I Hate Childern 'CHAPTER 9'

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rating : T menjurus ke M.

Genre : Horror, Family, and Romance.

Warning : OC! , Sedikit OOC!, M-PREG, Lime aja nggak usah lemonan :v , BoysLove, Sedikit Gore, Typo (s)

.

.

.

Happy Reading

.

.

Rasanya menyesakkan.

Ia mendadak merasa lupa bagaimana cara bernafas.

Ia hanya bisa melirik ke kanan dan ke kiri, melihat banyak orang yang berlalu lalang tanpa mengindahkan kehadirannya.

Ia sendiri juga tidak tahu harus bersikap seperti apa.

Tubuhnya tidak bisa digerakkan.

Ia hanya bisa berdiam kaku seraya melihat orang-orang yang di kenalnya melangkah jauh meninggalkannya.

Ia bergumam bingung, ada apa? Kenapa mereka pergi meninggalkannya?

..dan apa-apaan pandangan penuh kebencian itu?

'Naruto...' bibirnya melengkungkan senyuman saat salah satu dari orang-orang itu berbalik dan melangkah menghampirinya.

Orang tersebut berdiri tepat di hadapannya dan hanya terdiam tanpa melakukan apapun. Latar sebuah jalan raya yang penuh dengan kesesakan itu mendadak menghilang dan di gantikan oleh latar hitam yang suram.

"Seharusnya kau jadi seperti anak itu, sayangi adikmu!"

"Kenapa aku harus menjadi anak asing itu hah?! Menyebalkan!"

Ia mengalihkan pandangannya dan melihat seorang wanita tengah menggendong seorang bayi dan juga sesosok anak kecil di sampingnya. Entah mereka siapa, ia tidak mengetahuinya karena wajah mereka tertutupi oleh rambut.

"Gendong adikmu sebentar, Kaa-san akan mengambil uang dulu di bank, jangan pergi jauh-jauh."

Wanita itu pun menyerahkan sang bayi kepada anak kecil tersebut lalu memasuki sebuah gedung dengan terburu-buru.

Anak kecil yang di serahi bayi itu pun hanya merengut, "Apa-apa di bandingin sama orang lain, ini malah di bandingin sama anak kecil yang belum di kenal lagi, sampai segitunya Kaa-san marah. Sialan!"

Ia pun memutuskan untuk mengalihkan pandangannya dari anak kecil tersebut lalu memandang seseorang yang masih betah berdiri di hadapannya dengan diam.

Ah, posenya berbeda dari yang tadi.

Tangan kanannya terulur ke arahnya, dengan sebuah benda yang membuat kedua matanya membulat.

"Ne... Sasu-Chan..." sosok itu semakin berjalan mendekati dirinya, ia pun tidak dapat mengelak karena seluruh tubuhnya sangat kaku. Ia bagaikan patung saat ini.

"Bagaimana..." kedua manik hitamnya memandang lurus sang lelaki berambut pirang yang kini tengah tersenyum-Ah tidak, lelaki itu tengah menyeringai.

Sama seperti kedua anak yang tengah tersenyum mengerikan tepat di belakang sang lelaki.

"...kalau kita bermain bersama-sama?"

'Tidak!'

Sasuke membuka kedua matanya, ia terbangun dengan nafas yang tersenggal-senggal, keringat telah membasahi wajahnya yang memerah.

Seakan teringat akan sesuatu, ia lekas memandang kedua tangannya, menggerak-gerakkannya sesuka hatinya lalu ganti menggerakkan seluruh tubuhnya.

"Ugh.." sengatan di kepalanya membuat tangannya reflek memegang kepalanya, ia baru menyadari jika kini suhu tubuhnya sedikit naik.

'Aku... demam? Sejak kapan?' ia memandang kamar yang tengah di tempatinya, tempat ini tidak asing karena tempat ini memang kamarnya. Seingatnya dia hanya tertidur saja kan? Kenapa demam yang ia rasakan seakan terasa telah lama.

"Ah.. Sasuke.." seseorang tiba-tiba saja masuk seraya membawa mangkuk bubur dan juga segelas air putih. Sosok itu meletakkan nampan tersebut di atas meja kecil di samping kasur lalu mendudukan dirinya di samping Sasuke.

