.
Characters belong to Masashi Kishimoto.
.
This Is SasuHina Story!
Alternative Universe! Out Of Character! Typical Errors!
You've been warned!
.
This is the 2nd installment of Game On. You might need to read that one first to follow the plot of this installment.
.
.
.
Run Wild And Never Look Back.
.
Untuk beberapa alasan, Hinata merasa plegmatis juga lega di waktu yang sama. Bukan ia merasa di atas angin untuk saat ini, hanya setidaknya rasa percaya dirinya stabil karena sekarang ia mengetahui siapa yang harus ia waspadai.
Sasuke jelas merupakan ancaman yang berbahaya. Dan mengetahui bahwa Kakashi adalah otak di balik semua itu membuat situasi kali ini agak terasa lebih mengerikan.
"Kurasa Sasuke tahu tentang ini, itu kenapa ia di sana bersama Suigetsu. Untuk menghadang kita," ujar Sakura, langkahnya ia teruskan menyeberangi lobby markas utama. "Dan lagi bagaimana dia datang kemari untuk mengancam Hinata, jelas sekali dia memaksa kita untuk mundur."
Hinata memberikan alasan bahwa Sasuke datang mengancamnya untuk menjelaskan mengapa kamar hotel mereka menjadi begitu berantakan. Ia memiliki beberapa pertimbangan untuk menyembunyikan detail asli petemuannya dengan Sasuke. Salah satunya adalah untuk menahan Sakura dan L untuk bertindak lebih jauh yang bisa jadi membuat mereka berakhir seperti Tenten. Jadilah untuk saat ini, Hinata memutuskan untuk menyingkir dari jalan Sasuke adalah pilihan terbaik.
"Sudah beberapa hari dan kita tidak bisa menemukan Suigetsu lagi. Pasti Sasuke yang menyembunyikannya," ujar Sakura lagi.
"Atau mungkin membunuhnya," gumam Hinata menambahkan.
"Kemungkinan itu kecil." Ryuzaki menyanggah celetukan Hinata. "Kuperhatikan Akatsuki banyak kehilangan anggotanya belakangan ini. Jadi aku tidak yakin jika mereka akan dengan mudahnya menyingkirkan anggota yang masih ada," jelasnya.
Hinata mendengarkan Ryuzaki dengan perhatian penuh, manik lavendernya menatap dalam seolah mencoba membaca pria itu. Ia baru berkedip saat Ryuzaki balik meliriknya.
"Berhenti menatapku seperti itu," ujar Ryuzaki kepada Hinata.
"Apa?" Hinata merespons datar, merasa tak ada yang salah dengan apa yang dilakukannya.
Ya, Hinata memang menatap pria itu. Namun itu murni karena rasa penasarannya. Baginya Ryuzaki adalah enigma lain yang belum bisa Hinata pahami. Pria itu terlihat payah namun menjadi tampak begitu cerdas saat ia membuka mulutnya. Tipikal sosok hebat yang terkesan nyaman menyamarkan diri.
Suara yang begitu familier menyapa mereka tepat saat mereka baru akan memasuki elevator. Ketiganya menengok ke sumber suara untuk kemudian mendapati sosok Naruto yang bergerak terburu untuk mendekat.
Ada rasa lega menyambangi hati Hinata setelah beberapa lama ini ia tak berjumpa dengan rekan pirangnya itu. Namun senyum tipis yang baru saya terbentuk atas kelegaan itu kembali pecah saat ia melihat perban melilit tangan kanan juga beberapa memar dan goresan yang menempel pada Naruto.
"Oh sial! Naruto?!" Sakura mengumpat sebagai balasan sapaannya. Ia kemudian berjalan cepat ke arah Naruto yang juga bergerak mendekat hingga merek berhenti berhadapan.
"Tenten... aku... aku tidak bisa..." Suara Naruto terdengar retak, seperti pria itu menyalahkan dirinya sendiri. Dan hal itu membuat Hinata bersimpati, merasakan bagaimana sulitnya jika ia berada di posisi Naruto saat itu.
"Tidak... tidak apa-apa." Sakura memotong, merangkul pria tinggi itu untuk menyalurkan dukungan moralnya.
Hinata masih diam di tempat melihat keduanya berpelukan. Cara mereka saling merangkul mungkin terlihat seperti rangkulan seorang saudara. Tapi sorot sendu yang muncul dari mata mereka membuktikan bahwa mungkin perasaan mereka lebih dominan daripada egoisme yang selama ini mereka tunjukkan.
Beberapa saat kemudian Hinata memilih untuk memberikan ruang kepada kedua rekannya itu dengan melanjutkan langkahnya. Ia melangkah memasuki elevator, membiarkan Ryuzaki membuntutinya.
Di dalam, Hinata menghela napas pelan, ia merapikan mantel cokelat yang dikenakannya sebelum tanpa sengaja mendapati Ryuzaki tersenyum aneh.
"Ada apa?" tanya Hinata.
Ryuzaki menengok ke arah Hinata, senyumnya semakin melebar sebelum menjawab. "Aku suka agensi ini."
"Huh?"
"Di sini penuh drama. Menyenangkan," jawab Ryuzaki sambil menekan tombol dengan angka dua belas setelah memindai tanda pengenalnya. Hinata hanya menggeleng heran. "Di agensiku membosankan. Kami pergi menjalani misi, membunuh orang kemudian kembali. Kami digerakkan. Tapi di sini, para agen seperti menjadi pemeran utamanya, bukan para petinggi. Dan menurutku itu menarik."
Hinata memandang Ryuzaki dengan tatapan menyelidik. "L..." panggilnya.
"Ya?"
"Pernahkah ada seseorang yang mengatakan langsung padamu betapa anehnya kau?"
Ryuzaki memberikan senyum percaya diri kemudian tanpa tanda apapun, didesaknya tubuh Hinata di salah satu sisi dinding elevator. Kelopak mata Hinata terbuka semakin lebar karena efek kejut yang dirasanya. Beberapa saat ia mematung menatap Ryuzaki yang tengah mengurungnya dengan kedua tangan di tiap sisi kepalanya.
Saat itu Hinata menyadari betapa cepat dan tepat pergerakan Ryuzaki. Oh, tentu saja, pria itu juga merupakan agen tingkat lima. Rasanya Hinata sering melupakan fakta itu karena pria itu terlalu terlihat standar.
"Refleksku tergolong baik. Aku juga bisa menjadi tipikal agresif yang perempuan senangi." Ryuzaki berujar ringan dengan senyum tipis. Setelahnya ia menarik diri, tepat beberapa milidetik sebelum pintu elevator terbuka kembali. "Mau kutraktir minum?" tanyanya sambil melangkah keluar.
