Chapter 9 : Creepy Destiny

Ohayou/Konnichiwa/Konbanwa, Minna-san! Ohisashiburi ne~~
O genki desu ka, Minna?

HALO! AUTHOR BEJAD BALIK LAGI! #PLAK
Nanti, di sini, alur akan naik turun seperti lembah dan bukit, saya mencoba mengangkat dan merileks kan emosi para reader biar kesel sendiri XD

Saa eins zwei drei! Lets rock!

A Fantasy Fict from me

~Dreamy Cherry Blossom~

Main pair : Kagamine Rin & Kagamine Len, maybe a little bit of slight pair and crack pair content

Disclaimer : Vocaloid © Yamaha, and other companies
Story © Me
UTAUloid © Owner creator
Cover : OrangeCornPuff from DeviantArt

Summary :

'Apa sebenarnya aku ini? Apa aku bukan bagian dari dunia ini? Apakah ada dunia lain yang tersembunyi?' 'Kau hanyalah mimpi, kau hanya makhluk ciptaan yang tidak nyata, kau hanya hidup di dunia sebagai bayangan. Tidak lebih setelah inangmu menghapus mu dengan yang baru.'

Warning : OOC (maybe), typo(s), gaje karena fict pertama, pendeskripsian kurang, kesalahan eja EYD dan teman-temannya.

'Abc'/"Abc" : flashback, kata asing, atau percakapan secara tidak langsung (telepon, email, sms, dll)
"Abc"/'Abc' : percakapan normal
"Abc" : Kata atau kalimat yang diberi penekanan, kata atau kalimat penting.

Jika kalian merasa aneh saat membaca chapter yang ini, jangan salahkan saya (Karena saya juga agak gimana gitu) XD

Balas membalas review seperti biasa di bawah ya...

HAPPY READING MINNA!

Chapter 9 : Creepy Destiny


"Rin.."

"Lepaskan aku!"

"Rin dengarkan aku!"

"Len lepaskan aku!"

"Rin!

"Diam kau pembunuh!"

Aku terbelalak, Rin... Dia... Aku... Benar, aku monster...

Air mataku jatuh perlahan, ku tempelkan kening dan hidungku dengan kening dan hidung milik Rin, membuat air mata kami menyatu, Rin dengan mata tajam membuatku makin sakit tiap menatapnya.

"Rin, tolong, tolong sekali ini saja, dengarkan aku. Aku ingin kau dengarkan dulu, tinggal keputusanmu mau berbuat apa padaku."

Wajah Rin yang semula tegang kini mulai tenang, air mukanya berubah datar, tatapan tajam darinya tetap tertuju padaku.

"Rin aku-"

"-bukan manusia..."

Rin terkejut hebat, namun tersamarkan dengan tatapan membunuhnya.

"Apa maksudmu, pembunuh?"

Sekali lagi, bau anyir darah tercium tiap Rin berkata pembunuh, benar aku sudah membunuh banyak youkai hanya untuk kabur, benar memang aku ini pembunuh. Aku tidak apa jika dikatai orang lain sebagai pembunuh, namun begitu sakit rasanya jika dikatai pembunuh oleh Rin.

"Kau tidak akan mengerti dengan kata-kata kan Rin? Aku akan menunjukan bukti nyata."

'Rei, keluarkan benda itu'

'Kau gila Len?! Kau tidak akan bisa mengendalikan rasa sakitnya, belum saatnya Len! Jika kau pingsan habis sudah hidupmu!'

'REI! KELUARKAN!'

'Ugh! Baiklah...'

CRASH!

Punggung telapak tangan kiriku seperti ditebas, banyak darah bermuncratan dan tidak sedikti juga yg mengenai kaki Rin, Rin sudah bertampang jijik, matanya membesar, pupilnya mengecil. Aku tidak memikirkan rasa sakit ini, tak peduli apapun, Rin harus tetap tahu yang sebenarnya.

