Fic ini author dedikasikan untuk para readers yang masih setia mau menunggu update dari fic abal ini. Chapter ini author kasih spesial lebih panjang dari biasanya, semoga memuaskan, dan chapter ini Full Romance SahuHina. Yeay.. Selamat membaca.
Beautiful to Me
Disclaimaer : Naruto Shippuden jelas bukanlah milik QiyuBee
Pair : Uchiha Sasuke Hyuga Hinata
Warning : Typo, abal, OOC, etc.
Sasuke berlari menelusuri taman bunga dengan perasaan khawatir yang luar biasa. Dia mengabaikan tatapan bingung orang-orang dan tatapan penuh damba beberapa gadis saat melihat Sasuke dengan cucuran peluh di sekitar wajah dan lehernya.
Saat sampai di taman bunga matahari, Sasuke menghembuskan nafas lega ketika onixnya berhasil menatap punggung seorang gadis yang sangat dikenalnya. Dia segera berbegas berjalan menghampiri Hinata.
"Le.. Lepaskan aku!"
Mendadak perasaan lega Sasuke dengan cepat berubah menjadi amarah ketika dia melihat Hinata yang saat ini sedang digoda oleh seorang lelaki.
Sasuke mengepalkan tangannya ketika mata kelamnya menangkap kondisi Hinata yang terlihat sedang ketakutan.
"Ayolah Nona. Kau jangan malu-malu! Aku jamin kita akan bersenang-senang." Ucap seorang pemuda berkulit gelap sambil memegang tangan Hinata yang masih mencoba berontak.
"Ugh. To.. Tolong le.. Lepaskan aku!" Tubuh Hinata bergetar ketakutan.
"Ayolah ikut sebentar saja!"
Sreeettt..
"Lepaskan tangan kotormu darinya!" Sasuke mendesiskan ancaman dengan nada yang dingin disertai tatapan membunuh.
"Sa.. Sas..suke." Hinata tidak dapat menyembunyikan nada lega yang tampak diantara derai air matanya.
"Lepaskan tanganmu darinya!" Sasuke mencengkeram kuat pergelangan tangan pemuda yang kini berada di genggamannya.
"Aaakkkhhh." Sasuke semakin mempererat cengkeramannya tanpa mempedulikan kondisi pemuda di hadapannya. Dia memang berniat mematahkan pergelangan tangan orang yang telah dengan berani mengganggu 'miliknya'.
Pemudah itu meringis kesakitan. Dia berusaha melepaskan cengkeraman Sasuke dari pergelangan tangannya. Tapi segala usaha yang dia lakukan seolah adalah hal sia-sia karena semakin dia memberontak, kekuatan Sasuke justru akan semakin besar.
Cengkeraman Sasuke yang begitu kuat mampu membuat pemuda itu melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan kiri Hinata yang sejak tadi belum dia lepaskan. "Aamm.. ammppuuuun." Ucapnya sambil terus berusaha melepaskan diri.
Bagus, sejak tadi Sasuke sudah berusaha sekuat tenaga meredam emosinya untuk tidak menghajar dan mematahkan tangan Toneri yang terus 'berkeliaran' berusaha menyentuh Hinata. Beruntung saat ini ada seseorang yang dengan 'suka rela' mau menyerahkan tangannya untuk dijadikan sebagai korban pelampiasan kekesalan Sasuke.
Suara raungan pemuda itu membuat beberapa pengunjung mulai memperhatikan mereka. Hinata yang ketakutan melihat amarah Sasuke mendadak merasa bahwa saat ini otaknya telah kosong dan tidak dapat memikirkan apa pun.
'Ini tidak benar. Sasuke tidak boleh terus begini. Aku tidak ingin dia mendapat masalah karena menolongku.'
Tanpa berpikir panjang, Hinata segera menubrukkan dirinya ke arah Sasuke. Memeluknya dari arah samping.
Tindakan Hinata ini sukses membuat Sasuke membeku seketika, amarahnya meluap begitu saja, emosi yang tadi sempat memenuhi kepalanya mendadak hilang tanpa bekas.
Sasuke terpaku, membuat kekuatan cengkeramannya menjadi lemah tak bertenaga. Merasakan hal itu, pemuda berkulit hitam tersebut langsung menarik tangannya yang telah mati rasa dan segera melarikan diri secepat yang dia bisa.
