Yifan mengusap wajahnya gusar. Beberapa kali ia merasa sangat gelisah saat pesawat yang ditumpanginya sudah mendarat di China, dan beberapa menit lagi ia akan menginjak Guangzhou. Ia menoleh pada Luhan yang tertidur pulas disampingnya, lalu menatap kedua sahabatnya yang juga tertidur.

Yifan menghela napas. Benar, ia sudah di China.

"Zitao, aku datang ..." gumamnya pelan.

AUTOMNE

Chapter Nine

Rated : T

Cast : Huang Zitao, Wu Yifan, Oh Sehun, Xi Luhan, Chanyeol, Suho, Kai, Wu Bao Lei, Wu Li Wen and others.

Warning : YAOI! Genk of TYPO(?)

DON'T LIKE, DON'T READ!

NO SIDERS

.

.

I TOLD YOU BEFORE, IF YOU DON'T LIKE THIS FANFIC, GO AWAY, PLEASE!

AND, HAPPY BIRTHDAY FOR BYUN BAEKHYUN :)

ENJOY^^

.

"Lu! Lu!"

Luhan menoleh dan tersenyum saat Kevin berlari menuju kearahnya, membawa sebuah bola sepak. "Kevin? Bola baru?"

Kevin mengangguk, dengan cepat ia meraih tangan kecil Luhan dan membawa pemuda itu menuju lapangan, membaur dengan anak-anak lainnya yang sedang bermain bola. Luhan terdiam begitu melihat beberapa diantara mereka tampak lebih besar. "Kevin, sepertinya mereka anak SMP, lebih baik kita bermain di halaman rumahku saja,"

Kevin kecil menggeleng, kemudian menunjuk sekumpulan orang yang sedang berebutan bola sepak. "Mereka selalu bermain disini, mengapa kita tidak mencobanya?"

"Tapi mereka sudah SMP, kita bahkan baru kelas lima SD,"

"Tidak apa, ayo ikut!" Kevin berseru dan membawa Luhan menuju tengah lapangan, kemudian dengan penuh percaya diri, ia melambaikan tangannya. "Hei, boleh kami bergabung?"

Sejenak, para remaja itu menatap Kevin dan Luhan kebingungan, lalu mereka tertawa mengejek. Salah satu orang yang bertubuh paling besar mendekat kepada mereka. "Kalian masih SD! Pulang saja main playstation!" ujarnya meremehkan.

Luhan dan Kevin tentu saja tersinggung. Namun yang paling marah ialah Kevin. Ia tidak pernah diremehkan, bahkan oleh kakak kelasnya sekalipun. Siapa orang itu yang berani meremehkannya. Luhan segera menarik Kevin untuk menjauh, "Ayo, kita pulang,"

"Tidak! Aku ingin bermain disini!"-Luhan membulatkan mata kecilnya mendengar ucapan keras Yifan. Anak-anak SMP itu mulai merasa risih saat melihat Kevin yang menendang bola miliknya kesana kemari dan menciptakan sebuah gol. Luhan tersenyum, ia mulai mengikuti kemauan Kevin yang membuat para kawanan itu semakin kesal. Dengan penuh amarah, mereka menarik pakaian Luhan dan juga Kevin. "Hei, apa yang kau lakukan?!" Kevin membentak.

"Pulang sana!" -Dan kedua anak itu dilempar hingga terjatuh. Lutut Luhan bahkan berdarah, dan matanya sudah berkaca-kaca menahan tangis.

"Ahahaa, baru segitu saja sudah menangis! Kau lelaki atau perempuan?!"-mereka, kawanan SMP itu meledek Luhan. Kevin yang melihat itu semua sangat geram. Dengan penuh amarah, ia menonjok salah satu dari anak remaja itu.

Keributan langsung saja terjadi, dan Luhan hanya menangis menahan perih. Ia mulai menyadari bahwa Kevin sudah hampir babak belur, melawan sekumpulan anak SMP sendirian. Ia berlari masuk kedalam kerumunan dan ikut adu jotos disana.

Perkelahian antara anak SD dan SMP berakhir dengan seimbang. Luhan membawa Kevin pergi menuju rumahnya dan ia menangis sepanjang perjalanan, melihat sahabatnya yang penuh lebam sana-sini. Mereka pasti akan dimarahi setelah ini. "Lu,"

Luhan menoleh begitu Kevin memanggilnya, "A-apa?"

"Jangan menangis,"

"Kau bodoh! Lihat, dirimu terluka! Bibi Li Wen dan Mama pasti akan marah!" Luhan menahan isak tangisnya dan memarahi Kevin.

Kevin tersenyum, "Tidak apa. Dimarahi sekali-kali itu menyenangkan,"

Perkataan Kevin sukses membuat Luhan menjatuhkan airmatanya. "Tapi kau terluka separah itu ..."

"Kau juga terluka, bukan?"

"Aku memang terluka, tapi kau sangat parah! Ini semua salahku! Bagaimana jika kau meninggalkanku, Kevin?! Bagaimana, hah?!"

