Disclaimer: All character belong to Masashi Kishimoto. But this story purely mine. I don't take any profit from this work. It's just because I love it.

Warning: AU, miss-typo, OOC, another NaruSaku fic. M just for safe.

And for all anti-NS, if you DON'T LIKE, I know you'll smart enough to DON'T READ

.

Come Hell or High Water

by LastMelodya

.

.

"Should I smile because we're friends? Or should I cry because that's the only thing we can ever be? -Tumblr"

.

.

Chapter 9

"Naruto! Berhenti!"

Naruto tak menghiraukan Sakura, pria itu terus berjalan cepat tak peduli dengan keadaan Sakura yang terseok-seok karena heels sialan yang dipakainya. Setelah menunggu Naruto beberapa puluh menit karena konverensi pers, pria itu malah pergi begitu saja ketika Sakura menahannya.

"Naruto! Why don't you just calm the suck down? Kenapa malah kau yang meledak seperti ini?!"

Langkah Naruto tiba-tiba saja berhenti mendadak, membuat kening Sakura terantuk punggung bidang pria itu karena hentian langkahnya yang tak terprediksi. Tak sampai sedetik, Naruto berbalik, mata birunya berkilat menatap emerald Sakura.

"Calm the suck down? Kenapa aku yang meledak kaubilang?" Pemuda pirang itu meraih bahu Sakura untuk mencengkeramnya erat, membuat si pemilik mengernyit tak nyaman, "kau tak sadar apa yang sedang kaulakukan, Haruno Sakura?"

Sakura menggeleng kesal, tubuhnya meronta meminta Naruto melepaskan cengkeramannyayang nyatanya tidak dihiraukan sahabatnya itu. "You're annoying, Naruto! Reaksimu atas foto itu sangat tidak wajar! Bahkan aku belum menjelaskannya sama seka"

"karena foto itu memang tidak wajar, Sakura. Apa yang terekam antara kau dan Shikamaru di sana memang tidak wajar! Kau mau menjelaskan apa? Menjelaskan kalau targetmu kali ini Shikamaru? Fuck, Sakura! Kalau kau mau tahu, kau bahkan baru saja membuat dua personil Sunset lainnya bertengkar karena hubungan yang pernah kalian miliki, dan sekarang? Kau mengincar salah satu personil Sunset yang lainnya? Demi Tuhan, Sakura, apa sebenarnya tujuanmu?!"

PLAK.

"It's you who absolutely fucking bastard, Naruto."

Naruto melebarkan safirnya, cengkeramannya pada Sakura perlahan melemas dan terlepas sama sekali. Sebelah pipinya terasa sangat sakit, perih hingga rasanya menjalar ke rongga-rongga dadanya. Terlebih, saat menyadari tamparan itu berasal dari gadis di hadapannya. Yang kini tengah menatapnya dengan raut komplikasi. Yang jelas, raut wajah itu kini menyiratkan kekecewaan yang tak pernah Naruto lihat sebelumnya. Raut yang membuat dirinya menyadari betapa rasa kecewa itu bersumber pada ucapannya.

"S-Sakura-chan…" Naruto mencoba mengulurkan tangan.

"Hentikan, Naruto." Dengan cepat gadis itu menepis uluran tangan Naruto, bahkan sebelum pria itu sempat menyentuh sedikit pun ujung jemarinya. "Aku tak mengerti dengan segala tuduhanmu. Jadi, kaupikir aku dengan sengaja menjadikan ketiga teman band-mu itu target permainan cintaku?"

"Tidak, maksudku"

"kukira kau sahabatku. Bukan begitu?"

"Sakura-chan," Naruto mengambil satu langkah, kembali berusaha untuk menjangkau Sakura, yang mengejutkannya, kali ini tak kembali ditepis gadis itu. Sakura membiarkan Naruto menyentuh tangannya. "Aku sangat mengenalmu, jangan sekalipun ragukan itu. Tapi, ini semua di luar kuasaku, Sakura. Kau … setelah Sasuke, kemudian Sasori, dan sekarang Shikamaru? Kenapa?"

