ADORE

By: Skylar.K

Pair: Kristao(maybe with other couple)

Cast in this chapter: Wu Yi Fan, Huang Zi Tao, Park Chanyeol, Oh Sehun, Byun Baekhyun, Kim Jongin, Kim Jongdae.

Genre: Drama Romance, Fluff, with little bit Psychology

Rating: T

Warning: TYPO(S) everywhere!

Disclaimer: they are not mine, but this story its mine. Cerita ini mengandung unsur konten tertentu, dan fokus pada tema tersebut, jika merasa tidak cocok mohon segera tinggalkan cerita ini.

.

.

.

Unable to sleep, i look at the window's moon

I think about that day

In the stairway to the sky, i walked up

Each step by step

No matter how far i try to look

There was nothing

But either in joyful or sad time

You're always stay by my side

(Anata by: L'Arc~en~ciel)


Jam makan siang telah usai, telah 5 menit berlalu, dan Tao sudah duduk tenang diatas tempat tidur dengan kaki terlipat memangku boneka Pandanyaーmemeluk boneka berbulu lembut itu tanpa ada pergerakan sedikit pun. Ia duduk menghadap pintu kamar yang tertutup, menunggu sang Dokter yang sebentar lagi akan muncul dari balik pintu bercat putih itu.

Sepasang Onyx nya memandang lurus ke depan. Namun karena hening yang terasa membosankan, pemuda manis yang mengenakkan piyama berwarna biru muda itu mengangkat boneka Panda ke depan wajahnya, menggerak-gerakkan tangan boneka itu dan seulas senyum terukir tipis di bibirnya.

Boneka pemberian Dokter favoritnya. Tao akan menjaga boneka itu dengan baik, dan tak akan melepaskannya sedetik pun. Karena boneka Pandanya itu membuatnya lebih tenang dan aman, seperti jika sang Dokter berada di dekatnya. Ia dapat merasakan keberadaan pria berjas putih itu, dan sedikit membantu jika 'mereka' mulai datang saat gelap.

Tao sangat menyukai Dokternya.

Tao akan baik-baik saja jika Dokternya berada di dekatnya.

Dokternya itu sangat baik, selalu bicara lembut padanya, mengusap kepalanya seperti yang selalu di lakukan Ibu nya dulu, selalu tersenyum, dan menuruti semua yang di inginkannya. Tao benar-benar menyukai Dokternya. Dokter tampan yang tinggi, meski wajahnya terlihat tidak bersahabat, tapi di baik.

Seperti tadi pagi. Dokternya itu tidak menolak ketika ia memintanya untuk bernyanyi. Suaranya berat dan sedikit serak, meskipun begitu terdengar cukup merdu menyanyikan Rainbow, tapi dirinya lebih suka saat Dokternya menyanyikan lagu yang lebih cepat.

Ah iya, tadi pagi juga tiba-tiba muncul dua orang berjas putih yang sama seperti Dokternya. Mereka ikut bernyanyi, dan hal itu membuatnya takut meski Dokternya berkali-kali menyuruhnya tenang.

Tao dapat mengingatnya meski ia hanya sekilas melihat kedua orang itu. Yang sudah seenaknya mengganggu waktunya dengan sang Dokter.

Dan siapa nama mereka? Tao lupa, karena terlalu takut tiba-tiba muncul 2 orang asing, padahal mereka sudah memperkenalkan diri.

.

.

(6 hours ago)

"Bagaimana kalau kita ngerap bersama Tao? Kau tahu lagu ini?"

Tao mengernyitkan keningnya samar ketika mendengar intro lagu yang tidak terlalu asing di dengarnya. Rasanya ia pernah mendengar lagu ini saat tak sengaja membuka video di youtube dulu karena tak sengaja.

This one is for the boys with the boomin' system

Top down, AC with the coolin' system

When he come up in the club, he be blazin' up

Got stacks on deck like he savin' up

And he ill, he real, he might gotta deal

He pop bottles and he got the right kind of bill

He cool, he dope, he drink a lot of coke

He always in the air, but he never fly coach

He is up on a trip, trip, captin of the ship, ship

When he make it drip, drip kiss him on the lip

Pupil mata Tao melebar, belah peach nya terbuka dengan sudut bibir yang tertarik keatasmenunjukkan ketertarikannya pada lagu yang di lantunkan sang Dokter. Lagu hip-hop.

