Author : July
Main cast : B.A.P Bang Yongguk & Kim Himchan (BANGHIM)
Support cast : B.A.P member (Pairing DaJae & JongLo) – Bang Natasha
Gendre : Romance, Hurt, BoyXBoy / Yaoi, AU, Drama
Length : Chapter
Rate : T – M
Disclameir : The story it's mine but not for all the cast
.
.
.
.
.
Warning!
No Bash!
Just leave if you don't like the gendre or the pairing
Typo is normal ^^v
Cast akan bertambah demi kelancaran cerita
.
.
.
.
.
.
Sunlight
[Part 9]
.
.
.
.
.
Melihat dan menyentuh ternyata berbeda, dampaknya sungguh sangat berbeda. Saat ini Himchan seakan hilang kendali akan laju nafas dan detak jantungnya sendiri. Deru nafasnya tidak teratur, terputus-putus dan itu membuatnya harus merasakan sesak belum lagi laju detak jantungnya yang sangat cepat membuatnya dengan seketika merasa sangat lelah. Buliran keringat mulai nampak dikening putihnya, efek nyata akan rasa lelah yang mendera tubuhnya dan Himchan butuh untuk sampai ke mobilnya dengan cepat karena obat yang bisa menghilangkan rasa sakitnya saat ini berada disana.
Melihat Yongguk dari jauh tanpa langsung menyentuhnya ternyata sangat berbeda. Sebelumnya dia hanya akan merasa bersalah tanpa ada rasa sakit nyata yang menyerangnya, namun ketika menyentuhnya tadi membuat segala perasaan yang memuakkan bagi Himchan muncul begitu saja tanpa terkendali hingga menimbulkan efek traumanya kembali muncul.
Tertatih, Himchan dengan susah payah menggapai kunci mobilnya didalam tas. Dengan tangan yang gemetar Himchan akhirnya bisa membuka pintu mobil dan langsung membuka dashboard untuk mendapatkan butiran putih laknat yang akan segera menghilangkan rasa sakitnya. Lagi, Himchan kalah karena dia harus kembali meminum obat penenang.
Kini air mata yang mengalir turun dari sudut mata Himchan yang terpejam, berusaha untuk menenangkan diri selama obat itu bekerja pada tubuhnya. Himchan merindukannya, sangat merindukan Bang Yongguk tetapi tubuhnya malah mengkhianatinya, organ-organ didalam tubuhnya bereaksi sangat bertolak belakang dengan hatinya, seakan kalah dengan ingatan kelamnya.
Tersiksa, jika bisa dibilang Himchan merasakan hal itu. Bagaimana tidak jika memorimu seakan menjadi alat yang akan mendokrin organ tubuhmu agar tidak mengikuti apa kata hatimu. Mengepal keras tangannya hingga memutih, Himchan benci pada dirinya sendiri.
.
.
.
(u_u)(n_n)
.
.
.
Deburan ombak sudah tak lagi semeriah dikala matahari masih bertahta, kini sang bulan yang sedang menapaki panggung agung kekuasaannya diatas sana, saat ini hanya ada terpaan angin kencang yang membuat dahan-dahan pohon bergoyang dengan lincah. Tak ada cukup penerangan, hanya beberapa obor yang menyala sepanjang jalan setiap sepuluh meter.
Hampir pukul satu dini hari tetapi pria dengan tingkat kesadaran yang mulai diragukan masih dimilikinya atau tidak itu masih disana, belum merasa cukup dengan minuman alkohol yang sudah menemani waktunya selama hampir lima jam duduk dibibir pantai Eurwangni.
Beberapa botol berwana hijau dengan tingkat alkohol 5% itu sudah terbaring dipasir tanpa ada lagi cairan didalamnya, semuanya sudah habis meski masih ada juga yang berdiri tegak. Hembusan asap rokok yang menguar dari mulut pria tampan itu seakan menjadi satu-satunya teman. Bang Yongguk berantakan, dia kacau.
