Title: Vongola Residence

Genre: Humor

Rating: T..?

Warning: Gaje, CRACK, OOC, Hints of YAOI, garing, maksa, bahasa amburadul, gak ada yang beres.

Disclaimer: Nangis darah pun KHR gak akan jadi milik saya.

Summary: "Katakan, siapa yang kamu cintai?"—"...kamu.."—"Gak pake 'sayang'?"—"...k-kamu, sayang.."—"Bagus. Mana ciuman untukku?"—Alaude mengutuk takdirnya.


Chapter 9 updated! Thanks buat review-nya minna-san~

Untuk Lala Chastela-san, Momoyukii-san, Tsunayoshi'ciel-san, ajibana aiko-san, Suuzu-san, dan alwayztora-san yang me-request tentang keluarga Alaude si kece, dan hubungannya dengan Cavallone.

Bagi yang request-nya belum terpenuhi, sabar yaa.. Author belum kepikiran ide untuk membuat cacat karakter yang di-request. Tapi tenang, saya selalu baca dan menghargai semua review biarpun gak bales (sebenernya bingung mesti bales apa).

Gomeeeennn... Seribu gomen lama banget baru update..! Karena itu chapter ini bakal panjang. Tapi maap kalo gak lucu.

m(_ _)m

Oya, biar cuma fanmade, mulai chapter ini saya akan pake nama Alfonso untuk Cavallone Primo. Kalo di beberapa chapter sebelumnya Alfonso kelewat cacat, di chapter ini dia bakal agak jaim karena saya menginginkan semacam "development" pada hubungannya dengan Alaude.

Hope you don't mind. Read & Review please.


Ah.. Pagi yang cerah di Vongola Residence..

DOR..!

Burung-burung yang lagi asoy geboy nongkrong di sekitar Blok C Vongola Residence terbang ketakutan karena suara tembakan tersebut. Kecuali untuk seekor burung kuning obesitas yang tetap setia nongkrong di kepala majikannya, bocah imut bermata sipit yang hobi menggigit.

Sebutir peluru menembus meja makan yang terbuat dari kayu, tertanam dengan indah di sebelah piring yang berada di depan bocah berambut hitam tersebut.

"Makan paprika-nya, Kyouya." ucap Alaude dingin sambil menodongkan pistol ke arah sang anak.

"Yada." Hibari buang muka.

DOR..!

Sebutir peluru kembali tertanam di sebelah piring Hibari.

"Pilih-pilih makanan itu tidak disiplin!" Alaude menggeram.

Hibari menatap lurus ke ayahnya. Mata abu-abu bertemu dengan mata biru dingin. "Aku bukan herbivora."

Jari telunjuk Alaude sudah siap menarik pelatuk sekali lagi ketika Fon sang istri tersenyum ke arahnya dan berkata, "Berhenti melubangi meja makan, anata. Kamu lupa kalo aku susah payah memenangkan meja ini di pelelangan barang antik?"

Jika ada satu hal yang bisa membuat Alaude tunduk, hal itu adalah Fon.

Jika ada satu hal yang tidak bisa ditolak Alaude, hal itu adalah Fon.

Jika ada satu hal yang bisa mengancam Alaude, hal itu adalah Fon.

Jika ada satu hal yang bisa mengintimidasi Alaude, hal itu adalah Fon.

Intinya, Fon lebih berkuasa.

Ya, seorang pria berkepang ahli bela diri yang menyandang status sebagai istri seorang komisaris kepolisian paling ganteng sedunia. Fon yang selalu cengengesan gaje, Fon yang seneng gossip sama Lussuria, Fon yang menduduki kasta tertinggi dalam rumah tangganya. Iya, Fon yang itu.

Fon tidak mengalihkan senyum manisnya dari Alaude sampai akhirnya Alaude menurunkan pistolnya dan kembali duduk untuk melanjutkan sarapan. Kemudian Fon tersenyum ke arah Hibari, "Ayo dimakan paprika-nya, Kyouya-kun."

". . . . ." Hibari terdiam.

"Kyouya~kun?" Fon menelengkan kepalanya ke satu sisi sambil terus tersenyum ke arah Hibari.

Dengan berat hati, Hibari mengambil satu potongan paprika dengan sumpit dan memasukkan benda kehijauan tersebut ke dalam mulutnya.

Jika ada satu hal yang bisa membuat Hibari nurut, hal itu adalah Fon.

"Ayo dikunyah." kata Fon saat melihat Hibari tidak melakukan gerakan apa pun selain memasukkan paprika tersebut ke dalam mulutnya.

". . . . ." Sekali lagi Hibari terdiam.

Fon baru saja ingin bicara lagi ketika Alaude memotongnya, "Cepat lakukan apa yang dikatakan okaasan-mu."

Jika ada satu alasan yang bisa membuat Hibari melakukan sesuatu yang tidak dia inginkan, alasan itu adalah Fon. Karnivora yang menduduki posisi tertinggi dalam rantai makanan di keluarganya. Mungkin bahkan dunia.

Dengan sangat terpaksa, Hibari mengunyah benda kehijauan tersebut di dalam mulutnya.

"Jangan lupa ditelan ya, Kyouya-kun. Dan habiskan SEMUANYA." Fon menampilkan senyumnya yang secerah matahari di siang bolong.

". . . . ." Hibari mematung.

"Ara ara.." Fon kembali memulai.

"...Kyouya," sang ayah memperingatkan.

Akhirnya dengan segala dendam kesumat yang ia miliki, bocah itu menuruti perintah orang tuanya.


"Ittekimasu." Alaude berpamitan pada Fon untuk pergi kerja sekalian mengantar Hibari ke sekolah. Nggak, dia pamitannya biasa kok. Gak pake cium tangan atau cium kaki. Biasa aja.

