Disclaimer:
Naruto © Kishimoto Masashi
Kekkon Sagi © Haruno Aoi
Setting: selalu AU
Warning: selalu OOC, fanfic picisan pembangkit mood author, masih berhubungan dengan Cintaku Seperti Hantu dan Mertuaku Seperti Hantu
.
.
.
-x- Kekkon Sagi -x-
~Conjugality~
.
.
.
Sasuke duduk bersila di kursi belajarnya dengan pandangan serius ke layar laptopnya yang berada di meja. Kedua telinganya tertutupi headphones hitam yang memperdengarkan audio dari tampilan visual yang dinikmatinya. Napasnya tampak menderu. Titik-titik keringat mulai bermunculan di wajahnya.
Sementara itu Mikoto yang mengetuk pintu kamarnya sejak beberapa menit yang lalu, tak kunjung mendapatkan sahutan darinya, bahkan mendengar seruan ibunya itu pun tidak. Ia juga belum merasakan pergerakan ibunya yang membuka pintu kamarnya yang ternyata tidak terkunci. Ia benar-benar memusatkan perhatian penuh pada apapun yang ditanggap indra penglihatnya, juga menyimak segala suara yang langsung diterima telinganya.
"Sas—astaga!"
Sasuke nyaris memekik tatkala menyadari kehadiran ibunya di belakangnya. Ia bangkit dengan tergesa-gesa, menyebabkan terputusnya sambungan headphones dengan laptop, sehingga suara-suara aneh langsung memenuhi udara.
"B-biar aku jelaskan, Bu!" Sasuke dengan segala kegugupannya menutup laptopnya dengan cepat dan menjauhkan headphones dari telinganya—tak peduli jika setelahnya benda berwarna hitam itu terjatuh di bawah meja belajarnya.
Ekspresi kaget Mikoto yang semula berbaur rasa tak percaya, kini berubah datar dengan tatapan tajam yang mengarah tepat pada sepasang mata kelam Sasuke. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menunggu apapun yang hendak dijelaskan oleh putra bungsunya yang sekarang terlihat seperti kehilangan kemampuan untuk berbicara.
"A-aku mengerjakan tugas, Bu—"
"Ibu belum pikun, Sasuke … kamu mahasiswa farmasi, bukan seksologi—dan Ibu juga tidak yakin kalau mempelajari ilmu tentang seksualitas harus menonton video porno seperti yang kamu lakukan barusan."
Sasuke makin tidak bisa berkata-kata lantaran ibunya bisa begitu frontal dalam keadaan yang membuatnya ingin mengubur dirinya sendiri.
Mikoto pun sebenarnya tidak ingin mempermasalahkannya, toh Sasuke sudah menikah. Hanya saja ia masih kesal lantaran panggilannya untuk mengajak Sasuke santap malam tidak diindahkan, dan ternyata putranya itu malah keasyikan berada di dunianya sendiri, padahal sang kepala keluarga sudah menanti di meja makan. Kalau Sasuke menyahut sekali saja, ia tidak akan lancang memasuki kamar si bungsu itu tanpa izin—apalagi semenjak kamar tersebut juga dihuni oleh Hinata. Tindakannya tadi semata-mata lantaran kecemasan yang dirasakannya setelah terbayang sesuatu yang tidak ia inginkan terjadi pada Sasuke.
Yah, nyatanya memang terjadi sesuatu pada Sasuke, dan itu bukanlah hal yang buruk. Rasanya sia-sia saja kekhawatirannya tadi.
"A-aku benar-benar mengerjakan tugas, Bu … sebelum—"
"Sebelum…?" Mikoto tampak tak sabar.
"Sebelum aku membuka email dari Sai yang berisi link—video itu…" Suara Sasuke terdengar semakin mencicit. Tenggorokannya serasa tercekik.
"Makanya cepat temui Hinata," desis Mikoto yang terlihat lebih rileks. Ia bisa menerima alasan mengapa Sasuke tidak mengunci pintu kamar dalam keadaan yang mutlak membutuhkan privasi. Mungkin memang terlupa—atau juga lantaran terlalu bernafsu pada godaan yang ditawarkan oleh sang sepupu—sehingga tidak mengunci pintu kamar seperti biasanya ketika hanya mengerjakan tugas akademisnya.
