Those Stars Are Still Shining
Chapter 9
Story by V2 Zhang
Typed by Viona Zhang
Characters are taken from 'Naruto'
Disclaimer: Masashi Kishimito
Genres: Hurt/Comfort, Romance, Tragedy, dll
Selamat membaca!
Setelah selesai mengubur, ia pergi mencuci tangan'nya dan menyimpan kembali sisa abu itu di kantong merah tersebut. Ketika ia hendak kembali ke kamarnya (kamarnya dengan Hinata), ia sempat mendengar suara berbincang didalam sebuah kamar yang sedang dilewatinya. Ketika ia menoleh, ia mendapati itu adalah kamar Fugaku. Ia seperti sedang berbicara dengan... Minato!
"Coba kudengarkan..." kata gadis itu pada dirinya sendiri lalu mendekati pintu kamar yang sedang tertutup itu.
"Fugaku oh Fugaku, tidak tahukah kau bahwa selama ini yang membunuh itu Mikoto?! Dialah dalang dari semua ini! Dia sudah membunuh Sakura, Naruto, Sasuke, dan barusan ia membunuh Hinata!" kata Minato.
"Hnn... Hinata?" ucap Fugaku dengan wajah masih menunduk.
"Ya! Oleh abu yang dibawa gadis iblis itu! Dia sudah pergi menguburkan Hinata di taman..." kata Minato mencoba membuat Fugaku percaya. Fugaku masih terdiam pada posisinya, duduk di sisi ranjang'nya dan menundukkan kepalawnya ke lanatai.
"Aku tidak berbohong! Percayalah padaku! Bukan Kushina yang membunuh Sasuke!" ucap Minato.
"Siapa bilang aku tak percaya...?" kata-kata dingin yang keluar dari mulut Fugaku ini membuat Minato & Mikoto yang diluar kaget.
"Jadi... Kau sudah tahu...? Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Minato.
"Mikoto itu pintar, hanya saja ia kadang tidak berhati-hati dengan apa yang ia katakan... Sejak ia menuduh Kushina yang membunuh Sasuke, aku sudah mulai curiga. Bagaimana caranya dia tahu kalau hanya Kushina yang mempunyai tembak alias pistol? Mungkin sajakan kita semua juga mempunyainya... Kenapa ia hanya langsung bilang Kushina? Dan Kushina bukankah bilang juga bahwa pistol itu Mikoto yang beri... Dan Mikoto juga punya satu...? Semua itu mencurigakan, Minato... Secara aku tahu, Kushina itu adalah gadis yang baik. Ia tak mungkin mencelakakan kita, apalagi membunuh... Lagipula, si Ciel Phantomnive itu bukankah pernah berkata bahwa hanya satu orang saja diantara kita yang boleh hidup...? Bisa saja dia berencana memusnahkan kita semua lalu membiarkan dia sendiri yang hidup... Yang jelas, aku sudah tahu dari awal bahwa Mikoto itu aneh," jelas Fugaku dengan panjang lebar.
Mikoto yang mendengar perkataan Fugaku dari luar itu merasa sedih. Dirinya seperti dibekukan oleh suatu sihir. Ia tak ada tenaga untuk bergerak. Tak terasa, air matanya menetes setetes demi setetes membasahi pipinya. Ia berjalan perlahan meninggalkan kamar Fugaku itu. Ia sedih, sedih karena Fugaku sudah mengetahui bahwa ia yang membunuh. Tapi, kenapa Fugaku tidak memberitahukan yang lain'nya bahwa dialah yang membunuh?
Fugaku tengah berada di dapur untuk memasak (?). Tidak tahu apakah ia benar-benar bisa memasak atau tidak... Ia memasak 2 makanan yang sama, dan 2 lainnya berbeda. Kenapa Fugaku melakukan begitu? Sebenarnya, ia hanya ingin menguji Mikoto. Ia ingin melihat sendiri cara Mikoto beraksi kali ini. Setelah ke-4 masakan jadi, ia menaruhnya diatas meja makan. Mikoto sempat melewati dapur, hanya saja ia tidak menunjukkan dirinya. Fugaku sudah tahu bahwa ada orang yang sedang melihatinya, dan ia tahu itu pasti Mikoto. Sebelum ia memanggil semuanya untuk makan, ia berpura-pura acting sakit perut. Ia lalu meninggalkan ke-4 makanan yang ada di atas meja makan itu dan pergi ke toilet. Beberapa detik setelah Fugaku pergi, Mikoto keluar dan berjalan menuju meja makan itu.
