Title: Secret Between Us
Pairing: This FF will be focused on KaiSoo as main pairing
Cast for this chapter: D.O EXO as Do Kyungsoo (Girl), Kai EXO as Kim Jongin (Boy), Kris as Kris Wu (Boy), Kyungsoo's mom (OC), A mysterious guy with his dad
Rate: T
Genre: Romance, Hurt, Family, Drama, Friendship
Length: Chaptered [8/?]
Summary:
Setelah sekian lama, akhirnya rahasia itu terungkap. Walaupun mungkin semuanya sedikit terlambat...
NOTE: special for Syifa Salsabilaa yang beberapa waktu lalu request FF hurt :)
Nanti bakal ada slight crack couple, tapi endingnya sih tetep official aja. aku gak begitu suka crack
GENDERSWITCH | CHAPTERED | AU | OOC | TYPO | DLDR | NO PLAGIAT
Previous Chapter:
Tambahan pernyataan dari Kris membuat Jongin bingung. Apalagi ekspresi yang tercetak di wajah Kris terlihat aneh di mata Jongin. Kris seperti menyimpan obsesi tersendiri. Pada akhirnya Jongin memutuskan untuk bertanya. "A-apa maksudmu, ge? Ke-kenapa kau ingin menemukan Kyungsoo?"
..
HAPPY READING
Chapter 8 (Revealed)
..
Ekspresi wajah Kris yang tadinya aneh dan seperti menyimpan misteri, kini tiba-tiba berubah. Ekspresi wajah pria bule itu menjadi sedikit lebih lembut.
"Kyungsoo adalah malaikat penolongku. Kau tahu 'kan kalau adikku meninggal karena kecelakaan sepuluh tahun yang lalu?" tanya Kris. Jongin menjawab dengan kata 'ya', dan Kris lanjut bicara. "Sepuluh tahun lalu aku masih tinggal di China karena memang aku berasal dari China. Ayahku —yang saat itu belum pindah ke Korea- mengajakku liburan ke Korea untuk menghiburku karena aku merasa sangat sedih setelah adikku meninggal."
Kris mengambil jeda sejenak. Sepertinya begitu perih untuk menceritakan semuanya. Kehilangan seorang adik yang sangat disayanginya tentu membuat dirinya terpukul. Apalagi saat itu usia Kris terbilang masih belia.
"Tapi ternyata saat di Korea aku tetap merasa sedih. Aku benar-benar belum bisa merelakan kepergian adik tersayangku," kembali Kris mengambil jeda. "Pada suatu hari, aku pergi ke taman sendirian dan duduk di sebuah bangku taman. Disanalah aku bertemu dengan Kyungsoo yang saat itu masih berusia delapan tahun."
"Gege bertemu dengan Kyungsoo kecil?" tanya Jongin.
"Ya. Saat itu Kyungsoo menghampiriku, dan duduk di sebelahku. Ia memperkenalkan dirinya, kemudian mulai menghiburku. Sepertinya wajahku benar-benar terlihat menyedihkan sampai Kyungsoo berinisiatif untuk menghiburku," Kris terkekeh sebentar. "Kau tahu, Jongin? Kyungsoo itu benar-benar malaikat. Ia menghiburku padahal ia tak tahu namaku. Ia berkata bahwa jika aku bersedih, aku hanya harus memanggil nama Kyungsoo tiga kali, dan kesedihan itu akan hilang. Bukankah itu konyol?"
Jongin tersenyum mendengar cerita Kris. Ia tak menyangka jika sejak kecil Kyungsoo sudah menjadi sosok yang penuh perhatian pada orang lain. Ia benar-benar tak salah karena jatuh dalam pesona gadis itu.
"Tapi, yang paling tak bisa kulupakan dari seorang Do Kyungsoo adalah ketika ia memberiku buket bunga mawar putih yang ia beli dengan uang tabungannya. Ia bilang bunga itu seharusnya untuk ibunya, tapi ia justru memberikannya padaku. Ia berkata bahwa ibunya saat itu tidak sedang bersedih, dan aku lebih membutuhkan bunga itu karena aku sedang bersedih. Bukankah itu sangat manis?"
Kris tertawa kecil, tapi matanya terlihat basah. Apa seorang Kris bisa meneteskan air mata karena tingkah manis Kyungsoo? Begitu hebatnya sosok Kyungsoo karena biasanya Kris selalu dikenal sebagai sosok yang dingin dan sangat jarang menangis.
