Never Enough

By: Pingmoo

Warning: Boyxboy, TIME SKIP, TYPO. DLDR!

Pairing: Chanbaek, Hunhan

-Chapter 9-

.

.

.

-6 tahun kemudian-

Baekhyun mengerang malas ketika dirinya dibangunkan oleh guncangan dibahunya dan tepukan-tepukan kecil di pipinya. Mata sipitnya mengerjap-ngerjap tak fokus menahan rasa kantuk akibat dibangunkan sebelum waktunya. Rasanya walaupun sudah melewati tahun ketiga bekerja, dia tidak akan pernah terbiasa dengan siklus tidur yang tidak beraturan seperti ini.

"Baixian! Bangun! Bangun! Dalam 1 jam kau sudah harus tampil! Hapus ilermu itu dan demi Tuhan kau bahkan belum didandani sama sekali!" Jerit orang yang membangunkannya.

"Ck..." Baekhyun mendecak kesal karena dibangunkan. Mata sayunya yang terlihat begitu kecil karena masih ngantuk melirik jam tangannya.

Jam 03:00 AM.

Mata sayu Baekhyun melempar selimutnya dan langsung bangun dengan panik.

"Astaga sudah jam segini!" Teriak Baekhyun panik. Kalang kabut, Baekhyun berlari menuju kamar mandi dan membasuh wajahnya dengan terburu-buru untuk menghilangkan rasa kantuknya.

"Kenapa kau tidak membangunkanku?!" Jerit Baekhyun kesal pada pemuda disampingnya yang memberinya handuk.

"Habis kulihat tidurmu pulas sekali, aku tak tega." Jawab Yixing sambil tersenyum.

"Ukh.." Baekhyun cemberut. Kalau sudah berhadapan dengan Yixing, dia tidak pernah bisa marah. Apalagi dengan senyuman berlesung pipinya itu.

"Sudahlah, jangan manyun. Cepat pakai make-up mu."

"Iya, iya."

"Baixian, kemariiiii!" teriak managernya.

"Cepatlah sebelum hipertensi Zitao kumat lagi." Yixing terkekeh.

Baixian berlari kecil ke meja rias sementara pria berperawakan tinggi dan berkantung mata hitam itu memerintahkan para penata rias untuk mendadani wajah Baekhyun.

"Ingat, image comeback dia kali ini adalah polos. Dandani dia agar dia kelihatan seperti pria yang belum pernah jatuh cinta!" Hardik pria itu.

Para make-up artist stasiun TV itu sampai dibuat bingung dengan permintaannya. Maksudnya sangat tidak jelas.

"Jie, maksudnya no make-up make-up saja." Baekhyun menjelaskan. Penata rias itu mengangguk tanda mengerti.

"Arrgghh! Makanya aku selalu kesal kalau make-up artist kita sakit." Zitao mengacak rambutnya frustasi.

"Tenang sedikit, Tao-ge. Kau membuatnya gugup." Yixing menepuk pundak Zitao untuk menenangkannya.

Baekhyun menghela napas. Rutinitas seperti ini sudah biasa baginya selama 3 tahun terakhir ini. Setelah masuk di universitas, dia dan Yixing sangat beruntung mendapatkan tawaran dari agensi hiburan China untuk debut sebagai duo. Yixing pun dengan senang hati menuliskan lagu untuk mereka nyanyikan. Siapa sangka nasib Baekhyun betul-betul berubah banyak semenjak datang ke China. Bukan hanya debut sebagai penyanyi saja, tapi publik sangat mencintai sosok mereka berdua.

Lagu-lagu mereka selalu menempati urutan atas, album-album mereka mendapatkan banyak penghargaan. Padahal banyak yang berpikir mereka hanyalah one hit wonder, tapi tidak. Yixing membuktikan bahwa dia selalu mampu menulis lagu-lagu hits yang mengantarkan mereka ke puncak ketenaran. Prestasi yang mereka capai untuk sebuah duo yang berusia tiga tahun bisa dibilang sudah sangat membanggakan. Luhan pun sangat senang menyaksikan adiknya tampil di panggung. Hidup terasa semakin sempurna sepanjang 6 tahun terakhir ini.

"Sudah siap?!" Tanya Zitao.

"Sudah." Jawab Baekhyun dan Yixing.

"Bagus. Sekarang naik ke panggung dan jerat hati mereka!" Zitao memberi semangat.

Teriakan fans langsung memekakkan gendang telinga mereka. Baekhyun dan Yixing melambaikan tangan mereka sejenak sebelum mereka mengatur posisi mereka. Yixing duduk di hadapan piano dan Baekhyun berdiri di depan piano dengan mike di hadapannya.

"Apa kabar semuanya?" Tanya Baekhyun ramah.

Dan pekikan dan jeritan fans pun langsung memenuhi studio.

"Baixiaaaaaannnnn."

"Jodohkuuu Zhang Yixinggggg! Ini aku istrimuuu."

"HUSH NGAWURRRR!"

"Yixingggg..."

"KYAAAAA!"

"Baixiaaannnn..."

"Hahaha.. kalian terdengar sangat bersemangat. Terus dukung kami, ya. Sekarang kami akan menyanyikan lagu terbaru kami. Semoga kalian menyukainya." Yixing terkekeh.

Dan suasana di studio hening mendadak. Mereka semua terdiam karena ingin mendengar suara Baixian dan Yixing yang begitu merdu. Alunan melodi dari tuts piano mendadak perlahan memenuhi studio itu. Wajah para fans tampak berkaca-kaca dan sangat bersyukur dapat menyaksikan pertunjukan live duo BaiXing.

