...
Chjiechjie: Wkwkwkwkwk... Sabar, chingu... Akan ada waktunya dimana semua pertanyaanmu terjawab. Tapi author gak akan menjelaskannya secara gamblang. Jadi butuh proses yahh... Aamiin... Nanti author mau suguhin si Ilham dengan banyak makanan biar betah di rumah author. Hehe
FitriYani137: sesuai permintaan... Author publish sekarang :D... Udah aku konfirm yak...
Park RinHyun-Uchiha: Hehe... Yesung gak benci Kyuhyun... Kenapa? Masih rahasia wkwkwkw...
pancibolongucco: ketahuan kalau pengen ada adegan 'anu-anuan' yahh... Kita lihat aja nanti kedepannya yak. Dan soal siapa anak kecil itu, masih dirahasiakam. Kkkkkk~
Orange girls: Yohohoho... Anak kecil di masa lalu Kyumin? Masih rahasia... Hehe. Kejutan? Ohh... Kalau itu gak perlu ditanyakan lagi kkkkk~ masih banyak kisah yang belum terungkap, terutama Yesung dan Kyuhyun. Jadi... Tunggu kelanjutannya nanti yaaa...
.
.
.
Love In Drama
.
Author:
Kim Hyunfha
Genre:
Read, then you will find
Rated:
PG-15
Main Cast:
Cho Kyuhyun
Lee Sungmin
Kim Jong Hoon
Kim Ryeowook
Kim Jungmo
Lee Hyuk Jae
Find by your self
Disclaimer:
Fanfict ini terinspirasi oleh drama Korea yang judulnya Heartstrings. Tapi aku kurang puas sama ceritanya. Jadilah aku buat Heartstrings versiku sendiri dengan konsep cerita yang sama, namun alur cerita yang berbeda.
Mungkin ada yang berteman sama akun fb-ku dan menemukan cerita dengan judul yang sama karena memang awalnya cerita ini aku post di fb. Namun semenjak aku mulai menulis ff KyuMin, ff ini jadi gak terurus. Jadilah aku mengubah seluruh cast ditambah pengubahan alur sedikit. Dan juga aku sudah menyelesaikan sampai chapter 11. Itu sebabnya ff ku yang Journey For Remembrance masih separuh perjalanan. Aku lebih mengutamakan apa yang lebih dulu aku kerjakan ^^ tapi tenang aja... Kadang aku ngelanjutin keduanya kok.
P.S: FF yang udah aku publish di FB udah aku hapus demi kenyamanan.
Don t Plagiat ! Don t Bash ! RCL sangat dibutuhkan So,
Happy Reading ^^
.
.
.
Kyuhyun mendengarkan cerita Sungmin secara seksama. Terlukis senyum kecil di wajah Kyuhyun. 'Kisah dua bocah sekolah dasar yang lucu,' batinnya. Namun ada hal yang membuatnya begitu kagum. Hal yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh semua orang.
"Lalu bagaimana selanjutnya?" tanya Kyuhyun yang terlihat begitu tertarik tentang cerita tersebut.
Sungmin menggelengkan kepalanya sedih. "Anak itu tiba-tiba menghilang. Kata guru kami ia pindah ke luar negeri untuk perawatan. Jadi aku tidak pernah bertemu dengannya setelah kejadian itu. Entah dia masih ingat atau tidak dengan janji itu."
"Kau benar-benar hebat, Sungmin."
Sontak Sungmin terpana dengan pujian itu. Ia lalu memasang wajah yang berbinar seolah baru saja mendapatkan jackpot. Sementara Kyuhyun memandangnya aneh. "Ada apa denganmu?"
"Kau memujiku? Kau benar-benar memujiku? Itu sangat tulus, Kyukyu..."
DEG!
Kyuhyun terdiam. Lelaki itu terus mengumpat di dalam hati. Entah harus dikemanakan wajahnya yang memerah ini. Mau disembunyikan dimana suara detak jantungnya? Sial! Sungmin benar-benar gadis yang imut. Oh Tuhan... tolong hentikanlah kelakuan gadis ini. Dia selalu menunjukkan tingkah imutnya.
Akhirnya laki-laki itu berusaha untuk menetralkan perasaannya. Ia berdehem pelan. "Kyukyu? Sejak kapan itu menjadi panggilanku?"
"Sejak tadi. Apa itu masalah?" Kali ini Sungmin bahkan mengembungkan kedua pipinya. Mungkin sebentar lagi Kyuhyun harus segera pergi dari hadapan gadis itu.