Memandang jengah pada botol yang sudah kesekian kalinya kosong, Yongguk terkekeh pelan lalu melempar jauh botol kosong itu menuju pantai. Andai saja bisa, Yongguk juga ingin bisa melempar segala rasa sakit dalam kehidupannya seperti halnya dia melemparkan botol birnya.
Tubuh yang semakin kehilangan kesadaran itu terbaring lemah dipasir pantai, memandang indah sinar bintang diatasnya dengan pengelihatan yang mulai memudar karena terhalang dengan cairan yang sudah bergerumul dimatanya, beriap untuk tumpah.
"Neomu appa,,"
Orang bilang, setiap manusia pasti pernah dan akan mengalami titik terlemah dalam hidupnya dan rasanya kini adalah saat dimana Yongguk merasakan titik terlemah dalam kehidupannya. Jika untuk merasakan kebahagiaan adalah salah satu bentuk manusiawi, maka untuk merasakan rasa sakit itu juga hal yang sama, tapi haruskah ada rasa sakit jika bahagia itu ada?
.
.
.
.
.
-Sunlight-
.
.
.
.
.
"Ya, Choi Junhong!"
Berbalik, tak ada lagi yang Junhong bisa lakukan selain membalikkan tubuhnya dan bertatap muka dengan Moon Jongup. Kekasihnya.
"Ada apa Hyung?"
"Ada apa? Harusnya itu pertanyaanku. Ada apa denganmu, seminggu ini kau seakan menghindariku"
Tatapan mata kosong, Jongup tidak tahan harus melihat itu. Menggenggam tangan Junhong, membawanya pergi dari depan gerbang sekolahnya, tidak perduli jika kini banyak mata yang sedang menjadikan mereka sebagai tontonan.
"Mau kemana Hyung? Aku mau pulang, tugasku banyak hari ini"
Jongup seakan menulikan telinganya dengan tidak mendengarkan ucapan Junhong yang meminta untuk pulang. Melajukan mobil sport putihnya menuju ke suatu tempat.
.
.
.
"Di dekat sini ada halte bus kan? Aku akan pulang, Hyung bisa tetap disini"
Sebuah kawasan cukup lebar dipinggiran jalan yang berada di badan gunung, pemandangan indah cahaya lampu akan memanjakan mata jika berada ditempat ini pada malam hari. Keduanya cukup lama terdiam tanpa ada kata dan itu membuat Junhong berniat untuk lebih baik pulang.
"Aku tahu kau mungkin tidak yakin padaku karena Kookie, tapi aku bisa menjamin jika aku lebih mencintaimu dari pada dia"
Bisakah Junhong merasa lega atau malah merasakan sakit karena dia tahu jika rasa cinta Jongup juga dimiliki orang lain meski lebih besar rasa itu tertuju padanya, namun Junhong tidak ingin berbagi hati Jongup dengan siapapun meski itu hanya sedikit. Jika boleh Junhong ingin egois untuk memiliki sepenuh hati Jongup hanya untuknya.
"Mungkin hari ini benar, cintamu lebih besar untukku Hyung. Tapi sedikit apapun bagiannya dihatimu, itu bisa jadi lebih besar nantinya. Terlebih, dulu kau pernah mencintainya.
Aku. Pulang duluan, aku benar-benar banyak tugas hari ini"
Jongup akhirnya berbalik, menatap punggung pemuda yang dibawanya ke tempat mereka biasa menghabiskan waktu bersama, tempat favorite mereka berdua dengan masih menggenakan seragam sekolahnya. Junhong benar dan Jongup mengerti, jika tidak ada siapapun yang menginginkan kekasihnya memiliki perasaan cinta untuk orang lain meski pun itu hanya sedikit.
.
.
"Aku ingin kau yang terakhir"
.
.
.
(u_u)(n_n)
.