"Kau kenapa pembunuh?!" Rin meneriakiku dengan lantang.

"Kau gila!" Lanjutnya.

Aku hanya bisa menatap kosong diri Rin, baru setelah itu aku merasa lubang yg tadi terbuka di punggung telapak tangan kiriku seperti terisi sesuatu, bulat, dan berputar-putar.

"Ini yang kumaksud Rin." Ucapku sambil menunjukan 'benda' yg dilihat Rin sedari tadi.

"Aku youkai, aku dari dimensi lain, aku bukan manusia asli."

"Kau gila! Mana ada yg seperti itu?!"

"Akan kutunjukan saat ayah mu mati.." Ucapku.

Dengan sekali hentakan tangan, seluruh kamar berubah, kami kini berada di masa lalu, saat ayah Rin sudah menjadi monster dan menyuruhku membunuhnya.

"Ap-apa barusan?!"

"Lihat itu Rin."

"A... Ayah?"

Benar, walau wajah Rinto-san masih utuh, sebagian tubuhnya sudah menjadi monster.

"Dia ayah kan? Len dia ayah kan?"

Rin.. Ia memanggilku dengan nama 'Len' lagi.

"Iya Rin... Dia ayahmu."

"Tapi kenapa Len? Kenapa kau berbuat seperti itu kepada ayahku?"

Apa?! Dia mengira aku yang melakukannya?! Bukan Rin! Kiyoteru yang melakukan itu! Bukan aku!

"Rin, kau harus mengikutiku mulai dari awal yg kutahu, kau harus mengerti.."


"Jadi begitu ya, Len?" Rin bertanya riang setelah selesai ku perlihatkan ingatan yang kudapat belum lama ini, namun ada yang aneh dengan nada bertanya nya.

"Kau bisa mengerti Rin? Jadi apa keputusanmu?" Aku bertanya dengan keringat dingin, ayo Rin... Apa keputusanmu...

"Aku..."

"Iya?"

"Akan membunuhmu." Ia berkata sambil tersenyum.

"A-apa?!"

"Uso! Hahahaha, hanya bercanda kok!" Ia tertawa riang. Apa? Bercanda?

"Sudah ayo tidur." Lanjut Rin..

.

.

Malamnya aku tak bisa tidur, apa yang Rin katakan tadi? Aku masih tidak mengerti. Ia bencikah padaku?

'Sudah lah Len, tak usah dipikirkan.'

'Tapi Rei, ini bukan masalah yang patut diabaikan.'

'Pikirkan besok pagi saja! Sudah tidur sana, aku malas mengawasimu selama kau masih terjaga, aku malas mendengar curhatanmu! Aku juga butuh isitirahat!'

"Ayah.."

'Ssshh! Rin berbicara sesuatu, kau istirahat saja sana Rei!'

'Huft! Terserah kau lah!'

Akhirnya Rei bisa diam, tapi tadi Rin mengigau apa ya? Aku mencoba bangun dari futon yang kugelar di lantai, berdiri lalu menoleh ke ranjang. Rin tidur meringkuk di sana.

"Rin..."

"Ayah... Hiks, hiks.." Rin menangis? Apa ia sadar? Atau menangis tanpa sadar? Tanganku mencoba untuk mengusap keningnya, paling tidak hanya ini yang bisa ku lakukan sekarang, ia pasti stress berat.

"Rin, tenanglah aku akan-"

"Aku ingin mati saja, menjemput ayah... Hiks."

Aku hentikan telapak tangan yang terulur menuju kening Rin, hatiku serasa di hantam oleh bola baja hingga hancur berkeping-keping. Kepalaku sakit, seluruh tubuhku serasa berhenti berfungsi.

Aku terhentak kebelakang, terpeleset futon yang kupasang dan terjatuh di lantai. Ingin rasanya aku berteriak, namun suara ini tercekat hebat. Apa ini Rin? Apa aku begitu bersalah di matamu?! Rin, kau kenapa?! Kenapa, kenapa hal seperti ini harus terjadi padaku?!

