My Heart
.
By :
Deer Luvian
.
Main Casts:
.
Lu Han as Wu Luhan (GS) – 24 y.o
Kim Jongin as Kim Jongin/Kai – 24 y.o
Byun Baekhyun as Byun Baekhyun (GS) – 22 y.o
Oh Sehun as Oh Sehun – 24 y.o
.
Other Casts
.
Wu Yifan as Wu Yifan/ Kris Wu (Luhan's Father) – 50 y.o
Kim Junmyun as Kim/Byun Junmyun (Baekhyun's Mother and Luhan's stepmother) – 47 y.o
Huang Zitao as Huang Zitao (Baekhyun's friend) – 22 y.o
Kim Minseok as Kim Minseok (GS) (Luhan's Friend) – 24 y.o
Do Kyungsoo as Do Kyungsoo (GS) (Baekhyun's Friend) – 22 y.o
Kim Myungsoo as Kim Myungsoo/L (Kai's brother) – 26 y.o
Kim Jiyeon as Kim Jiyeon/Kei (Kai's sister) – 22 y.o
Kim Sungkyu as Kim Sungkyu (Kai's Father) – 55 y.o
Jung Eunji as Jung Eunji (Kai's Mother) – 48 y.o
Park Chanyeol as Park Chanyeol (Kai's friend) – 24 y.o
And Other will be mentioned.
.
Rated:
T-T+
.
Genre
.
Drama, Hurt/Comfort, Romance, Angst
.
Length
.
Multi Chapter
.
Disclaimmer
.
All Casts are not mine. They are Gods. The stories is mine. Mungkin inspirasi cerita berasal dari film Heart yang ditulis oleh Armantono. Ada beberapa yang mungkin sama tetapi jalan cerita tidak sama dan penokohan juga berbeda. Saya ucapkan terima kasih kepada Armantono sunbaenim yang telah menulis cerita bagus itu. Bisa dibilang plagiatkah? Tidak 'kan? Saya hanya terinspirasi. So, jangan plagiat ff yang telah susah payah saya kembangkan dari otak saya.
Don't plagiat, Don't bash and Don't blame.
This is genderswicth for some casts. So bagi kalian yg tidak suka GS ya jangan dibaca.
KaiLu/KaiHan, slight! Hunbaek, Hunhan, TaoBaek and other crack pair will be showed.
.
Summary:
.
Mengalah bukan berarti kalah 'kan? Aku memilih untuk bisa membuat semua bahagia dengan mengalah.. Tapi, apakah dengan mengalah aku bisa mencapai kebahagiaan? Dan apakah dia kejam jika harus menerima sikap mengalahku?
(Sorry for bad summary)
.
Happy Reading ^^,
.
.
.
Chapter eight
.
.
"Jadi kau bisa memiliki Sehun sunbae sepuasmu?"
Baekhyun tersenyum bahagis mendengar nada terkejut dari sang sahabat. Do Kyungsoo. Baru mengetahui bahwa Baekhyun telah menjalin hubungan yang lebih serius dengan Sehun. Ia tak percaya jika sahabatnya sanggup mengalahkan kakak tirinya. Yah, walaupun dari cerita Baekhyun, Luhan turut andil dalam hubungan itu. Hal yang tak sanggup Kyungsoo pahami adalah begitu mudahnya Luhan melepaskan Sehun dan membiarkan Baekhyun memilikinya.
Apakah hati gadis itu tidak sakit? Apa ia memiliki hati sekeras batu yang tak sanggup hancur dengan terpaan angin maupun hantaman gelombang?
Kyungsoo memang tak sepenuhnya tahu, namun ia cukup senang jika hubungan mereka telah membaik. Setidaknya Baekhyun tidak akan hidup dalam kemunafikan. Ia masih mencoba melebarkan telinga siapa tahu ada hal yang akan ia dengarkan hari ini.
Baekhyun mengaduk sebentar minumannya. Ada hal lain yang ingin ia ceritakan kepada Kyungsoo. "Luhan unni telah bahagia." Ucapnya senang.
"Bahagia? Karena?"
"Luhan unni akan menikah dengan sosok yang ia cintai."
Kedua mata Kyungsoo melebar semakin besar. Ia melongok terkejut dengan ucapan Baekhyun. Sosok yang dicintai? Siapa? Bukankah Luhan hanya mencintai Sehun?
"Kau tidak tahu calon suami unni?" Kyungsoo menggeleng kecil. "Namanya Kim Jongin. Dia teman Luhan unni saat masih di Inggris."
Kepala Kyungsoo mengangguk reflek. Hatinya berdesir senang mendengar berita dari Baekhyun. Setidaknya dengan hal itu Luhan yang selama ini mengalah untuk Baekhyun akan merasa bahagia dengan orang selain Sehun. Hanya ada harapan untuk Luhan, semoga pilihannya menikah dengan Kai bukan pilihan yang salah. Namun mendengar bagaimana Baekhyun mengucapkan berita itu, sepertinya Luhan menerima dan siap untuk meraih kebahagiaannnya. Tapi ada yang lain menyentil hatinya. Bagaimana dengan Sehun? Apa lelaki yang telah menorehkan luka dalam hati Luhan?
"Eung.. Baek!" Kyungsoo menatap intens Baekhyun yang menoleh dengan wajah terlukiskan tanya. "Sehun sunbae.. Apa dia mengetahui apa yang kau katakan?"
Baekhyun membola sejenak sebelum mengerti dengan pertanyaan Kyungsoo. Ia menggeleng sebagai jawaban. "Belum.. Sehun oppa belum mengetahui rencana pernikahan Luhan unni dan Kai oppa."
"Lalu bagaimana?"
Baekhyun mengendikkan bahunya. "Aku tidak tahu... Semoga saja Sehun oppa akan mau menerima itu dan ia bisa membuka hati untukku dengan tulus. Tanpa ada bayang-bayang Luhan unni."