"Tidak... Tidak. Terserah kau saja. Ah iya, aku hanya ingin mengatakan kalau kau hebat. Kau hebat karena hingga kini kau masih memegang janji itu. Tak banyak orang yang bisa melakukannya." Kyuhyun menghela nafas.
Sungmin mendengus. "Aku sempat berpikir untuk berhenti. Namun aku tidak tahu apa yang anak itu lakukan. Jika aku berhenti sekarang, mungkin aku akan menyesal. Siapa tahu dia juga melakukan hal yang sama."
"Kau benar-benar gadis yang naif, Sungmin." Kyuhyun berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Apa kau ingat namanya?"
Sungmin memandang Kyuhyun. Ia mengerjapkan kedua matanya beberapa kali lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak. Habisnya dia itu terlalu pendiam. Lagipula panggilan 'Gongju' dan 'Jeonha' sudah cukup. Hehe..."
Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya heran. "Ck! Dasar bodoh!"
"Hey! Lagi-lagi kau mengataiku bodoh. Memangnya stok pujianmu untukku itu sangat sedikit, ya?"
"Aku benar, kan? Bagaimana bisa kau membuat janji dengan seseorang yang bahkan tidak kau ketahui namanya? Bukankah itu hal yang bodoh? Apalagi kalian berdua itu masih bocah."
"Justru karena kami masih anak-anak, aku jadi mempercayai janji itu. Sampai kapanpun akan aku tunggu ucapannya setelah menjadi bintang besar nanti. Begitu pula dia yang juga harus menungguku menjadi seorang bintang besar."
Kyuhyun tersenyum tipis melihat keyakinan kuat yang melekat pada gadis ini. Apakah ini yang dimaksud Direktur Shin? Pria itu menyuruhku untuk mempelajari sifat Sungmin yang sebenarnya. Dan inilah jawabannya.
'Yeah, fakta baru telah aku dapatkan. Terima kasih, Sungminnie,' batin Kyuhyun.
.
**KM137**
.
Hari pementasan drama musikal semakin dekat. Jadwal latihan pun terus diperketat. Selain itu, lusa para pemain akan diajak g untuk tour ke Pulau Nami. Sesuai yang telah direncanakan oleh Direktrur Shin jauh-jauh hari, mereka akan melakukan latihan di sana selama seminggu, sebenarnya itu dua hari lebih lama dari yang direncanakan. Jelas saja mereka semakin menunjukan rasa antusiasme setelah mendengar kata 'Pulau Nami'.
"Benarkah?! Pulau Nami?! Akhirnyaaa... Kita liburann!"
"Pulau Namiiii! I'm Coming!"
"'Liburan ke Pulau Nami. D-2'."
"Yeah... Rencana Direktur Shin benar-benar menakjubkan."
"Direktur Shin! Saya menyukai Anda! Saranghamnida!"
Kira-kira begitulah reaksi mereka. Bahkan ada yang sampai menulis status di twitternya. Jangan lupakan Sungmin yang kini tengah loncat-loncat kegirangan. Gadis itu malah sampai memeluk Kyuhyun saking girangnya. Ia tidak mempedulikan kondisi detak jantung lelaki itu. Tapi tidak dipungkiri jika lelaki bermarga Cho itu juga senang. Sudah lama ia ingin liburan ke sebuah pulau yang indah.
"Kau senang sekali, Sungmin." Jungmo datang tiba-tiba mendekati Sungmin yang masih memeluk Kyuhyun dari samping. Lelaki itu tersenyum misterius. "Tampaknya hubungan kalian jadi semakin baik ya?"
Sontak Sungmin langsung melepas pelukannya. Keduanya terpaksa masuk dalam suasana canggung. Sungmin melihat Jungmo dan bersikap seolah-olah tak ada apapun yang terjadi. "Tentu saja aku sangat senang, Oppa. Aku sangat ingin pergi ke Pulau Nami sejak dulu."
"Kau tidak pernah ke Pulau Nami sebelumnya?" tanya Jungmo heran. Ia mendapati gelengan kepala sebagai jawabannya. "Benarkah? Kalau begitu kau harus memuaskan diri dengan seluruh pemandangan alam di Pulau Nami."
"Kau harus pintar menggunakan setiap kesempatan yang ada, Sungmin. Direktur Shin itu pasti akan memberikan latihan yang serius di sana," ujar Kyuhyun yang sekaligus memberi saran pada gadis itu.
"Kau benar, Kyukyu. Aku harus menggunakan setiap kesempatan yang ada." Sungmin mengepalkan tangannya kuat, seolah ia ingin melakukan peperangan.
