A/N

Berhubung kali ini author langsung update 2 chapter sekaligus.

Alangkah baiknya kalian mengecek chapter sebelumnya sebelum membaca chapter ini.


.

.

Lovers 2 : Cupid

.

.

Epilog Part 1

Disclaimer: Vocaloid © Crypton Future Media

~Lovers 2 : Cupid ~ © Crayon Melody

Rated: T

Warning: Typo, abal, gaje, alur kencang, nggak nyambung, dll

.

.

Please Enjoy Reading

.

.


Hari Pertama Festival Sekolah


"Lenka-chan, kau sudah boleh istirahat sekarang!" seru Ring.

"Ah sudah ganti shift rupanya," ucap Lenka kaget. Ia menoleh ke arah jam dinding, benar sekarang sudah siang. Tak disangka waktu berjalan dengan cepat.

"Lenka-chan kebiasaan deh, kalau sudah fokus suka lupa waktu," ucap Ring tak habis pikir.

Lenka hanya tersenyum mendengarnya. "Kalau begitu, aku serahkan sisanya padamu ya, Ring-chan."

"Oke, serahkan padaku. Jadi Lenka-chan mau kemana? Apa pergi menyusul Kagamine-san?" tanya Ring.

"Hmm entahlah, pasti di sana ramai sekali," ucap Lenka sedikit ragu.

"Benar juga, gomenasai aku tidak bisa menemani Lenka-chan," ucap Ring. Memang sangat disayangkan shift mereka tidak sama.

"Tidak apa-apa, Ring-chan juga yang semangat kerjanya," ujar Lenka seraya tersenyum.

Ring mengangguk lalu setelah itu mulai pergi melayani para pengunjung. Kelasnya sekarang sedang mengadakan chinesse cafe. Dekorasi kelasnya dipenuhi oleh pernak pernik khas negeri tirai bambu tersebut. Begitupun para pelayan yang memakai pakaian cina. Tapi untungnya Lenka mendapat bagian untuk memasak, karena Lenka tentu saja tidak akan mau memakai pakaian cina yang memalukan itu.

Lenka menatap Ring yang berpakaian pakaian cina dengan lihai melayani para pengunjung dengan senyuman. Semenjak Ring berbaikan dengan Nero dan bahkan mulai berpacaran. Sifat Ring mulai berubah yang awalnya pemurung menjadi gadis yang ceria. Dalam waktu singkat, Ring sudah bisa berteman dengan teman-teman sekelasnya yang lain. Yah memang pada dasarnya Ring adalah anak yang supel kalau saja bukan karena hubungan buruknya dengan Nero. Tapi untungnya itu sudah tidak lagi.

"Ah gawat bagaimana ini?"

Lenka langsung menoleh dan mendapati beberapa temannya berkumpul di pojokan ruangan. Lenka memiringkan kepalanya, sepertinya sudah terjadi sesuatu. Karena penasaran, Lenka segera menghampirinya.

"Ada apa?"

"Ah Kagami-san!"

Terlihat beberapa temannya kaget begitu melihatnya. Mungkin mereka tidak menyangka kalau Lenka akan datang menghampiri mereka terlebih dahulu. Mengingat sikap Lenka yang selama ini suka menyendiri di kelasnya dan jarang bergaul dengan yang lain.

"Yuuto-kun yang seharusnya bertugas memakai kostum ini mendadak perutnya sakit. Dan semua orang sudah sibuk, jadi tidak ada yang bisa menggantinya," jelas salah satu temannya.

"Souka, kalau begitu biar aku yang menggantikannya," ucap Lenka mengagetkan semua orang.

"Heee, apa Kagami-san tidak apa-apa?"

Lenka mengangguk. "Iya, lagipula aku juga punya waktu luang."

Berhubung Lenka tidak mengikuti ekskul apapun. Jadi selain kegiatan di kelas, ia tidak punya acara lain. Berbeda dengan Rinto, Mikuo, dan Nero yang sekarang sibuk mengurus stand ekskul basket mereka apalagi mengingat Rinto adalah ketuanya. Dan Lenka tidak mau datang ke stand mereka yang pastinya akan dipenuhi oleh para penggemar mereka meskipun Rinto sudah memintanya untuk menemuinya jika shiftnya sudah kelar hari ini. Maaf Rinto, tapi aku tidak berniat datang ke kandang singa, batin Lenka.

Meski awalnya teman-temannya terlihat ragu, tapi setelah sedikit dipaksa oleh Lenka. Akhirnya mereka menyetujuinya, alhasil Lenka sekarang memakai kostum boneka panda. Memang sedikit panas, tapi setidaknya ini lebih baik daripada harus memakai pakaian cina. Selain itu dengan memakai kostum ini ia bisa berjalan bebas mengelilingi sekolah tanpa ketahuan.

"Arigatou, Kagami-san. Kalau kau sudah capek, kau boleh kembali. Jangan memaksakan diri," ucap temannya sambil melepas kepergian Lenka.

Lenka mengangguk mengiyakan lalu berjalan keluar kelas sambil membawa papan nama untuk mempromosikan chinesse cafe kelasnya. Dan petualangan Panda Lenka pun dimulai.

.

.

.

Setelah memaksa Mikuo dan Nero, akhirnya Rinto bisa kabur juga dari stand ekskul mereka. Rinto sedikit bersalah karena harus meninggalkan teman-temannya untuk menangani para gadis-gadis yang terus menempel di stand mereka tanpa berniat pergi sama sekali. Tapi Rinto harus pergi, karena pacarnya yang tak kunjung-kunjung datang menemuinya. Meskipun ia sudah menghubungi ponsel Lenka, tapi gadis itu tak kunjung mengangkatnya. Seharusnya shift-nya sudah selesai, tapi kenapa gadis itu tak datang menemuinya maupun menghubunginya.

Setelah berlarian di koridor kelas, akhirnya Rinto tiba di kelas mereka. Tampak beberapa anak yang kaget melihat kedatangan Rinto yang tiba-tiba.

"Rinto, kenapa kau disini? Bagaimana dengan stand ekskulmu?" tanya salah seorang temannya.

"Ah, aku ijin pergi sebentar," jawab Rinto sekenanya. Tampak Rinto mengedarkan padangan ke sekeliling kelas, karena tidak mendapati kepala yang ia cari. Rinto mulai berjalan menghampiri gadis berambut biru laut yang sedang melayani salah satu tamu.

"Suzune-san, Lenka mana?" tanya Rinto langsung.

Tapi Ring tidak langsung menggubrisnya. Setelah mencatat pesanan tamu tersebut lalu memberikannya ke salah satu temannya. Akhirnya Ring mau berhadapan dengan Rinto.

"Kagamine-san, apa kau tidak lihat aku sedang sibuk," ucap Ring sedikit kesal.