Tao tahu lagu ini, karena termasuk salah satu lagu favoritnya. Maka dari itu ia ikut melafalkan lyric lagu dalam tempo yang sangat cepat, meski dengan suara yang pelan. Dan hal itu langsung membuat Dokternya menutup mulut, membiarkannya ambil bagian.

That's the kind of dude I was lookin' for

And yes you'll get slapped if you're lookin' yo'

I said, excuse me you're a heck of a guy

I mean my, my, my, my like pelican fly

I mean, you're so shy and I'm loving your tie

You're like slicker than the guy with the thing on his eye, oh

Yes I did, yes I did, somebody please tell him who the eff I is

I am Zitao, I mack them dudes up, back coupes up

Tao ikut tersenyum setelah menyelesaikan bagiannya, karena Dokternya tersenyum padanya. Tapi saat sang Dokter akan kembali bernyayi, tiba-tiba pintu kamar rawatnya dibuka cepat, membuatnya menoleh kaget.

"Aku tahu lagu ini!" kata pria berjas putih yang yang tidak terlalu tinggi.

"Sedang apa kau disini Jongdae?" tanya Yi Fan bingung. Bertanya-tanya melihat kemunculan rekan seprofesinya itu

Tao mencengkram pinggiran jas putih sang Dokter, membuat pria itu segera bangkit berdiri karena tangannya gemetar. Ia menyembunyikan wajahnya di dada sang Dokter dengan bahu bergetar kecil. Dan dirinya dapat merasakan usapan lembut di punggungnya, serta dekapan hangat di kepalanya.

"Boy you got my heartbeat runnin' away... Beating like a drum and it's coming your way... Can't you hear that boom, badoom, boom, boom, badoom, boom, baby super bass... Boom, badoom, boom, boom, badoom, boom, baby super bass..." suara indah Jongdae mengalun, ikut meramaikan acara menyanyi antara Dokter dan pasien tersebut.

Pria bersuara emas itu benar-benar tak memahami situasi, dan tak menyadari akan tatapan Yi Fan yang seolah berkata 'apa yang kau lakukan Chen?' dan 'kau membuat pasien ku takut pabbo!'. Pria tampan itu sampai tak tahu harus berekspresi seperti apa melihat rekannya yang masih saja menyuarakan suara indahnya, menyanyikan reff dari lagu Nicki Minaj.

Belum sempat ia mengatakan kalimat pengusiran pada Jongdae, tiba-tiba muncul sosok tinggi Chanyeol yang melintas di depan kamar, dan refleks berhenti di depan kamar, dengan cengiran bodohnya berdiri di samping Jongdae. Jangan bilang kalau,

"This one is for the boys in the polos

Entrepreneur jiggas in the moguls

He could ball with the crew, he could solo

But I think I like him better when he dolo

And I think I like him better with the fitted cap on

He ain't even gotta try to put the mac on

He just gotta give me that look, when he give me that look

Then the parties going off, off, uh

Excuse me, you're a heck of a guy you know I really got a thing for American guys

I mean, sigh, sickenin' eyes I can tell that you're in touch with your feminine side, oh

Yes I did, yes I did, somebody please tell him who the eff I is

I am a Happy Virus, I mack them dudes up, shut the deuce up"

Benar dugaannya. Teman dekatnya itu memang mantan seorang rapper, jadi jangan heran jika mulutnya dapat mengucapkan serangkaian kalimat dengan tempo secepat itu.

Jangan salahkan mereka yang tiba-tiba menyambar seperti api. Karena sepertinya para Dokter disana membutuhkan sedikit hiburan. Karena itulah Jongdae dan Chanyeol tampak asik sendiri menyanyikan lagu dari rapper berkulit hitam yang masih mengalun dari ponsel Yi Fan.

Tak dapat di pungkiri, meskipun Tao ketakutan dengan munculnya kedua Dokter itu. Si manis itu tampak mengintip di balik jas sang Dokter yang di remasnya dengan tangan gemetar. Melalui ekor matanya, ia dapat melihat gerakan lucu yang dibuat kedua orang berjas putih itu, malah salah satu yang lebih tinggi bergaya layaknya rapper. Pria itu benar-benar cepat melakukannya.

Tao tidak tahu apa yang membuat kedua orang itu tiba-tiba berhenti bernyanyi, dan malah cengar-cengir aneh, menatap kearahnya.

"Kalian justru membuat pasien ku ketakutan" kata Yi Fan, menatap datar kedua teman seprofesinya.

