Hinata berlutut di sisi Takeda, sesekali mengusapkan telapak tangannya di dahi berpeluh sang pemuda. gadis Hyuuga itu tak menduga bahwa dirinya nyaris saja membunuh pemuda yang tengah bergulat dengan rasa sakit dan semua ini semata-mata karena Takeda ingin melindunginya. Sasuke masih terdiam di dekat batang pohon dengan tangan bersindekap. Pemuda itu merapatkan bibir dan dengan sabar menanti Hiroki yang berusaha menolong nyawa Takeda.

"Bagaimana keadaan Takeda? Apa dia bisa diselamatkan?" Iris Hinata menatap penuh cemas pada Hiroki dan Takeda bergantian.

Sang gadis telah berusaha menawarkan bala bantuan sebisanya. Namun, Hiroki menolak dan menitahkan Hinata untuk mendinginkan kepala. Gadis itu memerlukan waktu untuk menenangkan diri, baik fisik maupun mentalnya.

Sang kakek tua mengusap keringat. "Sejauh ini, kondisinya sudah tidak lagi kritis. Namun, dia masih belum bisa siuman. Suhu tubuhnya masih tinggi."

Hyuuga muda merundukkan kepala. Dia ingin berbuat sesuatu untuk Takeda. Apa pun. Dia merasa dirinya berhutang budi dengan sosok yang berbaik hati ingin membantunya itu. Takeda tidak bersalah. Pemuda itu datang menyusulnya karena cemas. Hinata? Gadis itu justru berniat membunuh sang pemuda. Semenjak tadi sang gadis terus menerus menyalahkan tato yinyang atas semua kejadian ini. Namun, tetap saja, ini semua salahnya. Melalui tangan dan pikirannya, dia hendak menghabisi nyawa seseorang.

'Andai saja aku kuat, mungkin pengaruh tattoo yinyang tak akan mempan. Seandainya aku dilahirkan sebagai manusia yang kuat. Seandainya saja aku tidak dilahirkan sebagai Hyuuga Hinata.' Hinata membatin.

Tiga manusia yang terjaga memilih sibuk dengan isi kepala mereka masing-masing, mengantarkan keheningan di antara mereka.


"Maafkan aku!" Hinata membungkukkan tubuhnya dalam-dalam di depan sosok Takeda yang baru saja siuman.

Pemilik rambut cokelat mengibaskan tangan, menyuruh Hinata untuk tidak terlalu mempersoalkan kejadian yang sudah berlalu. Semua ini impas. Dirinya juga bersalah karena bertindak tanpa pikir panjang. Wajar jika Hinata sampai berpikiran bahwa dia hanya menjadi batu penghalang. Takeda, dipapah Hiroki, mengantar kepergian Sasuke dan Hinata. Kali ini, mereka akan benar-benar berpisah. Sasuke menolak untuk melihat wajah sang pemuda lagi.

"Aku yang akan membunuhmu," ancam sang Uchiha saat Takeda hendak memberikan protes atas larangan keduanya.

Pada akhirnya, Takeda mau mengerti. Ada banyak rintangan yang bisa membahayakan nyawanya. Di samping itu, dengan kondisinya saat ini, dia hanya akan membuat Sasuke dan Hinata kesulitan bergerak bebas. Dia hanya akan menjadi beban bagi mereka berdua.

"Kelak, kita pasti akan bertemu kembali, 'kan?" Takeda ingin meyakinkan Hinata, terutama dirinya, bahwa masih akan ada pertemuan di antara mereka.

Hinata mengangguk. "Itu sudah pasti, Takeda-san. Kita pasti akan bertemu kembali."

"Tolong." Telapak tangan Hinata menangkup wajah Takeda, membuat sang pemuda harus mati-matian menahan senyuman lebarnya. "Tolong jaga dirimu baik-baik. Aku juga titip Hiroki-san padamu."

Takeda menggosok hidung seraya mengangguk dengan canggung. Sang pemuda berjanji akan menjaga desanya, Hiroki, dan dirinya sendiri. Pemuda gondrong itu pun meminta hal serupa pada Hinata.

"Pastikan bahwa kau tetap hidup," pinta Takeda.

Kali ini, mereka berjalan berlawanan. Kali ini, Takeda tak lagi ingin menjadi penghalang. Kali, biarkan waktu yang menentukan apakah mereka akan bertemu kembali di masa depan ataukah hanya mengetahui kabar satu sama lain yang telah menjelma menjadi nisan.


