9th Cap

Kyuhyun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Hitam legam besi besar tersebut membelah jalan ibukota yang sudah mulai membeku sejak tadi malam. Tidak banyak kendaraan yang melaju dalam cuaca sedingin ini. Jikalaupun harus, pengemudi lain lebih memilih menutup rapat semua kaca jendela sambil menikmati pemanas di dalam kendaraan, bukan yang seperti pria itu lakukan saat ini.

Kyuhyun seperti membutuhkan sebongkah batu es besar untuk menghantam kepalanya. Seakan angin musim dingin di pagi hari sama sekali tidak menembus tengkoraknya dan memadamkan panas di dalam kepala.

Kejadian pagi ini cukup membuat otak Kyuhyun berhenti bekerja dengan baik untuk beberapa saat. Ia mereka ulang kejadian dengan slide-slide imaginer yang muncul di hadapannya secara bergantian.

Kyuhyun mendapatkan malam yang begitu hangat sekaligus menegangkan dari orang tua angkat Ryeowook. Mereka berbincang, saling mengenal satu dengan yang lain, dan berbagi sedikit masa lalu. Tapi walau Casey dan Andrew adalah dua pribadi yang tidak menatap sesuatu dari satu sisi pembenaran, Kyuhyun masih dapat melihat banyak kekhawatiran sebagai orang tua.

Ini tidak akan mudah untuk orang tua manapun. Bahkan untuk ayah dan ibunya sendiri. Kyuhyun sudah pernah melihat reaksi yang normal untuk sebuah pengakuan bahwa dirinya adalah pecinta sesama jenis. Sungguh, bukan pemandangan yang layak untuk diperlihatkan. Karena dirinyalah sang ibu kini hanya menjalani hari sebagai wanita paruh baya yang hidup seorang diri di kota kecil.

Tapi sejauh pengamatan, Kyuhyun sudah berani mengira kadar kedekatan yang sudah ia bangun pada pertemuan pertama dengan pasangan O'Connell adalah cukup baik. Hanya perlu bukti dan kehati-hatian dalam perjalanan kebersamaannya dengan Ryeowook.

Kemudian... secepat ia mendapatkan sebuah pengakuan, secepat itu pula ujian datang menghampirinya.

Sungmin sungguh membuatnya sakit kepala.

Baiklah. Kyuhyun mengakui bahwa hubungannya dengan Sungmin dulu bukanlah sesuatu yang dapat dihapus hanya dengan kehadiran orang lain yang ia anggap lebih baik. Ya. Menurutnya semua hal yang terjadi dengan Ryeowook lebih baik dari kisah cintanya dengan Sungmin. Sekuat apapun perasaan keduanya, dunia tetap menolak mereka bersama. Kyuhyun bahkan hampir selalu menjadi orang pertama yang ingin menyerah. (Dulu) ia begitu mencintai Sungmin, tapi justru kata berpisah sangat sering keluar dari mulutnya pada saat-saat tersulit.

Sungmin seperti malaikat. Tembok pemisah terkokoh dari hubungannya dengan Kyuhyun berasal dari sekitarnya. Terutama keluarga. Belum lagi cita-citanya untuk menjadi seorang dokter bedah yang sangat hebat. Ia bukan apa-apa tanpa dukungan dari keluarga besar. Kemudian ketika penyokong pelengkap dari itu semua hadir dari keluarga seorang wanita yang begitu mencintai Sungmin dan bersedia dikatakan gila untuk bisa menikahinya, sejak saat itulah hubungannya dengan Kyuhyun berada dalam fase paling sulit.

Kyuhyun ingat ketika terakhir kali ia mendengar perihal perjodohan Sungmin dengan putri seorang pemilik rumah sakit kanker yang merupakan salah satu dari beberapa rumah sakit terbesar di Korea Selatan, ia bertengkar hebat dengan Sungmin. Kyuhyun mengusir pria itu dari apartemennya dan menghina kehidupan keluarga bangsawan—yang sebenarnya sangat tidak perlu.

Kyuhyun menjadi sangat egois ketika marah, dan kemarahan terakhirnya dengan Sungmin sampai pada titik dimana ia harus benar-benar melepaskan pria itu.

Jika versi pertama cerita adalah Sungmin yang sudah mengkhianatinya, maka versi lain menyebutkan bahwa Kyuhyun adalah pemicu dari keputusan Sungmin.

...dan ia baru menyadarinya ketika melihat Sungmin memohon untuk kembali padanya pagi ini.

Lantunan Careless Whisper dari perangkat audio mobilnya membuat Kyuhyun semakin terpuruk akan rasa bersalah—atau penyesalan?

Kyuhyun menggeleng kuat. Ia tidak seharusnya seperti ini. Semua seharusnya sudah berakhir lama, dan saat ini Ryeowook adalah prioritasnya. Kemudian setelah menutup semua jendela dan menghidupkan pemanas dalam mobil, Kyuhyun mengarahkan laju kendaraannya ke pinggiran kota dan berharap agar semua keraguan sirna ketika ia melihat kedua mata milik Ryeowook.

oOo

"Aku tidak suka mengatakan ini. Tapi kita seperti sedang mencuri kasus orang lain."

"Kalian sudah mencurinya."

Jungsoo meletakkan beberapa kaleng kopi instan di atas meja untuk ketiga tamunya, kemudian ikut bergabung bersama mereka. Henry, Minho, dan Jonghyun adalah orang kesekian setelah Kyuhyun yang menjadi dekat dengan jaksa muda tersebut karena pernah menangani beberapa kasus bersama-sama.

Jonghyun yang pertama membuka kaleng dan menyesap rasa yang terlalu manis itu di dalamnya. namun karena terasa hangat di kerongkongan, ia pun melanjutkan tanpa mengeluh. "Bukannya karena kami mau protes. Tapi aku tidak tahu jika kau begitu tertarik dengan kasus Sungmin sampai-sampai mengkesampingkan kenyataan bahwa ini sama sekali bukan spesialisasimu ataupun kami." ujarnya sambil membaca komposisi minuman yang tercantum dalam kaleng.

Jaksa itu tersenyum dan ikut menikmati kopinya. "Sudah jelas ada dua alasan. Pertama karena tidak tahan melihat kalian menjadi pengangguran, dan kedua karena Dokter Lee Sungmin adalah menantu dari Kim Hyujin—orang yang paling dekat dengan buruanku."

"Kau masih terobsesi pada orang itu kutebak." Minho menambahkan.

"Semakin bertambah kadarnya jika kau ingin tahu."

"Hey, kenapa kita tidak mengajak Kapten untuk bergabung? Dalam surat panggilan itu hanya kita bertiga yang disebut akan kembali bertugas di lapangan. Aku sangat terganggu dengan kenyataan bahwa kita sedang meninggalkannya seorang diri." Henry yang sedari tadi hanya memperhatikan langsung saja mengutarakan ketidaknyamanannya sejak surat pembatalan scorsing bagi mereka turun.

Baik Minho dan Jongyun juga memiliki pertanyaan yang sama. Itu sebabnya kini ketiga pemuda tersebut menatap sang Jaksa untuk sebuah jawaban. Dan mereka berharap jawabannya tidak akan semakin membuat tidak tenang. Minho dan kawan-kawan tahu bagaimana tabiat Kyuhyun dan tempramennya. Terlebih untuk urusan pekerjaan.

Jungsoo mengambil jeda beberapa saat untuk menemukan jalinan kalimat yang tepat untuk memberikan jawaban atas pertanyaan orang-orang di sekitarnya. "Untuk sementara ini biarkan saja dia."

"Huh?" ketiganya berseru tak paham.

Pria itu menyilangkan kaki sebelum melanjutkan. Matanya menatap lukisan besar yang terletak pada dinding pusat ruangan kerja. Sebuah lukisan abstrak yang Jungsoo sendiri pun tidak tahu maksud dari sang seniman menghamburkan beberapa warna secara acak di sana. Namun lukisan tersebut seperti memancarkan kekuatan magis di atmosfer dan membuatnya selalu dapat memikirkan maksud lain dari apa yang sedang ia pikirkan saat melihat lukisan tersebut.

"Kyuhyun memiliki kekhawatiran besar atas kasus kalian sebelumnya dan juga kasus yang sekarang, dan itu disebabkan karena satu orang."

Tatapan semakin-tidak-mengerti masih tertuju padanya.