Hinata masih berkedip-kedip memandangi punggung Ryuzaki.
Ryuzaki berhenti saat menyadari Hinata tak juga mengikutinya. Ia berbalik dan mendapati pintu elevator akan kembali menutup. Ditahannya salah satu sisi pitu dengan tangannya, kepalanya mengedik kecil, memberikan tanda kepada Hinata untuk segera keluar.
Hinata bangkit dari lamunannya. Jujur saja, itu pertama kalinya ia memandang Ryuzaki tanpa predikat kata aneh menyertainya.
"Tidak, terima kasih," jawab Hinata saat melewati Ryuzaki yang masih menahan pintu.
Mereka berjalan hampir bersisian menuju ruangan Kakashi. Hati Hinata memberat, namun berusaha membuat rautnya datar. Bagaimana nantinya ia akan bertatap muka dengan Kakashi setelah mengetahui segala yang pria itu lakukan hanya sandiwara belaka?
Jika Hinata harus membagi rahasia ini, kepada siapa memangnya ia bisa bicara? Ayahnya? Oh, Hinata ragu ayahnya akan mudah mempercayainya. Jika pun ada kesempatan untuknya dipercaya, ayahnya pasti akan meminta bukti yang jelas. Dan Hinata jelas tak bisa menceritakan detail pertemuannya dengan Sasuke saat itu.
"Tidak? Kenapa? Hinata tidak suka minum? Tidak bisa menoleransi alkohol atau bagaimana?"
Hinata mengabaikan rentetan pertanyaan itu. Tanpa sadar ia mengingat saat Sasuke kehilangan kewarasannya karena terlalu mabuk. Pertama saat pria itu pulang dari sebuah pesta informal di Singapura dan saat Hinata memaksanya untuk meminum segelas bir.
Kening Hinata berkerut, kini ia yakin pada dua waktu itu pun Sasuke hanyalah berakting. Seseorang seperti Sasuke sudah pasti punya toleransi yang tinggi terhadap alkohol. Hinata membenci dirinya sendiri karena terlalu bodoh untuk percaya.
Hinata langsung membuka pintu setibanya ia di ruang yang dituju. Bukan hanya Kakashi, ayahnya juga berada di sana. Keduanya tak menampakkan ekspresi apapun.
"Di mana agen Haruno?" tanya Hiashi saat mendapati Hinata masuk.
"Dia... bersama agen Wind," gumam Hinata setengah hati, manik lavendernya melirik ke arah Kakashi yang tengah memandangnya dengan sorot lembut. Hinata tak habis pikir bahwa itu adalah sorot mata yang biasa digunakan pria itu untuk menenangkannya di berbagai situasi.
"Apa yang terjadi bukanlah kesalahan mereka." Kakashi membuka mulut, bicara kepada Hiashi.
"Mereka memang tidak pernah melakukan kesalahan," terima Hiashi. "Ini tentang Uchiha Sasuke yang sepertinya selalu dapat membaca situasi."
"Kukatakan sebelumnya, dia cukup cerdas untuk memprediksi pergerakan kita." Kakashi menghela napas.
Hinata refleks mendelik ke arah pria dengan surai perak itu. Mencibir dalam hati.
Omong kosong, pikirnya. Hinata akui Sasuke memang cerdas, tapi jika bukan karena Kakashi berdiri di belakangnya, bagaimana bisa ia mengetahui segala detail misi agensi?!
Hinata berkedip, mengingat satu hal. Sasuke pernah mengatakan bahwa misi kali ini diatur sedemikian rupa untuk mengalihkan perhatian. Mungkinkah Sasuke mengatakan hal yang sebenarnya. Jika benar, apa saja yang terjadi selama Hinata dan timnya pergi?
"Apa sesuatu terjadi di sini?" tanya Hinata langsung kepada sang ayah.
"Beberapa kantor pemerintahan diledakkan. Kita tersudut karena dianggap kurang cepat mencegah hal itu terjadi." Suara Hiashi terdengar begitu berat. "Kita kehilangan salah satu agen terbaik, salah satunya lagi mendapat luka serius. Masa kontrak agen L akan berakhir lima bulan ke depan. Akatsuki bukan satu-satunya fokus yang kita kerjakan. Aku tidak bisa seenaknya mengubah susunan unit yang menangani kasus ini."
"Kita akan menemukan pemecahannya, Hiashi," ujar Kakashi.
Hinata berkedip. Mungkin benar Kakashi berusaha mencari pilihan lain selain untuk membunuh ayahnya.
Hiashi menghela napas. "Aku akan kembali," ujarnya sebelum mulai mengayunkan kakinya melewati Hinata dan Ryuzaki.
"Marsekal..." panggil Hinata sambil mengejar sang ayah, membuat Hiashi menghentikan gerak kakinya dan berbalik untuk berhadapan dengan putrinya itu. "Ini mungkin terdengar... tidak berdasar tapi... bisakah kau secara personal memberiku misi lain? Satu yang tidak akan aku kacaukan."
"Apa?" Hiashi memberi tanggapan seperti Hinata mengatakan hal tak masuk akal. "Kau tidak memerlukannya. Kau sudah berada di bawah agenda Jenderal Kakashi."
"Aku tahu... tapi Ay—Marsekal, kau sendiri yang mengatakan bahwa Akatsuki bukanlah satu-satunya fokus kita. Aku... aku ingin lebih melatih diriku. Itu satu-satunya cara agar aku mendapatkan tingkat empatku."
Hiashi diam beberapa saat. "Cukup fokuskan dirimu terhadap apa yang perlu kau kerjakan."
"Aku tidak bisa," jawab Hinata lelah. "Aku tahu kita terdesak waktu dan Akatsuki bergerak semakin cepat. Tapi apapun yang kita lakukan saat ini tidak akan berhasil. Bukan hanya aku, tapi semua orang di tim ini. Kami perlu suasana baru," jelasnya tegas. "Jadi kumohon, biarkan kami bergerak untuk misi lain sementara Jenderal Kakashi mencari cara untuk menembus Akatsuki. Jika bukan di bawah komandomu, pecah kami di divisi lain," pinta Hinata lagi.
Mata Hiashi memicing serius. "Kau benar-benar berambisi untuk menaikkan tingkatanmu?"
Hinata tak peduli soal peringkat, tapi ia tak bisa terus bekerja di bawah instruksi Kakashi saat mengetahui segala yang dilakukannya akan berakhir menjadi sebuah kegagalan. Hinata ingin memutus tali yang menghubungkannya dengan Kakashi untuk lepas dari situasi yang merantainya itu. Dan lagi, lebih dari apapun, Hinata berharap untuk berada sedekat mungkin dalam jangkauan ayahnya mengingat kali ini ayahnya merupakan target selanjutnya.