"Aku merasa senang saat bertemu Kyungsoo di cafe ini. Aku tentu masih mengingat namanya karena aku selalu berjanji pada diriku sendiri untuk menemukannya dan melindunginya sepenuh hatiku," Kris bicara lagi. "Usia Kyungsoo sama dengan usia mendiang adikku. Itulah yang membuatku menganggap Kyungsoo layaknya adikku sendiri. Bisa dibilang, aku memiliki obsesi untuk menjaga Kyungsoo."
Kris mengakhiri cerita panjangnya dengan sebuah senyuman manis. Ia menyeka air mata yang nyaris menetes dari matanya, kemudian kembali menatap Jongin.
"Aku tidak tahu jika gege memiliki cerita yang seperti itu," ucap Jongin.
"Aku memang tidak pernah bercerita pada orang lain. Kyungsoo saja sampai sekarang tidak tahu bahwa aku adalah orang yang ia hibur sepuluh tahun silam," Kris tertawa lirih. "Nah, Jongin. Kau sudah tahu tentang kisah hubunganku dengan Kyungsoo. Sekarang giliranmu untuk bercerita. Sepertinya kau cukup dekat dengan Kyungsoo, 'kan?"
Jongin mendadak salah tingkah setelah mendengar pertanyaan sahabat lamanya. "Ka-kami tidak terlalu dekat."
"Benarkah?"
"Berhenti menggodaku, ge!" wajah Jongin kini bagaikan kepiting rebus. "Baiklah, aku akan bercerita. Saat ini Kyungsoo dan ibunya tinggal di rumahku setelah mereka diusir dari rumah kontrakan mereka."
"Apa? Diusir? Tinggal bersamamu?"
"Ya," Jongin mengangguk. "Aku juga yang meminta Kyungsoo untuk berhenti bekerja di cafe ini."
"Mwo? Jadi kau yang menyebabkan aku kehilangan satu pegawai teladan disini? Aigoo~ rasanya aku ingin membunuhmu, Kim Jongin!"
"Memangnya kenapa, ge? Aku ingin Kyungsoo hidup enak tanpa harus bekerja. Apa aku salah?"
Kris memijat pelipisnya pelan. "Aku jadi tidak bisa mengawasi dan menjaga Kyungsoo gara-gara ia berhenti bekerja. Niatku untuk selalu melindunginya jadi pupus begitu saja. Kau menyebalkan!"
Jongin terkekeh melihat sahabatnya itu frustasi. "Benar gege hanya ingin melindunginya? Tak ada maksud lain?"
"Apa maksudmu, Jongin? Aku 'kan sudah bilang kalau aku sudah menganggap Kyungsoo seperti adikku sendiri. Tentu tidak ada maksud lain."
"Kalau begitu gege tidak usah repot-repot memikirkan keselamatan Kyungsoo lagi, karena saat ini aku yang melindungi Kyungsoo."
"Memangnya kau itu siapa-nya Kyungsoo? Kekasihnya?"
Jongin menyeringai. "Aku adalah calon kekasih Kyungsoo. Jadi sebaiknya gege menyingkir saja."
"Ja-jadi benar kau jatuh cinta pada Kyungsoo? Bagaimana bisa?"
Jongin mengangguk. "Aku bahkan sudah menyatakan perasaanku pada Kyungsoo tadi pagi," jawab Jongin dengan bangga. "Dan kurasa aku tak perlu menjawab pertanyaan gege yang kedua karena ceritanya akan panjang. Gege tahu 'kan kalau aku selama ini belum pernah jatuh cinta?"
"Kau benar-benar sudah menyatakan cinta pada Kyungsoo? Lalu, apa dia menerimamu?" Kris mengabaikan pertanyaan Jongin, dan ia malah memberi pertanyaan baru pada pria muda itu.
Wajah Jongin sedikit berubah murung. "Ia memintaku untuk memberinya waktu. Ia ingin berpikir dulu," jawab Jongin lesu.
"Pasti ia mempertimbangkan status sosial kalian, 'kan?" tanya Kris, dan Jongin mengangguk. "Ia memang selalu memikirkan perbedaan status sosial. Ia adalah gadis yang cukup rendah diri. Kau harus bersabar."
Jongin mengangguk paham. Memang benar apa yang dikatakan oleh Kris.