"Gomen, tapi aku harus tahu dimana Lenka sekarang? Bukannya shift-nya sudah selesai?" tanya Rinto bingung.

"Memang, tapi tadi ada sedikit masalah," jawab Ring.

"Masalah apa? Lenka baik-baik saja kan?" tanya Rinto sedikit mendesak.

"Tenanglah Kagamine Rinto, pacarmu itu baik-baik saja kok," ucap Ring. Setelah itu ia mulai menceritakan salah satu teman mereka yang seharusnya bertugas memakai kostum untuk mempromosikan kelas mereka yang tiba-tiba sakit perut dan dimana Lenka yang menggantikannya untuk memakai kostum tersebut.

Rinto menghela napas panjang begitu selesai mendengar cerita dari pacar salah satu sahabatnya itu. "Arigatou, kalau begitu aku akan mencari Lenka."

Setelah mengatakan itu, Rinto langsung berlari keluar kelas. Ring yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala.

.

.

.

Ternyata kostum yang dipakainya cukup berat juga. Meskipun demikian Lenka tidak mengeluh, lagipula ini bukan pertama kalinya ia memakai kostum seperti ini. Meskipun sekolah melarangnya, tapi diam-diam Lenka melakukan kerja paruh waktu. Tapi ia hanya melakukannya saat liburan saja supaya tidak menganggu kegiatan belajarnya. Tidak ada yang tahu soal ini, bahkan Lenka sama sekali tidak memberitahukan soal ini pada Rinto maupun Mikuo. Dan karena sekolah melarang muridnya untuk bekerja paruh waktu, Lenka selalu berhati-hati saat memilih pekerjaannya. Dan memakai kostum seperti ini juga merupakan salah satu pekerjaan yang pernah Lenka lakukan. Lagipula Lenka memiliki firasat jika pacar dan teman-temannya sampai tahu soal ini, mereka pasti akan datang dan mengganggunya di tempat kerjanya. Jadi Lenka lebih memilih untuk tutup mulut.

Lenka sedang menikmati jalan-jalannya ke berbagai tempat termasuk ke stand ekskul anak basket. Dan seperti dugaan Lenka, tempat itu dipenuhi oleh banyak siswi perempuan entah itu berasal dari sekolah mereka maupun dari luar. Meskipun begitu, Lenka tidak mendapati sosok pacarnya. Rinto, pergi kemana, pikir Lenka bingung.

Karena Lenka memakai kostum boneka panda, Lenka tidak perlu takut mendekat stand tersebut. Sampai tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang.

"Yuuto, kenapa kau sampai datang kemari?" tanya pemuda berambut teal seraya merangkulnya.

Mikuo, jerit Lenka dalam hati. Sepertinya sahabatnya itu menganggap orang di balik kostum ini adalah Yuuto, teman sekelas mereka. Tanpa tahu bahwa Lenka lah yang sudah menggantikannya.

"Kenapa kau diam saja dan kenapa aku merasa kau jauh lebih pendek ya?" tanya Mikuo seraya menatap Panda Lenka.

Lenka tertegun. Jangan sampai identitasnya ketahuan.

Tampak wajah Mikuo mulai mendekat ke wajah boneka yang Lenka pakai. "Kenapa aku mencium aroma pisang," ucap Mikuo bingung.

Gawat. Kenapa hidung sahabatnya ini peka sekali. Lenka ingin kabur, tapi Mikuo masih merangkulnya.

Mikuo masih menatap ke panda Lenka, dan setelah beberapa saat ia menjauhkan wajahnya. "Jangan-jangan kau sudah jadi maniak pisang seperti Lenka!" jerit Mikuo tiba-tiba. "Memangnya apa bagusnya sih buah kuning itu."

PLAK

Lenka langsung memukul kepala Mikuo dengan tangan pandanya. Lenka tidak terima kalau Mikuo sampai menjelek-jelekkan buah kesukaannya.

"Aduh, kenapa kau tiba-tiba memukulku?!" seru Mikuo sambil mengelus-elus kepalanya yang mungkin akan benjol.

"Mikuo, ada apa?" tanya Nero yang terlihat menghampiri mereka.

Gawat, Lenka harus segera pergi. Mungkin sekarang Lenka bisa membodohi Mikuo, tapi ia tidak mau membuat Nero juga ikut curiga padanya. Ia tidak yakin kalau ia akan bisa membodohi cowok itu juga.

Setelah berhasil terlepas dari rangkulan Mikuo, dengan langkah seribu Lenka langsung melarikan diri. Meninggalkan Mikuo yang berteriak memaki-maki kepadanya walau sebenarnya nama Yuuto lah yang disebut.

.

.

.

Saat ini Luki berada di ruang OSIS, salah satu keuntungan dari menjadi anggota OSIS kau tidak perlu ikut ambil bagian dalam acara kelas saat festival. Meskipun begitu anggota OSIS masih memiliki tanggung jawab untuk memastikan agar semuanya berjalan dengan baik selama festival berlangsung.

"Luki-san, aku rasa sebentar lagi shift Gaku-chan berakhir," ucap Defoko tiba-tiba. Meski Defoko bukan anggota resmi OSIS, tapi karena ia sudah banyak berkontribusi membantu persiapan festival ini dan juga yang notabennya adalah pacar dari ketua mereka. Makanya tidak mengherankan lagi jika melihat Defoko yang sering datang ke ruang OSIS meskipun tugasnya sudah selesai.

"Heee benarkah, kalau begitu sebaiknya aku segera pergi," ucap Luki sambil beranjak dari kursinya.

"Luki, jangan lupakan tugasmu!" seru Oliver sebelum Luki pergi.

"Iya, aku tahu. Aku akan pergi berpatroli sekalian jalan-jalan dengan Gakuko," ucap Luki senang dan setelah itu menghilang di balik pintu.

Dengan langkah ringan, Luki berjalan dengan semangat ke kelas Gakuko. Ia ingin cepat-cepat bertemu dengan pacarnya itu. Karena berdasarkan info dari Defoko, Gakuko akan memakai baju maid. Tapi begitu ia sampai di belokan, tiba-tiba saja ada sesuatu yang menabraknya. Karena tubrukan dengan benda besar itu, Luki langsung terjatuh.

"Aduh sakit," keluh Luki.

Tiba-tiba saja ada tangan yang terulur padanya. Bukan tangan manusia, tapi tangan besar milik seekor hewan. Luki langsung mendongak, dan menyadari yang ia tabrak tadi adalah panda. Bukan panda sungguhan, tapi orang yang memakai kostum panda.

Luki menerima uluran tangan tersebut, tapi ia justru malah menarik tangan tersebut dan membuat panda tersebut ikut terjatuh.

Begitu jatuh, kepala panda langsung terlepas dan menampakkan wajah yang sudah sangat dikenal oleh Luki.

