Author akan ngebacot sebentar…
Oke, ini dia chapter 9! Akhirnya, sodara-sodara, setelah melewati masa-masa berat UN dan UTS, saya bisa meng-update fict sialan ini! (ngedor leppie)
Oh ya, author ngerjain chapter ini sambil ngedenger Dark Woods Circus-nya Vocaloids… Serem banget, tengah malem pula =='''
Okay, let's start with…
Review Reply! :
YohNa –nyu- : Halo, Mel! Jadi pengen ketawa… Saking lamanya gue apdet ini pik sialan, bahasamu di review ini sungguh amat sangat teramat formal, say! Hmmm, karena di situ ada ciri-ciri OC-mu yang membingungkan (kalau menangis ia tertawa, kalau tertawa ia menangis), jadi terpaksa kamu ditolak, say… gomenne. Tapi tetep baca ya! (maksa) Thanks for reading!
Shin2Ashura : Woho, jangan bunuh sayaa! (ngacir ke belakang Hiruma) Itu HiruYoi, bazooka-mu dicolong, tuh! Hajarrrr! (dibunuh Ashura-san) Hm… harusnya ngasih ciri-ciri OC yang detail, hm… Kalo nggak, gimana saya bikin kemunculan karakterisasinya? Gomenasai… (bows) and thanks for reading!
Ruicchi Arisawa : Wohoho, thankies, Ruicchi! (peluk2 Ruicchi) Lha, emang ceritanya keren, ya? Sebenernya ada yang nyadar, nggak…? Waktu ngetik fict ini, cerita di otak saya plotless, lho. Haha, Ruicchi bakal muncul terus kok, sampe chapter terakhir~ Keep reading, ya x9!
Reiya Sumeragi : Rhe-chan! Dia sudah mati! Dia sudah matiiii! (lebay) Okelah, Rhe-chan keterima jadi OC~ Tapi gomen, munculnya bukan di chapter ini =w=. Antara chapter depan dengan chapter depannya lagi~ Widiw, adegan pertarungannya, all thanks to Matthew deh (ngelirik Matthew dengan pandangan males). Oke, mudah-mudahan chapter ini berkesan, ya, Rhe-chan! (nebar senyum) Thanks for reading!
KOkuryoUma Oni : Sekarang nggak lagi, sih. Tapi tadinya iya. Udah putus sih. Btw, thanks for reading!
NakamaLuna : HUWOH! (semaput neriakin Lunacchi yang masuk ke jamban) Lunacchi! Lunacchi~! Gak usah balik-balik lagi, yah! (digampar) He~? Jangan tanya saya, tanya otak saya aja, Sena bakal idup ato engga, Lunacchi (nyengir lebar). Oke deh, enjoy reading, ya!
Armalita Nanda R. : Uwah, gomen! Maaf, saya kurang menyadarinya… (nangis darah) Mulai dari sekarang bakal saya perbaiki, deh. Makasih, ya, udah nyadarin saya~ (peluk2 Nanda-san)Tentang julukan yang dikasih Hiruma ke Riku… Itu juga saya minta maaf… Ini fict AU (Alternate Universe), yang artinya pengaturan latar tidak sesuai dengan animanga aslinya. Lagian saya gak berniat masukin Kid di fict ini (julurin lidah, ditampar) Jadi… maaf kalo kurang berkenan (bows). Humm, kalo boleh ngasih penjelasan tentang tanda kutip itu, saya pikir walaupun kata tersebut terletak setelah tanda kutip, tanda baca di belakangnya tetap koma, jadi nggak ditulis dengan huruf besar… Apa saya salah? Kalo salah, maaf ya… (pundung di pojokan). At least, enjoy this story~ Thanks for reading!
lightAGITO : Oke, bakal berusaha ngebuat endingnya lebih 'wah'! Thanks for reading!