"Aku penasaran. Ada hubungan apa sebenarnya antara Kyuhyun dengan Dokter Lee?"

Minho yang pertama merespon, "Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?"

Jungsoo tidak menatap yang diajak bicara, kedua matanya masih terpaku pada lukisan di sana. "Saat di rumah sakit, aku sangat percaya jika Kyuhyun bukan sama sekali tidak peduli pada kasus Sungmin. Tapi dia justru ingin menutupi sesuatu. Sorot matanya tidak bisa aku kenali ketika pembicaraan kasus ini dikaitkan dengan dokter muda itu. Tidak lagi antusias seperti Cho Kyuhyun yang kukenal." Ia menghela napas panjang.

Alasan mengapa ia memberitahu perihal obsesinya pada Menteri Moon Sae Young adalah karena Jongsoo ingin Kyuhyun tahu bahwa dirinya sangat mempercayai pemuda itu dan berharap Kyuhyun melakukan hal yang sama. Membawa hal yang bersifat pribadi dalam menangani sebuah kasus adalah hal terlarang untuk orang-orang seperti mereka. Namun Jungsoo ingin meyakinkan jika semua itu tidak seharusnya dihindari, melainkan harus mereka hadapi.

Ada beberapa alasan pasti mengapa penyelidikan mengenai kasus penggelapan dana kesehatan di kementrian tidak pernah menjanjikan arah yang benar. Salah satunya adalah pandangan subjektif dari para penyelidik, dan biasanya memang pasti berhubungan dengan urusan pribadi.

"Apa tidak ada yang mau memberitahuku alasannya?"

Jika tadi tatapan Minho, Henry, dan Junghyon adalah sorot mata penuh dengan tuntutan kepada sang jaksa, kali ini justru mereka berusaha mengalihkannya sejauh mungkin. Ada hal yang bersifat profesional jika menyangkut pekerjaan. Namun di balik itu, pengkhianatan tidak akan pernah sanggup dimaafkan. Kondisi itulah yang tidak akan pernah ingin mereka alami bersama Kyuhyun.

Dan untuk mempertahankannya, setiap individu saat ini terlihat sekuat tenaga menahan semua.

oOo

Sungmin menatap langit dari jendela kamarnya yang sangat besar. Satu titik favorit dari kamarnya yang dingin dan kaku karena ia bisa menatap pohon sakura yang tumbuh di halaman rumah dengan sangat jelas. Ia sering berada di sana jika sesuatu tengah mengganggu pikirannya, dan akhir-akhir ini intensitas kegiatan tersebut semakin sering hingga Sungmin bisa memperkirakan berapa jumlah dedaunan yang gugur setiap hari dalam masa transisi musim. Sejak ia berpisah dengan Kyuhyun hingga kini bertemu kembali, bagian indah dari hidupnya hanya berdiri di balik jendela ini.

Kilas balik kejadian beberapa hari lalu masih saja berputar di kepalanya. Tentang bagaimana ia mendengar pembicaraan Kyuhyun dengan orang-orang baru di kehidupannya—kehidupan cintanya. Setelah itu seperti alat bantu hidupnya yang ia percaya suatu saat bisa membangunkan dia dari koma harus dilepaskan secara paksa dalam satu malam.

Alkohol adalah hal terakhir yang akan disentuh oleh dokter sepertinya. Dan jika malam itu alasannya hanya karena seseorang meninggal di atas meja operasi, mungkin hari ini Sungmin sudah bisa pulih dan melihat bahwa semua itu bukan hanya kesalahannya. Bahwa hidup dan mati seseorang bukan berada di tangannya. Kemudian ia bisa kembali melanjutkan aktivitas seperti biasa.

Tapi hal lain menjadikan malam itu terasa sangat berat baginya. Karena memang apapun yang berhubungan dengan Kyuhyun adalah bagian terberat dalam hidupnya. Walau ia sendiri mengaku bahwa pemuda itu memang patut diperjuangkan.

Sungmin ingin semuanya kembali seperti dulu. Itulah sebab akhirnya dia berani merendahkan diri di hadapan Kyuhyun.

Ia mengemis pada Kyuhyun untuk bisa kembali...

oOo

"Berhentilah menggangguku bekerja, Kyuhyun." Ryeowook memprotes tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer.

"Aku berada setidaknya tiga meter dari tempatmu, bagian mana yang bisa dijelaskan sebagai kegiatan menggangu?" Kyuhyun masih bergeming. Ia duduk dengan santai di sofa ruang kerja Ryeowook sejak dua jam lalu, dan hal itu mungkin saja masih bisa berlanjut.

Ryeowook menghela napas pelan, "Kau bisa melubangi kepalaku dengan tatapan itu." Ujarnya perlahan. Ia sampai pada bagian penghitungan yang cukup rumit. Kedua alisnya bertaut dan seseorang di sana semakin kagum dengan keseimbangan otaknya. Orang dengan kemampuan rata-rata tidak akan sanggup tidak mengabaikan kekasih mereka ketika tengah bekerja serius.

Tapi Ryoewook melakukannya dengan sangat baik.

"Tatapanku tidak akan melubangi kepalamu." Kyuhyun berkata singkat. Tangan kanannya menopang wajah agar terus bisa melihat ke arah Ryeowook.

"Aku banyak pekerjaan."

Kyuhyun menggeleng, "Kau tertangkap basah tidak ada kerjaan saat aku datang."

"Aku baru ingat ada banyak kerjaan setelah kau datang." Ryeowook menjawab cepat. Kemudian menambahkan "terimakasih" dengan sangat tidak tulus.

"Aku tidak akan menyerah untuk kali ini." ada tekad besar—yang konyol dalam kedua mata Kyuhyun. "Pembicaraan akan tetap kita lanjutkan setelah pekerjaan-yang-tiba-tiba-diingat itu selesai. Kau harusnya tidak lupa jika aku pengangguran dan waktuku saaaangat banyak. Jadi bukan masalah kalau harus menunggu lama."

"Pembicaraan yang mana maksudmu?" walaupun bertanya begitu, wajah Ryeowook tiba-tiba saja bersemu dan ia berusaha menutupi senyuman dengan tangannya.

Kyuhyun tidak tahu pembicaraan apa selain yang pantas utarakan tadi ketika sampai di tempat Ryeowook selain mengenai hal-hal konyol tentang tahapan hubungan mereka. Beberapa topik di dalam kepalanya tetap tidak bisa menutupi kegelisahan selama beberapa hari ini, dan Ryeowook mungkin cepat atau lambat bisa saja bertanya. Sungguh, berbohong pada Ryeowook sama artinya dengan membeli tiket menonton film di bangku paling depan. Lehermu akan sangat sakit.

Lalu hening sebentar sebelum akhirnya Ryeowook memutuskan untuk menutup layar komputer dan mencurahkan semua perhatiannya pada Kyuhyun.

"Baiklah. Aku akan mengabulkan keinginanmu."

Ryeowook melipat kedua tangan di dadanya.

"Let's talk about sex."

[...]

Ryeowook mendorong dada Kyuhyun dengan lembut. Pria itu sudah menghajar bibirnya sejak dua puluh menit yang lalu dan tidak menunjukkan tanda-tanda berkecukupan. Jujur saja, rasanya sangat aneh ketika mereka berdua seharusnya hanya bicara tentang sesuatu, namun akhirnya tidak ada cara yang dapat menjabarkan sesuatu tersebut dengan kata-kata hingga akhirnya memilih cara lain.

Sama seperti sang kekasih—ya, Kyuhyun saat ini sudah tidak ragu untuk memikirkan, menunjukkan, ataupun menyebut Ryeowook sebagai kekasihnya—ia terlihat mengatur napas akibat kegilaan bibirnya sendiri ditambah dengan respon mematikan dari lawan bicara-nya.

Kyuhyun bisa langsung mendapatkan sebuah ketenangan dari kedua mata Ryeowook. Batu hitam yang jernih dan indah tersebut seperti memiliki kekuatan dan membaginya dengan perasaan-perasaan bahagia. Kyuhyun tidak lagi bisa mengelak jika ia memang sudah jatuh terhadap pesona seorang Nathan O'Connell, atau Nathan Kim jika merujuk pada kartu identitasnya, atau Kim Ryeowook... Ryeowook saja untuknya saat ini.

