Disclaimer: Rina tidak pernah punya Vocaloid lalalala~
Rina: Todokanai yasashii kotoba~
Mel: BakAuthor Rina… *nahan amarah*
Rina: Sasayaite saa ima dake~ *kagak denger*
Mel: Idiot Snapper Flying KICK! *tendang Rina kuat2*
Rina: Kizami… kyaaa, ampun Mel! *lari*
Mel: BakAuthor Rina sie, kagak sadar apa?! Tuh, lihat ke sana! Ke sana tuh! *nunjukin layar*
Rina: *gosokin kepala yang sakit* Aduh… apa s- hwaa! Jadi sedari tadi sudah diputar nih?! Duh, Mel, kenapa kau gak bilang apa-apa padaku?! Padahal aku kan ingin muncul di sisi ini!
Mel: Kan kau sendiri yang dari tadi nyanyi Kaisa no Rasen waktu Disclaimer na sudah kubaca, kan?!
Rina: Err… benarkah?
Mel: YA BENERAN DASAR BAKA! *ngamuk mode on*
Rina: A-ampun… *nunduk takut* o-omong-omong minna-san… berhubung Rina dimarahi ma Mel… Rina ngomong2 lebih jelas di bawah saja ya… ta-tapi jangan lupa buat review ya… h-hwee… ampun Mel… Rina gak bakal nakal… *nangis*
Mel: Kau, itu sebener na sadar apa nggak sie? Bla bla bla- *ngomel tiada henti*
Len POV
"Hei, Mikuo, beritahu aku alasan kenapa aku harus mengikuti kalian ke bukit itu dan jawab dengan benar sekarang," ujarku dengan mendengus kesal.
"Ayolah Len, diam-diam kau sebenarnya ingin ikut bukan? Tidak heran Koharu-san menyukai tempat ini, udaranya memang segar," ujar Mikuo dengan tawanya yang sama sekali tidak menyenangkan. Dia meregangkan kedua tangannya sambil melihat ke arah bukit Sakura dari beranda penginapan.
"Kau memaksaku, ingat?" ujarku dengan bersungut-sungut tapi akhirnya aku melirik ke arah bukit yang membuatku sebal. Bukannya aku benci bunga Sakura, tapi bunga itu hanya membuatku teringat hal-hal jelek.
"Ayolah imut, jangan terlalu memikirkan waktu kita pertama kali kenalan. Memang waktu dan tempatnya kurang pas sih… tapi, karena itu kau bisa disini kan?" Mikuo berkata dengan wajah kurang enak. Dia sepertinya paham benar apa yang dia bicarakan.
"Yang mana? Rumah sakit atau yang panti asuhan?" ujarku dengan ketus. Salah dia sendiri juga yang mengungkit hal-hal seperti itu.
"Sama saja sih… kalau tidak salah waktu itu Sakura di RS juga mekar di luar musim… padahal waktu itu sedang musim gugur. Makanya kau benci sesuatu yang tidak sesuai seharusnya kan?" ujar Mikuo dengan tawa kecil di akhir perkataannya.
Aku hanya mendengus kesal. Aku hanya menjawab, "Jangan mengatakan hal yang bukan urusanmu," ujarku dengan merebahkan tubuhku di atas futon yang sudah disediakan.
"Kau itu sebenarnya suka atau tidak sih berada di sekelilingnya? Tidak biasanya kau tak bisa membedakan hitam dan putih," ujar Mikuo dengan nada sedikit menyindir.
Aku bangkit dari posisiku meski dengan kepala yang sedikit, oke aku bohong, sangat pusing. Aku hanya melihat ke arah Mikuo dengan tatapan tertajam yang kupunya untuk cowok menyebalkan ini. Meski terkadang aku tidak terlalu terima, Mikuo merupakan satu-satunya orang yang dengan sangat jelas bisa membaca pikiranku dan tidak ragu-ragu untuk mendekatiku… meski terkadang dia menjijikkan. Mungkin itu sebabnya aku menjadi temannya… mungkin. Dan pelan-pelan aku mulai menyesalinya… mungkin.