Naruto © Masashi Kishimoto

(I don't take credit for the original content)

Alternate Reality/Fanon

SasuHina

Mission of the Romantic Yinyang

[Irony]

Sepasang lavendel mengerjap. Entah kapan terakhir kali sang empunya merasakan kesegaran pagi. Dia telah bergulat di antara pagi hari yang seakan berat untuk dijalani. Bahkan jka boleh memilih, ingin rasanya dia tak lagi terjaga. Dia hanya mulai lelah. Ya, dia merasa sangat lelah. Raga dan jiwanya telah meronta. Hingga akhirnya, sebuah pertemuan lain dari tattoo yinyang membuat dirinya memiliki sedikit cercah asa untuk beranjak dan memulai lembaran hari lain. Namun, hari-hari itu tak bisa disandingkan dengan perasaan berbeda yang hati dan fisiknya dera kali ini.

Dia menoleh, memandang sosok pemuda dengan lelap yang tertulis jelas di tiap guratan tak nampak di wajahnya. Ada rasa terkejut dan bingung yang porak menjadi satu. Hari lain yang unik kembali dipersembahkan sang tattoo bagi dua insan yang harus merasakan imbasnya.


Sosok Hinata melompat melalui dahan demi dahan mendahului sosok Sasuke yang tertinggal beberapa jarak di belakang. Keduanya tidak banyak bicara, hanya sesekali ada isyarat yang Hinata berikan kepada Sasuke, diikuti anggukan singkat dari sang pemuda. Hinata lalu mengarahkan telunjuknya ke bawah, pertanda bahwa mereka berdua harus menyudahi aksi lompat-melompat dan melandas ke tanah.

"Kita mencari sungai terdekat untuk makan siang," gagas sang Hyuuga.

Mendapati sang Uchiha yang justru terpekur dan bukannya mengikuti di belakang, Hinata mau tak mau melingkarkan jemarinya di pergelangan tangan Sasuke yang jauh lebih besar, menuntun sang pemuda untuk mengekor di belakang.

Adalah sebuah sungai jernih dengan aliran air tenang yang lalu mereka jumpai tak lama kemudian. Beberapa ikan sesekali tampak melompat dari dalam. Hinata melepaskan genggaman tangannya dari Sasuke dan melajukan kaki. Gadis muda itu tak pula lupa untuk menanggalkan sandal dan melipat busananya agar tidak kebasahan sebelum akhirnya masuk ke dalam sungai. Berbekal sebuah ranting yang dipungut secara sembarang, Hinata menusuk tubuh beberapa ikan dan memberikan beberapa ekor pada Sasuke.

"Tangkap!"

Uchiha muda panik dibuatnya, membuat tubuhnya bergerak cepat ke kiri dan kanan, berusaha menangkap lemparan ikan dari Hinata. Tubuh sang pemuda bahkan sampai terjungkal ke belakang akibat tidak menyadari keberadaan sebuah kerikil yang menjegal kakinya.

Hinata berdecak. Namun, seringai muncul di bibirnya. "Kau benar-benar kikuk."


"Apa yang kaulakukan?" Hinata yang baru saja menyudahi acara makan siangnya mengajukan pertanyaan pada pemuda Uchiha yang tampak serius memerhatikan sesuatu sembari merangkak.

"Ah, ini pertamakalinya aku melihat bunga seperti."

Hyuuga jelita bangkit dari posisinya dan turut menekuk kaki di sisi Sasuke. "Petik saja kalau begitu."

Uchiha memandang ke depan lama sebelum mengarahkan kelereng hitamnya pada Hinata. Tatapan sang pemuda terlihat teduh, memunculkan rasa lega bagi siapa pun yang melihatnya.

Sasuke menelengkan kepala perlahan. "Tidak perlu. Tempat bebungaan ini adalah di sini. Selain itu, sayang sekali jika aku memotongnya. Alangkah lebih baik jika bunga ini tumbuh di tempat asalnya."


Dua muda-mudi lantas melanjutkan perjalanan usai merasa bahwa rasa kenyang tak lagi menjadi penghalang bagi mereka. Keduanya menyibak ilalang-ilalang yang berada di depan mata hingga beberapa bangunan lapuk mulai tertangkap netra. Mereka telah berada di desa yang menjadi tempat tujuan mereka. Desa Uzushio. Keduanya melangkah dan terdiam. Ada satu sosok yang tengah memunggungi mereka, sosok yang lantas berbalik usai mendengar suara rerumputan yang dipijak.

Bahkan dari belakang, mereka berdua telah bisa mengenali sosok siapa yang kini menyambut mereka berdua dengan mata terbelalak. Hyuuga Neji.

"Hinata?"