Tangan tan itu terulur untuk mengelus sisi wajah Sasuke dengan perlahan, "Apa masih sakit? Apa masih pusing?"

"Bagaimana...kalau kita bermain bersama-sama?"

Sasuke menampik tangan itu dari wajahnya, tubuhnya reflek bergetar ketakutan, ia perlahan menjauhkan dirinya dari Naruto. Nafansya kembali tersengal-sengal tak terkendali.

"Ada apa?" Naruto menaikkan sebelas alisnya lalu menaiki kasur dan mendekati Sasuke yang semakin menjauhkan dirinya.

Di balik baju itu...

"Pergi! Jangan mendekatt!"

Mendengar nada ketakutan itu keluar dari mulut Sasuke membuat Naruto semakin dibuat bingung. Apa lelaki itu bermimpi buruk lagi?

"Hei.." Naruto pun memaksakan diri untuk mendekati Sasuke, tidak peduli jika kini tubuhnya telah terkena berbagai pukulan dan tendangan dari raven yang semakin ketakutan saat ia berhasil memeluknya.

"Jangan... Aku mohon..." tiba-tiba merengek seperti ini, sebenarnya apa yang diimpikan olehnya? Kenapa Sasuke takut kepadanya? Apa yang ia lakukan kepada Sasuke di mimpi sang raven? Mendadak ia ingin menghajar dirinya sendiri di mimpi tersebut.

"Ssttt..." Naruto semakin memeluk Sasuke dan mengelus punggung sang raven dengan lembut. "Lupakan apa yang aku lakukan dalam mimpimu. Aku di sini adalah Naruto yang melindungimu, bukan menyakitimu." Ujarnya seraya tersenyum.

Setelah itu, ia tidak mendengar suara apapun. Sasuke-nya tetap terdiam, namun tubuhnya kembali rileks seperti biasanya, yang ia rasakan hanyalah Sasuke semakin menyamankan dirinya di dalam pelukannya.

Naruto pun memilih untuk mengelus rambut Sasuke perlahan dan berniat membuat Sasuke tertidur kembali, lagi pula demamnya juga belum sepenuhnya turun.

Keadaan Sasuke memang sedikit buruk semenjak satu minggu yang lalu, semenjak Sai mempergoki Sasuke tengah mencekik lehernya sendiri. Keadaannya yang memburuk membuat Sasuke terpaksa harus menginap di rumah sakit. Namun belum ada 3 hari, lelaki itu meminta pulang hingga mengancam akan bunuh diri segala.

Mau bagaimana lagi, Naruto pun lebih memilih untuk mengalah dan merawat Sasuke seorang diri. Demamnya tidak turun-turun semenjak hari itu. Sasuke juga semakin sering bermimpi buruk. Makan pun susah.

Itu semua ia lakukan karena ia benar-benar mencintai Sasuke se absurd apapun tingkahnya. Yah, kalau orang lain mah ogah.

"Naruto..."

"Hm?"

"Sejak kapan aku demam?"

"Empat hari yang lalu."

"Ohh.."

Pertanyaan yang sama seperti Sasuke ajukan kemarin. Apa lelaki itu terjebak di dalam dunia mimpi segitu parahnya sampai lupa dengan keadaannya sendiri?

Mungkin itu juga pengaruh teror yang selalu Sasuke rasakan.

Sialnya, dia sendiri tidak tahu 'Sesuatu' yang meneror Sasuke selama masa kehamilannya. Jadi yang bisa ia lakukan adalah mencoba percaya dan mendengar seluruh curahan hati sang bungsu, lalu menenangkannya sebisa mungkin.

"Sasuke..."

"Hm?"

"Besok akan ada festival musim panas, kau mau melihatnya?"

"Tidak."

"Tetapi aku ingin melihatnya~"

"Lihat saja sendiri."

"Tapi aku ingin melihatnya bersamamu~"

Sasuke menghela nafasnya lalu beringsut melepaskan dirinya dari pelukan Naruto. "Festival itu sama saja seperti festival tahun kemarin, aku sudah malas mengunjunginya."

"Heh... Tentu saja berbedaa!" seru Naruto tiba-tiba. Sasuke pun menaikkan sebelah alisnya.

