"Pembunuh Cahaya"

Remake Chanbaek version; Original version by Santhy Agatha

Park Chanyeol

Byun Baekhyun (GS)

Others

Married!life


"Cinta dan benci itu hanya berbatas selaput tipis tak terlihat. Jika kau membenci seseorang, telaahlah perasaanmu, karena jangan-jangan, pada kenyataannya, kau mencintainya."


Chanyeol berdiri terpaku dan bingung ketika ditinggalkan oleh Baekhyun. Perceraian. Pada akhirnya Baekhyun pasti akan mengajukan itu kepadanya, dan dia tahu itu akan terjadi. Dia bahkan sudah merencanakan perceraian yang menyakitkan untuk Baekhyun.

Tetapi sekarang dia tidak mungkin menerima perceraian itu, Demi Tuhan, Baekhyun sedang mengandung anaknya, dan perempuan itu dengan mudahnya mengatakan bahwa dia menginginkan perceraian. Mau dia bawa kemana anak Chanyeol nanti? Apakah dia akan lari ke pelukan Jongin dan kemudian menjadiakan Jongin ayah dari anaknya?

Chanyeol meringis dengan marah. Tidak! Tidak akan Chanyeol biarkan Baekhyun lari kembali ke pelukan Jongin. Selama ini dia sudah menahan kebencian kepada lelaki itu, Jongin, lelaki yang terlalu dekat dengan Baekhyun. Dia tidak akan mengizinkan anaknya yang sekarang ada di perut Baekhyun berdekatan dengan Jongin.

Chanyeol akan mempertahankan Baekhyun dan anaknya mati-matian agar selalu berada di sampingnya.

.

.

.

"Jadi kau akan pergi?"

Jongin terdengar bersemangat ketika malam itu Baekhyun meneleponnya, Baekhyun menghela napas panjang dan tanpa sadar menganggukkan kepalanya, lupa kalau Jongin tidak bisa melihatnya.

"Baekhyun?" Jongin bertanya lagi menunggu jawaban Baekhyun.

"Ya Jongin, aku akan pergi." Baekhyun cepat-cepat menjawab.

"Kapan?"

"Aku tidak tahu, aku akan mencari cara melarikan diri dari supir yang diperintahkan oleh Chanyeol untuk selalu mengawasiku." Gumam Baekhyun pelan, takut terdengar dari luar.

Jongin tampak berpikir di seberang sana, "Chanyeol pasti akan langsung mengejarmu kemari, ke rumah kaca dan ke rumahku." Suaranya berubah serius, "Kau tidak boleh pulang kemari, aku akan mencarikan tempat untukmu bersembunyi, tempat yang tidak diketahui oleh Chanyeol."

Baekhyun memikirkan perkataan Jongin dan tiba-tiba merasa takut ketika mengingat ancaman Chanyeol kepada keluarga Jongin,

"Aku takut Jongin." Gumamnya pelan, mulai ragu.

"Takut apa?"

"Chanyeol..." suara Baekhyun tercekat, "Chanyeol pernah mengancam, kalau aku sampai melarikan diri atau menemuimu, dia akan menjadikan kau sasarannya, kau, ibumu dan kedua adikmu, dia akan menyerang mereka. Aku takut dia akan melaksanakan ancamannya dan melukai kalian." Bisik Baekhyun gemetar.

"Kami bisa menjaga diri kami sendiri." Jongin bergumam dengan suara tegas, "Jangan pikirkan itu, Baekhyun, kau harus memikirkan dirimu dan anakmu. Chanyeol memang berkuasa, tetapi dia tidak bisa berbuat semena-mena dan melukai kita. Aku akan menghadapinya." Sambung Jongin dengan yakin.

Baekhyun memejamkan matanya berusaha meredakan ketakutanya. "Semoga Jongin... semoga semua baik-baik saja. Aku akan mencari cara untuk pergi dari rumah ini, segera."

"Kau harus benar-benar memikirkannya segera Baekhyun. Tingalkan saja Chanyeol!"

Baekhyun mendesah, "Kau tahu aku masih mencintainya..."

"Bukankah kau takut padanya? Katamu dia pria kejam yang tidak segan-segan berbuat apapun untuk melaksanakan maksudnya."

"Ya..aku tahu, aku memang takut kepadanya, aku ketakutan ketika dia mengancammu dan keluargamu... entah kenapa jauh di dalam hatiku aku selalu berharap bahwa Chanyeol tidak sejahat itu."

