Chapter 9: Mifune

"Kau?, seorang Roronoa?, sudah lama sekali...", kata Hanzo tak percaya, namun tiba-tiba...

*Dumm*

Dentuman terdengar dari belakang Zoron kepulan debu menutupi tempat dimana dentuman itu terdengar. Perlahan-lahan debu mulai menghilang dan terlihat se-ekor Gorilla-Kalajengking yang mendarat tepat di samping belakang kanan Zoro.

"Heh Kalian lama sekali..., kemana saja kau, Luffy?", Zoro berbicara tanpa menoleh ke arah bunyi dentuman dibelakangnya.

"Shishishi, maaf Zoro. OI KAAADOOO, KITA LANJUTKAN PERTARUNGAN KITAAA!", teriak Luffy dengan gaya menantangnya dari atas Gori.

"Oi, Luffy kau datang kesini juga?", sang Koki menyulut rokok yang ada di mulutnya berjalan menghampiri Luffy dan Zoro.

Sanji, Nami, Usopp, menyusul Zoro ke dekat desa Amedachi setelah keadaan di pelabuhan terkendali.

"Ou?, Sanji...!"

"Oi, Koki..., bukan aku suruh kau jaga pelabuhan?", tanya Zoro dengan muka malas.

"Memangnya siapa kau memerintahku hah pendekar pedang bodoh?, lagi pula Chopper Brook dan Franky ada di sana, berkat bantuan Heart crew dan prajurit istana yang menjaga pelabuhan, di sana musuh terkendali. Jadi kami kesini."

"Benar kata Sanji, lagi pula Momonosuke aman disana Zoro~", timpal Usopp.

Ya..ya.., terserah..", jawab Zoro malas.

"Fufufu", tawa Robin melihat tiga nakama-nya

"Hhh...Bodoh selalu itu jawabanya", Nami kesal dengan jawaban Zoro sambil menepuk dahinya.

Ditempat Hanzo para prajurit yang tersisa nampak begitu senang dengan kehadiran Hanzo. Mereka terlihat mendapatkan 'moral' untuk kembali bertarung.

"Oi, kau Roronoa...!", teriak Hanzo dari kejauhan.

Semua crew Straw Hat yang ada disana menoleh.

"Hah?", tanya Zoro dengan alis dinaikan sebelah.

"Aku hampir tak percaya seorang Roronoa ada didepanku, inilah kesempatanku..! Bersiaplah...!", ucap Hanzo yang mengeluarkan dua katana-nya dan menyerang dengan cepat, kecepatan yang sama dengan 'Gear Second' Luffy.

"Apa?", Zoro terkejut

Dengan cepat Zoro mengeluarkan Sandai Kitetsu-nya untuk menepis tebasan Hanzo yang tiba-tiba sudah di depannya.

*TSSIINNNGGG*

"Heh...serangan yang bagus, tapi tidak cukup", kata Zoro dengan tatapan membunuhnya menahan serangan cepat Hanzo.

Hanzo menebaskan pedang yang ada di tangan satunya lagi untuk melukai Zoro namun...

*trannngggg*

Kali ini Zoro mengeluarkan katana berwarna hitam Shusui untuk menangkis tebasan itu.

"Apa...?, Shusui...?", Mifune tersentak

"Ya, dan kau akan merasakan ketajaman tebasan Shusui...Bodoh"

*trang tring tring trang*

Suara desingan katana yang beradu terdengar jelas di pertarungan antara Mifune dan Roronoa itu saling bertahan dan menyerang.

*TSANNGG*

Dengan hempasan kuat keduanya menjauh untuk menjaga jarak kembali, mereka berdiam diri untuk mengambil nafas.

"Hhh, ternyata kekuatan tentang clan Roronoa benar, meskipun kau belum menggunakan kekuatan mengerikan itu, heh.."

"Apa maksudmu?", tanya Zoro

"Semua keluarga dan clan-mu habis terbunuh karena kekuatan mengerikan itu."

"Hmp, setidaknya dari apa yang kudengar clan-ku bukan pengecut", kata Zoro membela.

"TIDAK, semua itu karena kekuatan yang terlalu membahayakan seluruh negeri ini, aku merasa kasihan dengan clan Amedachi yang harus menekan kekuatan mengerikan itu, dan berkeluarga dengan mereka."

Zoro hanya menaikan salah satu alisnya tidak mengerti. Hanzo menghela nafas dan melanjutkan bicaranya.

"Seluruh negeri ini hanya bisa berharap pada clan Amedachi jika Roronoa sedang lepas kendali, kalian semua...PANTAS DIBUNUH."