"Iya, Bu…" Sasuke mendengus dan kembali mendudukkan dirinya di kursi belajarnya. "Tapi kan aku juga harus menyesuaikan dengan jadwalku…"
"Ah, cuma alasan." Mikoto mencibir, membuat nyali Sasuke kembali menciut. "Ibu tahu minggu ini kamu tidak ada pemotretan, dan kamu bisa ke Suna saat akhir pekan—kalau kamu enggan meninggalkan kuliah…"
Sasuke hanya menghela napas panjang dengan kepala tertunduk. Hubungannya dengan Hinata belum membaik sejak keduanya terlibat pembicaraan alot via telepon malam itu. Ia bahkan belum menanyakan lagi perihal sakit yang kala itu dikeluhkan Hinata kepadanya.
Di lain sisi Mikoto berpikir bahwa Sasuke tengah berada dalam danger zone, dan ia tidak mau jika setelah beberapa minggu atau sekian bulan ke depan ada wanita asing yang mengaku sedang mengandung calon cucunya. Itu sebabnya ia terus mendesak Sasuke untuk segera menemui Hinata yang sudah menjadi menantu sahnya. Lebih dari itu, ia berharap Sasuke lebih memerhatikan Hinata yang katanya baru sembuh dari sakit, sekalian ia ingin menitipkan kue kering buatannya untuk menantu keduanya tersebut.
.
.
.
"Pergi ke Suna pada musim panas begini adalah ide buruk," komentar Houzuki Suigetsu—teman satu jurusan Sasuke, yang sudah dikenalnya sejak masa orientasi mahasiswa baru.
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana panasnya," timpal temannya yang lain dari fakultas kedokteran hewan, Tenbinno Juugo, yang duduk di sebelah Suigetsu.
Kali ini Sasuke tidak sependapat dengan mereka. Baginya, selama itu bersama Hinata, ia akan tetap merasa betah di manapun ia berada. Ia menyumpit sedikit nasinya setelah menggigit udang tepungnya. Saat ini mereka bertiga berada di kafetaria pusat Universitas Konoha yang memang selalu ramai pada jam makan siang seperti sekarang. Mereka kembali menikmati makan siang dalam diam hingga Karin menduduki kursi di sebelah Sasuke. Karin lah yang pertama berteman dengan Juugo, lantas mengenalkannya pada Sasuke dan Suigetsu.
"Saat aku mengambil makan di konter, ku perhatikan kalian sedang terlibat percakapan yang sepertinya menarik," kata Karin sebelum meminum sedikit air mineralnya.
"Sasuke menolak ajakanku main boling akhir pekan ini karena katanya akan ke Suna," jawab Suigetsu, "—dan itu bukan obrolan yang menarik."
"Begitu saja seolah-olah ajakan kencanmu habis ditolak oleh kekasihmu," cibir Karin yang memang jarang akur dengan Suigetsu.
"Kalau begitu, kau saja yang menggantikan Sasuke dan bayar tagihannya karena minggu ini gilirannya—"
"Aish, aku akan ganti lain waktu," potong Sasuke, "jadi bisakah kau diam?"
Karin langsung menjulurkan lidah pada Suigetsu yang duduk di seberangnya. "Tapi bisa-bisanya kamu ke bowling alley, sementara gerak-gerikmu selalu dipantau oleh fans…?"
Sebagai sesama model, tentu ia bisa merasakan bagaimana ketika ada penggemar fanatik yang sampai mengikuti aktivitasnya di luar jadwal resmi. Ia bahkan tahu kalau di kafetaria itu ada beberapa mahasiswi yang diam-diam mengambil foto Sasuke. Terkadang ia dibuat kagum sekaligus takut saat menemukan foto-fotonya yang bersifat pribadi diposting di internet. Sungguh pelakunya adalah beberapa penggemar yang lebih cocok disebut stalkers, di antara para fans yang masih menghargai privasi sang idola. Untung saja manajernya tanggap dan cepat membereskan setiap temuan mengenai dirinya yang tidak seharusnya menjadi konsumsi publik.
"Kau tidak tahu saja kalau Sasuke malah tebar pesona di sana," sahut Suigetsu.
Sasuke mendengus, lalu melanjutkan makan siangnya tanpa berkomentar.
Karin pun mencoba mengabaikan Suigetsu dan kembali membuka topik pembicaraan dengan Sasuke, "Ku dengar kamu sempat menolak tawaran kerjasama dengan pemilik merek perhiasan dan jam tangan terkenal—yang sekarang malah melambungkan namamu—hanya karena kamu tidak mau melepas cincinmu…?"