"Oh iya, Jongin," kembali Kris memanggil Jongin. "Kau harus memberikan seluruh nyawamu untuk melindungi Kyungsoo. Aku memiliki firasat yang buruk tentangnya. Aku merasakan firasat ini saat aku akan kehilangan adikku."
Jongin terlihat cukup terkejut karena perkataan Kris. Ia tahu dengan pasti bahwa Kris tak sedang bermain-main. Hal itu terlihat jelas dari wajah Kris yang sangat serius.
"Aku akan memberikan seluruh nyawaku untuk melindungi Kyungsoo, ge. Aku berjanji."
...
Senyum tak pernah meninggalkan wajah cantik Kyungsoo saat ia dan Jongin sedang berada dalam perjalanan pulang.
"Kau tampak senang sekali, hm?" tanya Jongin tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan ramai di depannya.
Kyungsoo menoleh pada Jongin. Ia masih terus tersenyum manis. "Aku tadi bercerita tentang banyak hal dengan Tao dan Yixing eonni," Kyungsoo mulai bercerita dengan antusias. "Kau tahu, Jongin? Dua hari yang lalu sahabatmu resmi berpacaran dengan Tao. Kukira aku akan sedih dan patah hati, tapi ternyata aku tadi malah merasa sangat senang."
Jongin menepikan mobilnya secara mendadak begitu ia mendengar ada yang janggal dari kalimat Kyungsoo. Mobil merah milik Jongin kini berhenti sempurna di pinggir jalan.
"Kau tadi bilang apa? Patah hati?" tanya Jongin. Dengan polos Kyungsoo mengangguk. "Kenapa patah hati? Jangan bilang kalau kau...menyukai Kris gege?"
"Aku memang sempat mengira bahwa aku menyukai Kris oppa, tapi ternyata aku salah. Aku hanya mengagumi Kris oppa," jawab Kyungsoo. "Memangnya kenapa? Kau cemburu?" goda Kyungsoo.
"Tentu saja aku cemburu. Aku mencintaimu, Kyungsoo!"
Kyungsoo justru tertawa saat melihat wajah Jongin yang memerah karena menahan amarah. "Kukira seorang Kim Jongin tidak bisa mengeluarkan ekspresi. Ternyata aku salah. Kim Jongin bisa berekspresi, dan aku lebih suka pada Kim Jongin yang ekspresif."
"Jadi kau suka melihat ekspresi marahku?"
Kyungsoo nyengir polos. "Jika memang hanya itu ekspresi yang bisa kulihat, maka aku akan suka."
"Kau benar-benar suka melihat ekspresiku?" Kyungsoo mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Jongin. "Kalau begitu, aku berjanji akan menunjukkan ekspresi di wajahku, tapi itu hanya untukmu. Dan berjanjilah untuk berhenti membuatku memunculkan ekspresi marah di wajahku. Karena ketika aku benar-benar marah, kau tak akan menyukai ekspresiku itu."
Kyungsoo tersenyum, lalu membelai bahu tegap Jongin dengan lembut. "Baiklah, aku berjanji. Jadi, bisakah kau tersenyum padaku sekarang? Ekspresimu yang menjadi kesukaanku adalah senyumanmu."
Tak perlu menunggu lama bagi Jongin untuk mengangkat dua sudut bibirnya. Ia benar-benar tersenyum tulus pada sosok Do Kyungsoo. Senyum yang memang secara khusus ia persembahkan hanya untuk sosok terkasihnya.
"Senyum ini akan selalu kuberikan padamu jika kau mau menjadi milikku, Kyungsoo," ujar Jongin setelah ia berhenti tersenyum. "Aku akan menunggumu..."
...
Hari sudah hampir malam ketika Jongin sedang sibuk berkutat dengan laptop hitamnya.
Mata elang pemuda itu terfokus secara sempurna pada layar datar di depannya. Dengan bermodalkan koneksi internet, ia segera meluncur menuju halaman depan Google.
Jemarinya dengan lincah kini mulai mengetikkan sebuah nama yang tadi diperoleh dari sepupu tersayangnya. Jika memang sepupunya itu tak sanggup mencari informasi lebih lanjut tentang pria yang mencurigakan kemarin, maka ia kali ini ingin mengandalkan bantuan mesin pencari Google. Siapa tahu pria itu orang terkenal. Pria itu kaya raya, bukan? Biasanya orang kaya seperti itu cukup populer. Begitulah asumsi Jongin.