"Kagami-senpai!" seru Luki kaget.

"Megurine-san kau jahat sekali," ucap Lenka sambil meringis kesakitan.

"Itu salah senpai karena menabrakku duluan," ucap Luki. Meskipun begitu Luki tetap membantu Lenka yang kesusahan untuk berdiri.

"Kenapa senpai memakai kostum panda?" tanya Luki heran.

"Aku sedang membantu mempromosikan kafe kelasku," jawab Lenka. "Tolong, bisakah kau mengambil kepalanya?"

Luki menurut dan segera mengambilkan kepala panda yang tergeletak jatuh lalu memberikannya pada kakak kelasnya itu.

"Tapi kenapa senpai yang melakukannya, apa tidak ada anak yang lain?" tanya Luki masih heran. Biasanya pekerjaan ini diserahkan pada anak laki-laki.

"Orang yang bertugas tiba-tiba sakit perut, jadi aku menggantikannya," jelas Lenka sambil memasang kembali kepala pandanya.

"Arigatou, Megurine-san. Kalau begitu aku permisi dulu." Setelah itu Lenka pergi ke arah berlawanan dengan Luki.

Sebenarnya Luki masih penasaran dengan kakak kelasnya itu. Luki cukup yakin kalau Rinto bukan tipe orang yang akan membiarkan pacarnya melakukan hal yang menyusahkan seperti ini. Luki menghela napas panjang, sekarang bukan waktunya untuk memikirkan hubungan orang lain. Sebaiknya ia bergegas menemui Gakuko.

Setibanya di kelas Gakuko, Luki langsung memposisikan diri sebagai tamu. Gakuko yang menyadari kedatangan Luki langsung menyembunyikan diri, tapi Neru terus memaksa dan menariknya untuk menemui Luki. Alhasil dengan terpaksa, Gakuko datang untuk melayani Luki yang sudah melambai ke arahnya.

"Mau pesan apa?" tanya Gakuko jutek.

"Hee jadi seperti ini sikap maid, benar-benar pelayanan yang buruk," komentar Luki.

Gakuko mendengus kesal. "Maafkan atas kesalahan saya, tuan," ucap Gakuko sambil membungkuk hormat. "Selamat datang di maid cafe. Jadi bolehkan saya menulis pesanan, tuan?" ucap Gakuko sambil berusaha tersenyum manis.

Luki tersenyum puas mendengarnya sambil mengangguk-mengangguk senang. "Kalau begitu aku pesan Kamui Gakuko."

Dahi Gakuko langsung mengerut. "Maafkan saya, tuan. Tapi tidak ada menu yang bernama Kamui Gakuko disini. Jadi tolong pilih menu yang tertulis di buku menu saja," ucap Gakuko masih berusaha mempertahankan senyumannya.

"Heee tapi menu favoritku adalah-"

"Saya mohon tuan. Pilih menu dari sini saja!" ucap Gakuko tajam sambil menunjuk buku menu yang dipegang oleh Luki. Tentu saja Gakuko masih mempertahankan senyumannya, meskipun dalam hati ia sudah mencaci maki sikap Luki.

Wajah Luki langsung berubah sedih. Bohong. Gakuko tahu itu cuma akal-akalan Luki saja. Cowok itu pasti senang karena sekarang bisa menggodanya. Meskipun begitu Luki mulai mau memperhatikan serius buku menu yang dipegangnya. Setelah beberapa saat, ia menutupnya.

"Sudah kuduga tidak ada dessert yang semanis Kamui Gakuko," ucap Luki pada akhirnya.

"Tuan, tolong jangan bercanda," ucap Gakuko berusaha menahan diri untuk tidak menjitak kepala Luki.

Luki tertawa lalu akhirnya ia bersedia memesan menu yang normal. Di saat Gakuko mengantarkan makanan yang di pesan oleh Luki, cowok itu kembali berulah.

"Gakuko, aku ingin kau menyuapiku," ucap Luki yang sontak saja membuat wajah Gakuko memerah.

"Maaf tuan, tapi itu bukan bagian dari pekerjaan saya," tolak Gakuko sehalus mungkin.

"Heee tapi kau kan maid, dan aku majikanmu kan?" tanya Luki dengan wajah polos.

Gakuko mengepalkan tangannya, berusaha menahan diri untuk tidak memukul wajah menyebalkan cowok satu ini di depan umum.

"Tapi saya bukan maid pribadi tuan, jadi saya tidak bisa melakukannya," ucap Gakuko dengan senyum dipaksakan.

"Oh begitu ya, kalau begitu kau tinggal perlu menjadi maid pribadiku hari ini," ujar Luki.

Sudah cukup kesabaran Gakuko mulai habis, ia kesal karena Luki sudah mempermaikannya. Di saat ia ingin meluapkan amarahnya, Neru datang tepat pada waktunya.

"Gaku-chan, sekarang sudah jam istirahatmu. Kau boleh pergi bersama Luki-san," ucap Neru sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah mereka sebelum akhirnya kembali pergi melayani pengunjung yang lain.

Gakuko langsung bernapas lega. "Luki, kau apa-apaan sih?!"

"Gomen Gakuko, tapi eskpresimu tadi benar-benar menarik," ucap Luki berusaha menahan tawa.

"Hmmph... aku mau pergi ganti baju," ucap Gakuko membuang muka. Tapi sebelum ia berhasil pergi, Luki mencekal tangannya.

"Kau tidak perlu ganti baju, kan aku sudah bilang kau akan menjadi maid-ku hari ini," ucap Luki yang masih memegangi lengan Gakuko.

"Dan kenapa aku harus menuruti kemauanmu?" balas Gakuko sengit.

"Karena kau sudah kalah taruhan, bukannya yang kalah harus menuruti satu permintaan dari yang menang," terang Luki santai.

Gakuko langsung teringat taruhan konyolnya waktu itu dengan Luki. Gara-gara Defoko jadian dengan Oliver, ia jadi kalah taruhan dengan pacarnya itu. Tapi ia tidak bisa menyalahkan Defoko, tapi ia juga tidak bisa menuruti permintaan Luki. Pokoknya ia tidak mau, ia harus mencari akal untuk kabur dari Luki.

.

Rinto masih dalam misi pencarian Lenka, tapi ia masih tidak menemukan sosok panda yang ia cari. Bahkan ia sampai mencari ke daerah anak kelas satu, tapi bukannya bertemu dengan Lenka. Ia malah berpapasan dengan gadis berambut magenta panjang yang kini tengah memakai seragam maid.

"Gakuko, aku tidak pernah menyangka kau punya hobi cosplay. Kemarin kau berpakaian seperti buronan dan sekarang seorang maid," komentar Rinto.

Wajah Gakuko langsung merah padam antara marah campur malu.