"Kau belum membicarakan ini dengan Sehun sunbae? Atau Luhan unni tidak memberi tahu hal ini pada Sehun sunbae?"
"Sepertinya hubungan Luhan unni dan Sehun oppa tidak sebaik sebelumnya. Entalah aku tidak begitu mengerti bagaimana keadaan mereka saat ini."
Kyungsoo mangut-mangut mengerti. Ia bisa paham dengan apa yang dijelaskan oleh Baekhyun. Setidaknya ada titik terang disini. Walaupun kisah mereka terbilang rumit dan menyakitkan, namun nampaknya akan berakhir dengan bahagia. Baekhyun dan Kyungsoo terus berbincang-bincang tentang apa saja hingga seseorang duduk di sebelah Kyungsoo.
Baekhyun menoleh pada kehadiran sosok itu lalu mengalihkan pandangan ke arah minumannya. Sosok yang baru saja datang sama sekali tak pernah Baekhyun harapkan. Siapa lagi kalau bukan Tao.
"Kau benar-benar telah berhubungan dengan Sehun sunbae?" Pertanyaan itu terdengar miris di telinga Kyungsoo namun bangga di telinga Baekhyun. Segera gadis dengan mata sipit itu mengangguk senang.
Tao menghela nafas berat. Lelaki berkebangsaan Tiongkok itu pupus harapan. Usahanya selama ini mengejar Baekhyun harus terpatahkan oleh kehadiran Sehun. Ia hanya bisa mengulas senyum pahit lalu menjabat tangan Baekhyun yang menyebabkan kening Baekhyun mengerut bingung.
"Selamat.." Baekhyun sebenarnya tahu maksud Tao, hanya saja ia sedikit tak percaya dengan pemuda ini. "Kau berhak bahagia dengan Sehun sunbae." Ulasan senyum itu membuat Baekhyun terpaku. Kedua mata sipit Baekhyun tak mengalih dari sosok Tao.
Mau tak mau Baekhyun harus mengangguk demi membuat Tao merasa dihargai. Ada yang aneh ketika Baekhyun melihat senyum yang mengembang dari bibir Tao. Sepertinya ia telah menyakiti hati pemuda ini walaupun senyum ia terima. Ah, Baekhyun minta maaf dalam hati jika memang pemuda ini tersakiti.
"Terima kasih dan maaf." Ucap Baekhyun pelan. Tao hanya mengangguk lalu beranjak dari tempat duduknya. Ia tak lagi peduli dengan Baekhyun maupun Kyungsoo yang sama-sama menunjukkan keheranan.
Kyungsoo menoleh pada Baekhyun begitu juga Baekhyun menatap penuh tanya pada Kyungsoo. Bahu Baekhyun mengendik kecil sebelum Kyungsoo melontarkan sebuah tanya.
"Tao pemuda yang baik dan kau telah melukai hatinya." Gumam Kyungsoo.
Baekhyun tersenyum. "Semua ada konsekuensinya Kyungie-ya.. Itu pilihan Tao mencintaiku dan pilihanku adalah mencintai Sehun oppa.. Kita tidak pernah tahu bagaimana yang seharusnya terjadi."
.
.
.
.
.
Sepulang kuliah, Baekhyun memutuskan datang ke kantor Sehun yang lumayan jauh dari tempatnya kuliah. Ia merindukan sosok Sehun yang sedikit menghilang akhir-akhir ini. Dari yang Baekhyun dengar, perusahaan keluarga Sehun sedang ada masalah tentang penggelapan pajak. Mau tak mau membuat Sehun harus ikut memeras otak menyelamatkan reputasi perusahaan yang lainnya. Baekhyun cukup mengerti jika Sehun beberapa hari ini tidak menemuinya.
Kakinya tampak tenang melangkah di setiap ubin yang terpasang cantik di lorong perusahaan. Senyumnya selalu terulas manis kala manikan itu menangkap sosok lain dari arah berlawanan. Tak lupa bungkukan kecil tanda hormat turut menyertai. Ia menoleh sesekali mencari ruangan Sehun. Pada urutan ke empat, ruangan Sehun muncul di lensa bening miliknya. Lekas ia masuk ke dalam ruangan itu.
Sepi.. Setibanya Baekhyun ke dalam ruangan itu tak ada siapapun. Kemana Sehun? Apa lelaki tampan itu tidak membaca pesan yang ia kirimkan? Baekhyun mendesah pelan sebelum memutuskan duduk di sofa. Nyaris saja ia duduk jika sebuah tangan tidak memeluknya dari belakang.
"Kau benar-benar datang kemari?"
"Oppaa!" Pekik Baekhyun terkejut.
Sehun hanya tertawa pelan sebelum mengecup singkat pipi Baekhyun. "Maaf.. Ada apa?" Tanya Sehun setelah ia melepaskan pelukannya.
Baekhyun mengerucutkan bibirnya kesal. Perlakuan dari Sehun memang terkesan romantis. Tapi bagaimana kalau seandainya itu orang lain? Mana mau Baekhyun dipeluk orang lain? Untung saja Baekhyun tidak terlalu terkejut.
"Aku membawakanmu bubble tea. Pasti oppa belum makan 'kan?" Baekhyun meletakkan bingkisan yang ia bawa lalu duduk di sofa. Sehun menyusul di belakang. Ia duduk di sebelah kanan Baekhyun.
Si tampan menggeleng kecil dilengkapi senyum yang mengembang. "Kau tahu saja kalau aku belum makan. Mau menemaniku makan?"