Kyuhyun mengusap leher Ryeowook dengan hidungnya sambil menyesap semua aroma candu dari tubuh kecil tersebut. Ryeowook punya wewangian musim semi yang khas dan mentol yang sangat menyejukkan pada rambutnya. Jika tidak lupa, dia akan menyempatkan diri untuk mengecek jenis sampo apa yang kekasihnya gunakan.

Seperti diberikan akses yang mudah, Kyuhyun mendapatkan dirinya semakin memperdalam ciuman pada leher jenjang itu dan beberapa kali tergoda untuk meninggalkan sebuah tanda kepemilikan di sana. Namun pahatan porselin itu terlalu indah untuk sebuah cacat kecil yang walaupun hanya bersifat sementara. Kyuhyun selalu merawat miliknya yang berharga.

Ryeowook tak kuasa menahan sebuah lenguhan yang tiba-tiba keluar dari bibir terbukanya ketika pria dalam pelukannya itu menambahkan sensasi yang menurutnya sangat gila di atas bagian tubuh paling sensitif. Bisa dibayangkan seperti apa tersiksanya ia dengan celana yang dirasa berubah sempit. Namun seperti sebuah surga dalam lingkaran api neraka, kau harus tetap di sana agar tidak menyentuh panas yang ada di sekitarnya. Ryeowook menggerakkan pinggulnya untuk meminta sentuhan yang lebih.

Kyuhyun meyeringai. Mereka sudah sampai pada base ketiga untuk sebuah klimaks dari topik about-sex yang sangat ia inginkan. Dan ketika dirasa tidak akan ada penolakan untuk melanjutkan ada tahap selanjutnya, sebuah dering telepon menginterupsi semua.

Ryeowook yang sedari tadi menutup mata dan tidak peduli dengan apa lagi yang akan dilakukan oleh Kyuhyun kepadanya langsung saja terbelalak. Rasanya seperti tertangkap basah, walaupun hanya panggilan interkom dari resepsionis di luar ruangan.

[Tuan Kim, ada pesan suara yang ditinggalkan Dokter Walker lima menit lalu.]

Kyuhyun menghela napas kecewa. "Kenapa selalu dia." Bisiknya frustasi.

"Kau beruntung karena aku sempat menyuruhnya agar tidak membiarkan siapapun masuk kemari walaupun aku berteriak minta tolong." Ryeowook membalasnya juga dengan bisikan dan kemudian mendapat sebuah kecupan singkat di bibirnya.

Mereka bergeser untuk memudahkan Ryeowook menekan tombol telepon terdekat. Ia bermaksud mendengarkan pesan suara yang ditinggalkan oleh pamannya.

[Hey, banjingan kecil. Aku tidak memaksa masuk karena wanita cantik ini memberitahu bahwa kau ada di dalam bersama Kyuhyun. Yah, lanjutkan saja apa yang tengah kalian kerjakan. Aku hanya ingin mengingatkan padamu untuk tidak melewatkan sesi pemeriksaan kesehatan. Ibumu yang akan melakukannya sendiri, jadi jangan buat dia mengeluh karena kau terlambat, apalagi tidak datang sama sekali.] ada jeda beberapa detik, kemudian kalimat terakhir diucapkan dengan sedikit berbisik, [Kalian sudah melakukannya—]

Ryeowook langsung menekan tombol end dengan sangat keji. Aneh rasanya jika kata-kata Walker terasa begitu menggangu di saat tubuhnya berada begitu dekat dengan Kyuhyun saat ini.

"Kau masih malu?" Kyuhyun tersenyum melihat wajah Ryeowook yang merengut.

"Memangnya kau tidak?"

"Hmm..." Kyuhyun terlihat berpikir, "...tidak juga."

Jawaban yang salah menurut Ryeowook. Pria itu jadi membayangkan bahwa alasan Kyuhyun tidak malu melakukan hal ini adalah karena ia sudah pernah melakukannya di masa lalu. Dengan siapa dan bagaimana akan menjadi keingintahuan yang berbahaya. Tapi tidak bisa dipungkiri jika Kyuhyun sedikit banyak memiliki sifat yang sama dengan pamannya, Jhonny. Kyuhyun sangat suka menggodanya. Jadi mungkin ia tidak akan marah untuk saat ini.

"Kau sudah selesai?" Ryeowook berkata tanpa emosi.

Dan hal itu membuat Kyuhyun panik dengan segera, "A-apa? Belum—tidak, maksudku apa maksudmu? Apanya yang sudah selesai?"

Ryeowook tidak menjawab. Ia hanya menatap Kyuhyun dengan sorot mata yang tidak bisa diprediksi. Semakin membuat Kyuhyun panik.

"Akan ada dering telepon yang kedua, ketiga, dan seterusnya jika kita melanjutkan di sini. Dan mood ku sudah separuh hancur karena mendengar suara Walker." Ujar Ryeowook sambil melingkarkan kedua tangannya pada leher Kyuhyun untuk membuat wajah mereka berdua berjarak lebih dekat.

Mendengar keluhan itu, hati Kyuhyuh luar biasa berbunga. Jika ia tidak salah menafsirkan, bukankah kali ini Ryeowook yang memintanya? Ia bersorak tanpa suara dengan penuh kemenangan.

"Ryeowook-ah..."

"Hm?"

"Sebelum kita pulang dan melanjutkannya di rumah. Apa boleh melanjutkannya di sini sebentar lagi?"

Ryeowook sekarang mendaratkan tatapan bingung.

"Setidaknya sampai aku membuka dua kancing kemejamu."

oOo

Kyuhyun tidak mengalihkan pandangannya dari Ryeowook yang sedari tadi mondar mandir memasukkan beberapa barang dari banyak tempat. Ia tampak murung. Hari ini adalah jadwal pemeriksaan kesehatan rutin bagi pemuda itu dan karena banyak sekali sesi yang akan ia jalani, Ryeowook harus menginap di rumah sakit sampai tiga hari ke depan. Meskipun Kyuhyun tidak tahu apa yang menyebabkan pria itu harus menjalani pemeriksaan kesehatan khusus, ia tetap tidak bisa bertanya banyak karena yang saat ini dihadapinya adalah Casey.

Wanita itu meneleponnya pagi-pagi sekali untuk memberitahukan mengenai jadwal Ryeowook. Sebenarnya tidak masalah mengenai penjelasan yang mungkin akan sedikit terlambat untuk ia dapat karena sebelumnya Walker sudah menyinggung mengenai kondisi Ryeowook di masa lalu. Walaupun terdengar tidak masuk akal, terkadang orang itu adalah sumber informasi yang paling penting.

Masalahnya saat ini adalah, Casey melarang Kyuhyun untuk ikut hadir ataupun mengunjungi Ryeowook selama sesi berlangsung.

Jadi hal apa lagi yang membuatnya seperti itu sekarang? Tiga hari tanpa Ryeowook sudah seperti rencananya terburuk dalam hidup.

"Kau masih bisa mengantarku sampai rumah sakit. Aku akan sering menelepon."

"Kau tidak terlihat seperti akan sering menelepon, Ryeowook." Kyuhyun menyahut ketus, walau tidak dapat dipungkiri nada merajuk terdengar dari setiap kata.

Ryeowook menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pria itu tengah menimang antara membawa sarung tangan atau tidak, mengingat ia hanya akan berada di dalam ruangan dengan pemanas yang baik nantinya. Tapi tidak sanggup menepis keinginan memakai benda tersebut karena warna coklat yang sangat indah.

"Kau tidak memerlukan itu kalau ada aku." Kyuhyun menunjuk sepasang sarung tangan yang menjadi objek pertimbangan Ryeowook saat ini.

"Apa-apaan sih?" Ryeowook memasukkan kembali sarung tangan tadi ke dalam laci tanpa melirik Kyuhyun.

"Ryeowook-ah..."

"Diamlah Kyuhyun. Ibuku sangat teliti. Dia akan memeriksa barang bawaanku dan sudah pasti mengomel jika aku melupakan sesuatu untuk dibawa." Ryeowook mengeluh jengkel dengan sikap kekanankan Kyuhyun. Jika boleh jujur, sebenarnya ia juga sangat terganggu dengan pemeriksaan ini, karena sejauh yang pernah ia alami, terapinya tidak pernah berlangsung mudah. Tidak akan ada masalah dengan pemeriksaan fisik, karena semua orang tahu apa yang ayahnya tanam di dalam tubuh Ryeowook.

Namun tidak dengan psikologisnya.

