Langsung aja!!

Chapter 9:

Is It Time To Go Back??

By:Vanilla Amano

"Siapa itu!!?" seru Luke dan Hiruma bersamaan. Dimata mereka, terlihat seorang cowo yang mirip banget sama Luke. Entah mata Hiruma yang salah atau gimana… tapi gaya dandanan mereka beda sih… Luke lebih sexy…

"Asch!?" kata Luke kepada si pemanggil yang ternyata bernama Asch. "Kamu ngapain disitu!!?" tanyanya, soalnya si Asch lagi duduk diatas patung yang tinggi banget. Entah gimana caranya dia bisa nyampe kesana...

"Kembaran lo?" tanya Hiruma.

"Eh, bisa dibilang gue yang kembaran dia..." Luke menggelengkan kepalanya. "Asch, ngapain kamu disitu!?" dia kembali berteriak pada Asch.

"Seharusnya aku yang nanya kamu! Kamu juga kena jebakan!?" Asch balas berteriak.

"Yo'i," angguk Luke mantap.

"Kayanya lo bangga banget kena jebakan…" Hiruma geleng-geleng kepala prihatin.

"Huh, dasar. Kayanya emang keturunan keluarga Fabre itu bego semua ya…" ejek Asch kurang ajar. Berarti dia juga dong?

"Hei, jangan seenaknya! Buktinya si jabrik ini bukan keluarga Fabre tapi kena jebakan juga kan!?" protes Luke ga terima. "Daripada itu kamu ngapain disitu?? Aku daritadi nanya ga dijawab-jawab!"

"Astaga… kamu nih beneran bego ya…" Asch geleng-geleng. "Ga heran kenapa yang replica kamu, bukan aku..."

"Excuse me!!?"

"Udah jelas-jelas kalo orang ada ditempat tinggi begini pasti lagi ngehindarin sesuatu yang ada dibawah! Pake nanya lagi!!" Asch marah-marah gara-gara replicanya dia bego banget.

"Emang kamu ngehindarin apaan sih?" tanya Luke penasaran.

"Aku menghindari apa yang lagi kalian injek-injek, idiot," Asch mengernyit kesal. "Masih ga ngerti juga tuh replica?? Gue bunuh juga nih!" pikirnya kesal.

Luke masih bingung. Hiruma yang udah rada ngerti langsung tolak pinggang. Tiba-tiba sesuatu yang dia injek bergerak. "Koq gue ada firasat buruk ya?" kata Hiruma. Dia melirik ke kakinya dan langsung jawdropped. Luke yang bingung sama ekspresinya dia ikutan ngelirik ke kakinya. Terus…

"UWAAAAAAA!!! BUAYAAAAAA!!!!!!!!!!!!"

Yap, betul banget. Ribuan—ga ratusan—eh, ga nyampe. Puluhan buaya plus aligator kayanya berenang-renang dibawah kaki mereka. ada yang warnanya ijo, item, abu-abu, merah(?), jingga(??), kuning(???), biru(????), pink(kaya yang di persona?????), ungu(??????) dan banyak lagi.

Buru-buru Hiruma dan Luke ngibrit ke patung terdekat sementara para buaya itu berusaha ngegigit kaki mereka. mereka langsung manjat patung yang ada tepat disebelah patung Asch dan langsung ngosh-ngoshan.

"Buset! Jadi ini lobang buaya beneran!!?" komentar Luke cape. "Ini gara-gara lo mirip buaya sih!" dia mendelik kearah Hiruma.

"What!? Koq gue sih, red-head sialan!!?" protes Hiruma ga terima. "Emang dari lahir muka gue udah kaya begini! Jangan salahin gue napa!"

"Udahlah! Sekali salah lo ya salah lo! Ga usah mungkir!"

Asch menghela nafas cape. "Ya ampun. Replica gue beneran bego..." batinnya prihatin.

"Asch, gimana cara keluar dari sini!?" tanya Luke.

"Kalo gue tau juga gue udah keluar daritadi!" Asch mendesis kesal. "Dibawah banyak buaya gitu gimana gue mau nyari tau!?"

