Slow Saturday

Hari Sabtu. Di beberapa negara hari Sabtu merupakan hari libur, seperti halnya di Jepang. Namun biasanya terdapat kursus atau bimbel tertentu yang sengaja diselenggarakan pada hari Sabtu. Dan karena Raito tinggal di Jepang, maka hari ini ia mengikuti bimbel di siang hari selama empat jam. Empat jam penuh tanpa diselingi istirahat.

Pulang dari tempat bimbingan belajarnya, Raito berjalan bersama ketiga orang temannya. Entah mereka dapat disebut teman atau tidak, bagi Raito ia merasa tenang-tenang saja tanpa teman.

Because The God of the New World needs no friend, right?

Namun dilain pihak bila ia tidak memiliki teman ia akan dianggap aneh oleh orang-orang disekitarnya. Jadi ia berteman dengan mereka sebagai topeng yang memperlihatkan bahwa Yagami Raito adalah anak biasa. Lagipula dengan memanfaatkan social skillnya yang cukup bagus ia dapat memiliki banyak teman, banyak musuh, sekaligus banyak pacar dalam waktu yang hampir bersamaan.

"Apa kalian sudah dengar tentang Kira?" salah satu temannya bertanya. Kalau tidak salah namanya Ishida.

"Iya, aku juga sudah dengar dan lihat di beberapa site, apa kau percaya bahwa Kira itu ada?" temannya Renji bertanya.

Salah satu temannya yang bernama Kisuke ikut menimpali, "Belum tahu juga ya… mungkin cuma kebetulan saja."

"Kebetulan tidak dapat terjadi dalam jumlah besar, kan?" ujar Ishida sambil membetulkan letak kacamatanya.

"Jadi Kira benar-benar ada manurutmu mata empat?" tanya Kisuke sambil membetulkan letak topinya.

Renji dengan tenangnya menimpali, "Mungkin itu hanya hukuman Tuhan… apa tak pernah terpikir olehmu kepala topi?"

"Tidak mungkin, kalau ini memang hukuman Tuhan, mengapa tidak dari dulu? Dunia sudah hancur dari dulu kan? Bagaimana menurutmu alis tato?" ujar Ishida.

"Jadi menurut kalian ada sesuatu atau seseorang yang menyebabkan semua itu?" Tanya Raito menimpali.

"Mungkin juga…"

"Kalau memang benar ada…"

Tiba-tiba ada sesosok bayangan hitam yang muncul di samping Raito. Raito dengan hati-hati mengarahkan pandangannya ke arah bayangan hitam itu.

"Sepertinya seru sekali kalian mengobrol, coba seandainya mereka tahu kau adalah Kira…" ujar Ryuk. Shinigami dengan aura kegelapan yang pekat ini berjalan, bukan, melayang di sebelah Raito.

Raito menyeringai diam-diam. Ia teringat kembali pertemuannya dengan shinigami ini kemarin malam.


(Flashback)

"You like it, Huh?" terdengar suara berat dari sampingnya.

Raito menoleh dengan cepat ke arah suara itu berasal.

Hanya untuk menjerit dengan keras karena melihat 'makhluk'yang dengan tenang berdiri di sebelahnya.

Makhluk itu… mengerikan. Bukan menakutkan, karena bagi Raito tidak ada hal yang perlu ditakuti di dunia ini. Ia selalu percaya pada logika. Setiap hal di dunia ini dapat dijelaskan secara teoritis. Namun makhluk ini… dia tidak begitu yakin.

Rambutnya jabrik, mirip seperti durian berwarna hitam kebiruan. Matanya besar berwarna kekuningan. Mulutnya lebar dengan taring yang berderet. Kaki dan tangannya panjang, lebih panjang dari manusia normal, dan dibalut denagn baju berwarna hitam. Dari dirinya memancar aura-aura aneh.

Satu hal yang pasti. Makhluk ini bukan manusia.

Jadikan itu dua. Karena satu lagi fakta yang dirasakan Raito saat itu adalah makhluk ini tidak dapat dijelaskan keberadaannya secara teoritis.

"Tidak ada alasan untuk takut. Aku Ryuk, Shinigami yang menjatuhkan buku itu. Kulihat sepertinya kau sudah tahu bahwa itu bukan buku biasa."

"Shinigami?" tanya Raito. Tangannya bergetar. Ia menutup kedua matanya dan mencoba menenangkan dirinya.

Shinigami, Dewa kematian, God of Death, Grim Reaper, namun bisa juga mengacu ke psychopomp adalah kata yang mengacu pada makhluk yang diperintahkan untuk mencabut nyawa manusia. Shinigami dan Psychopomp sendiri mengacu pada makhluk yang mengantar jiwa manusia ke alam kubur. Kalau benar begitu maka...

"Shinigami… aku tidak takut padamu Ryuk."

Ryuk menatapnya dengan mata besarnya. Ekspresinya tidak terbaca.

Raito mau tak mau bertanya dalam hati, "Mana ekspresinyaaaa??" (ya nggak lah…)

Raito menyeringai dan berkata dengan tegas, "Bukan… aku sudah menunggumu, Shinigami…"

Ucapan Raito terpotong oleh seruan ibunya dari lantai satu, "Raitooo… ada apa njerit-njerit? Kamu udah stress karena kebanyakan belajar? Kalo gituh bantuin ibu gih, belanja bulanan di supermarket. Kalo nggak mau, nanti internet connection di kamar kamu ibu putus!"