Ketidakkonsistenan Naruto akan panggilannya membuat Sakura menyadari, pria itu kini tengah dalam kondisi kekalutan. Di mana kondisi yang sangat jarang menyambangi pria itu, pria yang Sakura tahu selalu bisa mengontrol hidupnya dengan santai dan tak acuh. Dan nada suara Naruto tadi…

Satu gagasan tiba-tiba saja muncul di kepala gadis itu. Gagasan yang menggetarkan dadanya.

Kemudian, dengan kondisi lebih stabil, gadis itu tersenyum, "sudahlah Naruto, tak sampai seminggu lagi jadwal kita berangkat ke London. Aku tak ingin membuat masalah denganmu. You better back home, now."

Ada sesuatu seperti kelegaan yang sedikit tergambar di wajah Naruto. Ya, sedikit, karena sejujurnya, pria itu masih merasakan ketidaknyamanan akan foto itu. Dan ketidaknyamanan itu meminta penjelasan untuk meredam segala rasa kesal di dadanya. Namun, seperti kata Sakura tadi, Naruto tak ingin hal tersebut malah membuat keduanya bertengkar hebat. Ia dengan senang hati menahan perasaannya demi membuat Sakura tetap bertahan di sisinya dan tak meledak marah padanya. Naruto seharusnya bersyukur, gadis itu begitu pintar mengontrol emosi. Dari segala ucapan Naruto yang ia sendiri sadari sedikit tak pantas diucapkan pada sahabatnya, Sakura masih bertahan dengan kedewasaannya.

"Maafkan aku. Dan, ya, kita pulang."

Belum sempat Naruto menarik tangan Sakura, gadis itu kini melepasnya. Wajahnya tersenyum kecil pada pria yang sempat membuatnya kesal itu, "kau duluan. Ada sesuatu yang harus kuurus terlebih dahulu."

Dengan tatapan menuntut penjalasan, akhirnya Naruto menyerah dan mengalah untuk meninggalkan gadis itu.

Selepas kepergian Naruto, Sakura menolehkan pandangan ke arah sisi kirinya. Menemukan satu entitas lain yang sedari tadi disadarinya telah berada di sana.

"Menarik sekali." Ucap sosok itu.

Suara langkah kembali terdengar, kali ini pelan dan mendekati posisi di mana Sakura berdiri. Hingga akhirnya, sosok pria bertubuh tegap terlihat dan mendekati Sakura dengan santai.

"Sudah kubilang, kan? Dia itu…"

"Shut up, Shika. Sekarang, kurasa kita perlu membuat klarifikasi tentang foto sialan itu." Sakura memotong dengan cepat. Pandangannya tertuju pada direksi di mana Naruto dan mobilnya menghilang. Lagi-lagi, sesuatu dalam dadanya bergemuruh, menggebu hingga rasanya ingin meledak. Sudut matanya terasa berair, namun, ia masih dapat mengumpat. "Naruto baka."

Shikamaru hanya menyeringai, menggeleng pelan ketika menatap Sakura, "Kalian berdua sama-sama bodoh, kau tahu?" Shikamaru menatap Sakura, "aku terkesan dengan fotografer amatir yang menangkap gambar kita sehingga bisa terlihat seperti itu." pria itu kemudian melanjutkan, "tapi aku lebih terkesan dengan reaksi sahabatmu itu, Sakura."

"Maka dari itu, kita perlu membuat klarifikasi."

"Bagaimana kalau aku tak mau?"

Emerald Sakura melebar. "Apa yang kaupikirkan?!"

Shikamaru memutari Sakura, menatap lekat-lekat gadis itu hingga membuat Sakura jengah. Kemudian, ia menyeringai pelan. "Lagipula, kenapa kita harus membuat klarifikasi?"

"Demi Tuhan, Shikamaru. Aku tidak ingin kesalahpahaman muncul dan memengaruhi otak para orang-orang bodoh di luar sana." Sakura tak pernah merasa sekesal ini dengan pria bertitel jenius itu, namun, malam ini ia melakukannya.

"Kau hanya tidak ingin Naruto salah paham."

Hening.

