I pray endlessly, wish that God will bring me to him; In his embrace once more but to last forever. I accept this curse to remember but if that's the toll to finally find him, I don't mind. Afterall, this curse will end when it finally comes, the day when we met again.

.

.

Melqbunny presents

"Drown in the Sea of Red String"

An Alternate Universe fanfiction

Pairing : Homin (Jung Yunho X Shim Changmin)

Rate : T – M.

Disclaimer : I own the story only, but whatever

Warning! : Bahkan tanpa adegan enceh pun saya merasa perlu memasukkan ini dalam rating M. Yang udah baca review ya! Termasuk yang biasanya nongkrongin couple lain.

Berhubung ini kejadian di masa lalu, maka saya tidak akan mengganti dengan italic. Kalau satu chapter isinya miring semua, saya khawatir reader sekalian lehernya jadi bengkong habis baca. Wkwkwk. Just kidding. Don't take it seriously.

.

.

Chapter 9

.

.

Kuas digores dengan hati-hati dan presisi. Tidak boleh ada kesalahan; dia tidak suka. Oleh karenanya ketenangan begitu dijaga diruangan ini.

"Pangeran..."

Kuasnya bergerak dengan cepat, menghasilkan coretan yang tidak seharusnya. Dia ingin marah dan menghantam siapa saja yang mengganggunya. Hanya saja dia tahu suara siapa itu dan dia tak mungkin marah-marah.

"Masuk." Katanya sambil meremas kertasnya dan mengambil kertas baru untuk pengganti. Modelnya mungkin lelah, tetapi bukan berarti wanita setengah telanjang dihadapannya ini akan protes.

Seorang komandan yang sangat setia padanya. Padahal apanya yang perlu dukungan, tidak ada yang memperhitungkannya di kerajaan ini. Komandan itu melihat ke arah wanita itu sekilas. Namanya juga laki-laki, pasti akan terpengaruh. "Hamba membawakan sesuatu dari guru anda."

Lee Yoon langsung meletakkan kuasnya, batal menggambar. "Mana!" tuntutnya.

Komandan muda itu segera memberikan sesuatu yang dititipkan padanya. Guru Lee Yoon orang yang baik. Pria tua itu bahkan mundur dari ibu koa untuk mendapat ketenangan. Mengasingkan diri agak tidak terbawa oleh pengaruh kerajaan. Yang diprediksinya akan memburuk.

Pria muda berseragam yang lebih tua dari Lee Yoon melihat bagaimana wajah Lee Yoon yang biasanya terlihat angkuh dan arogan – topeng untuk melindungi dirinya sendiri di dalam istana berubah menjadi ekspresi anak kecil yang akan diberi hadiah. Tentunya dia tidak akan mengatakan hal semacam ini pada siapapun, tetapi itu adalah ekspresi yang disukainya dari Lee Yoon.

Tanpa ragu dia membuka bungkusan yang berisi buku-buku dan sepucuk surat. Dia suka buku yang dikirimkan gurunya, juga surat dari beliau, tetapi dia tak ingin membacanya jika ditemani begini.

Karenanya dia menatap lurus-lurus pada komandan yang selalu melindunginya itu, atau mungkin menjaganya agar tidak mencoreng nama kerajaan. Entahlah. Yang mana saja. "Komandan Cho."

Tidak biasanya Lee Yoon memanggilnya dengan nama marganya, berarti ini bisa jadi sesuatu yang serius.

"Pangeran akan memberi perintah?"

"Kau suka dengan wanita itu?"

Hanya sekilas saja dia melirik gadis muda itu sebelum kembali menunduk. "Pangeran, hamba tidak berani..."

Tapi Lee Yoon sudah memotongnya duluan. "Kalau begitu lakukan apa saja dengannya, sesukamu."

"Pangeran!"

Lee Yoon sudah berdiri dan menatap wanita itu, surat dan bukunya dipeluk erat. "Kau bisa bantu dia merilekskan pikiran sedikit kan?" tanyanya santai. Wanita itu mengangguk dan berdiri untuk melaksanakan perintah mendadak itu. Berjalan mendekat ke arah komandan Cho yang masih berlutut dan menunduk. Pakaiannya terlepas sempurna ketika berjalan, tak ada lagi yang melekat. Keringat dingin membasahi dahi komandan.

.

Sang Pangeran sudah meninggalkan ruangan sebelum wanita itu menyentuh komandan, atau sebaliknya. Yang jelas dia perlu sesuatu untuk menutupi kegiatannya membaca surat dari gurunya. Biar saja orang-orang diluar sana, mungkin juga mata-mata Putra Mahkota dan Permaisuri yang selalu menekan posisinya di kerajaan ini mengira kalau dia sedang sibuk memenuhi hasratnya. Peduli amat kalau dia seolah sedang mengorbankan seorang komandan yang mungkin saja paling loyal padanya. Bukankah komandannya itu menikmatinya juga?

Lee Yoon membuka surat yang hanya berisi basa-basi menyenangkan dan pengalaman yang dibagi oleh gurunya. Sisanya dia segera terfokus pada buku yang terkirim melalui komandannya.

Pangeran Kedua itu sedikit mengernyit waktu mendengar desahan komandan dari balik pintu.

Buku itu mungkin menarik, tetapi bukan itu yang menjadi fokusnya, gurunya selalu mengirimkan pesan rahasia dengan buku. Memberi tanda tak kasat mata pada bukunya, hanya bisa diperhatikan dengan bantuan cahaya yang cukup untuk menyadari ada huruf-huruf yang bagian bawahnya ditekan dengan kayu kecil, membuat kertasnya sedikit melengkung.

Kau mungkin dalam bahaya

Itu bukan pesan yang dia harapkan akan dia terima. Dia tahu posisinya di istana tidak penting, dan bagaimana gurunya mengatakan padanya kalau dia punya kecerdasan yang lebih dibanding kakaknya. Hal yang membuatnya diincar. Dia akan disingkirkan.

Tapi dengan cara apa?

Dan lagi untuk apa? Dia sudah membuang semuanya.

Terutama ketika ibundanya meninggal.

