Naruto © Masashi Kishimoto
Food of Love chapter #9
.
.
Berulang kali kumembisikkan
Tuk menyampaikan cinta padamu
Begitu besar rasa sukaku
Hingga tak tau harus bagaimana
Andaikan ada mantra cinta
Ataupun sihir bagimu sayang
Rasa pahit yang kurasakan ini
Pasti akan bisa terasa manis
Tak terhentikan
Meski kadang menyakitkan tapi biarlah
.
.
.
Masih di hari yang sama, setelah 'tidur' siang bersama pasangan masing-masing. Ketiga wanita, Sakura, Tenten, dan ibunya mencuci piring di dapur, tanpa bicara. Sedang di ruang tv ada Ayah Tenten dan Sasuke.
"Kau tahu," kata Ayah Tenten pada Sasuke, "masakanmu lumayan."
Sasuke mengangkat bahu, merendah.
"Aku punya uang untuk kuinvestasikan, restoran, misalnya. Dan aku rasa orang mau bayar mahal untuk makanan seperti yang kau masak hari ini, terutama jika mereka tahu masakan itu akan membuat kencan mereka lebih panas." Ayah Tenten menawarkan. "Aku akan mengajakmu sebagai partner, tentu tidak 50-50, tapi kau akan dapat bagian dari keuntungannya."
"Oh, aku senang dengan keadaanku sekarang." Sasuke berkilah. "Aku senang masak, tapi rasanya aku belum siap membuka restoran sendiri."
.
.
.
"Dia mengagumkan," kata Tenten pada Sakura. "Sasuke-mu itu benar-benar mengaggumkan, dia seniman."
"Hebat ya," kata Sakura.
"Kau tahu ayahku ingin memodali dia untuk membuka restoran?"
"Dia belum cerita," Sakura untuk pertama kali menyadari bahwa Sasuke tidak pernah bercerita banyak padanya tentang apapun. Bahkan, kalau diingat-ingat, mereka tidak pernah berbincang tentang apapun, selain makanan lezat, seks, gurauan, dan rayuan-rayuan. Tapi bisa dipastikan Sakura tidak tahu apa-apa tentang apa yang ada di dalam kepala Sasuke.
.
.
"Dia ingin mengajakku membuka restoran," kata Sasuke sambil tertawa. "Bisa kau bayangkan? Dia sedikit memaksa. Bisa saja aku iyakan."
Sasuke dan Sai berada di kedai kopi seperti biasa, Sasuke meminum kopinya sambil menceritakan tawaran ayah Tenten pada Sai.
"Tentu saja," Sasuke meneruskan, "kubilang itu tidak mungkin. Kerumitan kita sudah banyak tanpa perlu ditambah membuka restoran."
Sai masih belum berkomentar. Bayangan-bayangan Sakura terus memenuhi benaknya.
"Aku sudah memikirkannya." kata Sai ketika mereka berdua keluar dari kedai. "Lain kali, aku akan memasakkan Sakura sesuatu yang agak berbeda."
"Kenapa?" tanya Sasuke heran.
"Yaa, kurasa dia akan menyukainya."
"Bukan itu, maksudku kenapa harus ada lain kali."
Sai agak sulit menjawab.
"Masakanmu sudah melakukan semua yang kuminta. Lagi pula, mulai sekarang aku sudah bisa menanganinya sendiri."
"O ya?" Sai tidak percaya.
"Tentu saja. Lagi pula aku sudah bosan dengan makanan-makanan berlemak itu."
"Lalu apa yang akan kau masakkan untuknya?"
"Masakan sederhana. Sederhana tapi lengkap." Sasuke melambaikan tangan meremehkan. "Seperti pasta, salad, risotto."
"Risotto lebih sulit daripada kelihatannya."
"Omong kosong. Ibuku sering membuatnya waktu aku masih kecil. Tidak ada yang sulit.
"Dia sudah terbiasa dengan masakan terbaik." Sai mengingatkan. Hatinya terasa pedih. Bahkan memasak untuk Sakura pun tidak boleh! Ia tidak bisa berkata apa-apa, tidak bisa protes.
"Dia akan segera terbiasa. Bagaimanapun juga itu hanya sebuah masakan. Lihat saja nanti."
.
.
.
Sai hanya bisa berdiri menonton sementara Sasuke mengambil alih dapur dan mempersiapkan bahan serta alat yang akan digunakannya untuk memasak sendiri untuk Sakura. Walaupun sudah diperingati Sai, ia tetap akan membuat risotto.
