"Donat mungil!" Seruku ketika kami melewati Café Du Monde, tempat terkenal yang menjual beignet dan kopi. Bahkan, hanya itu yang mereka sediakan.

Chanyeol dan aku mengeksplorasi Osaka. Di sinilah ia memutuskan ingin membawaku dalam liburan pendek kami. Selama dua hari terakhir, kami telah menjelajahi kota bersejarah yang kaya akan musik, makanan dan budaya.

Ini sungguh luar biasa.

"Ya benar, ayo kita coba." Chanyeol membawaku ke dalam, tangannya menggenggam tanganku. "Kopi juga?" Dia balas menatapku dengan senyum di bibirnya.

"Ya, boleh." Aku mengangguk dan menunggu sementara ia memesan. "Memesan tiga?" Tanyaku datar.

"Ini benar-benar enak," dia menjawab enteng dan membawaku ke sebuah meja di luar cafe di tempat teduh. Bahkan di musim gugur, di sini masih panas. Dan lembab. Tapi aku tak peduli.

"Jadi," aku duduk di depannya di meja bistro kecil dan memposisikan kacamata hitamku di atas kepalaku. "Apa yang ingin kau lakukan hari ini?"

"Kupikir kita dapat sekedar berkeliling, belanja, mendengarkan musisi jalanan." Dia mengangkat bahu ketika pelayan mengatur tiga keranjang dari adonan goreng berbentuk persegi dengan gula bubuk secara bebas diletakkan di atas meja, bersama dengan kopi chickaree kami. "Aku hanya ingin bersama denganmu, segala sesuatu yang lain adalah keuntungan tambahan."

Aku menyeringai ke arahnya. "Bersikap santai sudah seharusnya, Chanyeol. Kau tak perlu menjadi bermuka tebal."

"Bermuka tebal?"

"Bermuka tebal," Ucapku tanpa suara kearahnya.

"Aku tak kenal siapa pun yang mengatakan bermuka tebal."

"Aku orangnya." Aku menyeringai lagi dan mengambil beignet hangat dan harum, sedikit mengguncang kelebihan gula, dan menggigitnya. "Oh ya Tuhan."

Dia menertawakan kekacauan yang kubuat dengan bubuk gula putih dan menggigit sendiri makanannya. "Enak?"

"Ya Tuhan, Kurasa aku perlu mengganti celana dalamku."

"Kau tidak memakai apapun." Mata memanas saat ia menyipitkan matanya ke arahku dengan jenaka.

"Yah, kalau aku memakainya, aku harus menggantinya karena kurasa aku baru saja merasakan orgasme." Wanita tua di meja sebelah kami tersentak, tapi aku mengacuhkannya dan menggigit lagi dan menegakkan kepalaku kebelakang ketika aku mengunyah, mata terpejam, menikmati kelezatannya. Kopi Chickaree menambah kelezatan beignet-nya dengan sempurna. "Aku mungkin harus pindah kemari."

"Kenapa?" Suara Chanyeol tenang dan tegang, dan aku menemukan matanya menatap mataku.

"Ada apa?"

Dia memandang sekeliling, memastikan bahwa tidak ada yang mendengarkan, tapi salah satu hal yang kita sukai tentang disini adalah, tidak ada yang peduli siapa Chanyeol. "Mengamati kau menikmati makanan membuatku terangsang," bisiknya.

Aku menyeringai dengan perlahan dan menggesek kakiku naik turun di betisnya saat aku menggigit lagi, memastikan aku menjilat kelebihan gula di bibirku. "Mmm."

Dia mengangkat alisnya dan tawa. "Apakah kau ingin memainkan permainan ini?"

"Kenapa, Chanyeol? Tidakkah kau ingin bermain denganku?" Aku tersenyum dengan manis dan menyesap kopi, kemudian menggigit lagi. "Oh Tuhan, ini enak. Kita mungkin perlu lebih banyak lagi. Kuharap kau tidak peduli jika aku akan duduk di sini dan menimbun lemak dari gorengan lezat ini."

Dia tertawa dan menggigit juga. "Aku sudah punya suatu rencana kegiatan fisik nanti, atau mungkin lebih cepat lagi, yang pasti dapat membakar beberapa kalori itu."

"Syukurlah." Aku mengejutkan kami berdua dan makan lebih dari setengah beignet. Aku tidak bisa berhenti. Ini seperti narkoba. "Serius, ini sangat enak."

"Aku senang kau menyukainya." Dia duduk kembali dan menyeruput kopinya, menatapku dengan spekulatif, tiba-tiba sadar.

"Apa?"

"Cuma berpikir." Dia menggeleng dan mengamatiku melahap dua Donat kecil terakhir. "Kau terlihat cantik hari ini."