"Itu hanya harapan karena hatimu dilemahkan oleh cinta." Jongin tampak jengkel. "Cinta membuat matamu berkabut, membuatmu merasa bahwa masih ada kebaikan di benak Chanyeol, padahal dia sangat kejam, banyak buktinya bukan? Kekejamannya dalam pernikahanmu, sikap kasarnya, siapa yang tahu apa yang dilakukannya untuk menyakitimu?"

"Entahlah Jongin." Baekhyun mulai merasa lelah,

Tetapi Jongin tidak membiarkannya, "Chanyeol itu kejam, Baekhyun. Sangat kejam. Cepat atau lambat kau harus menyadari bahwa dia adalah pria yang jahat. Dan aku harus menyadarinya sebelum semuanya terlambat."

.

.

.

Sementara itu, tanpa Baekhyun sadari, Chanyeol tengah berdiri di ambang pintu kamar yang terbuka sedikit, Tadi Chanyeol memutuskan untuk menemui Baekhyun dan berkompromi demi anak mereka, dia akan meminta maaf kepada Baekhyun dan membuat Baekhyun mau tinggal dan mempertahankan pernikahan mereka.

Tetapi ketika baru sedikit membuka pintu kamar Baekhyun, dia mendengar percakapan itu, rencana melarikan diri Baekhyun yang disusunnya bersama Jongin.

Chanyeol meradang, panas oleh kemarahan yang tidak dia sadari oleh karena apa. Berani-beraninya Baekhyun merancang cara untuk pergi darinya dan tidak menghiraukan ancamannya? Dan juga perempuan itu menyusun rencananya dengan Jongin? Apakah kecurigaannya benar? Bahwa Jongin dan Baekhyun sebenarnya menjalin hubungan lebih? Baekhyun memang pernah mengatakan bahwa Jongin adalah gay, tetapi Chanyeol tidak mungkin percaya begitu saja. Apalagi dengan kenyataan di depannya bahwa Baekhyun selalu menghubungi Jongin diam-diam seolah-olah tidak bisa lepas darinya.

Dada Chanyeol terasa panas. Dia harus melakukan sesuatu untuk memberi peringatan kepada pasangan itu!

.

.

.

Hampir dini hari ketika ponsel Baekhyun terus menerus berbunyi, tidak mau menyerah sampai Baekhyun terbangun dan membuka mata.

Baekhyun masih mengantuk, dia membuka matanya dengan lemah, dan meraba-raba ponselnya yang terus berbunyi dengan berisik, tanpa melihat siapa yang menelepon, Baekhyun mengangkatnya sambil masih memejamkan matanya,

"Halo?" suaranya serak, tertelan oleh kantuk.

"Baekhyun!" itu suara Jongin, terdengar panik dan bingung, di belakangnya tampak riuh rendah suara manusia, "Rumah kaca... rumahmu... terbakar!"

Kata-kata itu sanggup membangunkan Baekhyun begitu saja, bagaikan guyuran air es yang menyiramnya langsung, dia terduduk dengan pandangan nanar, "Apa?"

"Rumahmu terbakar, kami sedang berusaha memadamkannya dengan swadaya sambil menunggu petugas pemadam kebakaran..." napas Jongin tampak terengah, "Apinya.. apinya sangat besar."

"Oh Tuhan..." Baekhyun membayangkan tanaman-tanaman kesayangan ibunya, yang dirawatnya dengan penuh cinta seperti anaknya sendiri, dan seperti anak Baekhyun sendiri pula, dia membayangkan api yang melalapnya dan wajahnya pucat pasi.

"Aku.. aku akan kesana," dengan panik Baekhyun berdiri, merasakan perutnya sakit seperti di remas, tetapi dia berusaha mengabaikannya, dengan panik dia mencari-cari jaketnya dan memakainya, kemudian dia melangkah keluar hampir menangis.

Dia bingung harus bagaimana. Rumah besar ini tampak sunyi senyap, tanpa suara. Tetapi Baekhyun begitu panik, dia kemudian memberanikan diri dan mengetuk pintu kamar Chanyeol, semula tidak ada jawaban sehingga Baekhyun mengubah ketukannya menjadi gedoran, sambil memanggil-manggil nama Chanyeol,

Pintu terbuka tak lama kemudian, dan Chanyeol yang sepertinya baru bangun tidur dengan rambut acak-acakan, membuka pintu dengan wajah cemberut, "Ada apa?" gumamnya ketus, tetapi kemudian ekspresinya berubah ketika melihat Baekhyun menangis dengan tubuh gemetaran, dipegangnya kedua pundak Baekhyun menahan gemetaran gadis itu, "Ada apa Baekhyun?" suaranya berubah cemas.