Antoinette Yoh : Lha, acc-mu yang sebenernya yang mana, sih? Puyeng gue… Yah, enjoy aja kali. Nangis, nangis aja, mati, mati aja, terserah sama Tuhan. Hehe (nyengir). Suka RikuSena sho-ai? Uwaaah~ sama! RikuSena the one and only! (jangan percaya, ini anak punya segudang pair sho-ai paporit)
Youichi Nanase : Ingat dong sama kamu! Walaupun kapasitas otak saya minim, saya inget kamu, kok~ (wink) Mana kutahu Sena bakal mati atau hidup… Tanya aja otakku! Bahahaha! (dilembing Nanase) Okay, enjoy this chap, and thanks for reading~
mimimifeyfeyfey : thanks! Enjoy this chapter ^^.
Oke, let's begin the story.
Warning : explicit OOC for some characters (Sakuraba and Riku, etc.), SHOUNEN-AI, DON'T LIKE DON'T READ!
N/B : Sakuraba di sini pake tipe uke. Maksudnya, tingginya gak kayak di animanga. Di sini tingginya Cuma 170 sekian sentimeter, dan rambutnya masih model sebelum masuk turnamen Amefuto SMU. Harap dimengerti, ya~ (wink) (reader muntah jamaah)
OwO MELTING HEARTS OwO
Chapter Nine, The Beginning of The Plan
Cherrie dan Rui sekarang berada di depan sebuah pintu berwarna putih keabu-abuan, dengan gagang pintu berwarna emas. Mata Cherrie yang tertutup tampak basah, jari-jarinya ditautkan dengan erat, berdoa. Sementara Rui, gadis itu duduk di sebelah Cherrie sambil merangkul pundaknya, mencoba menghibur, tapi tampaknya gagal melihat mereka yang sudah berada di sana selama satu jam penuh dengan Cherrie yang masih tetap meneteskan airmata. Bukan berarti Rui tidak ikut sedih, ia hanya mencoba tegar dan berpikir optimis. Jauh di dalam hatinya, ia juga merasa sangat takut.
Takut jika orang yang kini tertidur tenang dalam ruangan di balik pintu di hadapan mereka ini akan tertidur selamanya. Takut jika orang itu meninggalkan mereka. Takut.
"Cherrie, Rui." Seorang pemuda tegap berambut merah memanggil nama kedua gadis itu. Refleks mereka berdua menoleh ke arah asal suara itu, "Hayato-nii." Cherrie menyebut nama kakak laki-lakinya itu.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya pemuda bernama Hayato Akaba itu dengan suara pelan. Ia berdiri di sebelah tempat duduk mereka. Seolah jika ia bersuara keras, perasaan adiknya itu akan pecah, hancur berantakan.
Cherrie menggigit bibirnya, "a-aku rasa… Semuanya akan baik-baik saja… Senacchin akan… sembuh, dan… akan mengobrol dengan kita lagi…" Suara gadis berambut hitam pendek itu tidak jelas terdengar. Tertutup oleh isakan tangis yang keras. Bahunya berguncang hebat. Rui yang di sebelahnya hanya bisa menatap Cherrie yang emosinya sedang labil itu, sambil sesekali merangkulnya.
Walaupun kata-katanya penuh dengan optimisme, tangisannya menghancurkan optimisme itu sendiri.
Rui kemudian menoleh ke arah Akaba, kemudian mulai berbicara, "Sena-sama… kondisinya buruk."
Napas Akaba tercekat. Takut kecewa dan putus harapan. Tapi ia ingin tahu lebih banyak lagi.
"Lalu… cederanya ada di bagian tubuh mana saja?" Tanya Akaba lagi. Rui menggeleng singkat, menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Pergeseran saraf-saraf penting… patah tulang pada betis kanan… tebasan yang cukup dalam pada perut… Apa ada yang lebih mengerikan dari itu?" Jawab Rui. Akaba memandang ke bawah, alisnya mengerut. Dengan ekspresi berat ia menatap Rui yang kini juga tengah menatapnya. Akaba bisa melihat setetes air mata jatuh mengalir di pipi gadis itu.
"Siapa saja yang sudah datang menjenguk? Oh ya, tadi aku bertemu Shin di bawah." Ujar Akaba lagi.