你小小的翅膀 就要向我飞翔

看到你挥挥手要我过来你身旁

那可怜的目光 那故事太迷茫

就在那天晚上吹进我的心

已收藏

Baekhyun menyanyi dengan seluruh jiwanya. Hal itulah yang membuat fans sangat menyukainya. Dia mencurahkan seluruh emosinya ke dalam lagu, sehingga fans yang mendengarkan seolah merasa merekalah tokoh utama dalam lagu itu, dan Baekhyun menyanyikan lagu itu untuk mereka. Para fans seolah tenggelam dalam lantunan melodi yang dibawakan oleh Yixing dan Baekhyun. Benar-benar duo yang merebut hati seluruh China.

跟我走 你就不会消失或失踪

Oh 就像梦过的你

你是我生命 那个美丽蝴蝶

Woo-Hoo-Hoo Woo-Hoo-Hoo

Woo-Hoo-Hoo

Jeritan fans kembali memenuhi ruangan studio tersebut sedetik setelah Baekhyun dan Yixing membungkuk hormat tanda lagu telah selesai. Gemuruh suara tepuk tangan dan riuhnya teriakan terus membahana di penjuru studio.

"Baixiaaaannn.."

"Yixinggg..."

"Aaaaahhh!"

Baekhyun dan Yixing pun maju ke hadapan para fans. "Terima kasih kalian sudah mau datang. Pulang nanti hati-hati di jalan, ya."

"Terima kasih banyak atas dukungan kalian. Pulang nanti kalian harus tidur yang nyenyak, ya." Sambung Baekhyun.

"Aku merasa fans lelaki yang datang lumayan banyak ya kali ini. Tolong lindungi saudara perempuan kalian, ya. Kalau ada yang menganggu mereka di perjalanan pulang nanti, hajar!" Canda Baekhyun sambil mengangkat kepalan tangannya.

"SIAAAAAPPPP!" Teriak para fans lelaki itu yang disambut gelak tawa fans perempuan.

"Hahaha. Baixian apa-apaan. Baiklah, rekaman hari ini sudah selesai. Sekali lagi terima kasih atas kehadirannya." Yixing menutup sapaan mereka.

Baekhyun dan Yixing membungkuk sekali lagi kemudian berjalan ke belakang panggung.

"Kerja yang bagus! Kerja yang bagus! Haahh...dengan ini hatiku bisa tenang. Comeback kali ini kalian juga pasti akan sangat sukses." Zitao menepuk-nepuk pundak Baekhyun dan Yixing.

"Tentu saja. Semua ini berkat Yixing yang sangat berbakat. Semua lagu yang ditulisnya sangat disukai oleh publik." Baekhyun mengusap-usap rambut Yixing.

"Kalau bukan kau yang jadi main vocal-nya aku tidak yakin laguku bisa menjadi hits seperti itu." Yixing tersenyum rendah hati.

"Aku punya kabar bagus. Baru saja aku mendapatkan tawaran untuk kalian debut di Korea Selatan. Bagaimana menurut kalian?" Tanya Zitao.

"Serius, Zitao? Wah, hebat sekali. Tidak banyak artis China yang bisa berkarir di Korea Selatan!" Seru Yixing bersemangat.

"Korea Selatan?" Baekhyun bergumam tak semangat.

"Negara kelahiranmu! Kau tak mau mencoba berkarir di sana?" Tanya Zitao.

"Kurasa berkarir di China lebih menyenangkan..." Baekhyun menggumam lagi.

"Jangan begitu Baixian, ini kesempatan kita untuk go international! Yang aku tahu kita sudah memiliki fanbase di Korea, yah walaupun tak terlalu besar. Tapi ini akan menjadi kabar yang menyenangkan bagi mereka semua. Kau tak mau menyapa fansmu di Korea?" Bujuk Yixing.

"A-aku harus menanyakan perihal ini kepada kakakku dulu." Kata Baekhyun.

"Kenapa kau terlihat ragu sekali? Apa sebenarnya di Korea kau terlibat hutang dan lari ke China untuk kabur dari hutangmu?" Tanya Zitao tak sabar, matanya memicing menatap Baekhyun.

"Enak saja! Siapa yang punya hutang di Korea!" Balas Baekhyun sengit.

"Kalau begitu tak ada masalah, kan? Aku akan menyampaikan berita pada Boss bahwa kalian setuju untuk debut di Korea. Jadwal kalian akan semakin sibuk. Sebaiknya kalian mulailah berinvestasi di krim mata, sebab kalian akan kehilangan banyak tidur! Hahaha!" Zitao bercanda.

Suara ponsel Zitao menghentikan candaannya, terburu-buru diangkatnya panggilan itu. "Halo? Apa? Oh, OK, terima kasih."

"Ayo, mobil jemputan kita sudah tiba. Aku akan mengantarkan kalian pulang beristirahat terlebih dahulu. Kalian memiliki jadwal interview sebentar malam." Zitao pun berjalan meninggalkan mereka berdua.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Yixing.

"Hmm?" Baekhyun balik bertanya.

"Kau terlihat agak pucat." Yixing menampakkan raut wajah khawatir.

"Aku baik-baik saja. Hanya agak mengantuk—yeah, hanya agak mengantuk." Baekhyun lalu pura-pura menguap dan mengusak-usak matanya. Yixing nampak tidak yakin, namun tidak mau memaksa Baekhyun.

"Ya sudah. Ayo kita pulang."


.

.


Baekhyun melemparkan dirinya ke kasurnya malas. Tubuhnya lelah sekali tapi pikirannya menerawang jauh.

Debut di Korea.

Rasanya Korea Selatan masih menjadi tempat yang sangat menyakitkan untuk dikenang walaupun sudah 6 tahun berlalu. Ingin rasanya menolaknya, namun dia tak enak hati pada Yixing yang terlihat sangat bersemangat akan prospek untuk debut di Korea Selatan.

Baekhyun mengambil ponselnya dari saku celananya. Ditekannya tombol speed dial 1.

Calling Luhan-ge...

Tak sampai nada dering ketiga, Luhan sudah mengangkat panggilannya.

"Halo, Baekhyun. Selamat pagi. Ada apa kau meneleponku sepagi ini?" Tanya Luhan.