"Mau kau menerimanya atau tidak, mau kau membencinya atau tidak, festival ini pasti akan berbeda karena anggota keluarga kita bertambah satu!"

Sasuke pun memasang wajah kesal lalu melempar wajah Naruto dengan bantal, "Kenapa kau harus mengingatkanku dengan makluk sialan ini hah?! Datanglah sendiri dan minta kepada dewa agar makluk ini berpindah ke perutmu saja! Sialan!"

"Bisakah kau berhenti berkata kasar di hadapanmu bayimu? Aku tahu kau membencinya, tapi-"

"Pergi sendiri sana dan minta kepada dewa agar bayi ini pindah ke perutmu atau mati saja sialan!"

"Sasuke!"

.

.

.

.

.

Sasuke merengutkan bibirnya.

Naruto pun tersenyum dengan lebarnya.

"Untung saja demam mu sudah menurun, coba saja kita bertengkar semenjak kemarin, pasti kau sudah sembuh seratus persen sekarang hahahahaha..!" ujarnya seraya tertawa terbahak-bahak.

Sasuke masih merengut, kini matanya pun menolak memandang Naruto yang masih tertawa dengan membawa sebuah permen kapas.

Eh... Permen kapas?

Sasuke memutar bola matanya malas.

Pada akhirnya ia pun memutuskan untuk mengunjungi festival ini karena tidak betah lagi mendengar rengekan Naruto yang tak berhenti-berhenti semenjak kemarin. Ia muak. Ia tidak bisa beristirahat dengan tenang. Ia ingin menenggelamkan Naruto saat itu juga. Sialan.

Naruto berjalan mendekatinya lalu menarik ke atas reseleting mantelnya, "Kalau tidak tertutup dengan rapat, kau bisa terkena demam lagi.." ujarnya seraya membenarkan Syal di lehernya. Mungkin hanya dirinya yang menggunakan atribut musim dingin di musim panas ini.

Yah gimana lagi, selain mencegah dirinya untuk tidak terkena demam kembali, ia pun harus menutupi perutnya yang... euhh semakin membesar ini.

"Karena kau belum boleh memakan berbagai makanan di sini, bagaimana kalau kita bermain saja?" mungkin seharusnya Naruto tidak perlu bertanya lagi karena lelaki pirang itu langsung saja berlari kecil menghampiri sebuah stand ikan mas. Sasuke pun mengikutinya dengan malas.

Ia merasa seperti menjaga anak kecil saja.

Tunggu? Anak kecil? Wait! Ia tidak pernah menjaga anak kecil. Mungkin orang dewasa dengan tingkah kekanakanlah yang sering ia jaga.

Berjam-jam mereka bertamasya di festival ini, perasaan yang biasa teman SMA mereka katakan sebagai 'Semangat Masa Muda' mendadak menjangkit mereka berdua di festival ini.

Mereka bermain dan berkompetisi di setiap stand permainan yang ada. Sama persis seperti waktu mereka SMA dahulu. Lagi-lagi mereka merindukan masa SMA mereka yang bebas, tidak memikirkan masalah ini dan itu yang tahunya hanya bersenang-senang saja.

Jam telah menunjukan pukul 11 malam, sebuah kembang api telah meluncurkan dengan cantiknya di langit Konoha, pada saat itu juga mereka telah berada di depan kuil, seraya memanjatkan doa kepada sang dewa pelindung mereka.

Dengan doa yang berbeda.

'Aku ingin anakku lahir dengan selamat..'

"Aku ingin makluk ini menghilang...'

(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)

'Nomor yang anda hubungi tidak aktif atau di luar jangkauan, cobalah beberapa saat la-'

Sasuke memencet tombol telepon berwarna merah dengan kesal lalu melempar ponselnya ke atas kasur.

Seharian ini sudah berkali-kali ia menelpon sang kakak dan selalu berakhir gagal. Belum lagi usaha yang di lakukannya berhari-hari yang lalu, jika pun bisa lelaki berambut panjang itu hanya membalas 'Maaf, Nii-san sibuk' lalu menutup telponnya begitu saja.

Perkataan itu memang bisa saja ia toleransi dengan baik, namun masalahnya Sai pernah bercerita kepadanya jika pemuda itu pernah menelpon Itachi cukup lama, di waktu yang sama seperti dia saat ini.