Aku akhirnya sadar, Rin menganggapku bersalah sejak awal, ia tak percaya sama sekali dengan yang aku ceritakan. Masa saat aku menusuk ayahnya, hanya itu yang ia percaya. Dengan kata lain, dari awal aku mengaku, ia sudah mengecapku sebagai pembunuh ayahnya.

Aku lelah...

.

.

"Len... Hihihi"

"Len ayo bangun ini Rin-"

Aku terbangun saat mendengar suara Rin, ada yang aneh dengan nada nya bicara. Saat ku angkat kelopak mataku dan memicingkan mata, aku melihat suatu yang berkilau. Tunggu, apa itu... pisau?

"-mimpi burukmu, hahahaha!"

JLEB!


"Hah, hah, hah!"

"Len-kun! Jangan lari~~"

"Ini gila! Rin, kau sudah gila!"

"Chotto matte Len, biarkan aku menusuk mu sekaliii~~ sajaaa~~"

INI SEMUA GILA! AKU TIDAK PERCAYA HAL YANG KUALAMI PAGI INI!

.

.

JLEB!

Sebuah pisau menancap di lemari kayu di sampingku, Rin? Apa ia masih waras?

"Apa yang kau lakukan Rin?!"

"Jika aku tidak bisa bunuh diri sendiri-"

"-maka kita yang harus mati bersama! Hahahaha!"

"RIN! SADAR! KAU SUDAH GILA!"

Aku dorong Rin dan berlari sekuat tenaga keluar kamar, melihat suasana yang sepi, pasti ada yang aneh!

"Tenang Len, Gakupo tidak pulang, Yuki masih tidur. Aku memberi obat tidur di dalam susu yang kuberikan pagi ini. Jadi tidak ada yang menganggu kita, sayang~~"

"APA MAKSUD SEMUA INI RIN!"

"Aku tidak bisa bunuh diri Len, aku tidak sanggup jika hanya sendiri. Jadi aku memutuskan untuk membunuhmu, orang yang aku cintai, lalu aku akan bunuh diri. Dengan begitu kita bisa mati berdua dengan damai, sayang~~" Ucap Rin dengan senyum manis, walau itu terlihat seperti senyum iblis.

.

.

Rin sudah kehilangan akal! Ia berkata membunuh dengan mudahnya, ia serius!

"Len -kun jangan tinggalkan kekasih mu ini dong~"

"TIDAK RIN! SADAR!"

Rin berlari membawa pisau dan kapak, senyumnya mengerikan, ia seperti... Psikopat.

Aku membawanya ke bekas distrik industri yang lama tanpa sadar, pabrik-pabrik di sini sudah lama berhenti beroperasi. Namun ini juga bumerang bagiku, walau di sini banyak tempat bersembunyi, di sini juga banyak peralatan berat ataupun senjata tajam yang bergeletakan. Bodohnya aku!

Aku mencoba bersembunyi di salah satu tiang dekat tangga di lantai 2, namun tidak ada tanda atau bunyi gerakan sama sekali. Apa Rin menyerah?

Saat aku menoleh sedikit dari balik tiang, sesuatu menancap di tiang itu.

JLEB!

"Ara ara, aku meleset ya? Tunggu di situ Len-kun kali ini aku tidak akan meleset kok!"

I-ini, anak panah? Dia menggunakan crossbow? Dapat dari mana dia? Ternyata benar, tempat ini juga bumerang bagi ku!

Aku berlari berputar-putar di lorong yang banyak, mencoba mencari benda yang dapat melindungi ku. Yang ku dapatkan hanya sekantung sodium?! Jangan bercanda! Bagaimana aku bisa mencegahnya mendekatiku dengan sodium?! Berpikir Len, pikir!

"Len -kun jangan kabur terus dong! Bosan nih main kejar-kejaran, tenang saja kita akan bersama kok, walau ke akhirat sekalipun... Hihihi." Rin berjalan santai ke arahku, ketika ia berjalan pasti ada percikan air, tunggu... Air! Itu dia!