Ketika dia terpaksa berjanji untuk membuang panah dan pedang. Tak peduli seberapa mampunya dia untuk melakukan itu semua. Dia sudah meletakkan panah ketika semua panahnya tepat mengenai sasaran. Dia meletakkan padang setelah menguasai teknik yang sulit.

Hingga akhirnya dia hanya berani mengambil buku serta kertas dan kuas untuk menggambar. Karena tak ada lagi yang melihatnya, Lee Yoon jadi punya waktu lebih banyak untuk membaca. Melahap dan menghafal lebih banyak buku dari kakaknya. Meskipun baginya itu juga tak ada gunanya selain untuk membunuh sepi dan waktu.

Tak ada yang melirik Lee Yoon.

Apalagi sekarang di saat dia sudah mengenal yang namanya hasrat. Melampiaskan dengan berhubungan badan dengan wanita. Selain itu dengan makanan dan tidur.

Sebenarnya semua ini membosankan karena dilakukan terus menerus, untungnya dia punya imajinasi yang bagus yang menemaninya kapanpun. Memudahkannya untuk menulis cerita.

Bukannya dia tidak keluar istana. Tentu saja dia juga melakukannya, bahkan lebih sering dibandingkan dengan Lee Rin. Tetapi jika kakaknya itu keluar istana karena berkunjung atau semacamnya, Lee Yoon keluar hanya untuk main. Kalau pun orang istana tahu, mereka hanya diam saja. Lagi pula dia punya pengawal pribadi yang akan menemaninya main-main di luar sana.

Orang di ibu kota ini, ternyata tak terlalu banyak berbicara tentang istana. Paling cerita membosankan yang sama soal putra mahkota.

Dia bosan mendengarkan semua itu.

Ingin sesuatu yang lain yang bisa membuatnya tertantang.

.

.

Suatu hari Lee Yoon duduk di taman istana sambil menggambar teratai di kolam. Alisnya berkerut karena terlalu serius. Sampai tak menyadari kalau dayang di sebelahnya sudah membungkuk dalam-dalam karena ada seseorang yang datang.

Orang itu memberikan isyarat pada dayang untuk meninggalkan mereka berdua.

Tak ada suara sama sekali. Kecuali setelah Lee Yoon tersenyum puas dengan hasil lukisannya. Dia menggeser kertasnya dengan hati-hati sebelum mengambil kertas baru. Ketika menoleh itulah dia menyadari ada warna pakaian yang berbeda di sebelahnya. Bukan pakaian dayang, ini tak mungkin milik dayang. Lee Yoon menelusuri pakainan itu dari bawah ke atas. "Yang Mulia!" Dia nyaris berteriak, terjungkal di kursinya dan segera bangkit untuk memberi hormat.

"Bangunlah."

Lee Yoon masih menunduk dan tak beranjak dari tempatnya berdiri. Sang raja, ayahnya sendiri sedang melihat hasil lukisan putranya. Hanya helaan nafas keras yang didengar oleh Yoon, tetapi dia merasa sakit. Ini berarti ayahnya tak puas dengannya. Tak puas dengan putra yang hanya bisa menghabiskan waktu dengan menggambar dibandingkan hal yang lain. Dia menunduk semakin dalam. Tak ada harapan untuknya dilihat oleh sang ayah.

"Bagaimana kalau kau melihat dunia sedikit?" sang raja memulai.

"Mohon petunjuk yang mulia."

"Di dekat perbatasan, ada sebuah desa kecil yang cukup indah, main-mainlah kesana." Lee Yoon mengangkat kepalanya sedikit untuk menatap ayahandanya karena tak mengerti, tetapi begitu pandangan mereka bertemu, Lee Yoon justru kembali menunduk. "Kau terlalu banyak menghabiskan waktu di dalam istana, tak ada salahnya untuk mencari pengalaman dan melihat ke luar tembok istana. Pergilah ke desa itu sebentar, mungkin seminggu lalu kembalilah kemari. Kau akan bisa melihat kondisi rakyat dan kau bisa memutuskan apa yang baik untuk mereka."

Lee Yoon menunduk. "Jika itu perintah Yang Mulia, hamba akan melaksanakannya," pangeran itu tak bergeming, meski rasanya dadanya sakit karena ayahnya mulai beranjak dari tempatnya berdiri. Tetapi kemudian satu tangan menepuk bahunya. Lee Yoon terpana. "Kembalilah dengan selamat." Katanya sebelum meninggalkan taman.

Yoon mengangkat kepalanya dan menatap punggung ayahnya. Barusan rasanya begitu dekat tetapi juga begitu jauh. "Baik." Jawabnya sambil memberikan penghormatan.

.

.

.

Semua barang yang menurutnya berharga sudah dia bawa. Lambang kerajaan, peralatan menggambarnya, giok kesayangan peninggalan ibunya juga dia bawa. Pengawalnya menyarankan untuk membawa pakaian yang tidak terlalu mewah, dan akhirnya justru Lee Yoon mengemasi pakaian yang biasa dia pakai saat keluar istana dengan diam-diam. Pakaian bagus dan berkualitas yang tak terlalu mencolok.

Satu rombongan yang keluar justru pada malam hari. Ini satu hal yang tak dimengerti oleh Lee Yoon. Tetapi kepala pengawal beralasan karena matahari begitu terik. Yoon hanya menurut. Tak ingin ribut. Ini kali pertama ayahnya menyuruhnya langsung melakukan sesuatu, bahkan sampai menepuk bahunya seperti itu. Benar-benar tak pernah beliau lakukan sebelumnya.

Apalagi beliau menunggu kembalinya Lee Yoon.

Senyum merayap perlahan ke wajahnya. Apalagi di dalam kereta begini tanpa ada yang melihatnya. Rasanya dia ingin berteriak karena terlalu gembira. Tak apa dirinya tak bisa dapat posisi apapun di kerajaan. Selama ayahnya menganggapnya ada dia sudah bersyukur sekali.

.

.

.