Sosok Sasuke dan Hinata saling melempar pandangan. Tak ada di antara mereka yang buka suara. Neji mmenghampiri sosok Hinata, menghujani sang gadis dengan banyak pertanyaan, utamanya perihal kabar sang gadis belakangan ini.

"Bagaimana keadaanmu? Hinata, ikutlah denganku ke Konoha. Kondisimu akan sangat berbahaya jika dibiarkan!"

"Hinata, kembalilah!" Neji mencoba menarik tangan Hinata.

Sosok gadis berambut sepunggung di hadapan Neji tak menunjukkan pergerakan apa pun. Dia hanya menatap sang kakak sepupu dalam diam, tak tahu harus membalas ajakan tersebut dengan jawaban seperti apa.

"Kembalilah … atau kami akan melumpuhkan Uchiha Sasuke—"

Kalimat Neji terinterupsi. Tanpa keduanya sadari, sosok Sasuke telah meraih kusanagi dan menebaskannya ke leher Neji. Kejadian itu berlangsung amat cepat, tak mengizinkan sosok Hinata yang berhasil meloloskan diri dari tangan Neji untuk mencernanya.

Kepala dengan rambut panjang milik sang pemuda bergulir di antara rerumputan, menyisakan cipratan darah dan jasad yang ambruk di dekat tubuh Sasuke dan Hinata.

"HINATA!" Sosok Hinata meneriakkan nama "Hinata", mendulang tanya sang genius dari klan Nara.

Ada satu hal yang hanya diketahui Sasuke dan Hinata. Semenjak terbangun di pagi buta, mereka tidak berada dalam jasad mereka sendiri. Sasuke berada di dalam jasad Hinata. Itulah alasan mengapa sang pemuda merasa tubuhnya terasa lebih ringan dan pikirannya lebih jernih. Di satu sisi, Hinata bersemayam di jasad Uchiha muda. Itu artinya, Sasuke yang menikam Neji dan memenggal kepala sang pemuda Hyuuga bukanlah Sasuke.

Hinata-lah pelaku sesungguhnya.

Oniks membulat. Dia menatap sosok dirinya sendiri, yang kini diisi Sasuke, tengah menatapnya dengan sirat "kau akan menyesali perbuatanmu". Sasuke melepaskan kusanagi dari tangannya. Tenaganya seolah hilang seketika, membuat jari-jemari itu tak lagi kausa menggenggam sebilah pedang. Beberapa shinobi lain berdatangan, mengarahkan tatapan nanar pada sosok Uchiha yang mereka ketahui menjadi dalang kenapa tubuh Neji tergeletak beberapa langkah dari kepalanya.

"SASUKE!" Teriakan parau penuh amarah dari Naruto membuat wajah Uchiha menoleh.

Emerald di sisi Naruto tanggap, merasa janggal dengan ekspresi yang didoinasi kekalutan dari sosok Sasuke. Dia tahu bagaimana perangai Uchiha. Pemuda berambut legam itu bukanlah seorang penakut. Lantas, kenapa tatapan oniks itu tampak begitu gentar kala memandang sosok Naruto? Seperti bukan Uchiha Sasuke saja.

"Uchiha-san!" Kali ini, sosok Hinata berlari. Sebelum kebekuan ini luruh menjadi kondisi yang kian memburuk, tangan putih sang gadis lekas menarik tangan pemuda Uchiha, menyuruhnya untuk pergi dari sana.

"Sasuke-kun," bisik Sasuke dengan suara yang tak akan sampai ke telinga orang lain selain mereka berdua. "Aku … aku membunuh Neji-nii."

Sosok Hinata hanya mendaratkan ekspresi dingin, mencoba memasang topeng sebisa mungkin dari sebuah keterkejutan yang menghilangkan banyak kalimat yang tak bisa dilontarkan. Sosok Hinata dengan jiwa Sasuke di dalamnya tentu tak menyangka. Kenapa Hinata bisa sampai membunuh Neji. Tidak. Hinata satu kali nyaris saja membunuh Takeda, maka rasanya tidak mengherankan aksi pembunuhan lain dilakukan sang gadis. Jauh di lubuk hati Sasuke, dia bersyukur. Dia bersyukur karena mereka bertukar tubuh. Paling tidak, beberapa pasang mata yang menjadi saksi tragedi berdarah itu akan menyimpulkan bahwa Neji dibunuh Sasuke karena memang demikian adanya, demikian penglihatan mereka meransum informasi. Paling tidak, mereka tidak tahu bahwa Hinata-lah yang telah merenggut nyawa sang sepupu dengan tangan dan tubuh Sasuke.