Baekhyun mengangkat kepalanya dan menatap Chanyeol dengan tatapan penuh permohonan, "Rumah kaca... " gumamnya serak penuh tangis, "Rumah kaca terbakar... kebakaran..."

Chanyeol mengerutkan keningnya, tetapi kemudian berhasil menarik kesimpulan. Dia langsung memutuskan,

"Tunggu di sini. Aku akan segera mengantarmu ke sana."

Hanya dalam hitungan menit, Chanyeol sudah kembali dan tampak rapi, lelaki itu lalu menggandeng Baekhyun, melangkah cepat ke mobil, dan melajukannya dengan segera, menuju rumah Baekhyun.

.

.

.

Mereka berdua sama-sama tertegun ketika mobil sudah mendekati rumah Baekhyun. Api melahap dengan begitu besar, menimbulkan cahaya oranye yang mengerikan. Hawa panas tersebar di sana, dan asap hitam membumbung ke langit. Sementara itu banyak orang berkumpul di sana, sebagaian hanya menonton dari kejauhan, sebagian tampak berusaha memadamkan api itu dengan swadaya. Mobil pemadam kebakaran sepertinya baru saja datang, dengan selang besarnya dan air yang memancar.

Tetapi sepertinya semua sudah terlambat, tidak ada lagi apapun yang tersisa untuk diselamatkan. Rumah Baekhyun, rumah peninggalan ibunya, tempat semua kenangan masa kecilnya, sudah hancur dan hangus. Sementara itu yang tersisa dari rumah kacanya hanyalah kerangka bajanya yang masih berdiri tegak. Yang tertinggal hanyalah api dan kehangusan.

Baekhyun masih tertegun shock, sehingga membiarkan dirinya berada dalam rangkulan Chanyeol, yang juga menatap api itu dengan tertegun.

Tak lama kemudian, Jongin datang berlari-lari menghampiri mereka, dia tampak berkeringat dan coreng moreng oleh noda hitam hangus di pipinya,

"Baekhyun!" Jongin berseru hanya menatap Baekhyun dan sepenuhnya mengabaikan Chanyeol, tampak sangat menyesal, "Kami sudah berusaha memadamkannya, tetapi pemadam kebakaran terlambat datang karena kemacetan dan...Baekhyun?" Jongin bergumam panik ketika melihat tubuh Baekhyun oleng dan jatuh, dia hampir menopang Baekhyun, tetapi kemudian tertahan oleh Chanyeol.

Lelaki itu menopang Baekhyun ke dalam pelukannya dan melemparkan tatapan tajam kepada Jongin,

"Biar aku saja." Gumamnya dingin sambil menatap Jongin dengan tatapan mengancam.

Jongin masih tertegun menerima tatapan membunuh dari Chanyeol, dan mengamati lelaki itu membopong Baekhyun yang pingsan kembali ke mobil.

.

.

.

"Sayang... bangunlah..." suara itu terdengar berbisik terus menerus di telinganya, dan kemudian ada harum aroma wewangian di hidungnya.

Baekhyun menggeliat dan berusaha membuka mata, melepaskan diri dari kegelapan yang menelannya.

Ketika dia membuka mata, dia langsung berhadapan dengan Chanyeol. Baekhyun langsung mengernyitkan keningnya. Apakah Chanyeol yang memanggilnya dengan sebutan'sayang' tadi? Ataukah dia hanya bermimpi?

"Kau pingsan tadi, apakah kau baik-baik saja?" tanya Chanyeol pelan. Baekhyun rupanya telah dibaringkan di kursi belakang mobilnya.

Dengan gugup Baekhyun duduk, dan kemudian melemparkan pandangannya ke arah rumahnya, api sudah padam dan sekarang tinggal asap hitam sisa siraman air yang mengepul ke atas. Hatinya terasa perih dan teriris. Sedih luar biasa. Seakan semua kenangannya dihapuskan paksa oleh kebakaran itu.

Dengan sedih dia menahankan air mata yang mulai merembes di matanya, "Aku tidak apa-apa." Gumamnya serak.