Hanya cincin polos yang melingkar di salah satu jari manis Sasuke, sama sekali tidak tampak istimewa di mata Karin—juga kedua pemuda lainnya yang turut menyimak kata-katanya.
"Ya, dan ku rasa seluruh artis senior di agensi akan menganggapku belagu."
"Aku tidak demikian," protes Karin yang memang lebih dulu bergabung di agensi yang sama dengan Sasuke. Baru sekarang ia mendapatkan kesempatan untuk membahas masalah ini—yang membuat telinganya panas sejak mendengar bisikan kurang mengenakkan di agensi mengenai Sasuke yang mereka sebut sebagai si pendatang baru yang sok. "Dan aku mengerti kenapa mereka akhirnya takluk padamu tanpa mempermasalahkan penolakanmu."
Karin ikut senang melihat kesuksesan Sasuke, dan ia akui bahwa selain memiliki wajah rupawan, sahabatnya sejak sekolah menengah pertama itu juga mempunyai tangan serta jemari yang indah. Pantas saja pemilik toko aksesori mewah dan perhiasan tersohor itu enggan untuk melepaskan Sasuke—yang kini menjadi ikon produk mereka. Pun kalau mau, Sasuke juga bisa menjadi model androgini karena rupanya yang cantik, di samping tampan.
"Tapi aku baru tahu kalau kamu bisa betah memakai aksesori semacam itu," imbuh Karin.
"Ini bukan sekedar pelengkap atau pemanis," balas Sasuke yang kemudian mengecup cincinnya dengan lembut. Ia terkekeh pelan setelahnya, hingga ketiga temannya tidak menganggap serius ucapannya yang disertai tindakan yang cukup mencurigakan.
.
.
.
Sasuke merasa sedikit jengah karena berpasang-pasang mata yang menatapnya sejak ia menginjakkan kaki di stasiun Suna—tak jauh berbeda dengan kejadian yang dialaminya di stasiun Konoha beberapa jam yang lalu. Ia baru tahu kalau ia juga populer di luar Konoha, meski di stasiun milik kota yang terkenal panas tersebut tak ia temui papan iklan dari produk fashion yang dibintanginya.
Sembari melangkahkan kakinya keluar stasiun, ia menutupi kepalanya dengan hoodie jaket gelapnya, juga mulai memakai kacamata hitam yang ia dapat dari sponsor. Mungkin bisa menyembunyikan rambutnya yang sedikit berantakan dan mata mengantuknya. Ia memang sempat tidur selama di shinkansen. Harap maklum karena ia berangkat malam-malam dari Konoha. Tetapi ia memang menargetkan untuk tiba pagi-pagi sekali di Suna.
Ia berjalan dengan sedikit menunduk, menyembunyikan wajahnya dari beberapa kamera ponsel remaja perempuan yang mengarah kepadanya. Ternyata masih ada orang yang tidak menghargai privasinya sebagai seorang artis. Dan lama-lama risih juga menjadi pusat perhatian, terlebih di tempat yang masih asing baginya. Padahal ia mengira masih bisa bepergian dengan bebas seorang diri.
Sekarang ia tidak heran jika manajernya berharap bisa menemaninya begitu ia memberitahukan rencananya kemarin siang. Beruntung ia hanya membawa tas ransel di punggungnya, serta menenteng satu paper bag berukuran sedang yang berisi titipan kedua ibunya untuk Hinata, sehingga ia tidak terlalu repot berjalan dalam situasi yang sedikit menyulitkannya.
Ia segera menyetop taksi setibanya di luar stasiun dan mengatakan tujuannya sesuai catatan yang diberikan oleh ibunya.
.
.
.
"Oh, Sasuke."
Sang pemilik nama mengernyitkan kening karena Hinata hanya berucap demikian setelah sebelumnya tampak lumayan terkejut begitu membukakan pintu flat untuknya. Sekarang pun ia hanya disuguhi wajah dingin Hinata yang tanpa senyum.
Hei, tak ada sambutan hangat? Ditambah sebuah pelukan, mungkin?
Ternyata memang tak ada—sama sekali tak sesuai harapannya—untuk saat ini. Barangkali Hinata masih kesal padanya yang ia akui memang kurang mampu menunjukkan perhatian.