"Kalau senpai ingin tertawa silahkan, aku sudah tidak peduli!" seru Gakuko kesal.

"Sebenarnya aku ingin melakukannya, tapi aku tak punya waktu untuk itu. Apa kau melihat panda yang lewat?" tanya Rinto.

Gakuko langsung mengernyit. "Kenapa senpai tidak mencoba mencarinya di kebun binatang?" sindirnya dengan nada sinis.

"Maksudku bukan panda sungguhan, tapi orang yang memakai kostum boneka panda," sahut Rinto sedikit kesal.

Gakuko langsung menggeleng cepat. "Tidak, aku tidak lihat dan kalaupun aku lihat, aku tidak akan memberi tahu senpai," ujarnya sambil menjulurkan lidah.

"Kau masih saja tidak sopan pada kakak kelasmu ya," ucap Rinto kesal.

"Aku tadi melihat panda itu di sekitar ruang OSIS," jawab pemuda berambut pink dari balik punggung Gakuko.

Gakuko langsung menoleh dan mendapati sang pacar yang sudah berdiri di belakangnya.

"Kenapa kau masih mengikutiku?" tanya Gakuko dengan nada sebal.

"Seharusnya kau tidak boleh meninggalkan majikanmu," ujar Luki ringan.

"Sejak kapan kau menjadi majikanku heh!" seru Gakuko kesal.

Rinto hanya bisa speechless melihatnya. "Arigatou, Megurine-san." Setelah mengatakan itu, Rinto langsung bergegas pergi meninggalkan pasangan itu.

.

.

.

Setelah berhasil kabur dari Mikuo dan Nero. Akhirnya Lenka bisa bernapas lega. Lenka ingin istirahat sebentar, tapi semua tempat di sekolah ini sudah ramai oleh banyak orang. Tapi Lenka tidak kehilangan ide, ia tahu satu tempat yang akan sepi saat festival seperti ini. Lenka langsung berjalan menuju ke tempat tersebut.

.

Sayu sedang berjalan sendirian di tengah keramaian orang-orang setelah tadi berpisah dengan Kaiko yang akan pergi menghampiri pacarnya. Sebenarnya Sayu lebih memilih untuk tetap di kelasnya, tapi ia tidak bisa melakukannya karena kelas mereka sedang mengadakan rumah hantu yang otomatis membuatnya tidak bisa masuk ke dalam kelas seenaknya. Maka dari itu setelah gilirannya selesai, Sayu memutuskan untuk pergi ke tempat favoritnya. Tempat dimana semua teman-temannya berkumpul. Perpustakaan dan teman yang dimaksudnya adalah buku-buku.

Meski sedang ada festival, tapi perpustakaan tidak tutup. Hanya saja tempat ini terlihat sepi sekali dibanding hari biasanya. Sayu langsung menelusuri rak-rak buku untuk mencari buku yang menarik untuk ia baca. Meski kebanyakan buku yang bagus-bagus sudah ia baca. Meskipun begitu, kehebatan sekolah ini adalah tiap bulannya selalu datang pasokan buku-buku baru. Jadi Sayu tidak pernah kehabisan bahan bacaan.

Sampai Sayu tiba di salah satu rak. Ia mengambil sebuah buku. Buku itu adalah buku yang membuat Sayu mengenal IO. Melihatnya wajah Sayu langsung berubah sedih. Ia merindukan sosok cowok itu, sejak peristiwa di bandara waktu itu. Mereka tidak bertemu lagi, dan IO juga tidak datang ke sekolah dan hanya menghubunginya sekali. Tapi Sayu tahu kalau cowok itu baik-baik saja, karena itu Sayu juga tidak menghubunginya. Sayu akan menunggu IO, menunggu cowok itu datang menghampirinya sama seperti dulu.

"Apa kau ingin membaca buku ini?" ujar seseorang yang menyodorkan sebuah buku di depan wajahnya.

Sepasang mata Sayu langsung membulat. "Ini kan buku edisi terbatas?!" pekik Sayu kegirangan begitu mendapati salah satu judul buku yang sangat dinantikannya untuk dibaca. Bahkan buku tersebut sangat sulit didapatkan jika kau tak melakukan pre order terlebih dahulu.

"Hahaha sudah kuduga kau akan menyukainya," ucap suara itu lagi.

Kali ini akhirnya Sayu menoleh dan mendapati sosok orang yang sangai ia rindukan.

"IO, kenapa kau ada disini? Tunggu apa ini mimpi?" tanya Sayu tidak percaya.

IO tertawa kecil lalu ia mencubit pelan pipi Sayu.

"Ah sakit!"

"Sekarang kau sudah percaya kan?" tanya IO seraya tersenyum.

Meskipun begitu Sayu masih terdiam sambil memegangi pipinya yang dicubit tadi. "Jadi di depanku ini benar-benar IO?" tanya Sayu memastikan lagi.

"Yap satu-satunya IO di dunia ini," jawab IO ringan.

Sayu langsung menghambur memeluk IO. "IO, aku senang akhirnya bisa melihatmu. Aku benar-benar merindukanmu," ucap Sayu yang matanya mulai berkaca-kaca.

IO membalas pelukan Sayu. Lalu mengelus-elus kepala Sayu. "Aku juga merindukanmu. Sangat merindukanmu."

Setelah beberapa saat mereka berpelukan untuk melepaskan rasa rindu. Akhirnya Sayu melepaskan pelukannya. "Tapi kenapa IO berada disini, apa kau sudah diijinkan untuk pergi sekolah?"

"Ah soal itu sebenarnya aku kabur dari rumah hehehe," ucap IO sambil menggaruk pipinya.

"Heee apa tidak apa-apa? Bagaimana kalau sampai ketahuan dan IO dimarahi lagi?" tanya Sayu khawatir.

"Kalau begitu aku hanya perlu supaya tidak ketahuan kan. Lagipula aku pikir Sayu akan kesepian di festival ini, jadi aku memutuskan datang kemari," jelas IO.

Mata Sayu semakin basah dan tanpa bisa dibendung lagi, air mata mulai berjatuhan menelusuri kedua pipinya.

"Kenapa Sayu menangis? Aku tidak datang untuk melihat Sayu menangis," ucap IO sambil mengusap air mata Sayu dengan ibu jarinya.

"Ini air mata bahagia, aku senang bisa bertemu dengan IO lagi," ujar Sayu sambil berusaha memasang senyum terbaiknya.

IO balas tersenyum lembut pada Sayu. "Aku juga senang, terima kasih sudah bersedia menungguku," ucapnya sambil menciumi air mata Sayu yang hampir menetes dari pelupuk matanya.

BRUK

Tiba-tiba terdengar suara dentuman buku yang berjatuhan. Sontak saja hal ini membuat Sayu maupun IO kaget. Mereka langsung menoleh dan mendapati seseorang yang memakai kostum panda tengah berusaha memunguti buku-buku yang tadi berjatuhan.