Ada banyak suara yang berputar di dalam benak Sakura. Suara mesin mobil di sekitar tempat parkir, suara lalu lintas malam di luar sana, serta sayup-sayup resonansi musik yang berepetis di dalam kelab. Tapi, suara Shikamaru yang menyebut nama Naruto yang paling mendominasi sudut pikirannya. Menjajahnya seolah-olah hanya dia saja yang terdengar saat ini.

"Kau hanya tidak ingin Naruto salah paham, bukan begitu, Sakura?" Shikamaru mengulang lagi, kini oniksnya terlihat menusuk emerald Sakura dengan telak.

"B-bukan begitu."

"Kalau begitu biarkan saja mereka berspekulasi macam-macam." Ujarannya kembali terdengar. "Biarkan saja mereka berpikir kita berkencan atau apa. Toh, ini tidak seperti sebuah hal yang membunuh kita pelan-pelan, kan?"

Tak ada jawaban. Sakura terlalu takut untuk menjawabnya.

Hal ini membuat Shikamaru kembali menyeringai diam-diam. "Lagipula, ini terlihat seperti kau menolakku sebelum aku benar-benar mengajakmu berkencan."

"Kalau isi kepala nanasmu itu memang benar-benar ingin mengajakku kencan, demi segala merk lipstick yang pernah Ino pakai, maaf, Shikamaru, aku benar-benar menolaknya." Sakura mengujar sembari memutar langkah. "Di mana kau memarkirkan mobilmu? Antarkan aku pulang."

Shikamaru masih memasang seringainya, otak jeniusnya sudah jelas merangkum sesuatu yang dihindari gadis itu. Sakura bodoh, dengan segala harga dirinya, ia masih saja menutupi perasaan itu. Astaga.

"Kau tak seperti Sakura yang kukenal." Tandas Shikamaru sambil berjalan mendahului Sakura, membimbing gadis itu untuk mencapai mobilnya. "Sakura yang kukenal tak akan menyia-nyiakan kesempatan kencan yang ditawarkan oleh seorang laki-laki, bukan?"

"Shut up, Shika!"

"Bantah saja, Sakura. Bantahlah semaumu. Tapi, ketika waktunya tiba nanti, aku yakin semua ucapan yang aku katakan ini akan memenuhi pikiranmu. Dan pada akhirnya, kau akan menyadari, semuanya adalah kebenaran. Kau dan Naruto, kalian hanya sepasang sahabat yang diam-diam mempertahankan keegoisan hanya demi harga diri yang nyatanya tak berguna itu."

Sakura tak menjawab apa-apa lagi, gadis itu hanya masuk ke dalam mobil Shikamaru dengan cepat dan mengempaskan tubuh dalam-dalam di kursinya.

Sama sekali tak berniat mengujarkan vokal bahkan sampai ketika mobil hitam itu dijalankan.

Fokus Naruto terpecah antara kemudi mobil dan sosok gadis berambut merah muda yang terus-terusan menyambangi otaknya hari ini. Jalanan malam yang telah sepi untungnya membantu Naruto yang tak fokus namun tetap tak ingin melambatkan laju mobilnya sama sekali. Traffic light ia terjang, mobil kecil di depannya terus-terusan ia salip, decitan ban mobil dan putaran stir mobil yang terlampau kasar mengindikasikan bagaimana rupa emosi pria itu saat ini.

"What the hell I've done?" gumamnya kecil. Raut wajahnya kacau, Naruto tahu itu. Ia sadar bahwa akhir-akhir ini Sakura mudah sekali menyulut emosinya. Ia tahu kesalahan bukanlah terletak pada diri sahabat hampir seusia hidupnya itu, namun ada pada dirinya. Setelah menyadari perasaannya malam itu, ia tahu, hari-hari berikutnya akan lebih sulit lagi untuk mengontrol emosi di hadapan Sakura.

Lagi, pikiran Naruto berpusat pada perbincangan akhirnya dengan Sakura tadi.

"Ada sesuatu yang harus kuurus terlebih dahulu."

