Perusahaan milik tuan Rojnapat itu terlihat ramai seperti biasanya, namun itu tidak menghentikan langkah-langkah panjang penuh percaya diri dari Kongpob Suthiluck. Kaki jenjangnya berjalan cepat, menimbulkan bunyi menggema dari gesekan sepatu dengan lantai marmer dibawahnya.
Marmer. Menggelikan.
Dibelakang Kongpob berjalan beberapa orang lainnya yang memakai pakaian kerja formal senada denganya. Tidak, bukan seperti seragam namun semuanya seperti memakai pakaian tempur yang memancarkan kepercayaan diri mereka masing-masing. Senyuman percaya diri pun tampak jelas di wajah menawan mereka.
Pintu berwarna hitam yang bertuliskan Meeting Room I terbuka dan Kongpob berserta rombongannya memasuki ruangan besar itu. Senyumnya mengembang melihat beberapa orang lain telah duduk di kursi yang mengelilingi meja panjang berbentuk persegi panjang berwarna senada dengan pintu ruangan tadi. Raut kebingungan memenuhi ekspresi wajah mereka semua.
"Saya sangat lega melihat anda sekalian telah hadir, terima kasih" Ucap Kongpob, memberi isyarat untuk orang-orang di belakangnya mengambil tempat duduk yang memiliki papan nama bertuliskan nama mereka masing-masing.
"Sebenarnya ada apa ini, tuan Suthiluck?" Pria yang duduk di kursi yang bertuliskan nama Tuan Rojnapat bertanya dengan nama kebingungan, ia duduk di ujung meja panjang itu -bersebrangan dengan Kongpob yang mengambil tempat duduk di ujung satunya.
Beberapa anggota kepolisian kini ikut memasuki ruangan dan berdiri di beberapa sisi ruangan. Dua lainnya seperti menjaga pintu ruangan yang kini terkunci -dengan tubuh tegap dan wajah yang tegas tak kenal takut.
Sebuah seringai kecil diberikannya, menjadi satu-satunya cara agar ia tidak tertawa terbahak untuk saat ini. Oh, betapa ia ingin segera menghabisi pria itu tapi apa menariknya jika ia akhiri dengan cepat?
"Sebelumnya, saya ingin berterima kasih karena anda semua telah bersedia menghadiri undangan saya hari ini." Ujar Kongpob, menatap pasang-pasang mata di ruangan itu satu persatu. "Tujuan saya, tentu saja, untuk menjawab seluruh pertanyaan yang ada di kepala saya saat ini."
Raut wajah di ruangan itu terbagi menjadi dua, bingung dan puas. Walau hanya orang-orang yang menduduki kursi di deretan sebelah kanannya yang nampak puas -serta tidak sabar.
"Pertanyaan?" Seorang wanita paruh baya yang duduk di sebelah Tuan Rojnapat bertanya.
"Benar," Kongpob mengangguk pada wanita cantik yang tapat di sebelah kanannya. Wanita itu, Praepailin, menekan satu tombol di keyboard laptopnya, membuat layar berwarna putih di belakang Kongppb menampilkan wajah seorang pria muda yang tak asing. "Tentang Arthit Rojnapat. Istriku."
Wajah orang-orang yang duduk di deretan sebelah kiri Kongpob seketika memucat. Rahang mereka mengeras, mata mereka melebar dan seketika seluruh perhatian mereka tertuju padanya. Tak terkecuali tuan Rojnapat yang seperti melihat kepala tambahan keluar dari lehernya.
Menyenangkan sekali.
"Saya sedikit sedih, mengetahui anda bahkan tidak mengingat saya, Paman." Kongpob semakin menyeringai melihat wajah tuan Rojnapat yang memerah, entah menahan malu atau justru amarah. "Bahkan ketika saya mengingat anda dengan begini jelasnya." Tambahnya, tersenyum dengan setulus mungkin, walau senyum itu tak sampai pada matanya yang balas menatap pria tua itu dengan tajam.
"Ka-kau! Bagaimana mungkin-" Tuan Rojnapat berdiri, ingin memaki Kongpob sebelum ia memotongnya.