"Kebetulan sekali, aku ada kuliah sebentar lagi." Hinata kembali menyibukkan dirinya dengan tas dan buku-buku tebalnya setelah mempersilahkan Sasuke masuk. "Jadi aku tidak perlu mengunci pintunya kalau kamu di sini."
"Kamu sudah sehat?" Sasuke bertanya seraya meletakkan barang bawaannya di sofa depan televisi yang berada di ruangan yang sama dengan dapur dan meja makan kecil.
"Bisa kamu lihat sendiri." Hinata masih bersikap tidak ramah pada suaminya yang sejatinya sangat merindukannya.
"Sebenarnya kamu sakit apa kemarin dulu?"
"Cuma keracunan seafood."
"Kenapa bisa? Sudah ke dokter?" Sasuke belum menyerah untuk kembali meluluhkan hati Hinata. Ia sadar ia memang salah karena waktu itu lebih mendahulukan keinginannya untuk tidur. Padahal tidak salah jika Hinata sering meneleponnya. Alhasil ia sendiri yang menyesal lantaran belakangan Hinata enggan menjawab telepon darinya, bahkan hanya untuk membalas pesan yang dikirimkannya. Jadi, boro-boro Hinata bersedia menghabiskan banyak pulsa lagi hanya untuk mendengar suaranya melalui telepon.
"Aku tidak tahu kalau masakan ibu Sasori ada kerangnya." Hinata menjawab dengan santai sambil memeriksa kembali isi tas kuliahnya, memastikan tak ada barang penting yang tertinggal.
"Bagaimana bisa kamu makan masakan ibu Sasori?"
"Waktu itu aku banyak tugas dan terlalu malas untuk keluar membeli makan. Sasori yang tahu keadaanku, berbaik hati membagi makan malam kiriman ibunya denganku. Tapi dia tidak tahu kalau aku alergi makanan laut. Jadi dia juga mengantarkanku ke dokter karena mungkin merasa bersalah."
"Oh, baik sekali dia…" Sasuke bicara dengan nada sarkastis disertai senyum kecut. Dadanya terasa sesak mendengar Hinata mengungkapkan kenyataan yang membuat hatinya panas dengan begitu tenangnya. Ia yang semula berdiri untuk mengamati setiap pergerakan Hinata, kini menghempaskan dirinya di sofa yang membelakangi keberadaan sang istri. Badannya lelah, dan mendadak kepalanya terasa berdenyut nyeri. Ia lalu menyandarkan kepalanya di punggung sofa dengan mata terpejam.
"Ah iya, bukankah sebenarnya kamu bisa memanfaatkan jasa delivery order? Kamu suka sekali ya diperhatikan cowok itu…?" cibir Sasuke yang kemudian terkekeh hampa.
"Jangan sedikit-sedikit cemburu. Aku tidak mau berdebat denganmu," balas Hinata yang sudah siap dengan tas yang menyampir di pundak, juga buku yang ia dekap di dada.
Sasuke hanya mendengus tanpa melihat Hinata yang berjalan menghampirinya lalu duduk di sampingnya.
"Selamat datang…"
Sasuke terpaku mendengar bisikan lembut yang disusul kecupan ringan di pipinya.
"Aku hanya ingin memberimu sedikit pelajaran tadi," ujar Hinata seraya tersenyum manis setelah Sasuke balas menatapnya, "—dan tentu saja aku juga terlalu kaget karena kamu tidak bilang akan ke sini."
Sasuke merasa lega sekarang, dan ia masih menyembunyikan rasa senangnya dengan wajah minim ekspresinya.
"Kamu akan tetap pergi kuliah?"
Hinata mengangguk lemah dengan tatapan menyesal. Ia kurang rela meninggalkan Sasuke yang telah menyempatkan untuk mengunjunginya. Sesungguhnya rasa rindunya pun belum terobati.
Ia menunggu dengan berdebar-debar ketika Sasuke memajukan wajah, kemudian menyatukan bibir keduanya. Matanya terpejam dan dekapan lengannya pada bukunya makin mengerat tatkala Sasuke meraih tengkuknya untuk memperdalam ciuman.
"Aku akan cepat pulang begitu kuliah selesai," janji Hinata selepas dari rengkuhan Sasuke. "Sebaiknya kamu istirahat dulu."
"Baiklah, kita tunda bagian intinya untuk nanti."