"Tidak juga," jawab Hinata jujur. "Aku mencemaskan rekan timku. Semua ini menjenuhkan, kami butuh pengalihan perhatian."
Kening Hiashi berkerut, seperti ia tengah mempertimbangkan apa yang Hinata ajukan. Beberapa saat kosong sebelum akhirnya ia mengangguk. "Kau benar. Rasanya agensi perlu lebih banyak berita bagus. Aku akan mencoba meninjau ulang hal itu."
"Terima kasih." Hinata menahan senyum kecil muncul di bibirnya.
Hiashi memandangnya beberapa saat dalam diam sebelum melanjutkan perjalanan ke ruangannya sendiri. Hinata menghela napas, ia menyandarkan punggungnya di dinding terdekat, bahunya terasa lebih ringan.
Denting elevator sedikit mengejutkannya, pintu besi terbuka menampakkan Sakura dan Konan dari dalamnya.
"Hinata!" panggil Konan di tengah langkah tergesanya mendekati Hinata dan langsung menubruk tubuh Hinata, melibatkannya dalam pelukan erat. "Aku merindukan kalian," akunya.
Hinata tersenyum dalam diam, tangannya mengusap punggung Konan. Ia melirik Sakura yang secara nonverbal meminta izin untuk langsung menuju ruangan Kakashi.
Konan merenggangkan pelukannya, matanya bergerak memandang Hinata dan Sakura. "Kalian harus tetap hidup. Aku ingin kalian tetap hidup. "Kau, Sakura, Naruto bahkan L," ujarnya begitu serius namun kelembutan tak lepas di setiap ucapannya, sorot matanya pun masih memercikkan kesenduan.
Tentu saja, bagaimanapun Tenten juga merupakan seorang teman untuk Konan. Berita itu pasti memukulnya juga.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Hinata kepada Konan, mungkin ini kali pertama ia menanyakan kabar wanita itu setelah perang dingin mereka selama ini.
"Apa maksudmu dengan bagaimana kabarku? Asal aku masih dapat melihat kalian aku tidak peduli. Kita mungkin akan mati besok atau kapanpun, aku tidak peduli. Aku rindu menonton anime bersamamu," ujarnya panjang lebar. "Aku minta maaf atas sikapku belakangan ini."
Hinata hanya tersenyum, tanpa kata menyatakan ketidak-beratannya.
..
...
..
"Kau suka Chinese?" Ryuzaki bertanya melalui in ear mereka dan jujur saja Hinata tak habis pikir bagaimana bisa pria itu mengangkat obrolan ringan yang tak penting seperti itu di situasi mereka sekarang.
"Tidak," jawab Hinata seadanya, ia memeriksa senjata di tangannya dan memastikan pelurunya terpasang sempurna.
"Dasar rasis," balas Ryuzaki.
Kening Hinata berkerut namun ia tetap memasang waspada untuk sekelilingnya. Ia melirik target yang berdiri beberapa blok dari tempatnya bersembunyi. "Kau bicara soal makanan, bukan?"
"Oh, memang ambigu. Tapi aku bicara soal orang-orang China."
"Ah..." respons Hinata pendek, ia kembali mencoba mengunci target namun tak menemukan orang itu di manapun. "Target utama menghilang." Hinata menghela napas.
"Ada di sini," balas Ryuzaki.
"Kalau begitu aku serahkan padamu."
"Oh Tuhan, aku merasa sangat seksi setiap melakukan misi. Hinata seharusnya ada di sini untuk melihatku."
Hinata kembali mengerutkan keningnya, kepalanya kemudian menggeleng heran. Dimatikannya sambungan in ear yang menghubungkannya dengan Ryuzaki sebelum ia menuangkan perhatiannya pada beberapa orang yang sedang mengemas paket-paket obat terlarang.
Di tengah keseriusannya itulah ia merasakan tamparan ringan di bokongnya. Hinata berjengit, refleks ia memutar tubuhnya untuk memergoki si pelaku. Tidak ada siapapun di belakangnya, baru saat ia menengok ke arah kiri, dilihatnya Sasuke yang juga ikut mengintai kumpulan yang Hinata awasi.
"Jadi apa yang sedang kita awasi?" tanya Sasuke ringan tanpa membelah perhatiannya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Hinata berdesis tajam dan rendah. Kali ini penampilan Sasuke terlihat lebih kasual hanya dengan kaus hitam dan jeans model robek-robek di bagian depan paha hingga tulang keringnya. "Jangan bilang Kakashi juga mengadu tentang ini padamu," tuduhnya tak kalah tajam.
"Tidak, bukan Kakashi. Aku hanya kebetulan memiliki kekuatan fisik untuk mengetahui di mana kau berada." Sasuke menjawab dengan seringai lebar. "Jadi, sekarang apa yang sedang kita lakukan?" tanyanya lagi.
"Bukan sesuatu yang menarik minatmu," umpat Hinata cepat, ia kembali menyimpan senjatanya di pinggang.
"Ow... kau terdengar merajuk. Ayolah, habiskan beberapa waktu bersamaku malam ini dan aku akan memberikanmu rahasia lain, bagaimana?" tawar Sasuke, masih dengan seringai dan nada ringannya.
Hinata menghadapkan dirinya ke arah Sasuke, keningnya berkerut dongkol. "Rahasia apalagi? Kau mau bilang bahwa ternyata Konan adalah anakmu atau apa?" cemoohnya.
"Ewwhh... memangnya dia terlihat mirip denganku?" Sasuke mengernyit geli. "Lagipula aku tidak suka anak-anak. Aku lebih menikmati proses pembuatannya, bersamamu," godanya.
Hinata menggertakkan giginya, menahan diri. Ia kemudian memutuskan untuk enyah dari hadapan Sasuke, namun cengkeraman tiba-tiba di pergelangan tangannya otomatis menghentikan langkahnya.
"Aku yakin kau tidak ingin rekanmu berada dalam bahaya." Suara Sasuke berubah menjadi lebih berat, lebih serius. Tangannya masih mencengkeram kuat tangan Hinata.
"Keparat kau!" Hinata menarik tangannya secara kasar untuk terlepas. "Jangan menyentuhnya atau—"
Ancaman Hinata terpotong oleh tawa singkat Sasuke. "Sangat agresif, seksi. Kau semakin membuatku tertarik belakangan ini."
Hinata mendesis ringan, matanya menatap tajam Sasuke. Ia baru akan berputar untuk melayangkan tendangan tinggi ke arah Sasuke saat gerbang berkarat yang semula hanya memberi celah tipis, kini terbuka lebar.