Aku menunduk menatap gaun terusan berwarna jingga dan sepatu kets coklat. Ini hanya pakaian musim panas umumnya, yang sepertinya sesuai untuk musim gugur di Jepang.

"Terima kasih."

"Aku suka rambutmu ditata diatas lehermu seperti itu."

Aku memiringkan kepala ke samping dan menatapnya. Dia menatapku seperti dia bisa memakanku hidup-hidup. Seperti dia melihatku untuk pertama kalinya.

Seperti dia mencintaiku.

Astaga!

Dia menggeleng, seperti dia baru saja sadar dari kerasukan dan tersenyum lembut ke arahku. "Apakah kau siap pergi, atau kau ingin lebih banyak lagi?"

"Aku sudah cukup."

"Ayo kita pergi." Dia mengulurkan tangannya ke arahku dan menarikku berdiri, dan aku mengikutinya kembali keluar menuju trotoar, menurunkan kacamata hitam ke wajahku. Dia sendiri mengenakan kacamata Oakley hitam, t-shirt putih ketat, celana pendek warna khaki. Dia begitu...besar. Tinggi dan berotot dan kuat.

Dia menyebabkan hal-hal gila di dalam tubuhku.

Saat kami berjalan di jalanan, aku bisa mendengar saksofon, not lagu sensual yang mengisi udara. Lagu lambat dan manis. Kami berbelok di tikungan, dan ada seorang pria muda, mungkin sekitar dua puluh dua tahun, bermain saksofon, duduk di atas bangku, kopernya terbuka untuk menerima sumbangan.

Anak muda ini bagus. Luar biasa bagus. Aku berhenti, menarik tangan Chanyeol sehingga ia berhenti juga, dan mendengarkan. Si pemain saksofon rambutnya hitam, kedua daun telinganya berlubang besar dan kukunya berwarna hitam. Dia berdandan layaknya bintang rock.

Tapi irama blues yang keluar dari saksofonnya membuat dia terdengar seperti seorang legenda. Jika dia tetap fokus pada tujuannya, anak muda ini akan menjadi orang terkenal.

Tiba-tiba, Chanyeol menarikku kearahnya, melingkarkan lengannya di punggung bawahku, menarik jemari yang terjalin di antara dada kami, dan menarikku kearahnya, perlahan bergoyang ke kiri dan kekanan, menari mengikuti lagu yang merdu.

Aku tersenyum menatap mata coklat kehitamannya, kaget. Aku melihat seluruh sisi romantis baru dari Chanyeol minggu ini.

Dia menyeringai ke arahku dan mulai bergerak lagi, mendorong dan menarik kami di sekitar trotoar yang lebar. Orang-orang berhenti untuk menonton, wanita tua dari meja sebelah kami di Café Du Monde tersenyum kearah kami, tapi kami mengabaikan mereka semua dan hanya memperhatikan satu sama lain.

Sialan, dia pandai menari.

Siapa yang mengira.

Anak muda itu mengulangi lagi lagunya, tidak mengganggu dansa kami dan aku diam-diam berterima kasih padanya. Aku belum siap Chanyeol untuk melepaskanku, tak ingin tatapan matanya berhenti.

Tatapan matanya seperti di kafe itu. Mata coklat kehitamannya yang intens tertuju kearahku, penuh kebahagiaan. Bibirnya melengkung membentuk senyum lembut, dan aku tidak bisa menahan diri untuk berjinjit dan menyandarkan tubuhku padanya, menghirup aromanya.

Dia beraroma kopi dan Donat goreng yang manis.

Lengan Chanyeol di punggungku mengencang, menarikku lebih dekat ke tubuhnya, praktis membuatku terangkat dari tanah, masih bergoyang maju mundur seirama dengan musiknya, menciumku lembut, bibirnya dengan lembut menyapu bibirku, memberikan gigit kecil sudut mulutku. Dia menciumku pipi dan ke telingaku, dan berbisik, "Aku mencintaimu, Baekhyun."

Aku membeku, dan bersyukur kepada Tuhan bahwa dia tidak melihat wajahku karena kutahu mataku melotot dan aku sedikit berkeringat, dan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan cuaca panas. Setiap otot di tubuhku berkontraksi. Tapi Chanyeol tidak berhenti bergerak, dia hanya melingkarkan kedua lengannya di pinggangku dan memelukku kearahnya, dan aku menyandarkan dahiku di dadanya saat aku mencerna apa yang baru saja dia katakan padaku.

Dia mencintaiku.

Aku sangat ingin membalas kata-katanya, tapi aku tidak bisa. Mencintai berarti meninggalkannya.

Akhirnya, Aku bergumam, "Chanyeol..."

