A/N:: Maaf, saya baru bisa muncul saat ini. Awal Febuari kemarin setelah ujian, saya malah terkena penyakit, dan setelah diperiksa saya terkena gejala tifus. Karena itu saya istirahat total, dan baru bisa muncul lagi sekarang…..
Untuk L3Y (bagi yang menantinya), akan tetap saya lanjutkan kok. :)
.
.
.
.
.
…
Dangerous Chanyeol
By Sayaka Dini
Disclaimer: This story belong to me, but the character not be mine
Main Cast: Baekhyun; Chanyeol
Other: Jongin; Kyungsoo; Sehun; Luhan; Kyuhyun
Pairing: Chanbaek / Baekyeol, Hunhan, Kaisoo
Setting: AU
Genre: Crime—Romance
Rated: M.
Warning: Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy.
Please, Don't Like Don't Read.
Note: No bashing, no flame, no copas, no re-publish, no plagiat, yes to like and comment
Hope You Enjoy It~ ^_^
_o0o_
.
.
.
.
.
...
Note: Paragraf bergaris miring menandakan flashback (kejadian masa lalu) dan POV dari seseorang.
...
.
.
.
.
.
...
"Ayo," Jongin tersenyum lebar. "Aku antar kalian pulang."
Belum sempat Kyungsoo menjawab penawaran itu, Minyoung, adik perempuannya yang berdiri di sampingnya, sudah membungkuk duluan dengan riang. "Khamsahamida Ahjusshi!" Min langsung meraih lengan kakaknya. "Kajja oppa. Kita pulang!"
Kyungsoo tersenyum geli. Ia melirik Jongin yang senyuman lebarnya kini berubah jadi sebuah senyuman kaku—masih tersinggung dengan sebutan ahjusshi.
Jongin pun beranjak duluan menuntun kedua kakak adik itu menuju mobilnya. Setelah duduk di jok kemudi, Jongin menoleh ke belakang dengan pandangan heran, melihat Kyungsoo mengikuti Min untuk duduk di kursi belakang.
"Kyungsoo, duduk lah di depan saja, tidak perlu sungkan."
"Ah, aniyo ahjusshi, gwencana."
Rasanya Jongin ingin segera menenggelamkan dirinya di laut China. Dengan raut wajah down dan bayang-bayang frustasi di belakang kepalanya, Jongin berbicara. "B-bisakah kalian tidak memanggilku dengan sebutan ahjusshi? Aku tidak setua itu."
"Memang berapa umurmu?"
"25."
Kyungsoo dan Minyoung saling berpandangan, dan dengan bersamaan kedua saudara bertubuh mungil itu mengibaskan tangannya sambil nyengir. "Eyy, jangan mencoba menipu kami," kata Min.
"Benar. Mana mungkin kau seumuran denganku?"
Mereka berdua tersenyum geli, mengabaikan fakta bahwa aura depressi yang mengelilingi Jongin semakin pekat, membuat pemuda itu hanya bisa menunduk.
...
"Ahjusshi tidak singgah dulu untuk memakan beberapa cemilan kami? Sebagai ucapan terimakasih," tawar Minyoung sambil tersenyum.
"Ah, Min," Kyungsoo menepuk bahu adiknya. "Kurasa dia masih punya banyak pekerjaan—"
"Tak apa," Jongin menyela sambil tersenyum lebar. "Hanya sebentar kan? Kurasa cukup untuk menghabisi waktu istirahat makanku." Jongin masih tak mengerti, mengapa Kyungsoo menatapnya dengan pandangan khawatir.
Baru setelah mereka masuk ke dalam rumah keluarga Do yang tampak sepi —kedua orang tua mereka sama-sama pekerja kantoran dan sudah berangkat—, duduk di salah satu sofa mereka, dan ditawari tiga toples kue kering berbeda bentuk, Jongin mulai mengerti arti dari pandangan Kyungsoo barusan.
"Cobalah Ahjusshi. Ini semua aku yang membuatnya," ujar Min riang dengan senyum sumringah.
"Oh, neh. Khamsahamida," Jongin mengambil salah satu, firasatnya mulai tak enak saat mendapati Kyungsoo memandangnya simpati. Agak ragu ia mulai mencoba satu gigitan. Melihat bagimana Min menatapnya antusias, membuat Jongin memasukkan satu kue kering itu dalam sekali kunyah, dan menelannya dengan memasang wajah sebiasa mungkin.
"Jadi bagimana Ahjusshi? Kau suka? Enak kan?"
Jongin mengangguk kaku, memberikan jempol dengan senyum paksa. Meski sebenarnya kue yang terasa seperti kerikil dan sangat tak berperike'makanan' itu benar-benar sangat janggal dalam tenggorokannya.
"Minnie," Kyungsoo mengintrupsi, mengabaikan wajah Min yang tampak berbinar dengan 'pujian' Jongin itu. "Mana minumannya? Kau tidak ingin dia tersedak kuemu karena terlalu bersemangat makan kuemu itu?"
"Ah ya. Aku hampir lupa." Min menepuk kedua tangannya. "Bentar yah ahjussi. Aku buatkan minuman dulu. Kau tak perlu sungkan menghabiskan semuanya. Aku masih punya banyak toples di lemariku. Nanti akan kubungkuskan untuk ahjussi bawa pulang! Tunggu sebentar ne~" Min lalu beranjak ke dapur sambil bersiul riang.