Dengan kecepatan internet yang sangat super, saat ini sudah terpampang hasil pencarian di tab yang dibuka oleh Jongin.
Mata Jongin memicing meneliti satu demi satu hasil yang ada. Ia mengernyit ketika ia menemukan nama belakang pria itu, namun dengan marga yang berbeda. Kenapa bisa begini?
Dengan iseng Jongin meng-click hasil teratas yang tersaji di layar. Begitu laman itu terbuka, Jongin dengan serius membaca satu demi satu kalimat yang tertera.
"Do Minjoon?" tiba-tiba Jongin berbisik. Sepertinya ia bertanya pada dirinya sendiri setelah ia membaca sebuah nama lain yang muncul di laman yang telah dibukanya.
Ada keterkaitan antara Do Minjoon dengan pria yang mau mencelakai Kyungsoo. Namun ia merasa belum memperoleh informasi yang cukup, jadi ia menekan pilihan back, dan kembali ke laman pertama Google.
Kali ini Jongin mengetikkan nama 'Do Minjoon', dan segera melanjutkan pencariannya.
Pada pencariannya kali ini, terdapat banyak hasil yang mencantumkan nama 'Do Minjoon' di dalamnya.
Jongin menyimpulkan bahwa sepertinya sahabat ayahnya itu cukup terkenal. Mungkin terkenal di dunia bisnis. Dunia yang selama ini cukup diabaikan olehnya. Dan memang orang yang tak terlibat langsung di bidang bisnis tak akan banyak tahu mengenai informasi dunia bisnis, 'kan?
Jongin lagi-lagi membuka link teratas. Dengan cepat ia menemukan profil Do Minjoon.
Ia baca dengan seksama informasi yang tersaji disana. Matanya membulat tak percaya. Ternyata, pria yang ia curigai belakangan ini adalah putra sulung Do Minjoon. Iya. Seandainya pria itu memiliki marga 'Do' di depan namanya.
Tapi nyatanya apa? Bukan marga 'Do' yang ada di depan nama si pria.
Jongin menggelengkan kepalanya. Mungkin ia cukup pusing memikirkan semua ini. Ia selanjutnya memutuskan untuk kembali membaca informasi yang ada.
Ayahnya benar, Do Minjoon memang memiliki dua istri. Istri pertamanya bernama Kim Minjung. Seorang wanita cantik dengan senyum menawan. Jongin bisa tahu hal itu karena terdapat foto wanita itu di laman yang ia buka.
Jongin mencari informasi mengenai nama istri kedua Minjoon, namun hasilnya nihil. Di laman itu disebutkan bahwa nama istri kedua Minjoon dirahasiakan, dan hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahuinya. Hal itu disebabkan oleh banyaknya pihak yang menentang pernikahan kedua Minjoon, dan ia tak ingin istri keduanya itu disudutkan oleh media.
Jongin kembali membaca dengan serius. Ia membaca sebuah rumor yang menyatakan bahwa istri kedua Minjoon melahirkan anak pertamanya dalam waktu yang hampir bersamaan dengan saat istri pertamanya melahirkan anak kedua —karena istri pertamanya itu sudah memiliki seorang putra sebelumnya-. Disebutkan bahwa perbedaan waktu melahirkan dua wanita itu hanya dalam hitungan hari.
Namun disebutkan pula bahwa anak yang dilahirkan oleh istri pertama Minjoon meninggal bersamaan dengan sang ibu. Sedangkan istri kedua Minjoon melahirkan dengan selamat.
Informasi mengenai dua istri Minjoon berakhir sampai disitu. Jongin masih terus membaca, dan kali ini berkaitan dengan putra sulung Minjoon.
Beredar kabar bahwa putra sulung Minjoon dibawa pergi oleh kakeknya ke Belanda. Kakeknya itu merupakan ayah dari Kim Minjung, dan menjadi satu pihak yang menolak pernikahan Minjoon dengan istri keduanya.
Bahkan beredar rumor bahwa putra sulung Minjoon itu hingga kini sangat membenci ibu tirinya karena ia dipengaruhi oleh sang kakek. Namun tak ada yang tahu tentang kebenaran rumor itu.
Jongin mengakhiri pencariannya dengan melakukan beberapa pijatan di pelipisnya. Semuanya begitu membingungkan.