Chanyeol menghela napas, tampak lega, "Bagaimana dengan perutmu? Kondisi bayimu? Kau tidak merasakan sakit?"

Baekhyun meraba perutnya, memang terasa sedikit kram, tetapi itu mungkin karena Baekhyun sedang tegang, dia lalu menggelengkan kepalanya,

Ada kelegaan di mata Chanyeol, lelaki itu kemudian menoleh dan menatap ke arah kebakaran dan mengernyit, "Apakah kau ingin membereskan urusan ini sekarang? Kau tahu, urusan laporan dengan polisi, asuransi dan lain-lain? Atau kau ingin pulang dulu dan mengurus ini besok?"

Pulang. Baekhyun termangu menatap rumahnya yang sudah hangus. Dulu rumah ini adalah tempatnya pulang. Sekarang semua sudah tidak ada lagi... apakah rumah Chanyeol sekarang menjadi tempatnya pulang?

Baekhyun menatap Chanyeol, dan ingin menanyakan keberadaan Jongin, tadi dia ingat sedang berbicara dengan Jongin sebelum dia pingsan. Tetapi kemudian dia mengurungkan niatnya. Chanyeol tampaknya sedang tenang dan Baekhyun tidak ingin mengusiknya dengan mengatakan bahwa dia ingin berbicara dengan Jongin.

"Ya Chanyeol... kita pulang saja."

"Oke." Chanyeol mengambil bantal di jok belakang dan meletakkannya di belakang Baekhyun, "Kau berbaring saja di sana." Lelaki itu lalu menutup pintu mobil dan masuk ke belakang kemudi, melajukan mobilnya tanpa kata-kata.

Sementara itu Jongin mengamati dari kejauhan mobil Chanyeol yang beranjak pergi membawa Baekhyun dengan dahi berkerut gusar.

.

.

.

Ketika mereka sampai ke rumah, pagi sudah menjelang karena matahari sudah mengintip di kaki langit, menampakkan semburat kuning yang memecah kegelapan langit.

Chanyeol memarkir mobilnya di depan dan membukakan pintu belakang untuk Baekhyun, membuat Baekhyun yang tertidur selama perjalanan langsung terbangun, Baekhyun meskipun mengantuk, sudah mau turun dan berdiri ketika kemudian tanpa kata Chanyeol mengangkat Baekhyun ke dalam gendongannya dan membawanya masuk ke dalam rumah.

Hampir saja Baekhyun tertidur kembali ketika terayun-ayun dalam gendongan Chanyeol menaiki tangga. Dan kemudian mereka sampai di kamar Baekhyun.

Chanyeol melangkah pelan dan membaringkan Baekhyun dengan lembut di atas ranjang. Baekhyun yang masih mengantuk langsung memiringkan tubuhnya dengan nyaman.

Dia mungkin bermimpi karena dia merasakan kecupan lembut di keningnya, sebelum langkah-langkah kaki Chanyeol berlalu dan meninggalkan kamar itu.

.

.

.

Ketika Baekhyun terbangun di pagi hari, dia masih memikirkan semua memorinya. Dadanya langsung terasa sakit ketika teringat kebakaran itu. Dia menghela napas panjang, berusaha meredakan rasa sesak di dadanya. Ketika itulah tiba-tiba ponselnya berbunyi, membuatnya terkejut. Dia langsung mengangkatnya ketika mengetahui bahwa yang meneleponnya adalah Jongin. Kemarin mereka meninggalkan tempat itu begitu saja, Jongin pasti cemas.

Baekhyun mengangkatnya dengan suara lemah,

"Jongin?"

"Bagaimana keadaanmu Baekhyun?"

Baekhyun menelan ludahnya dengan pahit, "Aku baik-baik saja." Dia mendesah pelan dalam kesedihan, "Tidak ada yang tersisa ya?"

Hening sejenak, lalu Jongin berkata, "Maafkan aku..."

Baekhyun menyusut air mata di sudut matanya, sekali lagi menghela napas panjang, meredakan napasnya yang sesak. Sekarang dia tidak punya tempat lagi untuk pulang, rumah tempat kenangannya, tempat dia bisa menumpahkan segala kebahagiaannya di rumah kaca itu telah tiada. Semuanya sudah musnah.

"Baekhyun... kau masih di sana?" Jongin bertanya dengan ragu, menggugah Baekhyun dari lamunannnya.