Apa? Sesuatu apa? Naruto membatin. Jika ada hal yang berkaitan dengan Sakura, orang yang akan ia mintai tolong pastilah Naruto. Jika keadaan mereka masih dalam keadaan normal seperti hari-hari sebelumnya, Naruto tahu Sakura akan memintanya menunggu walau selama atau semerepotkan hal tersebut. Tapi ini? Ada sesuatu yang harus gadis itu urus dan Demi Tuhan Naruto tak tahu sama sekali hal apa itu.

Shikamaru, kah? Otaknya berpikir liar.

Ketika tadi untuk pertama kali ia melihat foto berobjekan Sakura dan Shikamaru, Naruto tahu emosinya dengan cepat tersulut. Ia tak mengertiatau mencoba tak mengerti dirinya sendirimengapa semua itu bisa terjadi? Shikamaru adalah orang yang dirasa paling netral baginya, ia tak seperti Sasuke dan Sasori yang sedikit kekanakan dan senang mengoleksi wanita. Shikamaru yang paling dewasa. Dan jika ia melihat Shikamaru berhubungan dengan seorang gadis, itu adalah hubungan serius yang tak main-main.

Bukannya Naruto tak sukabukan. Hanya saja, mengapa semua itu seperti terlihat disembunyikan? Jika memang mereka berdua memiliki sebuah relasi dari awal, ia berhak tahu. Di samping Shikamaru yang adalah rekan band-nya, Sakura sendiri adalah sahabatnya. Jika yang Sakura jadikan mainan saja Naruto tahu, masa iya ia tak mengetahui sama sekali hubungan Sakura dan Shikamaru?

Dan ucapannya pada Sakura tadi … fuck. Ia tahu ia salah. Ia menuduh Sakura begitu saja dengan mengungkit-ungkit masa lalunya dengan Sasuke dan Sasori. Tapi, Demi Tuhan, siapa yang tidak curiga ketika setelah dua personil Sunset yang Sakura pacari, kini, Shikamaru juga menjadi salah satunya? Kemelut otaknya mau tak mau menguarkan gagasan itu. Sasuke, Sasori … dan sekarang Shikamaru? Benar-benar kebetulan yang menakjubkan, begitu?

Bilang saja kau cemburu. Bilang saja kau juga mengharap menjadi salah satu dari mereka, bukan?

Naruto menggeleng cepat sembari menginjak gas semakin dalam. Mobil melesat semakin cepat, membuat dunia sekitar Naruto seakan terbang mengikuti perputarannya. Tidak, itu gagasan bodoh. Mungkin, mungkin ia memang mulai memiliki perasaan lebih pada Sakura, tetapi itu bukan berarti ia cemburu dan ingin menjadi salah satu dari pacar-pacar sahabatnya itu, kan?

Namun, semakin ia menghindari gagasannya, Naruto seolah semakin terjebak ke dalam perasaan taksanya sendiri. Pathetic. Hypocrite. Bukankah memang yang ia inginkan hanya Sakura, eh? Kau cemburu, kau ingin gadis itu, terus menerus berepetisi memenuhi otaknya. Bagai monolog tanpa henti yang menjajahi setiap sudut pikirannya sendiri. Naruto mendengus keras, membelokkan setir dengan kasar ketika gedung apartemen yang ia tinggali sudah tertangkap mata.

"Aku tidak cemburu, sialan!"

Terus saja terujar dari bibirnya. Padahal, hatinya sendiri sudah berteriak-teriak tanpa sekalipun meragu.

Dasar munafik.

Mengapa perasaannya juga ikut terdistraksi?

Itulah yang diam-diam Sakura tanyakan.

Berkali-kali menjalin hubungan tanpa perasaan dengan beberapa orang pria membuat Sakura menyadari, harusnya ia tak seperti ini. Ada yang salah. Ada yang berbeda.

Ya, ya. Jika kaumau tahu, hari ini, Sakura mendapat gagasan baru, simpulan baru. Karena ucapan Shikamaru, sebuah kenyataan seolah menyentak gadis pemilik netra emerald tersebut. Ini tentang sahabat yang sudah menemaninya hampir seusia hidup gadis ituNaruto. Ia masih ingat, bagaimana reaksi Shikamaru mengenai relasi mereka di parkiran tadi.