Jongin mencoba menganalisis keadaan. Ayahnya berkata bahwa Do Minjoon pindah ke Belanda setelah istri pertamanya meninggal, dan bisa jadi ia pergi tanpa mengajak istri keduanya. Bisa jadi, istri keduanya itu merupakan ibu Kyungsoo, dan itu berarti Kyungsoo merupakan putri Do Minjoon.
Namun kasus tetap belum terpecahkan. Kali ini ia berpikir tentang kakak tiri Kyungsoo yang membenci ibu Kyungsoo. Jika memang benar kakak tiri Kyungsoo ingin melakukan hal yang buruk pada Kyungsoo, maka itu beralasan karena ia memang membenci ibu Kyungsoo, dan otomatis ia juga membenci Kyungsoo.
Tapi masalahnya, pria yang dicurigainya kemarin memiliki marga yang berbeda. Pria itu tidak memiliki marga 'Do' di depan namanya. Kecuali jika pria itu sengaja mengganti marganya sebagai penyamaran supaya niat jahatnya tidak diketahui banyak orang.
Mata Jongin membulat secara tiba-tiba. Ia baru menyadari satu hal. Bukan hal yang mustahil jika putra keluarga 'Do' yang kaya raya itu mengubah marganya untuk sementara, 'kan? Uang bisa melakukan semua itu. Kenapa sedari tadi Jongin berpikiran sempit?
'Ini gawat. Aku merasa bahwa Kyungsoo sekarang sedang dalam bahaya!'
Karena merasa sangat panik, Jongin langsung berlari keluar dari kamar. Ia langsung berlari ke kamar Kyungsoo, dan membuka kamar itu dengan brutal. Ia bahkan mencari ke kamar mandi di dalam kamar itu, tapi hasilnya nihil. Kyungsoo tidak ada disana.
Dengan cepat Jongin meninggalkan kamar gadis yang ia cintai, lalu membuka pintu kamar ibu Kyungsoo tanpa mengetuk pintu lebih dulu.
Ia lantas mendekati ibu Kyungsoo yang sedang berjongkok untuk membersihkan pecahan kaca. "Bibi, dimana Kyungsoo sekarang?" tanya Jongin dengan panik.
Ibu Kyungsoo bisa melihat dengan jelas kepanikan Jongin. "K-Kyungsoo pergi ke supermarket untuk belanja bahan makanan."
Wajah Jongin bertambah panik. "Apa ia pergi sendirian?"
Ibu Kyungsoo mengangguk, dan Jongin sekarang benar-benar panik.
Tiba-tiba mata Jongin melirik pada pecahan kaca yang berserakan di lantai. Itu adalah bingkai foto Kyungsoo! Firasat Jongin benar-benar buruk.
"Bibi tak sengaja memecahkan bingkai foto Kyungsoo. Bibi merasa ada hal buruk yang akan terjadi pada Kyungsoo. Tolong bantu Bibi untuk menemukan Kyungsoo, Jongin-ah. Bibi mohon..."
Jongin hanya mengangguk menanggapi permohonan ibu Kyungsoo. Tak mau membuang banyak waktu, ia segera berlari keluar dari kamar ibu Kyungsoo.
'Apa kau baik-baik saja, Kyungsoo?'
...
In other place...
Seorang pria paruh baya bergerak dengan kursi rodanya. Pria itu memasuki kamar putranya dengan membawa kotak kado di pangkuannya.
Senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Sepertinya sudah lama sekali pria itu tak memberikan hadiah untuk putranya, dan ia sekarang merasa senang saat bisa memberi putranya itu hadiah lagi.
Pria itu akhirnya sampai di ranjang putranya, kemudian ia meletakkan kotak kado berbungkus biru itu di atas ranjang. Ia tersenyum melihat kotak itu bertengger manis di atas ranjang.
Kemudian pria yang rambutnya sudah memutih itu mengalihkan pandangannya menuju meja nakas di samping ranjang. Lagi-lagi senyumnya terkembang saat ia melihat sebuah bingkai foto seorang wanita cantik yang sangat ia cintai. "Rupanya kau masih ingat pada ibumu."
Setelah puas memandangi foto mendiang istrinya, pria itu kembali mengalihkan pandangannya. Ia tiba-tiba mengernyit saat mendapati map plastik yang tergeletak di samping foto mendiang istrinya.