.
.
Yongguk baru saja selesai mandi, setelah akhirnya memiliki tenaga untuk bangkit dari tempat tidurnya dan ketika membuka pintu kamar mandi Yongguk sudah mendapati Daehyun yang duduk santai dimeja belajar kayu didalam kamarnya.
"Kau sudah lama datang?"
"Euum,,"
Yongguk berbalik, menghentikan kegiatannya mencari baju untuk sekedar melihat kearah Daehyun. "Apa yang membuatmu mabuk semalam Hyung?" tanpa berniat basa basi, Daehyun langsung melancarkan pertanyaannya pada Yongguk. "Noona menceritakannya padaku, kau pulang pagi dalam keadaan mabuk" kepala Daehyun terangkat, sengaja ingin menatap Yongguk agar yang ditanya tidak berbohong memberikan jawaban padanya dan jika iya, maka dia akan mengetahuinya dengan mudah.
"Tidak ada. Hanya teringat seseorang saja"
Datar, Yongguk berusahan sebisa mungkin membuat suaranya tidak bergetar. Pandangan Daehyun yang menyelidik sedikit membuat Yongguk susah mengatur nafasnya untuk tetap stabil. "Sudahlah, itu tidak penting. Kau sendirian? Tidak bersama Youngjae?" Daehyun masih berusaha menyelidiki wajah Yongguk, mencoba mencaritahu, jika apa yang ada didalam pikirannya benar terjadi atau tidak dan sekiranya Yongguk menutupi perasaannya dengan baik seperti biasa hingga sulit untuk dilihat.
"Ne, aku bersama Youngjae. Dia sedang membantu Noona didapur"
"Calon pendamping yang tepat bagi seorang Jung Daehyun yang suka makan"
Bahkan tawa renyah itu bisa Yongguk perlihatkan pada Daehyun saat ini, entah pergi kemana Bang Yongguk yang rapuh semalam. Semua seakan hilang begitu saja.
.
.
Youngjae hanya bisa menahan segala keinginannya saat ini untuk mengatakan pada Yongguk jika Himchan merindukannya dan terlebih kini kakak sepupunya itu sedang tidak enak badan karena efek trauma yang muncul terlalu sering belakangan ini. Tetapi Youngjae tidak dapat melakukannya jika dia masih ingin Daehyun tetap bersamanya.
Mata Youngjae mengikuti langkah Daehyun, menyakinkan jika Daehyun benar-benar ke toilet dan ketika melihat Daehyun menutup pintu, Youngjae berjalan cepat menghampiri Yongguk di taman belakang rumahnya.
"Hyung, boleh aku minta pendapatmu?"
"Aah, Youngjae-yaa. Ada apa?"
"Euum begini Yongguk hyung, temanku. Dia butuh saran dariku, tapi aku sendiri tidak tau harus menyarankan apa padanya. Hyung bisa bantu aku?"
"Aah,, memang apa masalahnya?"
"Begini, dia. Temanku, tidak bisa menemui orang yang dicintainya karena dia merasa jika saat ini orang yang dicintainya mungkin membencinya atau menurutnya lebih baik jika orang yang dicintainya itu tidak bertemu lagi dengannya karena dulu temanku itu sudah sangat menyakiti orang yang dicintainya"
Yongguk mengangguk pelan demi memberikan tanggapan atas penjelasan Youngjae akan permasalahan yang sedang menerpa temannya itu. Mata Yongguk menatap lurus, mencoba mencerna cerita Youngjae dan memberikan tanggapannya atas permasalahan itu, memandangi rintik hujan yang mulai menampakkan dirinya.
"Temanmu itu tidak akan tau, orang itu membencinya atau apa yang terbaik baginya jika belum mencoba menemui orang yang dicintainya. Bertemu langsung satu kali rasanya sudah cukup untuknya tau apa yang terbaik baginya dan orang yang dicintainya itu. Benarkan?"