"Hehe, maaf. Aku refleks menyahut tadi, habis lagunya aku suka" kata Jongdae menyeringai.

"Aku juga, hehehe" Chanyeol tersenyum lima jari dengan bodohnya.

"Perkenalkan diri kalian, cepat" suruhnya. Chanyeol mengacungkan ibu jarinya semangat.

"Park Chanyeol imnida~" pria pemilik senyum sejuta watt itu membungkukkan tubuh tingginya. "Kau bisa memanggilku Chanyeol, Yeollie atau hyung, ne Tao?" senyum si Happy Virus sungguh menyilaukan.

"..." Tao masih melirik, dan tangan serta bahunya masih gemetar. Usapan di punggung dan kepalanya pun semakin intens.

"Jangan takut, aku juga Dokter disini, sama seperti Dokter mu itu. Nah, kalau yang ini, Kim Jongdae" kata Chanyeol sambil menepuk pundak Dokter yang lebih pendek darinya.

"Hai Tao~ aku Kim Jongdae, tapi kau bisa memanggil ku Chen, atau hyung? Atau gege? Kita semua berteman ya" Jongdae berkata ceria, melambaikan tangannya pada Tao yang melirik-lirik takut. Seperti bicara pada anak kecil.

"..."

"Jangan takut, mereka sama seperti ku. Ingin jadi teman mu juga" Yi Fan membungkukkan tubuhnya, melihat wajah sang dengan senyum tipis. "Perkenalkan dirimu, ayo" suruhnya lembut. Tapi Tao menggelengkan kepalanya kuat, dan malah menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang Dokter.

Ketakutan. Menolak untuk bicara.

Yi Fan mengelus surai kelam sang pasien, memeluk lembut tubuhnya. "Perkenalkan dirimu sebentar saja, sebutkan namamu pada mereka, ya? 'Kan mereka sudah memperkenalkan diri tadi" bujuknya.

Tao semakin erat mencengkram pinggiran jas putih Yi Fan, menggigit bibir kuat. Dirinya takut, tentu saja. Tapi ia juga tidak mau membuat sang Dokter kecewa. Akhirnya ia pun kembali melirik kearah pintu kamarnya, melihat kedua Dokter yang masih tersenyum ramah padanya.

"H-Huang Zi..." Tao kembali menggigit bibirnya, tak bisa melawan rasa takutnya. Tapi ia harus menyelesaikan perkenalan dirinya. "...Zi Tao" lanjutnya akhirnya. Dengan suara bergetar dan pelan, namun hal itu cukup di dengar oleh Chanyeol dan Jongdae.

Senyum Yi Fan merekah semakin lebar, begitu pula kedua partner seprofesinya yang juga menatap takjub kearah Tao yang kembali menyembunyikan wajahnya.

"Good job Tao, kau hebat. Lihat? Tidak terlalu menakutkan bukan?" Yi Fan berkata lembut di telinga sang pasien, mengelus punggungnya untuk menenangkan.

Tao bungkam. Hal kecil seperti memperkenalkan diri pada orang asing seperti itu membuatnya ketakutan, tapi juga membuatnya senang karena sang Dokter bangga akan dirinya.

(End of flashback)

.

.

Siapa nama mereka?

Tao lupa. Atau lebih tepatnya tidak terlalu mendengarkan saat mereka memperkenalkan diri. Tapi kedua Dokter asing itu memiliki wajah dan senyum yang ramah, meski tak sehangat Dokternya. Karena bagaimanapun juga, Tao menyukai Dokternya meski wajahnya tampak kaku.

Pemuda pemilik senyum menawan itu masih memainkan bonekanya, ketika pintu kamar rawatnya dibuka, dan memunculkan sosok tinggi sang Dokter yang, membuat Tao berhenti memainkan boneka Pandanya, membalas senyuman hangat sang Dokter yang di sukainya.

"Euisa lama sekali" protesnya, saat sang Dokter berjalan mendekat ke tempat tidurnya.

"Maaf, aku juga harus makan siang dulu tadi. Bagaimana makan siang mu? Kau suka?" Yi Fan mendaratkan telapak tangan kanannya diatas puncak kepala Tao, mengusap surai hitamnya pelan.

Tao mengangguk. "Aku suka euisa. Rasa masakannya sama seperti masakan Mama"

"O-oh ya? Baguslah"

"Ceritakan sesuatu euisa" pinta Tao dengan keping berbinar. Hal yang selalu di mintanya ketika sang Dokter datang berkunjung.