Kantin kantor Sehun cukup lenggang, semenjak kabar penggelapan pajak dan beberapa kasus terakhir ini menyebabkan ada pemulangan karyawan. Perusahaan keluarga Sehun harus banting tulang mengembalikan semuanya. Walau tinggal beberapa karyawan yang masih loyal kepada perusahaan itu. Lambat namun pasti keadaan sedikit membaik.
Baekhyun memperhatikan sekitar. Ada tiga atau empat orang lainnya yang duduk bersantai dengan sepiring makanan di depan mereka. Jika Baekhyun tak salah ingat, waktu sepertinya telah masuk jam kerja.
"Ayo dimakan, jangan hanya melihat mereka." Sepertinya Sehun mengerti kemana arah mata Baekhyun berkelana.
Baekhyun tersenyum malu lalu mulai mengaduk makanan di hadapannya. Setelah itu, ia menyuapkan pada mulutnya.
Keadaan kembali menghening. Baekhyun memperhatikan Sehun yang begitu giat makan. Seakan lelaki tampan itu belum menjamah makanan beberapa lama. Kedua sudut bibirnya tertarik kala manikan kelam itu menelisik lucu wajah datar Sehun saat makan. Begitu menggemaskan dan penuh nafsu.
"Pelan-pelan oppa! Kau bisa tersedak." Baekhyun menyodorkan minuman pada Sehun.
Sehun tersenyum lalu menegak pelan minumannya.
"Kau sibuk sekali akhir-akhir ini oppa! Sampai aku tidak bisa melihatmu."
"Kau tahu sendiri alasannya bukan?"
Baekhyun mengangguk. "Oppa! Apa kau tahu kabar tentang Luhan unni?" Tanya Baekhyun hati-hati.
"Luhan? Ada apa dengannya? Aku terlalu sibuk hingga tidak tahu apa-apa."
Benar dugaan Baekhyun kalau Sehun tidak mengetahui tentang hal ini. Sedalam mungkin ia menarik nafas lalu membuangnya. Mata sipit itu menatap lembut pada Sehun seolah menyalurkan rasa agar Sehun tak terkejut kala bibir tipisnya memberikan jawaban.
"Luhan unni." Ia menjeda sejenak saat dirasa Sehun mulai memberikan perhatian. "Akan menikah bulan depan!" Lanjutnya sepelan angin yang berhembus lirih.
Deg..
Sehun nyaris menjatuhkan sumpit yang ia genggam. Apa yang ia dengar bukan sesuatu yang salah 'kan? Benarkan sosok yang pernah ia cintai itu akan menikah? Secepat itu? Dengan siapa? Sehun memang masih memiliki sedikit rasa untuk Luhan. Wajar jika harinya berdesir perih dan sakit dengan teramat dalam. Ia tersenyum pilu dan Baekhyun sadar akan hal itu.
"Benarkah?"
Baekhyun mengangguk kecil.
"Dengan siapa?"
Baekhyun menggenggam tangan Sehun dengan erat. Bahasa tubuh Sehun jelas kentara mengisyaratkan akan kepedihan yang dirasa. Siapapun juga pasti bersikap seperti Sehun. Baekhyun tahu Luhan adalah sososk yang pernah ada dalam bagian hidupnya. Tidak menutup kemungkinan hati kecil Sehun rapuh dengan berita ini meski saat ini ada dirinya di sisi Sehun.
"Oppa.." Lirihan Baekhyun mengundang senyum mengembang dari bibir Sehun.
Sehun mengusap punggung tangan Baekhyun. "Dengan siapa Luhan akan menikah?" Ulang Sehun ketika tak mendapati jawaban dari Baekhyun.
"Kim Jongin.. Kai Oppa.. Mereka dijodohkan.."
"Ahh.." Sehun mengangguk paham. Lalu ia menyesap minumannya. Sedikit demi sedikit luka itu tampak menganga kala ingatannya ia bawa pada sosok Kai. Lelaki itu adalah lelaki yang begitu setia berada di dekat Luhan. Tak heran jika Luhan menyetujui perjodohan itu.
Baekhyun mengerutkan keningnya. Ia heran dengan Sehun yang tampak tenang sekali. Bukankah seharusnya Sehun terkejut atau.. marah?
"Oppa?" Sehun mendongak dan menaikkan sebelah alisnya. "Oppa baik-baik saja?"
"Untuk?"
"Apa oppa tidak terkejut atau marah dengan kabar Luhan unni?"
"Baek.." Sehun menggenggam kedua tangan Baekhyun lalu mengecupnya. "Ini memang sudah jalan yang harus kita jalani. Bukankah aku sudah sering mengatakan kalau aku dan Luhan tidak ditakdirkan bersama?" Ia mengecup kilat punggung tangan Baekhyun. "Ada kau disini. Buat apa aku harus marah? Kalau terkejut, oppa akui memang terkejut."
Baekhyun diam. Jawaban Sehun sangat jelas ia resapi. Ia hanya bisa mengukir senyum tipis sebelum melepas pagutan tangan mereka.
"Kau ingin seperti Luhan?"
"Eh?" Kening Baekhyun mengernyit.
"Menikah? Kau ingin aku menikahimu?" Kali ini suara Sehun terdengar lebih menggoda.
Baekhyun mengerucut. "Yaa! Oppa! Aku tidak ingin menikah muda." Tanggapnya.
"Hahahaha.. Aku mengerti."
Tawa memang terdengar menggelegar. Namun siapa tahu ada sesak di baliknya. Sehun mulai terasa pedih di dalam. Mau tak mau ia harus bisa melepaskan Luhan. Benar seperti apa yang ia katakan sendiri. Ada Baekhyun. Pilihannya memang jatuh pada Baekhyun. Ia tak ingin menyakiti sosok ini. Ia membiarkan Luhan hidup bersama dengan pilihannya. Pilihan selamanya menjadi pilihan yang akan dilakukan. Semua telah ada yang mengatur. Dan hidup Sehun memang bukan untuk Luhan. Melainkan untuk Baekhyun.