Hinata masih harus mencerna perkataan Sasuke. Begitu paham, pipinya yang bulat tampak kemerahan menahan malu. Melihat senyum jail Sasuke, ada keinginan untuk menggoda suami tampannya itu, dan ia pun melakukannya, "Tentu, untuk nanti malam."
Sasuke menyeringai. Buru-buru Hinata mengalihkan perhatian agar tak semakin terjerat oleh pesona suaminya sendiri. Ia merapikan pakaiannya sebelum berjalan ke pintu depan dengan sang suami yang mengekor padanya.
"Aduh, aku baru ingat kalau kulkas hampir kosong. Mungkin aku harus belanja dulu sepulang dari kuliah." Hinata meminta Sasuke untuk membawakan buku tebalnya selama ia mengenakan sepatunya yang bertali.
"Nanti kamu langsung pulang saja. Aku akan menemanimu belanja," ujar Sasuke yang kemudian memberikan ciuman selamat jalan di kening Hinata.
"Oke."
"Jangan selingkuh ya di belakangku…" pesan Sasuke dengan nada main-main.
Hinata terkikik pelan dan meninggalkan flatnya dengan langkah ringan. Mana bisa ia berselingkuh jika ia sudah memiliki seorang Uchiha Sasuke…?
.
.
.
Sepeninggal Hinata, Sasuke meletakkan titipan kedua ibunya di meja dapur, lalu membawa tasnya ke satu-satunya kamar tidur yang ada. Ia ingin mandi karena badannya terasa gerah. Tidak salah jika Suna dijuluki sebagai kota yang panas, karena sekarang ia sudah mulai merasakannya. Ia cepat-cepat melepas jaketnya yang sedari tiba tadi lupa ia buka. Berikutnya kaus berlengan pendek yang kini tampak gelap di beberapa bagian lantaran basah oleh keringat.
Ia sudah bertelanjang dada ketika bel berbunyi. Dengan sangat terpaksa ia mengenakan kausnya kembali sebelum beranjak ke pintu depan. Bagaimanapun ia adalah seorang pemuda yang masih menjunjung kesopanan. Rasanya tidak beradab jika ia menerima tamu—terlebih di daerah yang mungkin berlainan adat dengan kampung halamannya—dalam keadaan tidak berpakaian lengkap.
"Wow."
Sasuke mendecih disertai tatapan tak bersahabat. Padahal ia berharap tidak bertemu dengan pemuda di depannya itu selama ia berada di Suna. Jangan-jangan pemuda yang menurutnya menyebalkan tersebut memang sering bertandang ke flat istrinya seperti saat ini. Jika benar, ia sungguh-sungguh ingin membawa Hinata pulang ke Konoha dengan segera.
"Artis nyasar, eh?" sambung Sasori selepas dari rasa terkejutnya mendapati rival abadinya yang membukakan pintu untuknya. "Mana Hinata?"
"Untuk apa kau mencarinya?"
Sasori malah terkekeh. "Kau tak berubah ya, dude—masih saja ketus," cibirnya. "Lagipula kenapa kau ada di sini?"
"Jawab saja pertanyaanku." Sasuke mendesis.
Sasori mendengus. "Kalau Hinata belum berangkat, aku akan mengajaknya bareng seperti biasanya. Kebetulan hari ini jam masuk kuliah kami sama."
Seperti biasanya, katanya? Dan … kami? Sasuke langsung mengumpat-umpat dalam hati. Andai saja ia yang satu kampus dengan Hinata.
"Ada masalah?" ledek Sasori yang kelihatan senang dengan perubahan mimik Sasuke.
"Ku anjurkan kau cepat enyah dari hadapanku sebelum aku membantingmu."
Sasori tergelak lantaran ancaman Sasuke justru terdengar lucu di telinganya. Dan ia menyimpulkan kalau Hinata sudah tidak berada di flat itu.
"Kalau begitu, sampai jumpa lagi, kawan…"
Sasuke membanting pintu, enggan menyaksikan tawa menyebalkan si pemuda yang selalu berhasil merusak moodnya.
.
.
.
Hinata berusaha lepas dari kungkungan lengan Sasuke tanpa ingin membuat suaminya itu terbangun dari tidur lelapnya. Ia mengerjapkan matanya yang masih mengantuk. Cahaya jingga kemerahan masuk kamarnya melalui jendela yang tirainya tidak tertutup, membuatnya silau sebelum penglihatannya membiasakan dengan keadaan. Agaknya hujan sudah reda. Namun titik-titik air masih tampak di jendela kaca kamarnya.
