DISCLAIMER :
Togashi-Sensei
Runandra (for the original fic, she permitted me to translate it)
PAIRING :
Absolutely KuroPika^^
SUMMARY :
Kurapika claimed that Kuroro Lucifer was his archenemy, but lo and behold, here he was travelling with that man because of some stupid mistakes they did in a rush of moment.
GENRE :
Adventure & Romance
WARNING :
FemKura. An Indonesian version for 1001 Nights by Runandra, one of my favorite author!^^
.
Happy reading^^
.
.
.
CHAPTER 9 : HUMANITY
Kurapika merasa seperti ingin bunuh diri. Beberapa saat setelah Kuroro tertidur dengan tenang dan nyaman di pangkuan Kurapika, gadis itu menyadari kebodohannya. Kenapa ia bersikap dengan begitu bersahabat kepada musuhnya? Bahkan menawarkan pangkuannya sebagai bantal? Mungkin pria itu memang sakit hingga tak bisa bicara, tapi tetap saja! Ini adalah Kuroro Lucifer yang berbaring di pangkuannya; pembunuh orang-orang sesukunya, orang yang Kurapika bersumpah untuk ia kejar hingga ke ujung dunia jika perlu, musuh bebuyutannya. Bagaimana bisa semua itu berakhir seperti ini?
Tiba-tiba, sebuah pikiran muncul di benak Kurapika bahwa inilah saat yang tepat baginya untuk membunuh Pemimpin Gen'ei Ryodan. Kurapika mengeluarkan rantainya, suaranya bergemerincing lembut dalam kegelapan gua. Kuroro tetap tidur tanpa terganggu, demamnya menaklukkan kesadarannya. Chain Jail milik Kurapika menari mematikan, dan dia mengarahkan rantai itu ke jantung Kuroro; siap untuk menyerang. Sebelum Kurapika sempat memberikan perintahnya terhadap rantai yang didesain khusus untuk kejatuhanGen'ei Ryodan, Kurapika merasakan sebuah sentakan di hatinya.
Hidupmu terikat padanya. Jika dia mati, kau pun akan mati.
Kurapika mengernyit. Suara itu ada di kepalanya, dan itu bukanlah suara pikirannya. Lagipula, Kurapika tak keberatan untuk mati jika dia dapat menyeret Kuroro ke dasar neraka, jika memang benar-benar ada. Seseorang sedang mencoba untuk meyakinkan Kurapika agar tidak membunuhnya.
Kau adalah keturunan terakhir Suku Kuruta yang masih hidup. Jika kau mati, itulah akhir dari sukumu.
Kali ini, suara Kuroro bergema di kepalanya. Kuroro mengatakan hal itu pada Kurapika di malam saat mereka berada di gurun…di tengah perjalanan menuju Ryuusei-gai. Kurapika membeku, jantungnya serasa berhenti berdetak. Ia telah bersumpah membalaskan dendam orang-orang sesukunya, bahkan jika harus sampai mengorbankan nyawanya sendiri. Keraguan yang baru pun muncul; apakah tindakannya membuat sumpah itu benar? Apakah mereka akan kecewa padanya jika dia tidak meneruskan garis keturunan mereka, dengan tidak tetap hidup dan mempunyai keturunan?
Jadi kau benar-benar tidak peduli jika sukumu punah?
Lagi-lagi, suara Kuroro. Suara itu bergema di kepalanya, meyakinkan dirinya. Kata-katanya terdengar begitu logis, begitu tepat. Membuatnya merasa seperti orang bodoh, seperti dialah yang salah. Kemudian Kurapika menyadari, bahwa dia mungkin harus merubah sumpahnya. Ya, dia akan membalas dendam pada Gen'ei Ryodan, tapi tidak dengan bayaran nyawanya sendiri. Ia akan tetap bertahan hidup. Dan untuk hal itu, Kurapika memerlukan keyakinan yang lebih kuat, ia membutuhkan kekuatan lain, tapi tidak akan melepaskan kekuatan yang ia miliki saat ini. Kurapika tidak akan mengubah syarat yang ia terapkan pada rantainya, tapi ia akan menambahnya. Lagipula, ia masih punya satu rantai tanpa penunjukan.