"Shh," dia memiring daguku dengan ujung jarinya, tatapan matanya lembut dan manis dan aku menggigit bibirku agar tidak mempermalukan diri sendiri di depan umum dan menangis. "Tidak apa-apa, sayang. Aku tahu."

"Kau tahu?"

Dia mengangguk dan mencium keningku. "Aku tahu."

"Oke."

Dia mundur dan tersenyum ke arahku, menarik keluar dompetnya, melemparkan dua puluh dolar ke dalam koper saksofon, menjalin jemarinya dengan jemariku, dan kami melambai kearah kerumunan saat mereka bertepuk tangan dan kami berjalan menyusuri trotoar. Jantungku masih berdebar. Aku merasa...canggung, tapi Chanyeol terlihat benar-benar santai dan bahagia, memandang berkeliling pada orang-orang yang berjalan dan toko-toko yang kami lewati, dan aku juga mulai rileks.

Aku melihat tanda di jendela tentang wisata hantu dan menunjuknya. "Kita harus mencoba wisata hantu!"

"Kenapa?" Dia bertanya dengan pandangan muram.

"Osaka dianggap sebagai salah satu kota paling berhantu di negara ini." Aku tidak benar-benar percaya pada hal-hal itu, tapi ini bisa menyenangkan.

"Aku tidak percaya pada omong kosong itu," ia mencemooh dan membawaku di seberang jalan menuju musisi jalanan yang lain, yang satu ini memakai gitar, ketika aku merasa ponselku bergetar dalam tasku, yang tergantung di tubuhku dan bersandar di pinggulku.

"Kalau begitu, seharusnya tidak mengganggumu ikut wisata hantu denganku. Kau dapat memelukku ketika aku merasa takut." Aku tertawa dan menjawab teleponku tanpa melihat siapa yang menghubungi. "Halo?"

"Kau punya pacar kaya rupanya."

Seketika aku berhenti di jalan dan perutku menjadi mual. Sial sial sial!

"Apa maumu?" Bisikku.

"Siapa dia?" Chanyeol mengerutkan kening ke arahku dan tiba-tiba bunyi klakson tertuju ke arah kami, memberitahu kami untuk menyingkir dari jalan. Chanyeol menarik sikuku dan membawaku ke trotoar, memperhatikan wajahku. Aku tidak bisa berpaling dari matanya.

"Apa maumu?" Aku bertanya dengan lebih jelas.

"Well, sayang, kau pikir aku menginginkan apa? Kau punya pacar baru yang kaya. Aku ingin uang." Suara serak Yijin karena terlalu banyak merokok dan ditambah kepahitan terdengar sungguh kejam.
"Aku baru saja mengirim uang," bisikku padanya dan kerut di kening Chanyeol semakin dalam.

"Yeah, well, kau mampu untuk mulai mengirimku uang lebih banyak lagi. Apa yang kau kirim nyaris tidak menutupi tagihanku."

Aku memejamkan mata dan mengusap wajahku.

"Aku tidak akan mengirim lebih banyak uang lagi, Yijin."

"Kenapa tidak? Dasar jalang tak tahu terima-" Aku menutup teleponnya, mematikan nada deringnya dan melemparkan ponsel kembali ke dalam tasku.

"Ibumu?" Chanyeol bertanya, bertolak pinggang, mengamati wajahku.

"Ya."

"Minta uang?"

"Hanya itu yang dia inginkan." Aku mulai berjalan menjauh darinya, tapi dia meraih lenganku dan menahanku tetap di tempat.

"Kalau begitu, kita akan mengirim dia uang."

"Tunggu dulu." aku menghadap kearahnya, bertahan, dan menolak untuk mundur pada urusan ini. "Kita tidak memberikan apapun. Sekalipun. Dia mengetahui bahwa kita berpacaran dan berpikir dia dapat memerasnya, tapi aku tidak akan mengijinkan itu terjadi kalau dia akan mendapatkan sepeser pun uang darimu, apa kau mengerti?"

Matanya menyipit dengan keras kepala, dan aku mencengkeram lengan atasnya dengan tanganku, mencoba untuk menyampaikan maksudku. "Chanyeol, serius, aku tak ingin kau memberi uang padanya."
Dia mengembuskan napas, mulutnya membentuk garis muram. "Oke."

"Berjanjilah padaku."

"Tidak, aku tidak bisa menjanjikan itu padamu. Tapi aku mendengarmu, Baekhyun."

"Chanyeol..."

"Aku benar-benar mendengarmu. Percayalah aku akan menghormatimu dan melakukan yang terbaik untuk melindungimu."

Wajahnya terlihat sengit, dan aku tahu dia takkan mundur pada urusan ini.

"Oke."