Ibu dan ayahnya juga berkata demikian, mereka bilang jika Itachi kini sudah mulai bangkit dari kesedihannya dan kembali berinteraksi dengan banyak orang.

Namun, kenapa hanya dia saja yang merasa di lupakan?

Mencoba untuk mengabaikan Itachi, ia pun mulai menghubungi sang adik kembar, meminta bantuannya untuk mencoba menghubungi sang kakak dan jika itu berhasil, ia bersumpah akan memaki sang kakak habis-habisan tidak peduli dengan masalah yang tengah di hadapinya.

Memangnya dia pikir ia tidak memiliki masalah?

Suara sambungan terdengar cukup lama, beberapa saat kemudian telponnya pun tersambung.

"Halo?"

"Hm... Halo.."

Sasuke mengerutkan dahinya mendengar balasan lirih dari lawan bicaranya, "Ada apa? Habis patah hati hah?"

"Aku masih setia dengan Ino-Chan tahu.. uhuk! Kau menelponku hanya untuk mengejekku?"

"Kau... Demam?"

"Kalau sudah tahu ngapain tanya!"

Banyak orang mengatakan jika salah satu dari kembaran itu sakit, maka beberapa hari kemudian kembaran yang satunya akan ikut sakit. Sasuke tetap tidak mempercayainya walaupun bukti nyata telah terpampang jelas setiap mereka berdua sakit.

"Sai... Bisa kau menelpon Nii-san sebentar saja. Dia lagi-lagi tidak menjawab teleponku.."

"Sudahlah... Kalau dia tidak sibuk lagi pasti bakal balik meneleponmu.." balas Sai malas. Lagi-lagi ia di suruh beginian. Ia tidak mau lagi mendengar nada kecewa yang di keluarkan Sasuke saat ia berkata jika Itachi mau mengangkat telepon darinya.

"Dia pasti sibuk saat aku meneleponnya, tetapi menjadi lenggang saat kau yang meneleponnya. Apa dia membenciku?"

"Apa-apaan pikiran anehmu itu?"

"Semua bisa terjadi kan?"

Sasuke bisa mendengar jika kini Sai tengah menghela nafas lalu terdiam cukup lama.

"Baiklah... Aku akan menelepon Nii-san dan memintanya untuk menghubungimu. Jaa Naa.." dan sambungan telepon pun terputus secara sepihak.

Sasuke meletakkan ponsel miliknya lalu menidurkan dirinya dengan perlahan. Ia merasakan jika tubuhnya semakin memberat setiap harinya, nafsu makannya juga lebih membaik dari sebelumnya. Kadang berbagai pikiran negatif merasuki dirinya saat melihat tampilannya sendiri di depan kaca.

Apakah Naruto masih menyukai dirinya yang kini...errr mulai menggemuk?

Perasaan itulah yang membuatnya semakin membenci bayinya sendiri. Rasa ingin menyingkirkan selalu ada di dalam hatinya, namun saat mengingat wajah Naruto yang sangat menyedihkan saat mengetahui tingkahnya ini membuat ia mengurungkan niatnya.

BLAKK!

Drrt... Drtt... Drttt...

Suara benda jatuh dari luar kamar terdengar cukup keras bersamaan dengan suara getaran pada ponselnya. Sasuke lebih memilih untuk mengambil ponsel miliknya dan ia cukup terkejut saat mengetahui seseorang yang tengah menghubunginya.

Dengan cepat ia membalas telepon itu dengan senang, "Konnichi wa Nii-san..." ujarnya mulai berbasa-basi.

"Hm... Konnichi wa... Ada perlu apa?" balasan yang menurut Sasuke cukup dingin dari seorang Uchiha Itachi itu membuatnya mengerutkan dahinya heran.

"Apakah aku harus menghubungimu jika ada keperluan saja?

"Tidak, tapi saat ini aku benar-benar sibuk sekali. Maaf Sasuke..."

Sasuke menggigit bibir bawahnya, menahan kekesalan yang sejak lama telah bergemuruh di dadanya.

Alasan ini lagi…

"Kau selalu membalas sibuk saat aku berniat menghubungimu Nii-san. Sudah berkali-kali kau beralasan itu dan kau pikir aku akan percaya lagi hah?! Kau pikir aku bodoh?!" sentaknya keras.