Oke, Mikuo benar, meski aku tidak suka hal-hal yang tidak sesuai dengan apa yang seharusnya, aku sekarang ini sedang kehilangan kemampuan membedakan hitam dan putih karena Mikuo itu adalah perpaduan dua warna yang jelas itu. Tapi kalau begitu nenek sihir itu apa ya? Dan ibunya itu juga… kira-kira mereka warna apa?
Yang jelas hitam atau putih tidak bisa mendefinisikan mereka. Mungkin aku menyebutnya dengan warna pastel atau campuran warna-warna tidak jelas yang memuakkan… memikirkannya aku jadi pusing.
Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara panggilan yang terdengar seperti dari luar memanggil, "Mikuo-kun! Shota-kun! Ayo kita pergi ke bukit! Koharu-san sedang menyapa bibi dan nenek jadi kita disuruh duluan!" ujar suara tersebut dengan sangat jelasnya.
Aku tidak akan salah mendengar atau salah mengenali pemilik dari suara itu. Suaranya tidak jelek, sungguh, tapi sungguh memuakkan di telingaku entah kenapa. Dia bukan kuman, aku tahu itu, tapi aku tidak bisa membuat diriku sendiri menyukai suaranya yang terlalu manis seperti madu itu.
Kau itu berniat menghina atau muji sih?!
"Berisik ah kau! Omong-omong kau itu suara dari mana sih?!" ujarku sambil melihat kesana-kemari mencari sumber suara yang tiba-tiba muncul tanpa diundang.
Memangnya aku perlu kau undang untuk datang?
Aku melihat ke arah Mikuo dan menatapnya dengan tajam, tapi aku bisa melihat bahwa dia tidak mengatakan apapun. Untuk memastikan aku bertanya, "Hei, Mikuo, kau mengatakan sesuatu tadi? Kau tidak bisa ventriquolisme kan?" tanyaku pada Mikuo dengan nada setengah bertanya setengah menginterogasi.
Itu sama saja…
Berisik ah kau, suara tidak diundang.
"Tidak, memangnya kenapa? Oh dan mereka berangkat duluan untuk mencari tempat katanya," jawab Mikuo yang justru memberiku pertanyaan lagi. Dia sepertinya baru saja menanggapi panggilan dari nenek sihir itu. Dari caranya berbicara dia sepertinya berkata bahwa kami (tapi akan kubuat agar hanya diayang akan pergi) akan menyusul mereka belakangan.
Aku hanya menghela nafas panjang-panjang sebelum berkata, "Aku masih normal bukan? Dan memangnya kau benar-benar tidak dengar apa-apa?" ujarku dengan melempar pertanyaan lagi pada Mikuo.
Mikuo hanya menggeleng sebelum menepukkan tangannya kanannya yang terkepal dengan tangan kirinya yang terbuka seakan dia dapat ide. Aku tak akan menyetujuinya jika dia akan menyeretku atau melemparku dari balkoni agar aku sampai di bawah tanpa harus mengejarku (meski aku bisa membayangkan bahwa dia akan melakukannya). Tapi, jika tentang sumber suara aneh ini, mungkin aku bisa menoleransinya.
Hei, bukannya aku menulis ruanganmu ada di lantai 2? Dan aku tidak aneh… gila mungkin tapi tidak aneh.
Dan siapapun atau dari manapun asalmu cepat pergi sana! Kenapa juga kau baca pikiranku dan menyebutnya dengan 'mengetik'? Dan bukannya gila itu lebih parah dibandingkan aneh? Hah, aku harus berhenti menanggapi suara setan ini.
"Mungkin kau mulai menembus apa yang kita sebut dengan tembok ke 4 atau '4th wall' yang semacam itulah! Wah, aku tak tahu bahwa kau sudah sering menembus tembok sebanyak itu!" ujar Mikuo dengan semangat.
'Halo Mikuo, ingat aku berandalan, tembok apa yang tidak kupecahkan? Err, mungkin belum tembok kewarasanku sih. Dan lagi, memangnya tembok ada berapa kok sampai ada yang keempat?' pikirku sendiri tapi aku tak mau mengatakannya karena makhluk hijau ini akan menghabisiku mati-matian.