Luke menundukkan kepalanya salah tingkah. "Ya maap..." katanya sok innocent. "Terus gimana dong? Kan ga mungkin kita kejebak disini selamanya… bisa-bisa master Van udah ngancurin dunia duluan…"

Kuping Asch panas mendengar kata master Van keluar dari mulut Luke. Ga tau cemburu sama si Van atau sama si Luke?? Dengan sigap, dia berdiri diatas patung yang daritadi dia dudukin dan mengacungkan pedangnya kearah Luke(dari jarak 3 meter).

"Hoi, replica! Lo tetep manggil dia "master" sekalipun lo udah tau dia nipu lo?? Gue ga tau lo ini bego apa gimana sih?!" tiba-tiba, bahasa Asch jadi kasar.

"H4h? 4sCh k0q Qmu m4RaH??" mendadak bahasa Luke jadi bahasa anak alay. Sekarang kan jamannya alay n ababil(abege labil), ia ga??

"Heh, bocah gendheng! Si Van tuh juga guru gue! Berani lu ngerebut dia dari gue ya!" tuntut Asch dengan bahasa orang tua. "Udah lu rebut tunangan gue, lo rebut keluarga besar gue, lu rebut pula itu guru gue! Apa kata dunia!?"

"4sCh, HuN3y, buK4n m4XsUd 4ku r3bUt VaN d4r1 Qmu… di4 m3nc1pt4k4n 4ku, j4d1 d1a h4ruS t4n99un9 j4wab k3 4ku…" jelas Luke dengan susah payah.

"Buset dah nih orang kaya komputer aja, bahasanya angka semua en gede-kecil begono… kaya yang lagi masukin password aja…" Hiruma geleng-geleng kepala. Dia melongok kebawah kakinya, dimana lautan buaya itu masih menunggu.

Sementara terjadi percakapan kaya di game(dengan bahasa alay buat Luke dan bahasa sok tuwek buat Asch), Hiruma sibuk online di laptopnya dia sambil masukin video yang daritadi dia rekam pas Luke sama Asch berantem pake bahasa alien itu.

"Wah, panen besar, kekeke! Sekarang ToA juga punya malu sendiri! Prestisenya turun, kekeke!" katanya bahagia. "Ngomong-ngomong, prestise tuh apa ya? Gue lupa artinya… gue taunya priesties arcane yang di game entah apa namanya itu…"

"Ok, si buyung! Kita bertarung! Siapa yang menang adalah Luke Fone Fabre yang sebenarnya!" seru Asch.

"0k 0m-oM 9a puNy4 9ay4 s3xy k4ya gu3! Br1n9 1t 0n!" balas Luke.

"Lu kencing aja belom lurus kan udah berani nantangin orang tua! Denger bocah gendheng, siapa yang kalah harus nyari jalan buat keluar dari sini sekalipun banyak buaya ditengah-tengah!" usul Asch.

"9a m4saLah bu4t gu3 mah! J4n9an t4riK uc4paN l0, oK 0m!?" Luke menantang Asch sambil ngacungin jarinya pose alay.

"Denger bocah, janji seorang perjaka harus ditepati! Kalo lu kalah, cium jempol gue 7 kali, sungkem 13 kali dan makan kalong ampe meledak-dak-DAK perut lu!! Jangan lupa cari jalan keluar abis itu!!" Asch menyebutkan hukumannya yang ala orang tua lagi marah-marah sama anaknya nan durhaka.

"Kal0 l0 k4laH 0m, gu3 m1nt4 b3li1n Disney Land pLus m4sk0t-Ma5k0tny4!! Bi5a 9a l0!!??" tantang Luke dengan kurang ajar ala anak durhaka.

"Bocah alay!! Ababil!!"

"Om-0M tUW1r!!"