"Aku masih di sini Jongin." Gumam Baekhyun cepat, "Kenapa?"

Jongin tampak merenung, "Apakah kau pikir kebakaran ini tidak kebetulan?"

"Apa maksudmu?"

"Katamu kemarin kau meminta perceraian dari Chanyeol, dan kemudian malam harinya rumahmu terbakar? Apakah kau pikir Chanyeol tidak terlibat dalam hal ini? Karena dari sudut pandangku, ini semua tampaknya terlalu kebetulan."

Baekhyun tertegun, wajahnya pucat pasi. Chanyeol? Apakah benar yang dikatakan oleh Jongin? Bahwa Chanyeol adalah dalang dari kebakaran rumahnya? Bahwa ini semua bukanlah musibah atau kecelakaan biasa? Apakah Chanyeol sekejam itu?

Baekhyun masih teringat jelas betapa lembutnya Chanyeol ketika menggendongnya tadi... Chanyeol... tampaknya kehamilannya telah membuat hati Chanyeol melembut. Mungkinkah Chanyeol tega melakukan itu semua?

"Aku pikir Chanyeol pasti pelakunya, Baekhyun. Waktunya terlalu bertepatan. Dan dia pernah mengancammu akan melakukan segalanya bukan?" Jongin masih bergumam di seberang sana.

"Aku tidak tahu Jongin..." Baekhyun menelan ludahnya, "Sungguh aku tidak tahu."

"Kau tidak boleh melemah dan kalah dari Chanyeol, Baekhyun. Kalau kau menyerah, maka dia berhasil melaksanakan maksudnya. Dia pasti membakar rumahmu, aku yakin itu, agar kau tidak punya tempat untuk pulang dan melarikan diri. Kau tidak boleh menyerah Baekhyun. Tanpa rumahpun, aku masih bisa membantumu melarikan diri dari rumah itu. Oke?"

Baekhyun bimbang dan bingung, dia hanya bisa meringis menahan kekalutannya.

Dia masih tidak percaya Chanyeol sekejam itu, membakar rumah kaca dan rumahnya? Benarkah itu? Benarkah Chanyeol sekejam itu?

.

.

.

Chanyeol masih merenung di kamarnya pagi itu, dia ingin menengok Baekhyun, tetapi dia ragu. Semalam, mendampingi Baekhyun melihat rumah itu terbakar, kemudian menopang ketika Baekhyun pingsan telah menggugah sesuatu di dalam dirinya.

Sesuatu itu adalah rasa ingin melindungi dan menjaga Baekhyun dan anaknya.

Seharusnya tidak seperti ini... Chanyeol meremas rambutnya sendiri dengan bingung. Seharusnya bukan seperti ini... Tetapi Chanyeol telah kalah dengan perasaannya sendiri.

Pada akhirnya dia harus menyerah kalah dan mengakui bahwa dia mencintai Baekhyun. Chanyeol telah menipu dirinya sendiri dengan mengatakan pada hatinya bahwa semua demi pembalasan dendamnya. Kenyataannya, dia mengejar dan menikahi Baekhyun karena dia mencintainya.

.

.

.

Baekhyun berpapasan dengan Chanyeol ketika hendak berjalan ke ruang duduk, mereka berdiri dan bertatapan dengan canggung,

"Bagaimana keadaanmu?" Akhirnya Chanyeol yang memulai percakapan, menatap Baekhyun dari ujung kaki ke ujung kepala, menilainya.

Baekhyun mengalihkan matanya dari tatapan Chanyeol yang tajam, "Aku baik-baik saja."

Benak Baekhyun masih dipenuhi oleh pemikiran itu, pemikiran bahwa mungkin saja Chanyeol adalah otak dibalik terbakarnya rumahnya. Bahwa Chanyeol sangat kejam dan jahat kepadanya. Pemikiran itu menyakiti hatinya lebih daripada yang dia sangka. Karena Baekhyun masih sangat mencintai Chanyeol. Amat sangat mencintai lelaki itu..

"Polisi mungkin akan datang kemari menanyakan beberapa pertanyaan, yah karena kau adalah pemilik rumah itu, aku harap kondisimu cukup baik untuk menerima mereka."

Baekhyun menganggukkan kepalanya, "Aku baik-baik saja." Dia merenung dengan sedih. Apa yang akan terjadi kalau dia mengungkapkan kecurigaannya kepada Chanyeol ke polisi? Akankah polisi membantunya?