"Pastikan kau pakai beras kualitas terbaik," kata Sai berniat membantu. "Beras jagung bisa menyerap lebih..."
"Cukup!" seru Sasuke. Didorongnya Sai keluar dari dapur. "Aku akan membuatnya seperti ibuku membuatnya."
Diam-diam Sai berpendapat kalau ibu Sasuke mungkin bukan tukang masak yang baik, dilihat dari bahan-bahan yang disiapkan Sasuke. Tapi Sasuke sudah bertekad bulat, sehingga tidak ada yang bisa dilakukan Sai.
"Aku akan ada di kedai kopi kalau kau memerlukanku," kata Sai menyerah.
Sasuke membuka sebotol wine dan mulai bekerja. Ini wine bagus, pikirnya sambil memuang segelas untuk mencobanya. Ia menaruh beras dan mentega di panci, lalu mulao memotong-motong bawang. Apa lagi yang diperlukannya? Sedikit minyak, sedikit bawang putih. Dan rempah-rempah. Ia tidak ingat persis rempah-rempah apa yang dipakai ibunya, jadi ia mengambil secara acak persediaan Sai.
Setelah ditambahi rempah-rempah, risotto-nya masih kelihatan agak datar. Dibukanya lemari es, samar-samar ia ingat ibunya kadang membuat risotto dengan jamur, jadi diiris-irisnya jamur dari kulkas dan dimasukkannya dalam masakan.
Suara bel memberitahukan kedatangan Sakura. Seperti biasa, Sakura langsung masuk ke dapur untuk melihat apa yang sedang dimasak.
"Uh-uh," kata Sasuke. "Malam ini malam kejutan." Ia menutup panci yang di endus-endus Sakura, lalu mendorong gadis itu keluar dapur.
"Kalau begitu sekarang aku ingin mencicipi tukang masaknua saja dulu," ujar Sakura, menyusupkan tangan ke balik baju Sasuke dan mengangkat wajah minta dicium.
Lima menit kemudian dia berkata dengan nafas tertahan. "Masih berapa lama lagi makanan siap?"
"Jangan khawatir. Kota punya banyak waktu," jawab Sasuke meneruskan apa yang dikerjakannya.
Lima menit setelah itu, tubuh mereka membelit di sofa, setengah telanjang, ketika Sasuke mencium bau gosong.
Risotto-nya. Ia sama sekali lupa pada risotto itu. Sasuke berlari ke dapur dan membuka tutup panci, kawah beras hangus kehitaman menatap balik dari dalam panci.
"Sial," katanya penuh emosi.
"Semuanya baik-baik saja?" tanya Sakura dari ruang depan.
"Ya. Semua beres." Sasuke berpikir cepat. Sai tadi bilang ada di kedai kopi. Mungkin sahabatnya masih bisa menyelamatkan ini.
"Aku keluar sebentar, cari tambahan bahan-bahan," katanya. "Sebentar lagi aku kembali."
.
.
.
Sai mendengar penjelasan sahabatnya dan langsung menebak apa yang terjadi. "Ayo sekarang ke atas dan lihat apa yang masih bisa dimasak."
"Tapi Sakura tidak boleh melihatmu," kata Sasuke. "Aku tahu, aku kembali dulu kesana menutup matanya."
"Menutup matanya?"
"Ya. Dia akan mengira itu sejenis permainan. Percayakan saja padaku."
.
.
Sai menunggu di luar pintu apartemen. Setelah beberapa menit, Sasuke menyelinap ke luar. "Sudah," bisiknya. "Dia tidak curiga apa-apa."
"Baiklah kalau kau yakin..."
"Jangan khawatir. Nah, kau ingin aku melakukan apa?"
"Lari ke toko dan beli sebotol wine merah. Secepat mungkin."
"Oke." Sasuke mengacungkan jempol dan langsung pergi.
Sai membuka pintu dan berjingkat-jingkat masuk ke apartemen. Lalu terdengar suara terkekeh dari arah sofa. Sakura terbaring di sana, setengah telanjang. Sehelai scarf wol tebal terikat menutupi matanya. "Sasuke?" panggilnya. Sai membeku.
"Aku tahu kau sedang memandangku karena aku tidak mendengar kau memasak." kata Sakura mencoba menebak keberadaan Sasuke. "Dan kalau kau ingin meneruskan permainan ini aku minta cium dulu," katanya. "Satu ciuman untuk setiap lima menit dan kau sudah hutang dua padaku."