.

Lenka langsung merutuki kecerobohannya. Tidak biasanya ia bersikap seperti ini, tapi adegan yang tidak sengaja ia lihat tadi benar-benar membuatnya panik. Karena panik, ia tidak sengaja menyenggol rak yang menyebabkan beberapa buku berjatuhan. Untung saja hanya dua buku yang jatuh, tapi dengan tangan pandanya ini membuat Lenka sedikit kesusahan untuk mengambil buku tersebut dari lantai. Bahkan untuk berjongkok rasanya susah karena ukuran kostumnya yang terbilang cukup besar.

Melihat diri Lenka yang kesusahan. Kedua manusia yang tadi Lenka lihat sedang bermesraan langsung menghampirinya. Lenka memang tidak banyak mengenal wajah orang-orang apalagi adik kelasnya, tapi ia tahu wajah kedua orang yang sekarang berada di depannya dan membantu Lenka mengambilkan bukunya. IO dan Sayu, kedua manusia ini adalah sosok yang belakangan ini menjadi pembicaraan panas di sekolah mereka. Tidak hanya di angkatan kelas satu, bahkan anak kelas dua pun sering membicarakan mereka. Bahkan Lenka yang tidak terlalu suka bergosip sampai tahu soal itu. Tapi kalau Lenka tidak salah ingat, mereka bukannya sudah putus. Lalu apa yang barusan ia lihat, apa mereka sudah balikan lagi.

"Anu... bisakah kau tidak mengatakan pada siapapun kalau IO ada disini," pinta gadis bernama Sayu.

Lenka tidak terlalu paham apa yang terjadi, tapi ia tetap menganggukkan kepalanya. Sepertinya Lenka sudah melihat sesuatu yang seharusnya ia tidak lihat. Oleh karena itu, Lenka langsung membungkuk sebagai ucapan terima kasih lalu bergegas pergi keluar perpustakaan.

"Arigatou panda-san." Sebelum Lenka berhasil keluar, ia mendengar teriakan dari Sayu yang tentu saja langsung mendapat teguran dari petugas perpustakaan yang berjaga.

.

.

.

Sesuai perkataan dari Luki, Rinto langsung bergegas menuju ke daerah ruang OSIS. Setibanya disana, ia mendapati gadis berambut ungu yang diikat twintail rendah keluar dari ruangan OSIS.

Gawat, pekik Rinto kaget. Ia langsung menyembunyikan diri di balik dinding.

"Kagamine-senpai, kenapa kau bersembunyi?" tanya gadis itu yang tiba-tiba saja sudah berada di sampingnya.

"Ah Yuzuki-san, apa kabar?" tanya Rinto berusaha bersikap normal.

Gadis bernama lengkap Yuzuki Yukari itu menyipitkan sepasang matanya. "Kenapa senpai berkeliaran disini, bagaimana dengan stand ekskul basketnya?" tanyanya sebagai salah satu manajer klub basket.

"Aku sudah menyerahkannya pada Mikuo dan Nero," jawab Rinto apa adanya.

"Hmm begitu ya," ucap Yukari mangut-mangut. "Kalau begitu sebaiknya senpai cepat kembali," lanjutnya sambil menarik tangan Rinto.

"Tunggu dulu, Yuzuki-san. Aku masih ada urusan!" seru Rinto.

"Lakukan urusanmu itu besok. Hari ini bagian tim basket cowok yang bertugas, jadi sebagai ketua yang bertanggung jawab. Senpai tidak boleh melalaikan tugasnya," terang Yukari. "Kalau tidak OSIS akan mengurangi dana pemasukan ke klub basket."

"Kau pasti bercanda kan?" selidik Rinto.

"Kapan OSIS bercanda," ujar Yukari seraya tersenyum manis.

Wajah Rinto langsung memucat. Akhirnya dengan terpaksa ia kembali ke stand ekskul basketnya bersama dengan adik kelasnya itu.

.

.

.

Begitu Yukari keluar dari ruang OSIS, menyisakan Oliver dan Defoko berdua saja. Meskipun begitu Oliver masih sibuk membaca beberapa lembar dokumen. Sedangkan Defoko hanya menatap kakak kelasnya itu dengan bosan. Iya dia bosan, tidak ada hal yang bisa ia lakukan sekarang. Shift di kelasnya juga sudah selesai sejak tadi siang. Dan shift-nya untuk stand pameran seni ekskulnya juga besok hari. Sebenarnya hari ini ia ingin berjalan-jalan keliling festival, tapi semua sahabatnya sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Gakuko dengan pacarnya, Luki. Dan Neru sedang berjaga di stand klub tenisnya. Dia bisa saja pergi dengan Oliver, tapi ia ingat kalau pacarnya itu bukan orang sembarangan. Menjadi Ketua OSIS memang menyibukkan. Sebagai orang yang beberapa minggu ini mengamati kerja OSIS secara dekat, ia jadi tahu itu. Dan pergi jalan-jalan sendirianpun rasanya tidak menyenangkan.

"Gomen, kau jadi bosan karena menemaniku," ucap Oliver tiba-tiba.

"Iya, aku bosan," ucap Defoko.

"Kau terlalu jujur," sahut Oliver sambil menghela napas.

Defoko tersenyum lalu berkata. "Tapi aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian. Jadi aku menemani senpai sampai senpai selesai mengerjakan semua tugasnya."

"Defoko, kemarilah!" perintah Oliver.

Defoko menatap bingung ke arah Oliver. Tapi ia tetap menuruni perintah pacarnya itu. Mungkin karena dirinya sudah terbiasa diperintah olehnya selama menjadi bendahara sementara di OSIS. Begitu dirinya sudah berada di samping ketua OSIS. Oliver langsung menarik tangan Defoko membuat Defoko yang ditarik secara tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di depan Oliver.

Tunggu dulu. Ada apa dengan posisi ini. Dirinya duduk di antara dua kaki Oliver. Dengan tubuh Oliver yang tepat di belakangnya saat ini. Kenapa ia bisa berada di posisi seperti ini, jerit Defoko.

Defoko bisa merasakan Oliver yang memeluknya dari belakang. Meskipun begitu cowok itu dengan santainya masih membaca dokumen yang ia pegang di depan Defoko.

"Dengan begini, kau tidak akan bosan kan," bisik Oliver tepat di samping telinga Defoko.

Mana mungkin dia akan bosan dengan situasi seperti ini, yang ada wajahnya semakin memerah begitu merasakan kehangatan dari pacarnya itu. Aish aku bisa gila, batin Defoko.

.

.

.

"Yukari-chan!" panggil seseorang.