Ryeowook selalu merasa bahwa ia bukan dirinya saat mereka mulai mengaplikasikan sebuah hipnotis. Akan selalu ada hal-hal mengejutkan, dan itu membuatnya muak. Ryeowook percaya jika dirinya memang memiliki kecenderungan gejala bipolar yang kuat. Tapi jika melihat wajah dokter dan kedua orang tuanya saat ia menayakan perihal hasil pemeriksaan, sesuatu yang lebih buruk pasti sudah mereka ketahui.

Casey selalu beralasan jika mereka belum bisa menyimpulkan apapun, jadi Ryeowook yang sejatinya tidak ingin mendengar sesuatu yang buruk terjadi padanya pun hanya menurut dan berusaha untuk tidak memaksa.

Ketika pemikiran-pemikiran tersebut membuat Ryeowook tidak nyaman, saat itulah ia merasakan kehangatan membungkus tubuhnya. Pria itu bisa merasakan detak jantung Kyuhyun menembus punggung dan secara ajaib membawa detak jantung miliknya agar memiliki irama yang senada.

Dengan begitu, ia kembali merasa dirinya akan baik-baik saja.

"Berusahalah untuk selalu menghubungiku, karena benda ini tidak akan kulepaskan dimanapun aku berada." Ujarnya sambil menunjuk ponsel. Suara Kyuhyun yang berat namun begitu terdengar lembut membuat irama detak jantung mereka menjadi lebih indah. Ryeowook ingin sekali segera meyakinkan diri sendiri jika ia memang sudah jatuh cinta pada Kyuhyun. Kemudian memastikan jika pria inilah yang memang hadir untuk menggantikan potongan-potongan masa lalu yang telah hilang.

Ryeowook memejamkan mata dan tersenyum untuk kenyamanan yang berharga ini.

"Pastikan untuk menjawabnya sebelum dering ketiga."

oOo

Sungmin kali ini kembali terjebak dalam kepalsuan ramah tamah dari orang-orang yang sangat mementingkan kasta dalam pergaulan. Hidangan besar dan sangat mahal sudah tersaji di hadapannya bersama beberapa orang dengan kedudukan tinggi. Ia bahkan sanksi jika rasanya akan selezat jika dibandingkan dengan roti tawar dan susu kantin rumah sakit yang dimakan setelah berhasil melakukan sebuah operasi pembedahan yang sulit.

Bahkan anggur di tangannya kini terasa seperti air sungai yang tercemar.

"Aku lega karena hari ini akhirnya datang. Tidak bisa kubayangkan jika sebuah artikel bodoh mampu menunda apa yang sudah kita rencanakan. Aku bahkan sempat berpikir semua ini akan batal begitu saja." Seseorang dengan perawakan tambun dan berumur di akhir lima puluhan terlihat bicara dengan angkuh. Ia melirik Sungmin yang sama sekali tidak menunjukkan emosi berarti.

Pria lain di hadapannya tersenyum kikuk ketika menyadari bahwa orang di depannya ini tengah menyindir sesuatu—seseorang lebih tepatnya. "Ini hanya kesalahan kecil, tidak ada efek yang berarti. Yang penting adalah semua akan baik-baik saja. Itulah mengapa kita ada di sini. Demi keberlangsungan jabatanmu dan masa depan Si Yuen university.

Walaupun terdengar aneh, kedua pria paruh baya itu tertawa. Tidak ada yang lucu memang, hanya seperti sebuah protokol dalam pertemuan bisnis, dimana semua orang menggunakan topengnya untuk menutupi berbagai sifat asli. Hanya agar terlihat sama dan sepadan dimata yang lain.

Sungmin kini menyantap steak yang rasanya hanya seperti gumpalan kertas di dalam mulutnya. Ia tersenyum menatap dua orang senior di sana. Walaupun senyuman tersebut lebih mirip dengan seringai. Sikapnya memang tidak peduli, namun kedua telinganya masih sangat sehat. Ia bisa mendengar bagaimana menteri Moon Sae Young menyindir tentang artikel tersebut. Memang hanya masalah waktu untuk mereka bisa mengetahui siapa dalang di balik ini semua. Tapi haruslah Sungmin berbangga hati karena orang-orang licik ini harus memakan waktu yang sangat lama untuk menyadari ada duri dalam daging kerajaan mereka.

Ketika ia berusaha menikmati kemenangan kecil tadi, seseorang langsung membawanya kembali pada kenyataan. "Bagaimana perkembangan penelitianmu mengenai kanker paru-paru itu? Kudengar kau sudah bersiap untuk pengujian terhadap pasien." Dibandingkan dengan menggunakan istilah kedokteran seperti mesothelioma, Dokter Kim bertanya dengan kalimat yang begitu sederhana agar semua orang yang ada di sana dapat mengerti.

Sungmin melirik sekilas kemudian menyesap anggur mahal dengan sangat berkelas. Ia menatap setiap pasang mata yang sudah mendamba jawaban hebat dari mulutnya. "Aku tidak akan menggunakan manusia untuk kelinci percobaan."

Jawaban tersebut sontak membuat para orang tua di sana mengeluh dengan lontaran protes-protes dalam suara rendah.

"Aku akan tetap menggunakan primata untuk menguji virus SV40."

"Sungmin, kau punya dana berlimpah untuk melakukannya terhadap manusia. Lagipula jika penelitian ini berhasil, pengobatan itu akan dipakai oleh manusia. Kau bukannya akan mengobati banyak monyet atau semacamnya." Mertuanya tampak kaget dan tidak menerima pernyataan Sungmin.

Moon Sae Young belum berkata apapun saat itu. Ia menanti ayah dan menantu ini menyelesaikan perdebatannya. Walaupun tidak banyak yang ia tahu tentang penelitian, tapi pria itu cukup ikut dibuat repot oleh permohonan dana yang tidak main-main besarnya. Penelitian tersebut bisa dikatakan adalah asetnya yang paling berharga. Dia berani mengambil resiko dengan mengambil dana kesehatan pemerintah untuk membiayai penelitian ini. Jadi jika ada masalah dengan prosesnya, maka semua itu juga akan menjadi masalahnya.

"Ayah, uji klinis ini terlalu beresiko—"

"Tidak ada penelitian yang tidak memiliki resiko!" Dokter Kim Hyujin membentak menantunya hingga membuat semua orang yang ada di sana menahan napas. Beruntung pertemuan itu sama sekali tidak bersifat publikasi hingga selain ketiga tokoh utama tadi, hanya dihadiri oleh orang-orang kepercayaan menteri. Namun tetap saja, atmosfir di sana langsung berubah tidak nyaman.

Sungmin berusaha menahan diri. Ia tahu semua orang mengandalkan dirinya untuk keberhasilan penelitian ini. Dokter muda itu sangat senang jika dapat membuat sebuah pencerahan dari penelitian yang tidak pernah bisa dilanjutkan oleh beberapa orang terdahulu. Hanya saja semua jalan jadi terlihat sulit ketika ia dihadapkan pada kenyataan bahwa penelitian besarnya ini menggunakan dana yang sama sekali bukan haknya. Terlebih, Sungmin dituntut untuk menggunakan manusia tidak berdosa sebagai kelinci percobaan.

Moon Sae Young akhirnya menengahi—yang lebih terlihat seperti menghentikan karena jengah. "Aku tahu ini sangat penting, tapi berilah sedikit waktu untuk menantumu bisa berpikir. Kita memang harus memikirkan kepentingan sesama manusia, karena penelitian ini dilakukan untuk menyelamatkan hidup manusia juga nantinya. Bukan begitu, Dokter Lee?"

Sungmin tahu perkataan itu hanya untuk menekankan sesuatu, bukan untuk menunjukkan dukungan atas keputusannya. Ia hanya menatap pria itu sambil tetap menahan diri agar tidak mengatakan apapun yang dapat menghancurkan segalanya.

"Tapi memang benar bahwa tidak ada sebuah penelitian yang tidak memiliki resiko. Itu adalah hukum alam. Jadi kuharap, kau bisa lebih bijak. Jika tidak..." ia mengambil garpu dan mulai memainkan makanan yang ada di hadapannya, mengambil sepotong daging lalu dengan sengaja menjatuhkan potongan itu ke lantai dan menginjaknya. "...kau hanya seperti daging itu. Sangat bernilai tinggi dan terasa lezat jika disajikan di atas porselin mahal dn dicampur dengan rempah-rempah pilihan. Tapi jika sudah seperti ini..." ia menunjuk potongan daging yang sudah diinjak, "...siapa yang bersedia memakannya?"