"Iya, sebentar!!" seru Raito.

"Hyuk, hyuk, hyuk, anak mami…"

"Shut up Ryuk."

(end of Flashback)


Tiba-tiba dari kejauhan Raito melihat sesosok orang berkaus putih polos dan jeans biru pudar.

'Ryuzaki!' begitu yang terlintas di pikirannya.

"Aku lupa, aku harus pergi menemui teman, aku duluan ya!" ujar Raito pada teman-temannya.

"Ya… sampai besok…" jawab mereka.

Raito segera berlari ke arah Ryuzaki.


L berjalan di taman itu untuk kedua kalinya. Bukan, ia tidak ke tempat itu untuk membeli permen gulali. Ia telah membeli stok permen gulali yang cukup untuk dua bulan ke depan. Tak percuma ia menghabiskan sekitar dua puluh ribu yen hanya demi permen gulali itu.

Jadi apa alasannya datang lagi ke tempat itu?

Untuk bertemu orang yang kemarin pastinya. Untuk bertemu orang yang benar-benar persis dengan tipenya. Untuk bertemu orang yang dapat membedakannya dengan Beyond hanya dengan sekali lihat.

Hari sebelumnya L telah bertanya pada B mengenai anak itu, namun B tidak memberi jawaban yang jelas. Ia hanya tertawa dan berkata, "Nasib dan kepandaian agaknya mempertemukan kalian lebih cepat…" B tertawa dan berlalu begitu saja.

Terkadang L menganggap selera humor B sangat aneh. Memang apa yang dianggapnya lucu?

L merasakan suatu dorongan kuat untuk bertemu anak itu. Ia belum pernah mempercayai love at the first sight sebelumnya. Namun apa yang dirasakannya pada anak itu, kalaupun bukan cinta pada pandangan pertama, sudah cukup mendekati.

'Had it not been love at the first sight, it would have been close enough.'

Meskipun kemungkinan anak itu berada di taman kemarin hanya sekitar dua puluh persen, L tetap datang ke tempat itu. Ia berjalan di dalam taman dan duduk di kursi taman. Tangannya memegang sebuah buku yang lumayan tebal. Tentu saja diantara jari telunjuk dan jempolnya, sebuah kebiasaan aneh yang tak bisa lepas darinya sejak dia kecil (salah satu efek samping sekolah di Whammy House… heran, sebenernya Roger ama Watari ngedidik anak di situ gimana yah?).

Tak lama setelah ia menunggu di kursi taman ia melihat seseorang menghampirinya.

(nah dari sini puter lagu 'pandangan kedua' sebagai background XD )

"Ryuzaki!" begitu panggilnya.

"Sepertinya kamu salah mengenali untuk kedua kalinya," ujar L tenang.

L dari luar terlihat sangat tenang. Namun di dalamnya ia benar-benar kacau.

'Aduh, gimana nih? Kok dia tiba-tiba nongol? Dia kayaknya baru pulang… dari les? Dari jalan-jalan? Kenapa dia memanggilku Ryuzaki? Itu nama aliasnya B kan? Kenapa dia selalu menyangka aku B? Apa dia lebih menyukai B daripada aku?...' and et cetera.

Raito menundukan kepalanya. Wajahnya agak memerah.

"Maaf, aku salah orang lagi ya?" tanya Raito pelan.

L tersenyum, "Tidak apa-apa. Kalau kamu tidak keberatan, bagaimana kalau kita makan siang dulu di kafe terdekat? Ada yang ingin kubicarakan denganmu."

Raito terlihat bingung. L dapat melihat kebingungan terpancar dari matanya.

'Dia terlihat bingung. Mungkin ajakanku terlalu tiba-tiba. Matanya terlihat bingung. Matanya yang coklat terang. Matanya yang tajam dan cerdas… Argh! Stop daydreaming, L!'

"Aku yang traktir kok, tenang saja," ujar L. seolah semua masalah akan selesai hanya dengan kata traktir.

Namun akhirnya Raito menjawab, "Baiklah…"

L tersenyum dan menutup bukunya. Ia bangun dari kursi taman dan berdiri di hadapan Raito. L menatap Raito dengan lembut.

"Oh, aku belum memperkenalkan diri, namaku Raito Yagami." Raito mengulurkan tangannya. L menatap tangan yang disodorkan Raito padanya.

"Namaku Ryuga Hideki." Nama alias yang biasa digunakan mengalir dengan mudah dari mulutnya.

"Di Jepang bersalaman saat berkenalan merupakan suatu kebiasaan yang jarang," L seolah berkata pada dirinya sendiri. "Darimana kau tahu aku bukan orang Jepang, Yagami-kun? Aksen Jepangku sudah sangat sempurna."

Raito tertawa mendengar pertanyaan L. Menurutnya L sama kritisnya dengan B. Mereka berdua melihat dan berpikir dengan sangat detil. Mengingatkan Raito pada dirinya sendiri.

"Banyak hal yang harus kita bicarakan Ryuga-san, tapi pertanyaan bisa menunggu di kafe… Oh ya, anda kenal orang yang bernama Ryuzaki, kan?"


Selesai!! Senangnya!!

Akhirnya chapter ke sembilan ini selesai juga diedit… dan langsung saia post. Uuuh… akhirnya setelah satu minggu… maav atas keterlambatan saia… maav juga kalau masih ada kata yang salah ato bahasa inggris ancur... maav juga kalo chapter ini kedikitan...

Review and comment plz??

--D--