Mikuo dengan gaya seperti guru, mungkin meniru Hanaume-sensei, sebelum berkata, "Intinya, kau berbicara dengan BakAuthor yang berbicara dengan seseorang atau mungkin sesuatu bernama Mel di author note diatas sana sebelum kita berbicara ini! Wah, wah, sepertinya kau sangat bosan bukan?" ujar Mikuo dengan berlagak pintar meski dia memang sedikit pintar.
Ohohohohohohohohohohohoho…~
"Jadi intinya aku berbicara sendiri? Dan Mikuo… mungkin lebih baik kau berhenti mengikuti kemauan suara tidak jelas ini dan lanjutkan ceritanya. Lama-lama aku bisa gila mendengar suara tawanya yang sama sekali tidak manis," ujarku dengan menunjuk-nunjuk ke arah langit-langit. Aku tidak mendengarkan sebagian besar dari ceramah Mikuo karena aku hanya mendengarkan tawa tidak mengenakkan yang kupikir hanya bisa ada dan dilakukan oleh tokoh-tokoh jahat di komik-komik cewek jaman kawakan.
Mikuo sepertinya mengerti apa maksudku dan berkata, "Oke, memangnya kita sudah sampai mana tadi?" ujarnya balik bertanya kepadaku seakan-akan dia memang lupa. Aku cukup yakin dia memang lupa sih…
"Err, sampai kau berbicara dengan nenek sihir itu? Tapi sekarang dia kan sudah pergi duluan kesana," ujarku dengan menaikkan sebelah alisku karena memang tidak begitu peduli meski aku memang mendengarkan.
Mata Mikuo berubah menjadi sparkle ketika aku mengatakan itu dan dengan tidak enak hati, karena jujur firasatku buruk, aku menanyainya lagi, "Ada apa?" ujarku dengan acuh tak acuh meski melihat wajahnya yang seperti akan berubah menjadi yaoi mode lagi.
Tapi sepertinya Mikuo kali ini mengerti pelajarannya dan berkata, "Oh tidak, aku hanya berpikir bahwa sebenarnya kau memperhatikanku ya Len sayangku?" ujarnya dengan mode yaoi.
Spontan darahku naik ke ubun-ubun mendengarnya dan dengan menahan amarah aku mencengkram sebuah bantal. Mikuo yang sepertinya entah blo'on atau memang nekat kemudian berkata, "Shota shota moe-kyun ~" ujarnya sebelum kemudian menyanyikan lagu 'Balon dia ada lima' sambil bertepuk tangan namun mengganti kata balon dengan shota.
Tanpa basa-basi aku langsung melemparkan bantal yang ada di tanganku ke arahnya dengan sekuat tenaga. Tapi sialnya, Mikuo berhasil menghindar dan menangkap benda putih berisi kapuk itu sambil berkata, "Upsie, lemparanmu masih lumayan kuat rupanya. Pelatih Baseball SMP kita bisa menangis melihat ini," ujarnya dengan bantal di tangannya. Tapi, dengan segera dia melemparkan balik benda itu ke arahku.
Aku tidaklah bodoh untuk tidak melihat bahwa Mikuo melemparkannya dengan cukup keras dan tepat sasaran, sehingga aku menghindar untuk mengambil amunisi. Mengenal Mikuo, aku yakin dia diam-diam sudah memiliki bantal lagi di belakangnya, dan benar saja karena aku melihat bantal lain melayang ke arahku. Hah, memangnya aku bodoh apa?!
"Kalau kau memang begitu ingin membuatku masuk klub Baseball, lakukan saja sendiri… sana!" ujarku dengan melemparkan tiga buah bantal secara bergantian ke arah Mikuo yang masih dengan gesit mengelak dan mengembalikannya ke arahku.
"Kau ingat aku masih di klub Atletik dan jangan mengalihkan pembicaraan!" ujarnya seraya mengembalikan bantal-bantal yang kulemparkan dengan tenaga yang lebih besar.