"Kyukyu? Bahkan kalian memiliki panggilan sayang juga ya." Lagi-lagi Jungmo menggoda dua orang ini. "Aigoo... pasangan yang begitu manis." Lelaki ini menoel pipi Kyuhyun dan Sungmin dengan genitnya. Sontak death-glare andalan Kyuhyun tertuju pada Jungmo. Sementara Sungmin hanya mengembungkan pipinya.
"Haha, peace..." Jungmo memberikan v-sign melalui dua jarinya sebagai simbol perdamaian kala merasakan aura yang tidak enak dari sahabatnya itu.
Kyuhyun menghela nafas beratnya. "Daripada mendengarkanmu bicara yang tidak-tidak, lebih baik kita sekarang berkumpul dengan yang lainnya untuk latihan. Bukankah Direktur telah menyuruh kita untuk berlatih mulai dari adegan awal?"
Kedua mata Jungmo memicing. "Tumben kau bicara soal berlatih. Biasanya orang yang paling malas latihan adalah kau, Cho Kyuhyun, karena dia hanya mendapat posisi sebagai pemeran utama cadangan."
"Hey! Memangnya salah kalau aku ingin berlatih, huh? Lagipula tidak ada hal lain yang ingin aku lakukan." Kyuhyun memalingkan wajahnya ke arah lain.
Namun hal ini rupanya menjadi perhatian sendiri untuk Jungmo. Lelaki itu mengusap-usap dagunya sembari mengulas senyum yang paling tidak disukai oleh Kyuhyun. Senyuman yang begitu menyebalkan.
"Ada apa dengan senyum bodohmu itu, huh?" Kyuhyun berucap sinis.
"Tidak apa-apa. Oh iya, Sung... Min?" Jungmo terlihat celingukan mencari keberadaan seorang gadis yang tadinya bersama mereka, namun tiba-tiba tak terlihat batang hidungnya. "Dimana anak itu? Dia menghilang begitu saja."
Di saat Jungmo tengah kebingungan mencari Sungmin, Kyuhyun gunakan kesempatan ini untuk pergi. Semakin lama bersama dengan Jungmo, lelaki itu bertambah aneh saja. Apalagi akhir-akhir ini sering sekali menggodanya. Dia pikir digoda itu enak apa? Berkat ini Kyuhyun jadi tahu bagaimana rasanya menjadi seorang wanita yang digoda oleh para pria genit di jalanan. Sungguh saat yang menyebalkan.
"Eh? Kyuhyun juga pergi? Aisshh... Dasar bocah! Aku ditinggal sendiri." Jungmo akhirnya menyadari kalau dirinya tengah sendirian. Daripada di sini, lebih baik ia pergi ke ruang latihan agar tidak mendapat amukan dari Direktur Shin yang akhir-akhir ini jadi temperamen. Mungkin karena waktu pementasan sudah semakin dekat.
Namun... ponselnya tiba-tiba bergetar. Jungmo mengeceknya. Ia mendapati satu nama yang tertulis di sana. Huh? Itu adalah ibunya. Jungmo menghela nafas berat. Hmm... Yeah... Mungkin ia tidak bisa mengikuti latihan hari ini.
.
**KM137**
.
Profesor Oh memperhatikan bagian dancer yang tengah melakukan latihan mereka. Ia mengamati setiap gerakan tubuh masing-masing pemain. Di sampingnya ada juga Direktur Shin yang ikut mengawasi para pemain tersebut. Sesekali Profesor Oh mengerutkan keningnya kala ada satu orang yang melakukan sedikit kesalahan. Profesor muda itu memang memiliki mata setajam elang. Tak satupun kesalahan yang luput dari pandangan kedua matanya.
Selang beberapa menit musik berhenti. Profesor Oh menyuruh mereka untuk istirahat sembari mengevaluasi dari latihan yang baru saja para pemain itu lakukan. Di tangannya terdapat sebuah catatan kecil yang merupakan tempat Profesor Oh biasa menuliskan setiap hal yang dianggap penting.
"Latihan kali ini sedikit lebih baik dari kemarin. Namun saya menangkap berbagai kesalahan kecil yang sering dilakukan oleh kalian. Penonton awam mungkin tidak akan menyadarinya, akan tetapi para pencari bakat akan selalu mengamati setiap kesalahan yang kalian buat. Jadi mohon berhati-hati untuk yang satu ini," jelas Profesor Oh yang lalu membuka lembar catatannya.
Direktur Shin melihat arlojinya sekilas. "Profesor Oh, apakah Profesor Park belum menyelesaikan latihan vokalnya? Setengah jam lagi kita harus latihan mulai dari adegan awal hingga akhir secara runtut," bisik Direktur Shin pada Profesor Oh.
