyumku. Ah, malam pertama itupun aku gagal, rasanya aku merasa hampir frustasi, aku menatap punggungnya lalu beralih menatap coklat di tangannku, kemudian aku meletakannya di samping bantalnya. Aku kembali tersenyum, aku seakan berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menyerah, seperti halnya aku yang ditinggalkan orang tuaku, aku tidak ingin Jungkook menyendiri. Aku kembali mendekati Jungkook kemudian membetulkan selimutnya.
"selamat tidur Jungkookie, temanku yang paling baik" bisikku yang kemudian memindahkan bantalku ke samping bantal Jungkook dan tidur dengan wajah yang bersembunyi di punggung kecil Jungkook. Aku sudah dapat teman baru, teman yang akan selalu aku jaga. Aku tidak ingin dan aku tidak akan kehilangannya lagi.
Baiklah singkat cerita, setelah malam itu aku tidur bersama Jungkook dan bangun dengan kondisi aku yang memeluknya, aku semakin dekat dengannya, meskipun ia masih terlihat acuh saat aku memberikan senyuman padanya, tapi aku tidak pernah berhenti untuk mencoba mendekatinya dan mengajaknya bicara. Hingga akhirnya kami berdua sudah mulai dekat, mungkin karena di bosan padaku hehe atau dia menyerah karena aku tidak berhenti mendekatinya. Kedekatanku dengan Jungkook membuat anak-anak lain merasa aneh karena aku dekat dengan anak yang paling pendiam disana.
Dua tahun pun berlalu, Jungkook masih menjadi anak pendiam dan aku masih menjadi anak periang dengan senyuman yang selalu ada di wajahku. Jungkook masih menjadi anak yang selalu berdiam diri di bawah pohon rindang atau ayunan kosong dan aku masih menjadi anak yang setia mengajak Jungkook berbicara, meskipun yang aku dapatkan hanya tatapan datar darinya. Dan meskipun aku terkenal di kalangan para pengasuh dan anak-anak lain, tapi entah kenapa aku lebih senang berada di dekat Jungkook.
Aku ingat ada kejadian mengejutkan yang membuatku sedikit takut dan khawatir. Saat itu adalah hari bebas, aku dan Jungkook duduk bersebelahan di ruang makan saat jam makan siang. Seperti biasa aku adalah sasaran anak-anak atau pengasuh untuk diajak bicara, dan Jungkook hanya duduk diam di sebelahku. Aku ingat saat itu seorang anak mengajakku bermain bola di lapangan belakang panti itu, dan aku pikir itu ide bagus dan aku berinisiatif untuk mengajak Jungkook.
"Jungkookie, apa kau ingin bermain bersama aku dan yang lainnya?" tanyaku pada Jungkook yang hanya diam menatap makanannya. Awalnya aku mendapat penolakan darinya, tapi tak lama kemudian ia menyetujui ajakanku dengan syarat aku mengusap kepalanya dan menyenutnya anak baik setiap ia menurut padaku. Kkk rasanya seperti aku melihat ayahku.
Dan tibalah saatnya aku bermain bola dengan anak-anak lain, kali ini lawannya adalah anak-anak dari kelompok anak yang terkenal nakal di panti asuhan itu, ketua mereka adalah seorang anak bernama Dongyu. Tidak ada masalah yang terlihat saat permainan berlangsung, kelompukku terus mencetak gol sedangkan kelompok Dongyu belum mendapatkan satu poin pun. Aku pikir tidak masalah saat itu, tapi akhirnya Dongyu menendang kakiku dan membuatku terjatuh saat ingin menendang bola ke gawang. Seluruh anak-anak mengerubungiku, dan mengkhawatirkanku, tapi aku hanya tersenyum untuk memastikan mereka kalau aku tidak apa-apa. Kemudian aku melihat ke arah Jungkook yang terdiam menatapku khawatir, aku tersenyum padanya untuk membuatnya tenang, tapi tak Dongyu membentak Jungkook dan menyuruhnya mengembalikan bole yang ada disampingnya. Jungkook terlihat tidak senang, wajahnya menampakkan amarah yang besar, dan seketika aku mengkhawatirkannya, entah Jungkook atau Dongyu, aku takut akan terjadi sesuatu yang tidak-tidak.
Dan tak lama kemudian, Jungkook memgambil bolanya dan menendant bola itu dengan kuat ke aras Dongyu. Aku terkejut begitu melihat Dongyu tumbang dengan darah yang mengalir di kepalanya.
Malamnya, Jungkook dan Dongyu dipanggil ke ruang kepala panti asuhan. Aku bersikeras ingin ikut bersama mereka, karena aku takut jika kepala panti asuhan mengeluarkan Jungkook atau semacamnya. Sesampainya di dalam, Jungkook dan Dongyu hanya bisa menunduk mendengarkan kepala panti asuhan menasihati mereka. Aku terus memperhatikan punggung mereka, sambil berdoa pada tuhan agar aku tidak dipisahkan dengan Jungkook. Dan setelah itu, kedua anak itu dipersilahkan keluar, Dongyu mengikuti seorang pengasuh ke ruang lain untuk diobati, sedangkan aku mengikuti Nara noona dan Jungkook ke kamarku. Aku bersyukur kalau kenyataannya Jungkook dimaafkan dan tidak dikeluarkan dari panti asuhan ini.
Disepajang oerjalanan menuju kamar, ku terus memegangi tangan Jungkook, berusaha membuatnya tenang. Aku tersenyum sambil mengusap tangannya pelan.
"Hey, setelah ini, berjanjilah padaku kau akan jadi anak baik..." bisikku pelan sambil menatapnya dengan senyum manisku. Kulihat ia mengerjapkan matanya beberapa saat kemudian mengangguk perlahan lalu menunduk. Aku mengembangkan senyumku kemudian mengusap kepalanya lembut. "Anak baik..."
Saat dikamar, aku dan Jungkook masih terjaga, aku ingat saat itu aku sedang mengusap kepala jungkook dan menunggunya untuk tidur, tapi yang ia lakukan hanya terus mengusakan kepalanya kedalam tanganku, kkk aku ingat sekali saat-saat itu.
Saat itu aku sadar kalau aku harus menjaga anak itu, aku harus melindunginya dari orang jahat diluar sana, dan aku berjanji saat kami berdua keluar dari panti asuhan nanti, aku akan menikahinya. Kkk aku berkata seperti itu seakan-akan tidak ada yang bisa memisahkanku dengannya.
"hey Jungkookie... aku berjanji, jika aku sudah besar nanti, aku akan menikahimu! Kita akan menempati satu rumah yang sama, punya keluarga dan hidup bahagia! Kau mau?" ucapku dengan antusias membayangkan masa depan, sedangkan Jungkook hanya diam menatapku bingung.
Aku terkekeh pelan kemudian memeluknya dan berkata, "kkk aku tau kau bingung... yang jelas, aku akan selalu melindungi dan menjagamu, kau milikku Jungkook..." aku kembali menampilkan senyumku dan kemudian menatapnya, dan sesuatu yang tak terduga muncul, bibir itu, tiba-tiba saja kedua sudutnya tertarik ke atas dan menunjukkan sebuah senyuman manis. Dan malam itu aku seketika heboh menatap wajah Jungkook. Tapi tak lama kemudian aku diam karena takut mengganggu tidur anak-anak yang lain.
TBC