Tetapi menilik sikap Chanyeol yang begitu tenang itu, Baekhyun jadi berpikir bahwa Chanyeol tentu sudah menyiapkan segalanya,

Lelaki itu sangat pandai, jadi dia pasti bisa mengatur agar dia tidak ketahuan sebagai dalang kebakaran itu. Tidak ada gunanya memberitahu polisi, karena dia pasti akan terlihat seperti orang bodoh, seorang istri yang menuduh suaminya sendiri.

.

.

.

Polisi itu sudah pulang setelah mengumpulkan data-data. Tidak banyak yang mereka tanyakan karena memang Baekhyun sudah tidak meninggali rumah itu setelah mereka menikah.

Setelah mengantar kepergian polisi itu, Chanyeol menatap Baekhyun dengan tatapan datar,

"Kau boleh membangun rumah kaca di sini."

Baekhyun tertegun, tidak menyangka kalimat itu akan keluar dari bibir Chanyeol, dia menatap mata Chanyeol, mencari tanda-tanda bahwa Chanyeol sedang bercanda dengan kejam padanya, tetapi mata Chanyeol tampak tulus menatapnya,

"Apa?" Baekhyun tidak bisa menahan diri untuk bertanya ulang, mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa Chanyeol tidak bercanda.

Chanyeol berdehem seolah-olah mengucapkan kata-kata itu sangat sulit baginya,

"Aku tahu bahwa kau sangat menyayangi tanaman-tanamanmu, dan kehilangannya pasti akan membuatmu terpukul, aku tidak mau kau berlarut-larut dalam kesedihan dan akan mempengaruhi kondisimu, dan juga bayimu. Besok aku akan mengirimkan orang untuk membangun rumah kaca di taman belakang untukmu. Taman belakang cukup luas untuk sebuah rumah kaca. Setelah rumah kaca itu selesai dibangun, kau bisa mengisinya dengan berbagai varietas tanaman kesukaanmu."

Baekhyun menatap Chanyeol dalam-dalam dan menemukan keseriusan di sana, lelaki itu tidak sedang bercanda rupanya, "Kau tidak perlu melakukannya untukku." Baekhyun bergumam lemah meskipun perkataan Chanyeol membuat hatinya tersentuh.

Chanyeol tersenyum lembut, senyum lembut pertamanya setelah entah kapan, Baekhyun sudah tidak bisa mengingatnya lagi, karena setelah pernikahan mereka, Chanyeol hampir tidak pernah tersenyum kepadanya.

"Aku tidak repot kok." Lelaki itu lalu berlalu meninggalkan Baekhyun dengan sejuta pertanyaan berkecamuk di benaknya.

.

.

.

Chanyeol tidak main-main dengan perkataannya. Keesokan harinya ketika Chanyeol sudah berangkat kerja dan Baekhyun sedang duduk di taman memandangi keindahannya dan kemudian tanpa sengaja mengingat lagi akan rumah kacanya yang hangus, membuatnya merasa sedih, beberapa pekerja tiba-tiba datang, mereka bekerja dengan cepat dan sangat berpengalaman, sehingga ketika tengah hari Baekhyun mengintip lagi, seluruh pondasi dan konstruksi rangka rumah kaca itu sudah jadi.

Jantung Baekhyun berdebar, karena rumah kaca itu, dilihat dari rangkanya, jauh lebih besar daripada rumah kaca miliknya yang sudah hangus itu, tentu saja mengingat area taman belakang Chanyeol berkali-kali lebih luas dari area kebun di rumahnya yang terbatas.

Baekhyun membayangkan dia akan mengisi rumah kaca itu dengan berbagai varietas yang unik, membangun lagi keindahan tanaman dan koleksi bunganya yang hilang, memulai lagi sedikit demi sedikit...

Tiba-tiba Baekhyun mengernyitkan keningnya ketika menyadari sesuatu... kalau itu benar terjadi, berarti dia harus tinggal lama di rumah Chanyeol, rumah kaca ini seolah menjadi pengikatnya dengan Chanyeol.

Apakah itu memang yang direncanakan oleh Chanyeol? Karena itukah lelaki itu membakar rumah kacanya? Supaya dia bisa mengikat Baekhyun dengan rumah kaca barunya? Supaya Baekhyun tidak bisa pergi lagi dari rumah ini?

Jadi itu semua bukan karena kebaikan hati Chanyeol atau karena lelaki itu mencemaskannya?