"Kau dan Naruto, kalian hanya sepasang sahabat yang diam-diam mempertahankan keegoisan hanya demi harga diri yang nyatanya tak berguna itu."

Ketika itu, Sakura mengelak. Tentu saja karena ia memiliki banyak alibi untuk menghindar. Dan lagi, ia belum memikirkan jauh-jauh hal itu. Ia dan Naruto adalah sahabatdi samping segala hal-hal aneh yang ia rasakan akhir-akhir ini, ia masih yakin bahwa hubungan mereka certified platonically. Tapi, kemudian, Naruto berhenti mengencani gadis-gadis. Pria itu datang seolah-olah kembali meminta konvergensi pada relasi mereka yang telah lama meretas. Ia dan Naruto kembali akrab, namun, dengan sebuah sensasi lain.

Dan lagi, tak hanya Naruto. Akhirnya, Sakura pun menyadari bahwa akhir-akhir ini dirinya pun berhenti mengencani pria secara acakah, bahkan ia benar-benar berhenti setelah mengencani Sasori. Bukankah itu aneh? Bukankah seharusnya ia menebar flirting dan semacamnya ketika di club atau di manapun? Begitupun Naruto. Wajarnya, pria itu lebih memilih berkencan pada gadis lain dibanding menemani sahabatnya ini.

Ada yang salah.

Hingga akhirnya, Sakura menyadari gagasan itu. Ketika puncaknya, luapan emosi Naruto tumpah bersamaan dengan fotonya dan Shikamaru yang tersebar semalam. Dan mungkin, mungkin ia hanya terpengaruh omongan Shikamaru atau ia terperdaya rekan proyeknya itu, Sakura tak peduli. Tapi, segala tingkah laku yang Naruto umbar semalam benar-benar menyentaknya. Menggoda perasaannya hingga ia menyetujui ketika Shikamaru membisikan sesuatu yang mungkin saja Sakura sesali;

"Kau hanya tidak ingin Naruto salah paham, bukan begitu, Sakura?"

Mungkin, ia memang munafik, sebab di dalam sudut hatinya, ia tergoda mengiyakan perkataan Shikamaru tersebut. Serta mengiyakan ucapan-ucapan lainnya yang diucapkan pria itu.

Apa ia memang terlalu meninggikan harga diri? Begitu meninggikan prestise sehingga tak mau mengakui bagaimana perasaannya sendiri pada Naruto? Astaga, tapi … ia benar-benar tak bisa berkata kalau ia juga memiliki perasaan … perasaan itu.

Atau memang memiliki?

Itulah yang ia bingungkan. Seharusnya ia dengan mudah mendapatkan jawabannya. Sejak dulu, tak sekali pun ia meragukan segala relasi persahabatannya dengan Naruto. Tapi, ia benar-benar tak memprediksi tentang distraksi yang muncul di tengah-tengah perasaannya. Ia juga merasakan keanehan itu, apa artinya ia juga munafik?

Sakura menghela napas gusar. Oh, ayolah, ia harus menetralkan perasaan ini. Karena minggu depan ia akan pergi bersama Naruto. Berdua saja.

Bukankah itu bagus? Di sana kalian dapat membuktikan bagaimana sebenarnya perasaan kalian, kan?

Dan Sakura mengerang keras-keras.

Naruto melebarkan netra ketika masuk ke dalam apartemen dan menemukan seluruh lampunya sudah menyala. Belum lagi suara televisi di ruang tengah yang menggelegar. Tapi, tawa khas yang terdengar setelahnya membuat Naruto tak lagi merasa ragu dan segera melesat lebih ke dalam sembari menyebut kata ajaib itu.

"Ibu?"

Dan benar saja, Kushina telah berada di sana. Duduk di ruang tengah dengan pandangan lurus ke arah televisi. Naruto menggaruk leher, kenapa Ibunya selalu datang tiba-tiba seperti ini, sih? Memangnya ia anak ingusan yang masih harus ditengok Ibunya tiap kali tanpa harus dimintai izin? Demi Tuhan, ia sudah dewasa!

"Kukira ada hantu penghuni kamar ini yang sedang asyik dengan televisiku." Naruto melangkah pelan sembari memeluk Kushina dari samping. "Tadaimaaaa."