Perjalanan memakan waktu lama. Benar-benar lama sampai pantat Yoon pegal karena terlalu lama duduk. Untungnya mereka berhenti di suatu tempat untuk beristirahat. Yoon memanfaatkannya untuk meluruskan kaki dan berjalan-jalan sedikit. Ada suara berisik, sepertinya ada sungai yang cukup besar. Penasaran, Yoon berjalan mengikuti suara itu. "Waaah..." nada kekaguman lolos dari mulutnya begitu saja. Matanya bersinar melihat pemandangan yang tak pernah dia lihat sebelumnya. Tempat ini luar biasa, untung ayahnya menyuruhnya ke tempat ini. Akan ada banyak lukisan yang bisa dihasilkan. Dia berdiri di sana, dekat tepi sungai yang deras, kedua tangan bertaut di belakang punggung. "PANGERAN! LARIIIII!"

Lee Yoon berbalik dan mendengar suara kesakitan dari pengawalnya yang paling setia. Tetapi di hadapannya sudah ada seorang pengawal. Bukan. Komandan pasukan yang mengantarnya ke sini. Pria yang lebih dewasa darinya itu sudah menarik pedangnya.

Mata Lee Yoon tak bisa lepas dari pedang itu. "AAAAARGGGGHHH!" Itu suara pengawalnya.

"Kenapa kalian membunuhnya?" Tak ada jawaban. Hanya tatapan mata yang begitu dingin. "Kau juga... akan membunuhku?" gumamnya pelan. Pengawal lain mulai mendekat, satu dengan darah yang paling banyak di bajunya.

Pangeran itu mundur perlahan, ada bahaya tepat di depan matanya. Dadanya terasa sakit bukan karena ketakutan. Kakinya bahkan tak melemas.

Sraaaak.

Mata Lee Yoon membesar, satu kakinya terperosok ke bibir sungai hingga dia kehilangan keseimbangan dan tubuhnya ikut terporosok juga. Lee Yoon bertahan hanya dengan kedua tangannya. tak ada pijakan untuk kakinya.

Para pengawal itu makin mendekat, siap dengan pedang. Satu pedang terangkat dan Lee Yoon tahu, pengawal itu akan menyerang tangannya. Memotong kedua tangannya bila perlu. Dia melepaskan pegangannya begitu saja. Jatuh ke air yang deras.

.

"Apa kita perlu mencarinya?" salah satu pengawal bertanya pada komandannya, mereka melihat bagaimana pangeran menghilang dalam air yang jelas.

"Pangeran kedua tak bisa berenang. Dia tak akan selamat di sungai sederas ini. Lebih baik kita urus mayat pengawal setianya."

.

.

.

Lee Yoon hanya bisa terus menggerakkan kaki dan tangannya, tetapi itupun tak ada artinya. Dia tak bisa berenang, dia tak tahu mana bagian atas. Apa ini saat kematiannya?

Dia beruntung kepalanya bisa naik turun di air. Susah payah menghirup udara agar bisa bertahan dalam siksaan ini. Dia berusaha meminta pertolongan tetapi itu membuat air tertelan.

Satu kekuatan, satu tangan kekar berusaha menggapai dan menariknya, tetapi dirinya tak bisa berhenti beontak. Hingga satu tamparan mengenai pipinya. Saat itulah Yoon jadi lebih tenang dan tangan itu kembali menarikya ke tepi sungai.

Sampai di tepi, Yoon hanya bisa berlutut dan kedua tangan di atas tanah. Terbatuk hebat karena air merangsek ke paru-parunya. Perlu beberapa lama dan sebuah tangan menepuk dan mengelus punggungnya, membantunya. Setelah air berhasil lolos keluar, Lee Yoon berbalik. Berusaha duduk dan sekaligus menepis tangan orang asing yang tak dikenalinya.

"Siapa kau? Mau ambil keuntungan dariku?"

Pria penyelamatnya itu tak bergeming. "Kau baik-baik saja?" seolah tak terpengaruh oleh kata-kata kasar barusan. Lee Yoon merasa orang di depannya ini sudah gila. Bahkan setelah Lee Yoon berkata begitu padanya, dia malah bertanya baik-baik dan mengkhawatirkannya.

"Aku bukan perempuan!" serunya.

Pria itu mengangguk-angguk. Bajunya basah dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pakaian biasa, hanya warga biasa yang kebetulan punya wajah kecil yang tampan. Dia juga tinggi dan tegap. Matanya tajam seperti elang dan herannya sangat sopan. "Yah. Terserah kau sajalah." Dia menggedikkan bahu sebelum menjauh dari Lee Yoon.

Awalnya pangeran merasa tenang, tetapi kemudian ada kalimat lain yang dilontarkan pria asing itu. "Oh ya. Hati-hati saat kau pulang, sudah hampir malam, siapa tahu ada hewan buas atau hantu di sekitar sini."

Lee Yoon menatap punggung tegap itu dan bagaimana tetes-tetes air berjatuhan dari bajunya yang basah karena menyelamatkannya. Kalau posisinya bukan sebagai 'seseorang yang nyaris terbunuh' pasti dia bisa memberikan sesuatu sebagai tanda terimakasih. Bukannya berlaku seperti wanita PMS.

AAAAAAAAUUUUUUUUUUuuuuuuuuu

Deg.

Suara serigala? Anjing liar?

"He... hei... tu... tunggu! Tunggu aku! Orang asing! Tuan!"

Pria itu menghentikan langkah dan berbalik, menatap orang yang diselamatkannya barusan.

"A... aku... tak tahu jalan pulang jadi..."

"Kau mau ikut ke rumahku?" tanyanya ramah.

Ada perasaan ketakutan juga, tetapi dia tak punya pilihan. Pria ini tak mungkin tahu siapa dirinya apalagi saat ini dia hanya memakai pakaian biasa dan bukan pakaian kerajaan. Satu keuntungan.

Jika saja orang ini tahu kalau dirinya pangeran, dia bisa melaporkan pada pejabat dan nyawanya bisa terancam lagi. Lee Yoon hanya mengangguk. "Iya."

"Ya sudah. Namaku Mooseok. Kang Mooseok. Kau?"

"Yoon. Lee Yoon."

"Kenapa kau bisa ada di sungai begitu?"

"Hah? Aku... aku..." Lee Yoon tak mampu menjelaskan. Dia baru saja akan dibunuh oleh pengawalnya sendiri. Mereka bahkan membunuh satu-satunya pengawal yang setia padanya. Bukan hanya itu. Yang menyuruhnya pergi ke tempat ini adalah ayahnya sendiri. Ayahandanya, yang mulia raja, terlibat?