Aku harus mencari jalur yang berbelok paling tidak 60 derajat dan paling banyak genangan airnya! Aku tinggal menunggu di belokan dan menarik perhatiannya ke arahku. Saat tepat ia berada dalam jarak yang sudah ditentukan dari genangan air, aku akan melempar sodium ke arah genangan air!

Reaksi kimia dari sodium dan air akan terjadi dan boom! Akan terjadi sebuah ledakan bagus! Pada saat itu perhatian Rin akan terpecah karena asap ledakan dan aku bisa mengambil semua senjata yang dipegangnya! Yosh, ini jenius!

"Rin, kau bisa melihatku utuh sekarang."

"Ah, Len-kun akhirnya kau keluar! Yokatta, ini akan menjadi lebih mudah ya kan? Len-kun?"

Rin mulai menembakan lagi anak panahnya ke arahku, susah payah aku menghindarinya sambil berlari, mencari belokan yang ku maksud. Yosh! Ketemu! Dan Rin masih berjalan santai, ia belum mengetahui rencanaku! Segera aku berlari kencang ke ujung dan bersembunyi di belokan tersebut. Untung pipa air sudah bocor semua di sini, sehingga sepanjang perjalanan genangan air akan selalu ada.

"Len-kun, kamu di mana? Aku takut sendirian.." Cetusnya dengan nada yang terdengar imut, namun bagiku itu menyeramkan

GREEK! PRAK! KLONTANG, KLONTANG! SREEET!

Bunyi aneh apa itu? Tidak, tidak aku harus mendengar langkah kakinya agar aku bisa melempar sodium pada waktu yang tepat.

SREET! Tap, tap...

10 meter

.

Tap, tap

.

8 meter

.

Tap, GREEEK!

.

Bunyinya semakin aneh.. Biarkanlah! Tinggal 5 meter lagi, aku bisa mendengar langkahnya makin jelas.

.

Tap, SREET! GREK!

.

Yap! 3 meter! Ini saatnya!

"Maafkan aku Rin."

SPLASH! BOOOM!

Ledakan yang lumayan besar terjadi, aku salah memperkirakan jumlah sodiumnya! Gawat!

"Rin! Rin! Apa kau baik-"

Oh tidak... Ini buruk...

"Ara, Len-kun, tak tik yang bagus! Kau memang keren! Tapi maaf ya, yang seperti itu sudah terbaca olehku, kau kira aku tidak sadar apa sedari tadi yang kau pegang? Hehehe. Cuma aku tidak mengira, jika itu akan meledak loh~~"

Tidak mungkin! Ia mempersiapkan lempengan besi untuk menutupi tubuhnya dari dampak ledakan?! Mustahil! Jadi suara aneh tadi...

"Benar Len-kun, aku barusan menarik lempeng ini dari dinding. Maaf ya..." Ia berkata sambil tersenyum, senyumnya mengerikan! Rin sudah gila!

JLEB!

"ARGH!"

"Aduh... Aku salah bidik lagi, kali ini akan kena kepalamu, tenang saja ya!" Rin berkata sambil tersenyum manis, tidak dia bukan Rin... Rin yang aku kenal... Tidak seperti ini...

"Tenang ya Len, ini akan menyenangkan kok!"

"GYAAA!"

JLEB! JLEB! JLEB!


"Ah aku meleset terus, amunisi ku habis... Wah! Len-kun memang hebat bisa bertahan! Ini membuatku makin cintaaa~~ padamuuu~~"

"Kau... Uhuk! Sengaja tidak langsung membunuhku kan... Rin? Uhuk! Kau membuatku ingin menderita dulu kan? Uhuk!" Aku tidak bisa menahan tenggorokanku yang tercekat darah, darah itu keluar tiap kali aku batuk.