Dan beginilah manusia licik menggunakan kekuatannya untuk terus menumpuk ketamakan.

oOo

Casey menggenggam jemari putra angkatnya dengan sayang. Hari yang berat bagi anak itu karena untuk yang kesekian kali ia harus menjadi objek penelitian beberapa dokter dalam satu rangkaian pemeriksaan kesehatan. Pagi ini hingga sore hari, Ryeowook harus berjalan, berlari di atas alat, dan membiarkan tubuhnya masuk ke dalam alat besar tanpa pakaian. Kini ia ada di dalam kamar rawat yang khusus Andrew siapkan untuk menjadi tempat Ryeowook beristirahat.

"Kau melakukannya dengan sangat baik hari ini, sayang. Kami sangat berterima kasih padamu." Wanita itu membelai wajah Ryeowook dengan lembut dan memberikan senyumannya yang paling indah.

Ryeowook mau tak mau membalas senyuman tulus tersebut. Ia tidak pernah bisa menolak Casey walau dengan keadaan apapun. "Hari pertama memang selalu tidak pernah ada masalah, bukan? Jangan terlalu khawatir, Andrew tidak akan memaafkanku jika kau sampai sakit."

"Dia tidak akan berani melakukan itu padamu, sayang. Karena yang akan ia hadapi adalah aku." Ujarnya berusaha mencairkan ketegangan yang ia rasakan sejak sesi pemeriksaan pertama terhadap putranya dilakukan.

"Jhonny memberitahuku." Casey memulai lagi. "Bahwa kau hampir... bahwa kau melukai seseorang secara tidak sadar lagi." Lanjutnya ragu-ragu.

Ryeowook hanya diam menatap ibunya. Ada banyak rasa bersalah di dalam pancaran mata itu ketika membalas tatapannya. Entah apa yang sudah mereka lakukan—tidak, ia tidak peduli dengan apa yang mungkin sudah mereka lakukan padanya. Ryeowook bisa berdiri menantang dunia adalah berkat tangan kedua malaikat ini. Casey dan Andrew adalah malaikat penyelamatnya. Dan sampai kapanpun tidak akan pernah berubah.

"Katakan sesuatu, Nathan. Setidaknya aku tahu apa yang tengah kau rasakan saat ini." tatapan itu mulai berembun, dan sedikit saja kalimat sentimental yang keluar, Casey akan membuat wajahnya basah karena air mata.

"Maafkan aku." Ia memberi sedikit jeda untuk kalimat selanjutnya, "...dan terima kasih untuk semuanya."

[...]

Andrew menahan diri untuk tidak masuk ke dalam kamar dan membiarkan dua orang di dalam sana memiliki waktu untuk mereka sendiri. Pria gagah itu sangat tahu apa arti Nathan bagi seorang Casey. Begitu pula sebaliknya. Nathan adalah rasa bersalah yang tidak pernah mereda bagi istrinya. Casey harus hidup dengan tanggung jawab itu, mungkin untuk selama sisa hidupnya.

Gejala kecil Spontaneous Human Combusion tidak pernah diperkirakan menjadi sebuah efek samping untuk pengobatan bagi penderita mesothelioma yang Casey ciptakan. Kim Ryeowook, seorang remaja berusia delapan belas tahun datang ke rumah sakit yang ia bangun di Korea Selatan dengan kondisi yang sangat lemah akibat kanker langka tersebut. Dengan sekuat tenaga ia mengumpulkan para ahli penyakit dalam untuk menangani bocah itu dan membuatnya agar tetap hidup.

Casey menghabiskan separuh hidupnya untuk menemukan obat dari penyakit yang sudah membunuh kedua orang tuanya itu. Kemudian seperti mendapatkan sebuah cara, mereka mulai menerapkan pengobatan yang telah Casey rumuskan kepada remaja bernama Kim Ryeowook tersebut.

Awalnya semua berjalan sesuai dengan harapan. Virus yang berkembang dalam paru-paru Ryeowook mulai menunjukkan kepasifan secara berkala. Jutaan sel kanker yang bisa saja menyebar dalam hitungan waktu berangsur luruh melalui darah kotor. Antivirus yang dimasukkan ke dalam tubuhnya melalui jalur kemo menunjukkan perkembangan yang signifikan. Pasien yang selalu mengalami kesulitan bernapas pada waktu yang relatif sering, berangsur berkurang setiap harinya.

Semua berjalan lancar ketika serum terakhir yang diberikan memberikan gejala aneh pada Ryeowook. Ia sering mengeluh jika tubuhnya terasa panas seperti sesuatu telah mendidih di bawah permukaan kulitnya. Kondisi itu berlangsung lama hingga gejala lanjutan mulai tampak. Kulitnya melepuh tanpa sebab dan seperti layaknya sindrom kupu-kupu, sangat mudah mengelupas. Ryeowook mulai sering merasa kesakitan akibat itu, dan hanya dalam kurun waktu satu minggu, luka bakar sudah menghabisi sebagian besar tubunya. Bahkan tidak hanya di luar, reaksi panas itu juga sudah mengenai sel-sel tulang dan otot Ryeowook.

Kegagalan ini menimbulkan banyak kepanikan dari tim ahli penyakit dalam dan diantara mereka mulai saling menyalahkan. Walaupun begitu, tuduhan tetap mengarah pada satu orang sebagai perumus serum antivirus tersebut.

Saat itu media hampir mengendus perihal kasus ini dan rumah sakit akan terancam ditutup jika Andrew tidak segera melakukan tindakan. Tekanan demi tekanan ia dapat, bahkan dari seorang sahabat yang sudah menjadi kepercayaan dan membantunya membangun rumah sakit ini dari nol.

Akan ada satu orang yang mengambil kesempatan dari kesulitan yang didapati oleh orang lain.

Andrew membawa Casey dan Ryeowook diam-diam untuk kembali ke New York dan membuat segalanya seperti tidak pernah terjadi. Sebagai harga yang harus ia bayar, Si Yuen hospital pun akhirnya berpindah tangan.

[...]

"Pada prinsipnya serum itu memang membunuh setiap setiap sel kanker yang menyebar pada tubuhmu—" Casey menggeleng dengan pernyatannya, "—tidak, serum itu membakarnya, dan karena tidak ada metode yang mampu mengontrol bagaimana obat itu bekerja untuk mengenali mana sel-sel kanker dan sel normal, formulanya ikut membakar semua yang dilewati. Setelah kami berhasil menghentikan laju pembakaran dalam tubuhmu, semua tes menunjukkan kalau kau bersih total dari kanker."

Ryeowook mendengarkan segala penjelasan mengenai bagaimana dulu sesuatu yang menyembuhkan penyakitnya pernah hampir membunuhnya juga. Casey berjanji pada putra angkatnya itu untuk menceritakan semua. Dan saat ini adalah waktu yang dirasa tepat untuk memenuhi janji tersebut.

Pria itu untuk pertama kali dalam hidup merasa begitu berharga. Mengetahui bagaimana Andrew dan Casey memperjuangkan hidupnya sedemikian rupa membuat ia tidak ingin menyerah untuk hidup bahagia.

"Pasti sangat melelahkan menyimpan semua ini sendirian. Mengetahui bahkan paman Jhonny juga tidak terlibat, membuatku berpikir jika kalian sudah mempertaruhkan segalanya."

"Semua itu terbayarkan dengan melihatmu begitu hidup dan tampan, sayang. Beruntung obat bodoh itu tidak melukai apapun dari wajahmu."

Ryeowook tersenyum. Namun tidak begitu lebar karena masih ada yang mengganggunya. "Aku belum benar-benar hidup jika mereka masih menemukan 'orang lain' dalam tubuhku besok." Ujarnya murung. Hal itu mau tak mau mengembalikan gurat kekhawatiran pada wajah Casey.

Namun tidak ada kalimat yang sanggup diucapkan sebagai penghibur. Semua orang yang mengetahui keadaan Ryeowook tahu jika hal itulah yang lebih mereka khawatirkan. Ia pernah mengalami trauma masa lalu yang membuatnya harus selalu bersembunyi pada sesuatu yang lain di dalam tubuhnya. Dan untuk menyingkirkan semua persembunyian itu, mereka harus menemukan bagian kehidupan yang hilang dari seorang Kim Ryeowook.