"Itterashai." Fon tersenyum sambil membetulkan dasi Alaude. "Jangan melirik sekretarismu yang berdada melon itu. Ne?"

Alaude mengangguk. Dia gak mungkin mengkhianati istrinya yang sedang memegang dasi yang melingkar di lehernya saat ini. Bisa saja Fon mencekiknya sampai mati dengan dasi itu. Alaude tidak bodoh.

"Bagus. Selamat jalan, anata." Fon menepuk trench coat Alaude dan Alaude pun melangkah menuju mobilnya. "Belajar yang benar ya, Kyouya-kun. Jangan lupa cuci tangan sehabis dari toilet." Fon melambai pada Hibari yang mengekor sang ayah menuju mobil.

Tak lama kemudian, mesin mobil dinyalakan dan Alaude pun meluncur ke Vongola Gakuen bersama Hibari dan Hibird yang masih nemplok di kepala sang majikan, meninggalkan Fon yang melambai ke arah mereka dari teras.


Sesampainya di Vongola Gakuen, Alaude berpapasan dengan seorang pria ganteng mampus bernama Alfonso yang sedang mengantar Dino.

"Ohayo, Alaude!" Alfonso tersenyum ceria.

"Ohayo, Kyouya!" Dino sang keturunan Alfonso Cavallone gak kalah semangat dalam hal menyapa pujaan hatinya.

"Hmph." Alaude memalingkan wajahnya dan menyuruh Hibari segera masuk ke kelasnya. Hibari menurut dan berjalan menuju kelasnya.

Alfonso pun menyuruh anak yang mewarisi kegantengannya itu untuk masuk ke kelas. Dino juga menurut dan berjalan menuju kelasnya.

"Bertemu denganmu di pagi yang indah ini, kurasa ini takdir.." Alfonso nyengir kuda.

"Hmph." Alaude mendengus, tidak memedulikan Alfonso, dan berjalan menuju parkiran.

"Tunggu!" Alfonso menahan lengan Alaude.

"Mau apa kau, kuda laknat?" tanya Alaude judes.

"A-ano.. Sebelum kau pergi kerja...bagaimana kalau kita minum kopi dulu?" Ia menawarkan.

"Aku sudah minum kopi di rumah." jawab Alaude datar, sedatar penggaris batterflai yang biasa dijual di koperasi sekolah.

"A-aku yang traktir!" Alfonso buru-buru menambahkan.

Alaude tampak berpikir sejenak, "...hm, baiklah. Sebentar saja ya." Lumayan, mumpung gratis. Diam-diam Alaude suka gratisan. Mungkin ini pengaruh Fon yang jiwa ibu rumah tangganya mendarah-daging-menulang-sumsum.

Alfonso mulai jingkrak-jingkrak kayak kuda lumping kesurupan saking girangnya. Nggak, gak sampe makan beling. Cuma jumpalitan gaje kesana-kemari.

"Seharusnya aku tidak menerima ajakanmu.." Alaude sweatdrop, mulai menyesali pilihannya.

Alfonso langsung berhenti melakukan tarian kuda lumpingnya, "gomen, gomen.. Aku terlalu senang.. Hahahaha.."

Akhirnya mereka memutuskan untuk ngopi di cafe yang berada di kantin Vongola Gakuen. Kantin aja ada cafe-nya? Ini sekolah apaan?!

2 manusia kece ini mengobrol, meskipun lebih banyak Alfonso yang ngebacot, bisa dibilang mereka ngobrol karena sesekali Alaude merespon dengan sepatah dua patah kata.

"..—ne, Alaude. Aku penasaran." ujar Alfonso.

"Hm?"

"Tapi jangan marah ya.."

"Itu tergantung pertanyaanmu."

Alfonso berpikir sejenak. Haruskah ia bertanya? Tapi dia udah lama sekali penasaran. Akhirnya ia menguatkan mentalnya untuk bertanya pada Alaude, apa pun konsekuensinya. "Aku penasaran, kenapa kau bisa menikah dengan Fon..?"

Alaude tersedak minumannya.

Alaude yang selalu stay cool, tersedak minumannya.

Sekali lagi... —CUKUP..!

"—uhuk..!" Alaude terbatuk.

"Ka-kau baik-baik saja, Alaude? Kau perlu napas buatan? A-a-aku bisa CPR!" Alfonso heboh.

"Gak perlu!" bentak Alaude galak.

"O-oke.." Alfonso kembali duduk dengan tenang.

Alaude menghela napas, "kenapa kamu mau tau?"

Karena aku cinta padamu, beib...adalah apa yang ingin dikatakan Alfonso. Sungguh menjijikkan. Tapi entah apa yang membuat seorang Alfonso Cavallone sedikit lebih pintar pagi itu, ia hanya diam.

"Mau tau banget, apa mau tau aja?" tanya Alaude dengan sangat OOC.

"...Mau banget qaqa..~"Alfonso membalas dengan gak kalah alay, lebay, dan menjablay.

"Nufufufu.. Akhirnya kalian sadar kan betapa gahoel-nya bahasaku?" Sepucuk kepala semangka mendadak muncul. Dengan seenak jidat anaknya yang kinclong dia bergabung bersama Alaude dan Alfonso di meja tersebut.

"Apa-apaan kamu, Daemon?" Alfonso merasa terusik dengan kedatangan sebutir(?) makhluk berkepala semangka.

Alaude buang muka. Malu ketangkep basah berkelakuan labil.

"Nufufu.. Aku juga udah lama penasaran, kenapa Alaude yang ansos ini bisa menikah, bahkan punya anak."

Alfonso mengangguk.

Kemudian Daemon menodongkan jari telunjuknya ke muka Alaude dengan barbar dan melanjutkan, "Apalagi kamu yang jadi 'ayah'! Ngaca dong tampang lu! Uke abis! Ya nggak sih?!"