Kurapika mengangkat tangannya, mengamati kelima jarinya dan rantai yang terlilit di sekitarnya. Rantai di ibu jarinya untuk menyembuhkan, jari tengah untuk mengikat Gen'ei Ryodan, jari manis untuk melacak dan terutama untuk bertahan, jari kelingking untuk penghakiman dan pembatasan lain. Hanya jari telunjuknya yang tersisa. Ia pun menunjuk suatu fungsi untuk rantai di jari telunjuknya.
Matanya berubah warna menjadi merah, warna merah yang membara dalam kegelapan gua. Sebuah rantai baru muncul dari logam yang melingkari jari telunjuknya; ujungnya lebih terlihat seperti Chain Jail, dan berfungsi untuk serangan balasan. Kurapika tersenyum karena hal ironis ini—ya, ironis—dia bersumpah untuk menjadi kuat, namun ia membutuhkan kekuatan baru hanya agar bisa melakukan serangan balasan. Hati nuraninya tetap tidak memperbolehkannya untuk membunuh, untuk menyerang seseorang lebih dulu kecuali mereka dulu yang melakukannya.
Jadi kau akan menunggu hingga dia membunuh salah satu dari teman-temanmu, dan kemudian kau baru bisa membunuhnya?
Kurapika menelan ludah. Kata-kata Kuroro benar. Kurapika merengut; kenapa Kuroro harus hampir selalu benar? Dia lebih tua sembilan tahun dari Kurapika, tapi tetap saja…hal itu membuatnya jengkel…mengetahui bahwa Kuroro selalu benar dan dia salah. Apakah dia salah? Tidak. Kali ini, Kurapika tidak salah, dia percaya itu. Dia tidak akan membunuh tanpa alasan seperti yang dilakukan orang-orang. Dia membunuh demi alasan yang dapat dibenarkan, dan hanya jika benar-benar perlu. Dia bukan orang yang ceroboh dan gegabah, tapi dia juga bukan orang yang berdarah dingin. Kurapika akan bertarung untuk bisa bertahan hidup, tapi dia tidak akan membunuh. Itu adalah keyakinannya, dan hanya itu yang bisa membuatnya tetap berada di jalurnya saat bepergian bersama dengan Kuroro Lucifer, pembunuh berdarah dingin yang terkenal.
Lagi-lagi, dia mendengus atas ironi yang kejam ini, ya, seorang pembunuh berdarah dingin; orang yang sekarang sedang terkena demam dan tidur dengan kepalanya berada di pangkuan Kurapika.
.
.
"Di sebelah sana!" Nobunaga menunjuk ke arah tertentu. "Aku merasakan gelombangNen di sebelah sana."
"Aku juga merasakannya." Phinks mengangguk, dan dengan tanpa berkata-kata mereka menyetujui hal itu. Mereka merubah arah menuju ke tempat di mana ada gelombang Nen. "Itu Nen Si Pengguna Rantai."
Machi dan Shalnark saling bertukar pandangan, tapi mereka tidak mengatakan apapun.
"Sial, jika dia melukai Danchou sedikit saja, aku akan memenggal kepalanya!" Nobunaga menggeram dengan mengancam, tangannya menggenggam pegangan pedangnya.
"Kau akan membunuh Danchou, Nobu," Machi menajamkan pandangan matanya dengan berbahaya.
"Oh…benar…Mungkin memotong lengannya?"
"Aku dapat melihat gua itu," Shalnark mengumumkan. Segera setelah itu, mereka sampai di gua tapi Shalnark menghentikan teman-temannya unutk menerobos masuk. "Ingat, Danchou memberitahuku untuk datang sendirian, tapi kalian semua memaksa untuk ikut. Aku akan masuk lebih dulu, memberi tahu Danchou tentang kedatangan kalian semua dan melihat apakah dia akan mengijinkan kalian masuk."