Seolah merasakan ketakutan, Mooseok hanya berkata. "Ya sudah, Lee Yoon. Tinggal saja di gubukku. Tapi kecil."

"Apa istrimu tidak masalah?"

Dia tertawa. "Aku belum punya istri."

.

.

.

Seperti yang dikatakan Mooseok, kecil, tetapi tak sekecil itu juga. Ini pantas di sebut rumah, dan cukup nyaman. Pria itu memberikannya baju ganti dan sup hangat yang dibuat dengan bahan seadanya. Tapi dengan perut menjerit dan kelelahan fisik dan batin, rasanya jadi luar biasa. Mereka duduk di depan perapian. Menghangatkan tubuh yang sudah menggigil. "Aku... tak bisa berenang." Lirih Lee Yoon.

Mooseok hanya mengangguk-angguk. "Lalu... kau tak punya tempat tinggal?"

"Aku... habis dirampok, rekanku dibunuh dan aku terperosok ke sungai." Dia menunduk, mengingat nasib pengawalnya yang setia yang harus berakhir dengan kematian karena dirinya. Nasib yang tragis. Pria itu terkadang menjadi teman baginya, mungkin satu-satunya teman yang pernah dia miliki. "Kalau mereka tahu aku masih hidup... mereka pasti akan membunuhku juga."

"Kau mengenal perampok itu?"

Dia tak ingin mengingat wajah yang sudah sangat dibencinya sekarang. "Awalnya rekan seperjalanan. Tapi kami dikhianati. Aku tak punya apapun yang tersisa, semua barangku tak terbawa..." Termasuk giok peninggalan ibunya dan lambang kerajaan, satu-satunya barang yang bisa membuktikan kalau dia adalah putra raja sudah menghilang entah kemana.

"Yang penting kau selamat." Potong Mooseok segera. "Tinggal saja disini. Desa ini berisi orang-orang yang ramah. Asal kau bersamaku, mereka akan menganggapmu sebagai teman dan keluarga mereka. Mereka terbuka dengan orang asing selama mereka orang baik."

Lee Yoon menunduk. Dia bahkan bukan orang baik. Dia hanya pangeran manja yang hanya mengerti soal makan, tidur dan memuaskan hasrat. "Aku... tak bisa membayarmu."

"Kerja saja padaku."

Rasanya tak percaya ada orang sebaik ini. Yoon menatap wajah pria yang baru dikenalnya itu. "Aku... mungkin tak tahu apa-apa soal pekerjaan."

Akhirnya pria itu mendengus. "Kau masih muda, kan? Masih bisa belajar bagaimana caranya bekerja. Tak ada yang namanya bayi lahir yang langsung tahu cara membuat soju." Yoon terdiam memikirkan kata-kata itu. "Ya sudah. Istirahatlah. Aku sudah membersihkan kamarmu."

Pria itu bermaksud beranjak pergi tapi dia menahan tangannya. "Terimakasih, tuan."

"Kau bisa memanggilku hyung. Kau terlihat lebih muda dariku."

Itu malam pertama dirinya tinggal di rumah seorang yang tak dikenalnya. Jauh dari rumah, kehilangan pengawal setia dan kemungkinan tak akan ditemukan lagi. Tak bisa kembali ke istana, tak bisa melaporkan komandannya. Siapa saja yang terlibat? Mungkin bukan hanya pasukan yang mengantarnya. Mungkin semua pengawal juga tahu. Apa Permaisuri terlibat? Lalu bagaimana dengan Rin?

Tapi yang menyuruhnya pergi adalah...

Yang Mulia Raja...

Ayahnya.

Yoon tersenyum meremehkan. "Hidupmu sebegitu menyedihkannya, Yoon. Dibuang oleh ayahmu sendiri. Kau tak akan bisa kembali ke tempat itu lagi." Ucapnya pada diri sendiri.

Ayahnya saja merasa muak padanya.

.

.

.

Mooseok tak mengijinkannya keluar rumah selama seminggu. Awalnya memang Lee Yoon curiga, tetapi suatu hari Mooseok berbincang dengan seseorang di rumahnya. Lee Yoon bersembunyi ke kamarnya, tetapi dia mendengar pembicaraan mereka. "Sejak 3 hari lalu. Ada beberapa orang asing masuk desa."

3 hari itu berarti sehari setelah dia jatuh ke sungai. Tidak heran mengingat desa ini dekat dengan sungai deras itu, pasti jadi sasaran pertama. Ternyata mereka serius ingin menghabisinya.

Mooseok mengerti. "Aku juga melihat mereka, sepertinya mencari sesuatu."

"Atau seseorang. Yang jelas mereka tidak ramah dan sombong. Bawa-bawa pedang segala. Bagaimana tuan?"

Pria muda itu terdiam sebentar. "Tidak masalah. Lakukan saja kegiatan seperti biasa. Jika mereka tak bisa menemukan apa yang mereka cari, mereka akan pergi sendiri."

"Kami mengerti."

.

.

.

"Mereka orang-orang yang mengejarku, kan? Serahkan saja aku pada mereka, jadi kau bisa hidup dengan tenang. Desa ini juga." Yoon segera keluar kama begitu orang tadi pergi.

"Kau meremehkanku atau penduduk desa?" tantangnya. Lee Yoon tak menatap mata Mooseok. "Komunitas kecil begini akan lebih protektif, terutama jika ada hal yang mengancam seperti itu. Tapi aku sendiri yang memutuskan untuk membiarkanmu tinggal. Aku yang akan menanggung semuanya. Biarkan saja mereka puas berkeliling desa. Untuk sementara kau jangan keluar dulu. Tunggu saja beberapa waktu lagi. Setelah itu kau bisa keluar rumah."

Barulah dia mengangkat kepalanya, menatap pada Mooseok. "Kau tak tahu apa yang bisa mereka lakukan!"

"Aku tahu. Mereka bisa membunuh orang, kan?"

"Karena itu..."