Ia mendudukkan dirinya dengan selimut yang masih ia peluk agar menutupi tubuhnya yang polos. Apa yang ia lakukan bersama suaminya sebelum tertidur, kembali terbayang di benaknya layaknya video yang diputar ulang. Ia mengulum senyum, lalu menyembunyikan wajahnya yang memerah di lututnya yang menekuk dan ia peluk. Meski bukan untuk pertama kalinya mereka melakukannya, ia masih saja merasa malu jika mengingatnya.
Ia meraih pakaiannya yang terserak dan buru-buru memakainya sebelum bergerak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia juga memunguti pakaian Sasuke yang akan ia cucikan. Langit makin menggelap. Ia akan mandi cepat karena harus segera memasakkan makan malam untuk dirinya dan Sasuke yang tadi siang hanya menyantap bento yang ia beli dalam perjalanan pulang kuliah. Sebelum itu ia juga mesti belanja terlebih dahulu, dan Sasuke sudah janji akan menemaninya.
Sekembalinya dari kamar mandi, ternyata Sasuke belum bangun juga dan masih dalam posisi tengkurap seperti ketika ia tinggal tadi. Ia duduk di tepian ranjang dan menepuk punggung telanjang Sasuke untuk membangunkannya. Begitu melihat Sasuke mulai membuka mata, ia meninggalkan kimono mandi kering yang dibawanya di kepala ranjang, kemudian beranjak ke depan meja rias untuk menyisir rambutnya yang masih sedikit basah, juga menggunakan bedak agar wajahnya terlihat lebih segar.
"Cepat mandi, Key…" Hinata tahu kalau Sasuke memerhatikannya dari cermin yang dihadapnya. "Kalau malam, udara di sini dingin sekali."
Sasuke tersenyum sedikit sembari bangkit dari berbaringnya karena teringat apa yang ia lakukan dengan Hinata beberapa jam yang lalu. Padahal tadi ia hanya berniat menghangatkan Hinata yang kehujanan lantaran terlalu lama mengantre untuk membeli dua paket bento yang dijual tidak jauh dari kampusnya. Namun Sasuke malah keterusan, apalagi Hinata sama sekali tidak melakukan penolakan. Hujan pada permulaan musim panas memang tidak bisa diduga-duga datangnya. Apalagi di Suna yang biasanya jarang turun hujan. Jadi Hinata yang tidak membawa payung akhirnya pulang dalam keadaan basah kuyup. Tetapi, sepertinya situasi itu malah sangat menguntungkan bagi Sasuke.
.
.
.
"Jajanan apa yang terkenal di sini?" tanya Sasuke ketika ia dan Hinata berjalan santai ke minimarket terdekat. Dan tiba-tiba saja ia ingin makan kudapan ringan untuk menekan rasa lapar yang serta-merta menyerangnya.
"Ada kue beras yang dihidangkan dengan saus pedas—yang dijual di dekat kedai Sasori, dan rasanya sangat enak." Hinata sedikit mengayunkan tangannya yang bertautan dengan Sasuke. "Takoyaki yang dijual keluarga Sasori juga lezat. Terkadang dia memberiku dengan cuma-cuma setelah kedai tutup."
"Oh … jadi kamu suka berlama-lama dengan Sasori meski sudah lewat dari jam kerja?" Sasuke benar-benar tidak bisa menyembunyikan kekesalannya. Meski demikian ia tidak melepaskan tautan jemarinya dengan Hinata. "Lagipula, sejak kapan kamu suka gurita?"
Hinata malah senang kalau Sasuke cemburu, dan ia sengaja menyebutkan nama pemuda berambut merah itu lebih sering, "Di kedai Sasori juga dijual takoyaki yang tanpa gurita."
"Hm … begitu, ya…" desis Sasuke. "Pasti kamu sangat betah bekerja padanya…"
"Begitulah … apalagi sejak aku bekerja di sana, aku jadi bisa mengenal kakak Sasori yang merupakan seniorku di jurusan. Meski dia terlihat dingin, tapi sebenarnya dia adalah orang yang baik. Dia meminjamiku beberapa buku yang mahalnya minta ampun."