"Oh, ayolah, Shal. Ini kami, bukan para Hunter yang memburunya. Tentu saja dia akan membiarkan kami masuk," Phinks mendengus.
"Aku akan masuk sendirian," Shalnark memaksa sambil bertolak pinggang.
"Dia akan masuk sendirian. Diskusi selesai," Machi mengumumkan sambil memberikan tatapan peringatan pada Nobunaga, Phinks dan Feitan.
Sebelum mereka protes lebih jauh, Shalnark menyelinap dari kelompoknya dan memasuki gua, meninggalkan sisanya pada Machi yang selalu dapat diandalkan untuk menangani mereka. Ia berhenti di mulut gua, berusaha menyesuaikan matanya terhadap kegelapan gua yang pekat itu. Shalnark mengarahkan matanya, dan melihat sebuah sosok yang berada jauh di ujung kegelapan.
"Danchou?" tanyanya ragu.
"…Dia di sini," jawab sebuah suara yang terdengar feminin, dan bukannya suara bass milik Kuroro.
Shalnark menaikkan sebelah alis matanya, namun mendekati sosok itu. Saat ia hanya berjarak beberapa langkah lagi dari mereka, hampir saja ia tersedak saking terkejutnya. Shalnark berkedip beberapa kali, dan bahkan menggosok matanya dengan punggung tangannya. Shalnark menelan ludah dan berusaha mencerna kebenaran yang ada di hadapannya. Di sana, di lantai gua itu, Danchou-nya sedang tidur dengan kepalanya berada di atas pangkuan Si Gadis Rantai, lebih seperti pasangan yang mungkin akan ia lihat saat berjalan-jalan di taman.
"Kau bawa obatnya?" Si Gadis Pirang bertanya padanya dengan suara yang seperti sudah dilatih sebelumnya, suara yang monoton.
"Ya, tentu," Shalnark segera menggeledah sakunya dan mengeluarkan obat yang ia bawa.
"Bagus. Pegang dulu sebentar." Lalu, Kurapika mengalihkan perhatiannya pada pria yang sedang tidur di pangkuannya. "Bangun. Obatmu sudah ada di sini."
Bisa saja rahang Shalnark menganga…jatuh hingga mencapai tanah, tapi terimakasih pada Tuhan tubuhnya ingat untuk masih menjaga harga diri agar tidak menjadi objek ejekan gadis itu. Shalnark bersumpah, dia mendengar suara gadis itu pelan dan lembut; tidak penuh dengan kebencian dan ejekan seperti yang ia dengar sebelumnya; saat gadis itu masih sebagai seorang laki-laki. Kuroro bergerak sedikit, dan kelopak matanya terbuka memperlihatkan matanya yang gelap dan terlihat lelah. Kuroro melihat ke arah Kurapika, dan dengan berusaha, ia menoleh untuk melihat Shalnark yang berdiri dengan canggung di dekat mereka.
"Ayo, bangunlah." Kurapika memaksanya untuk bergerak. Ia menyokong kepala dan bahu Kuroro sebisanya dan mengangkatnya sehingga kepala pria itu dapat bersandar pada lutut Kurapika yang ditekukkan. Setelah memastikan bahwa Kuroro berada dalam posisi yang stabil, gadis itu pun kembali menoleh kepada Shalnark.
"Apa kau juga membawa air?" Kurapika mengulurkan tangannya untuk mengambil obat dari Shalnark.
"Ya." Shalnark mengeluarkan sebotol air segar dan memberikannya pada Kurapika. Dalam diam ia menyaksikan saat Si Pengguna Rantai meminumkan obat pada Danchou-nya.