Beberapa orang yang Hinata awasi sebelumnya keluar berbarengan, semuanya bertubuh besar lengkap dengan senjata tajam, tongkat besi dan rantai di tangan.
"Oh sial!" gerutu Hinata rendah, tangannya meraih pistol di pinggangnya. Ia melirik Sasuke, mengira pria itu akan segera mencari celah untuk pergi, namun pria itu hanya diam memandang manusia-manusia yang baru muncul di hadapan mereka.
"Siapa kalian?!" Salah satu orang dari kelompok itu bertanya dengan suara menggelegar.
Hinata menghela napas kemudian bergumam. "Aku hanya memiliki enam peluru."
"Aku bahkan tidak membawa senjata," bahas Sasuke sambil melirik Hinata, tangannya merogoh saku jeans yang ia kenakan dan mengeluarkan sebuah bandana hitam dari sana.
"Kau akan menggunakan itu?" Kening Hinata berkerut heran.
"Aku tanya siapa kalian?!" seru orang yang sama. "Apa yang kalian lakukan di sini?!"
Sasuke mengambil napas dalam-dalam sebelum menghembuskannya. Dililitkan bandaya yang ia ambil tadi di tangannya.
"Kau akan melawan mereka?" tanya Hinata lagi, bersiap dengan pistol di tangannya.
"Simpan kembali senjatamu, Hinata. Ayolah, kita akan bersenang-senang kali ini." Sasuke tersenyum, dan tepat setelah mengatakannya, seseorang memulai langkah untuk menyerang mereka, mengarahkan tongkat besinya ke kepada Sasuke.
Dengan cekatan Sasuke menahan layangan tongkat itu dengan tangan kirinya sedang tangan kanannya bergerak untuk mendaratkan tinju di wajah orang itu, membuat lawan mundur beberapa langkah sebelum mengangkat kakinya dan menghantamkan dasar sepatu botnya tepat di dada lawan. Sasuke mengambil alih tongkat besi itu sembari matanya melirik Hinata yang masih diam di belakangnya.
Untuk sesaat, Hinata mengagumi gerakan ceroboh Sasuke. Tak butuh waktu lama untuk Hinata bergabung, ia menyimpan kembali senjatanya dan mengambil tongkat yang Sasuke rampas dari lawannya tadi sebelum menghadapi target lainnya yang bergerak menyerang mereka secara hampir bersamaan.
"Oh sial, aku rindu berkelahi dengan gaya jalanan seperti ini." Sasuke menyeringai di dengan aksinya.
Dan oh, Hinata mengutuk dirinya karena lagi-lagi terpengaruh dengan apa yang Sasuke lakukan. Ah, persetan! Hinata tak lagi peduli, Sasuke memang sudah seperti obat yang membuatnya candu.
Adrenalin liar, aliran darah yang begitu cepat dan engahan napas atas aksi ceroboh mereka malah dirasa Hinata memberikan hiburan yang mengerikan. Memberinya kesenangan yang ia sendiri tak yakin ada sebelumnya.
Menggunakan pistol untuk melesakkan peluru di kepala lawan tak bisa dibandingkan dengan yang sekarang ia lakukan. Desir energi yang ikut mengalir di setiap pompa jantungnya membuat Hinata merasakan pusing yang menyenangkan. Mungkin Sasuke benar, mungkin memang tak ada hal yang lebih baik ketimbang memenangkan malam ini hanya dengan senjata rampasan dan tinju mereka.
Hinata selalu menyukai hal-hal yang dapat memacu kerja organ dalamnya. Entah itu hal baik atau buruk. Dan malam ini ia menemukan sisi lain dalam dirinya. Bahwa mungkin ia seorang adrenalin junk.
"Kemari kau, Pecundang!" seorang berbadan besar mengayunkan rantai sepeda motor dan mengarahkannya kepada Hinata. Di sisi lain, Sasuke sibuk bersenang-senang dengan mencoba menghancurkan wajah salah satu lawannya.
Hinata beberapa kali menghindari ayunan rantai itu agar tak mengenai tubuhnya sebelum akhirnya tangannya menangkap rantai itu dan menahannya untuk berhenti berayun. Bukan melakukan gerak refleks untuk mundur, lawan yang dihadapi Hinata malah diam terkejut, tak menyangka Hinata dapat menghentikan gerak senjatanya. Hinata pun menggunakan kesempatan itu untuk menyerang balik. Ia menarik rantai itu hingga sepenuhnya berada di genggamannya sebelum melompat terbalik, memosisikan diri di belakang lawannya dengan rantai yang menjerat leher pria itu.
"Siapa sekarang pecundangnya?" desis Hinata sambil mengencangkan jeratan rantai hingga cukup kuat mencekik lawannya. Hinata baru melepasnya saat melihat lawan lain muncul dari sisi kirinya. Ia bergerak cepat menerjang sebelum orang itu sempat melayangkan tongkat ke arahnya.
Untuk sesaat, Hinata mencuri pandang ke arah Sasuke yang tengah mencekik leher lawan sebelum mengangkat dan menghantamkan lawannya itu ke tanah. Oh sial, Hinata tak tahu dari mana datangnya opini bahwa aksi Sasuke tadi membuat pria itu miliaran kali lebih seksi dari biasanya.
Hinata menggeleng kemudian kembali fokus dengan sekelilingnya. Beberapa kali tinjunya mendarat di tulang hidung lawannya. Hinata sendiri merasa agak nyeri akibat serangannya itu, tapi rasanya hal itu cukup sepadan setelah melihat bagaimana lawannya terhuyung. Langkah terakhir, Hinata berputar dengan kaki kanan terangkat yang siap menghantam tubuh tak stabil lawannya tadi, membuat lawannya tersungkur di tanah.
Manik laverder Hinata menyapu sekelilingnya, memastikan semua lawan mereka tumbang. Dengan napas memberat, Hinata berbalik untuk melihat Sasuke yang baru saja berdiri dari tubuh lawan yang didudukinya.
"Sungguh, Hinata?" Alis Sasuke menukik, raut wajahnya penuh kepuasan.
"Apa?" Hinata membalas dengan ekspresi yang datar. Ia menghela napas, matanya tanpa saja melirik bandana hitam yang masih terlilit di tangan kanan Sasuke. Ia kemudian memandang Sasuke dengan tatapan lelah, hanya sesaat sebelum berbalik untuk pergi.
Orang-orang yang tadi menyerang mereka terbaring berserakan. Beberapa tak sadarkan diri dan sisanya masih mengerang menggeliat seperti cacing. Hinata melewati semuanya tanpa peduli.
"Tadi itu sangat keren," ujar Sasuke sambil membuntuti Hinata. "Dari mana kau belajar gerakan-gerakan itu?"