"Diam!" Bentaknya, membuat pria itu terlonjak mendengar suara mengancam Kongpob, "Hanya aku yang berhak berbicara. Hanya aku." Tegasnya.
Hening menguasai ruangan itu, membuat Kongpob tersenyum puas. "Maafkan saya, khap. Saya tidak bermaksud membentak seperti itu." Ucapnya, palsu.
"Saya akan sedikit bercerita. Tentang pria muda yang memiliki hati bagai malaikat namun harus mengalami hal-hal buruk karena iblis-iblis yang mengaku sebagai manusia." Kongpob membelai permukaan layar berwarna putih itu dengan perlahan, menatap sendu pada gambar Arthit yang sedang tersenyum ke kamera, "Ah, tidak, Iblis akan marah jika saya menyamakan anda sekalian dengannya. Iblis bahkan tidak memiliki sifat sebusuk anda semua." Gelaknya.
"Arthitku yang malang. Karena kelalaianku yang tidak menyadari rasa dengki pada seorang paman, ia harus mengalami kecelakaan dan mehilangan ingatannya. Yah, itu semua salahku. Salahku, Arthitku mengalami semua ini karena salahku tapi aku sudah mendapatkan ganjaranku." Ia mengangguk anggukkan kepalanya, seakan berbicara pada dirinya sendiri. "Arthitku tidak mengingat 5 tahun hidupnya sebelum kecelakaan itu dan melupakan tentangku sepenuhnya. Yah, itulah ganjaran karena kelalaianku."
Ia kemudian tersenyum manis, namun bukan rasa bahagia yang ia salurkan kepada semua yang berada dalam ruangan yang terkunci itu, melainkan rasa dingin yang merayap di punggung yang sangat. Senyuman yang sama sekali tidak menyalurkan ketenangan, melainkan rasa takut yang tidak bisa diungkapkan.
"Tapi tak mengapa. Seharusnya hal seperti amnesia bisa diobati dengan mudah jika kita sabar. Namun, mengapa Arthitku menjadi tidak bisa disembuhkan seperti sekarang? Apakah anda tahu?"
Jari-jari panjangnya menjelajahi permukaan punggung kursi yang di duduki pria dan wanita yang tak berani mengangkat kepala mereka. Menunjukkan dengan pasti bahwa mereka mengenal sosok yang muncul di layar presentasi ruang rapat itu walau mereka tidak mengetahui siapa pria yang kini berjalan pelan di belakang mereka.
"Arthitku dipaksa keluar dari rumah sakit tak lama setelah operasi pasca kecelakaan selesai dilakukan. Dengan keputusan pengadilan yang memberikan hak walinya pada iblis yang mengaku sebagai paman dari malaikatku itu. Keputusan yang ditandatangi oleh hakim agung di pengadilan negara saat itu." Kongpob berhenti dibelakang wanita yang bergetar hebat di kursinya, wanita yang membawa tas bergambar lambang dari sistem peradilan kedua Thailand : Court of Justice, "membuat Arthitku jatuh ke tangan Iblis itu."
"Sang Iblis membawa malaikatku pada sebuah rumah sakit, meminta pada dokter yang ada disana untuk merawatnya -walau dokter tersebut bukanlah dokter yang tepat, bukan pula dokter yang namanya tercantum dalam keputusan pengadilan sebagai dokter keluarga yang akan merawatnya. Dokter yang nyatanya bahkan tidak ada di Bangkok, dan hanya menandatangangi keterangan akan merawat pasien demi uang dari sang Iblis." Pria yang memiliki jas berwarna putih di punggung kursinya pun menundukkan kepalanya semakin dalam. "Membuat sang Iblis dengan mudah membawa kembali malaikatku dari rumah sakit itu dengan memaksa dokter yang tidak tahu apapun itu untuk mengijinkannya membawa pasien keluar dari sana. Membawa malaikatku tanpa mendapat perawatan yang seharusnya ia dapatkan agar ia bisa mengingat kembali."