"Kuharap tidak ada yang terluka besok."

oOo

Kyuhyun menyempatkan diri untuk melihat perkembangan renovasi di apartemennya setelah seseorang menghubungi bahwa proses itu hampir selesai. Mereka benar. semua sudah hampir selesai. Hanya tinggal beberapa bagian yang masih harus mendapat sentuhan akhir. Ia bahkan sudah bisa merebahkan diri di atas ranjang barunya di dalam kamar. Pikiran tentang apa saja yang bisa ia dan Ryeowook lakukan di atas sini membuatnya tersenyum seperti orang bodoh.

Ketika nama itu muncul, ia kembali merengut memperhatikan ponselnya sekali lagi. "Apa-apaan ini, Kim Ryeowook? Apa kau senang mengetahui bahwa aku tersiksa karena tidak juga mendengar suaramu sampai hari ini."

Ryeowook memang sama sekali belum meneleponnya sejak mereka berpisah di pintu masuk Cap Off Hospital. Hari kedua benar-benar berhasil membuat Kyuhyun mengacak-acak isi apartemen kekasihnya itu karena bosan. Bibi yang membantu membersihkan rumah bahkan menatap Kyuhyun dengan pandangan ingin membunuh.

Kemudian hari ketiga ia memutuskan untuk keluar dan pulang ke apartemennya untuk mengambil beberapa barang, dan kebetulan seseorang dari pengurus gedung menghubungi jika renovasi sudah hampir selesai.

Pria itu kemudian keluar kamar dan menatap seisi ruang tamu. Kemudian tiba-tiba matanya tertuju pada sofa yang beberapa waktu lalu menjadi tempat Sungmin terbaring setelah jatuh tertidur karena lelah memohon.

Kyuhyun segera menggeleng dan menepis ingatan itu. "Kurasa sofanya juga harus diganti dengan yang lebih besar. Senada dengan warna ranjang juga bagus." Gumamnya pada diri sendiri.

Dan saat itulah bel rumahnya berbunyi.

[...]

"Aku sangat merindukan tempat ini. Mungkin itu sebabnya aku datang kemari ketika dalam keadaan mabuk beberapa hari lalu." Sungmin tersenyum kikuk, "Sangat memalukan. Kau pasti mendapat banyak masalah karena tingkah anehku."

Kyuhyun memberikan sekaleng bir yang ia beli dalam perjalanan ke sini. Niat awal dirinya hanya ingin sedikit mabuk untuk mengusir rasa bosan dan tidur di apartemen ini. Toh pesan singkat dari Casey memberitahu bahwa kemungkina Ryeowook baru akan pulang besok pagi karena kelelahan saat menjalani sesi terakhir dari terapinya.

Tapi ia beruntung karena ternyata belum melakukan apapun pada minuman-minuman itu sampai Sungmin muncul.

"Aku... tidak mengganggu kan?" Sungmin bertanya hati-hati. Seseorang di hadapannya saat ini bukanlah Kyuhyun yang sangat mencintai Sungmin. Ia sudah tidak melihat pancaan itu lagi di dalam sorot matanya.

Kyuhyun menggeleng. Ia melakukannya begitu casual seperti tengah bicara pada teman biasa. "Aku hanya sedang memeriksa hasil renovasi di sini. Dan kebetulan memang tidak ada yang bisa aku kerjakan dimanapun. Aku sedang diliburkan, kau tahu."

Sungmin terlihat ragu untuk melanjutkan. Ia jengkel saat menyadari lebih jelas bahwa sulit sekali bicara pada Kyuhyun sekarang. Terlebih semua tindakan gegabahnya membuat ia terlihat bodoh dan itu semakin menyulitkan apapun yang ingin ia sampaikan.

Kumohon Kyuhyun, bicaralah sesuatu agar aku bisa menjelaskan kejadian waktu itu.

Sungmin memohon dalam hati. Ia menggigit bibir untuk menahan diri.

Sementara di sana Kyuhyun hampir tidak tahu apa yang harus ia katakan. Kejadian sewaktu Sungmin mabuk sedikit membuka pertahanan yang ia bangun sejak lebih dari setahun yang lalu. Tepat ketika ia memutuskan untuk melepaskan Sungmin dari genggaman dan memilih untuk menderita seorang diri. Tapi anehnya ia tidak peduli pada bagaimana perasaan Sungmin ketika memutuskan untuk meninggalkannya. Egonya saat itu begitu picik dan menganggap hanya dirinya lah yang pantas untuk disebut sebagai korban.

Namun saat melihat bagaimana Sungmin memohon, ia menyadari betapa pria itu juga menjalani kehidupan yang berat selama ini.

"Jika kau datang karena sudah merasa tidak enak atas kejadian beberapa hari lalu di sini, jangan khawatir, aku sudah melupakannya."

Sungmin memang mengharapkan respon dari Kyuhyun, tapi ia tidak menyangka jika satu kalimat saja akan menyakitkan seperti ini.

"Kau hanya sedang mabuk."

Ya. Aku memang hanya sedang mabuk.

"Kau selalu bicara omong kosong jika sedang mabuk."

Benar. Aku selalu terlihat seperti idiot saat sedang mabuk.

"Jadi yang waktu itu kuanggap tidak ada maksud apapun."

Apa? Tidak, kau salah!

"Jadi jangan dibahas lagi—"

"Tidak, Kyuhyun! Please..." Sungmin akhirnya mendapatkan kekuatan untuk menyela. "Aku..."

Kyuhyun menunggu. Ia menunggu apa yang akan Sungmin katakan.

"Aku sudah mengatakan semuanya." Ia menggeleng, "Dan itu bukan omong kosong."

"Kau mabuk lagi?"

"Tidak! Aku tidak mabuk, Kyuhyun. Aku mengemudi untuk sampai sini dan memencet bel rumahmu. Dan yang aku katakan tadi sama sekali bukan omong kosong!" Sungmin akhirnya tak kuasa menahan emosi. Nada suaranya meninggi dan jelas sekali membuat lawan bicaranya tidak mampu mengatakan apapun.

Kyuhyun cukup terkejut karena ia seperti mengerti kemana arah pembicaraan Sungmin bahkan ketika orang itu baru saja datang dan berdiri di ambang pintu rumahnya. Dirinya hanya bertaruh dan berharap Sungmin masih memiliki harga diri tinggi untuk tidak mengulangi kejadian pagi itu di apartemennya.

Namun ia salah. Kyuhyun lupa kalau Sungmin tidak akan pernah bicara omong kosong jika menyangkut hal tentangnya.

Tidak ada yang bisa menghalangi kesunyian untuk masuk ke dalam pembicaraan antar dua orang yang pernah bersama itu sekarang. Bahkan Kyuhyun yakin ia bisa mendengar deru napas Sungmin yang masih dilingkupi emosi. Sekali saja ia berkata lagi, Sungmin pasti akan menangis. Ya Tuhan. Ia tidak sanggup membayangkan dirinya masih menjadi salah satu alasan bagi seorang dokter muda dan hebat itu untuk menangis.

Saat itu seperti akan terjadi selamanya. Semua terasa berat terlebih ketika ponsel Kyuhyun bergetar dan menampilkan nama Ryeowook di layarnya. Sontak ia langsung beranjak dari ruang tamu menuju dapur untuk menjawab panggilan tersebut. Dengan gugup ia menyapa orang di seberang sana.

"Ryeowook?"

['Ryeo...wook?' ya, ini memang aku, dan kenapa nada suaramu seperti itu?]

Butuh beberapa detik bagi Kyuhyun untuk menjawab. "A-aku hanya sedang melamun tadi. Panggilanmu mengejutkanku."

Tidak ada sahutan.

"Sungguh, Ryeowook. Aku tidak bohong." Kyuhyun menambahkan lagi dengan nada suara biasa yang sama sekali tidak terdengar biasa.

[Jika ini adalah sebuah permainan 'false-or-true' aku akan menjawab false dengan sangat yakin. Kau dimana memang? Kau bahkan tidak menyambutku pulang.]

Kyuhyun mencoba mengatur napasnya untuk bisa tenang. Ia memutuskan untuk tidak berusaha berbohong atau semacamnya karena saat melakukannya kepada Ryeowook, hal itu tidak akan berhasil. "Di rumah. Seseorang dari apartemen menghubungiku untuk memeriksa perkembangan renovasi. Jadi aku datang. Maaf karena tidak bisa menjemputmu." Ujarnya sambil menatap tempat cucian piring yang masih kosong dan kering.