"Sepertinya belum, Direktur."
"Baiklah, kau lanjutkan saja evaluasinya. Aku akan mendatangi tempat latihan Profesor Park."
"Baik, Direktur."
Direktur Shin lalu melangkahkan kakinya untuk pergi dari ruangan itu. Dalam hati ia berharap agar kejadian seperti kala itu tidak terulang. Seorang gadis yang tiba-tiba datang menemuinya dan mengatakan bahwa terjadi keributan di ruang khusus untuk berlatih vokal. Hal itu sungguh membuatnya naik pitam. Apakah ruang latihan itu telah berubah menjadi tempat berkelahi?
"Kau mengulangi kesalahan yang sama, Cho Kyuhyun. Beruntung kau hanya menjadi pemeran utama cadangan. Ekspresimu itu benar-benar... Apa kau ini robot, huh? Wajahmu itu sama sekali tak menunjukkan ekspresi apapun!"
Kontan Direktur Shin menghentikan langkahnya mendengar suara yang lumayan keras yang berasal dari tempat yang ditujunya. Benar kan? Apa yang menjadi dugaannya menjadi kenyataan.
"Hah.. Bocah-bocah ini..." Direktur Shin hampir saja memasuki ruang latihan itu. Namun ada sesuatu yang menghentikannya. Sesuatu yang bahkan tidak ada di dalam imajinasinya.
"Maafkan aku. Tapi aku benar-benar tidak bisa menunjukkan ekspresi yang kau maksud. Beginilah caraku berekspresi ketika menyanyikan lagu ballad. Setiao orang memiliki gaya tersendiri dalam bernyanyi, bukan?" ujar orang yang kita tahu itu adalah Kyuhyun dengan nada biasa, tanpa amarah seperti yang biasa ia tunjukkan terutama saat berhadapan dengan rivalnya, Yesung.
Yesung memandang Kyuhyun datar. "Lalu sekarang, kau mau bagaimana?"
"Yeah, kalau kau berkenan, mungkin kau bisa mengajariku bagaimana menunjukkan ekspresi yang tepat ketika bernyanyi," jawab Kyuhyun yang mengundang banyak tanya dari orang-orang yang ada di tempat latihan itu.
"Tunggu dulu! Kupikir ekspresi yang Kyuhyun tunjukkan sudah pas dengan lagu yang ia nyanyikan. Lagu itu menceritakan tentang Hwanhee, Putra Mahkota Kerajaan Shina, saat dirinya tengah mengenang masa-masa di mana Seulhae, Putri Mahkota Kerajaan Yongshin, masih ada di dalam kehidupannya. Pangeran Hwanhee merenung memandang bebatuan yang ada di tepi laut, tapi dia tidak menangis. Itulah yang Kyuhyun tunjukkan tadi. Ia menangis di dalam hatinya, namun mencoba untuk tegar pada raut wajahnya." Kibum yang kurang setuju dengan Yesung ikut memberikan komentarnya.
Sementara itu Heechul memperhatikan lagi naskah yang ia pegang. "Menurutku Kibum ada benarnya juga. Adegan menangis memang ada, tapi itu dilakukan setelah lagu berakhir. Atau kau yang memang tengah mencari-cari kesalahan Kyuhyun di saat Profesor Park tidak ada, Kim Jong Hoon? Seolah kau menganggap dirimu itu sempurna hingga selalu memandang remeh orang lain." Lagi-lagi Heechul menunjukkan lidahnya yang tajam.
Yesung yang merasa dirinya tengah dipojokkan segera mencari sesuatu untuk menyingkirkan situasi tersebut. Lelaki itu menghela nafas berat. "Aku hanya ingin bilang kalau dia menyanyikan lagu ini, namun penghayatannya masih kurang."
"Baiklah... Kau memang selalu benar, Kim Jong Hoon. Aku hanya pemeran utama cadangan. Seharusnya yang lebih sering berlatih di sini adalah kau, bukannya aku."
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Cho. Tanpa latihan pun aku sudah lebih baik darimu."
"Ck! Kau terlalu sombong." Kyuhyun meletakkan lembaran kertas yang berisi lirik lagu di atas sebuah meja lalu meraih sebotol minuman di sana.
"Ada apa ini? Jangan katakan kalau kalian kembali berkelahi!" Direktur Shin yang sudah terlalu lama berdiri di dekat pintu akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam. Ia melihat beberapa orang di dalam ruangan itu, namun ada satu orang yang tidak nampak di dalam penglihatannya. "Dimana Kim Jungmo?"