"Aa … pasti dia 'Senior Shiba' kan, Kitten?" Sasuke hanya tersenyum miring melihat Hinata yang sepertinya penasaran dari mana ia mengetahui panggilan sayang antara istrinya itu dengan si pemilik anjing shiba. "Dan kamu seharusnya menggunakan uang dariku untuk membeli buku-buku kedokteranmu. Memangnya belum cukup yang ku berikan padamu?"
"Sudah lebih dari cukup, kok…" cicit Hinata yang mendadak merasa bersalah lantaran keterusan mencemburukan Sasuke dengan para pemuda yang hanya dianggapnya sebagai kakak. "A-ano … tolong jangan salah paham, 'Kitten' hanya julukan yang dia berikan padaku sejak dia memergokiku yang tidak bisa menahan gemas pada anak kucing liar yang ku temui di pinggir jalan."
"Hn." Sasuke hanya menggumam tanpa menoleh pada Hinata. Ekspresi wajahnya masih datar, namun sudah tidak menyiratkan rasa kesal seperti sebelumnya.
"Key…"
"Hm?"
"Aku sudah sangat lapar…" aku Hinata malu-malu.
Sasuke mengamini dalam hati, namun ia terlalu gengsi untuk mengakuinya. Apalagi setelah perdebatan ringan sampai satu menit yang lalu.
"Apa tidak apa-apa kalau kita makan malam di kedai dekat sini sebelum belanja? Tapi aku tidak akan masak makan malam lagi…"
"Aku tidak rakus, jadi aku tidak akan makan malam dua kali," ujar Sasuke sebagai persetujuan untuk mengisi perut di kedai tradisional terdekat, jadi Hinata tidak perlu memasak untuk malam ini.
Keduanya mengambil tempat di pojokan yang memang satu-satunya meja yang kosong. Sasuke langsung menerka kalau masakan kedai itu sangat digemari, sehingga masih banyak pelanggan meski hawa di luar sejatinya kurang bersahabat.
"Katanya sup ayam ginseng kedai ini sangat enak," ucap Hinata yang duduk bersimpuh di seberang Sasuke, dan pemuda itu bersila dengan santai karena ada sekat yang membatasi mereka dengan pelanggan lainnya. "Tapi aku belum pernah mencobanya."
Entah mengapa Sasuke menyeringai seram setelahnya, membuat Hinata sedikit ngeri melihatnya.
"Kamu sengaja ingin membuat tubuhku panas, ya…? Masih kurang yang tadi siang?"
"Huh? Aku tidak mengerti kamu bicara apa."
Sasuke menghela napas kasar. "Apa kamu belum tahu kalau ginseng bisa memulihkan dan meningkatkan stamina?"
"Aku tahu, kok."
Sasuke sedikit menyipitkan matanya, setengah ingin menggoda Hinata yang masih tampak bingung. "Ku rasa ada yang belum kamu ketahui." Baiklah, ia akan lebih frontal sekarang, karena ia merasa bahwa Hinata pun sudah cukup dewasa seperti dirinya, "Ginseng juga dikenal sebagai pendongkrak gairah pria—meningkatkan kemampuan seksual."
Hinata melongo sebelum sepasang mata pucatnya terbeliak. Ia baru tahu, dan kenyataan itu membuat wajahnya memanas.
"Tapi tanpa ginseng pun aku masih mampu, kok," imbuh Sasuke dengan santainya tanpa memedulikan Hinata yang tiba-tiba gelagapan.
"Aa … sup mochi atau ramen di sini juga tidak kalah lezat sepertinya…" Hinata mencoba mengalihkan pandangan dari Sasuke sambil meringis gugup.
"Aku sudah terlanjur ingin makan sup ayam ginseng yang katamu terkenal enak itu," goda Sasuke yang kemudian mengatakan pesanannya kepada pelayan wanita paruh baya yang menghampiri mejanya, diikuti Hinata yang memesan zouni dan segelas teh hijau hangat dengan kurang antusias.
.
.
.
Hinata langsung menghempaskan dirinya di sofa seusai menata belanjaannya di kulkas. Sasuke menyusul duduk di sebelahnya dan langsung menekan tombol power remote televisi. Ia tidak menghindar ketika Sasuke rebahan lalu memposisikan kepala di pangkuannya. Ia juga turut menonton reality game show yang cukup disukai oleh Sasuke.
"Key, benarkah kamu akan kembali ke Konoha lusa?" Hinata tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.