"Aku yang memutuskan!" kata Mooseok setengah berteriak. "Aku melakukan ini atas kemauanku sendiri. Semuanya tanggung jawabku." Tak ada yang pernah berteriak seperti itu padanya, membuat Lee Yoon berjengit dan terdiam di tempatnya. Mooseok menyadari perubahan gestur tubuh Lee Yoon dan menghela nafas. "Ini bukan sesuatu yang perlu dibicarakan saat ini. Kau berhasil bertahan hidup dari sungai deras itu, aku tak akan menyia-nyiakan itu."

Dia ingin menyangkalnya, apa yang harus dia lakukan jika ayahandanya sendiri, sang raja ingin agar dia mati? Apakah dia harus mematuhi perintah itu? Tapi disaat yang sama, ibunya ingin dia bertahan hidup.

.

.

.

Tepat seminggu setelah Mooseok menyelamatkannya, ada serombongan orang yang berkumpul di depan rumah Mooseok. Hanya satu orang saja yang di bawa masuk. "Siapa dia?" jelas sekali kalau kehadiran seorang yang asing itu adalah hal yang tidak biasa disini.

"Ini Lee Yoon. Yoon, Ini temanku Heejong. Dia baru saja datang dan kau akan menjadi anak buahnya."

"Ha?" Yoon langsung bereaksi begitu karena kaget. Tak dieritahu apa-apa sebelumnya

"Maksudku kita buat skenarionya begitu. Tak ada yang melihatmu datang ke desa ini. Paling mungkin adaah pura-pura ikut rombongan Heejong. Kau jadi tinggal di sini bersamaku karena ingin belajar."

Lelaki yang bernama Heejong itu lebih tinggi dari mereka berdua, tubuhnya juga agak besar. Tetapi dia seolah menurut saja dengan Mooseok. Meski wajahnya terlihat bingung. "Tunggu... siapa? Kenapa?" barulah dia menyuarakan kebingungannya. "Jadi dia akan tinggal di sini? Kau bilang ada yang mengincarnya. Kupikir dia akan ikut denganku."

"Rampok." Jawabnya singkat. "Tapi aku putuskan dia tetap di sini."

Lee Yoon tak mengerti dengan sikap Mooseok ini. Dia tahu orang ini baik tetapi seolah menahannya begitu saja dan dirinya tak punya pilihan.

"Baiklah." Jawab HeeJong begitu saja. Tak ada protes atau apapun, tetapi seolah memberi tahu Heejong adalah hal yang sangat perlu dan mendesak

.

.

.

Ternyata pria bernama Heejong itu tinggal di desa beberapa waktu sebelum pergi lagi. Membawa arak, dan bahan-bahan lain.

"Kau dapat uang dengan membuat soju?"

Mooseok menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tidak juga. Hampir semua yang difermentasi. Saus, pasta, sayuran, hingga soju. Sebab desa ini tak mungkin memasok sayuran segar karena terlalu jauh dari istana. Lagipula aku punya pegawai dan aku lebih banyak mengurusi penjualan."

"Jangan bilang kau punya ladang sendiri." Yoon hanya bermaksud bercanda, tetapi tak ada jawaban dari Mooseok. "Tunggu... kau punya?"

"Ada kebun yang dikhususkan untuk produksi, tetapi kami juga punya tanaman obat."

Akhirnya Lee Yoon hanya bisa menatap pada orang di hadapannya dengan mata bulatnya. "Kau itu sebenarnya siapa?"

"Hah? Aku hanya seseorang pedagang biasa. Tapi untuk bisa memiliki bisnis yang baik, kita juga perlu melakukan sesuatu untuk masyarakat. Kalau bisa menanam obat sendiri, biaya pengobatan jadi lebih murah, kan?"

Di hari ke 7 sejak pertemuannya dengan Mooseok itulah, dia jadi tahu mengenai apa yang dikerjakan Mooseok untuk hidup. Tahu bila orang ini bukan hanya pria biasa yang mencari uang, tetapi justru sangat peduli pada sesamanya. Semua orang menghormatinya. Dan kini dirinya juga jadi menghormati orang ini.

"Bagaimana dengan orang yang mengejarku?"

"Sudah pergi 3 hari lalu, tapi aku tak ingin ambil resiko. Mereka bisa saja masih mengawasi."

Yoon mengangguk, alasan yang dangat masuk akal. "Lalu... apa yang harus kukerjakan? Kau bilang aku bisa bekerja padamu, kan?"

Mooseok tampak berpikir.

.

.

.

"Kau mahir pembukuan... hanya itu saja saat ini." Mooseok terlihat menghela nafas.

"Aku janji aku akan berusaha agar bisa mengerjakan yang lain." Lee Yoon memegangi tangan Mooseok. Sudah ada luka ditangannya, sebab Mooseok memintanya untuk membelah kayu, yang langsung gagal, mencangkul, menanam dan Mooseok menggaruk kepala karena umbi yang dia tanam terbalik, dan setelahnya dia tak lagi diminta mengerjakan yang aneh-aneh.

Pria yang lebih tua darinya itu mengangkat kepala dan tersenyum. "Tenang saja, aku tak segitunya kekurangan orang. Hanya saja kuharap kau bisa belajar juga. Lagipula orang disini tak terlalu mengerti pembukuan." Menandakan kalau Mooseok menemukan aset yang berharga untuk usahanya.

"Mungkin harusnya hyung membuat sekolah." Usulnya.

"Aku memang berniat begitu. Untuk anak-anak dan siapa saja yang ingin belajar."

.

.

.

Hidup dengan Mooseok itu tidak mudah. Tetapi itu pasti karena dirinya tak pernah melakukan hal-hal semacam ini sebelumnya. Mulai dari mengambil air, mencuci pakaian sendiri hingga bercocok tanam. Tapi ini demi bertahan hidup. Lagipula Mooseok sering kali menanyakan luka-lukanya dan segera mengobatinya.

Dalam waktu dua bulan saja, dia tahu dia jauh lebih kuat secara fisik dibanding sebelumnya. Sebagai bonus tangannya kapalan dan lengan serta betisnya sedikit mengeras. "Ini..." Mooseok menyodorkan kantung kain padanya.

Lee Yoon mengambil dan membuka kain kecil itu. "Uang? Untuk apa?" tanyanya tak mengerti.