"Dia ijin tidak ikut latihan hari ini, Direktur Shin. Tiba-tiba ada urusan penting yang harus ia selesaikan di rumah katanya," kata Sungmin yang baru saja selesai melamun -semenjak Direktur Shin masuk ke dalam ruangan dan membuatnya kaget. Bahkan gadis itu tak tahu kalau terjadi perdebatan antara Yesung dan Kyuhyun. Entah apa yang tengah ia lamunkan sejak tadi.
"Aihh... Padahal hari ini aku memiliki rencana untuk latihan mulai awal. Ya sudahlah. Kalau pemain inti tidak lengkap kita batalkan saja. Tapi besok, kalian semua harus datang. Aku tidak mau tahu."
"Tapi bagaimana kalau tiba-tiba salah satu dari kita sakit atau tiba-tiba ada urusan seperti Jungmo, Direktur? Harus tetap datang kah?" tanya Donghae.
"Ya itu terserah kalian. Yang mana yang kalian anggap lebih penting. Kalau memang sakit, ya apa boleh buat? Oh iya, Donghae dan Henry, apa lagu untuk adegan dimana Pangeran Hwanhee dan Putri Seulhae tengah dilanda jatuh cinta sudah kalian buat komposisi nadanya?"
Henry mengusap tengkuknya. "Sebenarnya sudah selesai, Direktur. Tapi ada sedikit masalah. Kami bingung apakah nada pada bagian ending sudah pas atau tidak. Mungkin Anda bisa memberikan komentar mengenai itu."
"Baiklah, setelah ini kalian ke ruanganku." Direktur Shin mengalihkan pandangannya ke arah Yesung. "Ahh... Kim Jong Hoon. Aku jadi teringat akan suatu hal. Ikut aku sekarang. Ada hal yang perlu kita bicarakan."
Yesung mendengus. 'Pasti hal yang sama,' batinnya seolah ia tahu apa yang akan Direktur Shin bahas bersama dengan dirinya. Atau mungkin perkiraannya benar.
Sementara itu Kyuhyun masih berkutat dengan pikirannya. Ia tak habis pikir dengan laki-laki bernama Yesung itu. Bahkan tadi Yesung tidak bersikap seperti biasanya. Ia ingat dimana saat mereka dipanggil ke ruangan Direktur Shin karena berkelahi di dalam ruang latihan. Setelah itu, Yesung bersikap seolah tidak ada kebencian di dalam dirinya. Namun di saat yang lain, lelaki itu mengeluarkan perkataan yang benar-benar merendahkan Kyuhyun hingga membuat ia naik pitam dan mau tidak mau perkelahian tetap terjadi. Sebenarnya ada apa dengan si Kim Jong Hoon itu?
'Apakah dia seorang alter ego atau semacamnya?' batin Kyuhyun asal.
Eunhyuk, seorang gadis yang sejak tadi hanya duduk diam memperhatikan setiap kejadian yang terjadi. Ia mendesah kecil. Ugh.. Ia benar-benar tidak nyaman dengan situasi yang ada di sini. Sungguh...
"Kau kenapa?" tanya Donghae yang kebetulan duduk di samping kanannya. Entah lelak itu yahg terlalu peka atau apa, yang jelas dirinya bisa merasakan hal yang aneh tengah terjadi pada Eunhyuk.
Eunhyuk hanya melirik sekilas. "Tidak apa-apa. Aku hanya mengantuk."
"Benarkah? Kalau kau butuh teman curhat, datanglah padaku."
"Huh? Memangnya kau siapa? Lagipula aku tidak butuh yang seperti itu. Teman itu benar-benar menyusahkan. Mereka hanya saling mengambil keuntungan."
"Eitss... Jadi selama ini itu pendapatmu tentang seorang teman? Kuberitahu padamu. Sekuat apapun seseorang, dia tetap membutuhkan kehadiran teman di sisinya. Teman untuk menyalurkan segala pemikiran kita. Aku yakin mayoritas orang akan lebih nyaman menceritakan masalahnya pada seorang teman daripada keluarga mereka sendiri. Di sinilah peran teman dianggap penting."
Eunhyuk terdiam. Ia berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri agar tidak terpengaruh dengan ucapan Donghae. "Apapun yang kau katakan, aku tidak butuh yang namanya teman. Ingat itu baik-baik."
"Kau ini ternyata keras kepala sekali ya? Tapi aku tetap tidak akan merubah perkataanku. Kalau kau butuh teman curhat, datanglah padaku." Donghae menunjukkan senyum termanisnya saat Eunhyuk beralih memandangnya.
"Terserah," sahut gadis itu singkat.
"Kyukyu! Miyu pergi dari rumah!"