"Jadi, dia punya masalah apa?" Tanyanya sambil meraih tanganku dan membawaku kembali ke arah yang sedang kami tuju.

"Dia seorang pecandu, dan dia pikir aku berutang padanya."

"Apa alasannya sampai kau berutang sesuatu padanya?"

"Karena dia melahirkanku." Aku mengangkat bahu dan mencoba untuk memikirkan sesuatu yang lain untuk dibicarakan. "Kau tahu, aku tidak memakai celana dalam apapun." Saat yang genting membutuhkan penanganan yang khusus.

"Ya, kita akan sampai di sana. Kenapa kau berutang, Baekhyun?"

"Karena setelah aku dibawa pergi dari dia, aku mengatakan kepada polisi bahwa dia memakai obat-obatan dan menjual dirinya untuk mendapat uang, dia ditangkap dan masuk penjara sebentar, dan dia tidak pernah membiarkan aku lupa bahwa itu adalah salahku. Dia selalu mampu menemukanku. Selalu. Jadi, aku memberinya uang setiap bulan dan itu membuat dia tetap ada di Busan dan jauh dariku."

"Brengsek," Chanyeol berbisik.

"Dengar, itu bukan masalah besar. Ini bukan uang yang banyak. Aku tidak membutuhkannya."

"Itu bukan inti masalahnya. Dia mengancammu, babe. Katakan padanya kau tidak akan menggubrisnya."

"Lebih mudah dengan cara ini." Aku mengangkat bahu lagi dan berhenti ketika ia mencoba untuk berdebat. "Aku tidak ingin bertengkar karena urusan dia. Dia tak layak menyita waktu kita."

Dia mengambil napas dalam-dalam karena frustrasi dan mendorong jemari ke rambutnya. "Baiklah."

"Mari kita pergi melihat-lihat salah satu kuburan." Aku melompat-lompat dengan gembira dan ia tak dapat menahan diri untuk tidak menertawakanku.

"Ada apa antara kau dan orang mati? Dan kenapa baru sekarang aku tahu tentang ini darimu?"

"Ini Osaka, Chanyeol. Jangan merusak kesenangan orang."

ooOoo

.

.

"Sial, kau bisa makan banyak sekali. Di mana kau menyimpan semua itu?" Tanyaku saat kami memasuki suite kami. Lebih tepatnya, penthouse tua dari hotel yang cantik. Semua perabot berukuran besar dan kokoh, permadaninya tebal dan tua.

Aku merasa seakan kami telah kembali ke masa lalu setiap kali kami berjalan di dalam ruangan yang luas ini. Ruangan ini indah, dan terlalu luas daripada yang kami butuhkan, tapi aku tahu bahwa Chanyeol ingin membuat minggu ini spesial.

Dan dia telah melakukannya.

"Baekhyun, sebagai seorang atlet football, aku harus mengkonsumsi hampir empat ribu kalori per hari untuk menjaga asupan energi yang cukup untuk latihan seperti yang kami jalani."

"Tanpa henti?" Aku bertanya, tertegun.

"Selama musim berlangsung. Di luar musim, mendekati tiga ribu kalori."

"Astaga," gumamku dan sedikit merasa bersalah karena terus menggodanya tentang jumlah makanan yang dia makan.

Tapi kemudian aku menatapnya dan ingat bagaimana dia tertawa ketika aku menggodanya, dan aku tidak merasa bersalah lagi. Menggodanya itu menyenangkan.

"Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu," bisiknya dan menarikku ke arahnya.

"Aku pernah melihat itu sebelumnya, cowok seksi." Aku tersenyum kearahnya dan meluncur tanganku naik turun di dadanya saat ia mendongak dan tertawa.

"Bukan itu. Well, belum. Ayo."

Ia menuntunku keluar dari kamar dan menuju lift, tapi bukannya menekan tombol menuju lobi, kami malah naik ke atap. Aku menatapnya dengan heran, tapi dia hanya tersenyum puas ke arahku.

"Apa yang akan kita lakukan?" Tanyaku.
"Lihat saja nanti."

Pintu terbuka untuk memperlihatkan teras di atap gedung yang indah, penuh dengan perabotan mewah dan besar, ornamen emas memperindah potongan daun rhododendron, lumut yang turun ke bawah langkan balkon, dan pucuk-pucuk pohon pisang dari halaman di bawah. Kami dapat melihat ke seberang teras di hotel yang serupa, meskipun cukup kecil di sini, dedaunan cukup subur yang membuatnya terasa lebih privat.

Lampu putih digantung di atas kepala, lentera menyala pada sisi bangunan dan di atas meja, mengirimkan cahaya lembut pada ruangan di kegelapan malam.

Ada tanda yang bertuliskan 'tutup, hanya untuk pesta pribadi'.