CROT!

Alaude menyiram muka Daemon dengan kopi panas.

Seumur hidup, baru kali ini Alfonso merasa Daemon mengatakan sesuatu yang benar. Saat ini Alfonso sangat ingin mengangguk setuju dengan Daemon, tapi takut kepalanya ditebas.

Daemon berguling-guling di lantai cafe sambil menjerit histeris seperti anak perempuan.

"Gue gak uke!" Alaude men-deathglare Daemon, kemudian menoleh pada Alfonso, "Iya kan?!"

Kamu uke tsundere yang manis...adalah apa yang ingin Alfonso ucapkan saat itu. Alfonso memang bodoh, tapi dia tidak sebodoh itu. Pengalamannya bertahun-tahun di bidang peternakan kuda memberinya kemampuan bernegosiasi yang hebat. Bahkan author pun gak tau apa hubungannya sama adegan ini, tapi biarkanlah.

"...Mm.." Alfonso hanya bisa mengangguk ragu.

Setelah mendapat respon yang ia inginkan, Alaude menoleh ke arah Daemon dan menendangnya seakan-akan Daemon itu cuma seekor anjing jalanan, "Pergi..!"

"Fuu... Tsundere..." Daemon mencibir.

Tepat ketika Alaude mengambil ancang-ancang untuk menendang wajah menyebalkan Daemon, sepasang waitress bertopeng menghentikannya, "Okyaku-sama! Tolong jangan buat keributan disini!"

Alaude terdiam sesaat. Menyadari bahwa sekarang dia seperti Miss Universe a.k.a semua mata tertuju padanya, ia duduk kembali di tempatnya semula dan mengeluarkan aura cool seperti tidak terjadi apa-apa.

Kedua waitress berambut pink tersebut menyeret tubuh Daemon ke belakang. Entah untuk diobati atau dibuang, kayaknya gak ada yang mau tau juga.

"Lain kali, pilih cafe yang lebih normal." Ujar Alaude.

"...H-hai..." Sebenarnya ini juga pertama kalinya Alfonso ke cafe ini... Tunggu. Tadi Alaude bilang apa? "...'Lain kali'? Berarti kau mau pergi denganku lagi?" Wajah Alfonso berseri-seri.

"Ha..?" Alaude bengong. Sesaat kemudian ia baru menyadari apa yang ia katakan dan wajahnya memerah, "...K-kalau cafe-nya normal...kurasa tidak masalah..." Tiba-tiba Alaude merasa tembok cafe itu sangat mempesona sehingga ia terus menatap ke segala arah selain ke arah Alfonso yang duduk dengan ganteng di seberangnya.

Uuuuu... Saat ini sedang terjadi pertarungan sengit dalam diri Alfonso. Antara keinginan untuk langsung mem*piiiiip* Alaude saat itu juga—yah, Alfonso memang orang yang ganteng dan baik, tapi moralnya cukup rendah—, melawan keharusan untuk tetap stay cool biar Alaude gak il-feel. Tapi pengalaman Alfonso sebagai peternak kuda telah mengajarinya untuk selalu mengontrol dirinya.

"Umm.. Tentang pernikahanmu itu.." Alfonso kembali membawa topik tentang pernikahan. Berharap tiba-tiba Alaude mengajaknya menikah—berbanding kontras dengan moralnya yang rendah, imajinasi Alfonso sangat tinggi dan aktif.

Alaude menghela napas, "Baiklah kalo kepengen tau banget.." Alaude pun menceritakan kisahnya.


—Flashback—

7 tahun yang lalu..

Alaude, 22 tahun, seorang pemuda yang bisa dibilang kece abis dengan rambut platinum blonde dan mata biru sedingin es. Meskipun proporsi tubuhnya gak bisa dibilang atletis, tapi cukup ideal. Kulitnya yang putih dan semulus porcelain bisa membuat para wanita menjerit histeris, dan para seme kehilangan akal sehat.

Tapi sampe sekarang, Alaude masih menyandang status sebagai 'Jodi' a.k.a 'Jomblo Abadi'.

Padahal dengan penampilannya, Alaude tinggal tunjuk seme mana aja dan bisa langsung bikin harem pribadi. Kenapa dia Forever Alone..? Karena sejak keluar dari rahim ibunya sampe detik ini, Alaude bahkan gak pernah deket sama siapa pun. Jangankan punya pacar, orang yang berani ngajak Alaude kenalan aja pantes dikasih medali atas keberaniannya.

Nggak, Alaude gak pemalu. Dia PURE ansos.

Dilahirkan dengan IQ 218, sejak lahir Alaude udah punya pemikiran sendiri. Dia gak mau berurusan sama manusia lain kalo gak perlu. Bahkan kalo bukan karena dorongan kebutuhan fisik, dia gak akan mau netek sama ibunya.

Alaude sangat benci ngutang. Karena itu setelah dia mapan, dia mengembalikan semua utang-utangnya pada orang tuanya.

Nggak, Alaude gak gantian netekin ibunya.

Bagaimana pun juga, itu kelewat absurd.

Dia balas budi dengan cara lain. Cara yang normal dan gak melanggar hukum.

Oke, tentang Alaude dan orang tuanya gak perlu dibahas. Karena selain gak penting dan gak ada hubungannya sama cerita ini, orang tua Alaude terlalu kasian karena punya anak yang sangat gak lucu macam Alaude. Kita lanjut ceritanya.

Saat ini Alaude bekerja sebagai detektif nomor 1 di kepolisian, dan sedang dalam misi mengejar seorang kriminal yang berada di Hong Kong, karena itu Alaude pun terbang naik pesawat ke Hong Kong untuk mengejar sang buron.