Kevin menghentikan langkahnya dan menatap Luhan yang menangis tersedu-sedu. Dengan cepat ia memeluk Luhan, berusaha menenangkan si manis. "Tenang saja, aku tidak akan meninggalkanmu walau tubuhku terluka olehmu,"

Luhan membalas pelukan Kevin dan terisak, "Kau bohong!"

"Tidak, Luhan. Aku berjanji, aku tidak akan pernah meninggalkanmu,"

"Kau yakin?"

"Ya. Aku yakin. Kau bisa memegang janjiku, Lu,"

.

.

.

"Bangunlah,"

Luhan terbangun dari tidurnya, merasakan bahwa seseorang berkali-kali menepuk pundaknya pelan. Dengan mata yang masih mengerjap, ia bergumam, "I-iya,". Tangannya kini mengucek kedua matanya dan menoleh, mendapati Yifan dan Suho yang tengah mengambil koper mereka. Chanyeol sudah bangun, namun pemuda itu masih menguap dan berusaha mengumpulkan kesadarannya.

Luhan berdiri dan mendekati Yifan, "Bisa ambilkan tasku?"

Yifan langsung menarik tas Luhan dan memberikannya pada pemuda itu. Si manis kemudian memperhatikan Suho yang menarik Chanyeol, menyuruhnya untuk segera bangun dan turun dari pesawat.

Keempatnya, kini berjalan cepat, turun dari pesawat. Ada rasa menggelitik di hati Yifan begitu ia menginjak China. Ia senang dapat kembali ke negeri asalnya, menghirup udara khas China dan juga mengingat memori tentang Negara bamboo itu. Ia sama sekali tak merasa menyesal datang ke China terlalu cepat.

Suho memimpin, ia maju dan mempercepat langkahnya. "Kita bisa memesan taksi. Sekarang, kita ke café dulu sebentar. Aku lapar," ujarnya. Yang lain hanya mengangguk setuju. Yah, perjalanan panjang dari Canada-China memang membuat perut mereka meronta kelaparan. Terlebih Chanyeol yang sedari tadi mengeluh.

Luhan memeriksa handphone-nya, ada sebuah pesan masuk.

From : Kai-ge

Sudah sampai di China? Ini gege, handphone gege sedang lowbatt.

Dengan cepat tangan Luhan mengetik pesan untuk membalas pesan dari kakaknya.

To : Kai-ge

Iya, aku sudah sampai. Kalian harus ke China secepat mungkin! Negeri kita semakin menakjubkan!^^

Luhan

"Luhan? Cepatlah!" suara Chanyeol yang memanggil si manis membuatnya berlari terburu-buru, menyusul tiga pemuda yang lebih tinggi darinya.

.

.

.

"Zitao? Mau menemaniku?"

Sehun tiba-tiba memeluk pinggang Zitao dari belakang, membuat si cantik terkejut. Zitao tersenyum, melanjutkan memotong wortel yang sedari tadi dilakukannya, "Kemana?"

Sehun menyembungikan wajahnya di ceruk leher Zitao, menghirup aroma kekasihnya. "Toko buku. Ada novel misteri yang baru saja terbit, dear,"

"Berhenti berpura-pura menjadi detektif, Tuan Oh,"-Zitao terkekeh sedangkan Sehun cemberut. Pemuda berdarah Korea itu lalu mencubit pipi Zitao gemas, membuatnya mengaduh. "Iya, iya. Tunggu sebentar. Aku akan bersiap," ujarnya mengalah, lalu melangkah memasukkan wortel yang sudah ia iris sebagian kedalam kulkas. Sehun tersenyum, membiarkan Zitao melenggang pergi dari pelukannya menuju kamarnya.

.

"Aku ingin ke toko buku," Yifan langsung meneguk habis kopi yang baru saja ia pesan.

Suho menatapnya, kemudian kembali menyendokkan cake pesanannya. "Tunggu aku selesai makan," serunya.

Yifan menggeleng. Ia tidak setuju begitu melihat cara makan Suho yang tampak seperti bangsawan. Penuh keleletan dan dia benci harus menunda kepergiannya ke toko buku hanya untuk menunggu Suho selesai makan. Belum lagi Chanyeol yang menyantap dua cake sekaligus, tapi nampaknya Chanyeol menerapkan sistem makan cepat. "Kau lambat. Aku ingin pergi sekarang," ujarnya lagi.

"Toko buku tidak akan lari, Wu Yifan," ujar Suho sedikit kesal.

Luhan, hanya memperhatikan keduanya, berusaha untuk tidak ikut dalam perdebatan Yifan dan Suho. Untunglah iced lemon kesukaannya membuat tenggorokannya sedikit lega.

"Aku akan pergi sekarang,"-Yifan langsung beranjak dari tempat duduknya, melangkah pergi, keluar dari café tersebut. Membuat Suho menatapnya jengah dan Luhan terkejut.