[Aku yang meminta Casey untuk tidak memberitahumu. Karena memang tidak perlu. Aku tidak suka menunggu, dan kupikir dengan tiba-tiba pulang aku bisa langsung bertemu denganmu.] terdengar helaan napas kecewa. [Ternyata tidak begitu.]

Ketika Kyuhyun tengah dirundung rasa bersalah karena tidak ada di tempat dimana Ryeowook bisa menemukannya saat kembali dari rumah sakit, seseorang tiba-tiba melingkarkan kedua lengan ke tubuhnya dari belakang.

Saat itu pula waktu terasa berhenti menyisakan dirinya dan sebuah pengkhianatan. Sungmin memeluknya tepat ketika Kyuhyun tengah bicara dengan Ryeowook di telepon.

Ia menjauhkan ponsel dan berbisik, "Sungmin, jangan seperti ini." dan berusaha melepaskan diri.

"Dia bisa mendengarmu." Suara Sungmin hampir tidak terdengar.

Kyuhyun diam. Apa yang baru saja Sungmin katakan? Pria ini bukannya tahu bahwa Kyuhyun tengah bicara dengan kekasihnya, kan? Jika memang begitu, apa dia melakukannya dengan sengaja? Apa yang sebenarnya Sungmin rencanakan? Ia tahu bahwa Kyuhyun sudah memiliki orang lain dalam hidupnya dan masih meminta untuk kembali?

"Ryeowook-ah, aku akan segera pulang. Istirahatlah dan jangan pergi kemanapun."

Setelah panggilan terputus, ia melempar ponselnya ke atas meja makan dan berbalik untuk mencengkram tubuh Sungmin. "Apa karena terlalu sering memegang pisau bedah kau tidak lagi sadar jika itu bisa melukai seseorang yang masih sadar, huh? Kau sudah gila?!" Kyuhyun menggeram penuh amarah. Ia menatap Sungmin yang terlihat kerdil dan menyedihkan saat ini. Mengemis cinta padanya padahal ia tahu bahwa tidak ada lagi kesempatan yang bisa digunakan.

Sungmin berusaha keras agar air matanya tidak keluar. "Aku membutuhkanmu..."

"Tidak! Kau hanya ingin menghancurkan hidupku sekali lagi!"

Sungmin menggeleng cepat. "Kau tahu aku tidak pernah kan melakukan itu, Kyuhyun. Aku sangat mencintaimu."

"Aku tidak menyangka ungkapan cinta itu kini terdengar menjijikan."

Sebuah pengakuan yang langsung saja mematahkan pertahanan Sungmin. Pria itu mundur dua langkah dan lepas dari cengkeraman Kyuhyun. "Kenapa kau tega mengatakan itu?"

"Dari mana kau tahu tentang Ryeowook?"

Air mata Sungmin sudah tidak terbendung lagi. Wajahnya memerah karena luapan emosi dan sakit hati.

"Jadi namanya Ryeowook." Ia tertawa getir.

"Jangan main-main, Sungmin!"

"Dia tidak terlihat mencintaimu seperti aku."

"Kubilang jangan main-main! Jawab pertanyaaku. Dari mana kau tahu tentang Ryeowook?"

"Apa orang tuanya sudah memaksamu untuk segera menikahi putranya?"

"SUNGMIN!"

"Jangan berteriak padaku, Kyuhyun! Aku tidak mau berdebat lagi. Kau sudah mendengar semua yang ingin kukatakan, dan aku tidak akan menariknya kembali. Kau akan segera sadar siapa yang lebih baik. Aku hanya perlu menunggu, bukan?" ia mengangguk seperti orang gila. "Jika itu yang kau inginkan, Kyuhyun, apapun itu. Aku akan menunggu. Kenyataan bahwa aku sangat mencintaimu tidak akan berubah sampai kapanpun."

Kemudian sambil mengusap air mata di wajah, Sungmin menyambar mantelnya dan keluar dari rumah itu. Meninggalkan Kyuhyun yang jatuh terduduk karena beban baru yang tidak bisa diabaikan.

[...]

Ryeowook menatap layar ponselnya tanpa emosi yang terlihat. Namun jika seseorang sanggup menembus ke dalam berlian hitam di kedua matanya itu, sesuatu yang mengerikan sudah terbangun.

Telinganya mungkin saja salah, namun ia tidak akan mengabaikannya.

Kenyataan bahwa Kyuhyun menyebut nama 'Sungmin' tadi adalah kesalahan yang fatal.

oOo

Saat Kyuhyun tiba di apartemen Ryeowook, hari sudah mulai gelap. Beruntung tidak ada badai salju seperti yang sering terjadi beberapa hari belakangan. Ia menyalakan lampu ruang tengah. Pikirnya mulai tidak karuan karena Ryeowook tidak pernah membiarkan rumah dalam keadaan gelap terlebih ketika pemuda itu ada di dalam.

"Ryeowook-ah... Kim Ryeowook. Kau ada di rumah?" Kyuhyun berkeliling ke ruangan-ruangan dimana Ryeowook sering menghabiskan waktu senggang, mulai dari balkon, dapur, ruang baca, hingga kamar. Namun pria itu tidak ditemukan dimanapun. Bahkan kamar mandi terlihat masih seperti saat ia meninggalkannya siang hari tadi.

Tapi pandangannya menangkap cahaya redup dari sebuah kamar tamu yang pintunya sedikit terbuka. Kamar itu seharusnya menjadi tempat Kyuhyun tidur saat memutuskan untuk menumpang tinggal di rumah ini. Tapi karena emosi love bird mereka berdua, Kyuhyun lebih suka menghabiskan waktu di kamar utama—kamar Ryeowook.

Lengannya mendorong perlahan pintu yang terbuat dari kayu hitam komposit itu, dan pandangan temaram langsung menyapanya. Seseorang terlihat tertidur di atas ranjang berukuran sedang dengan meninggalkan lampu kecil di atas meja menyala. Cahaya kuning yang redup tersebut menyisakan sebuah gambaran silouet besar di dinding dirinya yang berdiri di ambang pintu.

Kyuhyun mendekati ranjang dan mengamati Ryeowook yang terpejam. Guratan kelelahan menghiasi wajah yang masih saja terlihat menakjubkan di matanya walaupun dalam keadaan hampir gelap. Ia ingin sekali membuat kedua mata itu terbuka agar bisa tersenyum dan menyambut kedatangannya. Ryeowook memiliki tulang pipi yang tinggi dan terlihat lebih indah ketika tersenyum. Tapi pada akhirnya ia hanya memutuskan untuk menggunakan kesempatan itu mengenali setiap detail wajah yang terlelap di sana.

[...]

Kedua matanya terpaksa terbuka karena lambat laun merasakan cahaya yang terlalu terang menembus kelopak mata dan udara dingin yang menusuk tulang. Kyuhyun tertidur selama beberapa jam, dan jika ia tidak salah melihat ke jendela, di luar sana masih sangat gelap dan belum waktunya manusia untuk bangun.

Kemudian rasa malasnya menghilang ketika melihat sosok yang sangat ia rindukan selama tiga hari dua malam berdiri menatap kegelapan melalui jendela kecil. Tidak ada badai salju atau semacamnya, hingga masih cukup aman untuk seseorang membuka jendela. Itukah yang membuat suhu ruangan ini menjadi sangat dingin?

"Ryeowook?" Suara pertama Kyuhyun yang keluar terdengar parau.

Yang dipanggil menoleh dan tersenyum kecil. "Kau kedinginan? Ingin aku menutup jendelanya?"

Alih-alih menjawab, Kyuhyun justru memutusan untuk beranjak mendekati Ryeowook dan memeluk tubuh itu. Membagi kehangatan yang bersisa untuk melawan udara malam di musim dingin. "Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa tidak tidur di kamarmu?"

Ryeowook membelai lengan yang melingkari pundaknya. "Entahlah. Ruangan itu jadi terlihat sangat besar saat aku pulang."

Pernyataan tadi mau tak mau membuat Kyuhyun tersenyum, "Mungkin karena aku tidak ada bersamamu." Sahutnya jahil.

"Hm." Pria kecil dalam pelukan Kyuhyun membenarkan, "Mungkin saja begitu."