"Apa yang kau maksud Len? Mana tega aku melakukan itu untuk orang yang ku cintai.. Astaga Len... Apa kau tidak mempercayaiku kalau aku akan membunuhmu tanpa rasa sakit yang lama?" Rin, kau mempermainkanku.

2 panah di pundak kiri, 1 di paha kiri, 1 di pinggang bagian kanan, dan 1 lagi lengan kanan. Apa itu rasa sakit yang cepat?! Ini menyiksa!

'Len! Len! Kau tidak bisa begini terus! Kau harus membela diri!'

'Jadi Rei, aku harus membunuh Rin begitu?'

'Bukan, itu...'

'Walau aku mati pun aku tidak akan melukai Rin barang sedikit pun, Rei!'

Pasti ada cara lain! Pasti ada! Rin berjalan mendekatiku sambil terus tersenyum memegang pisau, apa ini akhir?

CRASH!

"ARGH! TANGANKU!" Gila! Ia menebas tangan kananku, ini serasa mau putus!

"Len-kun teriakan mu begitu menggoda~~ Hmm, sepertinya kau ingin 'salam perpisahan' ya?" Ia menjilati pisau yang berlumur darahku, tunggu Rin, jangan bilang-

Cup! Hmmph! Hmmph!

Rin menciumku?! Dia, dia... Dia bahkan bermain dengan lidahnya, meminta jalan masuk. Aku terkejut, jangankan menggerakan mulut, berkedip saja aku tidak berani!

Rin terus menjilat-jilati bibirku, namun aku tahan, aku tidak akan jatuh dalam hal seperti ini!

"Aduh Len-kun kok kaku banget sih? Waktu itu kau pernah menciumku, bahkan lebih bergairah dari yang ini..."

Rin tidak kehabisan akal, ia menekan salah satu anak panah yang menancap di tubuhku, membuat darah merembes lebih banyak. Aku berteriak, saat itulah ia memasukan lidahnya kedalam mulutku.

"Hmmpf! Hmmpf! Enng!"

Erangan demi erangan tercipta dari bibir Rin, apa maksudnya ini? Ia mau membunuhku atau bagaimana sih?

Rin melepas ciumannya, membuat seutas benang saliva yang tersambung dari lidah kami berdua. Belum selesai, Rin menekan lukaku yang terkena anak panah dan mengusap-usap darah yang keluar dari sana dengan telapak tangannya, ia menjilati darah tersebut lalu menciumku lagi. Rasa amis bercampur besi tertangkap indra pengecapku, aku hanya bisa menahan mual dan sakit yang kurasakan.

"Hah... Darah orang yang kita cintai itu lezat, iya kan Len-kun?"

Aku tidak menjawab, terlalu syok. Bahkan menggerakan mulut saja tidak berani.

Rin menggores pergelangan tangannya sendiri, ia menjilat darah yang keluar lalu menciumku kembali, lagi rasa amis itu kurasakan, mengedip saja sulit! Ini serasa seperti terpengaruh Aprodhisiac.

Mual yang sedari tadi ku tahan, akhirnya ku muntahkan. Saat muntah, denyut sakit makin menjadi-jadi dari lukaku. Pandanganku mulai kabur, aku kehilangan banyak darah. Jadi apa begini akhir hidupku?

"Len-kun, apa kau sudah puas? Dicium seperti itu oleh wanita sangat jarang loh.." Rin tetap menjilati pergelangan tangannya sendiri yang ia gores...

Aku mulai tidak bisa melihat Rin, mataku terlalu berat untuk di buka...

"Saatnya event utama!"

Dan pendengaranku juga mulai menghilang, aku... Akan mati...


"Ne, Len.."

"Len, hiks, hiks"

"Len, ayo kita kesana!"

"Len aku dapat teman baru!"

"Ayo makan siang bersama, Len!"

"Okaeri, Len..."

.

.

Tidak! Aku tidak boleh mati! Aku tidak sudi jika seperti ini! Rin, aku akan menyelmatkan Rin yang asli! Rin yang aku kenal dan... Aku cintai!