"Kamu berharap aku lebih lama di sini?" Sasuke masih memusatkan pandangan pada layar televisi kecil di seberang meja sofa.
"Tentu saja. Kamu tahu sendiri kalau aku sangat ingin tinggal berdua saja denganmu setelah lulus sekolah. Tapi ternyata aku tidak bisa satu kampus denganmu…"
"Kamu suka anak-anak, kan…?"
Sasuke mengembalikan perhatian pada Hinata yang kini menunduk untuk melihatnya yang belum bangkit dari rebahannya. Hinata tidak menjawab, mungkin belum mengerti mengenai arah pembicaraannya.
"Kalau kamu hamil, pasti kamu akan disuruh pulang ke Konoha."
"Eh? Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan?" Sebetulnya Hinata sudah mengerti, namun ia harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa Sasuke memang sedang membicarakan tentang momongan dengannya.
"Let's make some babies…" bisik Sasuke.
Hanya suara dari televisi yang mengisi udara, hingga wajah Hinata memerah dan ia pun tampak kesulitan untuk membalas perkataan suaminya, "S-selama ini … aku memang menantikanmu untuk membahas tentang a-anak. Tapi aku mau kok menunggu sampai kamu siap menjadi a-ayah."
"Kapanpun, Hinata—bahkan sejak hari pernikahan kita, aku terus berusaha untuk siap jika saat itu tiba, tapi aku tidak ingin menghambat cita-citamu…"
"Tidak ada kata terlambat untuk belajar, Key—dan aku tidak keberatan menjadi seorang ibu di usia yang belum berkepala dua. Tapi keadaan selalu memaksa kita untuk menyembunyikan pernikahan. Bukannya aku takut dikira hamil di luar nikah, aku hanya cemas jika statusmu diketahui oleh publik—bagaimanapun sekarang kamu adalah seorang model yang mulai populer. Terkadang fans terlalu posesif terhadap idolanya. Aku tidak mau menghancurkan kariermu yang sedang menanjak…"
Seharusnya yang mesti Hinata cemaskan adalah dirinya sendiri bila fans Sasuke sampai mengetahui statusnya sebagai istri dari sosok yang mereka idolakan.
"Fans pun tidak bisa berbuat apa-apa kalau kenyataannya aku memang sudah menikah denganmu."
"Iya, tapi kan mereka bisa berhenti menjadi penggemarmu—"
"Kalau pun karierku di dunia modeling hancur hanya karena kehilangan penggemar, kamu tidak perlu khawatir tidak akan ku nafkahi karena aku akan berusaha menjadi apoteker yang sukses—"
"Bukan begitu maksudku—"
Sasuke meraih tengkuk Hinata untuk membungkam mulut yang mendadak cerewet itu. Tidak lama bagi Hinata yang mulanya kaget untuk terhanyut dalam permainan Sasuke.
"Daisuki…" gumam Hinata di sela ciuman dan napas yang memburu.
"Boku mo da," bisik Sasuke yang mulai merebahkan Hinata. Ini akan menjadi kali pertama bagi keduanya untuk saling menyampaikan rasa cinta tanpa penghalang, kecemasan, maupun keraguan.
.
.
.
End of Chapter 9: Conjugality
Thursday, December 27, 2012
Mind to CnC or RnR?
Thank You
Otanjoubi omedetou gozaimasu, Hyuuga Hinata-sama~ \(^o^)/
Dan selamat untuk hadiah terbaiknya dari Kishimoto Masashi-sensei. Love you so much, Sensei~
Bagi yang belum baca fic saya yang judulnya Kekkon Suru, silakan baca juga kalau berkenan karena fic itu masih berhubungan dengan fic ini, hoho.
Terima kasih banyak untuk para pembaca dan pereview chapter sebelumnya:
Aiiko Aiiyhumi, Hyou Hyouichiffer, IndigOnyx, gece, Ella 'qina, finestabc, Mrs. Fifty, kambingbakar, Neerval-Li, Hoshi Yukinua, Aiwha, tiffany uchiha, Sasuke Lover, Lavender Boo-Chan, ck mendokusei, Indigo Mitha-chan, Moyahime, Lily Purple Lily, OcHa. Choco. cHips, Sugar Princess71, melpi yang cinta damai, lavender hime chan, guigui M. I. T, Diana chan, Dewi Natalia, danank, A Crazed Clerk, Rumi
Sekali lagi terima kasih banyak dan sampai jumpa… ^^