Ia menapakkan kakinya di Hong Kong International Airport untuk pertama kalinya, bobo-bobo cantik di hotel bintang 4 di Hong Kong untuk pertama kalinya, serta jalan-jalan unyu di berbagai jalanan dan gang Hong Kong untuk pertama kalinya... —yang nantinya dia akan berharap bahwa semua itu adalah untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Coret, mungkin dia lebih berharap bahwa dia tidak pernah menginjakkan kakinya di sebuah tempat bernama Hong Kong itu.

Pria yang dikejar Alaude adalah seorang boss mafia laknat yang menyelundupkan senjata dan obat-obatan nista secara illegal ke berbagai wilayah di Jepang.

Setelah mendapat informasi bahwa pria yang dikejarnya itu sering terlihat di sebuah klub rahasia khusus orang-orang elite di dunia gelap, ia pun memulai pencariannya.

Hari pertama, Alaude berhasil menyelundup melalui saluran bawah tanah. Akibatnya, dia jadi bau. Ayolah, apa yang lu harapkan dari saluran bawah tanah? Air bersih?

Kemudian Alaude mencuri salah satu baju pelayan di ruang ganti. Alaude adalah orang yang disiplin dan taat hukum, jadi mencuri satu stel baju aja sangat melukai harga dirinya. Oke, menyelundup diam-diam ke tempat seperti ini sebenernya juga illegal, tapi tempat ini sendiri adalah tempat yang illegal. Jadi Alaude gak melanggar hukum apa pun. Ia hanya menjalankan tugasnya. Begitulah yang ia yakinkan pada dirinya sendiri.

Tapi usahanya hari itu sia-sia. Orang yang dia cari tidak menampakkan dirinya di klub tersebut. Alaude pun bingung. Apanya yang rahasia? Klub ini gak ada bedanya sama klub-klub lain di luar sana. Bar, lounge, orang-orang high class yang kaya dengan uang kotor. Ia yakin ada sesuatu di balik itu semua.

Hari kedua, ia mencoba cara lain untuk masuk ke dalam klub tersebut karena lewat saluran air seperti hari sebelumnya merupakan penghinaan bagi seorang Alaude. Hari itu dia lewat saluran udara. Sungguh kreatif. Tapi lagi-lagi orang yang dicari tidak tampak di klub tersebut. Pencapaiannya pada hari itu adalah hampir diperkosa om-om mesum di toilet—salahkan wajahnya yang uke. Tapi ia berhasil mencuri VIP Member Card dari om-om nista tersebut setelah menjedorkan kepala orang itu ke salah satu wastafel keramik disana.

Hari ketiga, ia menyusup sebagai VIP. Tetapi kondisi tempat yang ia masuki sangat berbeda dengan kondisi hari sebelumnya. Lounge yang kemarin terisi oleh meja-meja bundar dan kursi mewah, sekarang digantikan oleh sebuah arena yang luas.

Setelah nguping sana-sini, akhirnya Alaude mengetahui bahwa 2 minggu sekali diadakan pertarungan yang dijadikan ajang perjudian. Orang-orang yang berminat akan bertarung atau membawa petarung. Sisanya hanya sekedar penonton atau ikut pasang taruhan.

Alaude beruntung ia hanya perlu menunggu 3 hari untuk hari tersebut. Dan ia sangat yakin orang yang dicarinya akan muncul malam itu.

Tepat seperti ramalan zodiak yang ia baca di majalah GAHOEL(?), pria tersebut terlihat di seberang ruangan. Alaude pun langsung berjalan menghampirinya dengan se-normal mungkin biar gak terlihat mencurigakan.

Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Alaude. Otomatis Alaude menoleh dan mendapati seorang pria berkepang berbaju merah tersenyum kepadanya—senyum yang sampai detik ini masih menghantui seluruh mimpi buruk Alaude setiap malam—" hǎo,"

"Bacot." Gumam Alaude dalam bahasa Jepang. Kalo mau jujur, sebenernya Alaude gak bisa bahasa Mandarin.

"Ara~ Orang Jepang?" Senyum pria berkepang itu melebar.

"...Hn?" Alaude agak kaget karena orang itu ngerti apa yang barusan dia katakan.

"Kenalin," orang itu mengulurkan tangannya, mengajak Alaude berkenalan. Orang ini pantes dikasih medali.

Alaude cuma diem.

Pria itu meraih tangan Alaude, maksa buat salaman, "Fon." dia memperkenalkan dirinya.

Alaude masih diem, dan menatap Fon dengan sinis.

"Namamu?" Tanya Fon.

Sekali lagi, Alaude masih diem.

"Ne, aku tanya...nama kamu siapa?" Fon tersenyum yandere.

Alaude merinding. Akhirnya dengan terpaksa dia menjawab, "...Alaude.."

"Hee.. Skylark? Nama yang manis~"

Alaude men-deathglare Fon dan melepaskan tangannya dari genggaman Fon. Merasa berurusan dengan pria berkepang tersebut hanya akan menyusahkan dirinya, Alaude pun kembali ke misi semula. Mengejar sang buron.

Lagi-lagi pundaknya ditepuk.

"Apa lagi?" Tukas Alaude jutek.

"Ne, kau ada perlu apa dengan Fēng Shàn?" Fon tersenyum.

Jujur, Alaude shock. Kenapa orang ini bisa tau kalo dia lagi mengejar seorang boss mafia Hong Kong bernama Fēng Shàn? Tapi karena dilahirkan dengan muka cenderung datar, ekspresi Alaude tetep stay cool.

Fon melanjutkan, "Bagaimana aku bisa tau kalo kamu ada urusan sama Fēng Shàn? Fufu.. Aku ini pintar membaca pikiran orang."