Sontak terikan Sungmin membuat Kyuhyun menjatuhkan botol minumannya. Dengan gerakan slow-motion ia beralih memandang Sungmin. "Apa? Miyu kabur? HAH?!"
"Jung Ahjumma barusan mengirim pesan padaku."
"Oh tidak... 872 ribu Won-ku..." ujar Kyuhyun lemas.
Kontan kedua mata Sungmin membulat sempurna. "872 ribu Won? Kau gila?! Kita cari sekarang!" Gadis itu langsung berdiri setelah mengambil tasnya. Ia lalu menarik Kyuhyun keluar tanpa mempedulikan tatapan aneh dari orang-orang yang ada di dalam ruangan itu.
'Mi... Yu?'
.
**KM137**
.
"MIYUUUU?! Kau dimana?" teriak Sungmin ketika ia dan Kyuhyun tengah berada di sebuah taman yang tidak jauh dari rumahnya, seolah-olah kucing yang dicarinya dapat mendengar teriakannya.
"Aisshh... Itu adalah kucing mahal. Semoga saja tidak ada orang yang mengambilnya." Kyuhyun berkali-kali mendengus kesal saat membayangkan jika kucing mahal itu bukan lagi bernama Miyu.
"Mungkin sebaiknya kita berpencar, Kyu," usul Sungmin yang dijawab dengan anggukan oleh Kyuhyun.
Kedua orang itu pun mulai berpencar. Sungmin berlarian menelusuri taman bagian Utara. Seluruh tempat ia cari, mulai dari di balik semak-semak, di bawah gazebo, di bawah bangku taman, di atas pohon, bahkan anjing yang warnanya sama seperti Miyu ia kira itu adalah Miyu yang asli.
Begitu pula dengan Kyuhyun yang lebih pusing mencari Miyu. Bagaimana tidak? Kucing berharganya yang paling mahal hilang begitu saja. Apalagi ia terlanjur menyukai kucing lucu itu. Membelikan seluruh kebutuhannya sampai menyewa dokter hewan pribadi telah ia lakukan. Dan semua itu lenyap begitu saja? Oh ayolah... Ia sungguh tidak rela. Bahkan belum genap satu bulan Kyuhyun memelihara Miyu. Mungkin ada Tuhan mau memihak padanya agar mengembalikan kucing itu.
Tidak terasa Kyuhyun dan Sungmin mencari Miyu hingga mereka melupakan waktu. Matahari telah terbenam dan langit menjadi semakin gelap. Taman pun mulai sepi oleh pengunjung. Namun Miyu tetap tidak ditemukan. Keduanya duduk lemas di atas gazebo taman. Sungmin memelengkungkan bibirnya ke bawah, sedih.
"Bagaimana ini, Kyu? Aku sudah terlanjur sayang dengan Miyu. Tapi dia... Hiks..."
Eh? Sungmin menangis? Kyuhyun yang duduk di sampingnya jadi gelagapan sendiri. Maklum saja, lelaki itu tidak pernah menghadapi seorang gadis yang tengah menangis.
"Ahh... Sudah-sudah jangan menangis. Mau tidak mau kita harus rela, Sungmin."
"Tapi itu kau beli dengan uangmu. Aku jadi tidak enak sendiri padamu, Kyuhyun. Pokoknya malam ini Miyu harus kita temukan!"
"Baiklah-baiklah. Kita pindah tempat saja. Di taman ini sudah jelas Miyu tidak ada. Aku juga sudah mencari di luar taman dan hasilnya tetap nihil."
Sungmin mengangguk pelan. Gadis itu mendesah lelah. Dengan langkah berat mereka berdua pergi meninggalkan taman tersebut. Mudah-mudahan saja Miyu tidak pergi terlalu jauh.
Kyuhyun dan Sungmin menyusuri jalan kecil dekat perumahan mereka, berharap di sana ada kucing lucu yang mereka cari. Berjalan cepat dari jalan satu ke jalan yang lainnya. Namun yang mereka temui malah tetesan air yang dengan tanpa dosanya bergerak turun dari atas lain. Benar-benar minta diumpati air-air itu.
Awalnya mereka berdua membiarkannya, namun semakin lama hujan ini tidak berhenti juga dan malah bertambah deras. Ditambah cuaca hari ini yang sangat dingin. Bisa-bisa keduanya jadi sakit demam, flu, dan sebangsanya.
"Sungmin, kita berhenti dulu ya. Jangan terlalu memaksakan dirimu."