Yukari langsung berhenti dan menoleh untuk mendapati seorang gadis berambut hijau pendek datang menghampirinya. Rinto sudah sangat kenal dengan gadis itu, Megami Gumi. Jika Rinto adalah kapten tim basket putra, maka gadis itulah yang menjadi kapten dari tim basket putri.

"Kenapa kau bersama dengan Rinto-kun?" tanya Gumi heran begitu mendapati Rinto yang berada di samping Yukari.

"Aku hanya sedang menangkap kembali kapten yang sedang kabur dari tugasnya," jawab Yukari.

"Heee tidak biasanya Rinto-kun main kabur. Ada apa?" tanya Gumi penasaran.

Rinto langsung membuang muka, tidak berniat menjawab. Ia tidak bisa mengatakan kalau ia pergi mencari pacarnya yang memakai kostum panda.

"Baiklah, kalau kau tidak mau mengatakannya. Jadi kalian mau kemana?" tanya Gumi mengganti pertanyaan.

"Kami akan pergi ke stand ekskul basket. Gumi-senpai mau ikut?" ajak Yukari.

Gumi mengangguk dengan semangat. "Aku ikut!"

Akhirnya mereka bertiga kembali melanjutkan perjalanan ke tujuan semula.

"Kombinasi macam apa ini?" tanya Nero heran begitu melihat Rinto, Yukari, dan Gumi yang datang bersama.

"Gumi, kenapa kau kemari? Bagianmu kan besok," ujar cowok berambut hijau yang berada di samping Nero yang dikenal bernama Megpoid Gumiya.

"Aku juga bagian dari klub basket, jadi aku berhak kemari," ucap Gumi sambil berkacak pinggang.

"Sepertinya kalian mendapat keuntungan yang besar," ujar Yukari begitu melihat kerumunan pengujung yang datang.

"Hahahah tentu saja, jangan pernah meremehkan tim basket putra," ujar Yuuma bangga.

"Cih, tim kalian hanya modal tampang saja," ucap Gumi.

"Apa kau bilang, pendek?!" seru Gumiya tidak terima.

"Siapa yang kau bilang pendek?!" balas Gumi tidak terima.

Di saat Gumi dan Gumiya sibuk ribut dan Yukari yang sibuk melerai kedua kakak kelasnya itu. Rinto langsung berjalan menghampiri Mikuo yang sedang duduk bersama dengan pacarnya.

"Kau sudah bertemu dengan Lenka?" tanya Mikuo langsung.

Sebagai jawaban Rinto menggeleng. "Aku sedang mencarinya, tapi aku bertemu dengan Yuzuki lalu dipaksanya kembali kemari," ucap Rinto sambil menghela napas.

Mikuo hanya tertawa mendengarnya. Rinto menatap ke arah kening Mikuo yang terlihat sedikit ada benjolan.

"Mikuo, kepalamu kenapa?" tanya Rinto.

"Ah ini, tadi aku habis dipukuli oleh panda," jawab Mikuo sambil memegangi benjolannya masih terasa sedikit perih.

"Panda? Maksudmu Lenka?" tanya Rinto kaget.

"Iya, panda dari kelas kita. Tapi apa hubungannya dengan Lenka?" tanya Mikuo bingung.

"Lenka yang memakai kostum panda itu," jawab Rinto.

"Eh bukannya Yuuto ya?" tanya Mikuo semakin dibuat bingung.

Akhirnya Rinto menceritakan kronologi bagaimana Lenka bisa memakai kostum panda tersebut.

"Ah pantas saja aku mencium aroma pisang. Ternyata beneran Lenka, tidak heran tadi ia memukulku," ucap Mikuo mulai paham.

"Jadi tadi Lenka sudah kemari, kalau begitu aku harus mencarinya lagi," ucap Rinto.

"Tunggu Rinto, kau mau kemana? Bagaimana dengan Yukari-san?" cegah Mikuo.

"Kalau begitu aku serahkan semuanya padamu, wakil kapten!" seru Rinto sambil menepuk pundak Mikuo sebelum akhirnya kabur lagi.

"Sejak kapan kau jadi wakil kapten, Mikuo-kun?" tanya Kaiko heran.

"Aku juga baru tahu soal ini!"

.

.

.

Setelah berhasil kabur dari perpustakaan, Lenka memutuskan untuk istirahat di dekat tangga. Selagi ia sedang duduk, tiba-tiba saja ada seseorang yang berlari ke arahnya dan tiba-tiba langsung melepaskan kepala bonekanya lalu memakainya.

"Tolong jangan katakan kalau aku berada disini!" seru cowok itu yang tidak diketahui identitasnya.

Belum sempat Lenka merespon, tiba-tiba saja ada segerombolan cewek yang berlari ke arahnya.

"Kemana Rei-kun pergi?" tanya salah satu cewek.

"Aku yakin tadi dia ke arah sini," jawab salah satu dari mereka.

Lenka hanya diam saja, berusaha untuk tidak menarik perhatian mereka. Sampai tiba-tiba salah satu dari mereka berjalan menghampirinya.

"Hei kau, apa kau lihat cowok berambut hitam yang lewat sini?" tanyanya.

"Eh ya, tadi aku lihat ia berlari ke arah sana," jawab Lenka sambil menunjuk asal.

Tampak cewek itu menatap curiga ke arah Lenka lalu gantian menatap orang yang duduk di sampingnya.

Bagaimana ini, batin Lenka panik. Ditatapnya gadis berambut hitam itu yang masih menatap tajam ke arah mereka berdua.

"Rei, kali ini aku biarkan kau lolos," bisik gadis itu pelan. Lalu setelah itu bersama temannya mereka pun pergi ke arah yang ditunjuk oleh Lenka tadi.

Setelah memastikan mereka sudah menjauh, akhirnya cowok di sampingnya itu melepaskan kepala bonekanya.

"Ah ternyata ketahuan juga ya," ucap cowok itu sambil menghela napas.

Lenka hanya diam dan masih menatap bingung ke arah cowok di sampingnya ini. Dilihat dari warna dasinya, Lenka tahu kalau dia adalah adik kelasnya.

"Wajahmu mirip dengan gadis berambut hitam tadi," komentar Lenka yang masih menatap wajah cowok tersebut.

"Tentu saja, karena dia adalah kembaranku," sahut cowok itu. "Oh ya namaku Kagene Rei dan gadis tadi Kagene Rui, kakak kembarku."

"Salam kenal Kagene-san, namaku Kagami Lenka," ujar Lenka memperkenalkan diri.

"Oke, salam kenal Kagami-chan dan terima kasih sudah membantuku tadi," ujar Rei sambil tersenyum.

Lenka mengangguk kecil. Sepertinya Rei tidak tahu kalau Lenka adalah kakak kelasnya, tapi biarlah lagipula Lenka juga tidak terlalu ambil pusing dengan hal itu.