Hinata diam tak menjawab dan meneruskan langkahnya. Ia baru berhenti saat Sasuke berhasil menghadang di depannya, sambil melepas ikatan bandana di tangannya, Sasuke menatap Hinata menuntut jawaban.
"Aku tidak selalu bergantung dengan senjata api," jawab Hinata tajam sebelum kembali menerobos Sasuke. Sungguh, ia hanya ingin segera menjauh dari pria itu.
"Aku agak tidak mengiranya," balas Sasuke. "Maksudku... kau harusnya lihat dirimu dan gerakan-gerakan gila yang kau lakukan tadi. Sekarang aku percaya bahwa mereka tidak memberimu kenaikan ke tingkat tiga tanpa alasan." Sasuke terkekeh ringan, mengabaikan raut terganggu Hinata. "Tapi tetap saja... aku mengalahkan tujuh di antara mereka, kau hanya dapat empat," tambahnya.
"Huh?" Hinata mendelik tajam kepada Sasuke yang menyeringai sambil terus mencoba menyamakan langkah dengannya. "Kau menghitungnya?" delik Hinata tak percaya.
"Tentu saja, Hinata," aku Sasuke. "Aku seorang pemimpin kelompok revolusioner. Aku menghitung apapun yang terlibat denganku."
Posisi mereka yang bersebelahan membuat Hinata dapat melihat sebagian gambaran tato di lengan Sasuke. Hinata merasa hal itu menakutkan juga mengganggu di saat yang bersamaan. Ia mengerti, mungkin saat ini Sasuke hanya bosan sehingga terus-terusan mengikutinya, dan ia paham tak ada yang bisa ia perbuat untuk membuat pria itu berhenti. Namun sungguh, Hinata tak bisa jika harus lebih lama berada dalam radar penuh feromon milik pria itu.
"Kenapa bukan Kakashi yang menjadi ketuanya?" tanya Hinata antara sadar dan tidak sadar.
"Hmmm..." Sasuke mengerutkan bibirnya, seolah berpikir. Keduanya terlihat lelah karena perkelahian tadi, namun Sasuke terlihat lebih menguasai diri hingga dapat menyembunyikan lelahnya dengan lebih rapi. "Mungkin karena dia tahu aku akan membunuhnya jika ia nekat mengambil posisi itu," jawabnya ringan, seperti tak ada yang janggal dalam jawabannya itu.
Hinata otomatis berhenti dan menatap pria itu tak percaya. "Kau... tega membunuh ayahmu sendiri untuk sebuah titel di dalam kumpulan orang-orang tanpa prinsip yang kebingungan?"
Sasuke ikut berhenti setelah ia beberapa langkah mendahului Hinata, ia berbalik. "Orang-orang tanpa prinsip... yang kebingungan?" ulangnya, terlalu tersindir dengan apa yang Hinata katakan.
Hinata menghela napas. "Itu bukan poin utamanya. Intinya adalah, jika kau saja berani membunuh ayahmu sendiri, tidak butuh lebih dari dua detik untukmu memutuskan untuk mengakhiri hidupku!"
Hinata kemudian melangkah lebar dan cepat ke tempat ia dan Ryuzaki memarkirkan mobil mereka. Ia pun merasakan ponsel di saku celananya bergetar untuk yang kesekian kalinya, mungkin Ryuzaki menghubunginya.
"Itu berbeda," balas Sasuke. "Aku tidak merasakan cinta terhadap ayahku."
Hinata menggertakkan gigi, apa lagi ini? Apa lagi maksud Sasuke mengangkat bahasan yang masih begitu sensitif bagi Hinata.
"Pergi ke toko hewan peliharaan. Belilah seekor kucing, anjing atau kelinci dan coba lihat apakah kau bisa memberikan mereka sedikit cinta?!" ucap Hinata sarkastis tanpa menurunkan pacu langkahnya.
Sasuke meraih lengan Hinata dan memaksanya untuk berhenti. "Tidak perlu," ujarnya serius. "Aku sudah punya Izumi sebagai peliharaanku," rautnya berubah drastis menjadi seribu kali lebih menyebalkan.
"Persetan denganmu!" Hinata menarik kembali tangannya.
"Tapi sungguh, aku lebih dekat dengan ayah Izumi daripada ayah kandungku sendiri. Oh, aku mengatakannya bukan berarti aku lebih menyukai bajingan tua itu."
"Kau tidak memerlukan siapapun di hidupmu, bukan? Tidak teman, tidak kekasih, tidak juga keluarga. Aku berhenti memandangmu berbeda dan mengiyakan opini orang lain yang menganggap bahwa kau hanyalah seorang sosiopat sadis yang juga sinting," ujar Hinata, kali ini nada bicaranya lebih teratur.
Sasuke hanya merespons kata-kata Hinata dengan tawa renyah. Hinata yang lelah dengan semuanya memutuskan untuk mengabaikan Sasuke dan mulai mencari mobil tumpangannya. Setibanya di tempat parkir, Hinata mengedarkan pandangan namun tetap tak berhasil menemukan mobilnya.
"Sepertinya aku lupa bilang kalau aku tadi memindahkan mobilmu," aku Sasuke dengan senyum lebar.
Hinata kembali bertatap muka dengan Sasuke, tak ada ekspresi berarti menghiasi wajahnya. "Berhenti bermain-main, Sasuke. Memangnya kau ini apa? Anak dua belas tahun?"
"Tidak," jawab Sasuke, ia beringsut mendekati Hinata dengan wajah tertunduk namun seringai yang tak kunjung luntur. "Aku hanya seorang sosiopat sadis yang sinting."
Satu tangan Sasuke melingkari di pinggang Hinata saat jarak mereka cukup dekat. Ditariknya Hinata mendekat hingga dada mereka bersentuhan. Butuh beberapa detik untuk Hinata tersadar dari lamunannya dan mendorong Sasuke menjauh.
"Kau benar-benar berniat mengikutiku?" tanya Hinata.
"Sudah kubilang, Rekanmu mungkin berada dalam bahaya. Aku hanya menawarkan diri jika kau butuh bantuan untuk menjauhkannya dari fase sekarang." Sasuke menyeringai kecil. "Jadi... terima tawaranku dan kau akan menuruti apa yang kumau malam ini. Bagaimana?"
Hinata memandang Sasuke dengan tatapan yang jauh meski jarak mereka tak lebih dari tiga langkah kaki. "Aku bukan lagi pelacurmu, Sasuke," ujarnya rendah. Hinata merasa tenggorokannya tercekat saat mengatakan kalimat itu.