Tubuh Hinata yang masih belum berhenti bergetar membuat Sasuke segera sadar dari keterdiamannya. Sasuke yang menyadari masih adanya sisa ketakutan dalam diri Hinata segera berusaha menormalkan jantungnya yang seolah siap meloncat keluar saat ini juga.
Sasuke kemudian membawa Hinata ke dadanya, dia melingkarkan kedua tangannya di sekeliling tubuh gadis itu berusaha memberikan rasa aman kepadanya.
"Tenanglah!" Sasuke membelai surai indigo Hinata yang sedikit tertiup angin.
Bukannya tenang, mendengar ucapan Sasuke justru membuat tangis Hinata semakin menjadi. "Sas.. Sasu.. Suke." Panggil Hinata. Hati Sasuke menghangat ketika mendengar Hinata memanggil namanya. Tubuh Hinata masih bergetar begitu hebat.
"Hm. Aku di sini."
"Sas.. Suke." Hinata terus memanggil nama Sasuke seolah sedang meyakinkan diri bahwa bungsu Uchiha itulah yang benar-benar telah menolongnya.
"Iya. Aku di sini. Tenanglah!" Sasuke semakin mengeratkan pelukannya pada Hinata. Menbaui seluruh aroma gadis itu yang kini benar-benar telah menjadi candunya.
"Aku.. Aku sangat takut." Hinata terisak, ia mencengkeram bagian belakang jaket yang Sasuke pakai dengan erat.
Sasuke melepaskan pelukannya, dia melarikan kedua telapak tangannya ke wajah Hinata kemudian mengangkatnya, mempertemukan onix dengan lavender. "Hei, dengarkan aku Hinata!" Hinata terkesiap ketika mendengar nada lembut Sasuke. Ini adalah pertama kalinya Sasuke memanggil namanya.
"Hinata." Sasuke menatap manik lavender favoritnya itu dengan lekat. "Selama ada aku, tidak akan terjadi apa pun padamu." Ucap Sasuke seolah membuat janji. "Kau percaya padaku kan, Hime?"
Seolah terhipnotis, Hinata mengangguk mendengar perkataan Sasuke. Sejak dulu, sekarang, hingga nanti, tidak pernah sekalipun Hinata meragukan Sasuke. Dia selalu mempercayai Sasuke di hatinya, bahkan dengan segenap jiwanya, tulus dan tanpa pamrih.
Dengan tubuh yang masih sedikit bergetar, Hinata tersenyum begitu manis menatap Sasuke, membuat Sasuke juga ikut menampilkan senyum kecil membalas Hinata. Dia melarikan ibu jarinya ke arah garis air mata yang terbentuk di pipi tembam gadis itu.
Sasuke menatap penuh cinta ke arah Hinata, dia sadar bahwa sekarang dia telah terjatuh sangat dalam, terperosok begitu jauh ke dalam pesona seorang Hyuga Hinata. Namun aneh, saat ini Sasuke justru merasa begitu lega. Dia merasa bebas seolah belenggu yang selama ini mengikatnya telah terlepas melalui kekuatan menakjubkan yang tanpa disadari telah dikeluarkan oleh gadis lembut dan anggun yang kini dalam dekapannya.
Yah, sekarang Sasuke sadar dimana dan seperti apa kedudukan Hinata di hatinya. Dia tahu dan kini dia tidak akan menyangkalnya lagi. Justru sebaliknya, Sasuke yang sekarang akan berusaha mendapatkan Hinata untuk benar-benar menjadi miliknya. Dia tidak akan membiarkan Hinata pergi darinya lagi dan kembali membuatnya nyaris gila seperti tiga tahun yang lalu.
Sasuke melembutkan tatapan onixnya, dia yakin bahwa Hinata juga memiliki perasaan yang sama seperti yang dia rasakan. Tatapan yang diberikan Hinata kepadanya sama seperti tatapannya saat ini.
Sasuke kemudian memajukan wajahnya membuat Hinata merasakan gemetar dan berdebar dalam waktu yang bersamaan. Hinata menutup matanya saat wajah Sasuke berada tepat di depan hidungnya.