"Koboi Sialan dan Shin-san sudah pulang dari sini, tapi katanya sebentar lagi Shin-san akan datang lagi untuk memanggil Hiru-Yoi. Jadi tinggal kami saja yang belum pulang." Kali ini Cherrie yang menjawab di selah-selah tangisannya.
"Kalian tidak masuk ke dalam?" Tanya Akaba.
"Dokternya tidak mengizinkan." Jawab Rui, "lagipula kami tidak sanggup melihatnya. Luka-lukanya sangat parah." Rui menundukkan kepalanya saat mengatakan kalimat itu. Akaba mengerti, seorang perempuan sulit menahan isak tangis saat melihat orang yang dikenalnya dengan baik menderita.
"Hiruma di mana?"
"Dia seolah tidak peduli dengan keadaan Sena-sama!" Rui meninggikan suaranya.
"Sudahlah, Rui. Kau kan juga tahu bagaimana Hiru-Yoi. Dia itu egois, dan tindakannya selalu tidak bisa ditebak. Lagipula, dia bukan tipe orang yang pesimis." Cherrie menenangkan Rui.
Rui dan Akaba memutuskan untuk diam. Akaba sepertinya sudah lelah berdiri, jadi dia berjalan dan duduk di sebelah Cherrie, menepuk pundak adiknya itu dengan lembut, "Sena-san pasti akan baik-baik saja. Tenanglah."
Selagi mereka menenangkan diri di sana, mereka tidak tahu siapa yang sejak kemarin berada di dalam ruangan dingin, di balik pintu putih itu. Menemani Sena.
Sama sekali tidak tahu.
Kenapa semuanya terlihat hitam?
Apa memang aku terlahir untuk masuk ke sini?
Apa tidak akan ada yang menyelamatkanku?
Ah, aku tidak bisa berharap.
Aku tidak punya hak untuk berharap.
Benar kan, Tuhan?
Aku tidak bisa menghentikan Ayah membunuh Ibu.
Aku yang bersalah. Aku tidak cukup kuat.
Aku yang berdosa…
Shin kini berada di tengah kota, baru keluar dari sebuah toko bunga. Ia baru saja membeli sebuket mawar merah, untuk diletakkan di meja di sebelah ranjang ruang rawat Sena. Ya, benar. Dia berencana menerobos masuk walaupun tahu peraturan dokter yang mengatakan pelawat belum diizinkan masuk dulu.
Pemuda tinggi dan tegap itu juga sudah pergi ke Istana Kobayakawa untuk mencari Hiruma, tapi iblis bertaring itu tidak terlihat di mana pun. Shin akhirnya memutuskan untuk pergi saja dan membeli sebuket bunga mawar untuk Sena. Ia sempat melihat Riku di perjalanan menuju Istana Kobayakawa, tapi sepertinya Riku tidak akan kembali ke rumah sakit lagi.
Shin baru akan berjalan ke trotoar untuk memanggil taksi yang akan mengantarkannya kembali ke rumah sakit, sebelum sebuah suara yang familiar memanggil namanya.
"Shin-chan!"
Shin sedikit merinding mendengar suara itu, yang ia dengan jelas tahu siapa pemiliknya.
Haruto Sakuraba.
Sial, kenapa dia harus muncul sekarang, umpat Shin dalam hati. Sementara bocah pirang itu mendekati Shin dengan berlari kecil, Shin memasang tampang 'pergi kau'. Dan sepertinya usaha tanpa kata Shin untuk membuat Sakuraba pergi tidak berhasil.
"Sedang apa di sini? Ah, bunga itu. Untukku, ya?" Lagi-lagi, Sakuraba dengan rasa percaya dirinya yang tinggi. Shin yang emosinya sedang labil karena khawatir pada Sena, berusaha menahan emosi menghadapi bocah cerewet satu ini.
"Ini untuk Sena-san." Jawabnya singkat, dengan nada datar seperti biasanya.