Sepanjang hidupnya di planet bernama Bumi, hari itu adalah hari dimana seorang kece bernama Alaude kaget lebih dari sekali. Lebih kaget daripada saat ia mengetahui bahwa bayi tidak datang dari seekor burung bangau—kelakuannya yang ansos sebenarnya menjadikan Alaude anak yang...polos.

Fon kembali menambahkan, "Bagaimana aku bisa tau yang kamu pikirkan? Sudah kubilang, aku ini pintar membaca pikiran orang."

Keringat dingin. Alaude siap pingsan on the spot.

"Aku tau kamu mau menangkapnya, dan aku bisa membantumu." Fon masih tersenyum.

Mendengar hal tersebut, Alaude tersadar dari kondisi 'trance' yang ia alami. "Hmph, memangnya kau siapa?"

"Aku adiknya. Sekaligus tangan kanannya." Ujar Fon santai. "Jadi aku tau semua tentang organisasinya. Sogokan, illegal trading, rekan-rekan bisnis kotornya, yah...semuanya."

"...kenapa?" Alaude bingung. Orang ini gak bohong, tapi kenapa dia malah mau membocorkan identitas kakaknya sendiri?

"Karena aku bosan." Jawab Fon enteng.

"Ha...?"

"Jadi...bertarunglah denganku di arena itu. Kalo kamu menang, aku akan membantumu menangkap Fēng Shàn bersama bukti-buktinya." Tantang Fon.

"Lalu..? Kalo aku kalah..?" Bukannya Alaude gak pede, dia sangat pede dengan kemampuan bela dirinya. Tapi sebagai detektif, ia punya kebiasaan untuk memikirkan segala macam skenario terburuk yang mungkin terjadi.

"Kalo aku menang.." Senyum Fon melebar. Ia mengeluarkan selembar kertas dari lengan bajunya dan menodongkan kertas tersebut di depan muka ganteng Alaude dengan barbar, "Kamu menikah denganku."

.

.

.

.

. . . . . . . . .apa..?

Kertas yang berada tepat di muka Alaude yang ganteng kece badai cetar membahana tersebut ternyata adalah formulir untuk mengajukan pernikahan ke catatan sipil.

Alaude merasa bola matanya akan keluar dari rongganya. Tenggorokannya tercekat. Yang membuatnya shock bukanlah fakta bahwa orang itu membawa-bawa formulir macam itu bersamanya, tapi fakta bahwa formulir tersebut sudah terisi dengan namanya dan nama orang itu. Alaude dan Fon.

Mengerikan.

Orang itu terlalu mengerikan.

Keringat dingin meluncur dari pelipis Alaude. Sepanjang karirnya sebagai detektif, Alaude selalu bisa memprediksi apa yang akan dilakukan oleh orang lain. Orang itu adalah orang paling mengerikan yang pernah ia temui. Orang itu sama sekali gak bisa ditebak.

"Gimana?" Sekali lagi Fon menyadarkan Alaude dari kondisi 'trance'-nya.

"Hmph.. Cukup adil." Alaude mendengus. Apa ruginya? Dia yakin bakal menang dari pria bernama Fon itu. 'Liat aja ini orang.. Lenjeh, cengengesan, berkepang, pake flat shoes... Ini sih disambit upil juga mati.' Alaude membatin.

"Ini bukan flat shoes." Fon tersenyum yandere manis ke arah Alaude.

'Ah... Gue lupa dia bisa baca pikiran...'

"Mm-hm.. Jangan lupa lagi ya.." Fon memberikan kiss-bye sebelum berbalik meninggalkan Alaude untuk mengatur pertarungan mereka.

Alaude mematung.

Fon menghampiri kakaknya, "Dàgē~" panggilnya.

Seorang pria dengan setelan jas mahal menoleh, "Hm?"

Fon pun memberitahu kakaknya tentang keinginannya bertarung dengan seorang bule kece di sudut ruangan itu. Tapi dia gak bilang apa-apa soal 'deal' antara dia dan Alaude. Ingat, Fon tidak bodoh.

Setelah mendapat persetujuan dari sang kakak, diumumkanlah pertarungan antara Alaude melawan Fon.

Beberapa saat kemudian, kedua pria kece tersebut berdiri berhadapan di tengah arena. "Emang gak panas ya pake trench coat terus?" Tanya Fon.

"Hmph. Bukan urusanmu." Alaude men-deathglare Fon.

"Ara~ Padahal aku lumayan penasaran..."

"Hn?"

"Sama apa yang ada di balik trench coat itu. Fufufu.."

Alaude gak tau mesti sweatdrop apa blushing. Dia bener-bener gak bisa nebak apa yang ada di pikiran dan akan keluar dari mulut pria berkepang itu.

"Maa.. Lagipula aku bisa melihat semuanya nanti..."

"...?"

"Waktu malam pertama kita. Fufufufu..."

Alaude mendengus, "...Pede banget."

"Hmm.. Kalo gitu kita mulai aja..?" Fon mengibaskan kepangnya.

"Hmph." Alaude kibas pantat mengeluarkan borgolnya.

"Ara~ Aku gak tau ternyata kamu suka permainan seperti itu. Tapi sepertinya aku tipe yang lebih dominan." Ujar Fon.

"B-bukan! Borgol ini bukan untuk itu!" Wajah Alaude memerah.

"Hee.. Ternyata Alaude nakal juga." Goda Fon.

Urat Alaude hampir putus, "...KUBUNUH KAU..!" Ia pun menerjang Fon dengan kecepatan cahaya dan mengayunkan borgolnya ke arah Fon.

Fakta unik(?) yang saat itu belum diketahui Alaude:
#1. Fon menguasai 108 jenis seni bela diri.