"Ah, gege pagi. Apa kalian sudah bangun? Aku tidak menganggu, kan?" Tanya Baekhyun khawatir.

Semenjak Baekhyun debut, Sehun mengajak Luhan untuk tinggal bersama sebab Baekhyun yang selalu disibukkan dengan jadwal latihan, jadwal tampil serta interview, mengharuskannya untuk tinggal di apartment lain bersama Yixing dan Zitao. Daripada Luhan tinggal sendiri lebih baik dia tinggal bersama Sehun. Luhan pun menyetujuinya. Mereka mengakhiri kontrak sewa apartment lama mereka dan Luhan pindah bersama Sehun sementara Baekhyun menempati apartment bersama Yixing dan Zitao. Namun jika ada hari libur, maka Baekhyun akan pulang ke rumah Sehun untuk menghabiskan waktu bersama gege-nya itu. Setiap kali berkunjung, Baekhyun tahu Luhan sudah bahagia sekarang. Kekasih kakaknya itu memperlakukan Luhan dengan begitu baik.

"Tidak kok. Sehun sekarang sedang bersiap-siap. Haowen juga sudah diantar supir pribadi ke sekolahnya."

"Begini, ge... Sebenarnya aku.. diberi tawaran untuk debut di Korea Selatan." Baekhyun berucap pelan.

"ASTAGA ADIKKU MENJADI BINTANG INTERNATIONAL SEKARANG! INI KABAR BAGUSSS, BAEKHYUNNNN" jeritan Luhan yang begitu antusias terdengar sangat memekakkan telinga.

"Ge! Aku hampir tuli mendengar teriakanmu!" Protes Baekhyun. Jari-jarinya masih menutupi kupingnya yang nyeri akibat teriakan Luhan.

"Maaafff..tapi aku tak bisa menahan rasa semangat ini! Ini kabar yang sangat luar biasa!"

"Tapi..."

"Kau takut bertemu dengan 'dia'? Ya, ampun Baekhyun. Korea Selatan itu besar! Lagipula kalau kau bertemu dengan 'dia' memang kenapa? Tunjukkan bahwa kau sudah tak peduli lagi! Kau itu Bian Baixian! Penyanyi paling terkenal di China!" sahut Luhan semangat.

"Ge, jangan terlalu berlebihan. Aku belum seterkenal itu." Baekhyun memutarkan kedua bola matanya.

"Intinya adalah, apa yang harus kau takutkan?" Luhan bertanya.

Baekhyun terdiam sejenak.

"Betul juga."

"Aku menantikan debut Koreamu, adikku."

"Terima kasih, gege."

Rasanya begitu lega setelah menelepon kakaknya. Luhan benar, Baekhyun hanya memiliki ketakutan yang tidak beralasan. Untuk apa juga dia harus merasa setakut ini? Toh, 'dia' juga tidak pernah lagi mengusiknya selama ini. Mungkin saja 'dia' juga sudah melupakan Baekhyun dan hanya Baekhyun saja yang masih paranoid akan hal ini.

Semuanya akan baik-baik saja.

Ah, dia juga harus memberitahukan Jongin akan hal ini. Mungkin mereka bisa bertemu di Korea nanti.

Baekhyun sudah tak sabar! Dia bisa bertemu dengan teman lamanya juga. Dicarinya nomor telepon Jongin lalu dipencetnya. Setelah ini dia akan mengabari Minseok-hyung dan Jongdae.

"Halo, Jongin! Aku ada kabar bagus..."


.

.


Sementara itu, disebuah ruangan perkantoran di Seoul, nampak dua sosok yang sedang berada dalam ruangan kantor yang terlihat sangat mewah. Satu sosok perempuan cantik nampak sedang memberikan berkas-berkas pada sosok lelaki berbadan tegap dan tampan yang sedang duduk di meja CEO perusahaan tersebut.

Lelaki itu membalik-balikkan dokumen yang diberikan lalu menanda-tanganinya dan memberikannya kembali pada wanita itu.

"Bagaimana kabar dari agensi China itu?" Tanya pria itu.

"Mereka menyetujuinya. Mereka akan terbang ke Seoul untuk membahas masalah kontrak setelah promosi album baru mereka di China selesai." Jawab sekretaris itu.

"Jangka waktunya?"

"Jika tidak ada halangan, dalam dua bulan duo BaiXing sudah bisa datang berkunjung ke Seoul."

"Bagus. Kabari aku begitu mereka sudah memberikan jadwal pasti. Dan kosongkan semua jadwalku pada hari itu."

"Baik, Tuan Park."

"Terima kasih, kau boleh pergi."

"Baiklah, permisi Tuan Park."

Pria itu mengusap pelan dahinya.

"Dua bulan. Dua bulan dan aku akan bertemu denganmu kembali." Pria itu mengambil ponselnya dan dilayarnya terdapat foto Baekhyun yang sedang menyanyi dengan bahagia di atas panggung. Matanya menatap tajam sosok di balik layar ponsel itu.

"Dua bulan."

Aku telah bersabar selama 6 tahun. Apalah artinya dua bulan lagi.


.

.


Tak terasa promosi album baru mereka sebentar lagi akan berakhir. Media pun sudah mulai memberitakan berita tentang rencana debut mereka di Seoul. Para fans mereka sangat antusias akan kabar ini. Ada yang sangat bangga mengingat pasar Korea merupakan pasar yang susah ditembus oleh artis China. Namun ada juga yang skeptikal dengan debut mereka di Korea.

"Seminggu lagi kita akan terbang ke Seoul." Ujar Zitao bersemangat.

"Aku sudah tidak sabar memperkenalkan kalian pada orang-orang di Seoul. Ingat, kalian harus merebut hati mereka! Ah, tema debut kalian harus yang sexy agar mereka semua terjerat." Racaunya sendiri.

"Hahaha! Ge, tenanglah. Kita bahkan baru akan membicarakan mengenai masalah kontrak di Seoul. Belum tentu kita akan debut." Ujar Yixing.