.
.
.
.
.
Hari berganti hari dengan cerita berbeda. Tawa dan duka seiring menemani setiap gantinya hari. Luhan, gadis periang itu tak lagi menampakkan kesedihan. Ia bisa menerima segala yang terjadi dalam hidupnya. Tak ada keluhan barang sedikitpun atas apa yang harus ia lalui. Bersama dengan Kai rupanya membuat hidup Luhan jauh lebih dewasa.
Kai menemani dan mengajarkan Luhan cara melupakan Sehun dengan mengajak dan terus berada di sampingnya. Hingga Luhan sendiri tak merasa ada yang aneh ketika sosok Sehun ada di pelupuk matanya. Bersama dengan adik tirinya dan tertawa bersama. Luhan tersenyum lembut melihat kedekatan Sehun dan Baekhyun. Meski ada sedikit rasa kesal yang tersisa di dalam hati Luhan.
Dan semua seakan perlahan menguap manakala dukungan dari keluarga Kai ia terima. Bukan kali pertama Luhan datang ke rumah ini. Sekedar berkunjung ataupun membantu keluarga menyiapkan makan malam. Luhan seolah telah menjadi bagian dari keluarga itu. Luhan pun tak merasa canggung di lingkungan itu.
"Unni..." Si cantik Kei menengadah pada wajah Luhan dari samping. Berniat mengagetkan si cantik Luhan. Kebiasaan itu terus berlanjut semenjak Luhan senang memasak di dapur keluarga Kim.
Luhan berjengit namun bisa merasakan siapa yang tengah memeluknya.
"Memasak apa? Pasti buat Kai oppa." Tukasnya seraya mengendus makanan yang baru saja jadi di tangan Luhan.
Luhan hanya tersenyum dan mulai meletakkan makanan itu. Kei mengikuti dari belakang langkah kaki Luhan. Ia duduk manis disana seolah Luhan akan menyiapkan makanan untuknya juga.
"Kau mau? Kalau mau unni akan membuatkannya buatmu."
"A-."
"Jangan kau buatkan! Biarkan dia membuat sendiri." Suara lelaki dengan tenang memotong ucapan Kei. Ia duduk di sebelah Luhan lalu memandang gemas pada Kei. Ia begitu senang menggoda adik kecilnya itu.
Sontak hal itu membuat Kei mengerucutkan bibirnya. "Oppa!"
"Kau bisa buat sendiri Jiyeon-ah! Ini untuk oppa.." Tukas Kai seraya mengambil alih mangkuk makanan itu dari hadapan Luhan.
Kei memberikan tatapan datar penuh kekesalan pada sang kakak hingga menimbulkan tawa gemas dari Kai. Ia menyebikkan bibir mungilnya lalu menggeser duduk mendekati Luhan. Di otaknya ada rencana merayu Luhan agar dibuatkan makanan yang sama dan mengabaikan ucapan Kai barusan.
Namun bukan Kai namanya jika ia tinggal diam, kekasihnya menarik tangan Luhan agar tetap tinggal di tempat dan menolak permintaan Kei.
"Kai~, kau ini kenapa sih? Kan Kei juga ingin makan." Luhan bersuara. Ia menatap lembut kekasihnya agar memberikan ijin membuatkan makanan untuk Kei.
Kai menggeleng tegas dengan tangan masih mencengkeram lengan Luhan. "Biarkan saja! Jiyeon sudah besar! Dia tahu bagaimana memasak ini." Kilah Kai. Entah ada apa dengan Kai, ia paling senang membuat kesal adiknya dan pergi meninggalkan Luhan. Mungkin dengan begini ia bisa berduaan dengan Luhan.
Benar saja apa yang ada di pikiran Kai. Si cantik Kei merasa jengah dengan sikap kekanak-kanakan Kai yang melarang Luhan memasak untuknya. Ia menatap bengis pada Kai sejenak sebelum kaki rampingnya mengukir jejak di setiap ubin menuju kamarnya. Luhan berdecak melihat tingkah Kai yang terlalu berlebihan pada adiknya. Sedangkan si pelaku hanya tertawa puas penuh kemenangan.
"Kai! Kau berlebihan sekali.."
Kai menarik tangan Luhan agar duduk lebih dekat dengan menggeser kursinya. Luhan tahu, jika sudah seperti ini pasti ada yang diinginkan olehnya.
"Jangan cemberut seperti itu dong! Aku hanya ingin berduaan denganmu.."
Luhan berdecak pelan. "Aku datang kemari agar lebih dekat dengan keluargamu! Bukan denganmu." Sahutnya diiringi desah pasrah.
Kai tak peduli dengan ucapan Luhan. Ia menangkup wajah Luhan hingga membuat si pemilik sedikit berjengit kaget. Luhan sepertinya mengerti dengan keadaan ini lantas membalas tatapan mata sayu dari Kai. Satu detik dua detik tiga detik, Luhan memejam sejalan dengan mendekatnya wajah Kai. Nyaris saja bibir tebal Kai menempel pada bibir mungil Luhan jika sebuah deheman tak mengganggu aktifitas mereka.
"Hey! Ini dapur umum! Bukan tempat untuk ciuman."
Sial! Kai mengumpat dalam hati setelah mendengar suara itu. Ia paham betul dengan pemilik suara. Siapa lagi kalau bukan L kakaknya? Lantas ia melepas tangkupan itu dan menatap datar pada L yang hanya menampakkan wajah tak berdosa. Di belakang L ada Soojung yang datang dengan senyum mengembang. Kai menghembuskan nafasnya panjang. Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba meramai seperti ini?
L duduk dan diikuti oleh Soojung tepat di depan keduanya.