Terus Nii-san...

"Aku tidak beralasan Sasuke, tapi saat ini aku benar-benar sibuk, ini saja aku izin beberapa menit keluar dari rapat untuk meneleponmu setelah Sai menelepon juga. Maaf jika kau berpiki-"

"Kau bisa menjawab telepon dari Sai begitu mudahnya tetapi tidak dariku?! Sudah berkali-kali aku berusaha menghubungimu dan setiap itu kau sedang melakukan rapat?! Apa 24 jam full kau melakukan rapat?! Kau membenciku kan?! Kenapa tidak kau katakan sejak dulu Hah?!" wajah Sasuke telah memerah sempurna. Ia benar-benar ingin melampiaskan semua kekesalan ini kepada sang kakak. Sangking kesalnya ia juga tidak menyadari jika kini ada seseorang yang tengah merangkul dirinya dari belakang seraya membisikan sesuatu.

Lakukan saja... Jangan menahan diri...

Sasuke ingat peristiwa yang membuat ia mengalami lost contack dengan Itachi semenjak beberapa bulan yang lalu.

Apa karena hal itu...

Apa karena hal itu Itachi...

Ya.. Karena hal itu Nii-san...

"Sasuke, aku mohon dengarkan Ni-"

"Kau membenciku karena makluk brengsek ini kan?! Kau pasti dendam kepadaku karena istirmu tidak bisa lagi memberimu seorang anak kan?! Kau pikir aku senang memiliknya hah?! Kau membenciku karena seorang anak kecil, dimana pikiranmu saat ini Itachi!"

Perkataan itu sontak membuat Itachi yang di seberang sana meradang mendengarnya, "Bisa kau jaga ucapanmu itu Sasuke! Aku bisa benar-benar marah padamu jika kau tidak bisa menahan emosimu!"

"Silahkan saja kau marah kepadaku! Kau bisa membunuhku saat ini juga brengsek! Atau aku perlu ke rumahmu untuk menyerahkan diri?! Bunuh aku saja Itachi! Bunuh aku sajaa!" teriaknya seraya terisak. Sedangkan sesuatu yang tengah menempel di punggungnya kini tengah menyeringai.

Sasuke pun melempar ponselnya ke dinding lalu membanting tubuhnya ke kasur, tidak ia pedulikan jika kini ponselnya telah hancur.

"Bagaimana? Apakah senang telah membentak kakak tersayangmu, Nii-san..."

Sasuke menengokkan kepalanya dan pandangannya langsung jatuh kepada sosok berwajah mengerikan, bahkan ia bisa merasakan jika setetes darah dan nanah telah mengenai wajahnya.

Pemuda Uchiha itu lekas bangun dari tidurnya dan ia merasa hal itu percuma untuk menghindar dari makluk tersebut karena sosok anak kecil tersebut merangkul erat lehernya hingga ia merasa sesak.

"Le-Lepaskan.." ujarnya seraya berusaha melepaskan dirinya. Kalaupun ia harus mati, ia tidak akan mati karena makluk jadi-jadian ini.

"Oeek... Oekk... Oekk..."

Suara tangisan bayi yang memenuhi kamar tidurnya membuat ia merasa pusing.

"Oekkkk... Oekkk... Oekkk..."

Ia... Benar-benar tidak menyukai tangisan ini.

Ia tidak suka!

Sangat membencinya!

"Hentikannn!"

)()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()(

.

.

.

.

.

.

)()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()()(

"Ohayou Gonzaimasu anata..." ujar Naruto ramah kepada seseorang yang baru saja bangun dari tidur malamnya. Dengan cepat ia menarik kursi meja makan dan memastikan jika orang tersebut telah menduduki kursi dengan nyaman.

"Ini teh hangat untukmu, diminum ya... Aku akan mempersiapkan sarapan." Ujarnya lagi lalu membalikkan badan dan kembali berkutat dengan dapur. Hal itu tidak luput dari pandangan seseorang yang tengah duduk di kursi meja makan ini.

Ini hari minggu, pantas saja lelaki itu berlaku demikian.

Ia meminum teh hangat tersebut dengan perlahan lalu meletakkannya dengan pelan pula. "Kau memasak apa?"