Entah apa yang membuat pria berwajah bijaksana itu mengambil map yang tampak asing, dan akhirnya membuka map itu.
Mata sipit pria itu langsung membulat saat melihat apa isi dari map itu. "Do Kyungsoo..."
"APPA!"
Mendengar suara bentakan, pria paruh baya itu refleks menjatuhkan map-nya. Untungnya, kali ini ia tak terkena serangan jantung.
Pria yang masih terlihat tampan itu mendapati putra sulungnya menatap tajam padanya.
"Apa yang appa lakukan di kamarku? Kenapa masuk tanpa izin?"
"I-itu...kau...kau mencari Do Kyungsoo?"
Sang anak tampak sedikit terkejut mendengar pertanyaan ayahnya, tapi ekspresinya tetap terlihat datar. "Aku tidak mencarinya, tapi aku sudah menemukannya."
"Untuk apa kau mencarinya?" kembali sang ayah bertanya.
Seringai jahat muncul begitu saja di wajah sang anak. "Memangnya kenapa, appa? Aku hanya ingin sedikit bermain-main dengan adik tiriku. Apa itu salah?"
Ekspresi sang ayah berubah marah. Ia mengepalkan dua tangannya tanda amarahnya sudah hampir meluap. Tapi ia tahan seluruh emosinya. Ia tak mau tiba-tiba terkena stroke lagi. Ia harus menjelaskan semuanya pada sang putra. Ia tak ingin rahasia itu terkubur selamanya.
"Ia bukan adik tirimu..."
Sang pria muda mengernyit. "Apa?"
Sang ayah menghela nafas sejenak. Ia berusaha tenang sebelum memulai cerita panjangnya. "Sebenarnya..."
...
Wajah Jongin basah oleh air mata. Ia berlari mendorong hospital bed yang membawa Kyungsoo.
Kyungsoo tergeletak tak berdaya di atas ranjang dorong itu. Kepalanya penuh darah, begitu pula dengan beberapa bagian tubuhnya yang lain.
Kira-kira dua puluh menit yang lalu Jongin menemukan Kyungsoo. Tapi ia menemukan sosok itu sedang berada dalam kondisi yang sangat buruk. Ia terlambat. Ia benar-benar datang terlambat hingga Kyungsoo kini terbaring lemah penuh darah.
Dua puluh menit yang lalu Jongin melihat kerumunan orang di depan supermarket. Ia memutuskan untuk mendekati kerumunan, dan ternyata di tengah kerumunan itu terdapat Kyungsoo yang tergeletak di aspal dengan darah yang menggenang di sekitarnya.
Korban tabrak lari. Itulah yang dikatakan oleh salah satu saksi mata. Saksi itu juga menyebutkan bahwa Kyungsoo ditabrak secara telak oleh sebuah mobil sedan berwarna hitam.
Jongin merasa begitu takut. Ia takut kehilangan. Ia bahkan belum memiliki Kyungsoo, tapi Kyungsoo seolah sudah akan pergi darinya.
Dengan lemah Jongin menggenggam jemari Kyungsoo yang juga berlumuran darah. 'Bertahanlah, Kyungsoo. Kumohon.'
...
Sebuah mobil sedan hitam berhenti di area parkir rumah sakit. Tak lama kemudian, nampak seorang pria tinggi keluar dari mobil itu dengan tergesa.
Ia bahkan membanting pintu mobilnya sebelum akhirnya ia berlari menuju koridor rumah sakit dengan air mata yang mulai membanjiri pipinya.
Ia mengabaikan keberadaan resepsionis, dan ia langsung meluncur menuju ruang IGD. Ia yakin bahwa gadis yang ditabraknya tadi langsung masuk IGD karena kondisinya sangat parah.
Langkah panjang pria itu berhenti beberapa meter di depan ruang IGD. Nafasnya terengah, dan air mata benar-benar membasahi wajahnya.
Ia baru akan kembali melangkah saat langkahnya dihadang oleh pria berkulit tan yang menatapnya dengan tajam.
"Mau apa kau kemari?" tanya si pria tan yang tak lain adalah Kim Jongin.
"A-aku ingin...aku ingin melihat kondisi adikku," jawab pria itu. Ia kesulitan untuk bicara karena terlalu banyak menangis.
Wajah Jongin tampak kacau, tapi ia masih bisa menyeringai. "Kau ingin memastikan apakah adik tirimu itu sudah mati atau masih hidup 'kan setelah kau menabraknya?"