Kyungsoo tak bisa lagi menahan tawanya begitu sosok adik menghilang di balik dinding. Ia membungkuk di sofa panjang sambil membekap mulutnya, berusaha menyamarkan tawanya agar tak terdengar sampai ke dapur.
"Hei, hei, seharusnya kau memberitahu kan aku dari awal," protes Jongin, cemberut.
"Mianheyo," Kyungsoo mencoba kembali duduk tegak di sofa yang bersebrangan dengan Jongin. Ia memegang perutnya menahan tawa. "Aku 'kan tadi sudah berusaha mencegahmu."
"Mana aku tahu kalau maksud ucapanmu tadi untuk menyelamatkanku?" Jongin menghela nafas.
Kyungsoo tersenyum. Ia membungkuk untuk membuka laci meja bawah dan mengambil botol minuman. Kyungsoo beranjak dari duduknya, mengitari meja untuk duduk di samping Jongin.
"Ini. Bagaimana pun terima kasih banyak."
"Hm?" Alis Jongin terangkat tak mengerti.
"Ini pertama kalinya ada yang mau menghargai kerja keras Min membuat kue. Aku saja sebagai kakaknya tak pernah mengatakan kalau kuenya enak. Aku hanya bisa bilang kalau kuenya tidak memiliki rasa —tak sampai hati mengatakan tidak enak. Jadi, terimakasih sudah mau menyenangkan hati Min." Kyungsoo menyodorkan botol minuman itu pada Jongin lagi. "Minumlah dulu sebelum menghabiskan semua kuenya."
Jongin menganga tak percaya pada kalimat Kyungsoo yang terakhir. Namja mungil itu langsung tersenyum geli dengan ekspressi Jongin. "Aku hanya bercanda," tambahnya sambil mengerling. Membuat Jongin bisa bernafas lega dan menerima minuman botol mineral itu. Bagaimana pun ia perlu menetralkan rasa aneh yang menjanggal di tenggorokannya.
"Sekali lagi, terima kasih banyak Jongin-sshi."
Jongin balas tersenyum tipis pada Kyungsoo —tampak sadar senyumannya sempat membuat Kyungsoo terpaku. "Aku lebih suka kau memanggilku seperti itu daripada sebutan ahjusshi."
Kyungsoo mengerjap, sebelum akhirnya ia tertawa kecil. "Maaf yang tadi. Aku hanya ingin mengikuti permainan adikku yang memanggilmu seperti itu. Lagipula ekspressimu itu sangat lucu saat kami memanggilmu begitu."
"Tapi aku serius. Kau membuatku terlihat seperti pedhopil kalau memangilku dengan sebutan ahjussi."
Kyungsoo langsung menghentikan tawanya. "Hah? Kenapa bisa seperti itu?"
"Ah..." Jongin memalingkan wajah sambil bersiap meminum botol mineralnya. "Bukan apa-apa, lupakan saja."
"Tapi kalau boleh jujur, Jongin-sshi. Aku lebih suka memanggilmu Ahjusshi daripada panggilan biasa."
Jongin menyemburkan minumannya, lalu menoleh pada Kyungsoo. "Hei, itu tidak adil, kita bahkan seumuran seongsainim."
Kyungsoo langsung tertawa. "Tapi wajah merenggutmu itu sangat lucu, aku serius. Ku kira semua polisi itu terlihat menyeramkan. Tapi ternyata ada juga yang lucu sepertimu." dan Kyungsoo kembali tertawa melihat raut wajah merengut Jongin.
"Aigoo... ternyata kau tak sepolos yang kukenal seperti kemarin..." gumam Jongin mengeluh. Tapi diakhiri dengan senyuman sambil melihat tawa Kyungsoo di sampingnya. Terlihat begitu cantik di matanya...
.
.
.
.
Itu terasa canggung. Tak ada satu pun di antara mereka yang berbicara untuk memulai topik baru. Baekhyun diam seribu bahasa, terlihat fokus dengan kemudi jalan mobil yang ia kendarai, meski sebenarnya sebagian besar pikirannya berada pada namja tampan yang duduk di sebelahnya —yang juga terlihat diam sambil menatap kaca jendela samping.
Sudah 10 tahun, bukan waktu yang singkat untuk berpisah dan tiba-tiba bertemu kembali dalam situasi yang sangat berbeda. Sebuah tendangan di wajah yang dilakukan Baekhyun sebagai salam pembuka pertemuan mereka kemarin, juga makian dan tuduhan yang dilayangkan Baekhyun selama sesi introgasi kemarin, bukanlah hal yang bisa dibilang pantas sebagai salam pertemuan kembali setelah 10 tahun lamanya tak pernah bertemu.
Oke, Baekhyun tak mau sepenuhnya menyalahkan semua itu pada dirinya sendiri, sebagian besar itu semua juga disebabkan Chanyeol yang tak mau menceritakan semua padanya, membuat Baekhyun salah paham. Dia bahkan harus mencari tahu sendiri kebenarannya dari mulut orang lain. Lalu... ciuman mereka itu. Bagaimana bisa Baekhyun tanpa berpikir langsung menciumnya setelah mendengar Chanyeol yang mengatakan masih mencintainya? Kalau kejadian itu kembali di ingat, Baekhyun jadi merasa kalau dirinya saat itu terlihat seperti remaja dengan hormon yang meluap-luap seperti saat ia masih seorang pelajar sepuluh tahun lalu. Aisshh...benar-benar memalukan.