"Oh, kita tidak seharusnya ada di sini." Aku mencoba untuk menariknya kembali ke lift, tapi ia terkekeh dan mudah menarikku kembali ke sisinya.

"Kita sedang pesta pribadi, sayang."

"Oh." Aku tersenyum kecut saat ia membawaku ke sudut teras yang terdapat sampanye dingin dalam wadah perak dan dua piring perak ditutupi dengan tudung perak di sebuah meja kecil didekat sofa berwarna merah dan emas yang cantik.

"Apa ini?" Aku bertanya, mata terbelalak, memperhatikan pemandangan yang indah ini.

"Hanya hidangan penutup di atap gedung," Gumam Chanyeol dan mengangkat bahu dengan malu-malu, seperti itu bukan urusan besar.

Tapi ini adalah urusan besar.

"Terima kasih." Aku berjinjit dan menciumnya. "Ini cantik."

"Kaulah yang cantik. Sini, duduklah." Ia menuntunku menuju sofa dan menuangkan untuk kami masing-masing segelas sampanye berwarna keemasan. "Untuk liburan spontan."

"Aku akan minum untuk itu." Kami mendentingkan gelas dan menyesap, mata coklat kehitaman Chanyeol sedang memperhatikanku dari balik gelas anggurnya.

"Apakah kau bersenang-senang di kuburan hari ini?" Tanyaku sambil menyeringai.

"Itu menarik. Benar-benar suatu pengalaman baru."

"Kurasa itu menyenangkan. Aku masih berpikir kau seharusnya membiarkanku membujukmu ikut wisata hantu."

"Aku bisa memikirkan hal yang lebih baik yang dilakukan di dalam gelap," jawabnya dengan sedikit tersenyum.

"Benarkah? Seperti apa?"

"Apa kau memakai celana dalam di balik gaun itu?" Tanya Chanyeol tidak menjawab pertanyaanku.

"Kau tahu aku tidak memakainya." Aku memiringkan kepalaku dan mengamatinya. "Kenapa kau tanya?"

"Hanya memastikan." Dia menuangkan lagi sampanye manis kedalam gelas anggur dan bersandar di sofa, memperhatikanku. "Apa kau mau makan hidangan penutup?"

"Tentu. Apa yang kita punya?"

Ia mengangkat tutup dari piring dan memperlihatkan sajian Crème brûlée yang indah. "Sepertinya Crème brûlée."

"Enaknya," gumamku dan tersenyum saat ia menyendok dan menyuapkannya padaku. "Mmm."

"Enak?"

"Mmm hmm." Aku meraihnya, tapi dia menjauhkannya dari jangkauanku dan memakannya sendiri.

"Mmm," dia mengangguk. "Enak." Dia menggigit lagi dan aku mengerutkan kening padanya dan meraih makanan penutup lainnya, tapi dia mencegahku. "Aku sudah cukup."

"Kalau begitu berikan padaku!"

"Dasar tidak sabaran, bukan?" Ia terkekeh dan menyuapku lagi, kemudian menggigit untuk dirinya sendiri. Aku merangkak dan naik di pangkuannya, dan ia menyuapi kami berdua, meraih mangkuk keramik lain ketika yang pertama sudah kosong.

"Apakah kau sudah cukup?" Tanyanya sambil mendorong piring kesamping dan melingkarkan lengannya di tubuhku.

"Lebih dari cukup. Terima kasih."

Dia tersenyum diatas rambutku dan menciumku, saat kedua tangannya mengelus naik turun di punggungku. "Sama-sama, babe."

Tangannya meluncur ke bawah pinggulku menuju paha dan di bawah gaunku, dan meluncur keatas lagi. Aku menyeringai di dadanya ketika denyut nadiku bertambah cepat dan aku menangkup wajahnya dengan tanganku. "Kau tahu, seseorang bisa melihat kita di sini."

"Mereka bisa," gumamnya dan mencium keningku, bahwa tangan berbakatnya masih menjelajahi di bawah gaunku.

"Kita harus menjaga sikapmu," bisikku dan mencium bibirnya dengan lembut.

"Itu tidak menyenangkan," balas Chanyeol dengan berbisik, membuatku tertawa.

"Apa yang ingin kau lakukan?" Tanyaku sambil menggigit lehernya.

"Kau," bisiknya dan aku tersenyum lagi, sedikit melebarkan kakiku dan membimbing tangannya di antara kakiku.

"Rasakan bagaimana kau membuatku basah saat kau mengucapkan kata-kata seperti itu?" Bisikku di bibirnya. Matanya menyala, jemarinya menemukan clitku dan membelai perlahan, kemudian menggelincir ke bawah dan meluncur dengan mudah ke dalam celah basahku. "Oh, Tuhan, sayang."