Sakuraba hanya mengernyitkan dahi, "oh, aku mengerti," raut wajahnya terlihat kecewa sekaligus cemburu, "tapi, kenapa Shin-chan malah jalan lewat sini? Bukannya Istana Kobayakawa ada di sana?" Ujarnya sambil menunjuk arah belakang Shin.
Shin mendengus kesal, "Sena-san ada di rumah sakit sekarang."
"Lho, kenapa?"
"Dia sedang koma, jadi aku ingin memberikan bunga ini di sebelahnya. Setidaknya saat dia sadar, dia bisa melihatnya."
Mata Sakuraba membesar. Berpikir Sena beruntung. Dan kecemburuan merayap dalam hatinya. Tapi dia tidak bisa melarang Shin. Sena adalah orang yang disukai Shin, Sakuraba tahu itu. Dari cara Shin mengatakan kalimat itu. Lembut. Seperti bukan Shin saja.
"Boleh aku ikut?"
Sakuraba mengucapkan kalimat itu tanpa sadar. Shin yang mendengarnya kaget dan menatap Sakuraba dengan pandangan heran. Sementara Sakuraba menunggu jawaban Shin.
"Tidak. Aku tidak ingin kau mengganggu." Jawab Shin dengan dingin, lalu berjalan melewati Sakuraba.
"Tu-tunggu! Aku janji tidak akan mengganggu!" Seru Sakuraba, kemudian menarik baju Shin dengan lumayan keras. Shin terkejut, kemudian berbalik untuk menegaskan pada Sakuraba bahwa ia sama sekali tidak ingin pemuda berisik itu ikut.
Tapi yang terjadi bukan Sakuraba yang memaksa dengan suaranya yang berisik, tapi pemuda yang lebih pendek dari Shin itu malah menggenggam tangannya dengan erat dan menatap Shin dengan mata birunya, mencoba membujuk Shin. Mengintimidasi? Bukan, itu bukan hal yang bisa dilakukan Sakuraba.
"Tidak." Shin tetap bersikeras. Tapi Sakuraba tetap menahan tangan Shin sekuat tenaganya.
Setelah menatap mata serius Sakuraba untuk yang kedua kalinya, Shin menyerah. Lalu tanpa berbicara, pemuda bermata hitam pekat itu berbalik arah dan berjalan menuju trotoar jalan.
"Ternyata Sakuraba yang diam justru lebih menyusahkan dari Sakuraba yang berisik. Aku menyesal pernah berharap dia jadi pendiam." Pikir Shin, membiarkan Sakuraba mengekorinya sambil bersiul dengan ringan.
"Rui-san, Cherrie-dono!" Sebuah suara wanita mengagetkan Cherrie, Rui, dan Akaba yang masih berada di depan pintu ruang rawat Sena.
"Mamori-nee?" Rui menyebut nama wanita muda itu. Wanita berambut oranye itu langsung berjalan cepat menghampiri mereka. Cherrie yang tidak mengenal wanita itu mengernyitkan dahi.
"Ehm, untuk Cherrie-dono, namaku Mamori Anezaki, dan aku adalah kepala pelayan di Istana Kobayakawa. Maaf aku datang dengan sedikit ribut… A-aku dengar Sena-sama mengalami luka parah… Aku sangat menyesal dan kaget mendengarnya, lalu cepat-cepat ke sini… Ah, ngomong-ngomong, kenapa kalian ada di luar? Kenapa tidak masuk?" Mamori memasang tampang heran. Cherrie dan Rui memandangnya.
"Salam kenal, tidak apa-apa kok. Aku tahu perasaan Mamori-chan waktu mendengar berita ini. Dokternya melarang kami masuk. Jadi kami menunggu Senacchin saja di sini. Siapa tahu ada perkembangan." Jawab Cherrie sambil tersenyum tipis.
"Lagipula Istana Kobayakawa jauh dari sini, iya kan?" Sambung Rui, tersenyum.