"Kau, pergilah. Temani si bodoh itu," perintah Suho, menatap Luhan. Pemuda manis itu mengangguk dan segera berlari menyusul Yifan.

"Kevin! Kevin tunggu aku!"

Yifan mendelik mendengar nama kecilnya diserukan oleh Luhan. "Jangan panggil aku dengan nama itu lagi," ucapnya dingin. Luhan mengangguk patuh. Keduanya pun berjalan menuju toko buku yang berada dekat dengan café yang menjadi tempat persinggahan mereka.

Luhan menghela napas, Yifan tidak memulai pembicaraan sama sekali dan ia merasa bosan. Yifan hanya terus melangkah, menatap orang yang lalu lalang dan memperhatikan jalanan. Luhan bahkan harus berlari kecil jika ia tidak mau tertinggal. "Yifan, jangan cepat-cepat!" pintanya dengan sedikit berteriak.

Yifan menoleh kearah Luhan yang mulai kesulitan melewati kerumunan orang-orang. Ia menggerutu kecil, kemudian berbalik dan menarik Luhan keluar. Pemuda bermarga Xi itu sedikit terkejut saat Yifan menariknya dan menggenggam tangannya. Luhan tersenyum senang akan hal itu, walaupun Yifan menariknya dengan kasar, yang penting ia bisa bergandengan tangan dengan pemuda tinggi yang akan menjadi tunangannya itu.

.

Kasihan

.

Mereka berdua sudah sampai di toko buku yang menampakkan deretan penuh buku-buku tebal maupun yang tipis. Yifan tetap tidak melepaskan genggamannya, dan Luhan sedikit kebingungan akan hal itu. Harusnya Yifan sudah melepaskan tautan tangan mereka. Mungkin dia lupa. Dengan perlahan, Luhan mencoba melepaskan genggaman Yifan.

"Jangan dilepaskan,"

Ucapan Yifan seketika membuat pipi Luhan bersemu merah. Rupanya Yifan sungguh-sungguh ingin menggenggam tangannya? Ini keajaiban.

.

"Wah wah, tidak disangka!"

Luhan terkejut dan mendongak mendengar suara yang menyahut dihadapan mereka. Seorang yang bertubuh tinggi, dan ...

.

.

... –Huang Zitao.

.

.

Yifan menyunggingkan senyumnya, "Hai,"

"Selamat datang di China, Wu Yifan,"-Sehun, tersenyum meremehkan Yifan dan memperkuat genggaman tangannya pada Zitao yang terkejut mendapati mantan kekasihnya.

"Yeah,"-Yifan hanya bergumam, sama sekali tak memperhatikan Sehun dan menatap Zitao yang tengah menunduk. Tidak disangka-sangka ia sudah bertemu dengan Zitao pada hari pertama ia menginjakkan China setelah pulang dari Canada.

Sehun mengalihkan pandangannya dari Yifan, menatap Luhan yang mulai menegang melihat Zitao. "Wow, kekasih baru, Yifan?"

Zitao tersentak.

"Iya, namanya Xi Luhan. kami akan bertunangan musim semi ini. Mau datang?"

.

'Tidak!'

.

"Dengan senang hati. Aku dan Zitao akan datang ke pertunanganmu,"

.

'Jangan!'

.

"Aku menunggu kedatangan kalian. Dan, oh, kalung kalian bagus. Serasi untuk kalian berdua,"

.

'Hentikan!'

.

"Benarkah? Baguslah, Zitao juga sepertinya menyukai kalung ini,"

.

'Cukup!'

.

"Sehun? Ayo, kita bayar buku-buku ini. Aku harus melanjutkan permintaanmu itu,"-Zitao tersenyum masam, menatap Sehun, kemudian menoleh pada Yifan dan Luhan.

"Ah, sup ya? Baiklah, princess," ujar Sehun, terkekeh melihat Zitao yang memukul lengannya pelan. "Kami duluan, Yifan, dan..." Sehun menatap Luhan dari kaki sampai atas kepalanya, " ... -Xi Luhan," lanjut pemuda albino itu, lalu menarik Zitao pergi meninggalkan Yifan dan Luhan yang masih terpaku.

.

Zitao bergumam pelan, "Selamat tinggal, -

.. –Ge,"

.

Yifan, geram.

Grep!

Zitao terkejut. Sangat. Yifan langsung meraih tangannya dan menghentikan langkahnya. Sehun pun sama terkejutnya. Ia menatap Yifan, merasa pemuda itu akan melakukan sesuatu yang mungkin saja menimbulkan keributan. "Apa yang akan kau lakukan, Wu?"

Yifan tersenyum, sama sekali tidak menghiraukan pertanyaan Sehun, "Kau salah, Zitao,"

Zitao menaikkan sebelah alisnya, "M-maksudnya?"

"Kita akan bertemu lagi. Harusnya kau mengucapkan 'sampai jumpa', Zi,"

Sehun dengan cepat langsung melepaskan cengkraman Yifan pada lengan Zitao. "Ya, sampai jumpa, Wu Yifan," serunya, lalu kembali melangkah, menarik Zitao yang masih menatap Yifan sendu.