Yongguk tersenyum kearah Youngjae yang berdiri disampingnya dengan tidak menyadari betapa Youngjae merasa apa yang dikatakan Yongguk memang ada benarnya dan menurut Youngjae perkataan Yongguk adalah sebuah penyelesaian sederhana yang hanya membutuhkan satu kesempatan agar segala sesuatunya jelas dan akan memberikan jawaban.
"Tapi Hyung, bagaimana jika orang itu ternyata membenci temanku"
"Setidaknya dia bisa minta maaf dan itu pasti akan mengurangi rasa bersalah pada temanmu"
Lagi, Youngjae merasa benar dengan perkataan yang dilontarkan Yongguk padanya. Kini dengan yakin Youngjae mengakui perkataan Daehyun dan juga Jongup mengenai kepintaran Yongguk karena jujur saja, Yongguk bisa dengan mudah membuat sesuatu terasa ringan dan mudah.
"Tetapi jika temanmu itu memang perduli akan perasaan orang yang dicintainya lebih baik tidak perlu menampakkan diri, jadi orang yang dicintainya itu tidak perlu lagi mengulang rasa sakit akibat dirinya"
Keduanya berpaling dan berbalik badan saat sebuah suara hadir diantara mereka, itu Daehyun. Youngjae seakan membatu, tidak tahu apa yang harus dia katakan saat ini. Daehyun sepertinya tahu akan arah pembicaraan dirinya bersama dengan Yongguk.
"Ya, aku rasa Daehyun juga ada benarnya"
Kini dengan cepat Youngjae kembali mengalihkan pandangannya pada Yongguk, jika dia setuju akan perkataan Daehyun itu berarti mungkin saja Yongguk menginginkan hal yang sama dari Himchan. Dia tidak ingin Himchan datang kembali dalam kehidupannya.
.
.
.
.
.
-Sunlight-
.
.
.
.
.
Earphone sedang terpasang dengan rapih dikedua telinga Jongup saat ini, mengisi waktu luangnya sebelum kelas selanjutnya diperpustakaan. Dirinya sedang terlalu malas pergi kekantin untuk sekedar mengisi perut kosongnya yang baru terisi satu kaleng susu sejak pagi tadi.
Baru saja akan menyamankan posisinya ketika earphone sebelah kirinya ada yang menarik, Jungkook datang dan kini sudah duduk dengan manis dihadapannya. "Masih sama seperti dulu, mengisi waktu dengan mendengarkan lagu lalu tertidur. Kau masih seperti dulu Hyung, tidak berubah".
Senyum manis Jungkook tersaji dengan indahnya, seragam sekolahnya bahkan masih dikenakannya saat ini. Jongup masih mengagumi senyum itu. Jungkook berpindah untuk duduk disamping Jongup, "Hyung sedang dengarkan apa?" tangan putih milik Jungkook mengambil sebelah earphone yang sebelumnya dia lepas dari telinga Jongup untuk kini dia kenakan ditelinganya. Jungkook merebahkan kepalanya untuk bersandar pada bahu bidang Jongup, senyum manisnya terus saja menghiasi wajahnya.
Dan disana seorang yang juga masih mengenakan seragam sekolahnya hanya bisa menahan perasaan sakit hatinya untuk melihat pemandangan yang kini ada dihadapan matanya. Kekasihnya dengan seseorang yang masih dicintainya.
.
.
.
(u_u)(n_n)
.
.
.
Matahari sudah mulai turun dari tahtanya, sinar jingganya kini sudah menapakkan diri. Yongguk hanya bisa berdiam diri dengan sesekali menenggak minuman kaleng yang dia beli di mini market yang berada hampir satu kilo meter jaraknya dari tempat dia berada saat ini bersama seorang pria yang masih menggenakan seragam sekolahnya sedang menatap proses tenggelamnya matahari diujung pantai.