"Hari ini tidak ada cerita Tao" Yi Fan berkata lembut. Tao memberengut lucu.

"Kenapa? Euisa tidak mau bercerita lagi?" persis seperti anak kecil yang sedang merajuk.

"Aku mau bercerita, tapi tidak sekarang. Apa mereka masih sering mendatangi mu?" Yi Fan tahu tak perlu memperjelas, siapa 'mereka'.

Tao mempererat pelukannya pada boneka Panda yang berada di pangkuannya. Ia mengangguk kecil. "Masih euisa" suaranya terdengar pelan, dengan kepala tertunduk.

Sang Dokter pun merendahkan tubuhnya, berusaha melihat wajah Tao yang sedikit pucat, matanya pun sudah berembun.

"Hey" di usapnya lembut pipi gembil Tao. "Laki-laki tidak menangis, ingat?" Tao mengangguk.

"Kau tahu kalau mereka jahat 'kan? Jadi ada orang yang ingin menangkap mereka, kau mau membantunya?" Yi Fan berujar selembut dan sangat hati-hati, dengan masing-masing tangan berada di sisi wajah Tao, mengusapnya kecil. Menuntun wajah itu untuk kembali menengadah.

"T-tidak euisa. A-aku takut" keping Onyx nya goyah, tersirat ketakutan yang amat sangat. Dan tangan yang semula memeluk bonekanya pun kini memegangi erat bagian bawah jas putih sang Dokter.

"Mereka tidak ada disini Tao. Mereka harus di tangkap dan di beri hukuman karena berbuat jahat padamu, karena itu kau harus membantu Polisi untuk menangkapnya" Yi Fan mencoba memberi pengertian.

"T-tapi...b-bagaimana?" cicitnya serak. Yi Fan tersenyum hangat.

"Cukup jawab pertanyaan yang akan di berikan Polisi, aku akan menemani mu disini. Jangan takut ne?"

Tao menggigit bibirnya kuat-kuat. Ia berusaha untuk tidak menangis, ia berusaha untuk kuat, karena tak ingin membuat sang Dokter kecewa dan marah jika ia melakukan salah satunya.

"Aku janji, aku tidak akan membiarkan satu orangpun menyakitimu. Aku akan menghentikan Polisi itu jika kau sudah tidak kuat lagi" kata Yifan. Tao menganggukkan kepalanya samar.

Pria tampan itupun memanggil tenang pada seseorang yang menunggu diluar kamar rawat, tak lupa mengusap punggung Tao untuk menenangkan. Dan saat pintu tersebut terbuka kembali, Tao memberanikan diri untuk menolehkan kepalanya, dengan tangan gemetar, dan nafas yang mulai tersendat, ia melihat seorang pria dengan jacket denim berdiri di depan pintu dengan senyum mengembang.

"Hai, aku Kim Jongin, tapi kau bisa memanggil ku Kai. Salam kenal Huang" Polisi berkulit eksotis itu tersenyum ramah.

Tidak. Tao sangat takut. Ia tidak bisa melanjutkan ini. Tidak bisa.

Maka keluarlah suara rintihan dan isakan dari celah bibir kemerahan miliknya, di sertai tubuhnya yang semakin bergetar hebat.

.

.

"Kau lelet sekali Sehun! Cepatlah sedikit!" pemuda cantik berjacket merah gelap terpaksa menghentikan kakinya di ambang pagar yang terbuka lebar.

Pemuda bersurai brunette itu berdecak kesal melihat sang adik yang tertinggal beberapa meter, yang berlari di jalan setapak kecil yang tidak rata. Sambil menunggu ia membenarkan letak tali ransel yang berada di kedua pundaknya, lalu mengetuk-ngetukkan sepatunya karena tidak sabar menunggu.

"Salahmu yang menerbangkan topiku hyung! Sekarang kau yang mengatai ku lelet" laki-laki yang lebih mudaーSehun, menggerutu tak terima.

"Kau juga yang tiba-tiba memakai topi. Ayo!" pemuda mungil itu kembali mengayunkan kakinya yang terbalut black skinny jeans.

"Kau benar-benar cerewet bacon" cibir Sehun, seraya membenarkan letak topinya. Kaki panjangnya dapat dengan mudah menyusul langkah sang Kakak yang bertubuh mungil.