"Apa ada sesuatu di kepalamu sampai kau harus mengacaknya dengan brutal seperti itu?" nada suara Chanyeol yang geli mampu membuat pikiran Baekhyun kembali pada keadaan sekitar.
Baekhyun sekilas melirik Chanyeol yang masih memandang jendela samping pintu mobil, lalu pandangan Baekhyun kembali pada jalanan di depan dengan bibir yang mengerucut. "Kupikir kau lebih tertarik dengan pemandangan di sampingmu dari pada memperhatikan aku."
"Sebenarnya, sejak tadi aku hanya melihat bayangan refleksimu dari kaca."
Haruskah Baekhyun menyalahkan hormonnya lagi karena kali ini pipinya mendadak terasa sangat panas? "Bohong," dan Baekhyun hanya bisa menyangkalnya dengan suara bisikan tapi masih mampu terdengar oleh Chanyeol. "Untuk apa kau melihat bayanganku dari kaca jendela kalau bisa melihat aslinya di sini."
"Aku tidak yakin bisa menahannya." Terdengar helaan nafas Chanyeol yang frustasi. Dari ekor mata Baekhyun, ia bisa melihat kepala Chanyeol akhirnya menoleh padanya. "Bisakah kau berhenti melakukan hal itu?"
"Maksudmu?" Baekhyun menghentikan mobilnya di depan lampu merah. Menoleh dengan ekspresi bingung di wajahnya.
Sebelah tangan Chanyeol terulur menangkup pipi Baekhyun, dengan ibu jari yang menekan bibir Baekhyun yang sedang mengerucut. "Memainkan bibirmu seperti itu," Chanyeol beralih menatap mata Baekhyun. "Aku tidak tahu kalau efeknya masih saja sama persis seperti dulu."
"A-apa?" Bibir Baekhyun berrgerak di depan jempol Chanyeol yang masih menekannya. Pipinya merona melihat tatapan intens Chanyeol. "H-hei, jangan bilang kau ingin menciumku lagi?"
"Kau harus mengoreksinya," jempol Chanyeol berpindah mengelus sudut bibir Baekhyun. "Yang tadi itu kau yang menciumku, bukan aku yang menciummu."
"Apa bedanya? Kau juga membalasnya?" Baekhyun memutar bola matanya kesal, meski wajahnya masih memerah. "Hah, biasanya juga kau langsung menciumku tanpa mengatakan apapun," Baekhyun bergumam biasa sambil melirik ke arah jalanan. Tak menyangka dengan ucapan refleks mengutarakan pikirannya tadi membuat Chanyeol langsung mencodongkan tubuh ke arahnya.
Dan menciumnya.
Benar-benar menciumnya.
Mempertemukan bibir keduanya dengan lembut.
Mata Baekhyun melebar untuk beberapa saat. Terdiam di tempat. Pikirannya seolah membentuk adegan drama di mana satu adegan diputar ulang selama tiga kali dengan gerakan agak slow motion yang diputar dari beberapa sudut angle kamera, meski sebenarnya itu hanya terjadi sekali dalam sekejap. Adegan di mana Chanyeol yang bergerak dari kursinya mencondongkan tubuh untuk mencium bibirnya. Lengkap dengan backsound lagu yang agak melankolis untuk menggambarkan bagaimana perasaan yang selama sepuluh tahun hampir terkubur kembali meluap-luap di dadanya. Meletus dengan suara kembang api tak terlihat di sekitarnya.
Baekhyun tak tahu apa kali ini ia harus kembali menyalahkan hormonnya dengan pikiran dan perasaannya yang terlalu berlebihan itu? Tapi yang jelas ia menutup matanya untuk menyambut ciuman Chanyeol dan membalasnya. Dia seolah bisa merasakan perasaan Chanyeol yang tertuang dalam ciuaman lembut itu. Membuat dadanya makin membuncah dengan perasaan sama yang tak terbendung dalam jiwanya. Dia sangat merindukan saat-saat seperti ini...
TINNN! Suara klanson mobil di belakang membuyarkan segalanya.
Chanyeol menarik diri. Baekhyun mengumpat dengan wajah merah dan nafas terengah, segera fokus pada kemudi dan menjalankan mobilnya melewati rambu lampu hijau. Dilihat dari ekor matanya kalau kini bahu Chanyeol sedang berguncang di jok samping.
"Jangan tertawa!" Baekhyun mengembungkan pipinya. "Ini salahmu juga," ia merengek.
"Mianhe baby," Chanyeol tersenyum, semakin lebar saat melihat tubuh Baekhyun agak merinding dengan pipinya yang merona. Sudah sepuluh tahun, tapi dia tetap saja terlihat begitu manis dan lucu di mata Chanyeol—yang kini juga tetap berbinar memandang Baekhyun. "Ngomong-ngomong, kau mau membawaku sarapan dimana?"
"Eumm... kau maunya dimana?"
"Bagaimana kalau ke supermarket?"
"Hah? Di sana kan tidak ada makanan siap saji."
"Tapi yang mentahannya ada kan?"