Dan pertarungan pun tidak terelakan lagi diantara keduanya…

"Dasar bego... kembar begono tapi kerjanya berantem mulu..." Hiruma sigh. "Kekeke, gapapa. Gue dapet video menarik!" dia kembali mengupload video yang baru dia rekam barusan ke laptop. Akhirnya, buaya-buaya itu menonton dengan gelo. Ada yang lagi berantem sambil teriak-teriak bahasa alay en tuwir, dan ada yang lagi upload video pake laptop sambil ketawa-ketawa setan pasang muka sodara mereka, eh… maksudnya buaya…

"Mana nih yang bakal jadi makanan kita?"

"Meneketehe… mereka sibuk sendiri koq,"

"Gue maunya yang ababil aja! Masih abege jadi pasti enak!"

"Gue ambil yang udah om-om aja deh... soalnya gue lebih suka yang alot-alot(??)..."

"Jangan yang kaya sodara kita, si upik itu ah! Gue ga tega!"

"Yaudah seterah lo..."

Dan masih banyak diskusi lain diantara para buaya itu. Hiruma masih ketaw-ketawa setan dengan peringai buaya, Luke lupa ga boleh pake mystic arte jadi game over lagi, Asch lagi pake mystic arte soalnya Luke pake mystic arte. Nah lo!? Bingung! Pokoknya, dengan banyak usaha, peluh, item dan arte, Luke berhasil mengalahkan Asch yang lagi dengerin lagu "Jatuh bangun aku, melawanmu..." dengan susah payah. Hiruma mendongak begitu mendengar teriakan kekalahan Asch.

"Janji tetaplah janji..." kata Asch dengan tubuh yang sudah renta... eh, maksudnya kepayahan gara-gara digebokin sama Luke. "Kau yang akan keluar dari sini, bersama si jabrik itu,"—nunjuk Hiruma pake pedang—"aku akan membuka jalan keluarnya."

"Tapi Asch—" Luke berusaha menghentikannya. Keduanya sudah menggunakan bahasa yang normal lagi.

"Berisik! Nih!" Asch melempar pedangnya kearah Luke. "Bebaskan Lorelei dengan itu!" dan terjadilah percakapan dalam game yang aku lupa kaya gimana…

"Woi, buruan! Jangan kelamaan ngobrol!!" Hiruma menjitak kepala Luke biar berenti ngomong.

"Sakiiiit!! Apaan sih, Hiruma!?" seru Luke kesakitan sambil mengusap-usap kepalanya yang sakit. "Coba gue kejebak disini sama Riku gitu kek yang manisan dikit..." gerutunya sebal.

"Apaan lo bilang!!??"

"Ga koq, becanda,"

"Ehem," Asch berdeham, meminta agar keberadaannya ga dilupain. Luke dan Hiruma menoleh kearahnya. "Yo, replica. Nih," dia melemparkan sesuatu lagi kearah Luke.

Luke menangkap benda itu dan memelototinya. Kantung merah kecil dengan huruf "S" gede dirajut didepannya. "Apaan ini??"

"Kantong kesayangan gue," jawab Asch simpel. "Didalemnya ada kartu ATM gue. Pake itu buat beli Disney Land."

Luke gasp. "0m… l0 1ng3t??"

Asch mengedip padanya. "Udah gue bilang, janji seorang perjaka harus ditepati," kemudian, dia melompat ke lautan buaya itu.

"4sCh!!!!!!!!" seru Luke. Tapi Asch sudah menghilang ditengah buaya dan paaya warna-warni itu. Dia tersenyum sedih. "Lo 9a seTu4 yaN9 gu3 p1k1r… s4nkyU bR0…" ucapnya ala Ichigo Kurosaki dari Bleach.

Tiba-tiba, pintu besar yang terletak diantara patung yang barusan mereka bertiga naikin terbuka. "Ayo buruan!!" seru Hiruma sambil menarik Luke keluar darisana. Mereka berdua sempat menengok kebelakang dulu, tapi Asch ga keliatan. Yaudah, lanjut keluar aja deh.

"Luke! Hiruma!" sambut teman-teman mereka diluar.

"Teman-teman!" kata Luke terharu.

"Bocah-bocah sialan!" kata Hiruma terhura.