Akhirnya, ia melumat bibirku dengan posesif, menciumku dengan dalam dan liar, sementara jemarinya terus mendatangkan malapetaka pada intiku. Ya Tuhan, dia membuatku gila hanya dengan dua jarinya.

Aku sudah menipu diri sendiri, dia membuatku gila hanya karena menatapku.

"Aku menginginkanmu," gumamku diantara ciuman dan dia mengerang jauh di dalam tenggorokannya, mengangkatku agar mengangkanginya, dan aku meraih di antara kami untuk membuka celana pendeknya dan melepaskan kejantanan kerasnya yang telah menekan pinggulku.

"Oh Tuhan, aku suka tanganmu," gumamnya, menatapku saat memompa sepanjang kejantanannya. Akhirnya aku tidak tahan lagi, dan aku bangkit dan perlahan membimbing miliknya masuk kedalam diriku. "Oh sialan, babe."

Matanya yang terutup rapat, rahang mengetat, tangannya mencengkeram pinggulku seperti catok dan aku belum pernah merasa lebih seksi dari sekarang ini.
Gaun bawahku jatuh menutupi sekitar pangkuan kami, sehingga bahkan jika ada seseorang memang melihat kami, itu hanya terlihat seperti aku duduk di pangkuannya, dan aku mulai bergoyang. Tidak cepat, sehingga tidak terlihat seperti kita sedang berhubungan seks. Aku hanya bergoyang perlahan dan mengetatkan milikku di sekeliling kejantanannya dengan erat.

"Baekhyun, kau akan membuatku klimaks dengan cara seperti ini, sayang."

"Itu yang terpenting, babe," Aku menunduk dan menciumnya, mengubur tanganku di rambutnya dan melanjutkan seranganku terhadap kejantanannya, mengetatkan milikku dan bergoyang, dan seperti yang kulakukan, ini memberikan tekanan pada logamku, terhadap clitku dan aku mendapati diriku juga semakin dekat, gemetar dan menggelepar di sekelilingnya. "Aku akan bersamamu."

Matanya terbuka dan dia mengamatiku dengan matanya yang sayu dan mulutnya terbuka, terengah-engah. Dia menangkup wajahku dengan tangannya dan menarikku ke arahnya, menciumku lembut dan kemudian berbisik, "Aku mencintaimu," saat ia menyentak dan mengosongkan dirinya kedalam diriku, sambil menggeram. Kata-katanya, tekanan dari orgasmenya, apa yang dia lakukan pada tubuhku, mengirimiku bersama dengannya, tapi sebelum aku bisa berteriak, dia menutup mulutku dengan bibirnya untuk menahan suaraku, dan aku meledak dengan takjub dan penyerahan total.

Aku juga mencintaimu.

Kenapa aku begitu takut mengatakannya?

ooOoo

.

.

~ Chanyeol ~

Aku bisa berbaring di sini sepanjang hari dan memperhatikan tidurnya. Oh Tuhan, dia begitu cantik. Kulit halus dan rambut pirangnya di atas seprei putih bersih. Wajahnya yang halus tampak lembut ketika tidur, dan bibir merah mudanya yang tipis sedikit terbuka.

Minggu ini telah menjadi minggu terbaik dalam hidupku. Bahkan, berbulan-bulan sejak kami berpacaran telah menjadi hal terbaik dalam hidupku, dan itu cukup banyak menjelaskan karena kutahu bahwa aku adalah salah satu pria yang beruntung.

Tapi Baekhyun membuat segalanya menjadi luar biasa. Dia lucu, cerdas dan begitu berbakat.

Dan dia tertidur, di tempat tidur ini, bersamaku. Pagi ini adalah hari terakhir kami di Osaka, dan harus kuakui aku menyesal bahwa segalanya telah berakhir begitu cepat. Aku yakin akan mengajaknya bepergian lagi segera setelah musim berakhir. Kita akan pergi ke Eropa, atau Hawaii.

Bahkan, kemanapun yang diinginkannya.

Menyenangkan untuk melihat dia menikmati musik yang menakjubkan dari kota ini, suara dan aroma, keunikan dari Osaka.

Dan kurasa ini begitu menggemaskan melihat dia makan beignet. Omong-omong tentang itu, aku lalu memeriksa jam. aku memperkirakan pengantar pesanan akan datang dalam waktu sekitar sepuluh menit.

Baekhyun menggeliat dalam tidurnya, mengangkat satu lengan di atas kepalanya, menyebabkan selimut meluncur menuruni tubuhnya dan memamerkan satu payudaranya yang sempurna, putingnya mengeras karena terkena udara dingin. Rambut pirang cokelat kemerahannya yang indah tersebar di atas bantal putih, dan satu lututnya tertekuk, terbaring di atas tempat tidur.