"Aku tidak yakin dengan itu Yeol. Aku tidak bisa masak selain ramen."
"Tapi aku bisa."
Baekhyun melirik Chanyeol dengan pandangan janggal. "Benarkah? Sejak kapan?"
"Sejak aku tahu kau jarang makan masakan rumah."
"Wow." Baekhyun melongo sesaat. "Dari mana kau tahuitu?"
"Belok kanan Baekkie, supermarket sebelah sana."
"Ah, benar." Baekhyun memutar kemudi, sibuk menepikan mobil dan mencari tempat yang pas untuk memakirkan mobil di halaman supermarket.
Mesin mobil dimatikan, Chanyeol dan Baekhyun sama-sama melepaskan sabuk pengaman, lalu saling melempar pandangan.
"Waktunya berbelanja?" Chanyeol tersenyum. Di balas dengan senyuman kekanakan Baekhyun yang tampak cerah.
"Neh~"
...
Baekhyun mendorong troli —keranjang dorong— yang masih kosong dengan Chanyeol yang berjalan di samping troli.
"Biasanya aku ke sini hanya untuk membeli perlengkapan mandi," gumam Baekhyun, sedikit membungkuk di atas troli dengan bibir mengerucut.
"Sendirian?" Chanyeol berhenti di depan rak pendingin daging berplastik.
"Hm, memang siapa yang mau menemaniku membeli sabun mandi dan semacamnya?" Baekhyun bermain dengan troli kosongnya di belakang Chanyeol, mendorong dan menarik troli dengan separuh badan berada di atas pegangan troli, persis seperti anak kecil dengan mainannya –mengabaikan umurnya yang sudah 27 tahun.
"Kalau begitu mulai sekarang kau tidak akan pergi ke supermarket sendirian lagi," balas Chanyeol santai tanpa menoleh.
Baekhyun berdiri tegak di belakang Chanyeol yang sibuk melihat rak pendingin dengan berbagai macam daging di sana. "Kalau kau tiba-tiba pergi lagi dariku tanpa sepatah kata pun, aku bersumpah akan membunuhmu."
Chanyeol menoleh, tepat di saat Baekhyun berjalan duluan meninggalkannya dengan membawa troli kosong. Sekilas, ia sempat melihat wajah Baekhyun yang serius tapi memerah.
Bibir Chanyeol berkedut membentuk sebuah senyuman lebar yang sangat sumringah. Ia tak ingat kapan terakhir kali ia bisa tersenyum sebahagia ini sejak sepuluh tahun yang lalu.
"Baby Baekkie! Kita harus membeli telur juga~"
"K-kau tidak perlu mengeraskan suaramu untuk memanggilku seperti itu!"
Chanyeol terkekeh. Baekhyun cemberut, tapi tak lama ia tersenyum kecil melihat wajah Chanyeol yang tampak berbinar daripada kemarin. Tampak bahagia, sama seperti dirinya.
.
.
.
.
"Emm... Jongin-sshi," sebut Kyungsoo agak ragu. "Kau kan polisi, boleh aku minta saran?"
Jongin mengangguk. "Hm, katakan saja."
"Sebenarnya ini bukan tentang aku sih," Kyungsoo mengaruk kepalanya. "Ini tentang teman yang kukenal, aku ingin membantunya tapi aku tak tahu bagaimana caranya " Kyungsoo melirik Jongin sebentar, menanti bagaimana reaksinya.
"Lalu?" sejauh ini Jongin terlihat biasa.
"Begini," Kyungsoo memulai dengan menarik nafas panjang. "Aku, em, maksudku temanku ini, memiliki orang yang tidak ia sukai, karena orang itu pernah melakukan sesuatu yang buruk padanya, entah sengaja atu tidak. Jadi, temanku ini, sangat tidak menyukai orang itu."
"Membencinya?" koreksi Jongin.
"Yah, semacam itu." Kyungsoo mengangguk. "Lalu suatu hari, temanku ini tanpa sengaja melihat orang yang ia benci itu mendapatkan masalah..." Kyungsoo tiba-tiba berhenti, bingung bagaimana melanjutkannya dengan cara yang tidak begitu gamblang tapi Jongin bisa memahaminya.
"Maksudmu? Masalah seperti apa?" Jongin kini mulai tertarik, melihat gelagat Kyungsoo membuat Jongin mulai mengerti arti dari cerita itu.
"Maksudku, em, masalah seperti mencelakakan dirinya. Yeah, temanku itu tanpa sengaja melihat orang yang ia benci itu dicelakai oleh orang lain. Sebenarnya, temanku ingin menolong, tapi tidak bisa menolong."
"Kenapa dia tidak menolong orang itu? Kenapa tidak bisa?"
"Seperti yang ku bilang tadi, temanku tidak menyukai orang itu."
"Jadi kau bilang, temanmu itu tidak mau menolong orang yang celaka itu karena dia membenci orang itu? Begitu?"
"Tidak juga, maksudku, aggh..." Kyungsoo mengeram frustasi sebentar. "Aku mau menolongnya, hanya saja aku terlambat berpikir untuk bertindak karena aku sangat membenci orang itu!" Kyungsoo terdiam sendiri setelah ia tanpa sadar mengeraskan suaranya daan terkesan seperti membentak, ia mengerjap sebentar sebelum akhirnya menggeleng dengan cepat. "Maksudku temanku, bukan aku, sungguh bukan aku."