"Jongup tahu kau datang ke kampus?"
Dengan mudah Junhong menggeleng lalu menampakkan senyumnya pada Yongguk dan entah mengapa Yongguk tahu jika saat ini Junhong sedang berbohong dengan senyumannya itu karena dia seakan familiar dengan cara tersenyum yang kini sedang Junhong tunjukkan padanya, itu seperti dirinya selama ini yang tidak ingin orang lain mencemaskannya.
"Oh, ya Hyung. Aku dengar Yongguk hyung pintar, bisa Hyung ajarkan aku matematika? Nilai matematikaku buruk, aku tidak akan lulus ujian univesitas nanti jika matematikaku buruk"
Masih senyum yang sama dan Yongguk hanya bisa menanggapi keceriaan yang Junhong sugguhkan padanya. "Aku tidak sepintar itu, jangan percaya jika Jongup pernah bilang kalau aku pintar dan matematika. Aku tidak suka pelajaran itu, makanya nilaiku juga selalu buruk"
Kembali hening, tidak ada lagi pembicaraan diantara keduanya hingga Junhong akhirnya membuka suaranya. "Yongguk hyung, bisa tolong aku. Jangan beritahu Jongupie hyung jika hari ini aku datang ke kampus?"
"Junhong-aa, kau tidak apa-apa?"
"Ne, aku tidak apa-apa"
Yongguk dengan sangat jelas melihat jika Junhong baru saja menghapus air mata yang ada dipipinya dan masih dengan air mata yang keluar dari sudut matanya Junhong tersenyum pada Yongguk, mengatakan jika dirinya tidak apa-apa.
.
.
.
.
.
-Sunlight-
.
.
.
.
.
"Kau,,"
Lagi, Daehyun lagi-lagi mengabaikan Youngjae. Seminggu ini bahkan Daehyun tidak mau menjawab telpon Youngjae ataupun membalas pesannya, bahkan Daehyun seakan menghindar dari Youngjae. Duduk diam tanpa kata di sebrang meja dimana Daehyun sedang sibuk dengan leptopnya, mengerjakan pekerjaannya sebagai calon direktur.
Rumah kecil yang nyaman dipinggiran salah satu pantai yang berada di Busan, Daehyun memang akan pergi kesini jika pikirannya sedang kacau untuk menenangkan diri. Youngjae menghela nafas panjang, jika hanya berdiam diri terus Daehyun tidak akan memulainya dan dia hanya akan berakhir dengan menangis sedih sendirian, jadi lebih baik dia yang bicara terlebih dulu dengan taruhan Daehyun hanya akan mengacuhkannya atau malah akan semakin marah padanya.
"Himchan hyung, dia memiliki trauma"
Youngjae melihatnya, sesaat ketika mata Daehyun berhenti untuk sibuk membaca untaikan kata yang berada dikertas laporan perusahaannya, pikirnya Daehyun tertarik akan apa yang akan diutarakannya mengenai kondisi Himchan.
"Sejak kejadian itu, Himchan hyung jadi trauma. Semua ingatannya akan kejadian itu akan memicu rasa traumanya. Bahkan ketika di Jepang, Himchan hyung pernah berusaha untuk menghilangkan nyawanya dengan memotong urat nadi ditangannya, untung saja saat itu Ahjuma pulang"
"Lalu?"
Youngjae akhirnya bangkit dari duduknya, menghampiri meja Daehyun. Berdiri membungkuk tepat didepan meja dimana Daehyun masih setia duduk. Meletakkan tangannya dipermukaan meja dan menatap langsung ke mata Daehyun yang juga menatapnya.
"Himchan hyung sakit, Dae. Dia sakit. Selama ini dia harus terus minum obat penenang saat traumanya muncul dan beberapa hari terakhir traumanya itu muncul lebih sering dari biasanya. Himchan hyung akan kesulitan bernafas dan jatungnya akan berdetak tidak normal saat traumanya itu kambuh, dia juga menderita Jung Daehyun. Bukan hanya Yongguk hyung, tapi dia juga. Jadi bisakah biarkan mereka bertemu sekali saja untuk tau apa yang terbaik bagi mereka?"