Hinata terkesiap saat merasakan sesuatu yang lembut menyentuh dahinya. Sasuke memejamkan matanya meresapi aroma lavender yang merasuk melalui indra penciumannya, dia masih memberikan kecupan sayang pada dahi berponi Hinata. Hinata ikut memejamkan matanya, hatinya menghangat merasakan perlakuan lembut yang diberikan Sasuke kepadanya
"Jangan menangis, Hinata!" Sasuke menatap Hinata.
Tatapan Sasuke yang penuh kelembutan disambut dengan anggukan pelan oleh Hinata. Sasuke tersenyum samar kemudian membawa Hinata kembali ke dalam pelukan hangatnya.
Hinata tidak dapat menyembunyikan senyum bahagianya. Wajahnya merona merah saat dia dengan leluasa dapat menghirup rakus seluruh aroma Sasuke yang mampu ditangkapnya.
"Terimakasih, Sasuke."
Sasuke pun sama, dia menahan diri sekuat tenaga untuk tidak tersenyum lebar seperti orang bodoh. Jika saja dia tidak memikirkan ego Uchihanya yang begitu tinggi, bisa dipastikan bahwa Sasuke akan menampilkan senyum bahagianya sampai ke batas telinga.
Sasuke menghirup dalam-dalam aroma lavender di pucuk kepala Hinata. Dia semakin mempererat pelukannya.
"Hn."
Hinata dan Sasuke berpelukan cukup lama, mereka seolah hanyut dengan keberadaan satu sama lain tanpa mempedulikan kondisi yang ada di sekitar mereka. Ketika Sasuke merasa Hinata sudah lebih tenang, dia melepaskan pelukannya dengan sedikit perasaan tidak rela.
Sasuke begitu ingin membawa Hinata kembali ke pelukannya saat dia melihat wajah cantik gadis itu yang sudah merona merah, dia sedikit tersenyum saat melihat Hinata yang tertunduk malu. Ah, tak tahukah bahwa ekspresi yang ditunjukkan Hinata membuat Sasuke kesulitan untuk menahan diri?
"Ayo kita jalan-jalan!" Sasuke meraih tangan kiri Hinata untuk di genggamnya. Mereka berjalan bergandengan menelusuri taman bunga matahari. Tidak ada yang bersuara, namun lagi-lagi mereka merasa nyaman dengan ketenangan ini.
Sesekali Hinata terlihat mencuri pandang ke arah Sasuke yang terlihat tenang berjalan menatap ke depan. 'Sasuke begitu tampan.' Pandangannya kemudian turun ke arah tautan tangan mereka. 'Tangan Sasuke begitu besar, dan hangat.'
Bagi Hinata, semua yang dia rasakan kini seolah hanya seperti mimpi. Tiga tahun lalu Hinata hanya mampu menatap punggung Sasuke dari kejauhan, dia tidak pernah berpikir bahwa suatu saat mimpinya untuk bisa pantas berdiri di samping Sasuke dapat terwujud. Hinata tersenyum saat mengingat betapa dulu dia begitu berharap mampu berjalan berdampingan dengan Sasuke.
"Kenapa?" Sasuke menatap Hinata yang masih tersenyum.
Hinata menggeleng tanpa menghilangkan senyumnya. "Eh, Uchiha." Hinata menatap bingung ke arah Sasuke yang sedang mengernyit tak suka melihat ke arahnya. "Kenapa?" Tanyanya polos.
Sasuke mendengus. "Tadi kau sudah memanggil namaku, dan sekarang kau kembali menyebutku Uchiha lagi."
Ucapan Sasuke membuat Hinata merona. "Emmm, aku berpikir kau tidak suka jika aku memanggilmu begitu."
Sasuke berhenti berjalan. Dia menatap Hinata dengan intens membuat Hinata menundukkan wajahnya. "Tidak!" Hinata mendongakkan kepalanya dengan cepat, ada perasaan kecewa di hatinya. "Aku memang tidak suka kau memanggilku begitu, mulai sekarang panggil aku, Sasuke-kun! Mengerti?"
Sasuke kembali berjalan dengan tetap menggenggam tangan Hinata. Dia menolehkan wajahnya ke kiri, berusaha menyembunyikan senyumnya.