"Kalian gapapa!? Kita baru aja mau nyelametin kalian, tapi kalian udah keluar duluan!" Tanya Natalia kawatir.

"Kita gapapa. Thanks to Asch," kata Luke sambil nunjukin pedang yang dikasih sama Asch tadi.

"Incomplete Lorelei Key…" Jade membaca nama pedang itu di menu Key Item. "Itu artinya pedang ini masih belum complete."

"Namanya incomplete, ia ialah!" kata Riku.

"Jadi Asch ada didalam?" tanya Guy.

"Ya. Tapi kita ga bisa masuk darisini lagi," angguk Luke. "Kalo kita mau nyelametin dia, kita harus lewat jalan darimana aku masuk."

"Sayangnya ga bisa, jalannya udah ketutup," Sakuraba menggelengkan kepalanya.

"Apa!!?"

"Udahlah, Luke. Asch pasti ga apa-apa. Dia kan kuat, ga kaya kamu," Natalia menenangkan sekaligus menyindir Luke.

"Pertama-tama, apa maksud lo dengan 'ga kaya kamu?'. Kedua, pedangnya dia udah dikasih ke gue. Ketiga, lo pada ga tau apa yang ada didalem. Ia ga Hiruma??" kata Luke panjang lebar.

"Kekeke! Banyak kembaran gue!" angguk Hiruma. "Daripada itu, ga usah pikirin si red-head twin sialan itu deh! Mendingan kita lanjutin perjalanan kita! Bentar lagi tamat nih!"

"Fuu... tanpa perasaan seperti biasanya Hiruma..." kata Akaba.

Akhirnya, mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Pokoknya, mereka menempuh perjalanan kaya yang semua gamer bakal tempuh.

Mereka melanjutkan perjalanan melalui jalan yang melayang-layang. Banyak reruntuhan tembok dan beberapa kali pada nabrak mulu soalnya silau. Kecuali Akaba, yang selalu pake sunglasses. Pas dijalan melayang, Riku nyaris jatoh 99 kali sampe Anise kesel sendiri mesti nolongin dia mulu. Kan sesama screen character harus saling membantu, hhe.

Akhirnya, mereka tiba di sebuah field yang banyak rumputnya dan monster-monster berwarna putih ga jelas. "Ini Hod!" seru Guy. "Ini rumahku!"

"Ternyata replica bisa membawa suatu keindahan seperti ini juga bila digunakan secara benar…" kata Natalia terharu.

"Ya. Seperti Meryl dan Luke," gumam Guy. Mereka menatapnya curiga. "Eh, lupakan apa kataku barusan!"

Dan mereka mendiskusikan tentang lagu milik Yulia yang hanya bisa dinyanyikan Tear. Tapi Tearnya lagi ga ada, jadi Hiruma kirim email ke HP Kakei aja, nyuru dia nyampein ke Tear suru latian lagunya Yulia yang bisa membangunkan Lorelei.

"'Ok', katanya," lapor Hiruma. "Katanya mereka otw kesini tuh." Jadi setelah menerima konfirmasi dan laporan dari Kakei, mereka berjalan sedikit lagi.

Tiba-tiba, Luke merasakan sesuatu. "Asch..." katanya.

Event Asch mati(suri??). bedanya kali ini bukan dikeroyok sama pasukan replica, tapi sama buaya.

"Ayo sini lo maju satu-satu!" seru Asch. Buaya-buaya itu tidak ada yang berani menyerangnya. Mereka menjaga jarak dari Asch. "Bagus! Jangan mendekat lagi! Jujur sebenernya gue alergi sama buaya! Nyebut namanya aja udah bikin gue gatel-gatel!"

Tiba-tiba, seekor anak buaya pink udah nemplok dipunggungnya.