Mengelak dari serangan Alaude bagi Fon seperti merebut permen dari seorang nenek-nenek yang sudah terbaring kritis di bangsal rumah sakit. Dengan kata lain, terlalu mudah.

Tanpa membuang banyak waktu, gerakan, dan tenaga, Fon segera berdiri di belakang Alaude dan memukul sendi bahu kirinya. Lengan kiri Alaude lumpuh sementara.

Alaude menatap Fon setengah dendam kesumat, setengah gak percaya.

Fon tersenyum, "Masih mau dilanjutkan?"

"Hmph, ini bukan apa-apa." Alaude kembali menerjang Fon, dan hal yang sama pun terulang.

Kali ini Fon melumpuhkan kaki kanan Alaude, "Tenang, aku akan menyisakan lengan kananmu untuk menandatangani surat pernikahan kita."

Alaude mendengus, "Aho ka? Gue kidal."

"...EEEHH...?" Fon melongo.

"Tapi bo'ong deeeehh~" Ujar Alaude dengan sangat OOC sambil menerjang Fon sekali lagi.

DHUAK!

Kali ini borgol Alaude berhasil menghantam wajah Fon yang sedang lengah.

"..." Fon terdiam.

"Hmph, makanya jangan lengah." Alaude mencibir penuh kemenangan, padahal baru 1 pukulan yang masuk.

"...Begitu ya..?" Fon menyeringai.

Alaude merinding. Dia gak bisa melihat mata Fon karena ketutupan poni.

Fakta unik(?) yang saat itu belum diketahui Alaude:
#2. Fon seorang yandere.

"Omoshiroi ne.." Fon membuka kancing bajunya satu per satu, memperlihatkan tattoo naga yang terukir di dadanya.

Keringat dingin meluncur bebas dari pelipis Alaude.

"Aku jadi penasaran," Fon melempar bajunya asal-asalan ke pinggir arena dan memasang kuda-kuda, "Seberapa jauh aku bisa menghancurkanmu saat kamu gak lengah..?"

Fakta unik(?) yang saat itu belum diketahui Alaude:
#3. Fon seorang TOTAL S.

Alaude pun belum sempat bereaksi saat Fon menerjangnya dengan kecepatan yang gak manusiawi.

—48 detik kemudian—

"Bagaimana?" Fon melambai-lambaikan formulir pernikahannya di depan muka Alaude yang terkapar tak berdaya di lantai.

Kalah telak.

"...u-uugh.." Alaude mengerang. Dia cukup yakin beberapa tulangnya patah.

"Gomen ne.. Jadi agak berlebihan. Ohohoho.." Fon ketawa cantik a.k.a ketawa sambil menutupi mulut dengan punggung tangan.

'...AGAK..?' Jerit Alaude dalam hati.

"Ayo, tanda tangan." Fon menyodorkan sebatang pen ke tangan kanan Alaude yang gak terluka.

Dengan tangan gemetar, Alaude meraih pen tersebut dan menandatangani formulir laknat tersebut dengan hati seberat produksi nanas Daemon setiap tahun. Alaude memang egois dan mau menang sendiri, tapi dia adalah orang yang selalu menepati janji layaknya seorang pria sejati.

.

.

.

.

Menurutmu apa saja yang dialami manusia sebelum menikah? First date, first kiss, cemburu, galau, lamaran romantis, merencanakan pernikahan bersama-sama, kemudian baru menikah?

Alaude, 22 tahun, seorang pemuda yang bisa dibilang kece abis dengan rambut platinum blonde dan mata biru sedingin es, melangkahi semua tahap tersebut langsung ke pernikahan.

—End of Flashback—


"...begitulah." Alaude mengakhiri ceritanya.

"Tunggu!" Alfonso merasa ada yang janggal dari cerita Alaude.

"Hm?"

"Di Jepang kan pernikahan sesama jenis gak legal..! Gimana caranya kalian daftar ke catatan sipil..?!"

Alaude mengurut pelipisnya, "Kau lupa?"

"Hah?"

"Dia itu Fon."

.

.

.

"...oh.." Cuma itu yang bisa keluar dari mulut ganteng seorang Alfonso Cavallone.

"Udah..?"

"Jadi sampe sekarang kamu masih belum menangkap boss mafia itu?" Tanya Alfonso.

"Oh, setelah kami menikah, Fon memberiku memory card berisi bukti-bukti yang diperlukan untuk menangkap Fēng Shàn dan rekan-rekan bisnis gelapnya. Karena itulah aku bisa memiliki jabatan sebagai komisaris kepolisian sekarang." Alaude menghela napas, "Fon itu... Biarpun dia seperti jelmaan Lucifer, sebenarnya dia sangat baik..."Alaude terdiam sejenak, kemudian menambahkan, "...jika aku bersikap seperti yang dia inginkan.."

"Tapi kenapa Fon gak ditangkep..?! Kan dia adik sekaligus tangan kanan boss mafia itu..!" Alfonso protes.

"Dari awal Fon berjanji untuk membantuku menangkap kakaknya. Bukan dirinya." Jawab Alaude depresi, "Sampe sekarang jejak dia dalam dunia mafia gak pernah ditemukan."

Tak terasa air mata pun meluncur di pipi ganteng seorang Alfonso Cavallone, "A-Alaude.."

"Hn..?"

Alfonso meraih tangan Alaude, "Kamu harus tau. Meskipun harga dirimu sudah diinjak-injak oleh Fon, aku...aku tetep cinta!"

Wajah Alaude memerah, "A-apaan sih?!" Ia menarik tangannya dari genggaman Alfonso, "Itu...gak perlu dikasih tau!"

"Jadi maksudnya kamu tau kalo aku selalu suka sama kamu..?" Air mata simpati Alfonso berubah menjadi air mata kebahagiaan.