"Fugaku-kun ternyata ada bakat memasak juga... Tidak sangka aku... Humph... Minato Namikaze, aku tak akan membiarkanmu tetap berada di dunia ini... Aku akan membuatmu pergi menemui Sasuke-kun dan Naruto-kun... Racun kali ini, aku dapatkan dari kamar Hinata. Benar kata Ciel, dimana-mana selalu akan ditemui benda-benda seperti ini... Racun ini akan membiarkanmu hidup sampai tengah malam... Ketika waktu berganti menjadi 00.01, maka kau sudah bisa melihat 4 orang lainnya di alam lain..." kata Mikoto sambil tersenyum setan & menuangkan racun itu di salah satu piring yang masakan'nya kembar. "Kurasa kedua makanan kembar ini akan dimakan oleh Fugaku-kun dan si Minato-kun itu... Karena aku suka salad ini, dan aku tahu onee-san suka makan yang banyak paprika-nya seperti itu... Dua piring mie yang sama ini, hanya berbeda di sumpitnya... Aku sudah menaruh racun bagus ini di piring dengan sumpit warna biru, warna kesukaan Minato. Dan mungkin itulah yang akan Minato makan nanti... Aku akan menunggu sampai waktunya tiba, Minato-kun... Jangan salahkan aku jika aku kejam... Aku hanya ingin tetap hidup... Mengenai Fugaku-kun yang juga sudah tahu kebenarannya, aku akan pikirkan nanti..." kata Mikoto sambil memasukkan kembali botol racun itu kedalam saku celananya. Ia segera berjalan menuju kamarnya lagi. Tanpa Mikoto sadari, sedari tadi sudah ada masing-masing 1 pasang mata dan telinga yang telah melihat perbuatan & mendengar semua perkataan Mikoto. Ia keluar dari balik tembok.
"Sudah kubilang... Kau itu pintar, hanya saja kau selalu tidak berhati-hati dengan kata-katamu... Aku tidak akan membuatmu senang karena membunuh Minato, sahabatku... Kau akan melihat bahwa yang mati nanti bukan dirinya," kata pria yang tidak lain adalah Fugaku itu.
Setelah beberapa saat, Fugaku memanggil semuanya untuk makan. Fugaku duduk berhadapan dengan Minato, dan Mikoto duduk berhadapan dengan Kushina. Mereka mulai makan dengan diam, terlebih Mikoto. Ia berencana untuk tetap diam sampai besok pagi (?).
"Ini... Bukan masakan Hinata-chan, iya kan?" tanya Kushina dengan gayanya. Minato & Fugaku saling bertatapan sebentar, lalu tertawa kecil.
"Ya, benar... Memang bukan masakan Hinata... Memang rasanya beda sekali ya?" tanya Fugaku.
"Tidak... Hanya rasanya sedikit berbeda..." kata Kushina sambil melanjutkan makannya. "Lalu, siapa yang memasak?"
"Aku..." jawab Fugaku. "Enak...?"
"Lumayan... Ngomong-ngomong, dimana Hinata-chan?" tanya Kushina heran. "Kau tidak memasak untuk Hinata-chan kah, Fugaku-kun?"
JDUAG! Minato dan Fugaku lupa bahwa dari mereka tidak ada yang memberitahu Kushina!
"Hinata-chan dimana?" tanya Kushina lagi.
"Ah, egh... Ah, dia bilang nanti saja makannya... Lagipula ia bisa memasak sendiri... Ia ada di perpustakaan... Ia sedang tidak ingin diganggu orang..." kata Minato meyakinkan.
"Oh... Begitu rupanya..." Kushina melanjutkan makannya. Mikoto tetap tidak bicara & terus makan.
Setelah semua selesai makan, Kushina menawarkan diri ntuk mencucikan piring'nya. Minato menemani Kushina diluar (?). Sedangkan Fugaku dan Mikoto kembali ke kamar masing-masing. Mikoto kembali ke kamar Hinata, sekarang kamar itu menjadi miliknya.
~Di kamar Fugaku~
"Aku tentu saja tidak bisa mengatakan'nya sekarang... Mungkin... Aku akan menuliskan semuanya dalam sebuah surat..." kata Fugaku sembari mengambil selembar kertas dan sebuah pulpen lalu mulai menulis di meja tulis yang ada di kamarnya.
~Di kamar Mikoto~
"Humm... Abu ini masih berguna... Akan kubawa setiap saat di saku celanaku saja... Jika ada yang berani macam-macam, akan langsung kuhabisi..." kata Mikoto sambil memamerkan wajah setan'nya. "Hari kematianmu sudah dekat, Minato..."
.
.
.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya, suasana hati Mikoto sangat senang. Ia pergi ke dapur untuk membuat sesuatu. "Ah, sepertinya jus jerus sangat cocok untuk melegakan dahaga... Akan kubuatkan satu untuk Fugaku-kun..." katanya sambil tak henti-hentinya tersenyum. Ia sempat berpikir untuk beberapa saat. "Humm... Aku selalu tidak henti-hentinya memikirkannya... Apakah aku menyukainya?" katanya sambil terus bekerja. Setelah selesai, ia membawa segelas jus jeruk itu menuju kamar Fugaku.