PLOOK…

SIIINNG…

Semua diem. Asch pelan-pelan nengok kearah punggungnya. "AAA!! MATI LO KUNYUK, MINGGIR!!!!" jeritnya ketakutan sambil lompat-lompat kiri kanan berusaha melepaskan buaya itu dari punggungnya. Badannya langsung gatel-gatel dari ujung kepala sampe ujung kaki, nafasnya berhenti seketika, rambutnya berdiri tegak, jantungnya berenti berdetak kaya kena serangan jantung(atau emang begitu). Ternyata dia emang alergi buaya...

"Cih, sepertinya... sisanya harus aku serahkan padamu... replica..." dengan kata-kata tersebut, semua kekuatan Asch hilang. Anak buaya pink itu masih nemplok dipunggungnya. Buaya yang lain bertukar pandangan.

"Apaan nih? Udah selese?"

"Ga seru ah. Masa Cuma gara-gara ditemplokin si upik langsung ko'id?"

"Bubar ah bubar! Abangnya udah pulang!!"

Dan buaya-buaya itu bubar lewat pintu mereka datang. Pintu yang menuju kearah stasiun TV Animal Planet. Minus si upik yang masih nemplok di Asch.

Jadi… Asch mati gara-gara ditemplokin buaya?? ... ga elit banget sih...

Kembali ke para tokoh utama, yang sama sekali ga memprediksikan kematian Asch yang ga elit.

Sadar Luke masih tertinggal dibelakang, Hiruma memanggilnya, "red-head sialan?"

"………….." Luke tidak menjawab. Mereka semua mengerubunginya pasang tampang penasaran. "Asch… is dead…(because of a little pink alligator)"

"Apa!!?" seru Natalia tidak percaya. Dia mencengkram tangan Luke keras-keras buat ukuran seorang tuan putri. "Serius lo!!?"

"Serius deh," angguk Luke yakin.

"Sialan! Gue udah susah-susah ngantri 3 hari 9(??) malem dengan antrian sepanjang BLT gratis en nunggu sembako gratisan Cuma buat dapetin tiket first live concert album baru 'It's Asch-king(itu bertanya) yang inspirasinya dia dapet dari it's Raining-nya Rain di platina!!!! Rugi deh gue!!!!" Natalie jerit-jerit frustasi.

"Natalia tenang!" Luke berusaha menenangkan cewe didepannya, tapi percuma. Tuh cewe udah depresi banget idolanya mati tanpa sempet manggung.

Tiba-tiba, jebakan yang ada dibawah kaki mereka aktif. "Fonic trap!? Kita harus kabur!" seru Jade dan Hiruma bersamaan.

"Kabur? Emang bahaya gitu?" Tanya Akaba.

"Oh ngga bahaya koq. Kalo lo mau mati sekarang ga bahaya," kata Anise.

"Itu bahaya namanya, bocah," Sakuraba sweatdropped.

"Natalia kita harus menyingkir!" seru Luke.

"Tapi… gue masih depresi…" gumam Natalia frustasi.

"Sialan! Kita ga bakal sempet kabur!" umpat Guy. Mereka sudah bersiap menerima akibatnya ketika Luke berpikir...

"Asch! Help us!"

Dan ledakan itu lenyap begitu saja. Semua bengong.

"…………………."

"Apaan tuh?" celetuk Sakuraba kebingungan.

Jade kembali jadi keren lagi. "Second order Hyper-resonance. Koq bisa?"

Luke menggeleng bingung. "Ga ngerti. Aku Cuma mikirin Asch terus tiba-tiba... semua jadi normal lagi." Katanya.

KRIK... KRIK...

"Second order Hyper-resonance," tibat-tiba, suara yang familiar terdengar di telinga mereka(minus 4 orang yang baru dateng). "Aku tidak menyangka replica sepertimu bisa menguasainya." Kata orang itu, Sync.

"Sync!" seru Anise. Terjadi lagi event in-game antara mereka. Para pengembara yang tersisa ngobrol sendiri lagi.

"Oi oi! Kayanya ada musuh lagi nih!" kata Sakuraba.

"Bring it on! Gue udah siap! In the name of love and justice, I will not forgive! Dengan kekuatan bulan aku akan menghukummu!(BGM:Sailor Moon)" seru Riku sambil menyingsingkan lengan bajunya.