Hinata tertegun, dia berusaha mencerna maksud dari ucapan Sasuke tadi, tidak lama kemudian Hinata kembali menampilkan senyum cantiknya. "Sasuke-kun." Ucap Hinata lirih seolah berbicara pada dirinya sendiri. Meskipun lirih, dengan jarak yang begitu dekat Sasuke tetap dapat mendengar ucapan Hinata. Bahkan semburat merah telah menjalar tipis di kedua pipi pucatnya. "Em, berarti mulai sekarang kau juga harus memanggilku Hinata, Uch.. Uh, Sassukke-kun."
"Hn."
Hinata menggembungkan pipinya, dia menatap Sasuke dengan kesal. "Katakan yang jelas Sasuke-kun! Aku tidak paham apa arti gumamanmu itu."
Sasuke melihat wajah Hinata yang menurutnya terlihat sangat menggemaskan. "Ck, iya-iya, Hinata." Walaupun terlihat kesal, nyatanya Sasuke justru tidak mampu menyembunyikan senyumnya.
Hinata terlihat senang saat mendengar Sasuke menyebutkan namanya, kemudian dia tertegun ketika mengingat sesuatu. "Oh iya, kenapa tadi kau bisa ada di sini?" Hinata menatap Sasuke dengan wajah ingin tahu.
Deg.
Sasuke mengalihkan wajahnya ke depan, mencoba menghindari tatapan mata Hinata. "Memangnya kenapa? Inikan tempat umum."
"Ck. Aku tahu ini tempat umum. Tapi ini adalah kebetulan yang sangat tidak biasa." Hinata masih menatap Sasuke dengan penuh tanya.
"Bisakah kau cukup mengucapkan terimakasih saja!" Sasuke menatap Hinata kesal.
Hinata menatap Sasuke tidak percaya, dia kan hanya bertanya. Tapi kenapa Sasuke menjadi kesal. Membuatnya merasa semakin curiga saja. "Ck, terimakasih. Tapi aku tetap heran kenapa kau bisa ada di sini. Atau jangan-jangan.." Hinata menaikkan telunjuknya ke arah Sasuke.
"Tadi aku dan Naruto melakukan penelitian di sini. Dengan Sai dan Shikamaru juga. Memangnya hanya kau yang memiliki tugas?"
Hinata mengabaikan nada sinis pada kalimat terakhir yang Sasuke ucapkan seolah tidak mendengarnya. "Benarkah? Dimana mereka?" Hinata menengok ke kanan kiri seolah mencari keberadaan Naruto dan yang lainnya.
"Mereka sudah pulang lebih dulu."
"Oh." Hinata membulatkan bibir mungilnya sambil mengangguk-angguk dengan lucu. Diam-diam Sasuke menghembuskan nafasnya lega, beruntung Hinata tidak bertanya lebih banyak lagi kepadanya.
"Sasuke-kun, ayo kita ke sana!" Hinata dengan bersemangat menarik Sasuke untuk berjalan mengikutinya. Dia melepaskan tangan Sasuke begitu mereka sampai di dekat danau "Waaah, indah sekali." Hinata merentangkan tangannya sambil menatap ke arah matahari terbenam.
Sasuke tertegun melihat Hinata yang begitu cantik, cahaya matahari senja membuat Hinata terlihat seperti seorang peri, rambut indigonya yang panjang tertiup angin membuatnya bergerak begitu indah, apalagi saat ini Hinata sedang mengenakan dress berwarna putih. Diam-diam Sasuke meraih ponsel di sakunya kemudian mengambil potret gadis cantik itu dalam background langit jingga yang tengah dipandangnya.
Sasuke membiarkan Hinata menikmati matahari terbenam sambil tetap berdiri di belakangnya. Saat Sasuke menunduk, dia melihat ada beberapa jenis bunga liar yang sedang tumbuh di sekitar kakinya. Sasuke kemudian mengambil beberapa tangkai bunga dengan warna yang bermacam-macam, dia mulai mengikatnya menjadi sebuah rangkaian yang indah.
Hinata menengokkan kepala saat dia merasakan Sasuke yang berdiri di sampingnya. Hinata tertegun saat Sasuke merapikan sedikit rambutnya yang tertiup angin. "Sasuke-kun?"