Kushina menoleh sembari cemberut, "enak saja! Kaukira Ibumu ini mirip hantu?" kesalnya sebelum akhirnya mengulum senyum dan mengacak-acak helai pirang Naruto. "Okaeri, ne, Naruto. Dari mana saja pulang selarut ini? Berkencan dengan Sakura-chan?"

Naruto melepaskan pelukannya dan bergeser pelan untuk mengempaskan diri di sebelah Ibunya. Kini giliran bibir pria itu yang mengerut. Segala kemelut tentang Sakura lagi-lagi menyambanginya.

"Hei, hei, ada apa?"

Menyadari siapa yang berada di sebelahnya, Naruto menggeleng pelan dan tersenyum simpul. "Tidak apa-apa. Aku baru tampil bersama Sunset, Bu. Jadi pulang larut."

Wanita yang masih cantik di usianya yang sudah tak muda itu mengangguk-angguk, tangannya terulur untuk mengambil remot televisi dan mengecilkan suaranya. "Jadi kau masih aktif dengan band-mu itu?"

"Tentu saja. Penggemarku sudah banyak, tahu. Sayang kalau ditinggalkan."

Kushina mengacak rambut Naruto penuh afeksi. "Dasar pria!"

Sedangkan Naruto hanya terkekeh. Diam-diam ia mengakui, walau ia sudah dewasa, ia masih merasa setiap verbal penuh afeksi yang dilakukan Kushina padanya selalu membuatnya rindu. Dan tak munafik, Naruto selalu menikmati saat-saat seperti ini. Mungkin karena ia adalah anak tunggal.

"Ibu ke sini dengan siapa? Tidak dengan Ayah?"

Kushina menggeleng. "Aku menyetir sendiri. Ayahmu sibuk dengan pekerjaannya."

"Lalu, Ibu sedang kurang kerjaan makanya berkunjung ke sini?"

"Naruto!"

Yang diserukan lagi-lagi terkekeh sembari meminta maaf main-main.

"Hm, sebenarnya aku ke sini membawa titipan dari Mebuki. Aku sudah mengatakan padanya bahwa beberapa hari lagi kau dan Sakura-chan akan berlibur ke luar Tokyo." Kushina menyengir kecil, matanya menyipit. "Tapi sepertinya saat aku sampai tadi Sakura-chan juga belum pulang. Jadi, dia tidak pergi denganmu?"

Naruto tak segera menjawab, ia memalingkan wajah untuk menatap televisitak benar-benar ingin menatap. "Tadinya, ya. Aku mengajaknya datang bersama. Tapi kami berpisah saat pulang."

"Kau ini! Sakura-chan perempuan, tahu. Apa yang kaupikirkan sampai meninggalkannya malam-malam begini?" Kushina mengguncang tubuh Naruto, sekaligus menghujaninya dengan cubitan-cubitan kecil sampai-sampai membuat pria itu meringis pelan. Oh, benar-benar! Sebenarnya siapa yang anaknya di sini, sih? Sakura atau Naruto?

"Ya ampun, Ibu, Sakura-chan sudah dewasa." Naruto merengek, tanpa sama sekali berpikir jika ada kolega atau penggemarnya yang melihat, mungkin mereka semua akan tercengang dengan sifatnya tersebut. "Lagian dia pulang dengan temanku."

Kushina menghentikan kegiatan mencubiti Naruto. "He? Tinggal di apartemen ini juga?"

"Tidak." Jawab Naruto singkat, mulai tak menyukai topik yang dibicarakan. Ia akhirnya menghindar dan mengambil remot televisi untuk mengganti-ganti channel-nya secara acak.

Kushina terdiam sebentar, kemudian sudut bibirnya terangkat kecil ketika melihat perubahan emosi implisit yang menghiasi wajah Naruto. Hampir tak terlihat, memang. Tetapi, mungkin karena Naruto adalah anaknya, Kushina seperti dapat melihat perubahan kecilnya seperti itu.

"Ooooh. Teman kencannya?" Pancing wanita itu.

Terdengar decakan Naruto ketika ia menjawabnya dengan mengangkat bahu. "Mungkin."