"Kalian pasti akan debut! Agensi Korea itu akan menyukai kalian, dan kalian akan debut di Korea! Dan target selanjutnya adalah Jepang! Ingat itu." Ucap Zitao berapi-api.

"Kadang aku bingung kau ini manager atau pemilik agensi, sih?" Tanya Baekhyun bingung.

"Tuan Huang itu kan ayahnya, kelak Zitao yang akan mewarisi seluruh perusahaan ayahnya, kan." Jawab Yixing. "Yah, walau mereka terlihat begitu berbeda." Sambungnya.

"Benar, benar. Tuan Huang begitu kalem, sedangkan anaknya...hahahaha!"

"Diam! Kalian lihat saja! Aku akan mendapatkan kontrak debut Seoul itu. Setelah Seoul, Jepang juga akan tunduk di bawah kaki kalian!" Seru Zitao bersemangat.

"Toast dulu, toast dulu!" Teriak Yixing sambil mengangkat gelas minumnya.

"Kepada manager paling hebat Duo Baixian, Huang Zitao!" Baekhyun menaikkan gelasnya.

"Huang Zitao!" Teriak Baekhyun bersemangat.

"CHEERS!"

Ketiganya langsung menenggak isi gelas minuman mereka.

"Ah, bisakah aku meminta waktu kosong 1 hari di Seoul nanti?" Tanya Baekhyun.

"Untuk apa?" Tanya Zitao.

"Aku mau menemui teman-teman lamaku di Seoul. Mungkin kau mengenal satu di antara mereka. Kau tahu Kai?"

Zitao menyemburkan bir dalam mulutnya.

"Model yang menjadi Duta Gucci Korea itu? Tentu saja aku tahu. Itu temanmu?" Jerit Zitao.

"Bisa dibilang begitu." Jawab Baekhyun sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Sialan kau Baixian! Kenapa kau tidak bilang dari dulu kalau kalian berteman!? Siapa tahu aku bisa mendapatkan tas Gucci limited edition dari dirinya!" Amuk Zitao.

"Mana mungkin aku meminta hal seperti itu padanyaaa." Balas Baekhyun sengit.

"Bagaimana mungkin kau bisa berteman dengan Kai?"

"Kami... teman SMA." Jawab Baekhyun.

"Aku baru tahu itu." Ujar Zitao.

"Maksudmu pria bermasker yang selalu datang menemuimu setiap ulang tahunmu itu?" Tanya Yixing penasaran.

"Ya, itu dia." Jawab Baekhyun.

"Sebentar! Pria cengengesan itu? Kai? Mustahil!" Jerit Zitao.

"Kalau sudah bekerja memang terlihat seperti orang lain. Dia sangat berdedikasi pada pekerjaannya." Baekhyun menjelaskan.

"Kenapa kau tidak pernah memberi tahu kami kalau temanmu yang datang itu sang Kai?" Zitao menjambak rambutnya frustasi. Bayang-bayang Gucci limited edition yang selama ini bisa diperolehnya melalui koneksi Kai mendadak menghantuinya.

"Yah, kalian tidak pernah bertanya." Baekhyun mengangkat bahunya.

"Anak ini sudah semakin pintar menjawab sekarang, ya?" Zitao tersenyum jahat.

"Betul. Ke mana Baixianku yang polos?" Yixing menggeleng-gelengkan kepalanya, berpura-pura sedih.

"Pegang tangannya!" Teriak Zitao. Yixing dengan sigap langsung memegang kedua tangan Baekhyun sementara Zitao dengan tanpa ampun mulai menggelitiki Baekhyun.

"AAAAHHHH! AMPUN! AMPUUUNNNN! AAAHAHAHAHHAAHHA! AMPUUUNNN!" Teriak Baekhyun histeris sambil tertawa. Tubuhnya berontak berusaha melawan rasa geli yang muncul.

"STOPP! STOOPP! AMPUN, AMPUN TUAN HUANG ZITAO!" Teriaknya makin histeris.

"Begitu sampai di Korea kau harus mempertemukan kami! Gucci limited edition!" Ancam Zitao.

"IYA! IYAAA! STTOPPP! HAHAHAH!"

Zitao menghentikan gelitikannya dan Yixing turut melepaskan tangan Baekhyun. Baekhyun terbatuk-batuk meraup napasnya.

"Aku tidak percaya ini. Aku benci kalian, uh!" Baekhyun bergumam kecil.

"Apa tadi katanya? Yixing, kali ini jangan beri ampun."

Mereka berdua pun kembali menggelitiki Baekhyun.

"HAAAHHH AMPUN, AMPUNNN!"


.

.


Penerbangan ke Korea berjalan dengan mulus. Sebenarnya Luhan ingin sekali menemani Baekhyun ke Korea, sekalian untuk berziarah ke makam ayah dan ibunya. Namun, pekerjaan menumpuk di kantor tak bisa dia tinggalkan. Baekhyun sampai heran dan bertanya-tanya. Kalau pekerjaan Luhan sebanyak itu untuk apa dia pacaran dengan pemilik perusahaan? Tapi kalau pemikiran seperti itu dia lontarkan di hadapan kakaknya pasti kakaknya akan menjitaknya. Harga diri kakaknya sebagai laki-laki sangat tinggi.

Luhan tetap ingin menghasilkan uang sendiri walaupun dia sudah menjadi kekasih pemilik perusahaan. Walaupun sekarang hidup mereka sudah jauh lebih baik, tidak ada jaminan bahwa akan terus seperti itu ke depannya. Akan lebih baik jika dia memiliki tabungan untuk berjaga-jaga.

Dari bandara ke hotel mereka tidak menemui kesulitan yang berarti. Banyak fans tampak menunggui mereka namun mereka tetap sopan dan menjaga jarak. Baekhyun dan Yixing merasa lega akan hal itu.