"Ya... aku bisa melihatnya," ujar Sasuke sama rendahnya. Manik hitamnya meneliti Hinata dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Aku benar-benar tidak punya waktu untuk omong kosong ini, Sasuke." Hinata menghela napas. "Di mana mobilku?"
Sasuke melirik ke arah kiri kemudian kembali memandang Hinata dengan sorot mempermainkan. "Di dalam celanaku. Mau coba lihat dan membawanya pulang?"
"Untuk yang kesekian kalinya... persetan denganmu!"
Dengan itu, tanpa melirik Sasuke lagi, Hinata berjalan di trotoar jalan, berharap ia dapat cepat menemukan taksi yang sedang beroperasi. Ia bisa saja menghubungi Ryuzaki, tapi rasanya Sasuke belum menyerah untuk membuntutinya. Dan ia yakin, mempertemukan dua pria itu bukanlah ide bagus.
Hinata tahu Sasuke masih mengikutinya meski ia tak mendengar suara tapak kaki pria itu di belakangnya. Namun ia masih dapat merasakan tatapan pria itu di punggungnya, seolah sorot mata itu cukup untuk dapat menyentuh Hinata.
"Kau tahu di mana aku tinggal. Kau tahu tempat itu berada di sisi selatan kota. Kenapa kau tidak melakukan apapun?" Sasuke kembali bersuara.
Hinata menahan diri untuk tak memutar bola matanya. "Kau mungkin sudah akan menduganya dan sudah memiliki rencana untuk mengatasinya. Jika tidak pun, Kakashi akan memperingatkanmu terlebih dahulu."
"Sebelum kau tahu tentang Kakashi?"
"Aku hanya menyadari bahwa jumlah agen yang memungkinkan untuk terlibat tidak cukup jika dibanding anak buahmu yang siap berjaga tujuh kali dua puluh empat jam."
Hinata mendengar tawa pendek yang singkat, kemudian senyap kembali menemani mereka. Sasuke mengikuti Hinata dalam diam dan Hinata mencoba tak terpengaruh dengan hal itu. Kilau lampu kendaraan yang lewat beberapa kali mengagetkan lensa matanya, ponselnya yang sejak tadi bergetar pun membuatnya agak tak nyaman. Namun di atas semua itu, keberadaan Sasuke masihlah gangguan terbesarnya.
Hinata dongkol terhadap dirinya sendiri. Sungguh, ada yang salah di dalam kepalanya. Ia ingin Sasuke segera pergi dan meninggalkannya sendiri. Namun di waktu yang bersamaan hatinya ngilu mengharap pria itu tetap di sana.
Hinata berhenti beberapa meter sebelum sampai di persimpangan besar. Perlahan ia berbalik, mendapati Sasuke yang menatapnya lekat dengan kedua tangan ia sisipkan di saku celana jeans-nya.
Suasana hatinya menyendu saat ia merasa melihat Sasuke yang dulu pada sosok yang berdiri tegap di hadapannya. Pria sederhana, percaya diri juga berkharisma yang membuat Hinata jatuh hati. Dan sekarang, seberapa keras pun Hinata mencoba bersikap dingin, Hinata belum bisa mengelak fakta bahwa ia masih merasakan cinta mati kepada Sasuke meski perasaan itu begitu menyakitinya.
Sasuke masih tak mengeluarkan tangan dari sakunya. Ia bergerak hingga jaraknya dengan Hinata tak lagi perlu ditempuh bahkan hanya dengan dari langkah kaki. Ekspresi dan senyum ringannya berubah menjadi raut datar yang keras.
"Jangan berhenti ataupun berbalik saat kau memutuskan untuk pergi dariku, Hinata," ujar Sasuke dengan suara rendah. Tangannya baru ia bebaskan dari saku hanya untuk meraih pinggang Hinata dan membuat wanita itu semakin mendekat.
Kepala Hinata menunduk, enggan menatap wajah apalagi manik mata Sasuke. Napasnya menjadi berat, tangannya ia posisikan di antara mereka seolah menjadi dinding untuk mencegah tubuh keduanya bersentuhan. Hinata tak menyadari saat Sasuke mengambil pistol di pinggangnya dan menempelkan moncongnya tepat di sisi perut Hinata.
"Aku sangat penasaran. Setiap waktu, apa yang menghentikanmu untuk membunuhku bahkan setelah semua hal yang aku lakukan padamu?"
Hinata mematung sesaat. Tidak ada ketegangan atau ketakutan meski kini Sasuke menodongkan pistol di perutnya.
"Karena aku mencintaimu." Kalimat itu meluncur dari lidah Hinata tanpa kendali. Tangan Hinata merangkum mulut pistol di perutnya namun tak benar-benar mencoba menyingkirkannya. "Seperti aku mencintai Neji, aku pun tidak pernah bisa membunuhnya. Karena itulah..."
Sorot mata Sasuke masih terlihat begitu dingin. "Aku akui, aku memang membingungkan. Tapi tebak siapa penyebabnya?" balasnya dengan nada frustrasi, tangan kirinya meremas pinggang Hinata.
"Bi-biarkan aku... melupakanmu, Sasuke," gumam Hinata nyaris seperti bisikan. "Itu akan membuat semuanya lebih mudah."
"Lebih mudah saat kau benar-benar memutuskan untuk membunuhku?" Sasuke melepaskan Hinata dan mundur satu langkah. Ia menghembuskan napas secara kasar. Hinata menggigit bibirnya, pandangan matanya ia alihkan. "Dan jika saat itu tiba... jangan harap aku akan menyerah dengan mudahnya."
"Aku tidak mengharap kau menyerahkan diri."
Sasuke menyapukan surai kelamnya dengan jemarinya. "Tapi bukan berarti aku tidak akan melakukannya," desisnya sengit.
"Apa?"
Sasuke tak menjawab, rahangnya mengatup rapat. Dan saat itu, ponsel Hinata kembali bergetar. Hinata kali ini memutuskan untuk tak mengabaikan panggilan di ponselnya itu. Ia bergerak menepi hingga ia berdiri di depan salah satu bangunan toko yang sudah tak terpakai lagi, beberapa langkah jauhnya dari tempat Sasuke berdiri.
Diraihnya ponsel itu, hal pertama yang ia lihat di layar datarnya adalah nama samaran Ryuzaki beserta fotonya yang entah kapan dan bagaimana bisa terpasang di ponselnya. Ia baru saja akan menggeser layarnya untuk menerima panggilan itu saat Sasuke mengambil alih ponselnya secara paksa dan menghantamkan benda itu di dinding di dekat mereka.
"Apa yang kau lakukan?!" sergah Hinata setelah Sasuke menjatuhkan ponselnya dan mendapati beberapa bagian termasuk layar ponselnya pecah.