"Jongin! Kalau kau memang bernafsu jangan lakukan di sembarang tempat! Masih ada Jiyeon disini." Ujar L menasehati.
Kai hanya menggumam pelan menanggapi perkatakan L.
"Oh Luhan!" Luhan menatap penuh tanya pada Soojung. "Kau bisa membantuku? Ikut aku yuk, ke butik aku ingin mencari gaun lagi untuk pernikahanku minggu depan."
"Lagi?" Alih-alih Luhan yang menjawab, Kai malah berseru heboh.
Soojung memandang bingung calon adik iparnya itu. "Kau kenapa Kai?"
"Noona! Bukankah kemarin noona sudah membeli gaun?"
"Benar! Tapi kali ini untuk Luhan. Aku juga ingin Luhan tampak cantik di pernikahanku.."
Kai membentuk mulutnya menjadi O dan mengangguk paham. Sedangkan Luhan mengangguk setuju dengan senyum mengembang.
"Baik unni, aku akan menemanimu."
Setelahnya, Luhan pamit pada Kai dan L. Ia mengikuti langkah Soojung yang lebih dulu beranjak dari tempat duduk. Luhan merasa senang ia diterima baik dalam keluarga ini. Bahkan sosok Soojung yang notabene masih calon keluarga. Ia tak menyangka jika Soojung akan mengajaknya untuk mencari gaun. Kebetulan sekali Luhan memang masih belum punya persiapan apapun untuk pernikahan L dan Soojung.
.
.
.
.
.
"Keluarga Kim memang terkenal baik dan setia."
Sudah sekitar sejam yang lalu Luhan menemani Soojung berbelanja. Di setiap jalan yang mereka jejaki selalu ada kata yang terucap. Terutama saat keduanya dengan begitu semangat membicarakan keluarga Kim. Siapa lagi kalau bukan calon keluarga mereka.
Luhan mengangguk antusias dengan tangan menyibakkan beberapa pakaian yang digantung.
"Aku juga menyadarinya sejak dulu pertama kali kenal dengan Kai."
"Dan Keluarga Kim terkenal mereka tidak akan melepas sosok yang dicintai." Pertanyaan Soojung sukses membuat Luhan mengerutkan keningnya bingung. Soojung tersenyum lebar melihat ekspresi heran dari Luhan.
Tak langsung menjelaskan, wanita bertubuh tinggi itu berjalan mendekati ruang ganti dengan sebuah baju gaun di tangan. Sementara Luhan mengikutinya di belakang.
"Dulu, aku sempat putus dengan L. Saat itu aku berkencan dengan temanku yang dari Jepang. Ku pikir L akan melupakanku, namun ternyata tidak. Dia berusaha terus menggempur pertahananku untuk bisa menerimanya lagi. Alasan kami putus sebenarnya terdengar konyol, aku tidak mau ditinggal ke Amerika. Tapi dia membuktikan bahwa dia benar-benar tetap ingin bersamaku dengan setiap sebulan sekali pulang ke Korea. Walaupun itu cukup merepotkan namun dia melakukannya."
Luhan sempat terdiam sejenak sebelum sebuah senyum terukir di bibirnya. "Kai.."
"Kai?"
"Aku merasa Kai mungkin juga akan memiliki sifat yang sama seperti L oppa."
Soojung tersenyum. "Mereka saudara. Pasti ada yang sama. Lalu bagaimana Kai di matamu Lu?"
"Dia..." Luhan menjeda ucapannya untuk menarik nafas dalam. "Sosok yang tidak akan pernah aku lepas. Dia yang membuatku seperti ini. Berdiri tegak setelah badai menggoyahkanku. Dia yang menyingkirkan semua badai dan melindungiku. Dia sosok yang selalu ada di saat aku membutuhkan seseorang."
Luhan menunduk, mengingat bagaimana Kai selama ini berjuang untuk bisa membuat Luhan lupa dengan Sehun mengalun manis hingga membiarkan bibir Luhan melengkung canti.
"Dia sosok yang aku cintai."
Kata-kata itu membuat Soojung tersenyum lalu memeluk tubuh Luhan yang berdiri. Ia mengusap pipi Luhan dan menyibakkan poni yang sedikit menutup wajahnya. Mata cantik Soojung menyorot lembut penuh kehangatan.
"Aku juga tahu kalau Kai mencintaimu. Sangat mencintaimu." Soojung menyentuh kedua pundak Luhan. "Tuhan akan memberkati kalian dan kalian akan hidup bahagia selamanya nanti."
Luhan tersenyum cantik disertai lengkungan dari kedua mata rusa itu. Ia mengangguk senang.
"Terima kasih unni.. Aku juga berharap unni akan hidup bahagia dengan L oppa."
"Itu sebuah keharusan."
Setelahnya tawa menggelegar di ruang ganti. Alih-alih mencoba pakaian yang akan dibeli mereka malah asyik bercengkrama. Hati Luhan menghangat. Ini bukan pilihan yang salah dan patut disyukuri. Ternyata Soojung juga memiliki hati malaikat seperti keluarga Kai yang lain. Ia yakin akan sangat betah dengan keluarga Kim jika nanti ia harus tinggal disana.
Banyak cerita yang Luhan dengar dari Soojung tentang kebiasaan keluarga Kim. Ia juga menceritakan perjalanan cintanya dengan L yang ternyata cukup rumit juga seperti dirinya. Namun ada yang membuat Luhan begitu kagum dengan Soojung. Gadis bersurai cokelat tua panjang itu rela melepaskan pekerjaan hanya demi menikah dengan L. Sungguh benar-benar pengorbanan yang patut diacungi jempol. Padahal menjadi seorang model bukan pekerjaan yang mudah didapat bukan?