"Aku memasak sup ayam, tadi pagi sekali aku datang ke pasar loh. Penjualnya baik-baik sekali, aku selalu mendapat diskon..." jawab Naruto. "Oh ya, aku juga mendapat diskon saat mengunjungi pasar. Apa kebetulan ya..."

Kebetulan bagaimana jika ia selalu bersitegang dengan para penjual saat ia membeli keperluan di pasar. Mungkin saja karena wajah bulenya itu menyegarkan suasana di pasar.

"Lain kali kau saja yang membeli persediaan. Bisa menekan pengeluaran juga." Ujar Sasuke seraya mengusap rambutnya yang berkeringat. Ia juga tidak tahu mengapa ia bisa berkeringat di pagi hari yang dingin ini.

"Baiklah kalau begitu, aku juga menikmatinya." Ujar Naruto lalu meletakkan lauk pauk dan juga nasi ke atas meja makan. "Sini, biar aku ambilkan. Kau harus makan yang banyak ya.."

"Hn.."

Saat ingin membenarkan posisi duduknya, ia merasa sangat berat sekali, tak nyaman sama sekali. Ia pun melirik ke bawah dan melihat gundukan di perutnya kini semakin membesar dari yang terakhir ia sadari.

"Jika aku tidak salah melihat kalender, hari ini usia kandunganmu sudah genap 7 bulan. Bagaimana jika setelah ini kita sama-sama memeriksakannya?"

Sasuke tidak mendengarkan ucapan Naruto, mata hitamnya masih memandang perutnya yang membesar dengan tidak wajarnya. Ia merasakan jika kini jantungnya berdegup dengan kencangnya, membuatnya reflek mencengkram dadanya dan menarik nafas sebanyak-banyaknya.

"Sasuke.. hei..." Naruto mendekati Sasuke perlahan lalu berlutut di samping Sasuke, kedua tangannya ia gunakan untuk memeluk sang raven yang mulai bertingkah aneh. "Tarik nafas pelan-pelan... Jangan terburu-buru, kau akan sulit bernafas nanti."

Naruto tahu jika Sasuke sudah seperti ini artinya lelaki itu sedang memikirkan sesuatu yang berat. Hal ini memang sudah sering terjadi dan penyebabnya adalah hal yang sama.

Sasuke selalu bilang jika ia merasa tertekan dengan kehadiran sesuatu, sesuatu yang hanya Sasuke saja yang bisa melihatnya.

Apakah rasa trauma akan berdampak selama itu?

Semenjak beberapa bulan yang lalu ia tidak akan pernah membiarkan Sasuke sendirian. Selama ia bekerja, ia akan membawa Sasuke ke rumah kedua orang tuanya dan akan menjemputnya kembali ketika ia pulang.

Setiap minggu atau saat ia libur pun ia selalu membawa Sasuke berlibur untuk melepas penat. Ia berharap dengan hal itu rasa trauma dan ketakutan yang Sasuke rasakan akan menghilang.

Namun hingga kini perasaan itu masih saja Sasuke rasakan.

Memangnya apa salah Sasuke kepada sosok tak kasat mata tersebut? Ingin sekali ia meneriakkannya pada sosok itu. Tetapi pada siapa? Ia bahkan tidak bisa mendeteksi kehadiran makluk itu.

Hanya Sasuke yang bisa menyingkirkannya sendiri.

"Naruto..." panggil Sasuke pelan. Salah satu tangannya dengan perlahan mencengkram erat baju Naruto.

"Perutku.. Ugh.. Sakit."

.

.

.

.

Gelap.

Sasuke tidak bisa melihat apapun.

Ia merasa jika sekujur tubuhnya terasa dingin dan ia juga tidak merasakan satu helai kain pun yang membungkus tubuhnya.

Ah, ia merasakan perasaan yang lain.

Sakit.

Sakit yang teramat sangat.

"Aa..."

Rasanya seperti ada sesuatu yang sangat besar dari dalam dirimu akan keluar begitu saja tanpa perintahmu.

Memaksa dan terus memaksa untuk keluar.

Sakit.

Sakit.

Sakit.

Sakit.

Hentikan.

Ini benar-benar sakit.