Kedua pemuda yang hanya berbeda usia 1 tahun itu berjalan buru-buru memasuki bangunan sederhana Rumah Sakit, bahkan saking terburu-burunya, pemuda bersurai brunette yang cantik sampai tidak memperhatikan langkahnya, hingga menabrak seseorang yang ada di depannya.

Dug!

Pemuda mungil itu meringis kecil memegangi dahinya yang membentur dada seseorang. "Maaf, maaf Tuan, saya terburu-buru!" ia membungkukkan tubuhnya cepat. Tanpa memandang wajah orang yang sudah di tabraknya.

"Eh, oh, i-iya..." suara bass orang itu seperti angin lalu karena si bacon telah berlalu dengan cepat.

Pemuda mungil itu berjalan tergesa menghampiri sang adik yang sudah berdiri di depan meja informasi.

"Kami berdua sahabat baiknya, dan kami ingin menjenguknya" kata Sehun tak sabaran. Perawat yang berdiri di balik meja informasi menatap ragu padanya, lalu pada pemuda yang lebih pendek yang berdiri tepat di samping kanan Sehun.

"Aku Byun Baekhyun, dan ini adik ku Oh Sehun. Kami datang untuk menjenguk Huang Zi Tao" kata Baekhyun dengan penekanan di setiap kata.

"Tapi untuk saat ini keadaan Huang-ssi masih belum bisa di jenguk Tuan-tuan" sang perawat berujar lembut.

"Apa maksut mu tidak bisa di jenguk? Dia sudah sepekan lebih berada di Rumah Sakit ini!" Sehun kesal. Tentu saja.

"Tapiー"

"Katakan saja dimana kamarnya, kami akan mencarinya sendiri" Baekhyun memotong cepat.

"Masalahnyaー"

"Oh ayolah! Kami sudah tidak bertemu dengannya sejak hari itu! Kami hanya ingin melihat keadaannya!" Sehun mulai naik pitam, ia menggebrak meja informasi yang tingginya hanya sebatas dadanya.

"Kami baru saja datang dari Jepang suster, kami buru-buru datang kemari untuk menjenguknya" Baekhyun sedikit melembutkan nada bicaranya.

"Kalau suster tidak mau mengatakan dimana kamarnya, kami akan mencarinya sendiri" Sehun berkata tajam, menatap dingin pada sang suster yang semakin kebingungan.

Pemuda tinggi bersurai hitam itu membalikkan tubuhnya cepat, tak ingin berkompromi dengan segala alasan si suster yang semakin membuatnya kesal. Tapi baru saja ia berbalik, kakinya urung melangkah karena kemunculan seorang pria mungil berjas putih dengan name tag Hyde di bagian dada kiri.

"Ada apa ini suster?" tanya pria mungil itu lembut, menatap sang suster yang berdiri di belakang meja. Sehun mengerutkan dahinya, memperhatikan si Dokter mungil, begitu pula Baekhyun yang berdiri di samping kirinya.

"Begini euisanim. Mereka mengaku sebagai sahabat Huang Zi Tao-ssi" suster cantik itu melirik pada Sehun yang berdiri memunggungi meja informasi.

"Apa anda Dokternya?" tanya Baekhyun. Hyde beralih menatap pemuda cantik itu, dan tersenyum tipis.

"Bukan. Apa kalian benar-benar sahabat dari Huang Zi Tao?" ia balik bertanya.

"Kami sudah bersahabat sejak di sekolah menengah atas euisanim, jadi tolong pertemukan kami dengannya"

"Kalian tahu apa yang menimpa sahabat kalian itu?"

Sehun berdecak kesal. "Bagaimana mungkin kami tidak tahu kalau setiap detik berita tentang itu selalu muncul di televisi?" sengitnya tak bersahabat.

Hyde tersenyum lagi. "Karena kalian tahu, Huang Zi Tao masih belum bisa di temui untuk saat ini" ujarnya tetap tenang.

"Jangan bercanda euisa. Kami sudah cukup tersiksa dengan berita itu!"

"Aku mengerti perasaan kalian. Tapi Huang Zi Tao belum bisa di temui, karena dia sakit"

Mata Sehun memicing. "Tao tidak gila" desisnya berbahaya. Wajah tampannya semakin mengeras. Baekhyun menarik lengan sang adik lembut, secara tak langsung menenangkan Sehun yang sudah kepalang kesal dan marah karena tak segera bertemu sahabat mereka.