Soojung dan Luhan memilih untuk makan sore setelah lelah berjalan-jalan. Gaun yang dicari juga sudah ada di tangan. Tinggal memanjakan perut yang sedari tadi meraung-raung meminta diisi. Restoran cepat saji yang berada tak jauh dari tempat mereka berbelanja menjadi pilihan mereka. Luhan dengan tenang menunggu pesanan tiba. Sedangkan Soojung sibuk dengan ponselnya.
Saat mata Luhan mengedar, ia bisa melihat ada objek yang menarik perhatiannya. Tunggu, benarkah yang dilihat Luhan?
Luhan mendesah pelan, ternyata benar. Itu adalah Baekhyun dengan Sehun. Sepertinya mereka baru saja berbelanja.
"Ada yang kau lihat?"
"Eh?" Luhan tersenyum kikuk lalu menggeleng. "Tidak."
"Kalau begitu makanlah.. Keburu dingin."
Ah, Luhan baru sadar ternyata makanan telah sampai. Dengan gerakan kikuk, ia menyuapkan makanannya. Kenapa dengan dirinya? Bukankah ia sering melihat Sehun dengan Baekhyun? Tapi kenapa rasanya..
Sudahlah, mungkin hanya perasaan saja.
.
.
.
.
.
Silauan itu membangunkan Luhan yang terasa lelah. Sedikit merenggangkan tangan, Luhan menarik diri dari tidurnya. Ia mengalihkan pandangan pada silau itu dan tersenyum. Rupanya Kai lupa menutupnya usai menyesap rokok di beranda. Sedetik kemudian, sorot mata Luhan berpindah pada sosok yang masih terlelap di sebelahnya.
Wajah tampan dengan bibir tebal, hidung lucu dan kelopak tipis yang membungkus mata tajamnya. Semua yang terlekat di wajah itu adalah anugrah dari Tuhan. Dan semua itu yang membuat Luhan bertambah cinta. Luhan mengecup pipi gembil yang selalu terangkat untuknya. Ia menyibakkan poni yang menutup wajahnya lalu mengecup kelopak mata yang tertutup itu. Tawa geli terdengar setelahnya. Tak puas hanya demikian, Luhan memainkan hidungnya dengan riang.
Sosok itu menggeliat pelan merasa terganggu dengan ulah Luhan. Tak lama kemudian, sosok itu membuka mata dan menarik wajah Luhan agar mendekat padanya. Kedua mata rusa itu terkunci mata sayu yang biasa menajam saat emosi. Bibir Luhan bergerak gelisah seolah ia telah berbuat salah. Sosok di bawahnya mengecup kilat bibir Luhan.
"Kau pagi-pagi sudah menggodaku.. Mau bermain lagi?"
"Eh? Ti-tidak!" Sontak Luhan mundur namun tubuhnya di dekap oleh Kai.
Kai mengecup pipi Luhan. "Aku lelah Luhan.. Kalau kau mau main lagi, nanti malam saja yaa.."
"Yaa!" Luhan mengerucut kesal. Ia lantas melepaskan dekapan Kai lalu mendorong wajah Kai. "Aku tidak mau bermain denganmu!" Ucapnya kemudian.
Kai hanya menarik kedua sudut bibirnya gemas melihat wajah Luhan yang seperti itu. Ia menyangga kepala dengan tangannya dan memperhatikan Luhan yang tengah melilitkan selimut di tubuh telanjangnya. Lalu si cantik itu turun dari ranjang. Sedetik selepas Luhan turun, dering ponsel terdengar memekik. Segera Luhan menghampiri dan mengangkat telepon itu. Keningnya mengerut, ia mengoleh pada Kai dan mengangkat kedua alisnya seolah tengah meminta ijin. Kai bisa melihat dari layar itu siapa yang menelpon. Senyum Kai mengembang lalu Luhan mengangkat telepon itu.
"Ha-hallo Sehun?" Sambutnya setelah suara pekikan terdengar.
"..."
Luhan mengerutkan keningnya sejenak. "Kapan?"
"..."
"Aku akan kesana nanti.." Tukasnya pelan seraya melirik Kai yang tampak penuh penasaran di ranjang.
Luhan mendesah pelan setelah meletakkan ponselnya dan menghampiri Kai. Senyumnya mengulas sedikit lemah dengan gurat keraguan yang kentara.
"Dia ingin menemuiku." Ucap Luhan pelan.
Kai mengangguk paham lalu mengusak surai madu miliknya. "Pergilah! Jam berapa kalian janjian?" Tanyanya lembut.
"Jam sepuluh." Jawabnya seraya melirik jam yang menggantung. "Dua jam lagi." Lekas ia bangkit dan memakai pakaiannya asal. "Kau bangunlah! Apa kau tidak ke kantor?"
Kai ikut bangkit dan mengangguk. "Iya.. Aku akan ke kantor sebentar lagi. Kau tak membuatkanku sarapan?" Kai memeluk tubuh Luhan dari belakang seraya mengecup lehernya.
Luhan mengusap tangan Kai di pinggang. "Akan aku lakukan."
Setelahnya, Kai mengulum bibir Luhan dalam seraya mengecup berulang pipi tirusnya. Sementara Luhan hanya menikmati setiap perlakuan dari Kai. Ia menyukai momen seperti ini setiap paginya. Semenjak Kai memutuskan untuk tinggal di apartemen Luhan, gadis itu tak lagi merasa kesepian.
.
Kai baru saja menurunkan Luhan di depan kafe ini. Sebuah kafe yang menyediakan berbagai jenis kopi kesukaan Luhan. Gadis itu memutuskan untuk pergi sendiri dan menolak Kai untuk menunggunya. Ada yang mengganjal jika Kai menunggu Luhan yang akan menemui Sehun.
Dengan langkah sedikit malu-malu, Luhan tersenyum kikuk kala obsidian cantiknya menangkap sosok Sehun duduk dengan tenang di pojok kafe. Lelaki yang tampak dewasa itu tengah menyesap pelan minumannya sebelum melambai pada Luhan.