Jongin melongo menatapnya, tak menyangka dengan sisi lain Kyungsoo barusan. Tapi kemudian ia tersenyum geli terhadapnya. "Jadi, kau ingin aku berikan saran pada 'temanmu' itu tentang apa?"
Kyungsoo menghela nafas, mengira Jongin percaya pada ceritanya. "Apa yang harus selanjutnya dilakukan temanku itu? Karena ia terlalu takut, dia tidak menceritakan hal yang sebenarnya pada polisi sepertimu."
"Dia berbohong pada polisi?"
"Tidak juga," sangkal Kyungsoo. "Dia hanya tidak menceritakan semuanya. Karena bisa saja dia juga dituduh terlibat kalau mengatakan dia berada di tempat saat orang itu belum meninggal, tapi tidak melakukan apapun selain hanya melihat sampai orang itu dicelakakan oleh orang lain. Tak peduli jika temanku mengatakan ia tidak sengaja melihat atau tidak, polisi itu pasti akan menuduhnya terlibat karena dia tidak membantu orang yang sedang kesulitan." Kyungsoo menghela nafas. "Jadi, apa yang sebaiknya ia lakukan? Apa kau bisa menjamin jika temanku ini mengatakan yang sebenarnya, polisi tidak akan menuduhnya terlibat?"
Bibir Jongin sudah sedikit terbuka, sebagai polisi tentu saja ia ingin mengatakan 'Katakan saja segala, tidak perlu ada yang ditakuti.' Tapi Jongin sangat tahu bahwa ia tak bisa menjamin kalau rekannya –Baekhyun– bisa langsung balik menyerang Kyungsoo dan menuduhnya terlibat. Melihat bagaimana Kyungsoo memandangnya penuh harap, membuat Jongin langsung memutuskan mengubah jawabannya.
"Kalau kau tak ingin kembali ke kantor polisi, maka jangan mengatakannya. Tutup mulut akan lebih aman untukmu sampai pelakunya itu tertangkap sendiri." Jongin menatap lekat Kyungsoo. "Bahkan jika itu diriku, kau tidak boleh mengatakan yang sebenarnya." Jongin sendiri tak tahu mengapa ia mendadak berubah seperti itu.
Sementara Kyungsoo hanya bisa tertegun, tak menyangka dengan jawaban Jongin yang frotal seperti itu tanpa lagi menggunakan pengandaian bahwa cerita itu tentang teman Kyungsoo, bukan dirinya, meski memang sebenarnya itu tentang dia.
Tapi yang jelas, Jongin telah memberikan jawaban yang Kyungsoo harapkan, meski itu bukan sebuah jawaban yang benar.
"Terima kasih Jongin-sshi..." Kyungsoo tersenyum.
Dan dengan semua perasaan janggal yang ia rasakan, Jongin merasa dadanya berdebar sendiri.
.
.
.
.
.
Laju mobil Baekhyun memelan sebelum sampai di depan rumah Chanyeol dan Nana, Baekhyun menepikan mobilnya di seberang jalan, memperhatikan salah satu rumah bertingkat dua dalam kompleks rumah tersebut.
"Kejadiannya baru terjadi kemarin malam, jadi garis polisinya masih belum kami tarik," gumam Baekhyun sambil memandang dari jendela mobil ke arah rumah yang terdapat garis kuning polisi yang membentang di depannya. "Kau tidak akan nyaman kalau kembali tinggal di dalam rumah ini."
"Jadi...?" Chanyeol sengaja mengumpan dengan nada menggoda, menatap Baekhyun tanpa ingin mengikuti arah pandang Baekhyun pada rumah tersebut.
"Jadi..." Baekhyun menggaruk tengkuknya. "Ya sebaiknya kau menginap di tempatku saja untuk sementara waktu..." tawarnya dengan nada malu.
Chanyeol tersenyum. "Kau tak perlu repot mengantarku ke sini melihat rumah itu, kalau sejak awal kau ingin membawaku ke tempatmu."
"A-aku hanya ingin kau mengerti alasanku. Lagipula aku hanya menawarkan, kalau kau tak mau juga tak apa," Baekhyun cemberut.
"Siapa bilang aku tidak mau?" Chanyeol tersenyum. "Asal kau tahu, dari dulu aku tak pernah nyaman tinggal di rumah itu." Chanyeol melepas sabuk pengaman mobil. "Biarkan aku mengambil beberapa pakaian ganti dulu, ne?"
"Hm," Baekhyun balas tersenyum. "Kutunggu di sini."
Setelah melihat Chanyeol menyebrang jalan, berjalan di perkarangan halaman rumah sebelum akhirnya menghilang di balik pintu rumah. Baekhyun langsung menguap, mengeluarkan kantuknya yang sejak tadi ia tahan. Ia bersandar pada jok mobil sambil memejamkan mata. Tak ada salahnya tidur beberapa menit sambil menunggu Chanyeol kembali.
Tak lama, di sisi jalan lain, berhenti sebuah mobil taxi. Menurunkan seorang yeoja menyadari keberadaan Baekhyun yang tidur dalam mobilnya di seberang jalan, yeoja berambut sebahu itu, Hyeri, menyampirkan tas selempangnya. Ia melihat ke kanan dan kiri dulu, seolah mengecek keadaan sekitar sebelum akhirnya ia berjalan melewati garis kuning pembatas kepolisian untuk memasuki rumah tersebut.