Penjelasan panjang Youngjae ditemani air mata yang turun membasahi pipinya, sedangkan pria tampan dihadapannya masih diam, hanya bisa menatap wajah kekasihnya yang penuh air mata itu datar.
"Yongguk hyung juga ,,"
"Ne, aku tau. Bagaimana pun ditinggal pergi begitu saja oleh orang yang kau cintai pasti akan memberikan rasa sakit, tapi Himchan hyung pergi juga ada alasannya. Bagaimana jika Himchan hyung saat itu tidak pergi. Dia tetap disana tetapi dia akan selalu tersakiti akibat traumanya, lalu memilih bunuh diri karena merasa sangat bersalah dengan Yongguk hyung yang sudah berkorban untuknya. Masuk penjara menggantikan dirinya, apakah bukan Yongguk hyung yang mungkin akan gila sampai sekarang jika itu terjadi?"
Ucapan Youngjae sedikit banyak membuat pikiran Daehyun terbuka, mungkin saja itu terjadi. Yongguk yang akan kehilangan akal sehatnya jika harus menemukan kekasihnya sendiri mati bunuh diri akibat trauma yang menghantuinya.
"Aku tau kau menyayangi Yongguk hyung dan aku pun sama, menyayangi Himchan hyung. Jadi bisakah kita mencari cara agar mereka bahagia dan terlebih aku tidak ingin kita selalu seperti ini. Aku menyayangi Himchan hyung karena dia adalah saudaraku tetapi aku tidak ingin selalu bertengkar denganmu. Aku benci kau menatapku datar seperti itu, berkata dingin padaku. Aku benci itu"
Kepala Youngjae sudah menunduk dalam, tangisnya sudah tidak bisa lagi dibendung. Rasanya serba salah baginya, di satu sisi dia ingin membantu Himchan karena tidak tega harus melihat saudaranya itu merasakan sakit namun disisi lain dia tidak ingin bertengkar dengan Deahyun yang jelas menentang keinginannya itu.
Daehyun bangkit dari tempat duduknya, meraih bahu kekasihnya yang bergetar kedalam pelukkannya. Dia tidak pernah melihat Youngjae menangis seperti ini, biasanya hanya akan menangis tanpa ada isakkan namun kali ini berbeda dan itu menandakan jika Youngjae benar-benar sedih dan tidak bisa lagi menahan kesedihannya.
Membelai lembut punggung Youngjae, Daehyun juga berkali-kali mengecup pucuk kepala Youngjae hanya demi memberikan rasa nyaman bagi kekasihnya agar sekiranya dapat menghentikan tangisnya. Youngjae merengkuh erat pinggang Daehyun, membalas pelukkan kekasihnya.
"Maafkan aku ,, dan
.
.
,, Kita cari jalan keluar untuk mereka berdua"
.
.
.
-TBC-
.
.
.
Yah inilah Chapt 9 yang berakhir dengan enggak jelasnya dan semakin drama, sebenernya Julz juga gak yakin mau ngepost ini. Ya, s'gaknya udah ada yang mulai berubah, jadi ditunggu aja kelanjutannya.
Julz udah pernah bilang kalau ini gak hanya BangHim tapi juga DaeJae & JongLo, jadi yah walaupun sedikit moment dua couple lain juga bakal masuk (suka atau tidak suka) karena jujur aja itu semua buat kepentingan cerita.
.
.
Thanks to:
Kaname – ri-shippe-raly – Nyenyee –
Cupcake – Link account – she3nn0 – Me2210
Jung BabyHyun – keyy – anthi lee
#ForeverWithBAP
#EarthNeedsRespect
Mind to Review (again)?