"Apa kau sudah lama?" Tanya Luhan lalu ia duduk di kursi.
Sehun menggeleng. "Tidak, baru saja sampai. Kau apa kabar?" Tanya Sehun dengan senyum yang dipaksa mengembang. Jika boleh jujur, saat ini Sehun juga sedang menata hati agar siap berbicara dengan Luhan. Mengingat bagaimana hubungan keduanya tidak terlalu baik akhir-akhir ini.
"Baik.. Ada apa kau mengajakku bertemu disini?"
Sehun mengulas senyum tipis lalu memainkan cangkir yang ia pegang. Meski sebenarnya telah banyak rangkaian kata yang terekam di otaknya, rasa ragu masih membumbung kala melihat raut cantik Luhan. Apa ia sanggup tegar mengungkapkannya? Masalahnya bukan pada mengungkapkannya, tapi apakah ia akan sanggup menerima jawaban dari Luhan?
Mendengar sendiri bahwa mantan kekasih yang masih sedikit ia sisakan rasa di relung hatinya itu akan menikah; bukan dengannya.
"Apa kau.." Sehun menghentikan sejenak ucapannya. Kedua mata sipit itu tak kuasa melawan tatapan menuntut dari Luhan. "Benar akan menikah?" Meski dengan suara pada level terendah milik Sehun, wanita muda itu masih mampu menangkap baik.
Reflek, bibir pink itu terkulum perlahan. Gelisah yang ditunjukkan oleh kelopak tipis itu terlihat kentara. Bagaimanapun Luhan tahu apa yang tengah menggeluti hati Sehun. Lelaki dengan wajah tampan itu pasti begitu menguatkan diri untuk bertanya. Tak berbeda jauh dengannya yang berusaha mati-matian menahan rasa yang ada. Karena pada dasarnya sebagian kecil kepingan rasa milik Sehun masih tersisa di dinding hati Luhan dan terekat dalam.
Tak bersuara; kepala Luhan yang menjawab. Sebuah anggukan sukses meleburkan pertahanan Sehun saat itu juga. Ini adalah saat-saat yang jauh lebih menyakitkan daripada ketika ia harus berpisah dengan Luhan. Bayangkan saja, jika ia berpisah dengan Luhan masih ada harapan untuknya kembali. Namun bila Luhan bersama orang lain? Apa mungkin..
Bisa saja jika...
Dan Sehun tidak ingin hati Luhan terluka untuk kesekian kalinya.
"Kapan?" Mungkin puing-puing hati Sehun telah kembali merekat walau tak sekuat awal.
"Bulan depan."
"Ah.."
Yang dikatakan Baekhyun sepenuhnya benar. Kenapa ia harus bertanya lagi? Harusnya ia tak usah bertanya biar lembaran luka yang telah terlukis sebelumnya tak menjadi lebih parah.
Kendati hati Sehun terluka, lengkungan tipis masih ia tampilkan di wajahnya yang tampan.
"Selamat.. Semoga kalian nanti akan jadi keluarga yang bahagia."
Luhan memejam erat. Sengat pedih yang menjalar di sekujur tubuhnya seakan membakar dirinya saat ini. Luhan menegang; pengharapan dari Sehun bagaikan ombak yang menghempaskan tubuh lemahnya. Luhan runtuh; suara bergetar dari Sehun menumbuknya hingga lebur jadi abu. Luhan..
Tak tahu mengapa masih merasa seperti ini.
"Aku minta maaf Luhan.."
Wajahnya yang akan teredam air mata ia bawa mendongak. Menatap kedua mata elang itu dengan rasa yang tak tahu bagaimana Luhan mengungkapkannya.
"Kau terluka sangat dalam karenaku.." Sehun menarik nafas dalam. "Aku berharap Kai tidak akan melakukan itu padamu. Cukup kau terluka karenaku Lu.."
"Maaf."
"Kau tidak perlu minta maaf Lu."
"A-aku.."
"Kau berhak atas semua ini."
"Terima kasih, Oh Sehun."
.
.
.
.
.
Tinggal sehari lagi, pernikahan L dan Soojung akan digelar. Baik keluarga Kim maupun keluarga Wu –yang notabene belum berbesan- pun ikut sibuk. Dan hari ini adalah hari kelima dimana Sehun mengucapkan selamat untuknya. Selama itu Luhan merasa..
Jauh lebih baik?
Sepertinya memang jauh lebih baik. Ia merasakan tak ada beban setelahnya. Walau ia mendengar desas-desus bahwa Sehun juga akan menyusulnya bersama dengan Baekhyun.
Di kediaman Kim, Luhan ikut berberes membantu Eunji. Ia begitu cekatan menata berbagai bingkisan untuk para tamu. Sengaja Eunji tidak menyuruh orang lain melakukan ini karena bujukan Luhan. Calon istri Kai ini begitu keukeuh akan membantunya. Toh, ada Baekhyun dan Kei juga. Selain itu, Jimin –kekasih Kei- juga turut membantu. Jadi, Luhan menyimpulkan ada banyak tenaga yang bisa dimanafaatkan.
Memang dasarnya Luhan keras kepala, ya keras kepala. Kendali ia masih calon menantu, Eunji tak mampu menolak puppy eyes yang diberikan oleh Luhan. Dasar rusanya Kai!
"Apa masih ada yang kurang?" Baekhyun menghampiri Luhan yang tampak sedikit bingung. Raut cantik gadis itu tidak bisa membohongi mata sipit Baekhyun.
Luhan menoleh pada Baekhyun dengan bibir mengerucut kecil. "Plastik pembungkusnya kurang." Ujarnya kemudian.