Mamori menatap senyum mereka berdua, ia tahu dengan pasti itu senyuman yang dipaksakan. Ia tahu, mereka berdua sama khawatirnya dengan dirinya sendiri. Mamori juga sudah menganggap Sena seperti adik kandungnya sendiri, mungkin karena sudah menjadi babysitter tidak langsung bagi Sena. Mamori bekerja sebagai pelayan di Istana Kobayakawa sejak umurnya lima belas tahun, dan saat itu usia Sena baru sepuluh tahun. Jadi Mamori sudah mengurus Sena selama enam tahun.
"Aku juga datang kemari untuk membaritahukan berita penting. Keadaan di Istana Kobayakawa sangat kacau. Ada puluhan pengawal yang dibunuh. Kalian sudah tahu, kan? Kobayakawa-sama sudah dibunuh utusan Zokugaku. Aku sangat menyesal, tapi aku sama sekali tidak dapat menolong saat itu. Aku dan para pelayan lain bersembunyi di ruang bawah tanah Istana. Bantuan dari tentara dan polisi baru datang sekitar satu jam kemudian, dan jenazah pertama yang ditemukan adalah Kobayakawa-sama… Aku yakin mereka belum menyerah, walaupun Agon Kongo sudah ditangkap dan ditahan." Ujar Mamori lagi, mengambil bangku di sebelah kanan Rui.
"Masih Ada Habashira Rui dan Taiga Kamiya yang itu, kan?" Akaba menyambung Mamori, kemudian Mamori mengangguk mengiyakan, "kita tidak tahu apa yang akan mereka rencanakan selanjutnya."
"Tapi kita tetap harus siap siaga, kan?" Cherrie berseru, "kalau Senacchin bisa sembuh, selanjutnya aku tidak akan gagal lagi melindunginya! Pasti!"
Rui tertawa, "bodyguard pribadi Sena-sama itu aku dan Kakei-nii. Kamu sih, hanya putri bungsu Kerajaan Akaba." Kalimat Rui langsung disambut pukulan Cherrie di jidatnya, "heh, Rui, memangnya salah ya, melindungi orang yang memang ingin kita lindungi, walaupun aku tidak bertugas melindunginya?"
Mendengar hal itu, Mamori, Rui, dan Akaba tersenyum kecil.
"Ternyata Cherrie-dono bisa punya pikiran dewasa seperti itu ya. Aku jadi merasa kalah, nih." Tukas Mamori, bermaksud melucu. Cherrie kaget mendengar perkataan Mamori itu, lalu tertawa malu sambil menggaruk belakang kepalanya.
"Tidak, kok. Mamori-nee lebih dewasa dari dia." Ledek Rui, kemudian ditatap tajam oleh Cherrie.
Handphone Rui berbunyi. Ia segera mengangkatnya.
"Halooo, Kakei-nii! …Apa? Agon Sialan sudah dimasukkan ke penjara? Yeah, baguslah, lagipula aku sudah bosan melihat rambutnya yang jelek itu. Hehehe. Hah? Kakei-nii mau datang ke sini? Memangnya tahu rumah sakitnya? Oh, hehe, maaf. Cepat, ya! Jangan lupa bawa makan siang kami~ Hm? Di sini ada empat orang. Aku, Cherrie, Akaba-san, dan Mamori. Shin-san sebentar lagi juga datang. Tapi tidak usah bawakan makanan untuknya, kujamin dia sudah makan. Oke, makasih, Kakei-nii!" Rui menyerocos tanpa henti dengan semangatnya.
Mamori tersenyum. Begini lebih baik, pikirnya.
"Kakei-san, ya?" Tanya Mamori. Rui mengangguk.
"Mestinya dia tak usah repot-repot membawakan kita makan siang… Soalnya aku juga bawa sedikit cemilan untuk dimakan selagi menunggui Sena-sama. Apa kalian mau?" Mamori menawarkan kue-kue sekali makan dalam kotak keramik yang lumayan besar. Ternyata tas besar yang digandengnya berisi kotak itu.
"Uwaaa, tentu saja aku mau! Wah, ada cupcake, shortcake, ada cheesecake juga!" Cherrie yang memang sangat suka kue-kue dan makanan manis langsung tersenyum lebar dan mengambil kotak itu dari tangan Mamori. Rui dan Akaba yang melihatnya hanya bisa sweatdrop, sementara Mamori tersenyum senang karena kue buatannya ada yang memakan.