Luhan, yang sedari tadi diam saja menoleh, menatap Yifan yang masih menatap punggung Zitao. "Yifan?"

Pemuda tampan itu mengusap wajahnya gusar, lalu segera berbalik, meninggalkan Luhan yang menatapnya lirih. 'Kau tidak akan meninggalkanku kan, Kevin?'

.

.

.

Yifan dan Luhan memasuki rumah besar itu. Mereka berdua sudah tiba dikediaman keluarga Wu. Keduanya disambut dengan baik oleh keluarga Yifan. Luhan bahkan tidak menyangka bahwa penyambutan akan semeriah ini. Ada Ayah Yifan, Ibunya, Neneknya dan juga Adiknya. Beberapa pelayan bahkan mendatanginya dan menawarkan layanan yang akan mereka lakukan. 'Keluarga Yifan benar-benar kaya sekarang'-batin Luhan dalam hati, ia masih ingat sekali bahwa dulu keluarga Yifan masih terbilang dalam keluarga yang sederhana.

"Istirahatlah. Nanti para pelayan akan memanggil kalian saat makan malam,"-Ayah Yifan memberikan kunci kamar tamu pada Luhan, sedangkan Yifan langsung saja berlari menuju kamarnya. Luhan hanya bisa menghela napas. Wajar saja jika Yifan berperilaku seperti itu padanya.

"Mau saya antarkan, tuan?"-seorang pelayang tiba-tiba mengejutkan Luhan.

"A-ah, iya," jawabnya, kemudian mengikuti si pelayan.

.

Pemuda blasteran Canada itu langsung melemparkan ransel miliknya diatas kasur. Yifan jatuh terduduk tepat dibelakang pintu kamarnya, menatap seisi ruangan berwarna putih polos itu. Berkali-kali ia menghela napas berat, lalu memejamkan matanya dan mencengkram kuat surai hitam kemerahan miliknya.

Rencana yang akan dia jalankan, tidak boleh hancur. Sama sekali tidak boleh. Jika hancur, tamat sudah. Lebih baik ia mati daripada rencana yang sudah disusunnya rusak.

Sebenarnya, ia juga tidak tahu apa yang baru saja ia lakukan tadi. Berusaha memamerkan bahwa dirinya sudah bisa berdiri tegak tanpa Zitao. Menunjukkan bahwa ia juga bisa jauh lebih bahagia daripada Zitao. Memperlihatkan bahwa ia juga bisa melupakan Zitao dengan pemuda lain.

Dan ia ... –salah besar.

Yang dilakukannya tadi, benar-benar bodoh. Tatapan sendu yang Zitao layangkan padanya, membuat otak Yifan kosong seketika. Suara lembut yang Zitao tujukan pada Sehun, membuatnya sangat murka. Terlebih, kalung yang Zitao pakai. Sungguh, Yifan hanyalah sebuah boneka panggung, dan Zitao ialah Ventriloquisme. Tanpa Zitao, ia hanyalah setumpuk mainan rongsokan.

Mainan rongsokan –Yifan, dan seorang Ventriloquisme –Zitao bisa melengkapi mainan rongsokan itu menjadi sebuah pertunjukan yang sangat meriah.

Apakah hanya Yifan yang berharap tentang pertunjukan yang meriah dan penuh senyum manis disana?

Zitao juga mengharapkannya

.

.

Tok tok

"Yifan?"

Pemuda yang dipanggil namanya itu segera berdiri, membuka pintu kamarnya yang sempat diketuk oleh seseorang. Mata tajam Yifan seketika melembut begitu melihat siapa yang datang. Ibunya.

"Ibu?"

Ibu Yifan, Wu Li Wen, masuk kekamar anaknya. "Tutup pintunya, nak," perintahnya.

Yifan menurut, ia menutup pintu kamarnya dan segera menghampiri Ibunya yang sudah duduk di tepi ranjang. "Ada apa?"

Wanita yang sudah lanjut usia itu tersenyum, kemudian mengusap rambut Yifan. "Kau mewarnai rambutmu?"-Yifan hanya diam, sama sekali tidah menggundahkan perkataan Ibunya.

"Kau sudah dewasa, Yifan .." si Ibu menghela napas, membuat Yifan menunggu kalimat yang akan diucapkan selanjutnya. "... Ibu harap kau benar-benar bisa memutuskan masa depanmu,"

"Maksud Ibu?"

Wu Li Wen, tersenyum untuk kesekian kalinya. Ia meraih tangan putranya, kemudian memberikan Yifan sebuah cincin emas. Cincin yang sangat sederhana, berwarna emas dengan sebuah permata kecil sebagai hiasannya. Yifan mengangkat sebelah alisnya, tidak mengerti. "Ibu?"

"Itu .. –cincin yang diberikan oleh kekasih Ibu dulu," ucapan Li Wen membuat anaknya terkejut.