Pria yang ditanya kini membulatkan matanya. Ia tak percaya bahwa Jongin mengetahui segalanya. Tapi, ada satu hal yang tidak diketahui oleh Jongin.
"Dia bukan adik tiriku..."
FLASHBACK
"Sebenarnya...aku tidak pernah menghamili Shin Hyerin. Hyerin adalah seorang petugas bersih-bersih di sebuah klub malam, dan sebelumnya aku sama sekali tak mengenalnya. Ibumu adalah orang yang mengenalkanku pada Hyerin. Hyerin adalah sahabat karib ibumu, dan ibumu tahu bahwa Hyerin hamil karena diperkosa oleh pria mabuk di klub malam itu," penjelasan yang cukup panjang dari sang ayah cukup membuat mata si pemuda melebar.
Shin Hyerin. Nama itu adalah nama istri kedua ayahnya, yang berarti juga nama ibu tirinya.
"Ibumu meminta ayah untuk menikahi Hyerin karena ia merasa kasihan jika kelak Hyerin melahirkan tanpa memiliki suami. Dua sahabat itu benar-benar saling menyayangi. Aku terpaksa menyetujui permintaan ibumu karena aku sangat mencintai ibumu. Semua rencana itu hanya diketahui oleh diriku, ibumu, dan juga Hyerin. Orang lain tak tahu apapun. Termasuk kakekmu. Kakekmu yang sudah menanamkan kebencian itu sebenarnya tak tahu apa-apa."
Si pemuda mengepalkan tangannya kuat. Ada sisi hatinya yang merasa bersalah karena ternyata dugaannya tak sepenuhnya benar.
"Meskipun aku menikahi Hyerin, tapi aku tak pernah menyentuhnya. Pernikahan kami hanyalah status belaka. Hari-hari yang kami bertiga lalui berjalan dengan baik. Setidaknya sampai kandungan ibumu dan kandungan Hyerin sama-sama berusia sembilan bulan. Kakekmu tentu sudah bercerita bahwa ibumu saat itu juga mengandung, 'kan?"
Si pemuda mengabaikan pertanyaan ayahnya, karena ia tahu bahwa itu adalah pertanyaan retoris.
"Saat kandungan mereka berdua berusia sembilan bulan, tiba-tiba saja ibumu menghilangkan kalung beserta liontin yang di dalamnya terdapat fotomu. Ibumu merasa bahwa kalung itu jatuh di mall. Ibumu terus menangis karena kalung itu adalah satu-satunya hal yang berkaitan erat dengan dirimu, dan aku saat itu berusaha keras menenangkan ibumu. Tanpa sepengetahuanku, Hyerin saat itu pergi ke mall tempat ibumu berbelanja sebelumnya. Hyerin pergi sendirian dan tanpa supir untuk mencari kalung itu karena ia tak ingin melihat ibumu terus menangis. Dan ternyata ia berhasil menemukan kalung itu di mall. Namun nasib Hyerin begitu malang. Air ketubannya pecah saat ia sedang dalam perjalanan pulang. Saat itu ia melewati jalan yang sepi sehingga tak ada satupun orang yang menolong. Mungkin puluhan menit berikutnya baru ada orang yang datang menolong. Hyerin yang saat itu dalam keadaan pingsan langsung dibawa ke rumah sakit. Aku dan ibumu juga langsung menuju ke rumah sakit tempat Hyerin dirawat, tapi sayangnya kami mendapatkan kabar buruk. Bayi perempuan Hyerin tak bisa diselamatkan karena pertolongan medis yang dilakukan sudah sangat terlambat. Untungnya, Hyerin masih bisa diselamatkan."
"A-apa? Jika bayi wanita itu meninggal, lalu Kyungsoo itu siapa?"
"Aku belum selesai bercerita," sang ayah menanggapi pertanyaan putranya. "Dua hari kemudian, giliran ibumu yang melahirkan. Ada satu hal yang menjadi rahasia lagi. Sesungguhnya, ibumu menderita lemah jantung. Hal itu hanya aku dan ibumu sendiri yang mengetahuinya. Karena penyakitnya itu, ibumu tak mampu bertahan saat ia melahirkan adikmu. Tapi saat itu ada keajaiban. Adikmu bisa diselamatkan. Sebelum ibumu menghembuskan nafas terakhirnya, ia berpesan pada Hyerin untuk mengasuh adikmu layaknya putri kandungnya sendiri. Dan ibumu juga berpesan padaku untuk memberi kabar pada keluarga kita bahwa bayi yang meninggal adalah putrinya, dan bukan putri Hyerin. Ia ingin memberikan hadiah pada Hyerin karena ia merasa bersalah atas kematian putri Hyerin."