"Fuu… semangat banget…" kata Akaba. "Daripada itu, musuh kita yang ini cowo. Kayanya ga bisa kita godain, kaya ibu-ibu yang tadi digodain Kakei."

"Kekeke! Bener juga lo, iritasi sialan!!" Hiruma ketawa.

"Udah dibilang... jangan panggil gue iritasi... ini udah turunan darisananya..." Akaba merutuk sambil membenerin sunglassesnya.

"Bodo amat! Kekeke!"

"Kalian berdua berisik..." Sakuraba geleng-geleng kepala prihatin. Tiba-tiba, Sync mengatakan sesuatu yang berarti battle sudah dimulai. Tapi dia tidak melancarkan serangan. Kenapa? Dia melihat Riku.

TTEEENNGG…

KRIK KRIK…

"………………." Semua diem.

"Umm, koq ga ada yang bersuara(atau harus aku bilang memulai battle?)?" Anise memutuskan untuk memecah keheningan.

Mulut Zync, eh salah, itu mah nama sampo ya? Maksudnya Sync. Mulut Sync ternganga lebar. "Omo! Ada Hitsugaya Toshirou disini!" katanya dengan sparkling eyes.

"Graaooww!! Jangan panggil gue Hitsugaya Toshirou!!! Udah berapa kali orang salah ngenalin gue dijalan!! Pada nanya, "Mana zanpakutounya?" "Koq ga pake baju shinigami?" "Ga bareng Hyourinmaru?" "Mana wakil kaptenmu yang super sexy itu?" "Oi Toshirou! Mejeng ke mall yu!"!!!!" seru Riku kesal.

"Gue tebak, pasti yang nanya terakhir itu orang yang cosplay jadi Ichigo Kurosaki…" tebak Sakuraba yakin.

"Tapi kamu memang mirip. Makan apaan? Ampe pendek-pendeknya mirip begitu?" Tanya Sync lebih lanjut.

"Oh ini? Ini kan gen dominan dari keluargaku. Jadinya emang semua anggota keluargaku pendek semua. Kalo rambutnya aku cat jadi warna silver." Jawab Riku simpel. "Kenapa silver? Gampang. Warna laen terlalu mencolok."

"Bukannya silver justru yang mencolok ya??" bisik Anise bingung.

"Oh gitu. Padahal aku udah mendekin badan, rambut udah dijabrik, rambut juga sama mencoloknya sama rambut Hitsugaya. Tapi aku ga mirip dia, kenapa ya??" Sync menerawang.

"Ooh… kamu kan rambutnya ijo, dia silver. Terus kulit kamu putih, ga item." Jelas Riku sehabis mengamati Sync sebentar.

"Yah… abis gimana dong? Turunan dari si Ion emang putih. Rambut juga ijo darisana. Dan aku suka warna ijo..." keluh Sync kecewa gara-gara ga bisa mirip sama Hitsugaya.

Dan obrolan pun terus berlanjut. Yang lain menatap mereka berdua dengan pandangan sedih khas Eyeshield 21.

"Gimana kalo kita tinggalin mereka aja?" usul Luke.

"Ide bagus. Yu," angguk Natalia.

"Tapi sebelumnya..." Jade mendekati Natalia. Terus tanpa basa-basi, langsung tonjok pipi Natalia keras-keras.

"Adaaauuwww!!"

"Woi! Lo ngapain sih!?" Luke marah-marah melihat tunangannya ditonjok.

"Kan gue harus mengikuti skenario di gamenya..." kata Jade.

"Oh ia, diantara mereka Cuma nih om-om sialan doang ya yang ngerti tentang game..." Hiruma manggut-manggut.

"Tapi ini mah beda sama gamenya! Masa ditonjok? Bukannya ditampar ya?" kata Sakuraba.

"Fuu... suka-suka author lah..." Akaba pasrah.

"Kalian bisa pergi tanpa aku," celetuk Guy tiba-tiba.

"Loh? Kenapa?" tanya Luke.