Jantung Baekhyun berdenyut kembali dengan pedih, entah sejak berapa lama, dia mengharapkan Chanyeol melakukan sesuatu karena lelaki itu benar-benar mempedulikannya, bukan karena ada rencana keji di baliknya.

.

.

.

Chanyeol mengunjungi Kyungsoo lagi hari itu karena kepala pelayannya menelepon dan mengatakan Kyungsoo mengamuk, tidak mau makan dan tidak mau meminum obatnya. Hal itu membuat Chanyeol merasa cemas dan dengan bergegas dia mengunjungi rumah tempat Kyungsoo berada.

Ketika dia membuka pintu kamar Kyungsoo, Chanyeol mengernyit, kamar itu berantakan dengan segala barang berhamburan di lantai dan di mana saja, bahkan selimut dan bed cover ranjang juga tergeletak begitu saja di lantai, spreipun kondisinya sama menyedihkannya, seluruh sisinya sudah terlepas dari ranjang, menyisakan bagian kecil di tengah ranjang yang belum lepas, bagian kecil itu sekarang sedang ditiduri oleh Kyungsoo yang meringkuk dan menangis seperti anak kecil.

Dengan hati-hati, Chanyeol duduk di tepi ranjang Kyungsoo, mengelus rambut adik kembarnya dengan pelan, berusaha selembut mungkin agar tidak mengejutkan adiknya.

Kyungsoo sepertinya menyadari kehadiran Chanyeol karena perempuan itu menangis semakin keras.

"Sayang... kenapa? Kenapa kau menangis terus dan tidak mau makan?" Chanyeol bertanya dengan cemas. Tetapi tidak ada tanggapan dari Kyungsoo, perempuan itu makin meringkukkan tubuhnya dan menangis tersedu-sedu, membuat perasaan Chanyeol semakin perih.

Chanyeol menatap adiknya dengan perasaan sedih. Melihat kondisi Kyungsoo ini membuat rasa bersalahnya semakin menjadi-jadi. Apalagi sekarang, ketika dia memutuskan untuk menyayangi Baekhyun dan tidak mencoba menahan perasaannya lagi kepada isterinya itu, Chanyeol merasa seperti menjadi pengkhianat paling buruk di dunia.

"Bakar... bakar habis. Dia bilang bakar sampai habis.." Tiba-tiba Kyungsoo bergumam dengan setengah mengigau.

Hal itu membuat Chanyeol tertegun kaget. Apa kata Kyungsoo tadi? Bakar?

Chanyeol mencoba menunggu dan berharap Kyungsoo mengulang kata-katanya, tetapi adiknya itu kembali menangis tersedu-sedu tanpa kata.

Kenapa Kyungsoo mengatakan tentang pembakaran tepat setelah kejadian rumah dan rumah kaca Baekhyun terbakar? Apakah ini berhubungan? Ataukah hanya kebetulan?

Chanyeol tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya-tanya, otaknya berpikir keras... tetapi seharusnya Kyungsoo tidak mengetahui tentang kebakaran itu, pegawainya menjaganya dengan begitu ketat sehingga menjaga Kyungsoo dari semua informasi dari luar. Seharusnya Kyungsoo tidak tahu apa-apa.

Chanyeol menghela napas panjang, mungkin memang ini semua hanya kebetulan...mungkin tadi tidak sengaja Kyungsoo melihat api dan berkomentar tentang pembakaran.

Tetapi perasaan itu tetap ada, perasaan tergelitik di bagian belakangnya, yang biasanya merupakan firasat bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

.

.

.

To Be Continued


HAYOLOOOOHHH! Siapa yang bakar rumah kacanya Baekhyun kira-kiraa? Ha Ha Ha

By the way, jangan lupa vote EXO ya buat MAMA 2015! Leet's make our boys win again as usual! Let's prove that EXO-L and EXO are one!;D

JGN LUPA YAAA! Bikin akun yang banyak, pake facebook, twitter juga bisa!;))

[Thankyou fannyeunrim, chankybaek, dear deer lulu, chadijahaq, fvirliani, Gigi Onta, SyiSehun, Dandelion99, mallakim, XiaoRey61, ChanHunBaek, JungKimCaca, 90Rahmayani, Light-B, ay, misslah, VampireDPS, Ranhu, Blacjims, yousee, bunnybanana, vietrona chan for the review!;)]

Keep Review yaaa!;D

Read n Review?

seulgibear