Aku menghindar sambil menangkapi satu persatu bantal yang melayang sebelum kulanjutkan dengan mengomel, "Kan kau sendiri yang mulai membahas soal klub! Jangan menyalahkan orang lain seenakmu sendiri!" omelku dengan memastikan bahwa kali ini harus kena wajahnya yang menjijikkan itu.
Tapi memang Mikuo yang sedikit berkelit atau dianya saja yang memang lincah, dengan menggunakan kemampuannya sedikit lebih banyak dari tadi dia berhasil berkelit hanya saja karena dia tidak menangkap bantal yang kulempar lagi, bantal tersebut jatuh ke bawah dengan sukses.
"Tapi kau juga melanjutkannya dan sekarang lihat! Kau membuat salah satu bantal penginapan bertemu dengan tanah! Bagaimana kalau kena orang lain hah?!" ujarnya dengan nada protes. Untuk menambah kesan dramatis, dia juga menunjuk-nunjuk lantai bawah dimana bantal tersebut berada.
Aku hanya menunjuknya sambil balas menjawab, "Itukan salahmu karena menghindar dari bantal yang kulempar Mikuo!" protesku sambil balas memarahinya.
"Siapa juga yang mau terkena seranganmu, meski cuman bantal, dengan telak dasar baka! Yang jelas, kau kan bisa yang namanya loncat dari lantai dua!" ujar Mikuo dengan bersungut-sungut hingga berani mengataiku bodoh.
Aku menahan amarahku untuk tidak meninju manusia negi busuk itu sekuat tenaga. Hah, aku masih ada ide lain lagi yang lebih mudah dilakukan dibandingkan menjatuhkannya dari balkoni. Aku pernah meninjunya dari lantai 3 gedung sekolah dan bukannya mati dia masih bisa berjalan kesana kemari sambil menyumpahiku gara-gara aku nyaris membunuhnya, katanya tapi toh dia masih hidup.
"Oke, fine! Gue layanin keinginan loe! Jatuh ke mana sih?" ujarku dengan tanpa basa-basi tata krama. Aku sedang marah dan kesal jadi tata krama bisa datang belakangan.
Mikuo memutar bola matanya seakan kesal ketika aku berjalan mendekati lobi sebelum berkata, "Jatuh ke planet Mars tuh! Ya jatuh ke bawah lah! Masak ada jatuh ke atas? Memangnya kita di luar angkasa apa yang hampa udara?" ujar Mikuo dengan nada protes.
Aku hanya mendengus menahan tawa sebelum berkata, "Kau hidup tidak kalau kubuang ke sana?" ujarku dengan sedikit melihat ke arah dimana bantal itu jatuh. Setidaknya bantal terkutuk itu masih belum jatuh ke kolam atau semacamnya. Jika jatuh ke pemandian air panas cewek, itu lain lagi ceritanya.
"Ya nggaklah sahabatku sayang. Selama aku masih mengingat, aku adalah manusia alami murni tanpa bahan pengawet bahan ki-" sebelum Mikuo selesai menjelaskan kandungan tetek bengek dari bungkus makanan sudah kujitak kepalanya duluan.
"Berisik ah kau, tidak lihat apa aku sedang mencari barang?" ujarku dengan acuh tak acuh dan tidak mendengarkan rintihan kesakitan Mikuo yang sama sekali tidak menarik, toh dia akan sembuh kembali setelah kutinggal beberapa menit.
Tapi, sepertinya bahkan Mikuo pun terkadang ingin menghajarku sedikit karena tiba-tiba aku merasakan tubuhku terjungkal ke depan melewati pagar ketika aku mendengar, "Mou, Len-kun kau juga sering sekali memukulku, sakit tahu!" ujarnya ketika aku merasakan bahwa tubuhku mulai melayang di udara dengan kepalaku di bawah.
Panggil ini reflek atau apa, saat aku menyadari, aku sudah mengayunkan kakiku ke depan sehingga aku melakukan roll di udara dan efektif mengubah posisi kepalaku yang ada di bawah kembali di atas. Dengan sedikit mengeluarkan tenaga dan mengatur kakiku untuk menjadi tumpuan, aku mendarat dengan aman dan meski kurang terlalu nyama di atas tanah yang terasa sedikit basah (mungkin baru disiram?) dengan bantal yang kucari berada di sebelahku.