Kemudian kesunyian memberi kesempatan bagi keduanya untuk menikmati apa yang memang seharusnya mereka rasakan saat-saat berdua saja. Walaupun sebagian besar waktu Kyuhyun memang hanya berdua bersama pemuda dalam pelukannya ini, ia masih saja merasa bahwa itu tidak cukup. Seperti yang selalu ia katakan, Kyuhyun bisa melakukan apapun selamanya bersama Ryeowook.

"I miss you..."

"I miss you too."

[...]

Kyuhyun mengamati tubuh Ryeowook yang sudah tidak terhalang oleh helai pakaian bagian atas. Pemandangan itu miliknya saat ini, hanya miliknya. Leher jenjang dengan pondasi tulang selangka yang sempurna di kanan dan kiri bahu, kulit dada bak porselin yang bergerak naik turun seiring dengan kerja paru-paru menukar oksigen dengan karbon dioksida, dan ceruk kecil sebagai pusat simetris tubuhnya yang sempurna. Setiap bagiannya seolah mengeluarkan pheromone nyata yang membuat Kyuhyun sedikitpun tidak ingin mengalihkan tatapannya.

Ryeowook berdiri bersandar di meja yang digunakan untuk menaruh berbagai perlengkapan berias. Ia memperhatikan Kyuhyun mengagumi tubuhnya. Pandangan yang lapar namun malu-malu. Kyuhyun selalu memiliki dua sisi itu jika dihadapkan pada sesuatu yang ia sukai.

Kemudian ia mersakan sensasi lembut dan sedikit basah di perut ketika Kyuhyun mencium bagian itu. Ryeowook terpejam menikmati semua. Rasanya seperti itulah jika puncak tertinggi dari sebuah kekaguman bisa membuatmu melambung. Dan untuk pertama kalinya ia dapat dari pria bernama Cho Kyuhyun.

Kyuhyun medongak untuk menemukan kedua mata Ryeowook. Posisinya yang duduk membuat dirinya lebih rendah dari pemuda itu.

Sebuah respon mengejutkan datang dari Ryeowook yang secara tiba-tiba mulai menurunkan celananya secara perlahan, dan tidak dapat dipungkiri lagi jika saat itu tubuh seorang Kim Ryeowook sudah benar-benar tanpa sehelai benang.

Tidak membiarkan Kyuhyun menatap dirinya terlalu lama, Ryeowook mulai menarik wajah di bawah sana dan menciumnya. Awalnya begitu pasif hingga ia berpikir bahwa Kyuhyun sedang menolaknya. Namun ketika ia berusaha membuat jarak untuk melihat ke dalam mata pria itu, Kyuhyun menarik tengkuknya dan sekali lagi membawa mereka dalam sesi cumbuan dinamis dan begitu bergairah.

"Mine..."

Entah siapa yang mengucapkan. Satu kata itu keluar sebagai bisikan yang mengandung banyak makna. Obsesif, sebuah sumpah, dan bahkan ancaman menjadi bumbu dominan dari emosi yang tampak.

Ryeowook melepaskan pakaian yang Kyuhyun kenakan saat pria itu sibuk dengan leher dan dua sumbu sensitif di bagian dadanya. Pekerjaan yang sulit karena harus menelanjangi seseorang sambil menahan hasrat dari setiap sentuhan pada tubuhnya. Ryeowook memiliki kemampuan dasar yang memungkinkan dirinya bisa melakukan semua itu dengan sempurna. Ia bahkan sangat yakin jika Kyuhyun tidak sadar bahwa kemeja dan kaos yang ia pakai di dalam sudah tergeletak menyedihkan di atas lantai.

Jemarinya gemetar saat menemukan gundukan keras yang masih terbungkus celana panjang. Perut Kyuhyun seperti sudah akan meledak jika harus menahannya lebih lama, dan Ryeowook begitu amatir untuk melakukan apapun agar dapat menolong Kyuhyun yang sekarang sudah mengerang kesakitan akibat sentuhan tangannya.

Kyuhyun melepaskan sejenak tubuh Ryeowook dan berusaha memberikan pertolongan pertama untuk dirinya dengan melepaskan ikat pinggang serta membuka resleting celananya. Otaknya seolah kembali bisa diajak berpikir karena aliran darah yang tersumbat sudah menemukan sedikit jalan untuk terbebas.

Tapi keduanya tahu, ada hal lebih besar yang harus segera dilepaskan selain aliran darah dari tempat paling sensitif dari tubuh manusia. Sebuah kebutuhan lahir yang terlalu menyakitkan untuk ditahan lebih lama, dan hanya sebuah kerjasama lah yang bisa membebaskan mereka dari gejolak birahi dalam tubuh masing-masing.

"Ryeowook..." Kyuhyun lagi-lagi menatap Ryeowook. Mengucapkan kalimat yang tidak terucap pada pemuda itu.

Hal gila selanjutnya yang Ryeowook lakukan adalah ia mundur dan mendudukan dirinya di atas meja. cermin di belakang tubuhnya bergetar karena beban tubuh yang tiba-tiba bertumbu pada benda padat tersebut. Segera setelahnya, pemuda itu mengangkat kedua kaki ke atas meja dan menekuknya untuk membuka sebuah jalan surga dunia bagi Kyuhyun. Ryeowook menarik tubuh Kyuhyun untuk mendapatkan sebuah ciuman agar bisa membiusnya dari rasa sakit yang akan segera ia dapatkan. Hanya beberapa detik lidah mereka bertaut, sebuah teriakan tertahan keluar dari mulut Ryeowook bersamaan dengan erangan berat kenikmatan Kyuhyun.

Ryeowook menggigit bibirnya hingga hampir berdarah saat untuk pertama kali sebuah benda asing merasuk ke dalam tubuhnya, membobol dinding pertahanannya, dan menjadi satu dari sekian banyak kesakitan terindah dalam hidupnya.

"Ahhh... Kyuhyun..."

Suara yang keluar sarat akan sebuah permohonan. Ryeowook kemudian menginginkan sesutu yang lebih, yang langsung direspon Kyuhyun dengan menggerakkan tubuhnya. Bersiap memompa tubuh mereka agar dapat segera melepaskan sesuatu dari bagian bawah perut mereka.

Meja dan cermin yang menjadi tumpuan Ryeowook saat ini bergerak dan bergetar seirama dengan hentakan tubuh mereka berdua. Kyuhyun terpejam dan berkonsentrasi agar tidak gila ketika intensitas kenikmatan itu kian bertambah. Titik keringat dari pori-pori kulit mulai mengalir bak sungai kecil di tubuhnya. Suara erangannya sendiri yang secara tidak sengaja diharmonisasikan dengan lenguhan pendek-pendek dari Ryeowook semakin meningkatkan suhu di sekitar.

Sementara itu Ryeowook mulai memanjakan miliknya sendiri yang juga sudah lengket dengan cairan bening sebagai pengantar dari sesuatu yang lebih besar untuk bisa keluar. Kyuhyun membantunya dengan menyentuh kelenjar kantung bola-kembar dan membuat pria itu menggila.

"Cium aku..." Ryeowook memohon.

Dan setelah itu sebuah ledakan tanpa suara dari pusat libido mereka mengakhiri semuanya.

Kyuhyun mengisi tubuh Ryeowook dengan cairannya yang sangat banyak, sementara pemuda itu membasahi perutnya dan perut Kyuhyun dengan satu lenguhan panjang.

Dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki, Kyuhyun membawa tubuh kekasihnya untuk berbaring di atas ranjang yang menjadi saksi bisu dari tahap akhir pergumulan mereka berdua.

Ia memberikan ciuman selamat malam yang sangat lembut sebelum akhirnya berucap pelan...

"Milikku..."

oOo

Kalian kebangetan banget kalau masih jadi silent reader setelah ikutan 'basah' karena baca bagian akhir dari chapter ini.

Saya memantapkan diri untuk mengakhiri penantian Kyuhyun—penantian kalian dari base terakhir. Gimana? Basah gak? /laughing in victory/ semoga masih tetap waras karena masih banyak keresahan-keresahan yang harus saya keluarkan di ff ini. (ngomongnya udah kayak juri stand-up comedy hihi)

Udah ya,, gitu dulu aja. Jujur saya capek. Udah lama gak bikin adegan ranjang (walaupun sama sekali gak dilakukan di ranjang). Chapter ini adalah bagian tersulit karena saya ngetik dari hari jumat malam, dan baru selesai minggu siang.

Bye... bye...

See you again~~