"Hn."
Hinata tidak sempat menggerutu gumaman Sasuke seperti tadi karena saat ini lidah Hinata terasa begitu kelu ketika menyadari bahwa Sasuke tengah melangkah semakin dekat ke arahnya hingga membuat ujung kedua sepatu mereka hampir bersentuhan.
"Indah sekali." Mata Hinata berbinar saat melihat sesuatu di tangan Sasuke. Sasuke membawa sebuah rangkaian bunga yang sebelumnya dia buat. Hinata menatap takjub ke arah rangkaian bunga yang berbentuk menyerupai mahkota itu. Ada beragam bunga di sana dengan warna yang berbeda-beda, terlihat sederhana tapi sungguh sangat indah dan begitu cantik.
Sasuke tersenyum kecil saat melihat reaksi Hinata, dia memakaikan mahkota bunga tadi ke atas kepala Hinata kemudian merapikan poninya yang sedikit berantakan karena tertiup angin.
Sasuke memandang takjub ke arah Hinata yang kini wajahnya tengah merona merah. Di mata Sasuke, saat ini Hinata sungguh-sungguh terlihat seperti seorang peri. Tidak! Bagi Sasuke Hinata bahkan lebih cantik dari seorang peri, Sasuke tersenyum kecil melihat pipi Hinata yang telah memerah. 'Cantik.' Sasuke tersenyum bangga melihat hasil karyanya.
"Terimakasih, Sasuke-kun." Hinata menunduk malu berusaha menyembunyikan wajahnya yang terasa sudah begitu panas.
"Hm." Sasuke mengalihkan lagi perhatiannya ke arah depan, ke arah matahari terbenam. Dia tidak tahu sejak kapan dia mulai menikmati kegiatan yang dulu menurutnya membosankan seperti ini. Yang dia ingat hanyalah dia tidak pernah melewatkan matahari terbenam sejak kepindahan Hinata dari Konoha. Mungkin Sasuke merasa jika dia melihat sesuatu yang disukai Hinata dapat membuatnya merasakan kehadiran Hinata secara tidak langsung. Entahlah, Sasuke sendiri enggan memikirkannya.
"Indah sekali bukan?" Hinata bertanya tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Sasuke.
"Lebih indah dirimu." Ucap Sasuke tanpa sadar.
"Eh? Kau bicara apa?"
"Tidak! Danaunya juga indah." Ucap Sasuke salah tingkah. Beruntung cahaya matahari sore ini mampu menyamarkan semburat merah di kedua pipinya. Sasuke menyentuh dadanya yang berdebar. 'Sial.'
"Iya, tempat ini begitu indah. Aku akan mengingat hari ini sebagai salah satu kenangan yang tidak akan pernah aku lupakan." Hinata tersenyum ke arah depan, meskipun begitu Sasuke dapat melihat ada sorot sendu di manik lavender Hinata.
Sasuke menatap Hinata dengan begitu intens, dia mencoba mendalami apa arti tatapan gadis itu. Tatapan sendu itu, mungkinkah karena dirinya? Karena dia telah menorehkan luka di hati Hinata? Sasuke menghembuskan nafasnya dengan berat kemudian dia mengalihkan pandangannya ke depan, riak air danau semakin menambah keindahan tempat ini.
"Keindahan hanyalah bagian dari perspektif subyektif dari tiap orang. Nyatanya, setiap orang memiliki indikator keindahan yang berbeda dengan orang lainnya." Sasuke menatap Hinata sebentar kemudian mengalihkan pandangannya lagi ke depan. "Sesuatu yang tidak terlihat indah bagi seseorang, belum tentu tidak indah juga bagi orang lainnya, itu semua hanya tergantung dari segi mana seseorang melihat. Keindahan yang sejati adalah berasal dari diri sendiri, bukan tergantung pada nilai yang diberikan orang lain."
Deg.
Hinata tertegun menatap Sasuke. 'Apa maksud ucapan Sasuke?' Hinata menatap Sasuke dengan pandangan yang sulit diartikan.
Sasuke mengalihkan tatapannya kembali kepada Hinata yang saat ini masih mengerutkan dahinya. Sasuke tersenyum. "Ayo kita pulang." Sasuke mengulurkan tangannya.