Kurapika membuka mulut Kuroro sedikit, namun cukup lebar untuk memasukkan pil ke dalam mulutnya. Airlah yang menjadi masalahnya. Kurapika membuka botol air itu dan menekankan pinggirannya ke bibir Kuroro, tapi rahangnya terlalu kaku untuk bisa bergerak; belum lagi kesulitan menelan yang disebabkan oleh kontraksi otot. Meskipun demikian, Kurapika tetap berusaha sebaik-baiknya. Air tumpah ke bagian depan baju Kuroro, tapi akhirnya, setelah beberapa kali mencoba, Kurapika berhasil membuat Kuroro menelan pilnya.
"Pilnya akan bekerja setelah beberapa jam. Pilnya akan meredakan demamnya juga." Shalnark menjelaskan, ia masih merasa canggung.
"Aku mengerti," jawab Kurapika. Ia menempatkan Kuroro kembali ke pangkuannya dan menuangkan sedikit air di telapak tangannya, lalu membasuh kening Kuroro yang berkeringat. Sementara itu Kuroro terlihat sudah kembali tidur. Shalnark bersumpah bahwa ia tidak bisa mendeteksi setetes pun permusuhan di antara mereka berdua; yah, dari awal memang Danchou tidak punya rasa memusuhi terhadap gadis itu, itu adalah kebencian yang sepihak.
"Ah…bolehkah aku menanyakan sesuatu? Kau Si Pengguna Rantai itu 'kan? Si Kuruta?"
"Ya," jawab Kurapika dingin.
"Jadi…ah…kau benar-benar perempuan?"
"Kau tidak buta 'kan?" Kurapika menyeringai dengan mengejek kepadanya.
"Oh. Ngg…maaf." Shalnark menggaruk bagian belakang kepalanya karena malu.
"Tak usah begitu. Ngomong-ngomong, beritahu teman-temanmu untuk tidak datang ke sini. Aku tidak ingin berada di ruangan yang sama dengan mereka untuk beberapa jam lamanya," Kurapika berkata sambil mengisyaratkan ke arah pintu masuk gua dengan memiringkan kepalanya. "Aku akan memberitahumu jika dia sudah bangun."
"Baiklah." Shalnark menganggukkan kepalanya dan berbalik hendak melangkah pergi. Ia menghentikan langkahnya saat teringat sesuatu, lalu kembali menghampiri Kuroro dan Kurapika. Shalnark meletakkan sebuah kantung plastik di hadapan Kurapika dan menyeringai padanya. "Pesananmu." Setelah mengatakan hal itu, Shalnark keluar dari gua untuk mengabari teman-temannya tentang situasi ini.
.
.
"Jadi bagaimana?" tanya Machi dingin.
"Baik. Danchou masih hidup; dia merawatnya dengan baik," jawab Shalnark dengan santai. Matanya menangkap sesuatu menggeliat dengan marah dan mendengar beberapa kata kasar yang diucapkan di belakang gadis itu. "Eh, Machi? Apa yang kaulakukan pada mereka?"
"Oh? Sebuah tindakan pencegahan sehingga mereka tidak akanmenerobos masuk danmembahayakan nyawa Danchou." Machi mengangkat bahu. Di belakangnya, Nobunaga dan Phinks diikat ke pohon dengan benang Nen-nya, sementara Feitan ada di sana untuk mengejek dan menggoda mereka. "Jadi, dia benar-benar seorang gadis?"
"Ya. Meskipun itu merupakan suatu keberuntungan bagi Danchou." Shalnark menghela napas dan menggelengkan kepalanya, seolah melakukannya atas nama Kuroro. "Oya, dia memberitahuku bahwa dia tidak menginginkan kehadiran kita di dalam gua, tapi dia akan memberitahuku saat Danchou bangun."
Machi menaikkan sebelah alis matanya. "Kau membuatnya terdengar seperti seorang perawat pribadi yang terlatih atau semacamnya."
"Yah, dia memang begitu, dan dia yang terbaik, tidak kurang dari itu."
.
.
Kuroro bangun dengan sekilas rasa sakit di kepalanya dan kekakuan di sekujur tubuhnya. Ia mengerang dan membuka matanya; disambut oleh kegelapan gua yang pekat. Kuroro berkedip beberapa kali, mencoba menyesuaikan matanya terhadap kegelapan, dan saat dia berhasil melakukannya, hal pertama yang dilihatnya adalah wajah Si Gadis Kuruta.