"Gomen jika aku terlihat ikut campur, tapi aku hanya penasaran kenapa mereka mengejarmu?" tanya Lenka heran.

"Ah itu karena aku dipaksa untuk cross-dressing oleh kakakku. Kelas kami mengadakan photo booth bertema kerajaan dan mereka terus memaksaku untuk menjadi putri," ucapnya sedikit kesal. "Maksudku, aku ini cowok jadi tentu saja aku tidak mau menjadi putri," tambahnya.

Kalau dilihat-lihat, sebenarnya Lenka mengerti kenapa kakak dan teman-teman dari cowok tersebut bersikeras menjadikannya putri. Karena wajah cowok di hadapannya ini benar-benar cantik seperti boneka dengan wajahnya yang mulus dan kulitnya yang bening. Proporsi wajahnya juga sangat sempurna. Dari matanya, alisnya, hidungnya, bibirnya. Lenka yang jarang memberi pujian pada orang, harus mengakui bahwa wajah cowok di hadapannya ini benar-benar manis sekali. Jika diperhatikan dengan seksama, ia sedikit mirip dengan adiknya, Len.

"Kagami-chan, kau kenapa?" tanya Rei sambil memiringkan kepalanya.

Kyaaa benar-benar manis. Lenka yakin jika Rei berpakaian ala putri, ia akan menjadi putri yang sangat cantik. Lenka menjadi mengerti perasaan kakaknya Rei, karena terkadang Lenka juga sering mendadani Len seperti perempuan saat mereka masih kecil. Meskipun sekarang Len sudah tidak mau melakukannya lagi. Dan Lenka juga sudah tidak memaksakan kehendaknya pada adik tersayangnya itu.

"Gomen, tiba-tiba saja aku jadi teringat dengan adikku," jawab Lenka pelan.

"Heee jadi Kagami-chan juga seorang kakak. Tapi dibanding dengan kakakku yang sekarang, aku lebih senang kalau Kagami-chan saja yang jadi kakakku," ujar Rei seraya tersenyum manis.

Tolong jangan mengatakan itu pada orang yang baru pertama kau temui, batin Lenka. Rei tidak tahu kalau Lenka juga memiliki perasaan untuk memiliki adik perempuan yang manis seperti kakaknya Rei. Lenka hanya bisa tersenyum mendengarnya lalu ia segera memakai kepala bonekanya kembali. Rei membantu Lenka berdiri. Dan tiba-tiba ia menyadari papan yang dibawa oleh Lenka.

"Heee jadi Kagami-chan murid kelas dua?!" seru Rei tiba-tiba.

"Ah iya," jawab Lenka singkat.

"Kalau begitu Kagami-chan adalah kakak kelasku. Hmmm kalau begitu aku akan memanggilmu Lenka-nee?" tanya Rei dengan wajah penuh harap.

Lenka memang tidak tahan jika melihat hantu, tapi ia juga tidak tahan melihat sesuatu yang imut di depannya dan alhasil Lenka hanya bisa terdiam sambil mengangguk.

"Yeaay, arigatou Lenka-nee. Ah kalau begitu aku segera pergi sebelum mereka menemukanku lagi. Sampai jumpa!" seru Rei riang sambil berlari dengan tangan yang melambai ke arahnya.

Lenka hanya bisa balas melambaikan tangan tanpa sempat mengatakan apapun.

.

.

.

Rinto mengatur napasnya yang mulai tidak beraturan. Ia sudah mencari di segala penjuru sekolah, tapi ia masih tidak menemukan sosok panda yang ia cari. Selalu saja timing mereka tidak tepat. Ring juga masih belum menghubunginya berarti Lenka masih belum kembali ke kelas dan masih ada di suatu tempat di sekolah ini yang entah dimana itu. Sebenarnya ada cara yang lebih mudah dan cepat untuk menemukan Lenka yaitu dengan mengumumkannya lewat speaker sekolah. Tapi ia tahu, Lenka pasti akan membencinya jika ia melakukannya. Lagipula Rinto tidak mau terlalu berurusan dengan anggota OSIS.

"Rinto, kau kenapa?" tanya sebuah suara.

Rinto yang namanya dipanggil langsung menoleh. Panjang umur memang, baru saja Rinto berpikiran untuk tidak berurusan dengan anggota OSIS. Wakil Ketua mereka malah datang menghampirinya.

"Ah Piko, halo. Aku tidak apa-apa, hanya sedang mencari seseorang," jawab Rinto sekenanya.

"Sepertinya kau kesusahan mencarinya, kenapa kau tidak menggunakan speaker sekolah?"

"Tidak, aku akan mencarinya sendiri," sahut Rinto cepat.

Piko terdiam sebentar menatap Rinto yang penampilannya tidak jauh berbeda dengan Rinto yang setelah melakukan pertandingan basket. "Apa kau mencari Kagami-san?" tebak Piko.

"Eh bagaimana kau tahu? Kau melihat Lenka?" tanya Rinto.

Sebagai jawaban Piko menggeleng. "Tidak, aku hanya berpikiran kalau hanya Kagami-san lah yang bisa membuat seorang Kagamine Rinto mencarinya sekuat tenaga sampai seperti ini," terang Piko.

Rinto tersenyum kecil mendengarnya. Tentu saja bahkan ke ujung duniapun, Rinto akan mencarinya kalau itu demi Lenka. Sama seperti dulu waktu mereka kecil, dimana Rinto lah yang menemukan Lenka di taman.

"Kalau begitu semoga kau berhasil menemukannya," ucap Piko sambil menepuk pundak Rinto sebelum akhirnya pergi melewati Rinto, meninggalkannya.

Rinto menatap punggung Piko yang menjauh. Lalu ia mendesah pelan, "Sudah kuduga, aku memang tidak pernah mengerti jalan pikirannya."

"Apa maksudnya, Rinto-kun?"

Sontak saja Rinto kaget begitu mendengar sebuah suara di dekatnya. Ia langsung menoleh kembali dan mendapati seseorang yang sudah berdiri di depannya. Darimana orang ini datang, kenapa Rinto tidak merasakan hawa keberadaannya sama sekali.

"Jadi Rinto-kun, kenapa kau mengatakan kau tidak pernah mengerti jalan pikiran Piko-kun. Apa ada sesuatu yang kau ketahui tentang Piko-kun?" tanya orang itu sekali lagi.

"Nekomura-san, sepertinya kau sudah salah dengar, aku tidak mengatakan hal itu," jawab Rinto datar.

"Benarkah? Tapi aku punya buktinya," ucap Iroha sambil memutar rekaman suara Rinto barusan.

Seketika raut wajah Rinto berubah kaget. Tapi dengan cepat, Rinto berhasil mengendalikannya. Sepertinya ia tidak boleh meremehkah ketua klub jurnalistik sekolahnya itu.