Yang berarti aku bisa menyelipkan tanganku di antara kedua pahanya dan membangunkannya dengan jemariku berada di dalam dirinya, tapi aku menunggu. Aku ingin memperhatikan dia untuk beberapa menit lagi.

Kutahu pada akhirnya aku akan jatuh cinta. Bahwa aku pada akhirnya akan bertemu seorang gadis yang baik dan kami akan menikah dan punya beberapa anak dan kehidupan yang baik bersama.

Tapi aku tak tahu jika aku bisa mencintai seseorang sebegitu besarnya sehingga benar-benar menyita pikiranku. Berada jauh darinya untuk sekedar beberapa jam membuatku ingin meninju wajah seseorang dan membayangkan ada orang yang menyakitinya dengan cara apapun membuatku benar-benar gila.

Aku akan membunuh untuk wanita ini.

Atau mati.

Aku tidak bercanda ketika aku bilang dia adalah segalanya. Dialah orangnya.

Aku bangun dari tempat tidur oleh ketukan kecil di pintu, memakai celana pendek yang kupakai kemarin dan membuka pintu. Aku memberi tip kepada anak yang melakukan pengiriman dari Café Du Monde dan membawa sekantong besar beignet dan kemasan kopi ke meja samping tempat tidur, menaruhnya, melucuti celana pendekku dan naik kembali ke tempat tidur.

Dia belum bergerak sama sekali.

Gadis kecil pemalasku. Lucunya, dia adalah salah satu dari sedikit orang yang tidak pemalas yang pernah kukenal. Dia bekerja tanpa kenal lelah, dan selalu bergerak.

Aku suka kalau dia bergerak di bawah tubuhku.

Dengan pemikiran ini, aku menyandarkan sikuku di dekat kepalanya dan menunduk untuk mencium pipinya.

"Baekhyun, bangunlah," Aku berbisik lembut padanya dan menyibak helaian rambut dari lehernya.

"Hmph," dia menjawab dengan erangan dan berpaling dariku.

"Ayo, pemalas, bangun." Aku memberikan ciuman kecil di bahu telanjang dan lengan atasnya dan menyelipkan tanganku di atas perutnya dan naik sampai payudaranya, menangkup di tanganku sementara jemariku memainkan putingnya.

Aku tak pernah bosan oleh kulitnya yang halus.

"Aku mengantuk," gumamnya dan berbalik ke arahku, membenamkan tubuhnya terhadap tubuhku dan melanjutkan tidur dengan dahinya menekan dadaku.

Astaga, dia menggemaskan.

"Aku punya kejutan untukmu."

"Kau punya?" Dia bertanya, tidak bergerak.

"Ya, tapi kau harus bangun untuk mendapatkannya."

"Aku tidak menginginkannya."

Dasar wanita keras kepala.

"Oke." Aku beringsut menjauh dan membuka kantong kertas penuh berisi Donat panas segar, mengambil keluar satu dan kembali kepadanya. Matanya masih tertutup.

Aku menggoncangkan Donat itu di atas bahunya, menjatuhkan gula bubuk di atas kulitnya dan menunduk untuk menjilatinya.

"Mmm," erangku. "Enak."

Tidak ada respon.

Jadi aku menggoncangkan lagi Donat itu di atas lehernya dan menunduk, menjilatnya.

Dia membuka satu matanya, sebentar, kemudian menutupnya dengan cepat. Aku menyeringai dan menarik selimut turun sampai ke pinggangnya, memamerkan tubuh mungilnya yang sempurna, dan menggoncangkan lebih banyak gula di atas payudaranya.

Aku menjilatnya dan kemudian melakukan gigitan besar pada beignet itu. "Buka mulutmu," perintahku, dan dia segera menurut. Aku terkekeh saat aku menyuapinya dengan remah sisa gorengan, lalu mengambil lagi dari kantong dan terus mengguncang gula di atas tubuh lezatnya, kemudian memakan beignet-nya, berbagi makanan dengannya.

"Kurasa kau harus lebih sering menjadi piringku, sayang. Kau membuat segalanya terasa lebih manis."

"Bajingan sombong," gumamnya dengan mengantuk dan aku tertawa terbahak-bahak.

Meraih Donat baru, aku berpindah di antara kakinya, membuka lebar pahanya dan mengambil posisi untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan.

Persetan, dia sudah basah. Mengantuk apaan? Dia main-main denganku.

Oh Tuhan, aku mencintainya.