Keduanya hendak melompat ke pepohonan jika saja sebuah bayangan yang muncul dari tanah tak mengejar mereka dan menyeret kaki mereka untuk kembali ke daratan. Sosok Sasuke tampak tak berkutik. Rasa tidak percaya atas apa yang dia perbuat sendiri membuat sang pemuda kehilangan niat untuk kabur, sedangkan sosok Hinata berdecak, terseok mencoba membawa lari sosok Uchiha di sisi kanannya.

Langkah kaki dengan bedebam yang terdengar bising mengalihkan perhatian sejoli buronan pada sosok pemilik helai lazuardi yang menatap garang. Ekor oranye telah muncul dengan jumlah yang nyaris lengkap, yakni delapan. Keduanya memaklumi, memahami alasan kenapa sang peuda melepaskan segel dan menyerahkan diri pada kekuatan Kyuubi. Sasuke terdiam, memikirkan apa yang harus dia lakukan. Ini bukan tubuh dirinya. Dia adalah Hinata. Namun, dengan tubuh Sasuke-lah dia memenggal kepala Neji. Jika sesuatu terjadi pada tubuh tersebut, bisa saja dia kembali ke tubuh asalnya, tapi Sasuke mati.

Oniks yang sejak awal telah gulita kini kian kehilangan cahaya. Jemari putih itu mengepal, tak lagi mengulaskan rona di buku-buku jemarinya. Iris merah menepiskan bayangan yang mengikat kakinya dan Hinata, membuat sepasang lavandula kembali dibuat terheran-heran. Namun, Hinata tahu, apa yang sosok Sasuke akan lakukan selanjutnya dan dia tidak menghendaki itu.

"SHARINGAN!" Suara Hinata memekik, mengaktifkan jurus mata yang dimiliki klan Uchiha, mata miliknya. Dia mencoba mengalihkan perhatian Naruto dan yang lain untuk terjerumus dalam genjutsu. Tentu saja tak mudah, terlebih wujud Hinata tidak dikaruniai untuk melancarkan jurus-jurus dari klan Uchiha. Meski begitu, mereka bisa mengulur waktu, setidaknya membuka peluang untuk bisa melompat pergi.

Sosok Hinata kembali menarik sosok Sasuke untuk undur diri dari sana. mereka tak perlu bertarung di sini untuk sementara ini. Ya, selama mereka masih bertukar tubuh, sebisa mungkin pertarungan harus dihindari atau Hinata akan menyesal lebih dari yang sudah-sudah.

"SHANNARO!"

Sosok merah jambu di luar prediksi lepas terlebih dahulu dari ganjaran genjutsu dan menghadang keduanya di depan. Kepalan penuh chakra diarahkan pada sosok Uchiha, tapi sosok lain mendorong terlebih dahulu sosok sang pemuda dan sebagai gantinya, pipi Hinata-lah yang terkena hantaman tinju kunoichi muda terkuat di Konoha. Sosok Sasuke hendak menukik, menyusul sosok Hinata yang terjatuh. Namun, suara Hinata melantunkan perintah. Nada tinggi dikerahkan oleh suara-suara yang tak familiar dengan volume tinggi.

"PERGI! AKU BISA MENGURUS MEREKA!"

Sosok pemilik oniks terdiam sebelum akhirnya kembali meneruskan perjalanan, menghilang di antara rimbun pepohonan.

"Uchiha-san," gumam sosok Sasuke sebelum dirinya ditelan hutan.


Hinata meludahkan darah dari mulutnya. Dia ingin berdecih, tapi menahan diri. Seorang Hyuuga Hinata tidak akan berdecih. Dia berusaha keras mengingatkan dirinya sendiri. Hari ini mungkin menjadi hari tersial dalam hidupnya. Dia terjebak dalam tubuh Hinata, sementara Hinata di dalam tubuhnya justru membunuh Neji. Kini, dengan tubuh yang kian lemas, lavandula itu tak lagi bisa terbuka lebar. Rasa lelah mengundang kantuk, membuatnya semakin tak tahan berlama-lama terjaga. Sebelum kegelapan merasuki pandangan, sosok Hinata bisa merasakan dirinya dikelilingi beberapa orang.

Naruto masih tak membunyikan apa pun. Tubuhnya bergetar hebat di sisi tubuh Neji. Sakura lentas menghampiri sang pemuda, menepuk bahu berlapiskan jaket oranye-hitam. Shikamaru membopong sosok Hinata yang kehilangan kesadaran.

Pemilik rambut hitam itu membisu menatap mayat Neji. Sebelum akhirnya, dia tahu bahwa mereka harus bergegas kembali.

"Kita kembali ke Konoha."


To be Continued

Thank you!

(Grey Cho, 2016)