"Akhirnya kita sampai di hotel juga." Baekhyun melepas topi dan maskernya.

"Kita punya waktu sejam untuk istirahat sebelum kita ke agensi yang akan menaungi kalian di Korea ini." Ucap Zitao sambil membagikan air minum kepada Baekhyun dan Yixing.

"Terima kasih." Kata Baekhyun seraya menerima botol yang diberikan Zitao. Matanya tetap fokus pada layar kaca ponselnya. Tak lama ponsel itu berdering.

"Halo? Jongin-ah?" Ucap Baekhyun berseri-seri dalam bahasa Korea. Zitao dan Yixing hanya memandang satu sama lain. Sedikit banyak mereka juga sudah mempelajari bahasa Korea untuk persiapan debut, walaupun belum terlalu lancar.

"Selamat datang di Seoul! Boleh nanti aku minta tanda tanganmu penyanyi Baixian?" Ucap Jongin.

"Apa-apaan, kau? Jangan membuatku malu seperti itu!"

"Hahaha! Aku sangat senang akhirnya kau kembali. Capek mengunjungimu ke China terus kau tahu."

"Apa sih? Ternyata selama ini kau tak tulus mengunjungiku, ya?" Baekhyun cemberut.

"Hahaha, mana mungkin. Bulan Mei adalah bulan yang paling kunantikan. Untungnya tahun ini aku tak harus ke China karena kau yang datang menghampiriku di Seoul."

"Cih, dasar."

"Kau tinggal di hotel mana? Aku akan ke sana."

"Ah, tidak bisa sekarang. Sebentar lagi kami harus ke agensi." Kata Baekhyun.

"Agensi mana?" Tanya Jongin penasaran.

"Agensi SME." Jawab Baekhyun.

"Itu.. agensi SME as in agensiku?" Tanya Jongin lagi tak dapat menyembunyikan keterkejutannya.

"Yup!"

"Jahat kau ya, Baekhyun. Bukannya mengabariku kalau kita akan satu agensi!"

"Hehehe—surprise!"

"Kita jadi bisa lebih sering bertemu, kan?"

"Nampaknya begitu." Baekhyun tersenyum manis.

"Ah, tahukah kau bahwa saham SME itu 60% sudah dibeli oleh—"

"Baixian! Bersiap-siaplah, sebentar lagi kita berangkat." Sahut Zitao.

"Ah, Jongin. Maaf, nanti kutelpon lagi, ya?" Baekhyun buru-buru minta maaf tak enak.

"Tak apa, aku mengerti. Toh, nanti kita juga bisa lebih sering bertemu."

"Terima kasih, Jongin. Annyeong."

"Annyeong."

"Bagus, Baixian. Pacaran saja terus, ya. Biar managermu yang malang ini yang terus kerepotan mengurusmu." Zitao berkacak pinggang sambil menunjuk-nunjuk Baekhyun tak sopan.

"Si—siapa yang pacaran? Aku sedang memintakan Gucci limited edition untukmu. Kalau kau tidak mau, ya sudah! Kubatalkan." Baekhyun berkelit sambil pura-pura memencet nomor ponsel Jongin.

"Jangan, jangan, jangan wahai Tuan Bian Baixian yang terhormat. Aku hanya bercanda! Hahahaha!" Ucap Zitao sambil menggelayut manja di lengan Baekhyun.

"Aku juga hanya bercanda kok." Baekhyun nyengir kemudian lari keluar kamar.

"Bagian mana? Membatalkan pesanan tasku atau apa?" Teriak Zitao penasaran.

"Nampaknya soal Gucci-mu, Zitao. Yang kudengar sedari tadi mereka sama sekali tidak membahas masalah Gucci." Kata Yixing.

"Malam ini kau mampus, Bian Baixian!" Teriak Zitao kemudian berlari keluar kamar mengejar Baekhyun.

"Aku seperti berhadapan dengan dua anak kecil." Yixing menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian keluar dari kamar hotel dan mengunci pintunya.

Sampai di atas mobil dalam perjalanan menuju agensi pun Baekhyun dan Zitao masih bercanda satu sama lain. Terkadang Baekhyun meniru gaya bicara Zitao yang membuat Zitao agak kesal dan menyerang Baekhyun dengan cara menggelitikinya. Begitu terus hingga akhirnya mereka tiba di agensi yang akan menaungi mereka di daerah Gangnam.

Mereka masuk melalui pintu belakang. Saat sekuriti hendak membukakan pintu untuk mereka, mendadak seorang anak kecil berlari keluar dari sana dan tak sengaja menabrak Baekhyun kemudian terjatuh.

"Aduh!" Pekik anak itu sebelum terjatuh.

"Oh! Astaga! Adik kecil, maafkan aku. Kau tak apa-apa? Di mana ayah dan ibumu?" Tanya Baekhyun sambil membantu anak kecil itu berdiri. Saat membantu anak kecil itu berdiri dan membersihkan debu dari celananya entah mengapa Baekhyun merasa sangat, sangat familiar dengan wajah anak ini. Anak itu hanya mengangguk.

"Kau tak apa, Baixian?" tanya Yixing.

"Aku baik-baik saja." Jawab Baekhyun. Matanya tidak lepas dari dari anak di hadapannya ini.

"Dokjun! Kau tidak apa-apa?" Suara seorang wanita mengagetkan Baekhyun.

Baekhyun mendongak dan melihat wajah yang sangat tidak asing lagi diingatannya.

Kang Seulgi.

"Ah, nyonya. Tuan muda terjatuh menabrak tuan ini." Sekuriti itu berusaha menjelaskan.

"Saya mohon maaf. Saya lalai dan anak saya lepas dari pengawasan saya. Dokjun, ayo minta maaf." Seulgi membungkuk.

"Maaf, ahjussi." Anak kecil itu membungkuk meminta maaf.