"Ja-jadi Kyungsoo itu..."
"Kyungsoo adalah adik kandungmu. Putri kandung ibumu. Saat itu, bayi yang dimakamkan bersama jasad ibumu adalah putri Hyerin, bukan putri ibumu. Aku sangat menyesalkan langkah kakekmu yang mengusir Hyerin dan putri kandungku dari rumah. Aku tak tahu bagaimana nasib mereka sekarang karena aku tahu bahwa Hyerin sama sekali tak punya kerabat lain. Sayangnya aku baru bisa mengungkap semuanya sekarang karena selama dua tahun aku justru terkena stroke."
Pria muda yang baru saja mendengar cerita itu seketika menangis keras. Ia memukul-mukul kepalanya sendiri. Menyesali apa yang sudah diperbuatnya.
Ia menyesal karena...beberapa saat yang lalu ia sengaja menabrak adik kandungnya dengan mobil.
FLASHBACK END
Pria bertubuh tinggi yang baru saja menceritakan semuanya itu kini jatuh bersimpuh di depan Jongin. Air mata tak henti-hentinya mengalir dari matanya yang mulai sembab.
"Aku..hiks..aku tak menyangka jika Kyungsoo ternyata adalah adik kandungku. Hiks..aku minta maaf."
"Meskipun ternyata ia bukan adik kandungmu, semua yang kau lakukan sama sekali tak bisa dibenarkan," Jongin berucap sinis. "Sekarang Kyungsoo sedang berjuang untuk bertahan hidup, padahal sebelumnya ia juga selalu berjuang untuk bertahan hidup. Kenapa kau mempersulit kehidupannya, hah?"
"..." pria yang terkena amukan Jongin hanya bisa menundukkan kepalanya.
Tapi kepala pria itu mendongak ketika ia mendengar suara pintu ruang IGD terbuka.
Jongin juga mendengarnya, dan akhirnya dua pria tampan itu menghampiri sang dokter yang baru saja keluar.
"Bagaimana keadaan Kyungsoo, uisa-nim?"
"Keadaan Nona Do benar-benar kritis. Ia sudah kehilangan sangat banyak darah karena kecelakaan itu."
"Kyungsoo memiliki golongan darah B-negatif, 'kan? Bisakah Anda mengambil darah saya untuk Kyungsoo, uisa-nim?" sang pria yang berdiri di samping Jongin bertanya dengan suara serak.
Pria itu sudah tahu seluk beluk Kyungsoo makanya ia sampai tahu golongan darah Kyungsoo beserta Rhesus-nya.
"Transfusi darah memang bisa dilakukan, tapi setelah itu, saya tetap tidak bisa menjamin bahwa Nona Do akan bertahan. Kondisinya benar-benar parah. Saya minta maaf," ucap dokter muda itu dengan raut penuh penyesalan.
"Ta-tapi tidak ada salahnya untuk mencoba, 'kan?" pria di sebelah Jongin tetap memaksa. "Saya mohon dokter. Lakukan transfusi darah, dan lakukan yang terbaik untuk adik saya."
Sang dokter memandang pria itu dengan pandangan iba. Tak lama kemudian, dokter itu mengangguk. "Baiklah, kita akan mencoba melakukan transfusi darah. Tapi sebelumnya, bisakah saya mengetahui nama Anda untuk kelengkapan data rumah sakit?"
Pria bertubuh tinggi itu menghela nafas sebelum menjawab. "Chanyeol. Nama saya...Do Chanyeol."
..
..
TBC
Chapter 8 sudah hadir dengan mengungkapkan rahasia utama di FF ini. fyuh~ rahasianya diungkapkan dalam satu chapter
selamat buat yang nebak Chanyeol sebagai pria misteriusnya! kalian tepat! hehehe.
mungkin 2-3 chapter lagi FF ini tamat ya. aku belum bisa memastikan ini bakal end di chapter 10 atau 11. tunggu saja^^
makasih yang sudah review. maaf kalau FF ini membingungkan :(
review again?