Dan Kushina hanya dapat terkikik pelan, membuat Naruto menoleh dan menatap protes wanita kesayangannya tersebut. "Ibu!"

"Kau itu seperti pria yang sedang cemburu, sadar tidak?" Kushina akhirnya menghentikan kikikan itu dan menyubtitusinya dengan satu senyuman. "Ibu harus bilang berapa kali? Sakura-chan akan sangat mudah lepas kalau tak kau genggam erat-erat, Naruto."

Napas Naruto seperti berhenti untuk beberapa saat.

Ucapan itu … seperti menendang kepala kuningnya keras-keras.

Namun, seperti kejadian yang sudah-sudah, Naruto hanya menggeleng kencang. Melemparkan satu desahan protes dan memasang wajah mengerut. "Berhentilah mengharapkan Sakura-chan untuk kaujadikan menantu, Bu. Aku tahu itu, kan, tujuan Ibu selalu memanas-manasiku?"

Kushina balas memandang dengan wajah cemberut. "Hei, dasar anak bodoh! Lagipula, jadi menantu atau tidak, Sakura-chan akan tetap kuanggap sebagai anak." Wanita berambut merah itu mengangkat tangannya, mengelus helaian pirang Naruto dengan lembut. "Ibu tak akan memaksamu dalam hal pendamping hidup dan segala tetek bengeknya. Yang Ibu tahu, pilihanmu nantinya adalah pilihan terbaik untukku dan Ayahmu juga."

Naruto hanya membalasnya dengan senyum kecil sembari menghindari Kushina yang semakin melankolis tersebut. Kalau sudah begini, Ibunya tak pernah mengingat umurnya yang sudah di ambang batas untuk dimanja-manja seperti itu.

Tapi, diam-diam, perasaannya terbang entah ke mana.

"Lusa itu cepat sekali, lho." Kushina menandas sembari mengecek roti di pemanggangannya. Hari masih sangat pagi ketika wanita cantik itu mengetuk pintu Sakura dan berkata akan membuatkan sarapan untuk gadis itu. "Dan kau belum melakukan persiapan apa-apa, Sakura-chan?"

Sakura tersenyum kecil di sebelah Kushina. "Bibi seharusnya tahu aku memiliki keahlian khusus dalam hal sistem kebut semalam."

"Dasar kau ini." Kushina tertawa. "Omong-omong, sedang musim apa di sana?"

Sakura ikut memerhatikan tangan Kushina yang kini sudah mengangkat roti berwarna kecokelatan itu dan menempatkannya ke dalam piring. "Naruto bilang musim panas. Mungkin aku akan meminta keberangkatannya ditunda kalau sedang musim dingin." Gadis itu tertawa.

"Ya, kurasa musim panas adalah pilihan sempurna untuk liburan." Kushina mengangguk-angguk kecil, kemudian tersenyum. "Nah, sudah jadi. Ayo, sana, panggil Naruto."

Gadis berambut merah muda itu terlihat agak sungkan ketika akhirnya memutuskan untuk melangkah dan pergi ke kamar apartemen Naruto. Kushina bilang Naruto belum bangun. Ah, tentu saja. Sejak kapan Naruto akan bangun pagi-pagi di hari liburnya seperti ini?

Ketika Sakura memasuki kamar Naruto, yang terlihat olehnya adalah tubuh pria itu yang berbaring terlentang di atas ranjang. Seperti biasa, topless. Tapi, entah mengapa, reaksi yang ditimbulkan Sakura tak seperti biasanya. Perutnya mendadak tergelitik geli, dadanya bergetar hebat, dan tenggorokannya tercekat. Ia menggigit bibir keras-keras, menghalau segala sesuatunya yang ingin meledak. Sialan, beberapa minggu tak melihat Naruto telanjang membuat perasaan gadis itu terdiferensiasi.

Akhirnya, Sakura meneguk ludah, tangannya terulur untuk menyentuh bahu Naruto dan mengguncangkannya. Bibirnya bergerak perlahan. "Bangun, Naruto-baka."

Pria di atas ranjang itu hanya sedikit terusik dan menggumam tidak jelas sebelum akhirnya kembali pulas.