"Aku sudah bilang akan membayarmu, kan? Kau bisa beli sesuatu dengan itu."

Dia menatap dan menghitung jumlah uangnya. "Ini terlalu banyak. Aku sudah diijinkan untuk tinggal denganmu, dapat pakaian dan makan," bukankah apa saja perlu uang? Harusnya gajinya dipotong biaya makan, pakaian dan tempat tinggal.

"Yoon! Kau ini kadang terlalu banyak bicara. Ambil saja!"

"Tapi..." Dia tak suka tiap kali Mooseok meneriakinya begitu. Jarang terjadi kecuali kalau kesalahannya sudah terlalu besar. Dan biasanya dia tak membantah.

"Kau bisa beli kertas dan kuas, atau kau bisa beli barang lain."

.

.

.

Beli barang lain... Lee Yoon melihat-lihat ke pasar tanpa antusias. Dirinya sudah pernah punya barang-barang mahal dan berkualitas. Lagipula sejak tinggal bersama dengan Mooseok, dia jadi menyadari kalau tak ada gunanya barang-barang mewah tanpa ada makanan. Orang-orang di desa ini memang tidak makan mewah tetapi berkecukupan. Bandingkan dengan dirinya dulu yang suka menyisakan makanan, tetapi itu juga karena makanan yang dihidangkan begitu banyak. Ah, kadang ada yang tak sesuai seleranya lalu dia minta ganti. Jadi ada penyesalan.

Apa dia beli makanan saja ya? Mengajak Mooseok ke kedai makan dan beli menu yang paling mahal. Tapi boros itu tidak boleh. Mooseok selalu menegaskan hal ini dan ternyata orang satu itu bisa jadi berisik soal uang.

Padahal dia bisa memberi makan banyak orang. Apa mungkin karena itu juga ya?

Sosok yang terlalu baik hati.

Lee Yoon akhirnya menggunakan sedikit uangnya untuk membeli kuas dan kertas ketika dia melihat seorang wanita yang cantik. "Kau tertarik dengan gadis itu?"

Mooseok sudah berdiri di sebelahnya, baru saja ke toko obat. "Tidak juga." Jawab Lee Yoon. Gadis-gadis disini beda dengan di ibukota. Disini tak banyak riasan, sekalinya ada yang mengenakan riasan hasilnya malah terlihat norak. Ah, kapan terakhir kali dia berhubungan badan dengan wanita ya? Sepertinya sudah lama.

Memang kalau melihat gadis barusan, dia jadi teringat kebiasaannya, tapi disini mana mungkin? Mooseok saja tak pernah kedapatan main ke rumah bordil, selalu saja hanya sibuk dengan urusannya. Penggila kerja. Apa dia menghabiskan seluruh energinya seharian agar tidak ingin macam-macam dengan wanita?

"Dia putri pejabat daerah sini. Jadi hati-hati jangan main mata dengannya, bisa-bisa pantatmu dipukul penjaga," candanya.

Lee Yoon langsung cemberut. Baru jadi anak pejabat daerah pinggiran saja sudah sesombong itu. Lagipula Yoon juga tidak berminat dengan gadis norak begitu. Mooseok hyungnya yang rambutnya dibiarkan berkibar justru terlihat lebih menawan.

Eh?

Tunggu. Kenapa dia memikirkan hal begitu.

"Yoon! Mau sampai kapan kau berdiri disana?" Mooseok memanggilnya dari 7 meter di depan. Tanpa sadar dirinya berhenti di tempat.

"Ah, ya!"

Bruk

Yoon melihat seorang wanita tua yang dikerjai anak-anak nakal dari desa. "Hei, hei! Apa yang kalian lakukan!" Yoon agak berteriak dan berusaha melindungi wanita tua itu. Mooseok ikut mendekat dan anak-anak nakal itu segera beranjak. "Nenek tak apa? Ada yang luka?" wanita tua itu baunya agak aneh, seperti tanaman obat, tetapi Yoon mau apa? Dia sudah terbiasa dengan aroma seperti itu semenjak bekerja pada Mooseok.

Nenek tua itu kecil dan membungkuk, dan segera mencengkeram lengan Yoon dengan kekuatan yang tak disangka bisa dimiliki oleh seorang nenek tua yang bungkuk. "Anak muda... kau..." wanita itu tercekat. Tak sanggup menyelesaikan kalimatnya.

"Iya? Kenapa nek? Ah? Nenek belum makan ya? Aku akan membelikan makanan untuk nenek ya. Ayo duduk di sana." Yoon membantu nenek itu berjalan, tetapi mata wanita itu tak hentinya menatap Yoon.

Mooseok mendekatinya ketika Lee Yoon membeli beberapa buah bakpau daging. "Tuan..." suaranya terdengar sedih.

"Ya?"

.

"Ini bakpaunya. Makanlah selagi hangat. Lalu ini ada uang, nenek bisa pakai." Yoon tak ragu untuk menyerahkan semua uang yang dia miliki pada nenek tua itu."

"Kenapa tuan memberikan semua padaku?"

"Hah?" Yoon justru tak mengerti. Ini bukan apa-apa dibanding hal yang dia sia-siakan selama masih di istana. "Terima saja." Yoon tersenyum pada nenek tua itu. "Aku akan mengantar nenek pulang, bagaimana? Di mana rumah nenek?" dia melihat pada Mooseok meminta ijin.

Mooseok mengangguk.

.

.

.

"Apa yang kalian bicarakan tadi? Bukan tentang aku, kan?" selidik Yoon setelah mereka mengantar nenek itu ke rumahnya di pinggir hutan. Gubuk reyot yang membuat Yoon meringis khawatir kalau gubuk kecil ini ambruk sewaktu-waktu.

Mooseok diam saja selama perjalanan, sepertinya banyak yang dia pikirkan. "Dia bertanya kenapa belum pernah melihatmu sebelumnya. Aku bilang padanya karena kau belum lama di desa ini."

"Oh... hyung tidak pernah membantu wanita itu sebelumnya?"

"Aku jarang bertemu dengannya, dia selalu menghindari orang. Aku kadang memberinya hasil panen, tapi entahlah... dia misterius dan kadang anak-anak akan memanggilnya penyihir."