Pria kecil berkacamata tebal yang melangkah tepat di belakang Kongpob meletakkan beberapa kertas di depan deretan sebelah kiri itu. Kertas yang menunjukkan beberapa keterangan dengan bubuhan tandatangan yang berbeda-beda.
"Ketika iblis, ah tidak, paman dari malaikatku itu mengetahui bahwa dia mengalami amnesia -yang mungkin ia ketahui bahkan sebelum P'Arthit sadar dari koma karena cedera kepala yang berat itu, ia bukannya berusaha untuk menyembuhkannya tetapi mengambil keuntungan darinya. Bagaimana? Saya sungguh mengagumi betapa hebat otak manusia dalam membuat orang lain menderita."
Kongpob terkekeh lantang, seperti menertawakan sesuatu yang sama sekali tidak lucu.
"Paman P'Arthit membuat sebuah kisah yang sungguh hebat untuk mengisi 5 tahun kekosongan dalam ingatannya. Mengatakan bahwa ia terlibat kecelakaan bersama kedua orang tuanya yang sayangnya tak bisa diselamatkan. Mengatakan bahwa orang tua P'Arthit memiliki hutang yang sangat besar dan ia menemukan kertas dari Ibu P'Arthit berisi polis asuransi jiwa mereka? Menggelikan. Bahkan saya bisa menulis novel picisan dengan plot seperti itu, bukankah begitu, paman?"
Wajah tuan Rojnapat memutih. Menatap lembaran kertas yang baru saja diletakkan Oak -pria berkacamata tebal yang mengikuti Kongpob, diatas mejanya. Surat asuransi, putusan pengadilan, laporan tebal penyelidikan kecelakaan, dan beberapa lembar foto yang seperti diambil dari potongan cctv.
"Paman saya ini," ujarnya melanjutkan, menepuk-nepuk bahu tuan Rojnapat beberapa kali, "Membayar orang dalam di suatu perusahaan asuransi, membuat polis asuransi dan surat klaim palsu. Menunjukkannya pada P'Arthit, membuatnya percaya bahwa kedua orang tuanya memang baru saja meninggal padahal keduanya meninggal dalam kecelakaan dua tahun sebelumnya."
"Dan," Bright yang sedari tadi tidak sabar dengan penjelasan bertele-tele itu berdiri, berjalan ke arah dua orang pria yang memakai seragam polisi, "Kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tua Arthit dilaporkan oleh kedua petugas kita ini, bukan?"
Bright melempar setumpuk tebal laporan kecelakaan yang terjadi lima tahun lalu dan berkas tebal lain bertanggal sekitar tiga tahun lalu. Kedua polisi itu melebarkan matanya, mendapati laporan yang mereka kerjakan beberapa tahun silam itu di depan mereka -padahal mereka yakin mereka sudah melenyapkan semuanya.
"Bagaimana mungkin kabel rem mobil yang dipotong sangat rapi dengan senjata tajam bisa dilaporkan sebagai kecelakaan daripada sabotase? Dan kecelakaan tiga tahun lalu, mobil yang hanya berpenumpang dua orang dilaporkan memiliki tiga penumpang? Memuakkan!." Bright mencibir kesal sebelum kembali ke tempatnya.
"Jangan sembarangan jika menggunakan mulutmu, anak muda. Kau bisa mencelakakan dirimu sendiri dengan menfitnah orang lain seperti itu."
Kongpob menaikkan alisnya mendengar suara tenang dari tuan Rojnapat. Sepertinya pria tua itu sudah bisa mengendalikan rasa terkejutnya.
"Semua yang kau katakan tak lebih dari 'plot' yang kau buat sendiri, bukan? Bukti-bukti ini bisa saja hanya dokumen palsu yang kau buat dengan teman-temanmu itu." Cibir tuan Rojnapat, didambut gelak tawa wanita di sampingnya. "Lagipula untuk apa aku melakukan semua hal yang kau tuduhkan itu hanya demi "hutang" yang tak seberapa itu?"