"Saya tahu" Hyde tersenyum tipis. "Huang Zi Tao memang tidak gila, tapi dia membutuhkan perawatan khusus di tempat ini" imbuhnya tetap tenang.

Sehun mengerang frustasi, dan Baekhyun menatap sendu kearah lain. Rasa khawatir, cemas dan rasa bersalah bercampur aduk di benak mereka. Dan Hyde memahami reaksi kedua pemuda di hadapannya.

"Saya bisa mengantar kalian, tapi dengan satu syarat" ucapnya. Sehun dan Baekhyun kembali menatap si Dokter mungil.

"Kalian hanya bisa melihat dari luar, dan jangan coba-coba untuk masuk ataupun mendekat. Apa bisa di terima?"

Kakak beradik itu saling bertukar pandang, dan tanpa keraguan mengangguk cepat. Hyde tersenyum kembali.

"Baiklah, mari ikuti saya" ia berbalik, meninggalkan depan meja informasi dengan langkah santai.

Diikuti Sehun dan Baekhyun, mereka mengikuti kemana Dokter bertubuh mungil itu melangkah dalam diam. Baekhyun terlihat resah, karena sepanjang lorong ia terus saja memainkan jemari-jemarinya, sementara Sehun dengan pandangan lurus ke depan dan terlihat lebih tenang. Meski tampak jelas kekhawatiran di wajah tampannya.

"PERGI! TIDAK!"

"Kumohon...pergi..."

Suara yang sarat akan keputusasaan itu terdengar menyakitkan di lorong yang mereka lalui, di tambah suara memohon yang lain, terus-menerus, hingga Dokter mungil tersebut menghentikan langkah kakinya di depan sebuah kamar rawar. Otomatis Sehun dan Baekhyun ikut berhenti, menatap lurus pada pintu yang tertutup. Hingga mata mereka menangkap sebuah plat kecil di pintu yang bertuliskan.

Cinnamon, no. 4. Huang Zi Tao.

"TIDAK! JANGAN MENDEKAT! PERGI!"

Baekhyun melemparkan tatapan penuh tanda tanya pada Hyde yang berdiri di sisi kiri Sehun, pria mungil itu mengangguk kecil. Tanpa sadar ia meraih tangan Sehun di sisinya, meremas jemari sang adik dengan dada yang mendadak terasa sesak. Pemuda tampan itupun menoleh, melihat wajah sang Kakak yang di liput kecemasan yang luar biasa.

Sehun menggenggam tangan Baekhyun, menenangkan. Padahal saat ini, jantungnya sendiri seperti di paksa untuk berdetak lebih cepat.

Cklek

Pintu kamar rawat bercat putih itu dibuka, meloloskan rintihan pilu yang semakin jelas terdengar. Dan seorang pria bersurai coklat gelap keluar dengan ekspresi yang sulit di artikan. Namun pandangan Baekhyun telah lebih dulu masuk ke dalam kamar rawat yang terlihat karena celah pada pintu yang terbuka.

Dirinya dan sang adik melihatnya. Di dalam sana. Dengan sangat jelas.

Sosok tinggi bersurai kelam yang menangis dengan tubuh gemetar hebat di dalam dekapan pria berjas putih. Yang berusaha menenangkan pemuda di dekapannya.

"Tidak ada yang menyakitimu Tao, jangan menangis. Aku ada disini..."

Baik Sehun dan Baekhyun, merasa tubuh mereka seperti di sengat listrik yang membuat jantung mereka mendadak berdenyut ngilu.

"Tao..." bibir mungil Baekhyun bergetar, menahan embun di kedua matanya yang siap di jatuhkan kapan saja.

Genggaman Sehun pada tangan sang Kakak pun menguat. Dadanya terasa sesak dan panas melihat sosok sahabatnya menangis ketakutan dengan tubuh gemetar hebat.

Mereka memang tidak tahu apapun. Tidak tahu dampak yang telah terjadi atas musibah itu. Dan rasanya sungguh menyakitkan melihat sahabat yang mereka sayangi tidak ubahnya seperti orang yang kehilangan separuh kesadarannya.

To be continue

maf ga bisa bales review, perut gw dalam kondisi ga baik, ini aja posting sambil mulet(?) T_T

oh ya, buat review n tanggapan di ff Glass Doll, thank you so much! i love you all!

Skylar.K