Sai berdiri diam, tidak berani bergerak.
"Kalau tidak, akan kubuka tutup mataku."
Sai tidak tahu persis apa yang sedang dilakukannya, dirinya maju selangkah ke arah Sakura. Langkahnya menimbulkan suara sehingga Sakura berkata, "aha," dan mengangkat kepala, menunggu.
Sai tidak berdaya. Ia menundukkan kepala. Ia menyentuhkan bibirnya ke bibir Sakura, sangat singkat. Ciuman ringan, tipis dan sebentar. Lalu yang kedua..
"Hmm.." hanya itu yang diucapkan Sakura dan dalam rasa bersalahnya Sai berpikir Sakura terdengar agak bingung.
Sai pergi ke dapur dan mencoba menenangkan diri. Ia menaruh beras di panci dan mulai menumis bahan-bahan lain. Sambil menunggu ia keluarkan buah zaitun dari lemari es.
"Waktu habis!" Sakura berseru.
Sai berjingkat keluar dari dapur, dan ketika Sakura mengangkat bibir untuk dicium, dengan hati-hati ia memasukkan sebutir buah zaitun ke mulut gadis itu.
"Mmm," kata Sakura dengan mulut penuh. "Enak, tapi aku tetap minta cium."
Sai ragu-ragu, lalu cepat-cepat menundukkan kepala dan mencium Sakura sebentar. Rasa zaitun bercampur dengan rasa manis bibir Sakura. Sai menahan nafas lalu mundur satu langkah.
"Lagi," gumam Sakura. "Sasuke..."
Mendengar nama sahabatnya dipanggil, Sai tersadar 'apa yang aku lakukan?' ia terperanjat. Sai kembali ke dapur dan bersandar ke pintu dengan badan gemetar.
Akhirnya Sai mendengar langkah Sasuke menaiki tangga. Setelah Sasuke menyelinap masuk apartemen sambil membawa sebotol wine merah, Sai cepat-cepat pergi meninggalkan temannya untuk mengurus sisa malam itu.
.
.
Sai berjalan tanpa tujuan, mencoba tidak membayangkan apa yang sedang dilakukan Sakura dan sahabatnya saat ini.
Ia masih menggeleng-geleng setiap kali ingat betapa nyarisnya ia tergelincir ke dalam bencana. Kalau penutup mata itu merosot sedikit saja... ia tidak berani memikirkannya. Ia bisa membayangkan rasa marah dan jijik dalam pandangan Sakura. Belum lagi kemurkaan Sasuke. Apa yang dipikirkanya tadi sampai bisa melakukan hal itu?
Tapi disamping rasa bersalahnya, ada versi lain yang menyelinap pikirannya. Di versi itu, Sakura memandangnya bukan dengan rasa marah dan jijik melainkan cinta dan rindu.
Sinting. 'Kau harus bisa mengendalikan diri,' kata Sai pada dirinya sendiri.
.
.
Sai masuk ke apartemen dan mendengarkan. Semuanya hening. Ia pergi ke dapur, memasak, satu-satunya cara untuk menenangkan diri. Berusaha tidak menimbulkan suara, ia menuang minyak zaitun ke panci penggorengan, dan menambahkan irisan cabe serta bawang putih yang dihancurkan. Di panci lain ia memanaskan kaldu untuk merebus macaroni.
Karena terlalu berkonsentrasi, Sai tidak menyadari ada wajah di jendela yang memperhatikannya, sampai ia mengangkat panci dari atas api. Karena terkejut, sebagian minyak yang mendidih menciprati lengannya. Sai terkesiap kesakitan.
Sakura karena tidak bisa tidur, pergi keluar untuk melihat pemandangan malam disekitar apartemen. Mendengar suara-suara dari dapur, mulanya ia kira Sasuke penyebabnya. Lalu dilihatnya itu Sai, sedang memasak. Yang tidak masuk akal Sai begitu cekatan, bahkan lebih baik dari Sasuke. Lalu Sai melihatnya memerhatikan ia bekerja dan menumpahkan minyak mendidih ke tangannya sendiri.
"Maaf," kata Sakura cepat-cepat, "aku tidak bermaksud mengejutkanmu." Sai sudah menjulurkan tangannya ke bawah keran air. "Tunggu, aku ke sana."
Ketika Sakura sampai, Sai sudah mencoba membalut lengannya sendiri dengan satu tangan.
"Sini biar aku saja." kata Sakura. "Sai, maafkan aku." Ia mengambil alih perban dan membalutkannya ke lengan Sai. "Aku tidak sengaja."