Namun sayangnya gadis itu hanya menundukkan kepala dengan kedua tangan yang mengepal erat. Kyuhyun menelan ludahnya takut. Sungmin tiba-tiba bertingkah aneh. Dengan gerakan pelan Kyuhyun mencoba untuk menepuk bahu gadis tersebut. Tapi malah ditepis kasar oleh Sungmin.
"JANGAN MENDEKAT!"
Kontan Kyuhyun langsung menarik tangannya kembali. Sungmin benar-benar menakutkan. "Sungmin? Kau baik-baik saja?"
Gadis itu mendongakkan kepalanya. Ia mengerjap pelan merasakan tetes air hujan yang terus mengalir di wajah dan tubuhnya. Seketika ia tersadar akan suatu hal. Sungmin membalikkan badannya menghadap Kyuhyun.
"Ahh... Kyuhyun. Maaf... Aku..." Sungmin memegang kepalanya yang terasa pening. "Aku hanya... tidak menyukai hujan." Gadis itu lalu mendengus lelah. "Ayo kita pulang."
Tanpa banyak bertanya, Kyuhyun mengiyakan ajakan Sungmin. Meski beribu bertanyaan hinggap di kepalanya, Kyuhyun berusaha untuk menahan semuanya sampai kondisi Sungmin sudah dalam keadaan baik.
"Baiklah."
.
.
.
Jam dinding telah menunjukkan pukul 11 malam. Saat itulah Kyuhyun dan Sungmin sampai di rumah dalam keadaan basah kuyub. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut gadis itu. Ia hanya melangkah melewati tangga, menuju kamarnya. Tentu Kyuhyun semakin bingung dengan kelakuan Sungmin yang tiba-tiba berubah. Hingga satu asumsi ia dapatkan.
"Apakah Sungmin memiliki trauma terhadap hujan?"
Takut terjadi apa-apa pada gadis itu, Kyuhyun akhirnya pergi mengikuti Sungmin. Terlihat dengan gerakan lemas, Sungmin mencoba untuk membuka pintu kamarnya namun segera dihentikan oleh Kyuhyun.
DEG!
Sungmin terdiam. Ia memundurkan tubuhnya menjauhi Kyuhyun. Kejadian ini... adalah hal yang paling ditakutinya. Terutama hujan, yang paling ia benci. Nafas Sungmin mulai tak beraturan. Astaga... Ini semakin membuat Kyuhyun bingung. Apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu?!
"Kau ini sebenarnya kenapa, huh? Kau itu membuatku takut, Sungmin."
Tidak lama kemudian, suara hujan makin menghilang hingga akhirnya berhenti. Sungmin memejamkan kedua matanya sambil menghela nafas berat, seolah beban yang ada di dalam hatinya menghilang entah kemana. Seulas senyum terukir di bibirnya. Ia memandang Kyuhyun yang masih menampakkan raut wajah khawatir.
"Tidak apa-apa, Kyuhyun. Ini sudah biasa terjadi. Ayo masuk ke dalam kamarku. Akan kuceritakan suatu hal padamu."
Kyuhyun yang masih tidak mengerti situasi apa yang tengah terjadi hanya bisa menurut saja. Meskipun agak canggung ketika ia memasuki kamar seorang gadis. Sebuah kamar yang dipenuhi oleh wallpaper berwarna pink. Lelaki itu tersenyum tipis. 'Ck! Dasar wanita.'
Terdapat sofa kecil di ujung kasur Sungmin. Mereka berdua memilih duduk di sana. Sungmin menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan.
"Sebenarnya orang tuaku melarangku pergi keluar rumah saat hari sedang mendung. Itu karena aku sempat mengalami hal yang buruk di masa kecil tepat saat hari tengah hujan deras. Hal yang tidak bisa aku ceritakan pada orang lain." Sungmin mendengus. "Biasanya kalau aku sudah begini, aku akan datang ke kamar Jung ahjumma dan meminta pelukan darinya atau saat eomma ada di rumah, aku akan datang ke kamarnya dan bermanja-manja padanya. Tapi sekarang sepertinya Jung ahjumma sudah tidur. Orang tuaku juga tengah berada di luar negeri. Jadi itu tidak bisa kulakukan."
Sungmin lalu memandang Kyuhyun yang terlihat gugup dan bingung. Gadis itu tersenyum. "Kyukyu, bolehkan aku memelukmu. Tolong..." Sungmin mengedipkan matanya beberapa kali dengan cepat. Astaga... Itu benar-benar imut. Pikir Kyuhyun.
"Huh? Oh... Ehm... Ba-baiklah."
"Benarkah?" Dengan ragu Kyuhyun mengangguk.