Sakit.

Sakit.

Sa-

"AGHHHH!"

"Kenapa operasinya tidak segera di lakukan?!"

"Kita harus menunggu Tsunade-sama yang bisa menangani hal ini, Tsunade-sama sedang dalam perjalanan pulang dari luar negeri."

Naruto mengacak-acak rambutnya frustasi lalu kembali menghampiri Sasuke yang kini berada dalam keadaan yang tidak bisa dikatakan baik-baik saja dengan selang oksigen yang membantunya untuk bernafas. Walaupun terkadang ia bisa melihat Sasuke masih kesusahan untuk bernafas.

Berkali-kali lelaki tersebut berteriak kesakitan dan selama itu pula operasi tidak segera di lakukan. Jika saja Sasuke adalah seorang wanita, maka operasi tersebut bisa segera di lakukan.

Namun dokter lain tidak berani mengambil resiko dengan mengoperasi seorang laki-laki.

"Sakith... Aghh!"

Naruto tidak tahu kata apa lagi yang bisa meringankan rasa sakit yang Sasuke alami, yang bisa ia lakukan hanya membiarkan tangan kanannya di genggam kuat-kuat oleh sang raven sebagai pelampiasan rasa sakit.

Getaran disaku celananya membuatnya dengan cepat mengambil ponsel miliknya dengan tangan kiri lalu mengangkatnya dengan gelisah.

"Iya Sai... Ini memang mendadak sekali, aku mohon beritahu Ayah dan Ibuku juga... Ya..."

"Yameru! Agh! Hentikann!"

Naruto lekas mengembalikan ponselnya kedalam saku celana lalu kembali memandang sang Shizune yang kini mulai merobek paksa pakaian Sasuke di sekitar area perut.

"Tsunade-sama sudah datang, kau juga harus bersiap-siap."

...Gelap

Sasuke masih berteriak-teriak kesakitan dan mencengkram apapun di bawahnya untuk meredakan sakitnya.

"Nii-san..."

Mata hitamnya membelalak lebar saat sesuatu tiba-tiba saja merangkak dan dengan santainya menduduki perutnya yang sakit.

Tangan kecil itu dengan perlahan mengelus perut bundar tersebut.

"Wahh... Sepertinya ada yang mau keluar ya..."

"Hen-hentikan... Sakit..." Uchiha memang sangat pantang untuk memohon, jika Ayah atau Kakeknya mendengarnya memohon seperti ini mungkin ia benar-benar akan di coret dari daftar anggota Uchiha. Namun kini ia rela melakukan apapun agar rasa sakit ini menghilang dari tubuhnya.

Agar makluk itu menghilang selama-lamanya.

"Aku bantu ya Nii-san..."

...Sasuke pun bisa melihat jika kini sebuah pisau daging tengah teracung di hadapannya.

"Maaf dokter, obat bius tidak bisa menarik kesadaran Uzumaki-sama."

"Apa?! Bagaimana bisa?"

Tsunade memandang bingung Sasuke yang hingga kini masih menggelepar kesakitan padahal sudah berkali-kali lelaki tersebut di suntikkan obat bius. Seharusnya lelaki itu tidak lagi merasakan rasa sakit.

"Berikan sekali lagi, jika tidak menimbulkan efek, mau bagaiamana lagi kita harus segera mengoperasinya. Keadaannya hampir kritis."

"Hai!"

Setelah beberapa menit, wanita paruh baya itu harus menelan ludahnya kaku karena obat bius tersebut kembali tidak berefek.

"Naruto..." ia memandang Naruto yang kini memandangnya dengan pandangan penuh harap. Lelaki itu masih setia menemani Sasuke di sampingnya.

"Lakukan apapun untuk membantuku meredakan rasa sakit yang Sasuke rasakan. Aku akan segera melakukan operasinya."

Setelah memastikan semuanya siap, Tsunade pun mulai mengambil salah satu pisau bedah dan mulai membawanya ke atas perut Sasuke. Ia mengambil nafasnya perlahan lalu mulai membelah perut tersebut dengan perlahan.

Naruto membenamkan kepala Sasuke pada dadanya dan merengkuh sang raven erat-erat.

Ia yang melihatnya saja sudah merasa sangat kesakitan.