*cekrek*

Mata kanan Zoro menatap tajam ke Hanzo, kepalan tangan Zoro yang sedang memegang Shusui dan Kitetsu memutih dikarenakan tekanan genggaman tangan Zoro menguat mendengar kalimat terakhir Hanzo yang Ia dengar.

"Clan Mifune bisa menandingi clan Roronoa, tapi kami tidak bodoh yang mempertahankan harga diri dan kebanggaan tanpa memperdulikan kelangsungan hidup seperti clan Roronoa dan akhirnya mereka musnah, dan itulah kelemahan 'kalian' hehehe", Hanzo tertawa licik.

Aura Zoro mendingin, terlihat gelap di sekitarnya. Semua crew merasakan perubahan drastis pada nakama-nya itu. Mereka juga mendengarkan semua pembicaraan antara Zoro dan Hanzo.

"Dan kau tau...atas bantuan tuan Kaidou kami clan Mifune bisa membinasakan semua clan Roronoa, maksudku 'hampir' semua clan Roronoa, dan kau akan menyusul keluarga dan clan-mu sebentar lagi, hahahaha."

"Roronoa-san...", kata Kitsune yang menutup mulutnya.

Tatapan Zoro terus mendalam. Mimpi yang terlihat pada saat tidur siangnya di Sunny sebelumnya tergambar kembali di pikirannya. "Apakah bayi itu aku?, apakah wanita itu ibuku?, apakah pria yang membawa lari bayi itu Tosai-san?. Darah itu, teriakan itu, desa itu. Mengapa tidak jelas?, aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas..!, ada apa ini...?", kata Zoro dalam pikiranya, mata Zoro tajam namun kosong tidak terfokus.

Aura dingin yang gelap disekeliling Zoro semakin menguat, hawa dingin tersebut terus dirasakan oleh orang-orang yang ada di sekitar Zoro.

"Zoro...", kata Robin yang melihat nakamanya bukan seperti biasa.

"Robin aku takut", kata Nami yang berpegangan ke Robin.

"Psst Sanji, apakah dia Zoro?, aku merasakan bukan seperti dia~", kata Usopp ketakutan.

"Ya terus lah seperti itu jika kau ingin membalaskan dendam clan-mu, keluarkan semua Aura iblis menjijikan itu, biar mereka tau seberapa mengerikannya kalian, dan karena itulah kalian TERBUNUH", kata Hanzo yang menatap Zoro serius kali ini.

"Oi apa yang kau katakan BODOH", kata Sanji pada Hanzo namun tidak ditanggapi.

Pikiran Zoro semakin kacau, malam saat dia berpisah dengan Tosai tergambar juga di dalam pikiranya. Teriakan Tosai terdengar kembali di benaknya, bayangan mayat Tosai yang tergeletak, darah yang berceceran di ruangan depan tempatnya dia biasa menyimpan shinai-nya, pikiran Zoro semakin mendalam hampir tidak terkendali.

*tap*

Tepukan tangan kiri sang Kapten di pundak kanan Zoro mengembalikan pikiranya yang sudah jauh dari dalam kepalanya. Mata kanan Zoro melebar karena tepukan itu, semua kenangan baik yang di alaminya dengan bajak laut Straw Hat selama ini mengisi pikirannya, wajah tawa nakama-nya semua tergambar sekarang. Dia memejamkan matanya dan terlihatlah senyum khas Zoro kembali terukir di wajahnya.

"Hmp..., aku tidak bertarung dengan alasan seperti itu tapi, aku tetap akan mengalahkanmu", kata Zoro diiringi mata kanannya yang terbuka. Luffy yang ada di samping kanannya ikut tersenyum lebar.

"Oi, Luffy...!, izinkan aku untuk mengamuk" lanjut Zoro.

"Tidak...!", kata Luffy singkat. "Kita berdua yang akan mengamuk", lanjutnya, dan keduanya tersenyum lebar.

"Karena kalian membuat kami menunda makan daging dan minum sake terbaik di negeri ini...!, dan entah ada apa dengan clan yang kalian bicarakan, tapi kalahkan dia Zoro, dia membuatku KESAL...!", kata Luffy dengan semangat sambil mengambil kuda-kuda. Dan Zoro menempatkan Wado Ichimonji di mulutnya.

"Heh", Zoro tersenyum dibalik katana putih yang ada dimulutnya.

"Baiklah, kita juga jangan berdiam saja, ayo..!", Sanji memberi perintah ke crew Topi Jerami untuk berisap mengalahkan sisa para prajurit yang ada di sekeliling area pertempuran.


A/N: Zoro vs Hanzo next chapter^^