"Kalau Rui mau? Ambil saja. Aku buat lumayan banyak." Mamori menawarkan pada Rui. Rui langsung mengambil acak. Yang didapatkannya malah kertas pembungkus cupcake yang baru dimakan habis oleh Cherrie.
"Cherrie…! Kau ini!" Rui menahan amarah.
"Siapa suruh terlambat ambil!" Cherrie menjulurkan lidah.
Pertengkaran berlanjut dengan saling mengejek antara kedua sahabat itu. Mamori berusaha melerai, tetapi mereka malah menuduh Mamori memihak satu di antara mereka. Akhirnya Mamori yang sedikit kesal memilih diam. Akaba yang melihat mereka tidak bereaksi apa-apa, mungkin sudah terbiasa melihat tingkah berlebihan Cherrie di kediaman mereka.
"Mamori-chan, boleh aku memanggilmu 'Mamo-nee'?" Tanya Cherrie setelah pertengkarannya dengan Rui usai. Mamori yang mendengarnya mengangguk, "aku sangat senang ada anggota kerajaan lain yang mau akrab denganku." Lalu wanita berparas lembut itu tersenyum.
"Tambah teman lagi!" Teriak Cherrie dengan semangatnya. Rui dan Akaba menutup telinga.
Di luar jendela di dekat mereka, dua pasang mata sedang mengintai.
"Oi, Kamiya, kesempatan yang sudah disediakan Agon jangan kau sia-siakan. Menculik Putra Mahkota Kerajaan Kobayakawa mudah jika dia sedang terluka parah." Itu suara Rui Habashira. Ia dan Taiga Kamiya berada di atas pohon tinggi yang ranting-ranting besarnya mencapai lantai tiga tempat Sena dirawat.
"Masalahnya, lukanya terlalu parah. Bisa-bisa saat kita culik dia mati di tengah jalan. Kan itu tidak lucu." Ralat Taiga Kamiya, "ngomong-ngomong, cara kita mengintai sama sekali tidak elit." Komentar Taiga ketika menyadari betapa konyol dan pasarannya cara mengintai mereka.
"Dasar bodoh. Soal begitu saja kau perhatikan." Tukas Rui Habashira dengan kesal, menggertakkan giginya, "bagaimana kalau kita menculiknya setelah dia sadar saja? Kalau dia sudah sadar, aku yakin dia pasti akan bisa bertahan beberapa hari sampai kita berhasil mendapatkan Istana Kobayakawa."
"Ya, aku juga sudah memikirkannya… Tapi aku ragu kita akan berhasil. Soalnya keempat pangeran itu sudah mendapatkan tambahan bantuan lagi dari dua orang bodyguard pribadi Sena Kobayakawa dan putri bungsu Kerajaan Akaba yang mengerikan itu." Lanjut Taiga dengan pelan, takut suaranya terdengar oleh orang-orang di seberang jendela itu.
"Begitu saja kau takut? Aku tidak. Aku yakin kali ini kita pasti akan berhasil. Agon cuma meremehkan mereka waktu itu. Dia kurang mempersiapkan prajuritnya." Jawab Rui dengan nada santai, diiringi seringai.
"Jadi, maksudmu kita akan menyiapkan lebih banyak pasukan dari penyerangan sebelumnya?"
"Ya, " Rui Habashira menjilat bibirnya, "jauh lebih banyak."
TBC
Kalo ada yang nanya : "Matthew kemana, Chey?", jawabannya adalah : MATI! Dengan di-publish-nya fict ini saya menyatakan bahwa hubungan kami secara resmi dibubarkan! *nyepam pake konfeti curian(?)*
Dan, chapter selanjutnya harus diselesaikan dengan hati-hati… karena kalo ada sedikit aja kesalahan saya harus mengubah total plot fict ini. Jadi, kalo lama maaf ya XD.
Next Chapter : Chapter Ten, Sleep Tight, My Dear.
Mind to review ^^?