"Oh kurang? Kurang banyak?" Baekhyun memperhatikan tumbukan bingkisan yang dikerjakan Luhan. Selama Luhan berkutat dengan hal itu, Baekhyun tengah di ruang tengah membantu Eunji.
"Iya." Luhan menata ulang bingkisannya. "Ini.. Sekitar seratus bingkisan lagi."
"Wahh.. Masih banyak.. Bagaimana kalau kita keluar untuk membelinya?" Usul Baekhyun.
Sontak hal itu menyebabkan bola mata Luhan membesar. "Ah, ide bagus.. Ayo kita keluar." Sahut Luhan seraya meraih jaket yang ada di dekatnya. Luhan berjalan cepat menuju ruang tengah untuk memberi tahu Eunji.
Mendapat ijin dari Euji, Luhan dan Baekhyun segera pergi ke tempat perbelanjaan. Waktu yang dimiliki tak cukup banyak untuk menyelesaikan segalanya. Memakai mobil milik Kai, Luhan dan Baekhyun membelah jalanan Kota Seoul.
.
.
.
.
Di tangan telah ada beberapa bahan yang dibutuhkan. Luhan dan Baekhyun segera naik ke dalam mobil. Waktu yang dimiliki memaksanya untuk segera diselami agar selesai segalanya. Dengan sedikit tak sabar, Luhan menjalankan mobil Kai. Beruntung saat ini tidak sedang macet, jadi kecepatan yang diterapkan oleh Luhan bisa sedikit maksimal dari sebelumnya.
Baik Luhan maupun Baekhyun sama-sama menikmati lagu yang mengalun dari dashboard mobil. Luhan begitu antusias mengikuti setiap lirik yang terdengar. Sedangkan Baekhyun, ia menggerakkan tangan bergoyang sesuai lantunan Luhan. Mereka sangat serasi dalam menikmati lagu itu. Hingga bibir keduanya mengeluarkan tawa yang menggelegar.
Satu dua lagu terlewati, Luhan mulai lelah. Ia hanya menganggukkan kepala mengikuti musik yang mengalun. Sementara bagian siapa yang bernyanyi jatuh pada Baekhyun. Gadis cantik itu bernyanyi seperti yang dilakukan Luhan sebelumnya.
"Ahh... Menyenangkan sekali bernyanyi bersama di dalam mobil.." Pekik Baekhyun senang seraya meregangkan ototnya yang mulai kaku. Ia juga memutar kepalanya yang sedikit lelah.
"Hmmm.."
"Cepat sekali waktu berjalan.. Ah, kurang berapa hari unni dan Kai oppa akan menikah? Tiga minggu lagi yaa? Wah sebentar lagi.."
Luhan tersenyum saat menoleh pada Baekhyun. Gadis itu begitu bersemangat mengingat tentang pernikahannya. Mungkin hal ini yang paling dinanti oleh Baekhyun. Bagaimanapun ia berharap banyak pada kebahagiaan Luhan. Dan salah satu jalan yang bisa membuatnya bahagia adalah hidup bersama dengan Kai. Sedangkan Luhan, ia juga berpikir tentang Baekhyun. Ada yang menggelitik ulu hati kala membiarkan bayangan Baekhyun berkeliaran di otaknya.
"Iya.." Luhan memutar kemudinya. "Kalau kau? Apa Sehun telah melamarmu? Kau sangat ngebet ingin menikah dengannya bukan?"
Baekhyun mendelik lalu mengalihkan pandangan pada Luhan yang fokus menyetir. Bibirnya mengerucut aneh. Benar ia begitu menginginkan menikah dengan Sehun, tapi tidak secepat itu juga. Bukankah selama ini Baekhyun selalu bercerita pada Luhan? Kenapa ia bertanya seolah mengejeknya.
"Unni!"
"Kenapa Baek?"
"Kau mengejekku yaa?" Ucapnya kesal.
Luhan tertawa kecil sebelum mengulas senyum cantiknya. "Tidak! Siapa tahu kau menyembunyikan tentang hal itu."
"Hey!" Luhan mengangkat sebelah alisnya. "Aku tidak pernah menyembunyikan apapun dari unni!" Sanggah Baekhyun.
"Yaaa.. yaaa.. yaa."
"Ak-"
Saat Baekhyun akan melontarkan ucapan, dering ponsel terdengar nyaring memotongnya. Lekas Baekhyun merogoh ponsel di dalam tas. Sedikit ceroboh ia mengambilnya hingga jatuh ke bawah kursi. Baekhyun mencoba bungkuk dan mengambil ponselnya. Namun tangan itu tak mampu menjangkau ponsel yang terjatuh di bawah Luhan. Melihat Baekhyun kesusahan dan mendengar telepon yang terus berdering, Luhan berinisiatif membantunya. Salah satu tangan Luhan meraih-raih bawah sana, dan satunya mengendalikan kemudi. Kepala Luhan sesekali melihat ke arah depan.
Beberapa kali mencoba tetap tak bisa; memaksa Luhan untuk lebih menunduk dalam. Saat akan meraih ponsel itu, klakson terdengar keras dari arah belakang mengakibatkan keterkejutan untuk Luhan. Ia tak mampu mengendalikan kemudinya hingga.
"Awaasss unniiii.." Pekik Baekhyun mencoba mengambil alih kemudi.
Namun..
Braaakkkkkk...
Baik Baekhyun maupun Luhan tak tahu apa yang terjadi selanjutnya.
.
.
.
.
TBC
.
So sorry..
Taking so long to update this story..
Akhir-akhir ini sibuk sekali... Jadi yaa mohon maaf yaa.
Bagaimana? reviewnya sangat dirunggu..
Terima kasih bagi kalian yang masih setia mengikuti FF ini..
Love u all..
.
.
Best regards.
.
.
~Deer Luvian~