"B-bukan itu maksudnya, idiot..! Udah ah, aku telat..!" Alaude buru-buru berdiri, menyambar trench coat-nya, dan pergi dari cafe itu sebelum Alfonso sempat menghentikannya.


Saat Alaude melangkahkan kakinya menuju mobil BMW hitamnya di parkiran, tiba-tiba HP-nya berdering. Alaude yang sedang terburu-buru pun langsung mengangkat telepon tersebut tanpa melihat siapa yang meneleponnya, "Apa?" bentaknya jutek.

"Ara.. Kasar sekali. Ada apa, anata?" Suara 'selembut sutra' terdengar dari seberang sambungan.

Alaude langsung lemas, "G-gomen. Bukan begitu maksudku.. tadi aku sedang buru-buru.." ucapnya dengan lembut versi Alaude.

Semua orang punya kelembutan yang berbeda. Contohnya seperti sepasang suami-istri sah di atas. Lembutnya Fon seperti ular kobra di balik kain beludru, alias beracun. Sedangkan lembutnya Alaude seperti kelinci fluffy di balik pagar berduri, alias di luarnya jutek tapi sebenarnya niatnya baik.

"Ne, barusan si melon itu menelepon ke rumah.." Ujar Fon.

"Ha..?"

"Sekretarismu, si Adelheid." Fon mengoreksi.

"Oh. Kenapa?"

"Dia menanyakan apa kau sakit. Tidak biasanya Alaude yang disiplin hari ini telat ke kantor. Kenapa dia sampai telepon ke rumah? Sepertinya kalian lumayan dekat. Berapa umurnya? Apakah dadanya sebesar itu? Kamu suka dada besar ya?" Fon nyerocos menginterogasi Alaude.

Alaude menghela napas, "Bukan begitu..."

Tapi kata-katanya langsung dipotong oleh Fon, "Memangnya kenapa kamu bisa telat ke kantor? Tadi pagi kamu berangkat seperti biasa kok. Kamu udah anter anak kita ke sekolah? Kamu gak selingkuh kan? Apa kamu ketemu sama si kuda impor itu? Dia gak macam-macam kan? Apa kita perlu honeymoon sekali lagi biar makin mesra?"

Alaude cuma bisa mendengarkan Fon tanpa menyela. Karena dia tau, menyela Fon yang sedang berbicara bisa berakibat fatal.

"Ne, anata!" Fon memanggil.

"Ya?"

"Katakan, siapa yang kamu cintai?"

.

.

"...kamu.." Jawab Alaude.

"Gak pake 'sayang'?"

"...k-kamu, sayang.."

"Bagus. Mana ciuman untukku?"

Alaude sweatdrop, "Fon, kamu gak serius kan?" Yang bener aja! Masa seorang Alaude yang cool, pendiam, dan kece badai ini harus memberikan cium lewat telepon seperti pasangan-pasangan bodoh baru puber yang belum mengetahui kerasnya dunia?

"Fufu.. Kamu lucu deh. Emangnya aku pernah bercanda? Aku kan gak kayak kamu yang bercanda soal tangan kidal 7 tahun yang lalu." Fon mengungkit masa lalu.

Alaude sweatdrop.

"Ayo, mana ciumannya?"

.

.

"...mu.." Alaude memonyongkan bibirnya ragu-ragu sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, takut ketangkep basah untuk kedua kalinya hari ini, "... ..muah.."

'Bunuh aku sekarang.'

"Ufufu.. Aishiteru yo, anata."

'Serius, bunuh aku sekarang.'

"Mana balesannya?" Bisa dibayangkan Fon sedang cengengesan yandere di seberang sana.

Alaude meneguk ludah, "ore mo...aishiteru.."

PRAK!

Terdengar suara barang jatuh di belakang Alaude. Secara otomatis Alaude pun menoleh.

Alfonso berdiri dengan tampang horror. HP Samson terbarunya jatuh ke lantai parkiran. Mukanya yang ganteng jadi gak begitu ganteng dengan kondisi mata melotot, hidung kembang-kempis, dan mulut mangap-mangap kayak ikan fugu. "Ini...k-k-kamu...kunci mobil...ketinggalan..." Alfonso terbata-bata menyodorkan kunci mobil dengan gantungan bertuliskan "Alaude-Fon-Forever-Love"

Alaude menyambar kunci tersebut dengan babar, "Anggep aja...lu gak denger apa-apa!" Tukas Alaude jutek sebelum masuk ke mobilnya, dan pergi meninggalkan tempat itu.


—Jam pulang sekolah—

Alfonso mengutuk dirinya sendiri sambil berlari keluar mobil. Gara-gara keasikan mandiin kuda, dia lupa waktu dan telat jemput Dino. "Pasti si Dino lagi pundung sendirian di suatu sudut," Alfonso berkata pada dirinya sendiri sambil terus celingukan mencari sang buah hati(?).

Tiba-tiba mata Alfonso menangkap 3 sosok yang familiar.

Seorang pria kece imut berambut platinum blonde, seorang bocah unyu berambut hitam, dan yang terakhir adalah seorang bocah berambut pirang yang ternyata adalah anaknya sendiri.

"Alaude..?" Alfonso memanggil sang pujaan hati, mengabaikan sang anak.

Alaude mengecek arlojinya, "Kau terlambat 38 menit 16 detik, kuda tidak disiplin!"

Alfonso nyengir kuda, "Gimana kalo kamu yang mendisiplinkan aku?"

"Hmph, aku tidak keberatan jika kau memang ingin." Balas Alaude.

"S-serius...?" Alfonso girang. Di otaknya sudah terbayang Alaude 'mendisiplinkan'nya secara erotis, atau memakai borgol, atau menutup matanya, atau berbagai macam permainan S&M lainnya. Iya, udah dibilangin kan imajinasi Alfonso itu kelewat aktif..?