Kurapika tertidur tanpa suara, kepalanya sedikit menunduk saat tidur dalam posisi duduk seperti itu. Rambut emasnya membingkai wajahnya yang pucat dengan sempurna, dan rambutnya itu seolah seperti tirai sutra di sekitar wajah mulusnya. Kuroro menikmati waktunya untuk mengamati Kurapika lekat-lekat. Rambutnya sudah tumbuh sedikit lebih panjang sejak pertama kali mereka berhadapan dengan Jin Hassamunnin. Kuroro mencoba untuk melenturkan tangannya, dan merasa senang saat mengetahui bahwa ia sudah bisa menggerakkan jari-jarinya. Obat yang dibawa Shalnark bekerja secara ajaib. Kuroro mencoba mengangkat lengannya, dan lengannya pun mematuhi perintahnya. Ia mengepal tangannya dan membukanya kembali, mencoba melenyapkan kekakuan itu. Kuroro melirik Si Gadis Kuruta yang masih tidur. Tiba-tiba, ia merasa tergoda untuk menyentuh wajah gadis itu.
Kuroro melakukannya dengan sangat diam-diam, pertama-tama ia meraih dan menyentuh rambutnya, merasakan teksturnya yang selembut sutra dengan jemarinya. Ia membiarkan setiap helai rambut emas itu lolos dari jari-jarinya bagaikan benang sutra yang halus. Gadis itu masih tidak terganggu dalam tidurnya. Kuroro menggerakkan jari-jarinya dan menyentuh pipi Kurapika dengan hati-hati, dan Kurapika tetap tidak bergerak. Kuroro menelusuri rahangnya, merasakan tekstur lembut kulit wajah gadis itu. Terasa seperti kulit bayi, dan Kuroro pun tersenyum; untuk alasan yang tidak bisa ia ketahui. Saat jarinya mencapai dagu Kurapika, ia melepaskan sentuhannya dengan enggan dan di saat yang sama, mata Kurapika pun terbuka.
"Kau sudah bangun," dia menyatakan hal yang sudah jelas itu dan menegakkan badannya.
"Begitulah kelihatannya." Kuroro menjawab dengan suaranya yang serak karena jarang digunakan untuk beberapa jam lamanya.
Kurapika menaikkan sebelah alis matanya. "Sepertinya obatnya sudah bekerja."
"Memang."
"Jadi…" Kurapika mengarahkan pandangannya, dengan sedikit rasa jengkel terlihat di matanya. "Kenapa kau masih berbaring di pangkuanku jika kau sudah lebih baik?"
"Karena rasanya nyaman." Tiba-tiba, Kuroro merasa selera humornya segar kembali dan ia ingin menggoda gadis itu.
"Bangun." Kurapika memberikan penekanan pada perkataannya. Yang membuatnya lebih kesal, Kuroro tidak bergerak sama sekali.
"Sesaat kau baik, tapi kemudian kau menjadi kejam," Kuroro berkomentar, tetap meletakkan kepalanya di pangkuan Kurapika. Kuroro pun mendapatkan tatapan tajam dari gadis itu.
"Tadinya kau sakit."
"Aku masih sakit."
"Kau sudah bisa bicara."
"Tidak berarti aku sudah benar-benar pulih."
"Kau tidak harus berbaring di pangkuanku hingga kau benar-benar pulih, Bajingan."
"Benar. Tapi aku hanya ingin saja."
"Bangun sendiri, atau aku akan langsung berdiri dan membiarkan kepalamu membentur tanah." Kurapika mengancam dan bersiap untuk bangkit.
"Baik, baik." Akhirnya Kuroro menurut dan mengangkat tubuhnya ke dalam posisi duduk di samping Kurapika. Saat dia sudah duduk, Kurapika menawarkan sebuah kantung plastik padanya.