"Ah, tidak apa-apa. Anak anda kuat, ya. Tidak menangis walaupun jatuh." Ucap Baekhyun berbasa-basi. Saat ini hatinya berdebar sangat kencang. Dia bukan orang bodoh. Di hadapannya ada Kang Seulgi dan seorang anak lelaki yang sangat mirip dengan 'dia'.

It doesn't take a genius to understand.

"Ya, dia kuat seperti ayahnya. Sekali lagi maaf. Saya permisi dulu. Ayo, Dokjun." Seulgi membungkuk sekali lagi kemudian pamit.

Baekhyun yang tak bisa berkata-kata lagi hanya mampu membalasnya dengan bungkukan. Ada denyut sakit di dadanya.

"Wanita yang jarang ada, ya. Cantik dan tampak begitu kaya, namun sangat sopan." Yixing berkomentar setelah Seulgi dan anaknya naik dalam mobil.

"Kau lihat anaknya? Menggemaskan sekali! Suaminya beruntung punya keluarga seperti itu. Istri cantik, anak tampan. Kalau aku sudah jadi boss, aku akan mencari istri secantik itu." Zitao turut menimpali.

"...ya..." Hanya itu yang mampu Baekhyun katakan. Tentu saja pria waras manapun akan lebih memilih untuk menikah dengan perempuan yang bisa menghasilkan keturunan. Cinta sesama pria sedalam apapun tak akan bisa menghasilkan keturunan. Baekhyun berpikir jelek bahwa mungkinkah ini salah satu alasan Chanyeol bersikukuh mempertahankan hubungannya dengan dirinya dan Seulgi disaat yang bersamaan. Dia bisa mendapatkan keturunan dari Seulgi dan mendapatkan kepuasan bersama Baekhyun.

"Ayo naik! Presdir sudah menunggu kita." Zitao menaikkan kepalan tangannya bersemangat, membuyarkan lamunan Baekhyun.

Baekhyun dan Yixing masuk ke dalam lift yang dipencet Zitao. Wajah Baekhyun mendadak tidak bersemangat. Pikirannya mulai bercabang ke mana-mana.

Apa yang dilakukan Kang Seulgi di sini?

Apakah dia juga bekerja di agensi ini?

Tapi sekuriti tadi memanggilnya nyonya dan anaknya tuan muda? Tapi setahuku Park Corp dan Kang Corp tidak bergerak dibidang hiburan.

Apakah hanya kebetulan?

Baekhyun terlalu larut dalam pikirannya hingga dia tidak menyadari dia sudah masuk dalam sebuah ruangan kantor. Yixing menuntunnya untuk berdiri di tengah-tengah dirinya dan Zitao.

"Selamat datang. Bagaimana perjalanan kalian?" Tanya sebuah suara bapak tua yang duduk di hadapan Baekhyun namun tak terlalu Baekhyun gubris.

"Lu-lumayan bagus. Ah, nama saya Huang Zitao, manager Duo BaiXian dan anak pemilik agensi Huang." Jawab Zitao dengan bahasa Korea yang terbata-bata.

"Saya Lee Sooman, pemilik agensi ini." Mereka pun mulai saling menjabat tangan, mencairkan suasana awal perkenalan yang terasa kaku.

"Perkenalkan nama saya Zhang Yixing."

"Saya Bian Baixian. Saya keturunan Korea, saya memiliki nama Korea Byun Baekhyun." Kata Baekhyun mencoba untuk fokus. Ini momen yang penting. Dia tidak boleh memikirkan hal yang lain.

"Ah, translator kami datang sebentar lagi. Salah satu pemilik saham kami yang akan mensponsori kalian juga akan datang tak lama lagi. Setelah dia datang, kita akan bicarakan nilai kontraknya." Kata Presdir Lee sambil mempersilahkan mereka untuk duduk.

Mereka pun membahas beberapa perihal mengenai apa saja peraturan dasar agensi itu. Namun tak lama terdengar ketukan di pintu kantor itu.

"Selamat siang, saya Park Sunyoung, penerjemah untuk kontrak kerja sama hari ini. Mohon bantuannya." Sapa seorang wanita cantik dengan balutan jas rapi.

"Tuan Park juga datang bersama saya." Sambung wanita itu kemudian mundur selangkah dan mempersilahkan sosok dibelakangnya untuk masuk terlebih dahulu.

"Hoh! Tuan Park, kami sudah menanti kehadiranmu." Sooman berdiri menyambut pria yang baru saja masuk.

Dan sekarang jantung Baekhyun berdetak begitu kencang seolah akan keluar dari dadanya. Pria yang baru saja masuk adalah pria yang ditinggalkannya 7 tahun lalu. Pria yang dipikirnya sudah menjadi bagian dari masa lalunya, kini muncul kembali di hidupnya.

"Kau takut bertemu dengan 'dia'? Ya, ampun Baekhyun. Korea Selatan itu besar!"

Ucapan kakaknya tempo hari terngiang lagi ditelinganya. Ternyata kakaknya salah besar. Korea Selatan itu sangat kecil! Baru di hari pertama dia menapakkan kakinya kembali di sini Baekhyun sudah bertemu kembali dengan dia yang paling tidak ingin ditemuinya. Dan dia menatap Baekhyun seperti singa kelaparan yang sudah lama tidak makan.

Baekhyun hanya bisa menatap wajah Chanyeol dalam diam.

"Jadi bisa kita mulai negosiasinya?" Suara berat yang sudah lama tidak Baekhyun dengar memecahkan keheningan di antara mereka.


.

.


"Kontrak senilai 10 Milyar Won. Aku bisa gila! Nilai yang terlalu fantastis untuk ukuran artis yang baru debut." Jerit Zitao senang.

"Aku tidak menyangka kita akan mendapatkan sponsor yang begitu baiknya." Yixing berseri-seri keluar dari ruang kantor itu. Baekhyun belum sempat keluar ketika pundaknya ditepuk oleh si penerjemah.

"Tuan Byun, ada yang boss saya ingin bicarakan." Penerjemah itu memanggil Baekhyun.