"Anak-anak yang tak diajari tata krama," komentarnya.

"Itu juga karena nenek itu selalu menghindari penduduk desa. Sering kali ketus dan marah-marah tidak jelas." Angin berhembus kencang dengan mendadak, menerbangkan debu yang memaksa Yoon mengangkat tangan, menghalangi butiran kasar memasuki metanya.

Dia memalingkan wajah, dan melihat bagaimana Mooseok juga sama saja sedang berusaha mencegah kelilipan. Bedanya rambut Mooseok yang setengah diikat itu berkibar, seperti yang dia suka. Terlihat menawan.

.

.

.

Mooseok? Menawan?

Sulit baginya memahami hal itu dan sama susahnya dengan menyangkalnya. Mooseok memang tampan, dia akui. Badannya tegap dan bagus, mahir, kekuatannya juga besar, belum lagi sangat berpendidikan dan punya bisnis yang bagus. Lengkap sudah.

Dan lagi ketika hanya berdua di padang rumput, ketika angin membelai rambutnya, dia terlihat...

Lee Yoon segera mencengkeram kepala dengan kedua tangannya. Kepalanya pusing karena memikirkan hal konyol begitu.

"Kau kenapa?"

Lee Yoon menurunkan tangannya begitu mendengar suara itu. "Heejong Hyung? Ah. Apa kabar? Lama tidak berjumpa." Dia berdiri dan segera membungkuk kecil.

Heejong balas membungkuk juga. "Kau terlihat sedang frustasi, Mooseok memberimu tugas yang sulit?"

Dia menggeleng, tugasnya tak ada yang sulit, kalau saja dia ini bukan pangeran yang nyaris tak pernah melakukan pekerjaan apa-apa sebelumnya. "Tidak juga. Oh ya, apa Mooseok hyung tidak punya gadis yang disukainya?"

Alisnya bertaut. Baru saja datang sudah ditanyai hal semacam itu. "Kenapa bertanya begitu?"

"Ah tidak. Hanya penasaran saja. Karena kupikir orang sesempurna itu harusnya banyak yang menginginkan," apakah itu topik yang aneh untuk ditanyakan? Tetapi bukankah waktu pertama kali bertemu dia juga mengira kalau Mooseok sudah beristri?

Heejong tampak berpikir sebentar. "Yah... tidak salah juga sebenarnya..." dia setuju dengan pemuda ini. "Hanya saja dia itu kurang senyum."

"Tidak. Dia banyak tersenyum," bantahnya langsung. Memang Mooseok itu agak galak tapi dia banyak tersenyum padanya; meyakinkannya dan macam-macam lagi.

"Ahaha... Sebelum kau datang, dia itu makhluk paling menakutkan di desa ini. Tidak suka tersenyum, tatapan dingin, wajah yang nyaris tanpa ekspresi. Tetapi sejak kau datang dia jadi lebih banyak tersenyum dan lebih hidup."

Ada sesuatu yang berdesir di dadanya, perasaan senang karena mungkin dirinyalah yang menyebabkan Mooseok berubah dan jadi sering tersenyum begitu."Memangnya apa yang menyebabkannya jadi begitu?"

"Iya dia... adiknya meninggal. Sepertinya sejak saat itu dia jadi menyalahkan dirinya sendiri. Padahal kau tak ada mirip-miripnya dengan adiknya itu. Tapi jujur saja aku senang."

"Memangnya... adiknya seumuran denganku?"

"Tidak. Makanya kubilang tak ada mirip-miripnya."

.

.

.

"Hey, paman... aku tidak pernah melihat keluarganya Mooseok hyung..." Yoon jadi terbiasa berjalan-jalan sendirian di desa. Tak ada lagi ketakutan. Sesekali membantu paman di sebelah rumah membelah kayu bakar seperti saat ini. Lagi pula dia punya maksud tersembunyi. Terlalu banyak misteri tentang Mooseok yang ingin dia ungkap.

"Tuan Mooseok bukan berasal dari desa ini."

Tidak aneh juga. Dia tak pernah melihat keluarga hyungnya itu dan marga Kang yang dia tahu tinggal di desa ini tak ada hubungan darah dengan Mooseok. "Oh ya?"

"Suatu hari dia muncul dan melihat-lihat. Lalu memutuskan untuk tinggal di gubuk kecil yang dia sewa. Setiap hari pergi ke tanah kosong disana dan perlahan merubahnya jadi kebun."

"Sendirian?"

"Iya. Kadang dibantu rekannya, tetapi dia mengajari kami bercocok tanam. Mengajari cara menanam tanaman obat dan berhasil menjualnya dengan harga yang bagus. Awalnya kami tak mempercayainya, tetapi melihat hasilnya, kami jadi sangat percaya padanya."

Mooseok, begitu keras kepala tapi keyakinannya terbukti. "Iya, jadi sulit untuk tidak percaya."

"Kami merasa kalau tuan cocok sebagai pemimpin desa tetapi tuan menolaknya. Dan hubungan dengan pemimpin desa ini jadi baik-baik saja. Tuan tidak mengurusi pemerintahan tapi fokus pada ekonomi dan pendidikan, sebenarnya dua hal itu dan kesehatan adalah yang paling payah disini."

"Dan Mooseok hyung juga mengajari cara menggunakan obat."

"Benar. Untuk sakit ringan, kami tahu obatnya, jadi tak selalu perlu ke tabib. Dan karena tanaman obat banyak tersedia, harganya jadi lebih murah." Paman itu tertawa senang menceritakannya.

Yoon selalu berpikir kenapa orang seperti itu tak mau jadi pemimpin, tetapi orang-orang disini bahkan melihatnya sebagai pemimpin tanpa jabatan yang jelas. Mengerikan sekali yang namanya Mooseok itu. "Dia juga tak terlihat ada main dengan wanita."

"Ahaha. Banyak yang ingin mengangkatnya jadi menantu, tetapi sikap dinginnya yang membuat orang jadi takut mengutarakan maksudnya. Lagi pula kami jadi berpikir, rasanya orang seperti itu lebih cocok dengan wanita yang berpendidikan juga, yang cantik dan dewasa."