Oh, baiklah. As always, Namikaze Naruto harus dibangunkan dengan nada yang tidak biasa-biasa saja.

"Baiklah, Naruto." Sakura menggeram, tetap tak membuat pria itu bangun. "Kuharap kau punya persediaan air panas!"

Sakura baru saja memutar langkah untuk mengambil persediaan airerr, air panasuntuk membangunkan Naruto. Namun langkahnya terdistraksi ketika sesuatu terulur melingkari perutnya dan menarinya begitu saja. Membuatnya terjerembab ke ranjang Naruto dengan posisi telungkup di atas tubuh pria itu.

Ya! DI ATAS TUBUH PRIA ITU.

"Narutoooo, lepas, baka!" Sakura mengguncang-guncangkan kaki dan memukul-mukul bahu Naruto kencang ketika pria itu malah semakin menarik kepalanya dan menenggelamkannya ke dada bidangnya. Astaga, Naruto belum mandi. Pasti ia bau!

…ya, seharusnya ia bau. Tetapi, sekarang, yang terhirup di indera penciuman Sakura adalah aroma citrus segar yang seperti biasa menguar dari tubuh pria itu.

"Diamlah, Sakura-chan. Seharusnya kau menyadari betapa bahayanya posisimu ini kalau kau tidak menuruti perintahku." Suara Naruto terdengar parau di telinganya. Sakura memejamkan mata erat-erat, tentu saja tak menuruti perintah Naruto. Tubuhnya semakin kencang meronta dan tangannya semakin sadis memukul-mukul tubuh pria itu.

Naruto menggeram, "errr, I've warn you, my sugar." Dan dengan iseng menekan pinggulnya ke pangkal paha Sakura, membuat gadis itu dengan sontak melebarkan mata dan tanpa sadar berteriak sekencang-kencangnya.

"AAAAAAA NARUTOOOOO!"

.

.

To be Continued

.

.

a/n: and I've warn you: Naruto cuma iseng, jangan berpikir macam-macam :3

sooo it's been a long time :'D yaampun, kayaknya ini waktu terlama saya mengapdet fic ini :'D and I just wanna to say terima kasih banyak buat semua yang masih mau mengikuti sampai sini. Terima kasih untuk semua review dan pm yang masuk (saya nggak nyangka, bahkan sampai semalam masih ada yang mereview fic ini TvT). Dan, maaaaaf sekali kalau ternyata chapter ini tidak memenuhi ekspektasi kalian.

Much thanks to HyperBlack Hole, bosen jadi silentreader, Esya 27 BC, Guest, ohssarang, Miura Kumiko, NamikazeARES, Kimaru-Z, Kei Deiken, SR not AUTHOR, Vii Violetta Anais, Aiichi No Kannazuki, lutfisyahrizal, kiutemy, sun yoshino1, Cherryma, volturys, Anonymous, zizi, Riela Nacan, ichachan21, Rosachi-hime, dee, yassir2347, zeee, Stanlic, PinKrystal, niesha sha, alam namikaze, aqna, akbar, Komuro Daichi, Guest, Usf Namikaze, sakura sweetpea, Guest dan aqnaalmahfud03. You're always made my day, really :")

Dan terima kasih juga untuk kritik-nya: naruto lover (saya gak sok inggris kok, dan maaf kalau mengganggu, tapi menurut saya itu gak akan mengurangi esensi cerita kalau pun ada yang gak ngerti artinya :)) dan someone (terima kasih caution-nya. Saya sama sekali gak bermaksud membuat bad chara di sini. Saya hanya membuat karakterisasi mereka sesuai jalan cerita yang dibutuhkan. Dan mudah-mudahan saya tahu batasannya :)).

Hoho jujur aja kalau ada yang terganggu dengan ceritanya, ya. Supaya saya juga bisa menginterospeksi tulisan yang saya tulis :'D

Hmmm kalau nggak ada perubahan, chapter depan sudah mulai muncul scene di London. Doakan biar si author nggak ngaret panjang lagi, yaaaa :3

terima kasih dan mind to RnR again?

LastMelodya