"Makan malammu. Laba-labamu membawakan itu untukmu."
"Oh." Kuroro mengambilnya dari tangan Kurapika dan memeriksa isinya. Kedua alis matanya melengkung dan ia melirik pada Kurapika, yang sedang sibuk melihat ke arah lain dan mengabaikannya. Jelas terlihat, Kurapika tidak mau repot untuk mengintip ke dalam kantung plastik itu. Kuroro menghela napas dan mengeluarkan sepaket makanan lalu menjatuhkannya ke pangkuan Kurapika. Kurapika terkejut dan segera menoleh.
"Bagianmu."
"Tapi aku—"
"Shalnark membawa lebih untukmu." Kuroro menjelaskan tapi saat melihat raut wajah Kurapika, ia pun menambahkan, "Dan sebaiknya kau memakannya, kalau tidak aku juga tidak akan makan."
Kurapika siap protes, tapi ia memutuskan untuk melawan keinginannya itu karena Kurapika tahu bahwa ia akan kalah berdebat lagi. Lebih bijaksana untuk menyelamatkan wajahnya dari rasa malu dengan tidak bertengkar dengan Kuroro mengenai masalah makanan, tidak lagi, karena ia sudah kalah berdebat beberapa kali. Dalam keheningan, Kuroro dan Kurapika menyantap makanan mereka. Kuroro tahu Kurapikalah yang meminta Shalnark membeli makanan yang mudah dicerna untuknya, karena ia mencuri dengar percakapan mereka saat setengah tertidur, saat Kurapika menjawab telepon atas namanya. Ia cukup terkejut, Kurapika mengangkat teleponnya dan berbicara dengan cara yang sangat sopan kepada anak buahnya. Ia tidak tahu Kurapika bisa begitu perhatian seperti itu.
"Mereka ada di luar, menunggumu bangun." Kurapika memberitahu Kuroro dengan nada suara yang datar setelah selesai menyantap makanannya. Ia mengambil tempat makanan Kuroro yang sudah kosong dan memasukkannya ke dalam kantung plastik yang kini dijadikan tempat sampah, bersama dengan tempat makanan miliknya.
Kuroro memanggil Shalnark dan memerintahkannya untuk datang sendiri. Ketika pemuda itu muncul di mulut gua, mereka dapat mendengar gemuruh kemarahan Nobunaga karena ditinggalkan. Shalnark segera menghampiri mereka dan duduk di hadapan Kuroro.
"Danchou! Bagaimana perasaanmu sekarang?" kegembiraan terdengar jelas di nada suaranya yang kekanak-kanakan. Shalnark melirik Kurapika sekilas, tapi Si Gadis Kuruta itu mengabaikannya. Sebenarnya, ia sedang mencoba untuk tidak terlibat dalam percakapan mereka.
"Aku sudah jauh lebih baik sekarang. Jadi siapa saja yang ikut?" tanya Kuroro dalam gaya Danchou-nya.
"Yah, ada Machi, Nobunaga, Phinks dan Feitan."
"Begitu. Sekarang aku ingin kalian semua kembali dan bubar hingga aku memberikan instruksi lebih lanjut. Untukmu, Shal, aku membutuhkanmu untuk melakukan sesuatu."
"Apapun, Danchou."
"Aku ingin kau menemukan di mana Mata Merah berada, dan buatkan daftarnya," kata Kuroro tegas, dan Kurapika sedikit tersentak.
"Semuanya?"
"Semuanya." Kuroro mengangguk. "Itu saja."
"Baik, aku mengerti. Dan…ah…" Shalnark melirik Kurapika, yang masih tidak menghiraukan mereka. Kuroro menyadari isyarat ini dan menoleh pada gadis itu.
"Apa kau ingin dia memberitahu mereka, Kurapika?" ia bertanya dengan enteng, seolah sedang bertanya kepada seorang teman. Shalnark menaikkan sebelah alis matanya melihat cara Kuroro yang sepertinya sudah biasa menyebutkan nama Kurapika.