"Benar, lagipula bagaimana mungkin pria yang kehilangan ingatan tidak mengetahui bahwa dia hidup di tahun ini, bukan di tahun 2014." Sambung petugas asuransi, sepertinya mendapat secercah cahaya untuk melarikan diri dari masalah yang dibuatnya sendiri itu.
"Benar, bagaimana mungkin ia tidak melihat kalender hingga tak tahu di tahun apa ia hidup." Kongpob menganggukkan kepalanya, seperti setuju dengan pendapat kedua pria itu. "Bagaimana jika anda menjelaskannya pada saya, Nona Jeed?"
Wanita yang duduk di sebelah tuan Rojnapat terlonjak, terkejut dengan kenyataan bahwa pria muda itu mengetahui tentangnya. Matanya kemudian melebar begitu menyadari bahwa pria itu adalah pelanggan restoran tempatnya memperkerjakan Arthit beberapa bulan lalu.
"Pintar sekali, membuat P'Arthit bekerja di restoranmu dan tinggal di rumah susun milik simpananmu ini, paman." Kongpob kembali tersenyum lebar, "Oh, saya mengetahuinya dengan pasti. Nona Jeed disini adalah simpananmu. Dan dia pula yang merubah kalender di restoran dan apartemen tempat tinggal P'Arthit. Sangat mudah mengingat ia pemilik asli restoran dan apartemen kecil itu untuk menyuruh pengelolanya merubah kalendernya, bukan?"
"P'Arthit tidak akan memastikan tanggal di koran pagi yang diantarnya karena ia dibelikan secara bundel dan ia tinggal mengantarkan pada alamat yang diberikan penyetok yang mempekerjakannya."
Keheningan yang kental terjadi kembali, semuanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hanya suara deru nafas ketakutan dan panik yang terdengar seperti musik di telinga Kongpob.
"Anyway, saya turut mengundang beberapa orang penting untuk rapat ini." Seru Kongpob membuat perhatian seluruh orang kembali terfokus padanya, "Hakim agung yang baru, Kepala kepolisian, CEO dari perusahaan asuransi, Pengelola restoran dan apartemen milih Nona Jeed yang hanya menuruti perintahmu, serta dokter Phana -yang secara random ditunjuk untuk merawat P'Arthit di rumah sakit. Jikalau kalian ingin memakai alasan lain untuk membantah tuduhanku." Ucapnya santai.
"Dan untuk alasan kau melakukan semua ini pada Arthitku." Kongpob mengangguk pada Akuntan perusahaan Rojnapat dan seorang Wanita paruh baya yang memakai baju formal di samping sang akuntan, "Saya akan menyerahkan pada Akuntan perusahaan ini dan juga mantan pengacara keluarga Rojnapat yang dipecat oleh paman saya itu."
"Apa?" Tuan Rojnapat menatap akuntannya tidak percaya. "Kau mengkhianatiku?"
"Aku tidak pernah berada dalam pihak anda, lebih tepatnya." Jawab sang Akuntan, "Namaku Prem, dan aku tepaksa menjadi seorang akuntan di perusahaan ini hanya untuk menemukan apa yang salah dengan perusahaan yang seharusnya menjadi milik Arthit ini."
"Perusahaan ini hampir tidak bisa diselamatkan lagi, saham merosot tajam sejak tiga tahun lalu. Membuatnya hampir pailit, namun sepertinya CEO kami saat itu menemukan cara untuk mengatasi semua itu, yaitu mendapatkan kepemilikan penuh atas perusahaan. Karena sebelumnya ia perlu persetujuan dari co-owner perusahaan untuk melakukan sesuatu atas nama perusahaan termasuk menjual saham perusahaan pada pihak lain untuk menambah modal perusahaan."
"Saya memang dipecat sebagai pengacara keluarga Rojnapat namun saya tetaplah pengacara yang ditunjuk secara resmi untuk memegang surat wasiat Tuan dan Nyonya Rojnapat. Kakek dari tuan Arthit." Ujar sang pengacara, "Dengan hadirnya hakim agung dan kepala kepolisian, suami dari tuan Arthit beserta tuan Rojnapat disini, saya akan menerangkan bahwa perusahaan ini sebenarnya dibagi secara rata antara ayah dan paman tuan Arthit. Dengan meninggalnya ayah dari tuan Arthit maka sebagai ahli waris, tuan Arthit yang seharusnya menjadi co-owner perusahaan ini."