"Kekasih? Ibu punya kekasih selain Ayah?"

Li Wen menggeleng, "Jika dalam artian kehidupan, tentu saja tidak. Tapi, berbeda dengan hati Ibu,"

Yifan masih menatap Ibunya tidak mengerti. Li Wen kembali menghela napas, "Sebelum menikah dengan Ayahmu, Ibu mempunyai kekasih. Ibu bertemu dengannya di taman. Saat itu, ia membawa adik sepupunya dan kewalahan menjaganya. Aku tertawa melihatnya, dan dia tercengang melihat Ibu tertawa. Kau tahu, kami langsung akrab saat itu, Yifan,"

Yifan masih menatap Ibunya. Masih ingin mendengarkan nostalgia sang Ibu. "Lanjutkan,"

"... Tepat saat hari jadi hubungan kami yang ketiga tahun, ia melamar Ibu. Kau tahu, Yifan? Lamarannya sangat tidak romantis. Ia mengajak Ibu pergi bersepeda ke gunung, dan ia malah terjatuh dari sepeda. Ibu harus susah payah membawanya ke rumah sakit. Dan, ia malah melamar Ibu di depan dokter dan suster saat itu. Ibu sangat malu,"-masih dalam nostalgia, Li Wen menghela napas.

"Saat itulah, Ibu bertemu dengan keluarga Ayahmu. Mereka mengatakan bahwa Ibu akan dijodohkan dengan Ayahmu. Ibu sangat terkejut kala itu, Ibu tidak tahu apa yang harus dilakukan dan Ibu menunggu ia datang. Dan ia benar-benar datang," ucap Li Wen, seketika air matanya mengalir.

Yifan terkejut, "Ibu, jangan menangis,"

"Ia datang dengan membawa kabar buruk, Yifan. Ia membohongi Ibu selama ini," isak tangis Li Wen membuat putranya menatapnya sendu. "Ia mengidap kanker otak stadium tiga. Ia tidak pernah menceritakan soal penyakitnya, dan Ibu pikir semuanya akan baik-baik saja. Ternyata tidak, Yifan. Ia berusaha meyakinkan Ibu bahwa semuanya akan baik-baik saja,"

Yifan menyeka air mata Li Wen. "Lalu?"

"Cincin ini,"-Li Wen memperlihatkan kembali cincin yang ia bawa pada Yifan. "Cincin ini sempat membuat Ibu merasa lega dan mempercayai kata-katanya. Ia bilang akan melamar Ibu dihadapan Nenek dan Kakekmu, jadi Ibu menunggu. Ibu menunggu sampai ia benar-benar sembuh," tangis Li Wen semakin besar sekarang.

"Ibu salah, Yifan. Ia .. ia .. –

.. –meninggal tepat saat pernikahan Ibu dan Ayahmu, Yifan,"

Yifan terkejut mendengarnya. Ia tidak menyangka bahwa masa lalu Ibunya bahkan jauh lebih menyakitkan dari apa yang sedang ia hadapi. "Apakah ia datang kepernikahan Ibu dan Ayah?"

Li Wen mengatur napasnya, berusaha untuk menghentikan tangisnya. "... Ya, ia datang. Ia datang mengucapkan selamat dan setelah itu pergi. Pergi untuk selamanya," Wanita itu kini menatap cincin sederhana itu, kemudian menatap anaknya.

"Anakku, Yifan, Ibu tidak ingin kejadian yang sama terulang kembali," serunya.

"Maksud Ibu?"

"Ibu tahu, Ibu sangat tahu kau sudah mencintai seseorang. Dan sebelum kau menyesalinya, pertahankan ia, anakku," Li Wen menyerahkan cincin keemasan itu pada Yifan, membuat putranya semakin kebingungan.

"Ibu?"

"Ibu akan selalu mendukungmu meski Ayahmu menentang. Jadi, jangan pernah takut. Ini demi masa depanmu. Ibu tidak mau kau menyesali semuanya dan terpuruk sepertiku," Li Wen kembali mengusap rambut anaknya yang tengah menunduk.

"Ibu tahu itu tidak mungkin, bukan?" ucapnya lirih.

Li Wen menggenggam kedua tangan Yifan yang memegang cincin pemberiannya. "Berikan cincin itu, pada dia, Yifan. Jangan pernah kau mencoba memberikannya pada orang lain,"

Yifan menatapnya tak percaya, "Ibu ... memberikan cincin ini padaku?"

"Bukan padamu, tapi padanya. Pada ia yang kau cintai, nak,"

Kepada Zitao

Li Wen beranjak pergi, meinggalkan putranya yang terdiam menunduk, menatap cincin pemberian Ibunya. Ya, Ibunya benar. Sebelum terlambat, sebelum ia menyesali semuanya, sebelum ia hidup dalam keterpurukan, ia akan memperjuangkan Zitao.

Yifan tersenyum penuh kemenangan.