"KYAA! Len-kun?"

Aku mendorong Rin dari atas tubuhku, aku mencoba bangun, mengabaikan rasa sakit di tubuhku. Aku tidak memperdulikan teriakan Rei di dalam diriku, hanya satu yang bisa membuat Rin sadar, walau ini berarti akhir dari hidupku...

"Rin..."

Aku mengambil paksa pisau di tangan Rin, mengarahkannya ke perutku.

"Rin... Maaf, hiks, hiks. Maafkan aku karena menyembunyikan kenyataan, tapi dari itu semua, aku akan tetap... Mencintaimu..."

Rin terbelalak, seolah aku merasa ia kembali normal. Ia menangis juga melihat keadaanku, dan saat itu aku serasa mendengar teriakannya dan melihat ia berlari ke arahku...

"LEN! JANGAN!"

Aku hanya bisa menutup mata,dan mengayunkan pisau ini...

JLEB! CRASH!


Chapter 9 compeleted!

Sumpah alur di sini lambat banget, apa kerasa suasana konflik di atas? Jangan menganggap saya mengajarkan yang aneh-aneh ya ^^(Ingat : Jangan mencoba ini di rumah denga keluarga/pacar kalian masing-masing XD #PLAK)

Consentes Dei : Juno, Jupiter, Minerva, Apollo, Mars, Ceres, Mercurius, Diana, Bacchus, Vulcanus, Pluto, Vesta, Venus (Reader : Woy! Kok malah nulis kagak jelas begitu sih, dasar gaje!)

Wahahahaha! Di atas adalah inspirasi saya dalam mengerjakan chapter ini! XD
Mereka 13 Olympian Gods ! XD, di atas itu lagu loh, lagu dari suatu anime yang membuat saya ingin membuat chapter ini seperti ini ekekeke #PLAK #GAJE

Yosh! Saatnya balas review!

-To reviewer named CoreFiraga :

Iya dia tega! Kau harus mati Len! (Len : *diam *ga bisa jawab)
Loh Len kenapa? Beneran dibunuh ya di atas? (Luka : TIDAK! LEN KU TERCINTA! *deathglare Gakupo)
Ini updatenya! Makasih reviewnya!

-To reviewer named liveless-snow

Wah, snow ada lagi! Memang fict ini kalau dibaca satu-satu keliatannya acak ga jelas (karena saya gak ngasih view dari chapter sebelumnya, lngsng lanjut aja XD)

Iya, Len nanti akan punya sesuatu!

Memang kasian Haku T_T

Rin punya darahyoukai, tapi saya gak mau ngasih tahu kekuatan Rinto yang turun ke Rin, istilahnya Rin masih 'liar' (Lenka : KYAA! Aku suka Rin yang liar!, Rin : To-tolong!) #PLAK #BUKAN LIAR BEGITU!

Ini updatenya! Makasih reviewnya!

-To reviewer named Shiroi Karen :

Sepertinya kesalah pahamannya tambah parah ^^"

Pervert? Itu dibolehkan, karena... PLOT EVERYWHERE! #PLAK

Ini updatenya! Makasih reviewnya!

-To reviewer named Alfianonymous22 :

Mungkin ada cuma gak keliatan karena asik baca ^^"

Kebiasaan aneh itu wajar, karena tidak ada laki-laki yang tidak mesum ^^" #PLAK

Ini updatenya! Makasih reviewnya!

Kelanjutannya gantung banget ya ^^, biar pada penasaran, hahahah XD

Maafkan saya kalau ada cara membalas yang kurang berkenan di hati para reviewer.. saya mohon maaf.
Dan akhir kata, pembaca yang baik selalu meninggalkan pesan dan kesan ^^ jangan terlalu pedas ya! Karena review kalian adalah penyemangatku untuk menulis! Jaa~~ Matta ne~~ !

Best regards,
Aprian