Tanpa menjawab Hinata, Sasuke meraih pergelangan tangan Hinata dengan kasar dan menariknya ke salah satu gang di antara bangunan toko kosong. Didesaknya Hinata hingga tubuh wanita itu terhimpit di antara dinding juga tubuh besar Sasuke.
"Apa lagi sekarang? Kau tidak lagi menginginkanku? Kau masih haus akan sentuhanku beberapa waktu yang lalu dan sekarang kau tiba-tiba beralih kepada anak keparat itu?!" Sasuke membelasut rendah, suaranya begitu mengintimidasi.
"Kita sudah selesai! Aku tidak ingin mengharapkan apapun darimu, dengar?! Kau tidak punya hak untuk menahanku lagi!" Hinata membalas dengan tegas sambil berusaha mendorong Sasuke.
Sasuke menangkap tangan Hinata dan menahannya di atas kepala wanita itu dengan satu tangan. "Kau bohong."
"Lepaskan aku, brengsek!" Hinata memberontak, namun satu tangan Sasuke yang terbebas menahan tengkuknya, membuat jarak wajah keduanya begitu dekat hingga ujung hidung mereka bersentuhan.
"Dengar, Hinata. Kau... tidak akan pernah melupakanku," desisnya rendah, membuat Hinata menggigit bibirnya. Manik mereka saling bersirobok namun dengan cahaya yang berbeda. Sasuke dengan kemurkaannya, dan Hinata dengan tatapan lelahnya.
"Kau hanya haus akan perhatian, Sasuke. Kau hanya ingin menjadi bintang utamanya." Hinata bergumam lirih. "Kau tidak ingin aku pergi darimu? Lalu apa? Kau akan membunuhku jika kau melakukannya?"
Sasuke melepaskan tangannya dari tengkuk dan membebaskan tangan Hinata. Namun ia tetap di tempatnya, tak mundur untuk memberi jarak nyaman. "Kau benar. Menjauhlah dariku dan aku akan membunuhmu."
Hinata mengeluarkan tawa kecil yang terdengar miris. "Kalau kuingat lagi sebelumnya kau mengatakan bahwa kau akan membunuhku jika aku menghalangi jalanmu. Dan sekarang kau berkata sebaliknya?"
"Aku akan membunuhmu saat kau berhenti menginginkanku," ujarnya tajam tanpa keraguan.
Lelaki sejati di dalam literatur romansa akan rela melepaskan wanita yang dicintainya jika itu menjanjikan kebahagiaan untuk wanita itu. Tapi tidak untuk Sasuke. Sasuke adalah bajingan keras kepala yang egois yang tak pernah bisa mengakui perasaannya sendiri. Tak pernah bisa mengakui bahwa ia membutuhkan Hinata.
Sasuke memberikan Hinata dua tahun sampai akhirnya ia kembali ke kehidupan Hinata. Dan saat mereka bertemu lagi, Sasuke menginginkannya. Sasuke menginginkan Hinata bukan sebagai sesuatu yang Hinata inginkan, namun lebih seperti budaknya. Seorang pelacur pribadinya.
Itulah yang Hinata simpulkan saat Sasuke menyatakan bahwa pria itu menginginkannya. Itu pun jika Sasuke nantinya menyatakan bahwa pria itu jatuh cinta padanya.
"Aku tidak bisa," bisik Hinata. "Aku lelah mengejarmu. Aku lelah mencari tahu apa yang kau rasakan."
Sepasang iris gelap itu menatap Hinata hingga Hinata merasa jalan napasnya terputus.
"Kau serius?" tanya Sasuke rendah.
"Y-ya."
Sebelum Sasuke sempat membalas apapun atas jawaban singkat Hinata, sebuah mobil berhenti di tepi jalan. Hinata melirik melalui pundak Sasuke dan mendapati Ryuzaki keluar dari dalamnya.
"Hinata!" panggil Ryuzaki, langkahnya lebar dan cepat untuk mendekati rekannya itu.
Sebelum Hinata menyadarinya, Sasuke memutar tubuhnya dengan niat menyerang Ryuzaki dengan kaki secara mendadak tepat di kepalanya. Dengan gerak refleks yang cepat, Ryuzaki menangkap tilang kering Sasuke dan menahannya sementara ia berusaha menyerang balik Sasuke dengan lututnya. Jika saja Sasuke kalah cepat untuk menghindar, lutut Ryuzaki sudah pasti sukses menghantam rusuknya tadi.
"Hentikan!" pekik Hinata, ia menempatkan diri di antara keduanya sebelum Sasuke sempat melempar tinjunya.
Untuk pertama kalinya, Hinata melihat Ryuzaki menggeram sengit. Namun hal itu hanya terjadi beberapa saat karena setelahnya, Ryuzaki kembali memasang raut tanpa ekspresi meski sorot matanya masih berapi.
Sasuke masih terlihat pasif, seperti biasa. Namun kepalan tangannya yang bergetar cukup menyiratkan betapa pria itu ingin menghancurkan tengkorak Ryuzaki. Meski Hinata ragu ia akan bisa melakukannya karena jelas-jelas Ryuzaki setidaknya merupakan lawan yang sebanding untukSasuke.
"Kau ingin berkelahi? Lakukan seperti seorang lelaki, Bung! Bukan menyerang mendadak seperti seorang pengecut!" umpat Ryuzaki meski nada yang keluar terkesan terlalu datar untuk sebuah umpatan.
"Hentikan, L!" seru Hinata lagi, ia mencoba menahan Ryuzaki dari mendekati Sasuke dengan mencengkeram lengan pria itu..
"Apa yang Hinata lakukan dengannya, huh?" selidik Ryuzaki dengan mata menyipit.
Mata Sasuke tertuju pada tangan Hinata yang menahan Ryuzaki. Hinata yang menyadarinya segera melepas tangannya, tak mengharapkan keributan lebih.
"Sebaiknya kita kembali," ujarnya pelan kepada Ryuzaki.
"Hinata!" Suara geraman Sasuke menghentikan niat Hinata yang baru akan beranjak dari Sana bersama Ryuzaki. Ia menghela napas lelah.
"Pergilah duluan," pinta Hinata kepada Ryuzaki.
"Apa?"
"L..."
"Tidak, Hinata memintaku untuk—"
"Pergi. Ya, kau tidak salah dengar." Hinata menegaskan. "Aku akan menyusul, aku janji."
Kelopak mata Ryuzaki melebar tak percaya. "Hinata tidak mabuk, kan?"
"Kumohon, L," pinta Hinata, ia benar-benar lelah. Raga dan jiwa. "Aku perlu menyelesaikan semua hal dengannya," tambahnya nyaris berbisik, manik lavendernya melirik Sasuke yang terlihat sedang ingin sekali memukul dinding di sampingnya. "Pergilah duluan," ujarnya lagi.