"Ah, ada perlu apa?" Tanya Zitao dalam mode managernya.

"Tak apa, hanya sedikit masalah kecil. Mari Tuan Huang dan Tuan Zhang, saya antarkan ke ruang lain untuk beristirahat sejenak." Sunyoung tersenyum manis dan mengarahkan Yixing dan Zitao ke ruangan lain.

"Kalian duluan saja. Aku akan menyusul." Baekhyun tersenyum kepada kedua temannya itu. Cepat atau lambat Chanyeol pasti akan mengajaknya bicara. Akan lebih baik kalau masa lalu mereka diselesaikan baik-baik. Mereka sekarang sudah dewasa, bukan anak SMA lagi. Dan kurang lebih, mereka akan menjalin hubungan kerja sama. Demi kelancaran proyek debut ini, Baekhyun harus mengesampingkan urusan pribadi dan dia berharap Chanyeol akan melakukan hal yang sama.

Baekhyun masuk ke dalam ruangan kantor Chanyeol. Dilihatnya Chanyeol memandanginya seolah ingin menelanjanginya namun dihiraukannya.

"Ada apa, Tuan Park?"

"Jangan memanggilku Tuan Park. Kau seperti sedang memanggil ayahku." Chanyeol mendelik tak suka.

"Ada yang kau ingin bicarakan—Chanyeol?"

"7 tahun, Baekhyun. 7 tahun lamanya kau menghilang begitu saja. Apa kau tidak ingin berkata sesuatu?" Chanyeol menggebrak mejanya.

"Kau tidak punya hak!" Teriak Baekhyun marah.

"Aku punya hak! Aku kekasihmu! Dan kau seenaknya pergi dari hidupku!"

"Oh? Seenak kau yang bertunangan di belakangku tanpa memberitahuku?" Tantang Baekhyun. "Sungguh kekasih yang baik!" Lanjut Baekhyun sarkastik.

"Aku memiliki alasan, Baekhyun." Chanyeol mencoba untuk membela diri.

"Apapun alasannya aku sudah tidak peduli. Hari itu aku melihatmu bertunangan dengan Seulgi tepat sehari setelah kau mengajakku berkencan dan berkata bahwa kau mencintaiku. Kau pikir bagaimana perasaanku saat itu?" Jerit Baekhyun. Matanya mulai berkaca-kaca.

"Aku sudah bilang aku akan mengatasinya!" Teriak Chanyeol marah.

"Dengan menikahinya dan memiliki anak dengannya?" Tanya Baekhyun marah. "Sudah cukup, Chanyeol. Apa yang terjadi di antara kita adalah masa lalu. Aku ke Seoul untuk bekerja, bukan untuk membahas masa lalu kita."

"Kau kemari untuk bekerja? Baiklah. Aku memiliki penawaran untukmu." Ucap Chanyeol. Diberikannya sebuah folder berisi dokumen pada Baekhyun. Baekhyun menerimanya dengan perasaan curiga.

"Aku akan memberimu bayaran 50% dari kontrak 10 Milyar Won itu." Tutur Chanyeol.

Baekhyun menaikkan satu alisnya.

"Dengan syarat kau mau menjadi simpananku." Lanjut Chanyeol.

"Batalkan saja kontraknya. Aku tidak peduli walaupun harus kehilangan kontrak senilai 10 Milyar Won itu!" Teriak Baekhyun emosi. Baekhyun melempar kertas-kertas di hadapannya itu ke muka Chanyeol. Rasanya tidak percaya dengan apa yang baru saja pria itu katakan. Baekhyun pikir Chanyeol sudah berubah setelah 7 tahun berlalu. Ternyata Chanyeol masih sama saja seperti dulu. Egois dan mau menang sendiri.

"Tak masalah bagiku untuk membatalkan niat agensiku untuk mendebutkanku di Korea. Aku masih memiliki banyak fans di China. Tidak perlu untuk melebarkan karirku di Korea." Kata Baekhyun.

Hal ini akan mengecewakan hati Zitao dan Yixing, tapi Baekhyun tidak punya pilihan lain.

"Kau pikir aku tak bisa menyogok agensimu, hah?" Balas Chanyeol lantang.

"Pemilik agensiku bukan orang seperti itu. Tapi jika kau terus memaksa, aku bisa pulang ke China dan berhenti menjadi artis. Tidak masalah bagiku. Uang yang kuhasilkan 3 tahun terakhir sudah lebih dari cukup untuk hidup tenang di China." Suara Baekhyun makin bergetar, emosinya semakin meluap. Lebih baik dia berhenti menjadi artis daripada harus kembali hidup dalam kungkungan Chanyeol.

Simpanan katanya. Simpanan!?

Baekhyun tidak tahu harus menjelaskan bagaimana pada Yixing dan Zitao tentang keputusannya ini. Tapi Baekhyun hanya berharap mereka mau mengerti. Ini masalah harga diri.

Baekhyun menggigit bibirnya kecewa dan mata sayunya tampak berair. "Jika tak ada lagi yang ingin kau bicarakan Tuan Park, saya mohon pamit." Baekhyun beranjak berdiri dari kursinya. Namun belum sempat dia memutar kenop pintu kantor Chanyeol, terdengar sebuah suara yang sangat familiar di telinganya.

"Ahhh.. Chan... Chan... Mmmhh.."

"Menggodaku, Baekhyun? Nakal sekali."

"Hihi.. tapi kau menyukainya..hnnn—ahhh..."

"Baekhyun—Ah! Ketat sekali.. sshhh.."

Baekhyun membalikkan tubuhnya begitu cepat dan raut wajahnya terlihat sangat pucat. Chanyeol memegang sebuah ponsel dan di layar ponsel itu terlihat dirinya yang masih muda tanpa sehelai benang satu pun sedang beradu kasih dengan Chanyeol di kamar Chanyeol dan dia terlihat sangat menikmatinya.