"Aku setuju." Dan kalau dilihat-lihat, gadis di desa ini kurang pantas. Begitu melihat Mooseok, gadis-gadis itu langsung jadi malu-malu.

"Kau sendiri bagaimana?"

"Aku? Kenapa?"

Wajah paman ituterlihat sedang menggodanya. "Aku dengar bisik-bisik dari beberapa gadis yang memberikan komentar terhadapmu. Kau itu tampan, Yoon. Jangan sia-siakan. Kau bisa menikah dengan gadis mana saja disini."

"Ah..." Yoon jadi salah tingkah. Dia tak pernah benar-benar memikirkan pernikahan sebelumnya. Dulu dia berpikir dia akan menikah dengan siapa saja yang diputuskan oleh ayahandanya. Kalau sekarang... entahlah.

.

.

.

Mooseok menyumpitkan bagiannya dan memindahkannya ke mangkuk Yoon. "Kau ini kurus sekali sejak bekerja padaku."

"Ini bukan karena kurus tapi aku jadi lebih berotot." Lengan dan kaki dan juga otot perutnya.

"Makanya makanlah yang banyak, untuk tenaga." Yoon menatap ikan di hadapan Mooseok. "Kalau mau ambil saja."

"Hah?" Mooseok tersenyum hingga matanya menyipit. Yoon tak ragu lagi. Hingga akhirnya Mooseok hanya menatap Yoon yang makan dengan lahap dan mata berbinar. Dia benar-benar menyukai ini.

.

Setelah sarapan itu Mooseok pergi. Ada urusan katanya, dan dirinya sudah selesai mengerjakan pembukuan hari itu. "Malas." Katanya dengan pipi menempel di meja. "Bosan."

Kenapa Mooseok tak mengajaknya sih? Pekerjaannya kan tidak sebanyak itu. Memangnya dia mau apa?

Sudah begitu hujan pula.

Ogah-ogahan, Yoon mengambil secarik kertas dan mulai menggambar.

Dua jam kemudian hujan tak lagi sederas sebelumnya dan pangeran itu ketakutan ketika menyadari apa yang dia gambar.

Dia menggambar Mooseok.

Suara pintu depan terbuka dan dengan panik, Yoon membereskan kertas-kertasnya. Melipatnya dan menyimpannya di balik buku yang tertata rapi.

"Kau tidur, Yoon?" pemilik rumah kecil itu sudah disana. Lee Yoon menggeleng dan tersenyum panik. Mooseok memberinya sesuatu. Kue yang dibeli di kedai langganan. "Kau kenapa? Sakit?" tanyanya curiga karena Yoon terlihat agak pucat.

Lagi, Lee Yoon menggeleng.

Mooseok menghela nafas lelah, tanpa ragu dibukanya pakaiannya disana hingga bertelanjang dada.

"Kenapa hyung buka baju disini?"

"Kenapa? Ada yang salah? Ini rumahku, kan?" Dia bertanya tak mengerti.

Benar, bodoh! "Tidak, maksudku..."

"Kau juga pernah lihat, kan?" dia makin tidak mengerti. Kalau Yoon adalah wanita, mana mungkin dia akan membuka pakaian begitu saja dihadapannya, bisa dibilang tidak sopan.

"Ah tidak, lupakan. Hanya saja lantainya jadi basah."

Mooseok melihat ke bawah kakinya dan ke jejak air hingga ke pintu. "Astaga aku harus membersihkan itu?" tak percaya dengan kebodohannya sendiri. Kini punggung Mooseok yang ada dihadapannya, dan satu hal yang menurutnya sangat mengagumkan adalah otot punggung Mooseok yang terlihat...

Plak.

"Suara apa tadi?" Mooseok berbalik karena suara aneh barusan.

"Ada nyamuk." Bohongnya. Mana bisa dia bilang kalau yang barusan adalah tangannya yang menampar pipinya sendiri karena berani memikirkan kata 'mengesankan'. Punggung Mooseok begitu mengesankan? Dia tidak gila, itu wajar saja. Hanya saja setelah kata mengesankan itu ada sekalimat yang tak ingin dia katakan.

Mengesankan. Aku ingin meraba dan menjilatinya terutama saat keringat membasahi punggung itu.

Lee Yoon heran kenapa dirinya masih tetap waras setelah apa yang terjadi padanya. Tapi sepertinya saat ini dirinya mulai gila.

"Kalau begitu aku harus segera pakai baju."

Tidak! Jangan pakai! Biarkan aku melihat lagi!

Lee Yoon mendadak meremas kedua sisi kepalanya.

"Kau kenapa Yoon? Kau sakit? Hei!" tangan Mooseok menyentuh bahunya dan dia berjengit di tempatnya.

"Aku baik-baik saja. Hanya hujan. Aku tak tahan kelembaban." Katanya dan segera pergi ke kamarnya.

.

.

Tbc

Read & review

Or I'll curse you for constipation whole week.

JiJoonie : karena jarang olah raga. Hehehe. Iya Yun Cuma eksperimen asal aja. Tapi berhubung Chang lebih somplak lagi jadi ya sudahlah. Seungri-Yunho... friendship yg begini mungkin lebih sehat.. Tapi pertemanan cowok itu akan sampai pada 'Aku tahu kamu luar-dalam' hahaha... pertanyaan2 itu akan terjawab seiring chapter berjalan... halah. Sabar ya Mut

Park RinHyun-Uchiha : ganti user? Hayooo sukanya yang vulgar! Aku frugal... hah? Penjelasan soal Changmin mendadak jadi kucing masih belum bisa di chap ini. Sabar y

Lennie239 : Hush hush ngapain elus2 adek Changmin? Iya itu soalnya... mmm...

Toto-chan : Iya, mana mungkin nggak ngerasa terganggu. Jadi Yun itu di pikirannya 'apa salahku sampe diganggu begini'

Wiwie : iya emang paling panjang si yg kemaren it. Sabar ya... Juga soal kucing itu...

Yu : hayooo greedy wkwkwkw... anu, 'makin maki' itu maksudnya apa ya?

Guest : ada gitu yang serius demi eskrim? Iya makasih udah review ya. Ditunggu review selanjutnya.