"Tidak apa-apa," kata Sai. "Biasa terjadi di dapur."
"Waktu kau mencuci piring?" tanya Sakura heran.
"Ah-ya. Kadang-kadang panci kotornya masih panas." Sai memandang ke bawah, ke rambut Sakura, sementara gadis itu mengikat perban. Rambutnya wangi cherry pikir Sai.
"Sudah selesai," kata Sakura, melangkah mundur untuk mengagumi hasil kerjanya."
"Kencang sekali," ujar Sai mencoba menggerakkan lengannya.
"Memang harus begitu."
"Tapi aku harus melanjutkan masakanku."
"Aku bisa mengerjakannya." Sakura menaruh kembali panci tadi di kompor. "Katakan saja padaku apa yang harus kulakukan."
"Sendok disebelah kananmu untuk mengaduknya," Sai memberitahu. "Dan cabenya harus dimasukkan sekarang."
"Seperti ini?"
"Bagus."
Sai memperhatikan Sakura bekerja. "Masih sepuluh menit lagi sebelum masakan itu siap," katanya. "Kau tidak perlu menunggu."
"Tidak, biar saja. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk membantumu."
Ada hening yang panjang. Lalu Sakura berkata, "ketika aku memandangimu dari jendela, kau tahu seperti apa kau dimataku?"
"Tidak, seperti apa?"
"Ahli sihir. Mengaduk ramuan mata kadal dan sayap kelelawar."
"Mata kadal?" Sai mengernyitkan jidat. "Terlalu kecil, pasti rasanya kurang."
Sakura tersenyum, "itukan hanya kiasan."
"Oh, begitu. Ya, memasak memang mirip sihir."
"Bayangkan kalau kau bisa menyihir orang hanya dengan masakan. Seru ya?"
"Ya," kata Sai menghindari tatapan Sakura.
"Sudah bisa kucicipi sekarang?"
"Kalau kau mau." Sai sudah tahu persis seperti apa rasa masakan itu.
Sakura mengambil sendok dan mencicipinya sedikit. "Hmm, enak sekali," katanya. "Maksudku, betul-betul sangat enak."
"Perlu ditambah dua jumput garam dan sedikit minyak zaitun."
"Kau belum merasakannya."
Sai menggerakkan bahu. "Tetap perlu itu."
"Oke, kau yang menentukan. Sakura menambahkan garam, lalu mengambil botol minyak zaitun. "Berapa banyak?"
"Dua glug."
"Bisakah kau terjemahkan kedalam ukuran biasa?"
"Taruh jempolmu di ujung mulut botol, tunggingkan. Waktu kau lepas jempolmu, minyak zaitun akan glug-glug keluat dua kali, persis sebanyak itu yang dibutuhkan."
"Hebat." Sakura menaruh kembali botol itu dan menghisap sisa minyak di jempolnya. "Jadi kenapa kau tidak jadi chef?" tanya Sakura. "Jelas kau punya bakat."
"Ya, mungkin suatu hari nanti."
"Sasuke mengajarimu?"
"Kurang lebih begitu."
"Dia tukang masak yang berbakat."
"Dia punya banyak bakat," kata Sai loyal pada sahabatnya.
"Aku punya perasaan dia sangat disukai wanita," kata Sakura santai.
"Kurasa begitu."
"Apakah pernah ada seseorang yang istimewa?"
"Tidak," jawab Sai jujur.
"Tapi pasti dia pernah masak untuk wanita lain?"
Sai ragu-ragu. Betapa ingin ia memberitahu yang sebenarnya! Tapi sekarang sudah terlambat. Sudah terlalu banyak kebohongan. Kalau Sakura sampai tahu yang sebenarnya, dia pasti akan sangat terkejut.
"Tidak," katanya. "Percayalah padaku, Sasuke belum pernah memasak untuk gadis mana pun." Kali ini Sai tidak berbohong.
Ia melihat kebahagiaan membanjiri mata Sakura dan mau tidak mau Sai memalingkan wajahnya.
.
.
.
TBC
.
.
.
Woah long time no write ya! Hehe maklum sibuk. Gomen chapter kali ini lebih singkat. Oya ada yang tau cuplikan lirik lagu di atas itu lagu apa?
See you next chapter^^
.
.
.
Review?
.
.
.
Baca juga new chapter dari : "Unexpected Meeting", "Hold me Maki!", "The Elements", "LINE", "Anata O Aishite", "Evangel"