"Uwaah… hampir saja! Mikuo, apa loe bodoh ya? Loe nyaris membunuh gue atau setidaknya membuat gue masuk RS tadi!" protesku dengan mengarahkan jari tengahku dan bahkan tidak mempedulikan bahasa caci makiku yang kutujukan ke arah Mikuo.
Mikuo hanya menjulurkan lidahnya sebelum menjawab, "Itu balasan karena memukulku dari lantai 3 sekolah dulu!" ujarnya dengan nada mengomel.
Aku hanya mendengus kesal dan mencengkram bantal yang kucari sebelum langsung kulemparkan ke arah wajah Mikuo yang masih saja menjulurkan lidahnya ke arahku dengan sekuat tenaga. Dengan nada marah aku berteriak, "Loe masih hidup kan?! Kalo marah, makan nih bantal!" omelku saat bantal tersebut terlempar melawan gravitasi menuju ke arah Mikuo yang tidak mengantisipasinya.
"A-" bahkan sebelum Mikuo mengatakan apapun, wajahnya terkena bantal yang sudah kotor dan menghilang dari balkoni untuk sementara. Aku hanya tertawa dalam hati melihatnya dan melihat ke arah jalan yang mengarah menuju bukit.
Aku menggerutu sebentar ketika aku mendengar suara yang lembut, mirip seperti suara petikan dari koto, memasuki telingaku dengan lembut.
"Kagamine… Len-san?" ujar suara itu dengan lembut dan indahnya.
Aku tak mungkin salah dengar karena suara itu jelas-jelas memanggil namaku seakan ingin memastikan bahwa dia tidak salah orang. Aku spontan melihat ke arah sumber suara dan melihat seorang wanita menggunakan kimono penginapan yang memiliki motif bunga Camellia berwarna merah darah dan juga hiasan rambut yang menyerupai burung merak.
Wanita itu sendiri memiliki warna rambut berwarna merah muda seperti bunga Sakura yang panjangnya hingga pinggang dan dengan mata berwarna biru seperti langit yang cerah di musim panas. Kulitnya berwarna putih dan tampak lembut seperti susu serta posturnya yang tegap membuatnya tampak seperti Yamato Nadeshiko yang muncul dari dalam lukisan.
Namun yang paling penting siapa dia? Kenapa dia tahu namaku?
Dia tampaknya senang karena aku membenarkannya karena dia dengan segera berkata, "Syukurlah aku tidak salah lihat… apa kau mengingatku Len-san? Aku Luka, Megurine Luka. Kita bertemu di penginapan ini ketika kau masih berumur 2 tahun… ah, mungkin kau sudah melupakannya tapi…" sebelum seseorang yang mengaku bernama Megurine Luka ini menyelesaikan ceritanya, terdengar suara panggilan dari dalam penginapan sehingga dia pamit permisi.
Aku hanya bisa mengawasi gerak-geriknya ketika dia berjalan menuju penginapan. Bertemu aku saat berumur 2 tahun? Tidak, tidak mungkin… ini adalah pertama kalinya aku pergi ke tempat ini… tidak mungkin aku pernah kesini kecuali…
"Aaah, gawat, sepertinya dia mengingat sesuatu lagi…"
Rina: And selesai! Chapter ini akhirnya terselesaikan juga dan Rina amat sangat ngantuk~ hoamm...
Mel: Padahal ingin berbicara tapi malah ingin tidur... dasar tidak punya pendirian
Rina: Ini kan salah otakku yang dapat ide malem2 habis nulis capek ya tidur
Mel: Baiklah, sana tidur, katamu besok harus mulai mencoba nulis PDH sapa tahu dapet ide lagi kan?
Rina: Ah iya, bener juga. Baiklah Minna-san semuanya, mendengar situasi yang dibilangin Mel, Rina mau tidur dulu ya, oyasuminasai dan jangan lupa buat ritual RnR~