"Ya, I'll pick you up, Zitao,"

.

.

.

Zitao mengangkat panci berisi sup buatannya. Dengan pelan ia memindahkan sup itu kedalam mangkuk besar, lalu dihidangkannya pada Sehun. Sehun tersenyum kala Zitao memberikan sup permintannya yang sudah sedari tadi ditunggunya.

Zitao mengambil tempat duduk tepat disamping Sehun. Melihat kekasihnya mulai menyendokkan sup buatannya kedalam mulutnya. "Bagaimana? Enak?" tanyanya.

Sehun menoleh menatap Zitao, kemudian mengecup hidung bangir milik si cantik. "Buatan bidadari selalu enak, tahu," ucapnya, tertawa pelan melihat Zitao yang memukul lengannya. Itu yang selalu dilakukannya jika Sehun menggodanya.

Sehun kembali menyendok sup buatan Zitao dan memakannya, kemudian memberikan suapan pada kekasihnya yang diterima dengan baik oleh Zitao. Entah apa yang harus Sehun katakan sekarang, ia sangat senang dan gembira. Zitao benar-benar berada di sisinya seperti apa yang ia impikan. Rencana yang ia susun rapi berjalan dengan baik dan membuahkan hasil yang sempurna, walaupun beberapa pengganggu seperti Chanyeol dan entahlah siapa namanya-Suho, membantu Yifan untuk menggagalkan aksinya.

Sehun ... benar-benar merasa bahagia dari siapapun sekarang.

Zitao mendekat pada Sehun dan menempelkan dagunya pada pundak Sehun. Menunggu suapan sup dari kekasihnya datang. Sehun tersenyum, ia menoleh dan mencium surai hitam milik Zitao. Si cantik terkikik geli, "Sehun, berhenti. Kau sedang makan,"

Sehun menggeleng, "Walau aku sedang sibuk sekalipun, aku bisa melakukan hal ini,"-ia menyubit pipi Zitao gemas.

Zitao menggembungkan pipinya tak terima, membuat Sehun tertawa melihatnya. "Kau senang, huh? Kau senang tuan Oh?" serunya sangat mengintimidasi.

"Ahaha, oh sayangku, aktingmu sangat bagus tadi. Mau kubuatkan film?"-Sehun dengan santainya mendekatkan wajahnya pada wajah Zitao. Pemuda panda itu langsung merona hebat. "Yaak! Oh Sehun! Jangan harap kau bisa masuk kekamarku lagi!" Zitao mengamuk dan menyerang Sehun yang sudah menertawakan dirinya.

Mereka berdua terjatuh dari kursi, dengan posisi yang cukup ... intim(?)

Sehun terbaring dibawah Zitao yang tengah mengaduh kesakitan. Lutut Zitao sudah terbentur lantai dan tangannya menyentuh bahu Sehun. Dengan cepat Zitao bangkit dan duduk diperut kekasihnya. Pemuda bermarga Oh itu menyeringai, "Hei, Zitao,"

Yang dipanggil menoleh, ia masih merasa kesakitan karena terjatuh tadi. "Hm?"

Tangan Sehun dengan cepat langsung menarik tengkuk Zitao, membuatnya bisa mendekatkan wajahnya-lagi. "Mau lihat aktingku?"

"Tidak!" Zitao mencibir, walaupun pipinya bersemu merah, ia tetap tidak bergerak sedikit pun.

Sehun terkekeh, "Ayolah,"

"Aku tahu benar maksudmu, tuan muda Oh Sehun!" timpal Zitao kesal.

Sehun tersenyum mendengar gerutuan Zitao. Ia menatap lekat manik mata si cantik, sekaligus membuat Zitao sukses kebingungan. Sehun menghela napas, matanya kemudian beralih turun melihati bibir curve kekasihnya. Dengan gumaman kecil, ia bertanya, "Bolehkah?"

Zitao dengan cepat paham apa pertanyaan kekasihnya, wajahnya mulai memerah. Ia terdiam lama, dan Sehun tetap menatap dirinya. Zitao akhirnya mengangguk pelan.

Sehun tersenyum melihat reaksi Zitao. Ia mendekatkan wajahnya, merasakan napas Zitao menerpa wajah tampannya. Tanpa menunggu apapun, Sehun menempelkan bibirnya pada bibir kecil milik si panda. Zitao memejamkan matanya, begitu pula dengan Sehun. Berusaha untuk terdiam dan tidak melawan.

Rasanya ... beda.

Zitao bisa merasakan perbedaan yang sangat jauh. Walaupun Sehun menciumnya dengan lembut dan tanpa tuntutan apapun, namun ia lebih mengharapkan kecupan Yifan yang selalu diberikan untuknya. Tapi itu dulu. Sekarang Zitao harus membuka hatinya untuk Sehun dan mulai menerima apapun yang ada pada diri Sehun.

Zitao akan menerima kenyataan.