"Soalnya aku harus mastiin ada yang ngalahin Sync biar dia nyerahin Jewel of Loreleinya..." Guy angkat bahu. "Dan si Riku itu pasti ga bisa ngelawan Sync sendiri. Harus ada yang ngawasin dia."

"Ok, kami serahkan padamu," kata Jade.

"Damn, that was fast," Guy sweatdropped.

"Tapi Guy, aku tidak bisa meninggalkanmu," kata Luke dengan mata berkaca-kaca.

"Lebay lo. Bukannya dari tadi lo yang meninggalkan gue sama si setan jabrik ya? Terus pas masih di Grand Chokmah lo terus-terusan ngeliatin Riku kan? Ngaku aja deh!" Guy ngambek. Semua sweatdrpped. "Udahlah, ga usah pikirin gue. Gue bisa koq." Dia tersenyum meyakinkan.

"Ok. dadah!!"

"Berjuang ya!!"

"Hwaiting!!"

"Jangan mati yah!!"

Dan tanpa perasaan, mereka semua meninggalkan Guy dan Riku disana.

Pas dalam perjalanan, mereka sekaligus mencari makamnya Yulia. Pas giliran mesti terbang pake Mieu, Hiruma ngotot jadi screen character ngegantiin Akaba. Tapi gara-gara kukunya Hiruma tajem-tajem, Mieu pun meninggal(??) dan hidup lagi berkat life bottle(bisa gitu??). Mereka nemuin kuburannya Yulia dan dapet event, minus Tear ga ada disitu jadi digantiin sama… err… ga ada yang tipe healer lagi ya("Woi! Gue gimana!?" Natalia protes)?? di kuburan ini, Hiruma langsung ngamuk-ngamuk ga jelas en mulai ngomong pake bahasa asing. Kenapa? Dia kan setan, Yulia ceritanya orang suci. Jadinya dia merasa terbakar, hhe.

Akhirnya, mereka sampai didepan pintu menuju Van berada. Mereka saling mengucapkan kata-kata terakhir. "Selamat tinggal," kata Hiruma singkat.

"Itu doang?"

"Kan kata-kata terakhir," Hiruma angkat bahu.

Dengan kata-kata itu, mereka save(??) dan berangkat menjemput Van menuju ajalnya. Bagh? Shinigami dong??

Akhirnya, terjadi percakapan in-game. Guy digantiin sama Akaba, Tear sama Sakuraba. Hiruma ketawa-ketawaan sendiri dibelakang sambil ngerakit sesuatu.

"Maaf kita telat!!!" tiba-tiba, pas Luke baru mau nyabut pedangnya, suara Tear dan Guy terdengar. Mereka otomatis nengok.

"Nih, Jewel of Lorelei! Lo mana bisa lawan dia tanpa pake Key of Lorelei!" Guy menyerahkan sebuah jewel kepada Luke. Otomatis, pedang Luke berubah nama jadi Key of Lorelei.

"Aku siap bertarung. Ayo kita akhiri ini, kakak!" Tear ngeluarin pedangnya.

"Ok, Guy, Jade, Tear! Ayo kita bertarung!" seru Luke. Akhirnya mereka berempat menyerbu Van. Anise sama Natalia ditinggal dibelakang.

"Jadi, kalian ini grup sampah?" Tanya Sakuraba tanpa belas kasih.

"Berisik! Emang kenapa kalo mereka yang sering terjun ke medan perang!?" Anise sama Natalia ngamuk.

"Yah, Sycn modar," keluh Riku kecewa.

"Modar kenapa?" Tanya Akaba.

"Tadi gue lagi ngecat rambutnya dia pake pewarna perak. Taunya dia alergi sama cat rambut. Modar deh."


"Si tante gimana?" tanya Sakuraba ke Kakei.

"Mokad." Jawab Kakei pendek.

"Koq bisa?"

"Kesamber geledek gara-gara Van ga ngerestuin hubungan dia sama gue."

"................(geledek darimana?)"

"Daripada itu, Hiruma kamu ngapain?" Akaba beralih kearah Hiruma yang lagi sibuk sendiri.