Ia mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. "Fugaku-kun...? Apa kau sudah bangun...?" tanyanya. Masih tidak ada jawaban. Mikoto mencoba membuka pintunya. Pintu tidak terkunci. Ia perlahan mendorong pintunya dan masuk.
PRIANGGG
Suara gelas kaca yang pecah terdengar tak lama setelah Mikoto membuka pintu dengan lebar. Ya, gelas yang berisi jus jeruk itu pecah. Mikoto tidak percaya apa yang sekarang dilihatnya. Fugaku terbaring di ranjang'nya dengan darah yang keluar dari pinggir mulutnya dan dari kedua telinganya serta hidungnya. Fugaku terlihat menyeramkan!
"T-tidak mungkin... Fugaku-kun!" teriak Mikoto sambil berlari memeluk Fugaku yang terbaring di ranjang'nya. Benar, Fugaku meninggal. Mikoto menangis tanpa hentinya sambil memeluk orang yang disukainya itu. Sebenarnya, sudah dari waktu yang cukup lama juga Mikoto menyukai Fugaku. Hanya saja ia tak pernah mengatakannya keluar. "B-bagaimana mungkin ini bisa terjadi...? B-bukankah seharusnya yang meninggal itu," Pandangan'nya tertuju pada selembar kertas di sebelah kepala Fugaku. Mikoto meraih kertas tersebut dan membacanya. Ya, itu adapah surat terakhir yang ditulis Fugaku sebelum ia pergi.
Surat itu bertuliskan permintaan maaf Fugaku karena harus pergi lebih dulu. Ia juga menuliskan bahwa ia menukar makanan Minato yang beracun dengan makanan'nya. Ada sebuah kalimat yang membuat Mikoto tak bisa berhenti menangis. Kalimat itu berbunyi, 'Mikoto-chan, aku menyukaimu... Aku berharap kita bisa bertemu lagi di kehidupan mendatang... Aku, Fugaku, ingin sekali menjadi sesuatu yang paling berharga di hidupmu...'
"Fugaku-kun... Setelah kau pergi, entah kenapa rasanya hatiku sangat sakit... Dan juga rasanya seperti kosong, kehilangan sesuatu yang berarti... Kaulah yang paling berharga di hidupku..." kata Mikoto terisak sambil duduk di depan makam Fugaku. Minato dan Kushina hanya melihat itu dari pintu. Kushina juga ikut menangis ketika mengetahui bahwa Hinata meninggal, tapi Minato tidak bilang bahwa yang membunuh adalah Mikoto.
Ketika Mikoto sudah sampai di kamarnya, ia duduk di sisi ranjangnya. "Apa artinya aku hidup jika yang paling berharga sudah tiada?" pertanyaan itu melintas di benar Mikoto. Dengan segera ia mengambil selembar kertas & pulpen, lalu menulis pesan terakhir untuk Minato & Kushina – seperti yang Fugaku lakukan.
Setelah selesai, ia mengambil kantong merah yang masih ada di saku celananya dan membukanya. "Selamat tinggal dunia... Aku ingin hidup bersama Fugaku-kun..." Setelah kalimat itu diucapkan, ia melemparkan segenggam abu keatas dan menghirupnya. Seketika, dadanya menjadi sesak & ia sulit bernapas. Tak lama kemudian, ia jatuh ke lantai & meninggal.
"Minato-kun, aku tidak akan tahu jika Mikoto ternyata..." kata Kushina sambil terisak melihat makam Mikoto di taman.
"Ini semua karena keegoisan dirinya... Tidak bisa menyalahkan orang lain... Dia yang terlalu egois... Teman-teman kita yang tidak berdosa semua dibunuh olehnya..." kata Minato sambil memeluk Kushina yang sedih...
"Aku masih ingin menjadi onee-san mu, Mikoto... Aku berharap masih bisa bertemu denganmu di kehidupan mendatang..."
"Ternyata benar kata Anda, Bocchan... Gadis kejam itu bukanlah murid Anda nantinya..." kata Sebastian pada tuan'nya, Ciel.
"2 warna dari lukisan itu juga sudah menghilang... Sekarang hanya tunggu salah satu dari mereka berdua yang terpilih..." kata Ciel sambil menyingkirkan 2 pion catur dari papan caturnya.
"Bocchan, jika sang pembunuh sudah meninggal, lalu bagaimana dengan 2 orang itu?" tanya Sebastian dengan heran pada tuan'nya.
"Hummm... Iya juga ya... Masa permainan ini berhenti sampai disini?"
Viona: Hola semua! Chapter 9-nya sudah jadi ne! Wah! Author sudah sangat berusaha untuk mengerjakannya dengan cepat! 2 chapter ini (8 dan 9) selesai dalam 1 hari! Pheww, akhirnya bisa lega... Chapter 10 akan diketik oleh author Vanny Zhang... Jadi, author Viona udah nggak ada tanggungan lagi nih :D Author Vanny Zhang ganbatte ya! Thank you for reading, minna-san!