Sehun melepaskan ciumannya, membiarkan Zitao dan dirinya menghela napas. Ditatap lekat raut wajah Zitao yang tampak gelisah, lalu diusapnya pipi tembem milik kekasihnya. "Aku mencintaimu, Zitao," ucapnya pelan.

Zitao balas menatap Sehun, tersenyum dengan sangat lembut dan menggenggam tangan Sehun yang sedang mengusap pipinya, "Aku juga,"

"Katakan kalau kau mencintaiku," seru Sehun.

"... Aku mencintaimu, tuan Oh,"

Bohong

Sehun tersenyum penuh kemenangan. Ia mengecup kening Zitao dengan waktu yang lebih lama. Suka atau tidak, Zitao hanya bisa tersenyum tipis, menerima kecupan sang kekasih.

.

Huang Zitao selalu mencintai Wu Yifan

.

"Aku mencintaimu, Sehun ..."

"Aku juga, Zitao. Aku akan selalu mencintaimu,"

Bodoh

.

.

.

TBC

Apa kabar nih readers? Ira kangen :'v

Ahaha, jadi, gimana dengan chapter ini? Nyebelin gak? Ira usahain buat chapt ini greget lo :3

Dan oiya, mungkin sebagian readers nggak tahu arti dari Ventriloquisme.

Ventriloquisme itu seseorang yang ahli bicara perut. Gampangnya dalang di sebuah pertunjukan yang melibatkan boneka, dimana, sang dalang tersebut akan menggunakan suara perut biar kelihatan kalo bonekanya yang lagi ngomong. Kayak show-show boneka gantung yang dikendalikan oleh seseorang gitu :3 kayak pelem hantu dead silence :'v

And well, ini balasan review kalian di chap 8 :

Huang Zi Mei : "Yooo~ wkwkk iya dong abang panpan kan masih muah muah sama dedek panda :v kakaknya luhan? Ira sendiri bingung siapa :'v siip! Thanks for the spirit and your review~"

yuikitamura91 : "Yooo~ wkwkwk maafkanlah ira yang harus buat zitao deket amat ama abang Hun dichapt ini :'v dan ira pengen buat zitao cemburu liat yipan ama lulu huehehehe :D Thanks for your review~"

LVenge : "Yooo~ wkwkk kayaknya nih ff gaje banyak chaptnya, pokoknya tunggu aja nanti :3 and well, ira pengen banget buat zitao cemburu liat yipan ama lulu wkwkk, Thanks for the spirit and your review~"

ajib4ff : "Yooo~ ecieee mulai roman-roman wkwkk :v nah ini nih, ira aja bingung kakaknya luhan itu sape -_- wah kalo rencana omyipan mah gaboleh bocor atuh :v rahasia perusahaan wkwk. Thanks for the spirit and your review~"

devv : "Yooo~ aduh jangan dicubit atuh lulunya nanti abang Hun marah wkwk. Thanks for your review~"

luphbebz : "Yooo~ ahahaha sukses ternyata ira bikin reader gregetan :D Iya dong zitao emang perpek, secara suami masa depan ira(?) :'v Thanks for your review~"

kawaiiaegyo33 : "Yooo~ hehehe ira usahain buat fast update, mumpung ira juga lagi libur karena kakak2 kelas 9 pada un. Waduh kok kamu udah tau dikit rencananya om naga? :'v eheheh, ira pengen banget buat zitao cemburu ama yipan dan neng lulu :v wah kalo soal ending, itu masih secret :3 Thanks for your review~"

YuRhaChan : "Yooo~ wkwkwk iya gapapa kok, aslakan kamu baca ira udah fly mode(?). Abang Hun emang keren banget,secara kakak ira gitu loh :'v kalo om naga, ira buat galau disini wkwkk. Thanks for your review~"

celindazifan : "Yooo~ wkwkk taonya menderita dulu yeth, abis itu baru seneng2 :3 wkwkk iyaa makasih banyak atas dukunganmuuu^^ Thanks for your review~"

Putz : "Yooo~ aduh maafkanlah zitao(?) ira hanya pengen buat dia menderita dulu, abis itu seneng2 :v :3 moment Kristao pasti bakal ada kok, kyknya chapt depan ira munculin moment-nya Kristao :3 Thanks for your review~"

Varka : "Yooo~ahahah ini ira udah usahain buat fast update kok :3 siip, ini udah lanjut dan bakal terus lanjut kok. Heheh iya panggil ira aja. Thanks for your review~"