"Aku tak peduli," jawab Kurapika dingin.
"Kalau begitu, terserah padamu," Kuroro kembali mengalihkan perhatiannya pada Shalnark.
"Ah, baiklah. Sampai jumpa nanti, Danchou. Aku akan meneleponmu saat aku sudah menyelesaikan daftar itu." Lalu pemuda berambut coklat itu pun pamit dan melangkah menuju pintu masuk gua. Ia memandang mereka sekilas, sebelum menghilang ke dalam hutan. Keheningan yang begitu kentara melanda gua kecil itu, sebelum akhirnya Kurapika memecahkan keheningan itu.
"Ada apa dengan daftar Mata Merah itu?" ada kecurigaan terdengar di nada suaranya.
"Hm? Aku berjanji bahwa aku akan membantumu mengumpulkan semua mata orang-orang sesukumu, bukan? Aku memegang janjiku, Kurapika."
"Aku terkejut," Kurapika berkata dengan sinis.
Kuroro melihat ke arahnya dan memberinya pandangan yang penuh tanda tanya. Kuroro tersenyum melihat tingkah laku Kurapika tapi tidak mengatakan apa-apa. Merasa kesal karena pria itu tidak begitu menanggapi, Kurapika melanjutkan serangan kata-katanya.
"Terlalu berlebihan untuk Pimpinan Laba-laba yang agung itu. Seperti dia berbeda dengan kita saja! Dia hanya manusia biasa!"
"Memangnya kau menganggapku apa? Monster? Aku masih tetap manusia, Kurapika. Pertama aku seorang manusia, kedua aku adalah Laba-laba." Jawab Kuroro santai, dan bahkan ia terkekeh atas betapa naifnya Kurapika; membuat mood gadis itu menjadi lebih buruk.
"Aku tidak menganggap seseorang yang membunuh tanpa merasakan apapun adalah seorang manusia." Kurapika berdesis padanya, matanya mulai menyala merahsecara perlahan-lahan.
"Kalau begitu kau harus mengatakannya pada temanmu yang seorang Zaoldyck itu. Pasti kau sudah pernah melihat dia membunuh sebelumnya. Beritahu aku, apakah dia ragu sebelum membunuh lawannya?"
Kurapika terkejut mendengar jawaban Kuroro, tapi ia mencoba untuk tetap tenang. "Dia benar-benar berbeda denganmu."
"Bagaimana bisa? Karena dia tidak terlibat dalam pembantaian sukumu? Itu sangat subjektif. Kau harus menilai segalanya secara objektif, Kurapika." Kuroro menoleh padanya dan tersenyum puas.
"Setidaknya," Kurapika menggeram marah kepada Kuroro, mata merahnya bercahaya lebih intens. "Dia tidak membunuh jika tidak perlu."
"Jadi tidak apa-apa membunuh demi alasan bisnis?" Kuroro membantah.
"Dia berhenti menjadi pembunuh bayaran sejak lama. Lagipula, sekarang dia berbeda," tukas Kurapika.
"Apakah aku tidak berbeda dari sebelumnya?" lagi-lagi Kuroro memberi Kurapika seulas senyum tipis; yang kemudian diartikan Kurapika sebagai sebuah senyum yang bermaksud untuk mengejeknya.
Kurapika menjadi lengah karena kata-kata Kuroro. Dia membuka mulutnya untuk membantah, tapi tak satu pun kata yang keluar. Terperangah, Kurapika membelalak padanya dan memalingkan wajah. Kata-kata Kuroro mengganggunya, dan selama sisa hari itu, mereka berjalan keluar dari hutan, Kurapika terus merenungkan hal itu. Kurapika tidak dapat menahannya. Dia merupakan orang yang bodoh, bahkan sangat bodoh jika dia memaksa bahwa Kuroro Lucifer belum berubah. Tentu saja Kuroro telah berubah, menjadi lebih buruk maupun lebih baik, Kurapika belum bisa mengatakannya, tapi pastinya Kuroro menjadi lebih baik dan tidak begitu dingin lagi terhadapnya. Kuroro Lucifer telah berubah menjadi lebih manusiawi.