Ryuzaki menghembuskan napas, menyerah. Ia melirik tajam Sasuke selama beberapa saat sebelum berbalik menuju mobil.
Hinata berbalik mendekati Sasuke saat mobil yang dikendarai Ryuzaki meninggalkan mereka. Sasuke menyeret Hinata tanpa kesabaran. Ditangkupnya kedua sisi wajah Hinata untuk kemudian ia serang bibir wanita itu dengan bibirnya. Melibatkan mereka berdua ke dalam ciuman agresif yang menuntut.
Hinata baru dapat melepaskan diri saat keduanya terengah kekurangan pasokan udara. Bibir mereka terlepas, tapi tangan Sasuke masih membingkai wajahnya.
"Apa sekarang kau mencintaiku, Sasuke?" tanya Hinata lirih, wajahnya tak ia dongakkan untuk bertemu wajah Sasuke.
Sasuke tak menjawab, diam di posisinya.
"Itu ungkapan yang sia-sia bahkan jika kau menjawab ya." Hinata tak terburu-buru mengatakannya, memastikan semuanya akan jelas untuk pria di depannya. "Jika kau memutuskan untuk mencintaiku sekarang, itu tidak ada artinya. Karena yang kau cintai bukanlah aku. Yang sekarang berada di depanmu adalah karakter sembrono yang aku ciptakan untuk melawan sakit hati yang kau tinggalkan untukku." Kedua tangan Hinata mencengkeram kaus Sasuke, seolah itu satu-satunya pegangan yang ia miliki agar tubuhnya tak jatuh lemas. "Aku harus berhenti, Sasuke. Itu satu-satunya pilihan jika aku ingin melawanmu," tambah Hinata serius.
"Aku sudah bilang padamu untuk tidak melupakanku," balas Sasuke, seperti tak menggubris perkataan Hinata sebelumnya. "Tidak peduli apa yang kau asumsikan. Aku tidak pernah mencintaimu sebelumnya. Dan sekarang saat aku mengatakan bahwa aku benar jatuh cinta padamu, kau mendorongku menjauh."
"Mencintai seseorang bukan hal yang bisa kau lakukan, Sasuke. Kau hanya bisa berpura-pura," tandas Hinata yang akhirnya berani mengangkat wajahnya.
Sasuke menatap Hinata datar, kemudian ia mengeluarkan kekehan kosong. "Bagus... semuanya akan menjadi lebih menarik sepertinya," ujarnya setengah hati.
Mereka diam untuk beberapa lama. Hinata mengernyit, ingin menanyakan maksud kalimat yang terakhir Sasuke lontarkan. Niatan Hinata untuk mempertanyakannya tertahan saat ia melihat gelagat Sasuke yang berubah drastis. Pria itu memasang tampang waspada dan beberapa kali melirikkan mata ke arah kanannya.
"Ada apa?" tanya Hinata rendah.
"Ssstt..." desis Sasuke.
"Aku juga merasa ini memang akan sangat menarik."
Sebuah suara asing menginterupsi. Membuat Hinata seketika berbalik, jantungnya terasa berhenti saat mendapati ayah Izumi—Fugaku—bersama beberapa anak buahnya berdiri tak jauh dari tempatnya dan Sasuke.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Sasuke bertanya tanpa basa-basi, ia langsung mengambil langkah maju, menempatkan dirinya di depan Hinata untuk beberapa alasan.
"Aku hanya penasaran apa yang aku kerjakan hingga kau melalaikan tugasmu malam ini." Fugaku menyeringai tajam, matanya menatap lurus kepada Hinata yang Sasuke sembunyikan di belakang tubuhnya.
"Dia tidak ada hubungan apapun dengan hal itu," balas Sasuke.
"Oh, Sasuke... rasanya aku meragukan hal itu." Fugaku berjalan mendekat. "Jadi ini yang kau lakukan belakangan ini?"
"Kakashi masih membutuhkannya." Sasuke berdalih, ia mencegah seorang anak buah Fugaku yang berusaha meraih Hinata. Namun aksinya dihentikan saat dua orang lainnya menarik Sasuke dan mengunci tangannya di belakang tubuh.
"Sial!" desis Sasuke. Hinata hampir berjengit mendengar gerutuan itu.
"Kau pikir aku peduli dengan apa yang Kakashi perlukan?" ujarnya kepada Sasuke. "Bawa dia," titahnya kemudian, merujuk kepada anak buahnya untuk membawa Hinata.
Hinata baru akan meraih pistol di pinggangnya, namun ia melihat Sasuke perlahan menggelengkan kepala sambil menatapnya.
"Aku penasaran bagaimana reaksi ayahmu jika dia tahu putrinya dibunuh secara sadis seperti dia membunuh istri dan putraku," ujarnya tajam, seperti mengumpat.
Putra? Siapa maksudnya? Saudara kandung Izumi, kah?
Hinata masih bersikap pasif saat anak buah Fugaku merampas senjata juga memborgol tangannya. Ia ingin melarikan diri, namun ungkapan Fugaku tentang ayahnya membunuh anak dan istri pria itu membuat Hinata penasaran. Ia yakin, ada hal yang harus ia ketahui tentang ini.
Terlebih Sasuke memintanya untuk menyerahkan diri. Mengingatnya membuat Hinata melirik Sasuke. Ekspresi pria itu terlihat mati, namun sorot mata itu begitu familier bagi Hinata. Sorot setiap saat pria itu murka.
Ada percikan senang mengetahui kemungkinan Sasuke marah karena mencemaskannya. Namun perasaan itu kalah oleh rasa heran yang melilit Hinata. Pikirannya buntu tak bisa menelaah apa yang sebenarnya terjadi.
Hinata baru keluar dalam kerumitan pikirannya sendiri saat punggungnya didorong oleh salah satu orang yang menahannya tadi, memintanya segera bergerak. Dan Hinata tak melakukan perlawanan lebih. Ia mengikuti instruksi untuk berjalan ke arah yang ditentukan.
Dan saat ia melewati Sasuke, ia dapat mendengar pria itu berbisik padanya.
"Aku akan menjemputmu."
Tiga kata yang membuat Hinata lega sekaligus semakin bertanya-tanya.
.
to be continued...
..
.
Akhirnya... setelah berbagai alasan saya sebar untuk membela diri atas ngaretnya updatean ini xD
So pardon my laziness also tardiness ._.
Fyi, this chap contains 5923 words, which means this is the longest chap so far... wew ._.
Anyway... ini telat tapi... happy new year for y'all, have a nice day ^^
Sampai jumpaaaaaa :*