Orangecuppie : "Yooo~ ahahaha, pertanyaan kmu udah kejawab di chapt ini gak? And well, ini udah lanjut kok. Thanks for your review~"

beruanggajah : "Yooo~ waah kalo rencananya om naga itu belum boleh dikasitau, masih rahasia wkwk. Eehh jangan dong, nanti nasibnya lulu gimana kalo abang Hun kagak ada wkwk. Eng ... gini, sebenarnya ira agak gasuka sama pair krislay, makanya gamau bikin org ketiganya lay disini. Kalo sehun, soalnya dia paling dekat sama tao waktu masih trainee sm, mungkin karena itu makanya sehun jadi orang ketiga XD Thanks for your review~"

annisakkamjong : "Yooo~ wkwkk puas gak sama huntaonya disini? Iya, ini ira udah lanjut dan selalu usahain buat fast update. Thanks for your review~"

wuziper : "Yooo~ wkwkwk, sehun kan masih bahenol gitu(?) ahahaha, ini efeknya ikut nonton dangdut academy bareng nenek ira, makanya ira jadi kayak gini(?) rencananya om naga pasti berhasil kok wkwk. Thanks for your review~"

HUANGYUE : "Yooo~ ahahaha masa itemin sehun terus putihin kai XD keajaiban dunia kedelapan tuh wkwkwkk. Iyaa, ini udah lanjut kok. Thanks for your review~"

Kirei Thelittlethieves : "Yooo~ siip, ini udah lanjut kok. Thanks for your review~"

Aiko Michishige : "Yooo~ tenang, om naga udah punya rencana kok buat dedek panda :V Thanks for your review~"

Newzee : "Yooo~ wkwkwk, kalo mereka digabungin beneran bisa2 dunia kiamat(?) dan ira memang punya rencana buat HunHan loh :3 iyaa, gapapa kok. Pantengin ff ini terus yaa. Thanks for your review~"

Guest : "Yooo~ astaga wkwkwk, pake dukun segala :V iya, ira juga kasian sama luhan dan sehun yang dipehapein, pake hati lagi sama KrisTao :3 siip, ini udah lanjut kok. Thanks for your review~"

BabyWolf Jonginnie'Kim : "Yooo~ ini hunhan-nya ketemu :v chapt depan, janji deh, ira bakal buat hunhan. Thanks for your review~"

renata anastasya.92 : "Yooo~ waduh, seneng liat om naga menderita nih XD siip, ira usahain fast update kok! Thanks for the spirit and your review"

fausia shara : "Yooo~ wkwkk iya, ira juga agak gatega liat lulu yang di php(?) ama kris. Kakaknya lulu? Ira juga gatau siapa :V Thanks for your review~"

ang always : "Yooo~ ehehhe, ini emaknya om naga udah setuju kok :v nah ini nih, ira bingung nentuin siapa kakaknya lulu :'v kamu bisa nentuin siapa gak? Thanks for your review~"

Hoshi no Haru : "Yooo~ siip ini udah lanjut kok. Wkwk, iya nanti kristaonya pasti bersatu deh :v tapi nanti :V Thanks for your review~"

AmeChan95 : "Yooo~ siip, ini udah lanjut kok. Thanks for your review~"

Safitri676 : "Yooo~ rencananya kris masih rahasia :3 siip, ini udah lanjut kok. Thanks for the spirit and your review"

Kt : "Yooo~ iya iya bakal disatuin kok XD tapi nanti XD Thanks for your review~"

yjima : "Yooo~ rencananya yipan? Hehehe, belum boleh diumbar, masih rahasia perusahaan. Thanks for your review~"

Ko Chen Teung : "Yooo~ wkwkwk maaf atuh ga sesuai harapan :3 zitao labil, yipan labil, ira labil(?)Thanks for your review~"

momo : "Yooo~ maafkan ira yang buat tao ngenes banget disini(?)Thanks for your review~"

owe : "Yooo~ ahahaha, maafin ira atuh, udah bikin kmu KZL :V Thanks for your review~"

zee konstantin : "Yooo~ wkwkk reader unik nih :D Thanks for your review~"

exoel12 : "Yooo~ wkwk, yipan sama lulu belum tunangan, entar musim semi :v mau datang gak? Nah ini nih, ira gatau siapa kakaknya si lulu :v ira bingung ira bingung :v kira2 siapa ya? Masa kecilnya luhan ma kris di chapt ini udah ada dikit, masih mau? :v Thanks for your review~"

Arin : "Yooo~ wkwk makasih loh udah nyempatin baca ff abal2 ini. Kalo soal pacarnya si kai, ira juga belom tau :v kamu punya saran gak? Thanks for your review~"

swgzcha : "Yooo~ aduh jangan atuh :D kasian nanti lulu-nya, kalo abang Hun-nya gaada wkwk. Thanks for your review~"

ShinJiWoo920202 : "Yooo~ ahahah, rencananya om naga udah kesusun rapi, tinggal dijalanin aja kok :v iya, pasti ira bakal bikin reader seneng kok. Tapi nanti :v Thanks for your review~"

mandwa : "Yooo~ ahahah, pantengin ff ini terus yaa. Siap bos :D Thanks for your review~"

Oiya, ira minta pendapat kalian nih :v

Kira2, yang cocok jadi kakaknya luhan itu siapa? Kyungsoo, Lay, atau Baekhyun? Mohon dijawab ya readers, soalnya ira bener2 bingung nentuin siapa orangnye :3

Last, MIND TO REVIEW? Just gimme your respond, babe~