Aku menggoncangkan gula di atas kewanitaannya dan melihatnya jatuh seperti salju di atas daging merah mudanya. Klitorisnya keras, tindik peraknya seperti memohon pada lidahku. Jadi aku membungkuk dan menjilatnya, dari lipatan lunak menuju logam hangat itu, dan di sekelilingnya, menjilati semua gula yang ada di sana, kemudian menggigit Donat. Aku menatap wajahnya dan matanya sekarang terbuka, memperhatikanku, mata cokelat indahnya bersinar oleh nafsu, tangannya mencengkeram seprei. Aku menawarkan Donat padanya, dan dia mengambilnya dariku dan melemparkannya ke sisi tempat tidur, menjilati jemarinya dan mendorong jemarinya ke dalam rambutku dengan seringai lebar di wajah cantiknya.

"Tidak mau lagi?" Tanyaku sinis.

"Aku sudah cukup."

"Aku juga. Tapi aku belum puas dengan yang ini." Aku membentangkan miliknya dengan ibu jariku, membuka miliknya kepadaku dan menciumnya, memasukkan lidahku ke dalam dirinya dan menjilati sekelilingnya. Pinggulnya tersentak ke atas menuju wajahku, tapi aku memegangnya dengan kuat, tidak membiarkan dia menghindar.

Dia berubah menjadi gila ketika aku menjilatinya. Ini hal yang paling seksi yang pernah kulihat.

Aku mengganti mulutku dengan tanganku, aku naik untuk menggoda klitorisnya, tidak menjentiknya, tapi menjilat, menekan, dan menarik-narik, dengan begitu lembut perak itu dengan gigiku.

"Chanyeol!" Dia menjerit dan tersentak lagi. Aku mendorong jemariku turun, kemudian menarik keluar dan menjilatnya.

"Ya, sayang?"

"Aku butuh kau di dalam diriku."

"Aku sudah di dalam dirimu sayang." Kumasukkan jemariku lagi untuk membuktikan maksudku, membuatnya mengerang.

"Kemarilah," dia terengah.

"Apa yang kau butuhkan?" Aku bertanya dan menggesek klitorisnya dengan hidungku, membuat dia menggeliat dan aku tersenyum.

"Kau. Selalu kau."

"Ya, aku." Aku menaiki tubuhnya dan berbaring di atasnya. Dia membuaiku, kakinya yang kuat melilit pinggangku, lengannya di bahuku, jemari di rambutku dan aku hanya bersandar pada sikuku dan menatap ke arahnya.

"Kau begitu luar biasa, Baekhyun."

Kelopak matanya sedikit tertutup, dan dia tersipu seperti ketika dia bahagia. Aku menyapukan bibirku di atas bibirnya dan menggeser kejantananku menuju celah basahnya, mendorong tindiknya dengan ujung kejantananku dan ia menggigit bibir bawahku.

"Seperti ini?"

"Mmm." Dia mengangguk kecil dan menangkup pantatku dengan tangannya, menarikku agar lebih dekat kearahnya. Oh Tuhan, aku ingin berada di dalam dirinya.

Aku harus berada di dalam dirinya.

Aku mundur dan perlahan-lahan mendorong ke dalam celah basahnya, melalui lipatan bengkaknya, dan menenggelamkan diriku sampai aku merasakan resistensinya.

Dia begitu ketat.

"Ini adalah tempat favoritku," bisikku padanya dan merasakan senyumnya di leherku.

"Ini juga bagian teratas dalam daftarku," balasnya dengan berbisik.

Dan perlahan, kami mulai bergerak. Segalanya dalam diriku menyuruhku untuk menyetubuhinya habis-habisan, untuk menghentaknya dan menandai dia sampai hanya aku yang dia lihat, dan hanya aku yang dia tahu. Hanya aku yang dia dia ingat.

Namun pada pagi yang manis ini, yang kuinginkan hanyalah melakukannya dengan perlahan. Untuk bersikap lembut dengannya. Untuk mengingat setiap desahan, setiap erangan, setiap otot yang mengetat saat ia memelukku.

Aku hanya ingin bercinta dengan kekasihku.

Jadi aku melakukannya, sampai dia menggeliat dan gemetar, dan aku merasa otot-otot yang melingkupi kejantananku mengetat dengan manis seperti sebuah catok.

"Lepaskan, sayang," bisikku dan melihat dengan antusias saat ia menegang, setiap otot dalam tubuh lezatnya mengepal dan berdenyut di sekelilingku, dan meneriakkan namaku saat ia meledak.

Aku tidak bisa menahan diri lagi, dan aku mengosongkan diriku ke dalam dirinya saat ia terus bergerak dan gemetar, wajahku menekan di lehernya, mengatakan padanya betapa aku mencintainya.

Rasanya menyakitkan, meski sedikit, bahwa dia belum dapat balas mengucapkannya. Tapi dia akan mengucapkannya.