"A-apa?!" Tanya Baekhyun tak percaya. Yang baru saja dia dengar dan lihat itu.

"Kurasa sekitar SMA kelas dua kalau ingatanku tak salah." Chanyeol menghentikan rekaman video yang sementara terputar itu.

"Kau merekamnya?!" Tanya Baekhyun tak percaya.

"Sekedar perbuatan iseng anak remaja dengan hormon yang meledak-ledak kau tahu, Baekhyun. Aku menyimpan kamera dekat nakas tempat tidur kala itu. Tak kusangka akan berguna kelak." Jawab Chanyeol tersenyum licik.

"Coba bayangkan apa kata dunia jika video ini tersebar?" Chanyeol berkata dengan liciknya.

"Bian Baixian! Skandal Seks Sesama Jenis di Bawah Umur. Judul yang sangat menarik bukan?"

"Kau juga akan ikut terseret! Apa kau lupa kau juga berada di video itu!?" Baekhyun menjerit marah. Darahnya serasa mendidih. Tidak dia sangka Chanyeol akan sebegitu liciknya akan melakukan apa saja untuk memilikinya kembali.

"Aku rasa kau tidak sebodoh itu, Baekhyun. Tentu saja aku akan mengaburkan wajahku dan mengubah suaraku. Atau mungkin hanya akan memberikan cuplikan-cuplikan wajahmu, hmm? Kurasa itu sudah lebih dari cukup." Gertak Chanyeol.

"Dan bukan cuma karirmu yang akan hancur, karir temanmu serta agensimu pun akan mengalami banyak kerugian! Skandal seks itu yang paling tabu dalam industri dunia hiburan, Baekhyun."

Wajah Baekhyun terlihat semakin pucat.

Dalam hati Chanyeol memohon agar Baekhyun termakan ucapannya. Kenyataannya, mana rela dia membiarkan seluruh dunia melihat ekspresi erotis Baekhyun saat mereka berhubungan intim. Ekspersi itu hanya boleh dilihat untuk Chanyeol seorang. Hanya saja sekarang Baekhyun yang memaksanya untuk mengambil jalan kotor seperti ini. Baekhyun tidak bisa dibeli dengan uang, Chanyeol tahu itu. Maka hanya ini satu-satunya jalan.

"Dan bukan hanya video ini saja. Aku masih memiliki beberapa video lain." Dusta Chanyeol. Hanya video itu yang dia miliki, tetapi Baekhyun tidak tahu akan hal itu bukan.

Sorot pandang Baekhyun kepadanya makin meremukkan hati Chanyeol. Mata yang dulu memandangnya penuh cinta dan kekaguman sekarang memandangnya seolah dia adalah seorang manusia paling tidak berharga di muka bumi ini.

Tapi Chanyeol sudah sangat putus asa. Baekhyun berada di depannya sekarang ini setelah 7 tahun lamanya. Yang Chanyeol inginkan sekarang hanyalah Baekhyun kembali ke pelukannya. Tidak masalah bagaimana caranya. Cara sekotor apa pun, cara selicik apa pun, akan Chanyeol lakukan demi mendapatkan kembali Baekhyun dipelukannya.

"Apa jawabanmu, Baekhyun? Jadi simpananku atau video ini akan kusebar dipublik. Bukan hanya karirmu yang akan berakhir tapi kau juga akan menanggung malu seumur hidupmu." Ancam Chanyeol.

"Kau tidak bisa melakukan hal ini padaku, Chanyeol..." Baekhyun mulai terisak.

"I can and I will."

Baekhyun menunduk kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. Kedua kakinya tanpa sadar berjalan mundur.

"Kau sama sekali tidak berubah. Selalu hanya memikirkan dirimu sendiri saja..." Ucap Baekhyun lirih.

"Ah, tidak. Kau sudah berubah... Kau adalah manusia paling busuk di muka bumi ini."

"Kau sudah berkeluarga. Kau sudah memiliki istri bahkan seorang anak, Chanyeol! Seorang anak! Bagaimana bisa kau masih meminta hal seperti ini padaku, Chanyeol? Menjadi simpananmu. Mengancamku dengan hal sekotor itu! Apakah aku tidak berhak untuk bahagia bersama orang lain?" Tanya Baekhyun dengan mata berkaca-kaca. Diusapnya kasar matanya.

Hati Chanyeol terluka mendengar perkataan Baekhyun, namun dia sudah terlanjur mengancam Baekhyun seperti ini. Yang bisa terpikirkan oleh Chanyeol untuk bisa bersama kembali hanyalah hal ini. Tidak akan dibiarkannya Baekhyun menjalin hubungan bersama orang lain. Sejak dulu maupun yang akan datang, Baekhyun tetap miliknya. Chanyeol sudah cukup bersabar selama 7 tahun terakhir ini. Dia juga bekerja begitu keras demi mencapai titik teratas perusahaan ini. Tidak ada yang bisa menghalanginya untuk mendapatkan Baekhyun kembali.

"Aku yakin kau tidak sebegitu egoisnya hanya memikirkan dirimu sendiri."

Egois, heh, yang benar saja.

"Jadi apa jawabanmu, Baekhyun?" Tanya Chanyeol. Raut wajahnya nampak sangat tegang.

"A-aku..."

.

.

.

.


TBC


A/N: haii saya kembali lagi dengan chapter berikutnya. Kali ini tumben ya gak nyampai 8 bulan hiatusnya.. (TvT)/

Ternyata karya ini masih banyak yang baca ya. Makasih, makasih semuanya...

Dan sebelum ada yang nanya iya, itu beneran anak kandung Chanyeol dan Seulgi. Wong, udah nikah 6 tahun juga.

Oh iya satu lagi... Please jangan minta updatetan fic lain di kolom review fic ini ya. Masukkan tagihan pada tempatnya, ya. Kalian readers cerdas, saya yakin itu. (TvT)/

Terima kasih, dadah, bubyeee~~