Hinata terpaku menatap ke arah tangan Sasuke, kemudian dengan malu-malu dia menyambut uluran tangan itu dengan pipi merona.
Mereka berjalan dengan bergandengan. Menikmati angin musim semi yang bertiup menebarkan aroma harum dari bunga-bunga yang ada di sekitar mereka.
Beberapa orang yang berpapasan dengan mereka terlihat begitu takjub melihat keduanya. Mereka benar-benar terlihat seperti pasangan yang sangat serasi. Si gadis begitu cantik dan si pria terlihat sangat tampan. Tidak ada seorang pun yang tidak mengakui itu.
Pandangan Sasuke menangkap sesuatu yang tidak jauh dari mereka berdiri. "Tunggu di sini sebentar!" Sasuke berjalan meninggalkan Hinata yang masih kebingungan.
'Kemana dia?'
Tidak lama kemudian Sasuke kembali membawa sebuah karton berukuran sedang. Dia kembali menggenggam tangan Hinata dan membawanya ke arah mobilnya.
"Apakah perlu aku antar sampai dalam?" Sasuke bertanya saat mereka telah sampai di depan gerbang mansion Hyuga.
Hinata tersenyum kemudian menggeleng. "Tidak perlu Sasuke-kun. Maaf aku tidak menawarkanmu untuk mampir." Kali ini Hinata tidak kesulitan melepas sabuk pengamannya. "Terimakasih sudah mengantarku, untuk makan malam, dan untuk semua yang terjadi hari ini." Hinata tersenyum begitu tulus ke arah Sasuke.
Senyuman Hinata membuat Sasuke terpaku. Begitu mudahnya mendapat senyuman tulus dari gadis indigo ini. "Tidak masalah, Hinata."
"Em, baiklah. Aku turun dulu, selamat malam."
"Hinata?" Sasuke tergesa-gesa turun dari mobilnya kemudian berjalan menyusul Hinata yang telah berjalan melewati pintu gerbang. Dia mengulurkan sebuah karton yang tadi dibelinya.
"Apa ini?" Tanya Hinata bingung saat menerimanya.
"Kau lihat saja!"
Hinata membuka karton tersebut perlahan. Dia tidak dapat menyembunyikan raut terkejut di wajahnya. "Untukku?"
Sasuke mengangguk membuat Hinata tersenyum senang. "Terimakasih, Sasuke-kun. Ini sangat indah." Hinata menatap dengan pandangan berbinar sebuah pot berukuran sedang berisi sebuah tanaman lavender yang sedang berbunga kecil.
"Hmm." Sasuke mengacak pelan rambut halus Hinata. "Aku pulang dulu." Hinata memberikan senyum manisnya ke arah Sasuke yang sedang menyalakan mesinnya. Saat mobil Sasuke sudah hilang dari pandangannya, Hinata berjalan melewati halaman mansion dengan perasaan bahagia yang luar biasa, senyum indahnya tidak pernah lepas dari wajahnya.
Ketika sampai di kamarnya yang memiliki nuansa lavender begitu kental, Hinata segera meletakkan pot bunga lavendernya di sebuah meja yang terletak di dekat tempat tidurnya.
Hinata berjalan ke arah cermin besar seukuran tubuhnya. Tangannya bergerak ke arah rangkaian bunga yang masih berada di kepalanya. Wajahnya kembali merona saat mengingat perlakuan manis yang Sasuke berikan kepadanya hari ini. "Sasuke-kun." Hinata meraba dadanya yang berdebar kencang tapi terasa begitu menyenangkan.
Hinata melangkahkan kakinya ke arah ranjang berukuran queen size miliknya, tersenyum menatap bunga lavender pemberian Sasuke tadi. "Terimakasih, Sasuke-kun. Aku akan selalu merawatnya." Ucap Hinata sambil mengelus kelopak lavender yang masih kuncup.
* * *
"Apakah kau yakin kau tidak ingin ikut kami?" Hinata menggeleng ke arah Sakura dan Ino yang menatapnya kecewa.
"Tenten ada acara dengan Neji. Tapi kenapa kau juga tidak bisa ikut kami?"
"Maaf Ino? Mungkin lain kali." Hinata tersenyum berusaha meyakinkan mereka.