"Intinya," Kongpob memotong tidak sabar, "Kau melakukan ini semua untuk membuat Arthitku tidak lagi berhak atas warisan itu karena ia sedang 'tidak sehat'. Seseorang yang bahkan tidak mengingat masa lalunya dan menjaga dirinya sendiri tidak akan bisa menjalankan perusahaan sebesar ini. Membuatmu mendapatkan kepemilikan penuh atas perusahaan warisan dari kakek P'Arthit ini. Ah, juga, rumah besar yang kau tempati yang seharusnya juga menjadi milik istriku itu."
"Mengakulah, brengsek. Kau sudah tamat." Desis Bright dengan geram.
"Sangat sial karena mantan pengacara keluargamu ini sekarang bekerja untukku, bukan?" Knott yang sedari tadi diam menyeringai puas melihat kekalahan di wajah paman Arthit. "Sekarang pastikan kau tidak akan melupakan wajah kami, wajah orang-orang yang tidak seharusnya kau permainkan."
"Oh, dan satu lagi. Kami bermaksud menjual saham kami di perusahaan ini pada Kongpob sehingga ia bisa memiliki saham 70% disini. Membuatnya menjadi pemegang saham terbesar menggantikan anda." Ujar Tew, sebelum Mamprang menambahi, "Kau mengerti apa yang akan terjadi di rapat umum pemegang saham berikutnya. Jadi kurasa menjual sahammu pada yang lain akan lebih menguntungkan untukmu. Paling tidak untuk membayar pengacara untuk membelamu." Gelak Mamprang.
Pada akhirnya, semua orang yang terlibat dalam scam itu ditahan oleh anggota kepolisian yang ikut diundang Kongpob. Ia berjalan sejajar dengan tuan Rojnapat dan Jeed yang diborgol di belakang punggungnya.
"Kau tidak penasaran dimana dua rentenir yang kau pekerjakan berada?" Dahi tuan Rojnapat mengernyit, "Tenang saja, mereka baik-baik saja. Bahkan lebih darimu."
Kongpob menunjuk dua pria yang berdiri di dekat sebuah mobil yang terparkir di arena depan lobi perusahaan. Tuan Rojnapat berang, memaki pria itu yang ternyata rentenir rendahan yang dibayarnya dulu untuk mengganggu Arthit -keduanya nyatanya sekarang bekerja untuk Kongpob.
Mereka semua dikawal oleh polisi dengan mobil yang berbeda-beda. Paman Arthit, Jeed dan dua rentenir yang disewanya dulu naik dalam satu mobil. Salah satu rentenir itu yang menyetir mobilnya atas perintah Kongpob, membuat paman Arthit berpikir bahwa itu dilakukannya untuk membuat mereka saling memaki di dalam mobil selama perjalanan menuju kantor polisi.
Betapa salah mereka begitu rem mobil itu tidak bekerja tak peduli begitu kuat yang menyupir menginjaknya. Mobil itu berguling dan menabrak pembatas jalanan yang sedang sepi -karena rombongan polisi yang sedang mengawal banyak tersangka.
Mobil itu meledak tak jauh dari kawasan perusahaan Rojnapat berada. Api melahap badan mobil dan Kongpob Suthiluck berdiri bergeming menyaksikan bagaimana mobil mewah miliknya terbakar hingga hanya menyisakan rongsokan besi tua dengan senyuman puas di wajahnya.
Kongpob berbalik dan berjalan kembali ke dalam gedung mewah itu, berniat untuk menuju mobilnya yang lain yang berada di area parkir bawah tanah gedung itu. Menekan tombol di layar ponselnya dan menelpon nomor panggilan darurat pertama disana.
"P'Arthit khap? Aku akan pulang kerumah setelah ini. Aku merindukanmu, sangat." Suaranya terdengar riang. Sangat riang.
.
Tbc~
Chapter sembilan is up!