Lalu, bagaimana dengan yang merasakan?

"AHHHHHHHHHHHHHHHHH!"

...Pisau daging itu tanpa ampun membelah perut Sasuke.

Sekeras apapun Sasuke meminta berhenti, sosok kecil itu tidak akan pernah menghentikan perbuatannya.

Darah merah telah membasahi seluruh tubuh Sasuke dan juga sosok anak kecil tersebut.

"Ah~ Bagaimana kalau kita bermain-main dengan darah ini? Enaknya buat apa ya? Ah! Aku tahu ... Aku tahu!"

Pisau itu pun berhenti bergerak, namun masih tertancap di atas perut Sasuke.

Tidak tahukan makluk itu jika rasanya benar-benar sangat menyakitkan?

Dengan tangan berlumuran darah, sosok anak kecil itu mendekati Sasuke lalu menangkup wajah sang raven,ia mendekatkan wajah penuh darah, nanah, dan juga belatung itu kepada Sasuke, semakin dekat hingga dahi mereka berdua saling bersinggungan.

Sasuke membelalak ngeri saat beberapa belatung terjatuh dan bergerak-gerak di wajahnya, dan juga saat darahnya dan juga darah milik sosok tersebut mulai menyatu dan membasahi wajahnya.

"Memang... Wajah memerahmu benar-benar indah Nii-san..."

...dan Sasuke lagi-lagi merasakan jika pisau di dalam perutnya mulai bergerak kembali dan mengoyak habis isi di dalamnya.

"UARGHHH! HENTIKANNN!

Tsunade segera meletakkan pisau bedahnya yang telah berlumuran darah lalu segera mengambil bayi di dalam perut tersebut.

Beberapa menit kemudian, Naruto yang sedari tadi memeluk Sasuke seraya memejamkan kedua matanya tersentak saat mendengar suara tangisan yang sangat memekakan telinga, bergema di dalam ruang operasi tersebut.

"Terus seperti itu Naruto, aku akan segera menutup lukanya."

Naruto mengangguk dalam hati lalu kembali memeluk Sasuke dengan penuh kenyamanan. Berkali-kali juga ia mengelus rambut Sasuke yang basah dengan harapan Sasuke sedikit melupakan rasa sakitnya dan mulai merasakan perlakuannya.

"Ugh.. Sakit…"

Ia sangat mencintai Sasuke.

Ia akan melakukan apapun untuk orang yang dicintainya.

"Naruto..." suara Sasuke yang lirih memanggilnya dengan serak.

"Aku sudah menutup lukanya. Kau bisa melepasnya..."

Naruto pun melepas pelukannya dengan tidak rela. Ia memandang Sasuke yang kini balas memandangnya dengan lemah, raut kesakitan masih jelas tampak, rambutnya sangat berantakan di tambah dengan keringat yang membasahi sekujur tubuhnya.

Ia tidak pernah melihat Sasuke sekacau ini sebelumnya.

Namun di tengah rasa sakit yang luar biasa sang raven rasakan, entah mengapa Sasuke kini tengah tersenyum kepadanya.

Senyum tertulus yang pernah Naruto lihat seumur hidupnya.

"Aku juga sangat mencintaimu... Terima kasih..."

Suara tangisan bayi dalam ruangan itu pun semakin keras, di ikuti dengan tertutupnya semua rasa sakit yang Sasuke rasakan.

.

.

.

To Be Continue

.

.

.

Minna!

Terima kasih ya sudah mau meluangkan waktu untuk membaca fic gaje ini.

Maaf kalau chapter-chapter awal pendek, emang sengaja nggak aku di jadikan satu karena males (-_-)

Buat yang berpikir kalau bayinya ini bayi setan. Buang jauh-jauh ya, kan Sukenya ehemehem sama Naru, masa jadinya bayi setan sih. Tetep manusia kok ^_^

Ini sebenarnya tamatnya masih lama loh, habis Sasuke lahiran baru mulai penyelesaian konflik. Tetapi kalau di tamatkan chapter depan juga tidak masalah khikhikhikhi

Jadi enaknya lanjut atau chapter depan bakal jadi chapter terakhir?

Berikan pendapat kalian di kotak review ya!

Terima kasihhh!

.

Uchiha Iggyland