...
Minyoung membuka pintu belakang rumahnya dari ruangan dapur, celingukan melihat sekeliling halaman belakang rumahnya. "Ggomaengi..." panggilnya dengan suara agak pelan. "Kucing manis~ di mana kau..." carinya sambil sedikit membungkuk dan berjalan. "Jangan menghilang seperti ini, Kyungsoo oppa akan marah padaku kalau dia mengetahuinya. Tidakkah kau kasihan dengan unnie-mu yang manis ini? Hm? Hm?" ia mulai berbicara sendiri sambil mencari.
Gadis berpipi chubby itu duduk berjongkok di pinggir halaman belakang rumahnya sambil menghela nafas. Mengembungkan pipinya cemberut. "Kyungsoo oppa benar-benar akan membunuhku kalau ia tahu kucingnya menghilang lagi. Untungnya ada ahjusshi itu yang membuat Kyungsoo sejenak lupa dengan ggomaengi." Minyoung menoleh asal ke samping, ke rumah sebelah.
Ia berdiri, nyaris memekik di tempat saat melihat ggomaengi berbaring di depan teras belakang rumah tetangganya. Saat kucing itu menoleh, melihat Minyoung berjalan dengan riang ke arahnya, hewan berkaki empat itu malah bangkit. Dengan kibasan elegan dari ekornya yang panjang, sang kucing malah berbalik dan melompat melewati bingkai jendela rumah Nana yang terbuka, dan memasukinya.
"Yach! Aissh..." Minyoung berdecak kesal. Tanpa pikir panjang langsung melompati pagar pembatas rumah yang setinggi pinggang itu untuk menginjakkan kaki ke halaman belakang rumah sebelah. Menuju satu-satunya pintu belakang rumah yang langsung menuju ke arah dapur.
"Tidak terkunci." Sesaat Min berbinar. Ia langsung mengatupkan kedua tangan, memanjat doa sebelum ia melangkah masuk ke dalam rumah. "Wahai arwah pemilik rumah ini. Maafkan aku, aku bukannya ingin menyusup atau mencuri sesuatu. Aku hanya ingin menjemput ggomaengi yang sangat nakal itu. Jadi jangan melempariku piring atau apapun seperti yang kau lakukan pada tunanganmu itu yah?"
Yah, semoga saja ia terlindungi.
Min berjalan masuk lebih dalam, melewati dapur setelah ia yakin kucing berambut abu-abu itu tak ada di sana. Min nyaris melangkah melewati dinding pembatas menuju ruang tengah saat ia dengar suara percakapan dua orang yang terdengar serius. Langkah Min terhenti, menoleh ke sekitar, yakin belum ada yang melihatnya, ia ingin segera berbalik pergi sebelum ketahuan.
"Tidakkah oppa sebaiknya ikut menyusul ke Jepang?"
"Kau tahu aku tidak mungkin melakukan hal itu."
Langkah Min yang menjijit itu berhenti. Berbekal dengan firasat dan penasaran, ia akhirnya memutuskan untuk berada di sana, bersembunyi di balik sisi dinding dengan lemari rak pigura foto di sebelahnya.
Apa yang selanjutnya mereka bicarakan membuat mata Min membulat terkejut mendengarnya.
...
"Mereka bisa saja akan menangkapmu oppa," suara Hyeri terdengar lirih dan sedih.
"Kurasa itu lebih baik daripada aku harus pergi meninggalkannya lagi."
Mata Hyeri berkaca-kaca memandangnya.
"Sudah sejauh ini, aku tak mungkin melepaskannya," tambah namja tinggi itu dengan nada serius.
Bunyi benda yang jatuh membuat keduanya tersentak. Mereka menoleh ke arah dinding pembatas ke dapur di mana suara itu berasal. Keduanya berdiri tegang tanpa mengatakan apapun sampai detik berikutnya seekor kucing melompat keluar dari balik dinding pembatas tersebut. Kucing abu-abu itu berjalan sebentar, sebelum akhirnya duduk di lantai sambil menatap keduanya dengan pandangan polos dan ekor terayun.
Chanyeol menghela nafas. "Itu kucing tetangga."
...
"Minnie!" Kyungsoo memasuki dapur sambil memanggil adiknya. "Yah, Do Minyoung! Kau di mana?"
Tak ada sahutan. Kyungsoo mulai menggaruk kepalanya dengan raut wajah khawatir.
"Dia tidak ada?" kepala Jongin muncul di sisi dinding pembatas dapur.
Kyungsoo menggeleng. "Tidak ada. Hah, kenapa dia tiba-tiba saja menghilang?" nada suaranya terdengar sangat khawatir. Sebagai saudara sedarah, Kyungsoo mulai merasakan firasat tak enak terhadap adiknya itu, dan sejauh ini, firasat Kyungsoo mengenai Minyoung tak pernah salah. Persis seperti saat Min pernah mengalami kecelakaan bus sekolah waktu sekolah dasar dulu. Untungnya saat itu adiknya masih selamat, meski mendapatkan beberapa luka di tubuhnya.