"Tapi apakah kau bawa mobil, Hinata?" Sakura mendesah saat melihat Hinata yang sedang menggeleng. "Lalu bagaimana kau pulang? Kenapa Neji tidak menunggumu dan justru pergi kencan?"
"Sakura, Neji-nii sebentar lagi akan segera berangkat melanjutkan kuliahnya. Jadi wajar kalau dia membutuhkan waktu lebih banyak agar bisa bersama Tenten."
"Tapi tetap saja Hinata, sebaiknya aku meminta seseorang untuk mengantarmu..."
"Kau lihat! Cowok tadi sangat tampan."
"Benar dan dia sangat imut."
"Kyaa.. Tadi aku melihatnya tersenyum."
Ino dan Sakura berhenti berbicara saat mereka mendengar beberapa gadis sedang membicarakan seorang cowok tampan. Hei, siapa juga gadis yang tidak tertarik dengan pembicaraan seperti itu?
"Ada apa sih, Jidat?"
Sakura memutar matanya malas. "Mana aku tahu, Pig. Sejak tadi kan aku bersamamu."
"Hei, apa ada sesuatu yang sedang terjadi?" Hinata menggelengkan kepalanya saat melihat Ino yang seenaknya menghentikan seorang junior yang berjalan melewati mereka.
"Ah, temanku berkata ada seorang pria tampan sedang menunggu seseorang, Senpai." Junior itu menjawab Ino dengan takut.
"Seperti apa orangnya?"
"Entahlah, Senpai. Aku juga belum melihatnya."
"Baiklah, kau boleh pergi." Ino kemudian menarik tangan Hinata dan Sakura untuk berjalan mengikutinya. "Ayo kita lihat cowok tampan!" Ucapnya dengan bersemangat.
Hinata hanya menggelengkan kepalanya menatap Ino. "Tapi Ino.."
"Ayolah, sebentar saja Hinata. Lagipula kita sedang berjalan ke arah gerbang bukan?"
Hinata menatap Sakura mencoba meminta tolong, tapi sama halnya dengan Ino, nyatanya Sakura juga menampilkan wajah yang tak kalah antusiasnya. Hinata hanya mampu menghembuskan nafasnya dengan berat mengikuti langkah kedua sahabatnya.
"Hinata?" Hinata mendongak saat mendengar seseorang tengah memanggilnya. Dia menengok ke arah Sakura dan Ino yang berada di sampingnya, tapi mereka justru sedang menatap ke arah depan dengan menampilkan ekspresi terkejut.
"Hinata?" Sebuah suara bass dari arah depan membuat Hinata mendongak. Matanya membola saat melihat siapa sosok yang ternyata menjadi bahan pembicaraan seluruh gadis di sepanjang koridor tadi.
Beberapa gadis memekik saat melihat cowok yang tadi menyenderkan tubuh tegapnya pada body mobil sport miliknya tengah berjalan menghampiri Hinata yang masih terpaku di tempatnya. "Kau sudah pulang?"
"Sasori-kun?" Hinata memiringkan kepalanya menatap Sasori dengan tidak percaya.
Sasori terkekeh melihat respon Hinata. Dia mengacak rambut Hinata pelan. "Ini aku, Hime. Ayo kita pulang?"
"Tapi bagaimana kau bisa di sini?"
"Tentu saja aku di sini untuk menjemputmu, tidak mungkin aku akan membiarkanmu pergi menemuiku menggunakan bus." Sasori tersenyum ke arah Hinata membuat beberapa gadis yang melihatnya berteriak histeris. Sakura dan Ino berpandangan, sekarang mereka mengerti kenapa Hinata menolak ajakan mereka tadi.
Sasori menggenggam tangan kiri Hinata sambil tetap tersenyum. "Ayo, Hinata?" Sasori melangkahkan kakinya untuk berjalan terlebih dahulu.
"Eeeeh?" Hinata berbalik saat dia merasakan seseorang menarik tangan kanannya yang masih bebas. Beberapa gadis di sekitarnya kembali terpekik saat melihat adegan tersebut.
Lavender Hinata membola saat pandangannya menangkap siapa sosok yang telah menahan tangannya. "Sass.. Sassuuke-kun."