"Kali ini apa lagi yang ada di otak herbivoramu itu? Menjijikkan..." Alaude sweatdrop saat melihat darah mengucur dari lubang hidung Alfonso.

"G-gomen.. Hahahaha.." Alfonso buru-buru mengelap mimisannya dan ketawa canggung.

"Tenang, aku akan mendisiplinkanmu dengan cara yang normal."

Alfonso mengerang kecewa.

"Gak seneng..?"

"S-seneng! Seneng banget, sumpah!" Alfonso buru-buru menjawab. Jarang-jarang dapet kesempatan buat bersama Alaude.

"Kalo gitu sebagai permulaan, mulai besok kau harus bangun jam 6 tepat dan melapor padaku. Kau juga harus mengantar-jemput anakmu ini tepat waktu, jika saat aku mengantar-jemput Kyouya kau tidak ada..."

"...ya?"

"Yah, akan kupikirkan hukuman untukmu." Alaude mengangkat bahu.

"Hu-hukuman...?" Alfonso membayangkan Alaude memegang cambuk atau semacamnya, dan darah pun kembali mengalir dari lubang hidungnya.

Alaude gondok, "Gue gak mau tau apa yang ada di otak mesum lu itu! Nih, bawa pulang anak lu!" Ia menyerahkan Dino kembali ke ayahnya yang sah, kemudian berbalik untuk pulang, "Ayo pulang, Kyouya."

"Bye, Kyouya! Aishiteru!" Dino melambai-lambai girang.

"Berisik. Kamikorosu!" Hibari mendesis jutek.

"Ah, aku akan lapor jam 6 pagi besok! Dan besoknya! Dan besoknya! Dan besoknya!" Alfonso melambai sambil cengengesan gaje.

"Hmph," Alaude mendengus.

Hibari menatap ayahnya, "Kenapa senyum-senyum..?"

"Gapapa," Alaude buru-buru memasang wajah miskin ekspresi tapi ganteng yang biasanya.

"Hmm..." Hibari yang emang cuek memutuskan untuk tidak memedulikan sang ayah.


—Malamnya di kediaman Alaude—

"Bagaimana sekolahnya hari ini, Kyouya-kun?" Fon bertanya pada saat makan malam.

"Membosankan," Jawab bocah berambut hitam itu.

"Maksudmu menyenangkan dan kau mempelajari hal-hal baru?" Fon tersenyum.

Hibari sweatdrop, "Okaasan budeg ya?" Sebagai seorang karnivora, kata-kata sinis macam itu keluar begitu saja dari mulutnya secara spontan. Apalagi dia masih bocah.

"Kyouya!" Alaude memperingatkan. Saat ini seluruh warna kehidupan menghilang dari wajah kecenya. Berbagai skenario terburuk terbayang di kepalanya. Oke, Kyouya masih kecil dan belum tau seberapa mengerikan okaasan-nya, tapi gimana kalo Kyouya dipukulin Fon? Gimana kalo Kyouya diumpanin ke Lichimonyet kanibal peliharaan Fon? Gimana kalo Kyouyaanaknya yang imut tapi Alaude gak mau ngakujadi cacat? Gimana kalo..

"Maksudmu okaasan cantik, baik, suka menolong, rajin menabung, pokoknya the best mom in the world..? Ufufu, jadi malu.." Fon tersipu gaje.

"..." Hibari mau facepalm ke piring.

"Pokoknya kalo kamu mau facepalm, gak boleh di piring yang itu ya, Kyouya-kun. Ini table set kesayangan okaasan." Fon melanjutkan makannya.

Hibari mingkem.

Alaude pun menghela napas lega. Ah.. Kapan dia bisa lepas dari cengkeraman iblis jelmaan Lucifer ini..?

"Saat aku bosan denganmu." Tiba-tiba Fon menjawab sambil menunjukkan senyum yang mengatakan 'tidak dalam waktu dekat'.

Sial. Dia suka lupa kalo Fon bisa baca pikiran.

"Hari ini kamu ketemu sama si kuda genit itu ya?"

"A-apa..?!"

"Kamu ketemu kan sama si Cavallone itu?"

". . . . " Sumpah, Alaude bingung. Jawab iya, ditebas. Jawab nggak, pasti ketauan bohong. Ia pun mengutuk takdirnya.

Sebenernya Fon gak usah menginterogasi Alaude segala. Dia udah tau jawabannya. Tapi sebagai seorang TOTAL S, melihat Alaude yang biasanya stay cool dan miskin ekspresi itu jadi kesulitan, kebingungan, atau menangis itu memberikan kepuasan tersendiri. "Fufu.. Bersiaplah, aku akan menghukummu malam ini."

Alaude ingin mati.


-To Be Continued-


Oke, saya capek. Sekian untuk chapter 9 yang isinya kira-kira 5000 kata.

Gomenasaaaiiiiii..! Udah update-nya lama, ceritanya gaje pula.

Oh ya, untuk nama boss mafia yang dikejar Alaude itu... Karena Fon artinya angin, Fēng Shàn itu artinya...kipas angin. Iya, emang gak kreatif. Bodo amat.

Sumpah, seneng banget banyak yang review..! Gomen kalo chapter ini garing.
m(_ _)m

Request selalu dibuka. Percayalah, saya selalu menampung dan mempertimbangkan semua request. Kalo belom ditulis itu berarti saya murni gak ada ide! Percaya kan?

.

.

.

PERCAYA GAK...?!

*akal sehat mulai hilang*

Oke, ini mulai gak penting. Sebenernya dari awal juga gak penting, tapi kasih saya senang dikit lah..!

Saatnya mengabaikan bacotan author.

Reviews are LOVED..!