Mata Kyungsoo lalu melirik ke arah pintu dapur yang terbuka sedikit, memperlihatkan sela menuju halaman belakang rumah mereka...
...
Percakapan dua orang di ruang tengah itu telah diakhiri. Dari tempatnya bersembunyi, Min bisa mendengar derap langkah mereka yang mulai menjauh menuju pintu depan, sampai akhirnya pintu itu ditutup. Ia menunggu tiga menit kemudian, untuk menanti apa ada tanda suara mereka masih ada atau tidak.
Setelah yakin tak ada suara lain lagi, Min keluar dari balik sudut lemari. Ia menghela nafas lega, sebelum akhirnya berjalan menuju ruang tengah. "Ggomaengi~ kau di mana? Ayo kembali pulang..."
"Aku tahu kau mendengarkan semuanya."
Mata Minyoung melebar mendengar suara sempat ia berbalik sesuatu langsung melilit lehernya dengan cepat. Mencekik pernapasannya dengan kuat. Ia inginmemberi perlawanan, tapi tali yang mencekik lehernya dengan kuat itu seolah mampu memperlambat dan melemahkan kerja otaknya. Napasnya semakin sesak...
Perlahan, pandangan Minyoung mulai mengabur dengan suara yang tersendat di tenggorokan yang semakin erat dicekik...
"Meaunggg!" Kucing abu-abu itu melompat dari tangga, menerjang lengan pelaku dengan mencakarnya. Seketika lilitan tali di leher Minyoung terlepas, membuat tubuh gadis mungil itu langsung terjatuh di lantai dengan mata tertutup.
...
Baekhyun terbangun setelah mendengar bunyi pintu mobil yang ditutup di sebelahnya.
"Kau tertidur?" tanya Chanyeol terkejut sekaligus khawatir.
"Ah, tak apa." Baekhyun mengusap kedua ujung matanya. Ia menyalakan mobil dan kembali mengendarinya meninggalkan rumah tersebut. Tanpa bisa ditahannya, Baekhyun menguap di tengah jalan.
"Berapa jam kau tidur semalam?"
"Entahlah. Aku tak menghitungnya," jawab Baekhyun tak acuh. Menyadari tatapan tajam Chanyeol, membuat Baekhyun mendesah. "Kau tahu sendiri, semalam Sehun kabur, kami terus mencarinya semampu kami. Bahkan setelah aku menemukannya, aku tak bisa membawanya kembali." Menyadari apa yang baru saja ia katakan, Baekhyun kembali mendesah. "Lupakan apa yang kubilang tadi."
Tampaknya Chanyeol juga tak mau bertanya lanjut mengenai itu. Ia malah memerintahkan Baekhyun untuk menepikan mobilnya.
"Hah? Apa?"
"Kubilang, hentikan mobilmu."
"Kau mau apa Yeol?"
"Sudahlah, tepikan saja."
Baekhyun menurutinya. Memandang heran ke arah Chanyeol yang keluar dari mobil, berjalan mengitari depan mobil sampai membuka pintu mobil di sampingnya.
"Pindahlah ke sebelah."
"Tapi Chan—"
"Cepat."
Sekali lagi Baekhyun menurutinya. Melompat duduk di jok samping kemudi, sementara Chanyeol masuk untuk menggantikan tempat Baekhyun. Chanyeol juga mengubah posisi jok tempat Baekhyun menjadi berbaring.
"Tidurlah selagi aku mengantikanmu mengendarai mobilmu."
"Untuk apa? Apartementku tak begitu jauh kok."
"Sudahlah. Tidur saja meski hanya berapa menit. Kau membutuhkan itu." Chanyeol mulai memutar kemudi untuk kembali ke jalur awal mereka.
Baekhyun tersenyum, perlahan matanya terpejam karena kantuk yang mulai menguasainya. Ia sempat merasakan tangan Chanyeol yang membelai kepala dan keningnya, sebelum akhirnya Baekhyun benar-benar terseret ke alam mimpi...
...mimpi di mana ia kembali bertemu dengan Chanyeol.
.
.
.
.
Cho Kyuhyun menepikan mobilnya di depan rumah yang memiliki garis kuning pembatas polisi. Ia keluar, berjalan melewati halaman depan rumah. Niatnya ingin mengetuk pintu untuk bertemu dengan pemilik rumah tersebut, urung karena mendapati pintu depan sudah terbuka sedikit. Kyuhyun mengernyit melihat kejanggalan tersebut.
Awalnya ia ke rumah ini ingin bertemu dengan Chanyeol secara pribadi, menanyakan beberapa hal dan memastikan sesuatu. Ia juga sudah dengar dari salah satu anak buahnya yang melihat Baekhyun meninggalkan kantor kepolisian bersama Chanyeol dengan alasan mengantarnya pulang, tapi sampai detik ini Baekhyun belum kembali atau pun menghubunginya.
Katakan Kyuhyun terlalu khawatir. Apalagi melihat kejanggalan pada pintu depan rumah yang hanya terbuka sedikit. Jika memang dibuka secara sengaja oleh pemilik rumah, seharusnya pintu dibuka lebih lebar,dan setidaknya ada suara tanda-tanda kehidupan dari dalam rumah. Tapi ini...
...terlalu sunyi. Terlalu mencurigakan.