Dengan tatapan berbinar, Sungmin langsung menerjang Kyuhyun hingga lelaki itu terjungkal ke belakang. Beruntung sofa itu berukuran panjang dan membuat mereka berdua tidak terjatuh. Dengan perasaan senang Sungmin memeluk Kyuhyun yang berada di bawahnya. Sementara Kyuhyun sendiri ingin memperbaiki posisi, namun Sungmin menolak.
"Biarkan saja begini, Kyu. Kau tidak akan melakukan apa-apa padaku kan," ujar Sungmin lirih dengan mata yang tertutup. Tampaknya ia benar-benar merasa nyaman.
Kyuhyun mendesah. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain membalas pelukan aneh itu sambil mengelus-elus rambut basah Sungmin. Lelaki itu tidak merasakan pergerakan apapun dari gadis itu. Dan benar saja... Sungmin telah memasuki alam mimpinya.
Dengan hati-hati, Kyuhyun mengangkat tubuh Sungmin dan memindahkannya ke atas kasur.
"Hahh... Gadis yang aneh..."
Kyuhyun merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel. Sontak kedua matanya membulat sempurna kala melihat notifikasi yang menunjukkan ada 53 panggilan tidak terjawab dari orang yang sama.
'Direktur Shin'
Sial...
.
**KM137**
.
Keesokan harinya di ruang latihan...
"Hey! Kucing siapa ini?" tanya Direktur Shin ketika melihat seekor kucing yang tiba-tiba memasuki ruang latihan.
"Lucu sekali..."
"Imutnya..."
"Aku ingin punya yang seperti itu."
"What the... Itu kucing yang mahal!"
"Apa?!"
Jungmo yang juga berada di sana jadi ikut penasaran dengan keributan yang terjadi. Akhirnya ia memutuskan untuk melihat apa yang menjadi sumber keributan kali ini.
Tampak seekor kucing lucu, menggemaskan, namun tak asing lagi baginya. Jungmo mengernyitkan dahinya bingung. Ia yakin... Ini tidak salah lagi. Kucing ini adalah...
"Bukankah ini Miyu?!"
"Eh?!"
Direktur Shin lalu menatap Jungmo. "Kau tahu kucing ini? Apa ini milikmu?"
"Bukan. Tapi ini adalah kucing milik Kyuhyun. Tapi bagaimana bisa sampai ke tempat ini?" tanya Jungmo heran.
"Kyuhyun? Cho Kyuhyun? Aku tidak peduli dengan itu. Cepat kau antarkan hewan ini ke rumahnya sekalian jemput bocah itu kemari. Ini sudah pukul setengah 1 siang tapi mereka belum datang. Dan juga Sungmin... Kemana sebenarnya dua bocah itu, huh?! Kemarin sudah pergi tanpa pamit, sekarang malah datang terlambat. Dasar bocah! Padahal brieving untuk pergi ke Pulau Nami akan dimulai sebentar lagi." Direktur Shin mengomel tak karuan. Beginilah jika harus menghadapi bocah-bocah yang tak bisa diatur.
"Sabar, Direktur. Mungkin mereka ada masalah di rumah," Profesor Oh mencoba untuk menenangkan pria yang telah mencapai batas kesabarannya itu.
"Hahh... Aku bisa tua sebelum waktunya jika begini," gumamnya frustasi sambil memijat kepalanya yang pening.
Sementara para pemain yang mendengar kalimat terakhir Direktur Shin hanya bisa menahan tawa mereka. Jika tidak, bisa-bisa mereka yang terkena semprotan ludah spesial dari Direktur Shin. Hahaha... Sementara Jungmo kini telah tak terlihat dalam ruangan itu. Kemana lagi kalau bukan rumah Sungmin yang menjadi tujuannya.
.
.
.
To Be Continued
Yooo, Reader-deul! Chapter 9 sudah diluncurkannn!
Mumpung hari ini uri Minnie-Ming telah kembali dari tugasnya sebagai penduduk Korsel sana jadi author update lebih cepat :D...
Apalagi pas tahu Kyuhyun dini hari tadi... Kyaaaa itu cecuatu syekalehhh...
Tapi ... Interview yang dilakukan Sungmin cukup membuat hati ini terobrak-abrik... Dalam satu hari, seorang Lee Sungmin bisa membuat para fans (sebagian) 'plus' KMS bergembira sekaligus sedih... Ahh... Dasar Sungmin...
Yeah... Mau bilang apalagi, huh? Tidak yang biaa dilakukan selain "meniadakan" sosok 'itu', buang jauh-jauh dari pikiran kita, dan hanya ada satu pasangan! Only KyuMin!
Well, see you next chapter!
Kamsahamnida #bow