"Kekeke! Gue bikin semprotan laser, iritasi sialan!" jawab Hiruma bahagia sambil nunjukin pistol segede rocket launcher dengan tulisan 'Laser Launcher'.

"Buat apaan?" tanya Riku.

"Buat ngalahin om-om rambut tikus itu, idiot!" kata Hiruma ketus. "Siap, BIDIK!!!" dan dengan 1 gerakan cepat, dia meng-X-Ray Van sampai gosong.

DDZIIIIIIIIIIIIIIIIIIINNGGG!!!!!!(rambut Luke kena sedikit)

SSSSSSSSSSHHHHHHHHHHHHHHH……(Van gosong)

KRIK KRIK…

Semua diem. Tiba-tiba, terowongan hitam terbuka untuk para pengembara. "Aha! Gue berhasil!" sorak Hiruma yang dengan gerakan cepat lagi udah ngegantiin Laser Launcher ditangannya sama Riku dan Sakuraba.

"What the—!!? Hiruma turunin gue!!!" Riku blushing.

"Hiruma, jangan pegang pinggang gue! Itu weak-spot gue!!!" jerit Sakuraba kegelian.

"Hmm…" Akaba melirik Kakei sekilas.

"Gue emoh digendong lagi…" kata Kakei sebelum melempar Akaba kebahunya kayak karung beras. Mereka berdua(Kakei sama Hiruma) berlari menuju terowongan hitam itu.

"Dah semua! Gue sayang lo semua!"

"Gue bakal maenin Tales of VS deh dimana semua tokoh ada!"

"Kalo gue bakal maenin Tales of the World:Radiant Mythology!"

"Pokoknya, thanks udah nampung kita disini!"

"Kapan-kapan maen lagi ya!!"

Dan dengan hilangnya kepala Akaba, terowongan itu tertutup lagi. Semua diem buat sementara.

"Tapi… Lorelei belom bebas…" gumam Luke lirih.

***

"Fuu… capenya…" kata Akaba.

"Ini gerbong menuju rumah bukan?" Tanya Riku kepengen.

"Maunya sih gitu… tapi pasti ga segampang itu…" Sakuraba sigh.

"Heh, bocah-bocah sialan! Jangan ngeluh mulu! Masih mending kita udah keluar dari game kedua!" kata Hiruma kesel.

"Aku ga ngomong apa-apa…" kata Kakei. Tiba-tiba dia melihat cahaya didepannya. "Aku melihat jalan keluar…"

Mereka semua nyengir lebar.

"Aku harap ini jalan kerumah!!" seru Riku bahagia sambil menyambar cahaya itu dengan kecepatan Rodeo Drivenya.

"Woi, pendek! Jangan langsung nyongsong gitu—!!"

"Jangan panggil gue pendek!"

***

Omake:

Vanila menatap layer TVnya tidak percaya. "Oi oi! Sejak kapan ToA tamatnya kaya gini! Gue udah maen 3 kali tapi kok ending kali ini beda!?"

"Napa sih lo!? Berisik!!" kakaknya teriak-teriak dari kamar.

"Ya ialah! Masa demi bebasin Lorelei Luke mesti memutilasi badan Van yang gosong entah mengapa!?"

"Jah elah! Lo ngimpi kali!!"

"Enak aja!! Malah ada yang lebih aneh lagi, dogol! Pas Luke nangkep Asch yang jatoh dari atas(ya ialah masa dari bawah??), dipunggung Asch ada buaya pink! Luke ngelepasin buaya itu dengan pandangan bingung! Luke aja bingung apalagi gue!!"

Akhirnya kakaknya memutuskan untuk menenangkan adiknya yang histeris. "Coba lo reset, terus maenin lagi. Ada kesalahan kali…"

Akhirnya ToA tamad!!! Gwahahahaha!!!!!!! Ngebut bikin 2 chapter sekaligus!!! Berambisi buat namatin ToA sekarang!!! Maaf ya storynya ga mutu… pas bikinnya buru-buru sih…