Kyuhyun menyiapkan pistolnya dari pinggangnya. Berjalan masuk dengan sangat hati-hati. Matanya melihat sekeliling, Kyuhyun tersentak dan langsung mengarahkan pistol pada kucing yang baru saja melompat dari atas lemati buku. Tatapan Kyuhyun masih menyipit, penuh kewaspadaan. Ia melihat kucing abu-abu itu berjalan menuju balik sofa, dan mulai mengeong sambil mengibaskan ekornya.
Kyuhyun berjalan mendekat —masih dengan kewaspadaan, sampai pandangan matanya menangkap sepasang kaki yang tergeletak di atas lantai di balik sofa. Mata Kyuhyun melebar dan mulai melangkah lebih cepat. Sampai sosok Minyoung yang tergeletak di lantai itu terlihat jelas di mata Kyuhyun.
.
.
.
.
Baekhyun merasakan guncangan pelan di bahu dan bisikan di depan wajahnya. "Baekkie, bangun baby... atau aku akan menciummu."
Bibir Baekhyun sedikit berkedut tanpa ingin membuka matanya.
Terdengar suara Chanyeol yang mendengus geli menahan tawa. "Kau ini..." dan sebuah ciuman pun mendarat di bibir cherry sang 'pangeran' tidur.
Tak lama, Chanyeol menarik diri, menatap geli pada Baekhyun yang sudah membuka mata dan tanpa sadar mengerucutkan bibir tipisnya.
"Maaf Baekkie, aku benar-benar lapar. Ini sudah hampir siang dan kita belum sarapan."
Kriuuk~
Suara rengekan lambung kosong itu malah datang dari arah perut Baekhyun. Membuat Baekhyun berpaling dengan wajah merona malu, dan Chanyeol yang tak tahan untuk tertawa.
"Kita memang sehati..." goda Chanyeol di sela tawanya.
Mereka keluar dari mobil. Chanyeol menenteng tas ransel merah berisi beberapa baju gantinya. Ia membuka pintu belakang mobil untuk mengambil dua kantung plastik putih berisi belanjaan makanan mereka.
"Chanyeol-ah," Baekhyun berdiri di samping Chanyeol sambil memegang pintu mobil.
"Hm,"
"Bagaimana kau tahu alamat apartementku? Seingatku aku belum sempat memberitahukanmu."
"Kau lupa? Kau mengatakannya tadi sebelum kau tertidur." Chanyeol memberikan salah satu kantung plastik pada Baekhyun tanpa menatapnya.
"Benarkah? Aku tidak ingat," Baekhyun memiringkan kepala sambil berpikir. Bunyi pintu mobil yang ditutup Chanyeol mampu menghentikan kosentrasi 'mengingat'nya.
"Ayo Baekhyun, kita belum memasak apapun."
"Ah, neh."
Sesampai mereka didepan salah satu pintu dalam gedung apartement tersebut, Baekhyun berhenti, melirik di sampingnya.
"Kau tak ingin mencoba menebak passwordnya?"
"Umm... tanggal lahirku?" Chanyeol tersenyum.
Baekhyun memutar bola matanya. "Tch. Percaya diri sekali kau."
"Ya... siapa tahu saja kan?" Chanyeol melihat Baekhyun menekan beberapa tombol angka di samping kenop pintu, posisi tubuh Baekhyun yang tetap di samping Chanyeol juga seolah menandakan bahwa ia tak keberatan Chanyeol melihat langsung password apartementnya.
Pintu terbuka setelah Baekhyun mendorongnya.
"Tanggal jadi kita?" Chanyeol cukup tertegun.
Baekhyun berhenti di ambang pintu, tanpa menoleh pada Chanyeol di belakangnya. "Oh, kau masih ingat rupanya. Ku pikir sudah lupa."
"Ouh uri Baekhyunie... kau manis sekali..."
"Jangan salah paham!" ketus Baekhyun sambil memasuki apartement diikuti Chanyeol di belakangnya. "Aku memasang tanggal keramat itu agar bisa mengingatkanku tentang orang brengsek yang sudah meninggalkanku."
"Kata-katamu pedas, tapi kau tetap saja terlihat manis, Baekkie."
Dan pintu apartement itu pun ditutup Chanyeol dari belakang...
.
.
.
.
.
Jongin mengangkat ponsel yang berdering dari saku celananya. "Yopseyo hyung?"
"Jongin-ah," suara Kyuhyun terdengar panik di seberang sana. "Segera lacak keberadaan Chanyeol dan tangkap dia."
"Kenapa tiba-tiba?"
Setelah Kyuhyun menjelaskan situasinya, mata Jongin segera melebar. Ia menoleh, menatap khawatir pada Kyungsoo yang sibuk menghubungi satu persatu teman Minyoung melalui telepon dan menanyakan keberadaan adik bungsunya itu.
.
.
.
.
.
.
Bersambung~
.
.
.
.
.
A/N:: Tinggal sedikit lagi, seseorang akan tertangkap... Dan Aya sengaja tidak akan menggambarkan siapa pelaku sebenarnya sampai cerita ini benar-benar berakhir. :)
So, Apa kalian masih yakin dengan tebakan kalian? ^^
.
.
.
_o0o_
Tinggal 3 chap lagi~
Review Please~
~Sayaka Dini~
[27 Febuari 2015]