"Gomen, tapi aku harus segera pergi," ujar Rinto yang bersiap-siap melangkah kakinya untuk pergi.

"Aku tahu keberadaan Lenka-chan!" seru Iroha tiba-tiba.

Langkah Rinto berhenti. Meskipun ia tidak berbalik. "Aku tidak peduli. Aku akan mencarinya sendiri," jawab Rinto lugas.

"Aku tahu kalau Piko-kun bekerja diam-diam di bawah perusahaan milik keluargamu!" seru Iroha sekali lagi.

Akhirnya kali ini Rinto berbalik menatap Iroha dengan tatapan dingin, tapi gadis itu hanya balas tersenyum ke arahnya.

"Apa kau mulai tertarik?" tanya Iroha seraya tersenyum manis ke arah Rinto.

"Aku tak tahu apa yang sebenarnya kau cari, tapi sebaiknya kau tidak terlalu mencampuri urusan orang lain." Setelah mengatakan itu, Rinto langsung pergi meninggalkan Iroha tanpa menoleh padanya.

"Rinto-kun, tadi aku melihat Lenka-chan di sekitar ruang klub memasak!" teriak Iroha cukup kencang untuk didengar oleh Rinto.

Rinto menoleh dan mendapati Iroha yang sudah berbalik dan pergi menjauhinya. Dasar gadis aneh, pikirnya.

.

.

.

Kaki lenka sudah capek dan tubuhnya juga sudah mulai kepanasan. Sepertinya ini sudah waktunya untuk Lenka kembali. Lagipula sebentar lagi cafe kelas mereka akan tutup, jadi sebaiknya Lenka segera kembali dan membantu yang lain untuk beres-beres.

Lenka segera menuruni anak tangga dengan hati-hati, karena tubuh boneka pandanya yang terlalu besar yang otomotis membuatnya kesusahan dalam menapaki anak tangga.

"Lenka!"

Heh?

Kaget, karena tiba-tiba ada yang memanggilnya apalagi itu suara yang sangat amat dikenal oleh Lenka. Itu suara Rinto.

"Lenka, awas!" teriak Rinto sekali lagi.

Tapi terlambat, tubuh Lenka sudah kehilangan keseimbangan dan akhirnya oleng lalu jatuh menuruni anak tangga yang tersisa. Lenka cukup beruntung karena ada tubuh boneka pandanya yang melindunginya saat jatuh. Tapi, kepala Lenka mendadak pusing setelah berguling tadi. Kepala bonekanya juga terlepas tapi untungnya kepalanya tidak terluka.

Rinto yang melihatnya langsung menuruni anak tangga dengan cepat. "Lenka, kau tidak apa-apa?" tanya Rinto khawatir campur panik.

"Sepertinya tidak apa-apa," jawab Lenka masih linglung.

Tiba-tiba saja tubuh Lenka terasa mengambang di udara. Tunggu, Rinto sedang menggendongnya. Sontak saja mendadak mereka menjadi pusat perhatian orang-orang yang berlalu lalang.

"Rinto, apa yang kau lakukan?" Sekarang gantian Lenka yang panik.

"Tentu saja mengantar Lenka ke UKS!" jawab Rinto yang langsung berjalan cepat ke arah UKS.

"Ta-tapi aku masih memakai kostumku. Bukannya aku berat, ja-jadi sebaiknya Rinto menurunkanku," ujar Lenka pelan.

Rinto tersenyum ke arah Lenka. "Ini bukan apa-apa, dibanding perjuanganku mencari Lenka sejak tadi."

"Eh, Rinto mencariku?" tanya Lenka kaget.

"Tentu saja, aku menunggu Lenka di stand tapi Lenka tak kunjung datang. Lalu aku pergi ke kelas dan kata Suzune-san kau sudah pergi dengan kostum panda. Setelah itu aku terus mencari Lenka di seluruh penjuru sekolah," jelas Rinto.

"Gomenasai, aku sudah membuat Rinto khawatir. Seharusnya aku menghubungi Rinto terlebih dahulu," ucap Lenka dengan wajah menyesal.

"Baiklah, aku maafkan. Tapi lain kali, tolong beri aku kabar supaya aku tidak khawatir," ujar Rinto lembut.

Lenka mengangguk lemah. "Ngomong-ngomong Rinto, bisa tolong turunkan aku. Aku malu," ucap Lenka dengan wajah memerah. Banyak pasang mata yang sejak tadi terus memandanginya.

"Tidak mau, anggap saja ini sebagai hukuman karena Lenka sudah membuatku khawatir," tolak Rinto tegas.

"Bukannya tadi Rinto bilang sudah memaafkanku ya," protes Lenka.

"Ah benarkah, aku sudah lupa," balas Rinto.

Lenka menghela napas panjang. Kalau sudah begini, Rinto tidak akan mau mengalah. Akhirnya Lenka pasrah saja digendong oleh Rinto.

.

.

.

Tes tes satu dua tiga. –Mikuo-

Itu suara Mikuo, tapi kenapa suaranya keluar dari speaker sekolah.

Mikuo-senpai, tolong jangan norak. –Yukari-

Jahaaat, padahal aku sudah berbaik hati membantumu –Mikuo-

Tidak ada yang memintamu dan kau sendiri yang menawarkan diri tahu –Yukari-

Sepertinya Mikuo sedang melakukan siaran bersama dengan Yukari.

He em, abaikan saja perkataan kami sebelumnya. Disini Yuzuki Yukari bersama dengan Pangeran Negi akan langsung memulai siaran untuk hari ini. – Yukari-

Selamat sore semuanya. Sebentar lagi hari pertama festival sekolah akan berakhir. Kepada semua pengunjung, kami mengucapkan terima kasih sudah bersedia datang ke sekolah kami. Jangan lupa besok datang lagi ya, karena akan ada pentas seni dan event menarik yang sangat sayang untuk dilewatkan. –Mikuo-

Dan untuk semua teman-teman yang sudah bekerja keras hari ini. Terima kasih, besok kita harus bekerja lebih keras lagi demi kesuksesan festival sekolah kita. –Yukari-

Oh ya ada tambahan. Lenka, cepat kembali. Kau tidak mungkin tersesat di sekolahmu sendiri kan. –Mikuo-

Rinto-senpai juga, aku harap kau sudah tahu konsekuensi karena sudah melalaikan tugasmu. –Yukari-

Hei kenapa kau mengumumkan hal yang tidak penting! –Tei-

Tut.

Siaran terputus. Semua orang hanya bisa cengo mendengar siaran barusan. Berbeda dengan wajah Lenka dan Rinto yang sudah merah padam menahan amarah dan rasa malu yang berlebihan.

"Seharusnya tadi aku pukul kepala Mikuo sampai gagar otak," gumam Lenka.

.

.

To Be Continued

.

.

Please Review