Pertama aku seorang manusia, kedua aku adalah Laba-laba..
Kurapika menajamkan pandangannya; kata-kata Kuroro terus bergema di benaknya. Apakah ia mencoba untuk memberitahu Kurapika bahwa dia masih bisa merasakan apa yang dapat dirasakan manusia; bahwa dia masih memiliki sisi kemanusiaan yang tersisa. Kurapika mendengus pelan; jika dia masih punya rasa kemanusiaan, dia akan telah memaafkannya dan mencoba memperbaiki semuanya.
Aku berjanji bahwa aku akan membantumu mengumpulkan semua mata orang-orang sesukumu, bukan? Aku memegang janjiku, Kurapika.
Kurapika menegakkan kepalanya dan menatap punggung Kuroro; yang sedang berjalan di depannya, sebuah kenyataan tiba-tiba menghampirinya. Janji Kuroro untuk membantunya mengumpulkan kembali Mata Merah orang-orang sesukunya; apakah ini cara dia untuk memperbaiki kesalahannya terhadap Kurapika? Kurapika tidak ingin mempercayainya, ia mencoba untuk menyangkalnya, memberitahu dirinya sendiri bahwa Kuroro hanya mencoba untuk mendapatkan kepercayaan Kurapika demi memperlebar jarak belenggu gaib itu; dengan kata lain, demi kenyamanannya.
Kurapika menggelengkan kepalanya keras-keras, berusaha menghilangkan pemikiran yang mustahil itu dari benaknya...karena dapat mempengaruhi penilaiannya terhadap Kuroro nantinya. Tapi yang paling penting adalah, Kurapika takut jika hal itu akan membuatnya berhenti membenci Kuroro.
"Ada apa?" Kuroro bertanya saat menyadari sikapnya yang aneh. Ia berhenti melangkah dan menunggu hingga berjalan berdampingan dengan Kurapika.
"Bukan apa-apa. Urus urusanmu sendiri." Jawab Kurapika dengan kasar, tapi ia menundukkan kepalanya dan menghindari tatapan Kuroro.
Kuroro menaikkan sebelah alis matanya, merasa geli dan bingung oleh mood Kurapika yang tiba-tiba buruk, namun ia tetap diam dan terus berjalan dengan kecepatannya yang biasa, saat dengan enggannya Kurapika pun menyadari,
Aku memegang janjiku, Kurapika.
Kurapika memejamkan matanya, di dalam hatinya ia sangat berharap bahwa jika Kuroro memang masih mempunyai rasa kemanusiaan, ia akan benar-benar menepati janjinya. Kurapika mencoba menyangkal kenyataan bahwa pria itu sudah cukup manusiawi, tapi di saat yang bersamaan Kurapika pun berharap bahwa pria itu benar-benar masih memiliki nurani yang tersisa dalam dirinya, jadi setidaknya dia dapat memenuhi tujuan seumur hidupnya. Bicara ajaran sesat, gumamnya pahit.
.
.
Kuroro tidak benar-benar yakin kenapa dia bertindak sejauh itu dengan meminta Shalnark untuk membantunya demi Mata Merah. Seharusnya itu urusan pribadi, dan dia tidak harus meminta bantuan rekannya. Mungkin dia hanya ingin masalah ini bisa selesai dengan mudah dan cepat, tapi kemudian...Apakah ia sedang mencoba untuk membalas kebaikan Kurapika? Benar-benar tidak seperti Kuroro yang biasanya. Dan sungguh ironis! Dia adalah orang yang mencuri mata-mata itu, dan sekarang dia mengumpulkannya kembali untuk mengembalikannya pada pemilik yang pantas. Jika Ishtar sampai mendengar tentang hal ini, ia akan tertawa terpingkal-pingkal.
TBC
.
.
A/N :
Review please…^^
